“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

Biasa dianggap upaya tapi bisa berbahaya

بسم الله الرحمن الرحيم
وبه نستعين

Al-Imam Muslim meriwayatkan dari hadits Anas bin Malik:

ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰَّ ﺻَﻞَّ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻣَﺮَّ ﺑِﻘَﻮْﻡٍ ﻳُﻠَﻘِّﺤُﻮﻥَ ﻓَﻘَﺎﻝَ: ‏«ﻟَﻮْ ﻟَﻢْ ﺗَﻔْﻌَﻠُﻮﺍ ﻟَﺼَﻠُﺢَ‏». ﻗَﺎﻝَ: ﻓَﺨَﺮَﺝَ ﺷِﻴﺼًﺎ ﻓَﻤَﺮَّ ﺑِﻬِﻢْ ﻓَﻘَﺎﻝ:َ ‏«ﻣَﺎ ﻟِﻨَﺨْﻠِﻜُﻢْ». ﻗَﺎﻟُﻮﺍ: ﻗُﻠْﺖَ ﻛَﺬَﺍ ﻭَﻛَﺬَﺍ ﻗَﺎﻝَ: ‏«ﺃَﻧْﺘُﻢْ ﺃَﻋْﻠَﻢُ ﺑِﺄَﻣْﺮِ ﺩُﻧْﻴَﺎﻛُﻢْ»

Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melewati suatu kaum yang sedang melakukan penyerbukan kurma. Maka beliau berkata: “Kalau kalian tidak melakukan penyerbukan maka tentu bagus.” Berkata Anas: “Maka keluarlah hasil kurma dalam keadaan jelek”  Lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melewati mereka dan bertanya: “Apa yang terjadi pada kurma kalian?” Mereka berkata: “Engkau berkata demikian dan demikian.” Maka beliau berkata: “Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian.”

Pada hadits tersebut terdapat keterangan walau pun hasil kurma mereka jelek akan tetapi mereka masih mendapatkan hasil walaupun kurang memuaskan, ditambah lagi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam datang kepada mereka menanyakan hasil dari upaya mereka, kemudian beliau jelaskan dengan penjelasan yang membuat mereka tidak sampai kecewa.

Maka bagaimana dengan orang-orang yang mudah mengeluarkan kata-kata dari lisan ringan mereka kepada orang lain dengan tanpa melihat akibat dan resikonya?!

🏫 Sekelompok orang berkumpul mengikuti pengajian di rumah seseorang yang keadaan rumahnya sempit, yang ruang tamunya hanya bisa menampung 20 orang ikhwan dan ruang tengahnya hanya bisa menampung 20 orang akhwat, mereka yang hadir hanya 11 orang ikhwan dan 15 orang akhwat, kemudian mereka mengatakan kepada pemilik rumah:
Rumah antum ini apa tidak terlalu kecil? Bukankah anak-anak antum banyak?!

Rumah yang tadinya terasa lapang dan menyenangkan, dengan sebab adanya perkataan tersebut membuat penghuni rumah merasa seakan-akan sudah sempit, dia pun berupaya ingin memperluas dan memperbesar rumahnya dengan harapan biar nanti kalau yang ikut pengajian bertambah banyak bisa tercukupi, dia pun mulai berusaha dan berupaya semaksimal mungkin hingga hutang ke sana ke mari, yang pada akhirnya dia terbebani dengan hutang yang banyak dan bertumpuk-tumpuk.

🏘 Seorang ikhwan yang menikah dengan seorang akhwat dan tampak hidup bahagia kemudian datang orang lain mengatakan kepada ikhwan tersebut  “tidakkah sebaiknya antum ta’addud (nikah lagi), bukankah antum memiliki ini dan itu?!.

Dengan perkataan itu menjadi bahan pikiran bagi ikhwan tersebut, yang pada akhirnya dia pun mencoba mencari tunangan baru dengan bermudah-mudahan menempuh berbagai cara; WA, BBM, telegram atau facebook pun menjadi saksi upayanya, ketika berhasil memetik tunangan barunya, pikirannya pun berubah entah bagaimana memperlakukan kedua isterinya supaya bisa bahagia sebagaimana dahulunya dia masih memiliki seorang isteri, pada akhirnya dia pun mengorbankan salah satu dari kedua isterinya, setan dan hawa nafsunya pun menguasainya, dia pun terjatuh ke dalam kezhaliman _Nas’alullah As-Salamata wal ‘Afiyah_.

🕌 Sekelompok ikhwan mendatangkan seorang da’i supaya berdakwah di daerah mereka, setelah sekian lama da’i tersebut berdakwah, tiba-tiba datang seseorang mengatakan kenapa antum semua tidak mengundang da’i fulan, beliau itu _maa syaa Allaah_ bisa begini dan bisa begitu, mereka pun memikirkan, hingga pada akhirnya da’i yang pernah mereka undang pun menjadi bahan perbincangan serta menjadi terlantar dan tak berguna lagi bagi mereka, karena mereka mengharapkan kedatangan seorang da’i yang bisa begini dan begitu, namun ternyata da’i yang diharapkan itu tidak kunjung datang, waktu mereka pun berlalu begitu saja, dan harapan mereka pun tak kunjung tiba.

🏚 Seorang ummahat yang baik lagi taat kepada suaminya, ia giat beribadah kepada Allah dan senang mempelajari agama di dalam rumahnya melalui media dan sarana seperti WA, telegram dan internet serta rekaman-rekaman, tiba-tiba ada seseorang membisikan kepadanya bukankah menghadiri dan mengambil ilmu secara langsung itu lebih utama dan lebih berberkah daripada mengambil melalui sarana-sarana perantara seperti itu.

Untuk memperoleh yang utama tersebut ia pun mulai berpikir, pada akhirnya ia pun meminta suaminya untuk mengantarnya ke tempat yang diajarkannya ilmu yang nan jauh di sana, lalu suami kembali ke rumah karena setiap hari bekerja, ketika dia di rumahnya hanya seorang diri, yang dia rasakan hanyalah kesepian dan keletihan, membuat dirinya banyak berpikir, yang pada akhirnya dia pun memutuskan suatu keputusan yang orang berakal kaget ketika mendengarkannya.

Wahai saudara-saudari _semoga Allah merahmati kami dan merahmati kalian_ apa sebenarnya keuntungan dari menyampaikan perkataan-perkataan dan saran-saran seperti?

Tidakkah kita mau mengambil pelajaran?! Terkadang perkataan yang baik atau perbuatan yang terpuji ketika dilakukan bukan pada tempatnya akan menimbulkan bahaya?!

Demikian pula menempatkan upaya tidak pada tempatnya akan menimbulkan bahaya?!

Terkadang orang-orang yang meremehkan perkara ini dengan mudah mengatakan itu kan hanya ucapan dibibir saja maka kita katakan kepada mereka sebagaimana perkataan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang khawarij:

يقولون الحق بألسنتهم لا يجوز هذا منهم- وأشار إلى حلقه-

“Mereka mengucapkan kebenaran dengan lisan-lisan mereka akan tetapi tidak melewati ininya mereka _beliau mengisyaratkan ke tenggorokannya_.”

Dan ketika ada seseorang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

ﻭﺇﻧﺎ ﻟﻤﺆﺍﺧﺬﻭﻥ ﺑﻤﺎ ﻧﺘﻜﻠﻢ ﺑﻪ؟

“Apakah sungguh kita benar-benar akan disiksa karena sebab apa yang kita katakan tentangnya?.” Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab:

ﻭﻫﻞ ﻳﻜﺐ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺎﺭ ﻋﻠﻰ ﻭﺟﻮﻫﻬﻢ ﺃﻭ ﻋﻠﻰ ﻣﻨﺎﺧﺮﻫﻢ ﺇﻻ ﺣﺼﺎﺋﺪ ﺃﻟﺴﻨﺘﻬﻢ

“Tidaklah tersungkur manusia di dalam neraka pada wajah mereka atau pada hidung mereka kecuali karena sebab lisan-lisan mereka.”

Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk senantiasa memperbaiki diri serta selalu beristighfar dan bertaubat kepada-Nya.

Ditulis oleh : Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir di Binagriya-Pekalongan pada 20 Jumadil Akhirah 1438

Sumber : http://t.me/majaalisalkhidhir

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: