“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

ZAM 15 2001.jpg

Tanya: Mana yang harus didahulukan dan mana yang utama menuntut ilmu atau berbakti kepada orang tua?

Jawab: Perlu melihat kepada keadaan orang tersebut dan keadaan orang tuanya:

☑ Bila orang tuanya benar-benar membutuhkan baktinya karena tidak ada lagi manusia dari selainnya kecuali dia yang sangat diharapkan baktinya maka wajib baginya berbakti kepada orang tuanya, dan dalam berbakti kepada orang tuanya yang keadaannya seperti itu bukanlah penghalang baginya untuk menuntut ilmu yang berkaitan dengan perkara paling terpenting dari agamanya berupa kewajiban-kewajibannya yang harus dia ketahui, _In Syaa Allaah_ dia bisa mempelajari kewajiban-kewajiban tersebut dengan tanpa menerlantarkan orang tuanya, apalagi di zaman yang serba mudah ini, seseorang bisa menuntut ilmu dengan mengikuti pengajian di masjid-masjid yang ada di daerah atau di kotanya, sejam atau dua jam dia menyisihkan waktunya untuk menuntut ilmu, sisanya dia gunakan untuk berbakti kepada orang tuanya. Kalau pun seandainya orang tuanya berada di daerah terpencil maka dia menggunakan sarana atau media yang ada untuk menuntut ilmu sehingga dia dapat mengetahui kewajiban-kewajiban tersebut, upayanya ini termasuk dalam hadits:

ومن سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له به طريقا إلى الجنة

“Dan barangsiapa menempuh suatu jalan, dia mencari suatu ilmu padanya maka Allah memudahkan baginya jalan menuju surga.”

Demikian pula dia membaca-baca buku agama dengan maksud untuk mengetahui kewajiban-kewajibannya maka dia masuk pada hadits tersebut, berkata Al-Imam Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin _semoga Allah merahmati kami dan merahmati beliau_:

فالذي يراجع الكتب للعثور على حكم مسألة شرعية وإن كان جالسا على كرسيه فإنه قد سلك طريقا يلتمس فيه علما

“Maka orang yang menelaah buku-buku untuk mendapatkan hukum terhadap suatu masalah syari’at, walau pun keberadaan dia duduk di atas kursinya maka sungguh dia telah menempuh jalan, dia mencari suatu ilmu padanya.”

Jika dia bisa menuntut ilmu seperti itu dan bisa berbakti kepada orang tuanya maka sungguh dia termasuk dari sebaik-baiknya manusia di zamannya, dia paling utama dan dia telah melakukan perbuatan yang paling utama.

Kenapa Uwais Al-Qarniy _semoga Allah merahmati kita dan merahmati beliau_ dikatakan sebagai paling utamanya Tabi’in? Tidak lain karena beliau senantiasa bersama ibunya, beliau berbakti kepada ibunya, di saat manusia berlomba-lomba rihlah menuntut ilmu di Madinah. Coba salah seorang yang dikatakan sebagai penghafal hadits menyebutkan satu riwayat saja dari hadits Uwais Al-Qorniy dari shahabat! Apakah ada? Apakah dia dapati di kitab-kitab hadits dari Uwais Al-Qarniy? Apakah dia dapati di dalam kitab-kitab fiqih menyebutkan bahwa ada dua Tabi’in yaitu Sa’id dan Uwais berbeda pendapat? Apakah ada perselisihan antara Sa’id bin Musayyib dengan Uwais Al-Qarniy tentang suatu masalah? Uwais Al-Qarniy dikatakan sebagai paling utamanya Tabi’in ini berdasarkan perkataan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bukan berdasarkan pendapat akal manusia? Sebab demikian itu karena beliau berbakti kepada ibunya, berkata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

إن خير التابعين رجل يقال له أويس وله والدة

“Sesungguhnya paling baiknya tabi’in adalah seseorang yang disebut dengan Uwais, dan dia memiliki ibu.”

Karena paling utama seperti itu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun mengatakan kepada para shahabat:

فمن لقيه منكم فليستغفر لكم

“Barangsiapa di antara kalian menjumpainya maka hendaknya (meminta beliau supaya) memohonkan ampun (kepada Allah) untuk kalian.”

Tidak kita ragukan bahwa para shahabat lebih utama dari Uwais namun itu sebagai pengutamaan khusus dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terhadap Uwais Al-Qarniy bila dibandingkan para tabi’in selainnya.

☑ Bila orang tuanya benar-benar membutuhkan baktinya karena tidak ada lagi dari saudara-saudarinya yang berbakti kepada orang tuanya, sementara dia ingin menuntut ilmu yang berkaitan dengan perkara penunjang seperti ilmu alat, ilmu qira’ah atau yang semisalnya atau dia ingin mendalam-dalami suatu ilmu, maka wajib baginya untuk berbakti kepada orang tuanya, karena berbakti kepada kedua orang tua adalah fardhu ‘ain sementara mempelajari ilmu seperti itu adalah fardhu kifayah sebagaimana jihad di jalan Allah, berkata Al-Imam Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin _semoga Allah merahmati kami dan merahmati beliau_:

بر الوالدين مقدم على الجهاد في سبيل الله، والعلم من الجهاد، وبالتالي فيكون بر الوالدين مقدما عليه إذا كانا في حاجة إليه

“Berbakti kepada kedua orang tua adalah didahulukan atas jihad di jalan Allah, dan ilmu termasuk dari jihad, secara berurutan keberadaan berbakti kepada kedua orang tua adalah dikedepankan padanya jika keberadaan kedua orang tuanya membutuhkan kepadanya.”

Ada seseorang datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lalu berkata:

أبايعك على الهجرة والجهاد أبتغي الأجر من الله.

“Aku membai’atmu di atas hijrah dan jihad, aku berharap pahala dari Allah.”

Maka beliau bertanya kepadanya:

فهل من والديك أحد حي؟

“Apakah di antara kedua orang tuamu ada yang masih hidup?”.

Dia menjawab:

نعم بل كلاهما.

“Iya, bahkan keduanya masih hidup.”

Beliau bertanya lagi:

فتبتغي الأجر من الله؟

“Apakah kamu mengharap pahala dari Allah?.”

Dia menjawab:

نعم.

“Iya.”

Maka beliau berkata:

فارجع إلى والديك فأحسن صحبتهما

“Maka kembalilah kamu kepada kedua orang tuamu lalu perbaguslah baktimu kepada keduanya.”

☑ Bila orang tua tidak membutuhkannya atau masih ada saudara-saudarinya yang berbakti kepada orang tuanya maka lebih utama baginya pergi menuntut ilmu, namun bukan berarti pergi selama-lamanya dari orang tuanya, atau melupakannya karena alasan sibuk menuntut ilmu, Al-Imam Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin _semoga Allah merahmati kami dan merahmati beliau_ menasehatkan kepada orang yang ingin keluar menuntut ilmu dan keadaan orang tuanya seperti itu:

ولكنه مع هذا لا ينسي حق الوالدين في الرجوع إليهما، وإقناعهما إذا رجع

“Akan tetapi bersama dengan ini, hendaknya dia tidak melupakan hak kedua orang tuanya untuk kembali kepada keduanya dan mencukupi (kebutuhan) keduanya ketika dia sudah kembali.”

Adapun bila keberadaan orang tuanya seperti itu dan orang tuanya melarangnya juga dari menuntut ilmu dengan alasan karena nantinya tidak ada harapan memperoleh dunia atau karena orang tua tersebut benci dengan ilmu agama maka tidak boleh mentaati orang tuanya, dan bahkan boleh baginya untuk pergi walau pun orang tuanya tidak mengizinkannya, berkata Al-Imam Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin _semoga Allah merahmati kami dan merahmati beliau_ :

وأما إذا علم كراهة الوالدين للعلم الشرعي فهؤلاء لا طاعة لهما، ولا ينبغي له أن يستأذن منهما إذا خرج.

“Adapun jika diketahui kebencian kedua orang tuanya kepada ilmu syar’iy maka mereka itu tidak mentaati keduanya, dan tidak perlu baginya meminta izin dari keduanya jika dia keluar (untuk menuntut ilmu).”

Dan termasuk suatu kesalahan besar bagi seseorang ketika orang tuanya benar-benar memerlukan baktinya namun dia tidak mau kembali ke orang tuanya untuk berbakti kepadanya dengan alasan karena dia sibuk menuntut ilmu atau karena dia takut akan melihat banyak kefasikan di lingkungan orang tuanya. Alasan seperti ini tidak akan mendatangkan kebaikan baginya bahkan kita khawatirkan malah dia akan melihat banyak kefasikan, tidakkah dia mengambil pelajaran dari kisah seorang ahli ibadah yang bernama Juraij _semoga Allah meridhai beliau_, ketika ibunya datang kepadanya karena suatu kebutuhan, ibunya memanggilnya, ternyata dia tidak memenuhi panggilannya karena sedang shalat sunnah, maka akibatnya dia mendapatkan ucapan yang tidak bagus dari ibunya, yang ucapan tersebut bermakna doa kejelekan:

اللهم لا يموت جريج حتى ينظر في وجه المياميس.

“Ya Allah janganlah Juraij mati sampai dia melihat ke wajah para pelacur.”

Juraij senantiasa di dalam tempat ibadahnya, datang pelacur merayunya, dia tidak mau keluar dari tempat ibadahnya, sehingga beliau tidak sampai terjatuh ke dalam perbuatan keji dan tidak sampai pula melihat ke pelacur. Karena dia tidak memenuhi panggilan ibunya, akibatnya dia pun mendapatkan ujian dengan di seret di hadapan para pelacur, dia pun akhirnya melihat wajah para pelacur. Tidakkah takut orang yang tidak mau berbakti kepada orang tuanya akan mendapatkan laknat dari malaikat? Atau mendapatkan doa kejelekan dari orang tuanya sendiri?

Dan pertanyaan semisal yang ditanyakan di sini sangatlah banyak ditanyakan kepada para ulama, oleh karena itu guru kami Asy-Syaikh Abu Abdillah Kamal bin Tsabit Al-‘Adniy _semoga Allah merahmati kami dan merahmati beliau_ telah menulis kitab khusus sebagai jawaban tentang permasalahan ini, beliau beri judul kitab tersebut *Thalabul ‘Ilmi wa Birrul Walidain*.

Ditulis oleh : Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir di Pekalongan 27 Jumadal Akhirah 1438

Sumber : http://t.me/majaalisalkhidhir

Iklan

Comments on: "Antara Menuntut Ilmu dan Berbakti Kepada Kedua Orang tua." (1)

  1. jazakallah khairon ya ustd untuk tulisan ini, insyaAllah bermanfaat untuk ana…
    barokallahu fiik…

    Suka

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: