“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

MUTIARA SALAF

mtsDi Susun Oleh Ash Habul Hadits  (Abu Jasmine Umar bin Ali Al-Palembangiy)

dividergreen - Copy

MERASA BERAT DENGAN SUNNAH

قال الشيخ العلامة محمد بن صالح العثيمين رحمه الله

” و من استثقل السنة فاعلم أن في قلبه مرض، و إذا خفت السنة على العبد لو كانت طويلة فاعلم أن هذا من نعمة الله عليك “.

المصدر: شرح الحلية ص ٢٠٢

Berkata As-Syaikh Al-‘Alamah Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin رحمه الله

” Barang siapa merasa berat terhadap sunnah, ketahuilah sesungguhnya pada hatinya ada penyakit, dan jika telah ringan sunnah atas seorang hamba walau sunnah itu panjang maka ketahuilah sesungguhnya ini dari nikmat Allah atasmu.”

Mashdar ” Syarh Al-Hilyah ” halaman 202.

Faidah dari  Al Akh ‘Abdullah Jazilan As-Srilankaiy, dimajmu’ah  ” الآثار السلفية “

WAJIB MENJELASKAN KEADAANNYA !!!

Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Maka jika ada kaum-kaum munafiqun membikin kebid’ahan menyelisihi Al Kitab dan membikin kerancuan pada manusia, dan tidak jelas bagi orang-orang, maka rusaklah urusan Al Kitab dan dirubahkan agama ini sebagaimana rusaknya agama Ahlul Kitab sebelum kita karena terjadinya perubahan yang tidak diingkari terhadap pelakunya.

            Dan jika ada kaum-kaum yang bukan termasuk dari munafiqin akan tetapi mereka gemar mendengarkan ucapan munafiqin sehingga terjadilah kerancuan di hati mereka tentang urusan munafiqin sampai mereka mengira bahwasanya ucapan munafiqin itu benar padahal dia itu menyelisihi Al Kitab, dan jadilah kaum tadi sebagai penyeru kepada bid’ah-bid’ah munafiqin, sebagaimana firman Alloh ta’ala:

﴿لو خرجوا فيكم ما زادوكم إلا خبالا ولأوضعوا خلالكم يبغونكم الفتنة وفيكم سماعون لهم﴾

“Jika mereka berangkat bersama-sama kalian, niscaya mereka tidak menambah kalian selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas maju ke muka di celah-celah barisan kalian, untuk mengadakan kekacauan di antara kalian; sedang di antara kalian ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka.”

            Maka wajib juga untuk menjelaskan kondisi mereka itu. Bahkan fitnah dengan sebab keadaan orang-orang tadi lebih besar Karena pada diri mereka ada keimanan yang mengharuskan kita untuk loyal kepada mereka padahal mereka telah masuk ke dalam bid’ah munafiqin yang merusak agama. Maka wajib untuk memperingatkan dari bid’ah-bid’ah tadi walaupun yang demikian itu menuntut untuk menyebutkan mereka dan nama-nama mereka. bahkan andaikata mereka tidak mendapatkan bid’ah tadi dari seorang munafiq akan tetapi mereka mengucapkannya dalam keadaan mereka mengira bahwasanya bid’ah tadi adalah petunjuk, dan bahwasanya bid’ah tadi adalah kebaikan dan bahwasanya dia itu adalah agama, padahal tidak demikian, maka wajib juga untuk menjelaskan keadaannya.” (“Majmu’ul Fatawa”/28/hal. 233/ihalah/Darul Wafa).

TIDAK MEMINTA-MINTA

Abul ‘Aliyah -rahimahulloh- berkata:

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ وَكَانَ ثَوْبَانُ مَوْلَى رَسُولِ الله -صلى الله عليه وسلم- قَالَ قَالَ رَسُولُ الله -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ تَكَفَّلَ لِى أَنْ لاَ يَسْأَلَ النَّاسَ شَيْئًا وَأَتَكَفَّلَ لَهُ بِالْجَنَّةِ ». فَقَالَ ثَوْبَانُ أَنَا. فَكَانَ لاَ يَسْأَلُ أَحَدًا شَيْئًا. (أخرجه أبو داود ج 5 / ص 195)

“Dari Tsauban –dan beliau adalah maula dari Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam—yang berkata: Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Siapakah menjamin kepadaku untuk tidak meminta pada manusia sedikitpun, dan aku menjamin untuknya dengan Jannah?” Maka Tsauban berkata,”Saya”. Dan Tsauban tak pernah meminta kepada seorangpun sesuatu apapun.” (HSR Abu Dawud/5/hal. 195 dan dishohihkan oleh Imam Al Wadi’y -rahimahulloh-)

‘Auf bin Malik Al Asyja’iy rodhiyallohu ‘anhu berkata:

كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ الله -صلى الله عليه وسلم- تِسْعَةً أَوْ ثَمَانِيَةً أَوْ سَبْعَةً فَقَالَ: « أَلاَ تُبَايِعُونَ رَسُولَ الله » وَكُنَّا حَدِيثَ عَهْدٍ بِبَيْعَةٍ فَقُلْنَا: قَدْ بَايَعْنَاكَ يَا رَسُولَ الله. ثُمَّ قَالَ: «أَلاَ تُبَايِعُونَ رَسُولَ الله ». فَقُلْنَا: قَدْ بَايَعْنَاكَ يَا رَسُولَ الله. ثُمَّ قَالَ: «أَلاَ تُبَايِعُونَ رَسُولَ الله ». قَالَ: فَبَسَطْنَا أَيْدِيَنَا وَقُلْنَا قَدْ بَايَعْنَاكَ يَا رَسُولَ الله فَعَلاَمَ نُبَايِعُكَ قَالَ: « عَلَى أَنْ تَعْبُدُوا الله وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَالصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ وَتُطِيعُواوَأَسَرَّ كَلِمَةً خَفِيَّةًوَلاَ تَسْأَلُوا النَّاسَ شَيْئًا ». فَلَقَدْ رَأَيْتُ بَعْضَ أُولَئِكَ النَّفَرِ يَسْقُطُ سَوْطُ أَحَدِهِمْ فَمَا يَسْأَلُ أَحَدًا يُنَاوِلُهُ إِيَّاهُ .

“Kami pernah ada di sisi Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam-, sembilan, atau delapan atau tujuh orang. Maka beliau bersabda:“Berbai’atlah kalian kepada Rosululloh”, padahal kami baru saja membai’at beliau. Maka kami berkata,”Kami telah membai’at Anda wahai Rosululloh.” Lalu beliau bersabda:“Berbai’atlah kalian kepada Rosululloh”. Maka kami berkata,”Kami telah membai’at Anda wahai Rosululloh.” Lalu beliau bersabda:“Berbai’atlah kalian kepada Rosululloh”. Maka kami mengulurkan tangan kami seraya berkata,” Kami telah membai’at Anda wahai Rosululloh. Maka kami membai’at Anda untuk berbuat apa?” Beliau bersabda:“Agar kalian beribadah pada Alloh dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan untuk sholat lima waktu, dan agar kalian taat.” Dan beliau berbicara dengan lirih: “Dan agar kalian tidak meminta pada manusia sedikitpun.” Maka sungguh aku melihat sebagian dari rombongan tadi, cambuk dari salah seorang dari mereka terjatuh. Maka dia tidak meminta pada seorangpun untuk mengambilkannya untuknya.” (HSR Muslim /1043)

Dari Ummud Darda’ -rahimahalloh-, beliau berkata:

قال لي أبو الدرداء : لا تسألي الناس شيئا ، قالت : فقلت : فإن احتجت ؟ قال : فإن احتجت فتتبعي الحصادين فانظري ما سقط منهم فاخبطيه ثم اطحنيه ثم كليه، ولا تسألي الناس شيئا

“Abud Darda’ –rodhiyallohu ‘anhu – berkata padaku,”Janganlah engkau meminta pada manusia sedikitpun.” Maka aku bertanya,”Kalau aku berhajat?” Beliau menjawab,”Jika engkau berhajat, maka ikutlah di belakang para tukang panen, lalu lihatlah apa yang berjatuhan dari bawaan mereka, lalu pungutlah ia, masaklah dan makanlah, dan jangan kau meminta pada manusia sedikitpun.” (“Az Zuhd”/2/291/ Imam Ahmad -rahimahulloh-, dan dishohihkan Syaikhuna Yahya Al Hajury – hafidzahulloh – di tahqiq “As Sunanul Kubro” Imam Al Bauhaqy -rahimahulloh-)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rohimahulloh- berkata: “Hadits-hadits telah mutawatir bahwasanya Nabi –shollallohu ‘alaihi wasallam- mengharomkan minta-minta pada manusia kecuali di saat darurat.” (“Majmu’ul Fatawa”/8/hal. 316).

Al Imam Al Hafizh Ibnul Qoththon Al Fasiy –rohimahulloh- berkata: “Para ulama telah sepakat bahwasanya meminta-minta itu harom.” (“Al Iqna’ Fi Masailil Ijma’”/7/3/hal. 397).

BERBALIK POSISI

Al Imam Muqbil Al Wadi’iy –rohimahulloh- berkata:

“Ya Alloh, alangkah banyaknya da’i besar yang menghapal ayat-ayat yang mengandung penyemangatan untuk bershodaqoh, dia pindah dari masjid ini ke masjid itu, membacakan:

﴿وما تقدّموا لأنفسكم من خير تجدوه عند الله هو خيرًا وأعظم أجرًا

“Dan kebaikan apapun yang kalian lakukan untuk diri kalian sendiri, kalian akan mendapatkannya di sisi Alloh dengan yang lebih baik dan lebih besar pahalanya.”

Dan berbaliklah si miskin ini dari posisi da’i kepada posisi pengemis. Sungguh benar Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wa alihi wasallam- ketika bersabda:

((لكلّ أمّة فتنةً، وفتنة أمّتي المال)).

“Setiap umat itu punya fitnah, dan fitnah umatku adalah harta.”

(“Dzammul Mas’alah”/hal. 218).

MERASA CUKUP DENGAN ‘ILMU MEREKA

Al Imam Al Ajurriy –rohimahulloh- meriwayatkan dari Wahb bin Munabbih –rohimahulloh- yang berkata pada ‘Atho Al Khurosaniy: “Dulu para ulama sebelum kita merasa cukup dengan ilmu mereka dari dunia orang lain. Dulu mereka tidak menoleh kepada dunia mereka. Makanya ahli dunia mencurahkan dunianya untuk ulama tadi karena berhasrat mendapatkan ilmu mereka. Sekarang jadilah ulama dari kalangan kita mencurahkan ilmu mereka kepada ahlu dunia karena berhasrat kepada dunia mereka. Maka jadilah ahlu dunia telah merasa tidak butuh kepada ilmu mereka karena melihat jeleknya posisinya di sisi mereka. Maka hindarilah olehmu pintu-pintu para penguasa, karena sungguh ada fitnah di pintu-pintu mereka, bagaikan tempat mendekamnya onta. Tidaklah kamu mengambil dunia mereka sedikitpun kecuali mereka akan mengambil semisalnya dari agamamu.” (“Asy Syari’ah”/oleh Al Imam Al Ajurriy –rohimahulloh-/no. 70).

BARANG SIAPA MENGAMBILNYA ?

Hakim bin Hizam rodhiyallohu ‘anhu berkata:

سَأَلْتُ رَسُولَ الله  صلى الله عليه وسلم فَأَعْطَانِى، ثُمَّ سَأَلْتُهُ فَأَعْطَانِى ثُمَّ قَالَ لِى: « يَا حَكِيمُ ، إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرٌ حُلْوٌ، فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ، وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ، وَكَانَ كَالَّذِى يَأْكُلُ وَلاَ يَشْبَعُ، وَالْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى». قَالَ حَكِيمٌ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ الله، وَالَّذِى بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لاَ أَرْزَأُ أَحَدًا بَعْدَكَ شَيْئًا حَتَّى أُفَارِقَ الدُّنْيَا.

“Aku meminta pada Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- maka beliau memberiku, lalu aku minta lagi padanya, maka beliau memberiku, lalu beliau bersabda padaku: “Wahai Hakim, sesungguhnya harta itu hijau dan manis. Barangsiapa mengambilnya dengan kedermawanan jiwa, dia akan diberi keberkahan padanya. Tapi barangsiapa mengambilnya dengan keinginan dan harapan jiwa, maka tak akan diberkahi untuknya. Seperti orang yang makan tapi tidak kenyang. Dan tangan di atas itu lebih baik daripada tangan di bawah.” Maka aku berkata,”Wahai Rosululloh, Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, saya tak akan lagi mengurangi harta orang setelah Anda dengan permintaan sedikitpun, sampai saya meninggalkan dunia. (HSR Al Bukhory (2750))

Imam Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin -rahimahulloh- berkata tentang sabda Nabi -shalallohu ‘alaihi wa sallam-: (Tapi barangsiapa mengambilnya dengan keinginan dan harapan jiwa, maka tak akan diberkahi untuknya.) “Maka bagaimana dengan orang yang mengambilnya dengan cara meminta? Tentunya lebih jauh dan lebih jauh lagi dari keberkahan.” (“Syarh Riyadhush Sholihin” di bawah no. 524).

PERAHASIAAN SHODAQOH

Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata:

“Adapun memberikan shodaqoh pada orang-orang miskin, maka di dalam perahasiaannya itu ada faidah menutupi aib dirinya dan tidak membikinnya malu di tengah-tengah manusia karena shodaqoh padanya secara terang-terangan itu bagaikan membongkar kekurangan dirinya karena orang akan melihat bahwasanya tangannya itu adalah tangan yang di bawah, dan bahwasanya dia itu tak punya apa-apa, sehingga nanti orang jadi tidak suka berhubungan dan transaksi dengan dirinya. Dan perahasiaannya adalah merupakan nilai tambah dalam berbuat baik pada dirinya dengan sekedar shodaqoh, disertai juga ada kandungan keikhlasan dan tidak riya serta tidak mencari pujian dari manusia. Dan perahasiaan shodaqoh pada orang miskin itu lebih baik daripada terang-terangan di tengah-tengah manusia.”

(“Thoriqul Hijrotain”/hal. 555-556).

SHODAQOH

 Al Imam Ibnul Arobiy Al Malikiy رحمه الله berkata menukilkan pendapat sebagian ulama:

“Berdasarkan penelitian dalam masalah shodaqoh, bahwasanya keadaan dalam shodaqoh itu berbeda-beda antara keadaan orang yang memberi, dan orang yang diberi, dan orang-orang yang menyaksikan shodaqoh tadi. Adapun si pemberi, maka dia mendapatkan faidah keutamaan menampakkan sunnah dan pahala keteladanan. Penyakit yang mengancam adalah: riya, suka menyebut-nyebut pemberian, dan menyakiti orang yang diberi. Adapun orang yang diberi shodaqoh, maka menerima shodaqoh tadi dengan rahasia adalah lebih selamat bagi dia dari penghinaan orang, atau orang-orang akan menuduhnya mengambil shodaqoh padahal dia itu berkecukupan, dan dia dituduh tidak ‘iffah (menjaga diri dari kerendahan). Adapun keadaan manusia, maka shodaqoh secara rahasia tanpa diketahui oleh mereka itu lebih utama daripada shodaqoh terang-terangan karena bisa jadi mereka akan menuduh si pemberi itu riya, dan menuduh si penerima sebenarnya tidak butuh. Dan keutamaan shodaqoh terang-terangan adalah bisa menggerakkan hati-hati orang untuk bershodaqoh.”

(“Ahkamul Qur’an”/Ibnul Arobiy/1/hal. 472).

TIDAK MEMAKAN SHODAQOH

Al Imam Ibnu Baththol رحمه الله berkata: “Hanyalah Nabi صلى الله عليه وسلم itu tidak memakan shodaqoh karena shodaqoh itu adalah kotoran-kotoran manusia, dan karena mengambil shodaqoh itu adalah kedudukan yang rendah. Dan para Nabi tersucikan dari yang demikian itu karena beliau صلى الله عليه وسلم itu disifati Alloh ta’ala:

﴿ووجدك عائلا فأغنى

“Dan Alloh dapati engkau itu miskin lalu Alloh membikinmu berkecukupan.”

Dan shodaqoh itu tidak halal bagi orang-orang kaya. Dan ini berbeda dengan hadiah, karena kebiasaan itu berlangsung untuk orang yang diberi hadiah itu membalas pemberian tadi. Dan demikianlah praktek Nabi.”

(selesai penukilan dari “Fathul Bari”/Ibnu Hajar/5/hal. 2)

 Al Munawiy رحمه الله berkata:

“Dulu Nabi صلى الله عليه وسلم memakan hadiah dan tidak memakan shodaqoh” di karenakan di dalam hadiah itu ada pemuliaan dan pengagungan, sementara di dalam shodaqoh itu ada makna kehinaan dan belas kasihan. Oleh karena itulah maka termasuk dari kekhususan beliau adalah beliau diharomkan memakan shodaqoh wajib dan mustahab sekaligus.” (“Faidhul Qodir”/no. (6938)).

SEBAB LAHIRNYA KELOMPOK KELOMPOK

Al Imam Ibnu Baththoh rohimahulloh berkata:

“Kekaguman pengagung ro’yu dengan ro’yunya untuk memisahkan diri dan memecah-belah tanpa mau menerima kebenaran, inilah sebab lahirnya kelompok-kelompok (hizb-hizb).”

(“Al Ibanatul Kubro”/ 1/hal. 26-27)

‘ILMU YANG TERPUJI

Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Tiada keraguan bahwasanya orang yang diberi ilmu dan iman itu lebih tinggi daripada orang yang diberi iman saja, sebagaimana ditunjukkan oleh Kitab dan Sunnah. Dan ilmu yang terpuji yang ditunjukkan oleh Kitab dan Sunnah adalah ilmu yang diwariskan oleh para Nabi. Sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه وسلم :

إن العلماء ورثة الأنبياء؛ إن الأنبياء لم يورثوا درهما ولا دينارا، وإنما ورثوا العلم، فمن أخذه أخذ بحظ وافر .

“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya para Nabi itu tidak mewariskan dirham ataupun dinar, akan tetapi mereka itu hanyalah mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambilnya, dia telah mengambil bagian yang banyak.” ([1])

            Dan ilmu ini ada tiga macam:

     Jenis pertama: Ilmu tentang Alloh, nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya dan yang mengikuti itu. Dan untuk yang semisal itu Alloh menurunkan surat Al Ikhlas, Ayat Kursi dan semisalnya.

      Jenis kedua: ilmu tentang apa yang Alloh kabarkan, berupa perkara yang telah lewat, perkara yang akan terjadi di masa mendatang, dan perkara yang terjadi saat ini. Dan untuk yang semisal itu Alloh menurunkan ayat-ayat kisah, janji, ancaman, sifat Jannah dan Neraka dan semisalnya.

        Jenis ketiga: ilmu tentang apa yang Alloh perintahkan, tentang perkara-perkara yang terkait dengan hati dan anggota badan, tentang iman kepada Alloh, pengetahuan tentang hati dan keadaannya, ucapan dan amalan anggota badan. Dan ilmu ini ada di dalamnya ilmu tentang dasar-dasar iman dan kaidah-kaidah Islam. Dan masuk di dalamnya ilmu tentang ucapan-ucapan dan perbuatan lahiriyyah. Dan ilmu ini termasuk di dalamnya apa yang ditemukan dalam kitab-kitab ahli fiqh, ilmu tentang hukum-hukum perbuatan lahiriyyah, … dst.

(selesai dari “Majmu’ul Fatawa”/11/hal. 396-397).

([1]) HR. Abu Dawud (3641) dan At Tirmidziy (2682), hasan lighoirih.

YANG PALING WAJIB ATAS SESEORANG

 Al Imam Al Lalikaiy رحمه الله berkata: “Maka sesungguhnya perkara yang paling wajib atas seseorang adalah: mengenal aqidah agama, dan perkara yang Alloh bebankan pada para hamba-Nya, yang berupa memahami tauhid-Nya, sifat-sifat-Nya, pembenaran Rosul-rosul-Nya dengan dalil-dalil dan keyakinan, dan mencari sarana kepada jalan-jalannya dan berdalil terhadapnya dengan hujjah-hujjah dan bukti-bukti. Dan termasuk ucapan yang paling agung dan paling jelas hujjahnya dan dipahami akal adalah: Kitabulloh yang benar dan terang, lalu ucapan Rosululloh صلى الله عليه وسلم dan perkataan para Shohabat beliau orang-orang yang terbaik dan bertaqwa, kemudian apa yang disepakati oleh para Salafush Sholihun, lalu berpegang teguh dengan semua itu dan tegak di atasnya sampai hari Pembalasan. Lalu menjauh dari bid’ah-bid’ah ataupun mendengarnya dari perkara-perkara yang dibuat-buat oleh orang-orang yang menyesatkan.” (“Syarh Ushul I’tiqod Ahlissunnah Wal jama’ah”/1/hal. 2).

Al Khothib Al Baghdadiy رحمه الله berkata: “Maka wajib bagi setiap orang untuk mempelajari perkara yang wajib diketahuinya, dari perkara-perkara yang Alloh wajibkan padanya, sesuai dengan kemampuannya untuk mencurahkan kerja kerasnya demi kebaikan dirinya sendiri. Dan setiap muslim yang baligh, berakal, pria dan wanita, orang merdeka, budak, wajib bagi dirinya untuk bersuci, sholat, dan puasa wajib. Maka wajib bagi setiap muslim untuk mengetahui ilmunya. Dan demikian pula wajib bagi setiap muslim untuk mengetahui apa yang halal baginya dan apa yang diharomkan untuknya, yang berupa makanan, minuman, pakaian, kemaluan, darah, dan harta. Maka ini semua tidak boleh seseorang itu untuk tidak mengetahuinya. Dan mereka wajib untuk memulai mempelajarinya sampai mereka itu mencapai baligh dalam keadaan mereka itu muslimin, atau ketika mereka masuk Islam setelah mencapai baligh. Pemerintah memaksa para suami dan para tuan untuk mengajari para istri dan para budak perempuan tentang perkara-perkara yang kami sebutkan tadi. Dan pemerintah harus menghukum orang-orang jika membangkang dari perkara tadi. Dan pemerintah harus menertibkan orang-orang untuk mengajari orang-orang yang bodoh, menetapkan gaji untuk mereka dari baitul mal, dan wajib bagi para ulama untuk mengajari orang bodoh, agar terpisahlah baginya kebenaran dari kebatilan.” (“Al Faqih Wal Mutafaqqih”/1/hal. 185).

KELOMPOK YANG TEGAK DI ATAS KEBENARAN

 Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله : “Dan segala pujian bagi Alloh yang menegakkan di zaman-zaman kosong orang-orang yang menjadi penjamin untuk menjelaskan sunnah-sunnah para rosul, dan mengkhususkan umat ini dengan senantiasa adanya kelompok yang tegak di atas kebenaran, tidak membahayakan mereka orang yang menelantarkan mereka ataupun menyelisihi mereka sampai datangnya urusan-Nya, sekalipun seluruh jin dan manusia bersatu untuk memerangi mereka secara berkelompok-kelompok. Mereka mengajak orang yang sesat kepada petunjuk, bersabar dari gangguan mereka, membikin orang yang buta bisa melihat dengan cahaya Alloh dan menghidupkan dengan kitab-Nya orang-orang yang mati. Maka mereka itu adalah orang yang paling bagus jalannya dan paling lurus ucapannya. Maka berapa banyaknyakah orang yang terbunuh oleh Iblis mereka hidupkan lagi, orang yang tersesat dan bodoh tidak mengetahui jalan kelurusannya mereka bimbing, dan para mubtadi’ di dalam agama Alloh mereka tembaki dengan meteor-meteor kebenaran dalam rangka jihad di jalan Alloh dan mencari keridhoan-Nya, dan menjelaskan hujjah-hujjah-Nya dan bayyinah-bayyinah-Nya terhadap alam semesta dalam rangka mencari kedekatan dengan-Nya dan mendapatkan keridhoan-Nya dan jannah-jannah-Nya. Maka mereka memerangi di jalan Alloh orang yang keluar dari agama-Nya yang tegak dan jalan-Nya yang lurus orang-orang yang mengibarkan bendera-bendera kebid’ahan, … dst.” (“Miftah Daris Sa’adah”/1/hal. 7/cet. Al Maktabatul ‘Ashriyyah).

 

FIRQOH NAJIYAH

Beliau رحمه الله juga berkata: “Jelaslah bahwasanya orang yang paling berhak untuk menjadi Firqoh Najiyah adalah Ahlul hadits Was Sunnah, yang mana mereka itu tak punya pengikut yang mereka fanatik untuknya kecuali Rosululloh صلى الله عليه وسلم . Dan mereka itu adalah orang yang paling tahu tentang ucapan dan keadaan beliau, dan mereka itu paling memisahkan riwayat yang shohih dengan yang sakit. Para imam mereka adalah para fuqoha dalam riwayat dan orang-orang yang mengetahui makna-maknanya dan mengikutinya, dalam rangka membenarkan, mengamalkan, mencintai, loyal dengan orang yang loyal terhadap riwayat, memusuhi orang yang memusuhi riwayat, mereka menimbang ucapan-ucapan yang global dengan apa yang beliau bawa yang berupa Al Kitab dan As Sunnah, maka mereka tidak memancangkan suatu perkataan dan menjadikannya termasuk dari dasar-dasar agama mereka ataupun pendapat mereka, jika memang tidak tetap dalilnya dari apa yang dibawa oleh Rosul. Bahkan mereka menjadikan Al Kitab dan Al Hikmah yang Rosul diutus dengannya itulah dasar yang mereka yakini dan menjadi patokan mereka.” (“Majmu’ul Fatawa”/3/hal. 347)

AHLI HADITS

 Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Dan kami tidak memaksudkan bahwasanya Ahli Hadits itu adalah orang-orang yang membatasi diri dengan mendengar hadits atau menulisnya atau meriwayatkannya, bahkan kami memaksudkan bahwasanya mereka itu adalah: setiap orang yang paling berhak untuk menghapalnya, mengetahuinya, dan memahaminya lahir dan batin, dan mengikutinya lahir dan batin. Dan begitu pula Ahlul Qur’an.” (“Majmu’ul Fatawa”/4/95).

 Beliau رحمه الله berkata: “Ahlul Hadits, dan mereka itu adalah Salaf (pendahulu) dari tiga generasi dan Kholaf (pengganti) yang menempuh jalan mereka, …” (“Majmu’ul Fatawa”/6/hal. 355).

PARA PEMUDA

 Alloh ta’ala berfirman:

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى *

وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَهًا لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا﴾ [الكهف/13، 14

 “Kami akan menceritakan padamu berita mereka dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah para pemuda yang beriman pada Robb mereka dan Kami tambahkan pada mereka hidayah dan Kami kokohkan tekad dan kesabaran hati mereka ketika mereka bangkit lalu mereka berkata: Robb Kami adalah Robb langit dan bumi, kami tak akan berdoa pada sesembahan selain-Nya. Sungguh jika demikian tadi kami telah mengatakan suatu kecurangan dan kemustahilan.”

Al Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata: “Maka Alloh ta’ala menyebutkan bahwasanya mereka adalah para pemuda –yaitu syabab (anak-anak muda)- dan mereka itu lebih menghadapkan diri kepada kebenaran, dan lebih mendapatkan petunjuk kepada jalan yang lurus daripada orang-orang tua yang telah berlarut-larut hidup dalam agama yang batil. Oleh karena itulah maka kebanyakan orang-orang yang menyambut seruan Alloh dan Rosul-Nya صلى الله عليه وسلم adalah para pemuda. Adapun orang-orang tua dari Quroisy maka kebanyakan dari mereka telah lama tinggal di atas agama mereka, dan tidak masuk Islam dari mereka kecuali sedikit. Dan demikianlah Alloh ta’ala mengabarkan tentang ashhabul Kahf bahwasanya mereka itu adalah anak-anak muda.” (“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/5/hal. 140).

‘ILMU DAN ‘AMALAN

 Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata:

“Tidaklah salaf dulunya memberikan nama fiqh kecuali terhadap ilmu yang disertai oleh amalan.”

(“Miftah Daris Sa’adah”/1/hal. 115/Al Maktabatul Mishriyyah).

KARAKTER YANG PALING BURUK

 Al Imam Ibnu Rojab رحمه الله berkata: “Dan termasuk dari alamat ilmu yang bermanfaat adalah bahwasanya pemiliknya itu tidak mendakwakan dirinya berilmu, dan tidak membanggakan ilmunya terhadap satu orangpun, dan tidak menisbatkan orang lain kepada kebodohan, kecuali orang yang menyelisihi sunnah dan Ahlissunnah, karena orang tadi (yang menisbatkan penyelisih sunnah kepada kebodohan) itu mengkritik orang tadi dalam rangka marah demi Alloh, bukan marah demi dirinya sendiri dan tidak bermaksud meninggikan dirinya sendiri di atas satu orangpun. Adapun orang yang ilmunya itu tidak bermanfaat, maka dia tak punya kesibukan selain menyombongkan diri dengan ilmunya terhadap orang-orang, dan menampilkan keutamaan ilmunya terhadap mereka, dan menisbatkan mereka kepada kebodohan, dan merendahkan mereka agar dengan itu dirinya meninggi di atas mereka. Dan ini termasuk karakter yang paling buruk dan paling hina.” (“Fadhlu ‘Ilmis Salaf ‘Alal Kholaf”/hal. 8).

MENGIKUTI ‘ILMU DAN SUNNAH

Al Imam Al Barbahariy رحمه الله berkata: “Dan ketahuilah bahwasanya ilmu itu bukanlah dengan banyaknya riwayat dan kitab. Akan tetapi orang alim itu adalah orang yang mengikuti ilmu dan sunnah sekalipun ilmunya dan kitabnya sedikit. Dan orang yang menyelisihi Kitab dan Sunnah itu adalah ahli bid’ah sekalipun dia itu banyak riwayatnya dan kitabnya.” (“Thobaqotul Hanabilah”/2/hal. 30).

YANG TAKUT KEPADA ALLAH

Alloh ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى الله مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء [فاطر/28

“Yang takut kepada Alloh dari kalangan hamba-Nya hanyalah para ulama.”

                Al Imam Ath Thobariy رحمه الله berkata: “Alloh Yang Mahatinggi penyebutannya berfirman: Hanyalah yang takut kepada Alloh sehingga berusaha melindungi diri dari hukuman-Nya dengan taat kepada-Nya adalah orang-orang yang tahu akan kemampuan Alloh terhadap apapun yang dikehendakinya, dan bahwasanya Alloh itu mengerjakan apapun yang diinginkannya, karena orang yang tahu perkara yang demikian itu dia akan merasa yakin akan hukuman-Nya atas kedurhakaannya, maka dirinya merasa takut dan gentar kepada-Nya bahwasanya Dia akan menghukumnya.” (“Jami’ul Bayan”/20/hal. 462).

AHLI ATSAR

 Al Imam Ibnu Abdil Barr رحمه الله berkata: “Ahli fiqh dan atsar dari seluruh kota telah bersepakat bahwasanya ahli kalam adalah ahli bida’ dan para penyeleweng, dan mereka menurut semuanya tidak teranggap di dalam lapisan-lapisan fuqoha. Ulama itu hanyalah ahli atsar dan orang-orang yang memperdalam pemahaman atsar. Dan mereka itu bertingkat-tingkat di dalamnya dengan kemantapan, pembedaan dan pemahaman.” (“Jami’ Bayanil ‘Ilm Wa Fadhlih”/3/hal. 176).

ORANG YANG PALING BERMANFAAT

Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Maka sesungguhnya orang yang bermanfaat itulah orang yang diberkahi. Dan yang paling bermanfaat dan paling besar berkahnya adalah orang yang diberkahi di kalangan manusia di manapun dia berada. Dia itulah yang diambil manfaatnya di manapun dia turun.” (“Zadul Ma’ad”/4/hal. 141).

                Al Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata: “Dan para makhluk itu semuanya adalah tanggungan Alloh. Maka orang yang paling dicintai oleh Alloh adalah orang yang paling bermanfaat bagi para makhluk-Nya.” (“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/4/hal. 12).

TUK YANG TELAH TERBANTAH

 Al Khothib Al Baghdadiy  berkata: “Wajib bagi setiap orang yang telah terbantah dengan kebenaran untuk menerimanya dan tunduk padanya, dan janganlah berlama-lamanya dia dalam pertengkaran dan perdebatan membawanya untuk masuk ke dalam kebatilan padahal dia tahu hal itu. Alloh ta’ala telah berfirman:

بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ ,,,الأنبياء: 18

“Bahkan Kami melemparkan kebenaran kepada kebatilan sehingga kebenaran menghancurkan kebatilan, maka tiba-tiba saja kebatilan itu sirna.”

 (“Al Faqih Wal Mutafaqqih”/2/hal. 113/Maktabatut Tau’iyatil Islamiyyah).

RIDHOILAH UNTUK DIRIMU ?

Umar bin ‘Abdul ‘Aziz رحمه الله berkata :

فإني أوصيك بتقوى الله ،  و الاقتصاد في أمره ،  و انباع سنة نبيه صلى الله عليه و سلم ، و ترك ما أحدث المحدثون مما قد جرت سنته ، و كفوا مؤنته ، فعليكم بلزوم السنة ، فإن السنة إنما سنها من قد عرف ما في خلافها من الخطأ و الزلم ،  و الحمق والتعمق ،  فارض لفسك ما رضي به القوم لأنفسهم ، فإنهم عن علم وقفوا ، و ببصر نافد قد كفوا ، ولهم كانوا على كشف لأمور أقوى و بفضل لو كان فيه أجري فلئن قلتم : أمر حدث بعدهم ، ما أحدثه بعدهم إلا من اتبع غير سنتهم ،  و رغب بنفسه عنهم ،  إنهم لهم السابقون ، فقد تكلموا منه بما يكفي ، و وصفوا منه ما يشفي ،  فما دونهم مقصر ، و ما فوقهم محسر ، لقد قصر عنهم قوم فجفوا و تجاوز آخرون فغلوا و إنهم فيما بين ذلك لعلى هدى مستقيم

” Maka sesungguhnya aku berwasiat kepadamu untuk bertaqwa kepada Allah dan sederhana di dalam urusan agama-Nya, dan mengikuti sunnah nabi-Nya صلى الله عليه و سلم dan meninggalkan perkara yang dibikin-bikin oleh para ahli muhdatsat dari perkara yang sunnahnya itu telah berjalan. Dan para salaf itu telah mencukupi tanggungannya maka wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dan setia dengan As Sunnah, karena As Sunnah itu hanyalah disunnahkan oleh orang yang tahu bahwasanya di dalam penyelisihannya itu ada kesalahan dan ketergelinciran, ketololan dan berdalam-dalam. Maka ridhailah untuk dirimu apa yang para Salaf itu ridha dengannya untuk diri mereka. Karena sesungguhnya mereka itu berhenti berdasarkan ‘ilmu, menahan diri juga berdasarkan pandangan yang tajam, Dan mereka itu lebih kuat untuk menyingkap berbagai perkara, dan lebih pantas untuk mendapat keutamaan kalau memang disitu ada keutamaan. Kalau engkau berkata, ” Perkara tersebut terjadi sepeninggal mereka.”  Tidaklah membikin-bikin setelah mereka kecuali orang yang mengikuti jalan selain mereka, dan lebih mengutamakan diri sendiri dari pada salaf itu. Sesunggunya mereka itulah para pendahulu yang hakiki. Mereka telah berbicara dalam hal tersebut dengan sesuatu yang mencukupi, dan menggambarkannya dengan sesuatu yang memuaskan. Perkara yang di bawah mereka adalah perkara yang membikin kurang, dan sesuatu yang melampaui mereka adalah sesuatu yang membikin capek. Sungguh suatu kaum telah bersikap kurang sehingga menjadi jauh dari petunjuk, sementara sekelompok yang lain telah berlebihan sehingga melampaui batas, dan sesungguhnya para Salaf itu ada diantara keduanya, benar-benar diatas jalan yang lurus. “

( “Asy  Syari’ah”/Al Ajurri/2/91/Syaikhuna Abu ‘Amr Al Hajury -hafidzahulloh- berkata: ” Shohih dengan sanad-sanad yang lain”)

LEBIH BERHAK UNTUK DIIKUTI !!!

Ucapan Ibnu Umar رضي الله عنهما:

فسنة الله وسنة رسوله صلى الله عليه و سلم أحق أن تتبع من سنة فلان إن كنت صادقا

(أخرجه مسلم (1233)).

“Maka sunnah Alloh dan sunnah Rosul-Nya صلى الله عليه وسلم lebih berhak untuk diikuti daripada sunnah si fulan, jika engkau itu jujur.” (HR. Muslim (1233)).

PERKATAAN SHOHABI ADALAH HUJJAH ?

Syaikhul Islam رحمه الله berkata:

ومن قال من العلماء إن قول الصحابى حجة فإنما قاله إذا لم يخالفه غيره من الصحابة ولا عرف نص يخالفه –إلى قوله:- وأما إذا عرف أنه خالفه فليس بحجة بالإتفاق.

(مجموع الفتاوى /1 /ص283-284).

“Dan barangsiapa berkata dari kalangan ulama bahwasanya “perkataan shohabi adalah hujjah” maka dia mengucapkan itu hanyalah jika ucapan shohabi itu tidak diselisihi oleh Shohabat yang lain, dan tidak diketahui adanya nash yang menyelisihinya –sampai dengan ucapan beliau:- adapun jika diketahui bahwasanya ada shohabat yang menyelisihi ucapan shohabat tadi, maka perkataannya itu bukanlah hujjah, berdasarkan kesepakatan ulama.” (“Majmu’ul Fatawa”/1/hal. 283-284).

PERKARA YANG DOMINAN

Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata:

“Hukum-hukum itu hanyalah untuk perkara yang dominan dan banyak, sementara perkara yang jarang itu dihukumi tidak ada.” (“Zadul Ma’ad”/5/hal. 374).

BERHUKUM DENGAN LAHIRIYYAH

Al Imam Asy Syafi’iy رحمه الله berkata:

وإنما كلف العباد الحكم على الظاهر من القول والفعل. (“الأم” /1 /423)

“Dan hanyalah para hamba itu dibebani berhukum dengan lahiriyyah dari perkataan dan perbuatan.”

(“Al Umm”/1/hal. 423).

PENETAPAN HUKUM-HUKUM ALLAH !!!

Kata Syaikhul Islam رحمه الله :

“Hanyalah yang diikuti dalam penetapan hukum-hukum Alloh adalah: Kitabulloh, sunnah Rosul-Nya  صلى الله عليه وسلم dan jalan As Sabiqunal Awwalun. Tidak boleh menetapkan hukum syar’iy tanpa ketiga prinsip ini, baik secara nash ataupun istimbath sama sekali.” (“Iqtidhoush Shirothil Mustaqim”/2/hal. 171).

BERDALILNYA SI AHLUL BID’AH

 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata:

“Dan demikianlah ahlul bida’, hampir-hampir mereka itu tidak berdalil dengan suatu dalil syar’iy ataupun dalil aqliy, kecuali dalam keadaan dalil-dalil tadi ketika direnungkan justru menjadi argumentasi untuk menghantam mereka sendiri, bukan untuk mendukung mereka.” (“Majmu’ul Fatawa”/6/hal. 254).

MENJELASKAN KEBENARAN

 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “… dikarenakan para Nabi عليهم السلام itu terjaga dari menyetujui kesalahan, berbeda dengan satu individu dari para ulama dan pemerintah, karena dia itu tidaklah terjaga dari yang demikian itu. Oleh karena itu diperbolehkan dan bahkan wajib untuk kita menjelaskan kebenaran yang wajib kita ikuti, sekalipun di dalam perbuatan ini terdapat penjelasan terhadap kesalahan orang yang berbuat salah dari kalangan ulama dan pemerintah.” (“Majmu’ul Fatawa”/19/hal. 123).

MENGIKUTI RUKHSHOH- RUKHSHOH

 Al Imam Adz Dzahabiy رحمه الله : “Dan barangsiapa mengikuti rukhshoh-rukhshoh dari madzhab-madzhab yang ada, dan ketergelinciran para mujtahidin, akan rapuhlah agamanya, sebagaimana perkataan Al Auza’iy atau yang lainnya: “Barangsiapa mengambil perkataan ahli Makkah dalam masalah nikah mut’ah, dan ahli Kufah dalam masalah nabidz, dan ahlul Madinah dalam masalah nyanyian, dan ahlusy Syam dalam masalah ma’shumnya kholifah, maka sungguh dia telah mengumpulkan semua kejelekan. Demikian pula yang mengambil pendapat orang yang memakai tipu daya dalam masalah perdagangan riba, dan pendapat orang yang berlapang-lapang dalam masalah tholaq dan nikah tahlil, dan yang seperti itu, maka sungguh dia telah menyodorkan diri untuk lepas dari agama.” (“Siyar A’lamin Nubala”/8/hal. 90/tarjumah Al Imam Malik/Ar Risalah),

KEDUDUKKAN YANG TINGGI

Asy Syaikh Ahmad An Najmiy رحمه الله berkata: “Iya, para pemuda Salafiy punya kecemburuan. Jika mereka mendapati penyelisihan terhadap sunnah pada suatu buku, atau kaset, atau mereka melihat ada orang dari Ahlussunnah berjalan bersama mubtadi’ah setelah adanya nasihat, mereka mengingkari hal itu dan menasihatinya, atau meminta dari sebagian masyayikh untuk menasihatinya. Jika orang itu dinasihati tapi tak mau menerima nasihat, mereka memboikotnya. Ini adalah kedudukan tinggi bagi mereka dan bukan celaan.” (“Al Fatawal Jaliyyah”/1/hal. 232-234/Darul Minhaj).

QORINAH YANG MENUNJUKKAN

 Al ‘Allamah Al Biqo’iy رحمه الله berkata tentang orang yang melindungi Ibnu ‘Arobiy dan yang semisalnya: ”Dan barangsiapa melindunginya, maka yang demikian itu adalah qorinah yang menunjukkan bahwasanya dirinya berkeyakinan dengan apa yang nampak dari ucapannya.” (“Tahdzirul ‘Ibad”/hal. 266).

MENJADI EKOR DALAM KEBENARAN

Al Imam Ibnu Mahdi رحمه الله berkata:

“Dulu kami pernah menghadiri jenazah, di situ ada Ubaidulloh bin Hasan dan beliau adalah seorang hakim. Ketika dipan telah diletakkan, duduklah beliau dan duduklah orang-orang di sekeliling beliau. Maka aku menanyainya dengan satu permasalahan. Ternyata dia menjawab dengan salah. Maka kukatakan padanya: “Semoga Alloh memperbaikimu. Pendapat yang benar dalam masalah ini adalah demikian dan demikian. Hanya saja aku tidak ingin membantahnya. Aku hanya ingin mengangkat nilai Anda kepada yang lebih besar dari itu.” Maka beliau menundukkan kepalanya sesaat kemudian mengangkatnya seraya berkata: “Jika demikian, maka aku rujuk dan aku itu kecil. Akan tetapi menjadi ekor dalam kebenaran lebih aku sukai daripada aku menjadi kepala dalam kebatilan.” (“Tarikh Baghdad”/10/hal. 308)( *[10]).

* ([10]) Sanadnya hasan, karena Ahmad bin Muhammad Al ‘Utaiqiy shoduq. Demikian juga Al Husain ibnul Hasan Al Marwaziy. Para rowi yang lain tsiqot. Silakan rujuk kembali catatan kaki dari kitab yang asli (“Shifatul Haddadiyyah Fi Munaqosyatin ‘Ilmiyyah”).

BERSIKERAS DENGAN BID’AH

Asy Syaikh Mufti Kerajaan Saudi bagian selatan Ahmad bin Yahya An Najmiy رحمه الله berkata:

“Maka jika engkau telah telah mengetahui adanya kebid’ahan darinya, lalu dia dinasihati untuk meninggalkannya, akan tetapi dia bersikeras untuk tetap melakukannya maka dia itu dinilai telah keluar dari sunnah dan memegang bid’ah,…” dst (“Al Fatawal Jaliyyah”/1/soal: 14).

AWAM MUSLIMIN DAN SYUBHAT HIZBIYYAH

 Asy Syaikh Zaid bin Muhammad Al Madkholiy حفظه الله ditanya: “Apakah orang dari kalangan awam Muslimin yang membawa syubhat-syubhat hizbiyyin dikatakan bahwasanya dia itu hizbiy?”

Maka setelah memuji Alloh dan bersholawat kepada Nabi beliau حفظه الله menjawab: “Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari mereka. Akan tetapi hendaknya dia dinasihati dulu, dan dijelaskan kepadanya kebenaran, karena orang yang bodoh itu terkadang mengalami kesamaran. Maka hendaknya dijelaskan kepada kebenaran dan diarahkan ke situ. Ini adalah rohmat ulama. Tapi jika dia bersikeras dan tidak mau serta membela ahlul bida’ maka hukumnya sama dengan hukum mereka karena kesepakatan mereka semua untuk memilih kebid’ahan dan mendahulukannya di atas sunnah, dan ini adalah kesesatan yang nyata.” (“Al ‘Aqdul Munadhdhodul Jadid”/2/hal. 95/Darul Itqon).

MUBTADI’ YANG BODOH

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله :

“Orang yang bodoh itu wajib untuk kembali dan tidak bersikeras di atas kebodohannya, dan tidak menyelisihi perkara yang para ulama Muslimin ada di atasnya, karena orang tadi jika tetap demikian maka dia itu adalah mubtadi’ yang bodoh dan sesat.” (“Majmu’ul Fatawa”/7/hal. 682).

MUJTAHID YANG BERIJTIHAD

 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata:

“Maka seorang mujtahid yang berijtihad secara ilmiyyah murni dia tidak punya tujuan selain kebenaran, dan dia telah menempuh jalannya. Adapun orang yang mengikuti hawa nafsu murni maka dia itu adalah orang yang mengetahui kebenaran dan menentangnya.” (“Majmu’ul Fatawa”/29/hal. 44).

MENISBATKAN SESEORANG

Al hafizh Ibnu Hajar رحمه الله berkata:

“Bahwasanya barangsiapa menisbatkan seseorang kepada perkara yang tidak pantas baginya, maka dikatakan bahwasanya dirinya telah mencercanya.” (“Fathul Bari”/14/hal. 175).

LEMBAH KEBATILAN

Perkataan Al Imam Al ‘Allamah Abdurrohman Al Mu’allimiy رحمه الله:

“Termasuk dari lembah kebatilan yang terluas adalah sikap ghuluw kepada tokoh-tokoh utama.”

(“At Tankil”/1/hal. 81).

LEBIH BERHAK UNTUK DIBAKAR

Syaikh kami Yahya Al Hajuriy حفظه الله ditanya: “Ada sekelompok orang jika kami katakan pada mereka: Kembalilah pada kitab-kitab Ahlussunnah seperti “Fathul Bari Syarh Shohihil Bukhoriy”, mereka berkata: ”Kitab itu penuh dengan kebid’ahan, maka apakah nasihat Anda untuk semisal mereka? Semoga Alloh membalas Anda dengan kebaikan.”

Maka beliau حفظه الله menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang sesat dan bodoh. Kitab “Fathul Bari Syarh Shohihil Bukhoriy” adalah termasuk dari kitab-kitab sunnah yang penting yang penuntut ilmu ataupun seorang alim itu butuh dengannya. Telah tersebar fatwa milik sebagian ghulah (orang-orang yang berlebihan) yang bernama Mahmud Al Haddad bahwasanya “Fathul Bari” itu harus dibakar. Ketika ucapan ini sampai kepada syaikh kami Al ‘Allamah Al Wadi’iyرحمه الله beliaupun berkata: “Andaikata Rosululloh صلى الله عليه وسلم tidak bersabda:

«لا يعذب بالنار إلا رب النار»

“Tidak boleh menyiksa dengan api kecuali Robb api.”

Pastilah kami berkata: Sesungguhnya Mahmud Al Haddad itu lebih berhak untuk dibakar daripada “Fathul Bari”. Adapun kesalahan-kesalahan Al Hafizh Ibnu Hajar dan yang semisalnya رحمهم الله yang terjadi pada ta’wil sebagian sifat atau terlalu melebar dalam masalah mencari barokah dengan atsar-atsar orang sholih, maka kesalahan ini harus dijauhi, dijelaskan dan manusia diperingatkan darinya sambil tetap mengambil faidah kitab-kitab yang bermanfaat yang penuh dengan ilmu dan sunnah itu.” (“Al Kanzuts Tsamin”/5/hal. 65-66/Darul Kitab Was Sunnah).

SEDIKIT JUMLAHNYA

Al Imam Abu Bathin رحمه الله berkata:

“Dan telah diketahui bahwasanyaAhlul haqq itu sedikit jumlahnya akan tetapi mereka adalah orang-orang yang paling agung nilainya di sisi Alloh.” (“Ar Roddu ‘Alal Burdah”/Abu Bathin/hal. 44/Darul Atsar).

JANGANLAH KALIAN PIKIRKAN

Al ‘Allamah Burhanuddin Al Biqo’iy رحمه الله berkata:

“Dan janganlah kalian pikirkan banyaknya ucapan para pengikut setan dan serangan cacian mereka dengan dosa dan permusuhan kepada kita, wahai saudaraku. Mereka itu hanyalah mengatakan yang demikian secara ghibah. Mereka dengan itu akan mendapatkan dosa dan kerugian, karena sesungguhnya Alloh telah menjamin datangnya pertolongan, sekalipun pelaku kebatilan itu disertai oleh jumlah yang banyak.” (“Mashro’atut Tashowwuf”/Al Biqo’iy/hal. 243/Darul Iman).

AHLUSSUNNAH BERSAMA AHLUL BID’AH ?

 Al Imam Abu Dawud As Sijistaniy رحمه الله berkata: “Aku katakan pada Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal: Saya melihat seseorang dari Ahlussunnah sedang bersamaan dengan seseorang dari ahlul bid’ah, apakah saya boleh memboikotnya? Beliau menjawab: “Jangan. Kenapa engkau tidak memberitahunya bahwasanya orang yang engkau lihat dia bersamanya adalah ahlu bid’ah? Jika dia mau meninggalkan pembicaraan dengannya maka ajaklah dia bicara. Tapi jika dia membangkang maka gabungkanlah dirinya dengan orang tadi. Ibnu Mas’ud berkata: “Seseorang itu sesuai dengan teman dekatnya.”(4) (“Thobaqotul Hanabilah” /1/170/Darul Ma’rifah) (5).

Al Imam Al Barbahariy رحمه الله berkata: “Jika engkau melihat orang duduk bersama ahlul ahwa maka peringatkanlah dirinya dan beritahulah dirinya. Jika dia duduk bersamanya lagi setelah dia tahu, maka hindarilah dirinya karena sesungguhnya dia itu adalah pengekor hawa nafsu.” (“Syarhus Sunnah”/hal. 44/Darul Atsar).

4( ) Diriwayatkan Ibnu baththoh dalam “Al Ibanatul kubro” (no. 505) dan Al Baihaqiy dalam “Syu’abul Iman” (8984) dan Abdurrozzaq (7894) dengan sanad jayyid dari Ibnu Mas’ud رضي الله عنه dengan lafazh:

« اعتبروا الرجل بمن يصاحب ، فإنما يصاحب من هو مثله ».

“Nilailah seseorang dengan siapa dia bersahabat, karena dia itu hanyalah bersahabat dengan orang yang semisal dengannya.”

5( ) Atsar Shohih, diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ya’la رحمه الله lihat takhrijnya di risalah asli “Shifatul Haddadiyyah”.

BERITA ORANG FASIQ

BerkataAlloh ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

“Wahai orang-orang yang beriman jika datang kepada kalian seorang fasiq dengan suatu berita, maka carilah kejelasan.” (QS Al Hujurot: 11).

Al Imam Al Qurthubiy رحمه الله berkata: “Di dalam ayat ini ada dalil yang menunjukkan diterimanya berita satu orang jika dia itu ‘adil (lurus agamanya), karena Alloh hanyalah memerintahkan tatsabbut ketika ada penukilan dari kabar orang fasiq.” (“Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an”/8/hal. 582).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه اللهberkata tentang tafsir ayat ini: “Firman-Nya: “Wahai orang-orang yang beriman jika datang kepada kalian seorang fasiq dengan suatu berita, maka carilah kejelasan.” Alloh memerintahkan untuk tabayyun setiap kali datang orang fasiq dengan membawa suatu berita. Bahkan di antara berita-berita itu ada jenis berita yang di situ tidak dibolehkan untuk tabayyun(2), ada berita yang dibolehkan di situ untuk tidak tabayyun(3), dan ada juga berita yang mengandung hukuman pada sebagian orang, Karena Alloh menyebutkan motif perintah tabayyun tadi dengan jika datang pada kita orang yang fasiq yang membawa berita, kita khawatir akan menimpakan sesuatu pada suatu kaum dengan suatu kebodohan. Andaikata setiap orang yang ditimpa sesuatu berdasarkan suatu berita itu demikian (harus ditabayyuni), niscaya tak akan terjadi perbedaan antara orang adil dengan orang fasiq. Bahkan dalil-dalil ini jelas menunjukkan tidak terlarangnya menimpakan hukuman dengan berdasarkan berita dari satu orang yang adil secara mutlak. Yang demikian itu menunjukkan diterimanya persaksian satu orang adil dalam jenis kasus yang mengandung hukuman-hukuman.” (“Majmu'”/15/307).

2( ) Misalnya adalah berita dari Alloh ta’ala dan Rosul-Nya. Kita wajib untuk langsung mengimaninya. (catt. Pent).

3( ) Misalnya adalah keumuman berita dari orang tsiqoh. Sebagian ulama mewajibkan untuk langsung menerimanya, sebagian lagi membolehkan untuk tabayyun. Dan tiada seorangpun dari ulama sunnah yang mu’tabar mewajibkan tabayyun terhadap berita orang tsiqoh. Adapun para hizbiyyun pengikut Abdurrohman bin Mar’i dan lainnya, yang mewajibkan tabayyun terhadap berita orang tsiqoh, maka mereka memang ahlu bid’ah. (catt. Pent).

ORANG YANG TAHU

Al Imam Muhammad bin Ibrohim Al Wazir رحمه الله berkata:

“Orang yang tahu adalah hujjah terhadap orang yang bodoh.”

(“Ar Roudhul Basim”/1/hal. 142).

Al Hafizh Ibnu Hajar رحمه الله berkata:

“Orang yang tahu adalah hujjah terhadap orang yang tidak tahu.”

(“Fathul bari”/di bawah nomor: 3585).

GEMBIRANYA AHLUL BID’AH

oleh Al Imam Asy Syaukaniy –semoga Alloh merohmatinya- :

“Dan sungguh kaidah ahlul bida’ telah berjalan pada zaman dahulu dan yang berikutnya bahwasanya mereka itu bergembira dengan munculnya satu kalimat dari satu orang ulama, lalu mereka berlebihan dalam mempopulerkannya dan mengumumkannya di antara mereka, menjadikannya sebagai argumentasi untuk mendukung kebid’ahan mereka, dan dengannya mereka memukul wajah orang yang mengingkari mereka, sebagaimana engkau dapati di dalam kitab-kitab Rofidhoh yang di dalamnya ada riwayat-riwayat tentang kalimat-kalimat yang datang dari ulama Islam yang terkait dengan perselisihan para Shohabat, juga tentang keutamaan dan cercaan. Para Rofidhoh dengan adanya itu terbang gembira dan menjadikannya sebagai bagian dari simpanan dan ghonimah (rampasan perang) yang paling besar.” (“Adabuth Tholab”/hal. 35/ Darul Kutubil ‘Ilmiyyah).

ILMU HADITS

Al Imam Ibnush Sholah رحمه الله berkata:

“Dan sesungguhnya ilmu hadits itu merupakan ilmu yang paling mulia, dan cabang yang paling bermanfaat, yang dicintai oleh pejantan dari lelaki dan jagoan mereka, yaitu: para peneliti dari kalangan ulama dan orang-orang sempurna mereka. Dan tidaklah membencinya kecuali orang-orang yang hina dan rendahan. Ilmu hadits merupakan ilmu yang paling banyak masuk ke dalam cabang-cabang ilmu syariat, terutama cabang ilmu fiqh yang mata itu merupakan mata air syariat. Oleh karena itu orang-orang yang meninggalkannya banyak mengalami kekeliruan, seperti para penulis dari kalangan fuqoha, dan nampak cacat tersebut pada perkataan orang yang ilmu haditsnya kurang, dari kalangan ulama.” (“Muqoddimah Ibnush Sholah”/1/hal. 3).

ILMU KALAM DAN METODE FILSAFAT

نهاية إقدام العقول عقال … وأكثر سعي العالمين ضلال

وأرواحنا في وحشة من جسومنا … وحاصل دنيانا أذى ووبال

ولم نستفد من بحثنا طول عمرنا … سوى أن جمعنا فيه قيل وقال

“Puncak dari kemajuan akal adalah memutar balik kembali. Dan mayoritas upaya manusia adalah kesesatan belaka. Ruh-ruh kami kesepian di dalam raga-raga kami, dan hasil dari dunia kami adalah gangguan dan kecelakaan. Dan kami tidak mengambil faidah dari pencarian sepanjang umur kami kecuali kami sekedar mengumpulkan ucapan fulan dan ucapan allan .Sungguh aku telah merenungkan jalan-jalan ilmu Kalam dan metode-metode filsafat, maka aku tidak mendapatinya menyembuhkan penyakit dan tidak pula menghilangkan dahaga. Dan aku melihat Aqrobuth Thuruq (jalan yang terdekat) adalah jalan Al Qur’an. Bacalah dalam masalah penetapan:

الرحمن على العرش استوى

“Ar Rohman tinggi di atas ‘Arsy.”

إليه يصعد الكلم الطيب والعمل الصالح يرفعه

“Kepada-Nyalah ucapan yang baik itu naik, dan amal sholih mengangkat ucapan yang baik tadi.”

Dan bacalah dalam masalah peniadaan:

ليس كمثله شيء

“Tiada sesuatupun yang serupa dengan Dia.”

ولا يحيطون به علماً

“Dan mereka tidak bisa meliputi diri-Nya dengan ilmu mereka.”

Lalu dia berkata:

“Dan barangsiapa mencoba seperti percobaan yang aku lakukan, dia akan tahu seperti apa yang aku tahu.”

(dinukilkan oleh Syaikhul Islam dalam kitab beliau “Bayan Talbisil Jahmiyyah Fi Ta’sis Bida’ihimil Kalamiyyah”/1/hal. 119).

JALAN YANG PALING DEKAT

Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata:

“Kondisi di mana Alloh sebagai Pemberi petunjuk ke Ash Shirothul Mustaqim, yaitu mengenal kebenaran dan mengamalkannya, itu adalah Aqrobuth Thuruq (jalan yang paling dekat) yang menyampaikan kepada tujuan, karena sesungguhnya garis yang lurus itu adalah garis terdekat yang menyampaikan  antara dua titik. Dan jalan yang lurus tadi tidak diketahui kecuali dari para Rosul.” (“Madarijus Salikin”/1/hal. 69).

SIFAT FITROH

 Al Imam Ibnul Wazir رحمه الله berkata:

“Telah diketahui di dalam fithroh-fithroh bahwasanya kebenaran itu lebih diutamakan daripada kebatilan.”

(“Itsarul Haqq ‘alal Kholq”/hal. 194).

ASH-SHIROTHUL MUSTAQIM

 Alloh سبحانه berfirman tentangnya:

وَالله يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ﴾ [البقرة: 213]

“Dan Alloh memberikan petunjuk untuk orang yang Dia kehendaki kepadaShiroth Mustaqim (Jalan yang lurus)”

Al Imam Abu Ja’far Ath Thobariy رحمه الله menafsirkan:

“Alloh Yang tinggi penyebutan-Nya berfirman pada para hamba-Nya: “Wahai para manusia, janganlah kalian mencari dunia dan perhiasannya, karena dia akan berakhir pada kemusnahan dan kepunahan, sebagaimana kesudahan tanaman yang Alloh bikin sebagai permisalan, menuju pada kerusakan dan kebinasaan. Akan tetapi carilah Akhirat yang kekal, dan beramallah kalian untuk Akhirat. Dan apa yang ada di sisi Alloh itu carilah dengan ketaatan pada-Nya, karena sesungguhnya Alloh menyeru kalian kepada negri-Nya, yaitu Jannah-jannah-Nya yag dia siapkan untuk para wali-Nya. Di dalam Jannah kalian selamat dari kegundahan dan kesedihan, dan kalian aman dari binasanya kenikmatan-kenikmatan dan kemuliaan yang Alloh sediakan untuk orang yang masuk ke dalamnya. Dan Alloh memberikan petunjuk pada makhluk yang Dia kehendaki, memberinya taufiq untuk mendapatkan jalan yang lurus, yaitu Islam yang Alloh جل ثناؤه jadikan sebagai sebab untuk mencapai keridhoan-Nya, dan jalan untuk orang yang menempuhnya dan berjalan di atasnya menujuJannah-jannah-Nya dan kemuliaan-Nya.” (“Jami’ul Bayan”/15/hal. 59).

AL-QURAN ITU MUDAH

 Alloh ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ﴾ [القمر: 17]

“Dan sungguh Kami telah memudahkan Al Qur’an untuk diingat. Maka adakah yang mau mengingat?”

Al Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata: “Yaitu: Kami telah memudahkan lafazhnya, dan kami gampangkan maknanya bagi orang yang menginginkannya, agar manusia itu ingat.” (“Tafsirul Qur’anil‘Azhim”/7/hal. 478).

ALAMAT-ALAMAT KEBENARAN

Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan sungguh Alloh ta’ala telah menancapkan di atas kebenaran itu alamat-alamat yang banyak. Dan Alloh  سبحانه وتعالى tidak menyamakan Antara perkara yang dicintai-Nya dengan perkara yang dimurkai-Nya dari segala sisi yang mana tidak bisa dibedakan Antara yang ini dengan yang itu. Dan fithroh-fithroh yang selamat itu pasti condong pada kebenaran dan lebih mengutamakannya. Dan pastilah ada sebagian alamat pemberat yang membimbing fithroh untuk mengetahui kebenaran, sekalipun mungkin berupa mimpi atau ilham. Jika ditetapkan misalkan itu semua hilang, dan seluruh tanda tidak terlihat pada suatu perkara, maka di sini gugurlah beban dalam hukum kasus tadi, dan jadilah orang tadi bagaikan orang yang belum sampai padanya dakwah, terkait dengan kasus tersebut, sekalipun dia tetap terbebani dalam kasus-kasus yang lain. Maka hukum-hukum pembebanan itu bertingkat-tingkat sesuai dengan kadar kemantapan ilmu dan kemampuan. Allohu a’lam.” (“I’lamul Muwaqqi’im”/4/hal. 219).

ABU BAKAR,’UMAR DAN PARA SAHABAT ITULAH SHIROTOL MUSTAQIM

Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata:

“Oleh karena itulah maka para Salaf menafsirkan jalan yang lurus dan penempuhnya adalah dengan: Abu Bakr, Umar dan para Shohabat Rosululloh –semoga Alloh meridhoi mereka-. Dan itu memang seperti yang mereka tafsirkan, karena jalan mereka yang mereka ada di atasnya itu memang benar-benar jalan Nabi mereka itu sendiri. Dan mereka itulah yang Alloh beri nikmat kepada mereka, dan Alloh murka pada para musuh mereka, dan Alloh menghukum para musuh mereka sebagai orang-orang yang sesat. Abul ‘Aliyah Rufai’ Ar Riyahiy dan Al Hasan Al Bashriy –dan keduanya adalah termasuk Tabi’in yang paling mulia- berkata: “Jalan yang lurus adalah Rosululloh dan kedua Shohabatnya. Abul ‘Aliyah juga berkata tentang firman Alloh ta’ala:

صراط الذين أنعمت عليهم

“Yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat kepada mereka.”

(beliau berkata:) “Mereka adalah keluarga Rosululloh, Abu Bakr dan Umar.  Dan inilah yang benar, karena keluarga Rosululloh, Abu Bakr dan Umar berjalan di atas jalan yang sama, tiada perselisihan di antara mereka, dan mereka satu sama lain saling loyal dan saling memuji. Dan bahwasanya mereka memerangi orang-orang yang diperangi oleh Abu Bakr dan Umar, dan berdamai dengan orang yang diajak damai oleh keduanya itu telah diketahui oleh umat ini, ulamanya dan orang awamnya. Zaid bin Aslam berkata: “Orang-orang yang Alloh beri nikmat pada mereka adalah Rosululloh, Abu Bakr dan Umar.” Dan tiada keraguan bahwasanya orang-orang yang mendapatkan nikmat adalah para pengikut beliau, dan yang mendapatkan kemurkaan adalah orang-orang yang keluar dari pengikutan pada beliau. Dan umat yang paling mengikuti beliau dan paling taat pada beliau adalah para Shohabat beliau dan keluarga beliau. Dan Shohabat yang paling mengikuti beliau secara pasti adalah Abu Bakr dan Umar. Dan yang paling menyelisihi beliau dari umat ini adalah rofidhoh. Maka penyelisihan mereka terhadap beliau telah diketahui oleh seluruh pecahan umat ini. Oleh karena itulah mereka membenci sunnah dan Ahlussunnah, memusuhi sunnah dan memusuhi Ahlussunnah. Maka mereka adalah musuh dari sunnah beliau. Sementara keluarga beliau dan para pengikut beliau di kalangan mereka itu paling banyak mewarisi beliau, bahkan mereka itulah pewaris beliau secara hakiki. Dan telah jelas bahwasanya jalan yang lurus adalah jalan para Shohabat beliau dan para pengikut beliau, sementara jalan orang yang dimurkai dan orang yang sesat adalah jalan rofidhoh. Dengan jalan yang lurus ini tertolaklah khowarij karena permusuhan mereka terhadap paraShohabat itu telah dikenal.”

(selesai penukilan dari “Madarijus Salikin”/1/hal. 64-65/cet. Darul hadits).

SIFAT SHIROTH

Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله:

“Dan Shiroth itu adalah suatu jalanyang menggabungkan lima sifat: dia itu lurus, mudah, sudah banyak dilalui, luas, dan menyampaikan pada tujuan. Orang Arob tidak menamakan jalan yang bengkok itu sebagai shiroth. Mereka juga tidak menamakan jalan yang susah, yang bercabang, sebagai Shiroth. Mereka juga tidak menamakan jalan buntu yang tidak menyampaikan ke tujuan sebagai Shiroth. Renungkanlah ungkapan-ungkapan Shiroth di ucapan-ucapan orang Arob dan penggunaan mereka, niscaya menjadi jelaslah itu.” (“Badai’ul Fawaid”/2/hal. 254).

BERSUNGGUH-SUNGGUH MENCARI KEBENARAN

Yazid bin Umairoh berkata:

لما حضر معاذ بن جبل الموت قيل له: يا أبا عبد الرحمن أوصنا. قال: أجلسوني. فقال: إن العلم والإيمان مكانهما من ابتغاهما وجدهما. يقول ذلك ثلاث مرات. (أخرجه الترمذي (3804)/صحيح).

“Ketika datang kematian pada Mu’adz bin Jabal, dikatakan pada beliau: “Wahai Abu Abdirrohman, berilah kami wasiat.” Maka beliau berkata: “Dudukkanlah aku.” Lalu beliau berkata: “Sungguh ilmu dan iman itu masih ada di tempatnya. Barangsiapa mencarinya, maka dia akan mendapatkannya.” Beliau mengucapkan itu tiga kali.” (riwayat At Tirmidziy (3804)/shohih).

Al Imam Ibnul Wazir رحمه الله berkata: “Aku telah mengetahui dengan pengalaman yang pasti pada diriku sendiri dan pada orang lain bahwasanya mayoritas ketidaktahuan orang terhadap hakikat-hakikat suatu perkara itu sebabnya hanyalah karena mereka tidak bersungguh-sungguh berusaha mengenal hakikat-hakikat tadi secara adil, bukan karena mereka itu tidak paham. Karena Alloh, dan hanya untuk-Nya sajalah pujian, telah menyempurnakan hujjah dengan kemampuan untuk memahami. Hanya saja kebanyakan orang mengalami kegagalan karena mereka kurang bersungguh-sungguh mempelajari.” (“Itsarul haqq ‘Alal Kholq”/hal. 28).

 

UJIAN DAN COBAAN

Al Imam Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- berkata: “Ujian dan cobaan itu akan menampakkan jati diri orang-orang. Maka alangkah cepatnya orang yang mengaku-aku itu terbongkar keasliannya.” (“Badai’ul Fawaid”/3/hal. 751).

Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله menyitir penggalan bait:

ومن تزيا بغير ما هو فيه فضحته شواهد الامتحان. (“غارة الأشرطة”/1/ص537).

“Dan barangsiapa bergaya bukan dengan sifat aslinya, saksi-saksi ujian akan menyingkapkan jati dirinya.” (“Ghorotul Asyrithoh”/1/hal. 537).

AKIBAT KEDZOLIMAN

 Firman Alloh ta’ala:

﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا بَغْيُكُمْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ﴾ [يونس/23].

“Hai manusia, Sesungguhnya (bencana) kezholiman kalian akan menimpa diri kalian sendiri.”

Dan dari Abu Bakroh رضي الله عنه yang berkata: Rosululloh صلى الله عليه وسلم berkata:

«ما من ذنب أجدر أن يعجل الله تعالى لصاحبه العقوبة في الدنيا – مع ما يدخر له في الآخرة -مثل البغي وقطيعة الرحم».

“Tiada satu dosapun yang lebih pantas untuk Alloh ta’ala menyegerakan hukuman di dunia bagi pelakunya bersamaan dengan hukuman yang disimpan-Nya di akhirat seperti al baghyu (kezholiman pada yang lain) dan pemutusan silaturrohim.” (HR. Al Imam Ahmad (5/hal. 36), Abu Dawud (14/hal. 200) dan yang lainnya, dihasankan oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dalam “Al Jami’ush Shohih” (4301)/darul Atsar).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Maka orang yang baghi dan zholim itu Alloh akan menimpakan balasan baginya di dunia dan akhirat, dikarenakan baghyu itu adalah sebab terbantingnya dirinya.” (“Majmu’ul Fatawa”/35/hal. 82).

Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan telah lewat sunnatulloh bahwasanya jika ada gunung berbuat baghyu (zholim) kepada gunung yang lain, maka Alloh akan menjadikan gunung yang zholim tadi hancur.” (“Badai’ul Fawaid”/2/hal. 464).

‘ILMU DAN DALIL

 Al Imam As Sarkhosiy رحمه الله : “Jika engkau menyatakan bahwasanya engkau mengucapkan itu berdasarkan ilmu, maka ilmu yang dihasilkan oleh seseorang itu tidaklah terwujud kecuali dengan dalil.” (“Ushulus Sarkhosiy”/2/hal. 217).

PERSENGKETAAN 

 Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Maka apabila terjadi persengketaan dan perselisihan antar pengajar, atau antar murid, atau antara pengajar dan murid, tidak boleh bagi seorangpun untuk menolong satu pihak sampai dia tahu yang benar. Maka tak boleh baginya untuk saling menolong dengan kebodohan dan hawa nafsu. Akan tetapi dia harus memperhatikan perkara tersebut. Apabila jelas baginya kebenaran, dia harus menolong pihak yang benar untuk menghadapi pihak yang berbuat batil, sama saja apakah pihak yang benar itu dari temannya ataukah bukan. Dan sama saja apakah pihak yang batil itu dari temannya ataukah bukan. Maka jadilah tujuannya itu ibadah kepada Alloh semata dan ketaatan kepada Rosul-Nya, dan mengikuti kebenaran dan menegakkan keadilan.” (“Majmu’ul Fatawa”/28 /hal. 16).

SYIAR FIRQOH-FIRQOH

 Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Dan syi’ar dari firqoh-firqoh ini adalah : pemisahan diri dari Al Kitab, As Sunnah dan ijma’. Maka barangsiapa berbicara dengan Al Kitab, As Sunnah dan ijma’ maka dia itu adalah termasuk dari Ahlussunnah Wal Jama’ah.” (“Majmu’ul Fatawa”/3/hal. 346).

AL-JAMA’AH

Dan dalam hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan رضي الله عنهما yang berkata: Sesungguhnya Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

«إن أهل الكتابين افترقوا في دينهم على ثنتين وسبعين ملة، وإن هذه الأمة ستفترق على ثلاث وسبعين ملة -يعني الأهواء-، كلها في النار إلا واحدة وهي الجماعة. وأنه سيخرج في أمتي أقوام تجارى بهم تلك الأهواء كما يتجارى الكلب بصاحبه لا يبقى منه عرق ولا مفصل إلا دخله».(أخرجه الإمام أحمد (16937/ الرسالة)، وهو حديث حسن).

“Sesungguhnya Ahlul Kitabain –Tauroh dan Injil- telah tercerai-berai dalam agama mereka menjadi tujuh puluh dua agama. Dan sesungguhnya umat ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga agama –yaitu hawa nafsu-. Semuanya di dalam nereka kecuali satu, yaitu Al Jama’ah. Dan bahwasanya akan keluarlah di dalam umatku kaum-kaum yang dijalari oleh hawa-hawa nafsu tadi, sebagaimana penyakit anjing gila menjalari korbannya. Tidaklah tersisa darinya satu uratpun dan satu persendianpun kecuali dia akan memasukinya.” (HR. Ahmad ((16937)/Ar Risalah) hadits hasan).

Al Imam Ath Thibiy رحمه الله berkata: “Yang dikehendaki dengan Al Jama’ah di sini adalah para Shohabat dan orang yang setelah mereka dari kalangan Tabi’in dan tabi’it tabi’in dan para Salafush Sholihin. Yaitu: Aku perintahkan kalian untuk berpegang dengan jalan dan alur mereka, dan masuk ke dalam rombongan mereka.” (sebagaimana dalam “Tuhfatul Ahwadzi”/Al Amtsal/Bab Ma Jaa Fi Matsalish Sholah Wash Shiyam/7/hal. 281/cet. Darul Hadits).

MUBTADI’

Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata: “Barangsiapa telah mengetahui dalil kemudian dia mengamalkan yang menyelisihi dalil tadi maka dia itu termasuk mubtadi’”. (“Ghorotul Asyrithoh”/1/hal. 164).

Bahkan Al Imam Al Barbahariy رحمه الله : berkata: “Dan barangsiapa menyelisihi Al Kitab dan As Sunnah, maka dia itu adalah shohibul bida’ sekalipun dia adalah orang yang banyak riwayat dan kitab.” (“Syarus Sunnah”/hal. 36/Darul Atsar).

Al Imam Asy Syathibiy رحمه الله berkata: “Tiada makna untuk kebid’ahan kecuali jika perbuatan tadi dalam keyakinan si mubtadi’ tadi adalah disyariatkan padahal tidak disyariatkan.” (“Al I’tishom”/1/hal. 364).

TAWADLU

Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “sebagaimana orang yang merendahkan diri untuk Alloh maka Alloh mengangkatnya, maka demikian pula orang yang menyombongkan diri dari menaati kebenaran Alloh akan menghinakannya, merendahkannya, mengecilkannya, meremehkannya. Dan barangsiapa menyombongkan diri dari menaati kebenaran walaupun datang dari tangan anak kecil, atau dari tangan orang yang dibencinya atau dimusuhinya, maka dia itu sebenarnya hanyalah menyombongkan diri kepada Alloh, karena Alloh itulah Al Haqq, perkataan-Nya benar, agama-Nya benar. Kebenaran adalah sifat-Nya, datang dari-Nya, dan milik-Nya. Maka jika sang hamba menolaknya dan menyombongkan diri dari menerimanya, maka dia itu hanyalah membantah Alloh dan menyombongkan diri kepada Alloh.” (“Madarijus Salikin”/2/hal. 271/Darul hadits).

‘ALIM ITU KADANG TERGELINCIR

Al Imam Ibnul Qoyyim -rohimahullohu-
وأن العالم قد يزل ولا بد ؛ إذ ليس بمعصوم ، فلا يجوز قبول كل ما يقوله ، و ينزل قوله منزلة قول المعصوم ؛ فهذا الذي ذمه كل عالم على وجه الأرض ،وحرموه ، وذموا أهله وهو أصل بلاء المقلدين وفتنتهم ، فإنهم يقلدون العالم فيما زل فيه وفيما لم يزل فيه ، وليس لهم تمييز بين ذلك ، فيأخذون الدين بالخطأ – ولا بد – فيحلون ما حرم الله ويحرمون ما أحل الله و يشرعون ما لم يشرع ، ولا بد لهم من ذلك إذ كانت العصمة منتفية عمن قلدوه ،والخطأ واقع منه ولا بد .

“… dan bahwasanya seorang alim itu terkadang tergelincir. Dan itu pasti, karena dia itu tidak ma’shum (tidak terjaga dari kesalahan). Maka tidak boleh menerima seluruh yang diucapkannya dan menempatkannya pada posisi ucapan orang yang ma’shum. Inilah perkara yang setiap ulama di muka bumi mencelanya dan mengharomkannya (yaitu menerima seluruh ucapan si alim seakan-akan ucapannya tadi bersumber dari orangyang ma’shum). Dan mereka juga mencela pelaku taqlid. Dan sikap tadi merupakan sumber dari bencana dan fitnah orang yang taqlid, karena mereka itu membebek pada si alim dalam perkara yang dirinya tergelincir di situ dan juga di dalam perkara yang dia tidak tergelincir di situ. Dan mereka tidak punya pemisahan terhadap kedua perkara tadi (perkara yang si alim bertindak benar, dan perkara yang si alim tergelincir di situ). Akibatnya mereka (para ahli taqlid) mengambil agama dengan salah. Dan itu pasti. Maka merekapun menghalalkan apa yang diharomkan oleh Alloh, dan mengharomkan apa yang dihalalkan oleh Alloh, dan mensyari’atkan apa yang tidak disyari’atkan-Nya. Dan itu pasti mereka alami, karena kema’shuman itu tidak ada pada orang yang mereka taqlidi. Dan kesalahan itu pasti terjadi pada si alim itu. Tidak bisa tidak.” (“I’lamulMuwaqqi’in”/2/hal. 295).

JIKA SALAH SATU PIHAK PUNYA HUJJAH

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rohimahullohu-:

لكن ان كان مع احدهما حجة شرعية وجب الانقياد للحجج الشرعية اذا ظهرت ولا يجوز لأحد ان يرجح قولا على قول بغير دليل ولا يتعصب لقول على قول ولا لقائل على قائل بغير حجة

“Akan tetapi jika salah satu pihak punya hujjah syar’iyyah maka wajib untuk tunduk kepada hujjah-hujjah syar’iyyah jika telah muncul. Dan tidak boleh bagi seorangpun untuk merojihkan suatu perkataan terhadap perkataan yang lain tanpa dalil. Dan tidak boleh bersikap fanatik terhadap suatu ucapan dan memusuhi ucapan yang lain, juga  tidak boleh bersikap fanatik terhadap si pengucap dan memusuhi si pengucap yang lain tanpa hujjah.” (“Majmu’ul Fatawa”/35/hal. 233)

MUQOLLID

Imam Ibnul Qoyyim -rahimahulloh- berkata:

“Abu Umar (Imam Ibnu Abdil Barr -rahimahulloh-) dan para ulama yanglain berkata: “Manusia telah bersepakat bahwasanya muqollid itu tidak teranggap sebagai ulama, dan bahwasanya ilmu itu adalah mengetahui alhaq dengan dalilnya.” Dan ini sebagaimana perkataan Abu Umar–rahimahullohu ta’ala-: “Karena sesungguhnya manusia tidak berselisih bahwasanya ilmu itu adalah pengetahuan yang diperoleh dari dalil. Adapun tanpa dalil, maka hal itu hanyalah taqlid.” Dua ijma’ inimengandung pengeluaran seorang yang fanatik dengan hawa nafsu dan orang yang bertaqlid buta dari rombongan ulama, dan mengandung jatuhnya dua tipe ini -karena orang-orang di atas mereka telah menyempurnakan bagian warisan- dari kalangan pewaris para nabi,” dst (“I’lamul Muwaqqi’in” 1/hal. 6)

AL-HAQ JIKA TELAH BERKIBAR

Ibnul Qoyyim -rahimahulloh- berkata:
“Karena sesungguhnya al haq itu jika telah berkibar dan jelas turun maka dia itu tidak butuh saksi pendukung untuk dirinya. Dan hati itu bisa melihat al haq sebagaimana mata melihat matahari. Maka jikaseseorang telah melihat matahari, dia untuk pengetahuannya tadi dan keyakinannya bahwasanya matahari telah terbit tidak butuh lagi pada orang yang bersaksi untuk mendukung dan mencocokinya. Dan alangkah bagusnya apa yang diucapkan oleh Abu Muhammad Abdurrohman bin Isma’ilyang terkenal sebagai “Abu Syamah” di dalam kitab “Al Hawadits wal Bida’”: “Di mana saja datang perintah untuk berpegang pada Al Jama’ah,maka yang dimaksudkan dengannya adalah berpegang pada al haq dan mengikutinya, sekalipun orang yang berpegang teguh dengannya itu sedikit, dan yang menyelisihinya itu banyak, karena al haq itu adalah sesuatu yang di atasnya itulah Al Jamaah yang pertama dari zaman Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- dan para shohabatnya. Dan tidak perlu melihat pada banyaknya ahlul bida’ sepeninggal mereka.”(“Ighotsatul Lahfan” 1/hal. 69-70)

MENCELA DISERTAI BUKTI

AL Hafidh Ibnul Qoyyim-rahimahulloh- berkata:

من سبَ بالبُرهان ليس بظالمٍ والظلمُ سبُ العبدِ بالبهتان

“Barangsiapa mencela dengan disertai bukti maka dia itu bukanlahtermasuk orang yang dzolim. Dan kedzoliman itu adalah celaan seseorang dengan kedustaan.” (“An Nuniyyah”)

Syaikh Al Harrosh -rahimahulloh- berkata:

“Sesungguhnya barangsiapa yang mencela lawan bicaranya dengan dalil maka dia itu bukanlah termasuk orang yang zholim. Dan bukan termasuk orang yang meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Akan tetapi kezholiman itu adalah celaan seseorang dengan kepalsuan dan kebohongan.” (“Syarh Nuuniyyah Ibnul Qoyyim” 2/ hal. 340)

FATWA ORANG BESAR ?

Marilah kita dengarkan seruan Imam Al Wadi’i -ra himahulloh-:
اسمعوا اسمعوا فتوى أكبر واحد عندي تخالف الدليل لا قيمة لها وفتوى أصغرمنكم و معه دليل على العين والرأس حتى لا تخوفني بفتوى فلان ولا فلان بل أنا خصم فلان ما كان الذي يخرج فتاوى زائغة فأنا خصمه

“Dengarkanlah, dengarkanlah! Fatwa orang yang paling besar di sisiku tapi menyelisihi dalil tak ada harganya. Dan fatwa orang yang paling kecil dari kalian dan ada dalil bersamanya maka dia itu terhormat dan ditaati, sampai kalian tidak menakuti-takuti aku dengan fatwa fulan ataupun fulan. Bahkan aku adalah lawan debat si fulan. Selama yangkeluar adalah fatwa-fatwa yang menyimpang, maka aku adalah lawan debatnya.” (“Ghorotul Asyrithoh”/Imam Al Wadi’i /hal. 46)

PARA ULAMA BERSEPAKAT ?

Imam Ibnu Rajab -rohimahullah- berkata

أن علماء الدين كلُّهم مجمعون على قصد إظهار الحق الذي بعث الله به رسوله صلى الله عليه وسلم ولأنْ يكون الدين كله لله وأن تكون كلمته هي العليا ، وكلُّهم معترفون بأن الإحاطة بالعلم كله من غير شذوذ شيء منه ليس هو مرتبة أحد منهم ولا ادعاه أحد من المتقدمين ولا من المتأخرين

“Bahwasanya ulama agama ini semuanya bersepakat untuk menginginkan pemunculan kebenaran yang dengannyalah Alloh mengutus Rosul-Nya -shalallohu ‘alaihi wa sallam-, dan agar agama itu seluruhnya untuk Alloh, dan agar kalimat Alloh itulah yang tertinggi. Dan mereka semua mengakui bahwasanya penguasaan ilmu secara total tanpa ada yang lepas dari sedikitpun bukanlah martabat bagi seorangpun dari mereka, dan tiada seorangpun dari mutaqoddimin maupun muta’akhkhirin yang mengaku-aku mencapai derajat itu.” (“Al Farqu Bainan Nashihah wat Ta’yir” 1/hal. 3)

MEREKA AKAN BINASA !!!

Sa’id bin Jubair -rahimahulloh- berkata:

عن ابن عباس ، قال : « تمتع رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال عروة :نهى أبو بكر ، وعمر عن المتعة ، فقال ابن عباس : ما يقول عرية ؟ قال : يقول: نهى أبو بكر ، وعمر عن المتعة ، فقال : أراهم سيهلكون ، أقول : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ويقولون : قال أبو بكر ، وعمر »

Dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhuma yang berkata: “Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- bertamattu’ (dalam haji)”. Maka ‘Urwah berkata,”Abu Bakr dan Umar melarang dari tamattu’.” Maka Ibnu ‘Abbas berkata,”Apa yang dikatakan si ‘Urwah kecil?” Dijawab,”Dia berkata: “Abu Bakr dan Umar melarang dari tamattu’.” Maka Ibnu ‘Abbas berkata,”Aku menyangka mereka akan binasa, kukatakan “Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda” dan mereka berkata,”Abu Bakr dan Umar berkata”.” (“Jami’ Bayanil ‘Ilmi” 4/hal. 42/ atsar itu dishohihkan Fadhilatusy Syaikh Yahya -hafizhahulloh-)

PERKATAAN GLOBAL

Imam Ibnul Qoyyim -rahimahulloh- berkata:

فعليك بالتفصيل والتمييز فالإ طلاق والاجمال دون بيان

قد أفسدا هذا الوجود وخبطا الـ ـأذهان والآراء كل زمان

“Wajib bagimu untuk berbicara dengan perincian dan pembedaan, karena lafazh yang mutlaq dan global tanpa penjelasan telah merusak para makhluq yang ada, dan menjadikan benak dan pendapat itu gagal di setiap tempat.” (“An Nuniyyah” 1/hal. 38)

MERASA KAYA DAN TERSEMBUNYI

 Amir bin Sa’dرحمه الله berkata:

كانسعدبنأبيوقاصفيإبلهفجاءهابنهعمرفلمارآهسعدقالأعوذباللهمنشرهذاالراكبفنزلفقاللهأنزلتفيإبلكوغنمكوتركتالناسيتنازعونالملكبينهم؟فضربسعدفيصدرهفقالاسكتسمعترسولاللهصلىاللهعليهوسلميقولإناللهيحبالعبدالتقيالغنيالخفي.

“Ketika Sa’d bin Abi Waqqosh ada di antara onta-onta beliau, datanglah anaknya yang bernama Umar. Ketika Sa’d melihatnya, beliau berkata: “Aku berlindung pada Alloh dari kejelekan pengendara ini.” Lalu Umar turun dari kendaraannya dan berkata: “Apakah Ayah masih saja di Antara onta dan kambing Ayah sementara orang-orang berebut kekuasaan?” maka Sa’d memukul dadanya seraya berkata: “Diam kamu, aku mendengar Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Sesungguhnya Alloh mencintai hamba yang bertaqwa, kaya (merasa cukup) dan tersembunyi.” (HR. Muslim (2965)).

Al Qurthubiy رحمه الله berkata: “Hamba kaya, maksudnya adalah: orang yang merasa cukup dengan Alloh, dan ridho dengan pembagian yang Alloh berikan untuknya. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah kekayaan jiwa. Dan hamba yang tersembunyi adalah: hamba yang tidak terkenal, yang  tidakmenginginkan ketinggian di bumi, dan tidak berhasrat pada keunggulan di martabat-martabat dunia.” (“Al Mufhim”/22/hal. 149).

Al Imam An Nawawiy رحمه الله berkata: “Yang dimaksud dengan kekayaan di sini adalah kekayaan jiwa. Dan inilah kekayaan yang dicintai, berdasarkan sabda Nabi صلى الله عليه وسلم :

ولكنالغنىغنىالنفس

“Akan tetapi kekayaan yang hakiki adalah kekayaan jiwa.”

(“Syarh Shohih Muslim”/18/hal. 100).

MENGEJEK

Alloh ta’ala berfirman:

َيا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum itu mengejek kaum yang lain, karena bisa jadi yang diejek itu lebih baik daripada mereka.” (QS.Al Hujurot: 11).

Al Imam Asy Syaukaniy رحمه الله berkata: “Dan makna ayat adalah: larangan kaum mukminin dari saling mengejek satu sama lain. Dan Alloh menyebutkan alasan larangan tadi adalah dengan firman-Nya: “karena bisa jadi yang diejek itu lebih baik daripada mereka” yaitu bisa jadi yang diejek itu lebih baik di sisi Alloh daripada orang-orang yang mengejek.” (“Fathul Qodir”/7/hal. 15).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata dalam tafsir ayat ini dan yang setelahnya: “Alloh ta’ala berfirman: “Maka jika kalian baku caci dengan muslim, kalian mengejeknya dan kalian menyindirnya, maka kalian berhak untuk dinamakan sebagai orang-orang yang fasiq.” (“Majmu’ul Fatawa”/7/hal. 248).

PEMBACA AL-QUR’AN SEJATI

Umar ibnul Khoththob rodhiyallohu ‘anh berkata:

أما إن نبيكم صلى الله عليه وسلم قد قال: «إن الله يرفع بهذا الكتاب أقواما ويضع به آخرين».

“Ketahuilah sesungguhnya Nabi kalian صلى الله عليه وسلم telah bersabda: “Sesungguhnya Alloh mengangkat dengan kitab ini beberapa kaum, dan merendahkan dengannya kaum yang lain.” (HR. Muslim (817)).

Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Maksudnya adalah: tilawah yang haqiqi adalah tilawatul ma’na dan mengikutinya dengan membenarkan beritanya, melaksanakan perintahnya, dan berhenti dari larangannya, dan mengikutinya, ke manapun dia membimbingmu, engkau mengikutinya. Maka tilawatul Qur’an itu mencakup tilawatul lafzh dan tilawatul ma’na. dan tilawatul ma’na itu lebih mulia daripada sekedar tilawatul lafzh. Dan pelaku tilawatul ma’na itulah ahli Al Qur’an yang mendapatkan pujian di dunia dan akhirat, karena sungguh mereka itu adalah ahli tilawah dan ahli mutaba’ah yang sejati.” (“Miftah Daris Sa’adah”/1/hal. 57/cet. Al Maktabatul ‘Ashriyyah).

Al Imam Abuth Thoyyib رحمه الله berkata: “Ahli Al Qur’an”: yaitu orang yang senantiasa membaca Al Qur’an dan mengamalkannya, bukan orang yang hanya membaca tapi tidak mengamalkannya.”

Beliau rohimahulloh juga berkata: “Sebagian ulama berkata: sesungguhnya orang yang mengamalkan Al Qur’an seakan-akan dia itu terus-menerus membaca Al Qur’an sekalipun dia tidak membacanya. Dan orang yang tidak  

mengamalkan Al Qur’an seakan-akan dia itu tidak membaca Al Qur’an sekalipun dia terus-terusan membacanya. Alloh ta’ala berfirman:

(كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آَيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ( [ص/29]

“Kitab yang Kami turunkan kepadamu, yang diberkahi, agar mereka memikirkan ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang punya mata hati menjadi sadar.”

Maka sekedar bacaan dan hapalan itu tidak teranggap dengan nilai yang menyebabkan tingginya tingkatan-tingkatan baginya di Jannah yang tinggi.” (lihat semua di “Aunul Ma’bud”/di bawah no. (1461)/cet. Darul Kutubil ‘ilmiyyah).

MAUIDZHOH HASANAH

Alloh ta’ala berfirman:

﴿ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ﴾ [النحل: 125]

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah, dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Alloh Yang Mahasuci menjadikan tingkatan-tingkatan dakwah sesuai dengan tingkatan makhluk. Maka orang yang menerima dan menyambut kebenaran, yang cerdas, yang tidak membangkang terhadap kebenaran, mempedulikannya, dia itu diseru dengan cara hikmah (menyebutkan dalil-dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah). Orang yang menerima tapi pada dirinya ada semacam kelalaian dan keterlambatan, dia diseru dengan pelajaran yang baik, yaitu perintah dan larangan yang diiringi dengan roghbah (janji pahala dan keutamaan) dan rohbah (ancaman hukuman dan kerugian). Orang yang membangkang dan menentang, diajak berdebat dengan cara yang lebih baik. Inilah yang benar tentang makna ayat ini.” (“Miftah Daris Sa’adah”/1/hal. 153).

MENYELESAIKAN PERSELISIHAN

Alloh سبحانه وتعالى berfirman:

﴿فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى الله وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِالله وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا﴾

“Maka jika kalian berselisih pendapat terhadap suatu perkara maka kembalikanlah hal itu kepada Alloh dan Rosul-Nya, jika memang kalian itu beriman kepada Alloh dan hari akhir. Yang demikian itu lebih baik, dan akan lebih baik lagi kesudahannya” (QS. An Nisa: 59)

Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata tentang masalah perselisihan: “Dan ketika itu maka jadilah masalah tersebut adalah perselisihan yang wajib untuk dikembalikan kepada Alloh ta’ala dan Rosul-Nya. Barangsiapa enggan untuk yang demikian itu maka dia itu bisa jadi adalah orang yang bodoh dan taqlid, atau bisa jadi adalah muta’ashshib pengekor hawa nafsu yang durhaka pada Alloh ta’ala dan Rosul-Nya صلى الله عليه وسلم, dia menyodorkan dirinya untuk bergabung dengan ancaman Alloh untuk orang macam ini, karena Alloh ta’ala berfirman –lalu menyebutkan ayat tadi- maka apabila telah tetap bahwasanya masalah ini adalah masalah yang diperselisihkan, maka wajib secara pasti untuk dikembalikan kepada Kitabulloh ta’ala dan Sunnah Rosul-Nya.” (“Ighotsatul Lahfan”/1/hal. 323).

KARAKTER RUH

Hadits Abu Huroiroh رضي الله عنه bahwa Rosululloh صل الله عليه وسلم bersabda:

الأرواح جنود مجندة فما تعارف منها ائتلف وما تناكرمنها اختلف

“Ruh-ruh adalah tentara yang berkelompok-kelompok. Yang saling mengenal akan saling condong, dan yang tidak saling mengenal akan saling berselisih.” (HSR Muslim di “Shohih” (2638), Al Bukhori di “Al Adabul Mufrod” (901)).

Al Khoththobiy رحمه الله berkata: “Bisa jadi hadits ini isyarat pada makna kesamaan karakter dalam kebaikan dan kejelekan, kesholihan dan kerusakan, dan bahwasanya orang yang baik itu akan rindu pada orang yang sekarakter dengannya. Orang yang jahat juga seperti itu condong pada orang yang seperti dirinya. Maka saling mengenalnya ruh-ruh itu terjadi sesuai dengan tabiat yang mana ruh itu dicetak di atasnya, berupa kebaikan dan kejelekan. Maka jika ruh-ruh itu saling mencocoki, maka mereka akan saling mengenal. Tapi jika saling berselisih, mereka akan saling tidak mengenal.” (“Fathul Bari”/Ibnu Hajar/6/hal. 369).

Al Munawiy رحمه الله berkata: “Makna saling mengenal di sini adalah saling sesuai dalam bentuk maknawiy yang mengharuskan kesamaan nilai rasa, dia bisa menangkap perasaan sahabatnya, maka yang demikian itu adalah sebab adanya kecondongan, sebagaimana sikap saling tidak kenal adalah kebalikan dari itu. Oleh karena itulah dikatakan (dalam syair): “Dan seseorang itu tidak bersahabat kecuali dengan yang sepadan dengannya, sekalipun mereka itu bukan dari kabilah ataupun negri yang sama.” (“Faidhul Qodir”/1/hal. 552).

MEMISAHKAN DIRI DARI AHLUL BATIL

 Alloh ta’ala berfirman tentang Nabi Musa عليه السلام:

]قَالَ رَبِّ إِنِّي لَا أَمْلِكُ إِلَّا نَفْسِي وَأَخِي فَافْرُقْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْقَوْمِ الْفَاسِقِين[ [المائدة: 25].

“Dia berkata: “Wahai Robbku, sesungguhnya saya tidak menguasai kecuali diri saya sendiri dan saudara saya. Maka pisahkanlah antara kami dan kaum yang fasiq itu.”

            Al Imam Al Qurthubiy رحمه الله berkata: “Dengan pemisahan, yaitu: pisahkanlah kami dari jama’ah mereka dan kumpulan mereka, dan janganlah Engkau menggabungkan kami dengan mereka dalam hukuman.” (“Al Jami’”/6/hal. 128).

            Alloh ta’ala berfirman:

]وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِين[ [الأنعام: 68]،

“Dan jika engkau melihat orang-orang yang memperbincangkan ayat-ayat Kami (dengan pendustaan, bantahan dan ejekan), maka berpalinglah dari mereka sampai mereka memperbincangkan yang pembicaraan yang lain. Dan apabila setan menjadikan kamu lupa, maka setelah engkau ingat janganlah duduklah bersama kaum yang zholim itu.”

            Al Imam Al Qurthubiy رحمه الله berkata: “Dan dengan ini menunjukkan bahwasanya seseorang itu jika tahu suatu kemungkaran pada orang lain, dan dirinya tahu bahwasanya orang itu tak mau menerima nasihat darinya, maka dia harus berpaling darinya dengan keberpalingan seorang yang mengingkari, dan tidak menghadapkan wajah kepadanya.” (“Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an”/7/hal. 12).

MENJAUHI PELAKU MAKSIAT

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ الله يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ إِنَّ الله جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا[ [النساء: 140

“Dan sungguh telah Alloh turunkan kepada kalian di dalam kitab ini bahwasanya jika kalian mendengar ayat-ayat Alloh dikufuri dan diejek, maka janganlah kalian duduk bersama mereka sampai mereka memperbincangkan pembicaraan yang lain. Sesungguhnya kalian jika tetap duduk dengan mereka akan semisal dengan mereka. Sesungguhnya Alloh akan mengumpulkan munafiqin dan kafirin ke dalam jahannam semuanya.”

Al Imam Al Qurthubiy رحمه الله berkata: “Maka dengan ini menunjukkan akan wajibnya menjauhi pelaku maksiat jika nampak dari mereka kemungkaran, karena orang yang tidak menjauhi mereka berarti dia ridho dengan perbuatan mereka. Dan ridho dengan kekufuran adalah kekufuran juga. Alloh عز وجل berfirman: “Sesungguhnya kalian jika tetap duduk dengan mereka akan semisal dengan mereka.” Maka setiap orang yang duduk di majelis maksiat dan tidak mengingkari mereka, berarti dia sama-sama mereka dalam dosa. Maka dia harus mengingkari mereka jika mereka berbicara dengan maksiat dan mengerjakannya. Jika dia tak sanggup mengingkari mereka, dia harus bangkit meninggalkan mereka hingga tidak termasuk orang yang terkena ayat ini.

PERMISALAN TEMAN DUDUK

 Dari Abu Musa رضي الله عنه , dari Nabi صلى الله عليه وسلم yang bersabda:

«مثل الجليس الصالح والسوء، كحامل المسك ونافخ الكير، فحامل المسك: إما أن يحذيك، وإما أن تبتاع منه، وإما أن تجد منه ريحا طيبة، ونافخ الكير: إما أن يحرق ثيابك، وإما أن تجد ريحا خبيثة».

“Permisalan teman duduk yang sholih dengan teman duduk yang jelek adalah seperti permisalan penjual misik dan tukang pandai besi. kamu tak akan kehilangan kebaikan dari penjual misik tadi, entah kamu akan membeli misik darinya, atau engkau akan mendapatkan aroma harum darinya. Adapun tukang pandai besi, mungkin dia akan membakar badanmu, atau bajumu, atau kamu akan mendapatkan darinya bau busuk.” (HR. Al Bukhoriy (5534) dan Muslim (2628)).

            Al Imam An Nawawiy رحمه الله berkata: “Dan dalam hadits ini ada keutamaan duduk-duduk dengan orang-orang sholih, para pelaku kebaikan, para penjaga kehormatan, akhlaq yang mulia, waro’ ilmu dan adab. Dan ada larangan terhadap duduk-duduk dengan para pelaku kejahatan, bid’ah-bid’ah, orang-orang yang menggunjingi manusia, atau orang yang banyak kefujurannya dan kebatilannya, dan perkara-perkara yang tercela yang lain.” (“Syarh Shohih Muslim”/16/hal. 178).

AMALAN AHLUL KITAB

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata tentang sikap kita terhadap amalan Ahlul Kitab:

أنا منهيون عن التشبه بهم فيما لم يكن سلف الأمة عليه ، فأما ما كان سلف الأمة عليه ، فلا ريب فيه ؛ سواء فعلوه ، أو تركوه. (“اقتضاء الصراط المستقيم”/1 /ص372).

“Kita dilarang untuk menyerupakan diri dengan mereka dalam perkara yang tidak ada pada Salaful Ummah. Adapun perkara yang ada pada Salaful Ummah, maka itu tiada keraguan padanya (tentang bolehnya dikerjakan), sama saja mereka (Ahlul Kitab) mengerjakannya ataukah meninggalkannya).” (“Iqtidhoush Shirothol Mustaqim”/1/hal. 372).

PEMISAH ANTARA HAQ DAN BATIL

Dalam hadits Jabir bin Abdillah  رضي الله عنهما :

ومحمد – صلى الله عليه وسلم – فرق بين الناس

 “Dan Muhammad -shollallohu ‘alaihi wasallam- itu memisahkan di antara manusia.” (HR. Al Bukhoriy (7281)).

Mulla ‘Ali Al Qoriy رحمه الله menukilkan maknanya: “Maknanya adalah: Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- itu pemisah antara orang yang beriman dan orang yang kafir, orang yang sholih dan orang yang fasiq.” (“Mirqotul Mafatih”/1/hal. 496).

Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Alloh telah mengutus Muhammad  صلى الله عليه وسلم dengan petunjuk dan agama yang benar. Dengan beliau Alloh memisahkan antara tauhid dan syirik, antara kebenaran dan kebatilan, antara petunjuk dan kesesatan, antara pengamalan ilmu dan pembangkangan terhadap ilmu, dan antara ma’ruf dan munkar.” (“Majmu’ul Fatawa”/27/hal. 442/Maktabah Ibnu Taimiyyah).

FAIDAH KISAH PARA RASUL

         Alloh ta’ala berfirman:

{ وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ} [هود: 120]

“Dan masing-masingnya telah Kami kisahkan kepadamu berita-berita para Rosul yang dengannya Kami kokohkan hatimu.Dan telah datang kepadamu kebenaran di dalam berita-berita ini, dan juga petuah dan peringatan bagi kaum Mukminin.”

            Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Maka di dalam kisah-kisah perkara-perkara ini ada pelajaran bagi orang-orang yang beriman pada para Nabi, karena mereka (para Nabi) pasti diuji dengan perkara yang lebih besar dari pada ini, dan mereka tidak berputus asa jika diuji dengan itu. Dan mereka tahu bahwasanya orang yang lebih baik dari mereka telah diuji dengan itu, dan ternyata kesudahannya adalah bagus, maka orang yang ragu hendaknya menjadi yakin, orang yang berdosa menjadi mau bertobat, dan menguatlah keimanan kaum mukminin dengan kisah-kisah tadi. Maka dengan itu menjadi benarlah peneladanan mereka dengan para Nabi, sebagaimana dalam firman Alloh:

﴿لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ الله أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو الله وَالْيَوْمَ الْآخِرَ﴾ [الأحزاب: 21].

“Sungguh telah ada untuk kalian pada diri Rosululloh suri teladan yang bagus bagi orang yang mengharapkan Alloh dan Hari Akhir.”

Dan di dalam Al Qur’an ada banyak kisah para Rosul yang di dalamnya ada hiburan dan pengokohan, agar mereka dijadikan sebagai teladan dalam kesabaran dalam menghadapi orang yang mendustakan dan menyakiti mereka.”(“Majmu’ul Fatawa”/15/hal. 178-179).

TEKAD KUAT UNTUK MENJALANKAN PERINTAH ALLAH

Al Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh: “Dan sungguh Alloh subhanahu wata’ala telah memerintahkan untuk menerima perintah-perintah-Nya dengan ‘azm (kokohnya keinginan) dan jidd (kuatnya amalan), maka Alloh ta’ala berfirman:

خذوا ما آتيناكم يقوة.

“Ambillah apa yang Kami berikan pada kalian dengan kuat.” (QS. Al Baqoroh: 63).

Dan berfirman:

وكتبنا له في الألواح من كل شيء موعظة وتفصيلا لكل شيء فخذها بقوة.

“Dan Kami telah menulis untuknya di dalam papan-papan kayu itu dari segala sesuatu sebagai petuah dan perincian untuk segala sesuatu, maka ambillah dia dengan kuat.” (QS. Al A’rof: 145).

Alloh juga berfirman:

يا يحيى خذ الكتاب بقوة.

“Ya Yahya, ambillah Al Kitab dengan kuat.” (QS. Maryam: 12).

Yaitu: dengan kesungguhan, pencurahan kemampuan dan tekad, bukan seperti orang yang mengambil apa yang diperintahkan tapi dengan ragu-ragu dan kemalasan.”

(Selesai dari “Madarijus Salikin”/1/hal. 470). 

JALAN YANG LURUS

Syaikhul Islam –rohimahulloh- berkata: “Sesungguhnya jalan yang lurus itu mencakup perkara-perkara batin yang terdapat dalam hati, baik berupa keyakinan, kehendak dan sebagainya. Demikian pula mencakup perkara-perkara dzohir (yang nampak), baik berupa perkataan atau perbuatan. Hal itu terkadang berupa perkara peribadatan dan terkadang berupa perkara adat-istiadat, baik dalam berpakaian, makanan, pernikahan, tempat tinggal, persatuan, perpecahan, safar, bermukim, kendaraan dan lain sebagainya.” (Iqtidho’ Ash-Shirothil Mustaqim: 1/92)

Ibnul Qoyyim –rohimahulloh- berkata: “Siapa yang diberi petunjuk (hidayah) di dunia ini kepada jalan yang lurus yang karenanya diutuslah para Rosul dan diturunkanlah kitab-kitab suci, niscaya ia akan diberikan petunjuk kepada jalan yang lurus kelak, mengantarkannya kepada jannah (surga) dan negeri pembalasan amalan. Semakin kokoh kaki seorang hamba di atas jalan yang lurus ini yang telah dibentangkan oleh Alloh untuk hamba-hamba-Nya di dunia, maka demikian juga kekokohannya di atas jalan yang terbentang di atas punggung Jahannam. Seberapa panjang kadar perjalanannya di atas jalan ini, maka akan mempengaruhi perjalanannya kelak di atas jalan itu (di akherat kelak). Sebagian mereka ada yang melewatinya dengan secepat kilat, sebagian yang lain melewatinya dengan sekejap mata, sebagian lainnya secepat angin, sebagian lainnya seperti mengendarai kendaraan, sebagian mereka berlari dan yang lainnya berjalan. Di antara mereka ada yang  merangkak. Sebagian mereka ada yang selamat dalam keadaan terkoyak-koyak dan sebagian yang lain terbanting ke neraka. Maka hendaknya seorang hamba itu melihat perjalanan hidupnya di atas jalan ini (di dunia) sama persis dengan jalan akherat itu sebagai balasan yang setimpal.

}هل تجزون إلا ما كنتم تعملون{

“Tiadalah kalian dibalasi, melainkan setimpal dengan apa yang dahulu kalian kerjakan.” (QS. An-Naml: 90)

Hendaknya pula seseorang itu melihat kepada syubuhat dan syahawat yang memalingkannya dari perjalanan di atas jalan yang lurus ini. Sesungguhnya itu merupakan cakar-cakar besi yang berada di tepi-tepi shiroth (di akherat) yang menyambar dan merintangi seseorang yang melewatinya. Jika syubhat-syubhat dan syahawat itu banyak terjadi dan menguat di dunia ini, maka di sana demikian juga keadaannya.

}وما ربّك بظلّام للعبيد{

“Sekali-kali tidaklah Robb-mu itu menganiaya hamba-hamba-Nya.” (QS. Fushilat: 46).”

(Madarijus Salikin; Al-Matholibul ‘Aliyah Allati Isytamalat ‘Alaiha Shurotul Fatihah: 1/15, cet. Darul Hadits)

SEMANGAT MEMERANGI AHLUL BID’AH !!

Asy Syaikh Al ‘Allamah Muhammad Al Basyir Al-Ibrohimi -rohimahulloh- berkata: “Wajib bagi seorang alim agama ini untuk bersemangat dalam memberikan petunjuk ketika bersemangatnya kesesatan itu dan untuk bersegera di dalam menolong kebenaran ketika dia melihat kebatilan sedang melawannya serta untuk menyerang kebid’ahan, kejelekan serta kerusakan sebelum menjadi kuat dan semakin memuncak, sebelum manusia menjadi terbiasa dengannya dan meresap dalam hati-hati mereka sehingga sulit untuk mencabutnya. Maka wajib atas seorang alim untuk terjun ke tengah-tengah kancah sebagai mujahid, janganlah dia menjadi orang yang tertinggal di belakang dan hanya duduk-duduk saja. Hendaknya juga untuk berbuat sebagaimana yang dilakukan oleh para pengobat pemberi nasehat di tempat-tempat terjangkitnya wabah penyakit untuk menyelamatkan manusia dan untuk menyadarkan orang-orang yang berada dalam kesalahan, bukannya berjalan bersama mereka, tetapi berusaha untuk membubarkan perkumpulan mereka di atas kesalahan tersebut.” (“Al-Atsar”/karya beliau/4/110-111/sebagaimana dalam kitab “Ash Showarif ‘Anil Haqq”/Hamd bin Ibrohim Al ‘Utsman/hal. 143/Darul Imam Ahmad).

Al Imam Ibnu Wadhdhoh رحمه الله menyebutkan bahwasanya Asad bin Musa berkata dalam kitabnya yang ditulis kepada Asad bin Furoth: “Ketahuilah, wahai Saudaraku. Bahwasanya yang menggerakkanku untuk menulis surat kepadamu ini adalah apa yang disebutkan oleh penduduk setempatmu mengenai kesholehan yang telah Alloh anugerahkan kepadamu yang diantaranya adalah keadilanmu terhadap sesama manusia, keadaanmu yang baik dengan menampakkan sunnah, celaanmu terhadap ahli bid’ah dan banyaknya celaanmu terhadap mereka. Sehingga Alloh menghancurkan mereka dan menguatkan punggung-punggung Ahlus Sunnah melalui tanganmu dan menguatkanmu di atas mereka dengan cara membongkar aib dan mencela mereka. Maka Alloh pun menghinakan mereka dengan hal tersebut. Maka jadilah mereka itu pun bersembunyi dengan kebid’ahan mereka. Maka bergembiralah wahai Saudaraku dengan pahala amalanmu tersebut. Anggaplah hal tersebut termasuk amalan baikmu yang lebih utama dari sholat, haji dan jihad. Dimanakah keutamaan amalan-amalan tersebut dibandingkan dengan menegakkan Kitabulloh dan menghidupkan Sunnahnya?!” (Al-Bida’ wan Nahi ‘Anha oleh Ibnu Wadhdhoh/1/hal. 7).

Al Imam Ibnu ‘Asakir رحمه الله berkata: Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad biografi Imam Ahmad bin ‘Aunillah Abu Ja’far Al-Andalusi (tahun 378H): “Dahulu Abu Ja’far Ahmad bin ‘Aunillah adalah seorang yang senantiasa ber-ihtisab (mengharapkan pahala) dalam bersikap keras terhadap ahlul bida’ dan menghinakan mereka, mencari kejelekan-kejelekan mereka, bersegera untuk menimpakan bahaya kepada mereka, pijakannya sangat keras terhadap mereka, mengusir mereka jika bisa menguasai mereka tanpa menyisakan mereka. Orang yang termasuk dari mereka merasa takut kepada beliau dan bersembunyi dari beliau.  Beliau tidak berbasa-basi pada seorangpun dari mereka sama sekali, tidak berdamai dengannya. Apabila beliau mendapati suatu kemungkaran dan menyaksikan suatu penyimpangan terhadap Sunnah, maka beliau menentangnya, membeberkan kesalahannya, secara terang-terangan menyebut namanya, berlepas diri darinya dan mencercanya dengan sebutan kejelekan di depan khalayak ramai, dan menyemangati masyarakat untuk menghukumnya hingga membinasakannya atau bertobat dari buruknya madzhabnya dan jeleknya aqidahnya. Beliau terus-menerus mengerjakan yang demikian, berjihad pada yang demikian dalam rangka mencari wajah Alloh hingga berjumpa dengan Alloh عز جل beliau punya kisah-kisah terkenal dan kejadian-kejadian yang disebut-sebut orang dalam menghadapi orang-orang yang menyimpang”. (“Tarikh Dimasyq”/5/hal. 118/biografi Ahmad bin ‘Aunillah Abu Ja’far)

  Al Imam Ibnu Qutaibah رحمه الله berkata: “Hanyalah kebatilan itu menjadi kuat dengan dia itu didiamkan.” (“Al Ikhtilaf Fil Lafzh”/karya beliau/sebagaimana dalam kitab “Ash Showarif ‘Anil Haqq”/Hamd bin Ibrohim Al ‘Utsman/hal. 140/Darul Imam Ahmad).

            Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Setiap kali orang yang tegak dengan cahaya kenabian itu melemah, maka menguatlah kebid’ahan.” (“Majmu’ul Fatawa”/3/hal. 104).

            Al Imam Ibnu Baz رحمه الله berkata: “Hanyalah ahlul batil itu bisa bekerja dan menjadi rajin manakala ilmu itu menjadi tersamar sementara kebodohan itu muncul, bersamaan dengan kosongnya medan ini dari orang yang berkata: “Alloh berfirman” dan “Rosululloh bersabda”. Maka ketika itulah mereka menjadi berani untuk menentang lawan mereka dan rajin untuk melakukan kebatilan mereka, dikarenakan tidak adanya orang yang mereka takuti dari kalangan ahlul haqq wal iman dan ahlul bashiroh.” (“Majmu’ Fatawa Wa Maqolat Ibnu Baz”/4/hal. 75/Dar Ashiddaul Mujtama’).

            Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata: “Dan kebid’ahan itu muncul jika Ahlussunnah tidak melaksanakan penyebaran sunnah Rosululloh  صلى الله عليه وسلم  –sampai pada ucapan beliau:- maka jika sunnah itu muncul, maka sungguh bid’ah itu akan pergi dari negri yang di situ ada sunnah Rosululloh  صلى الله عليه وسلم.” (“Ghorotul Asyrithoh”/2/hal. 155-156/Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).

Asy Syaikh Zaid bin Muhammad Al Madkholiy حفظه الله berkata: “Aku menuntut dan meminta kepada para ulama dan tokoh-tokoh yang mementingkan urusan Islam dan umat Islam, dan dengan derajat yang tertinggi adalah para pemudanya, agar mereka memperingatkan umat dengan semangat, terhadap seluruh penyelewengan dan terhadap manhaj-manhaj hizbiyyin harokiyyin dengan seluruh kelompok-kelompok mereka dan berbilangnya sekte-sekte mereka, dan segenap organisasi-organisasi mereka, … dst.” (“Quthuf Min Nu’utis Salaf”/hal. 42/karya beliau).

Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata: “Dan sungguh aku menasihati para ulama dan para dai ke jalan Alloh dari kalangan Ahlussunnah agar mereka itu bersemangat dan bekerja keras dalam memperingatkan umat dari hizbiyyah yang membikin sial itu, yang merobek kesatuan Msulimin, dan hendaknya peringatan tersebut berkesinambungan, karena amalan Nabi صلى الله عليه وعلى آله وسلم itu adalah berkesinambungan.” (“MAqtausy Syaikh Jamilur Rohman”/hal. 6/Darul Atsar).

Al Imam Al Albaniy رحمه الله berkata: “Dan kami terang-terangan memerangi hizbiyyah-hizbiyyah karena pengelompokan-pengelompokan ini sesuai untuknya firman Alloh ta’ala:

﴿ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ﴾ [الروم : 32] .

“Setiap golongan bangga dengan apa yang ada pada mereka.” (QS. Ar Rum: 32).

            Tiada hizbiyyah dalam Islam, di sana hanya ada satu hizb dengan nash Al Qur’an:

﴿ أَلَا إِنَّ حِزْبَ الله هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾  [المجادلة : 22].

“Ketahuilah sesungguhnya hizb Alloh itulah yang beruntung.”

Dan hizb Alloh adalah jama’ah Rosululloh صلى الله عليه وسلم dan agar seseorang itu berada di atas manhaj Shohabat. Oleh karena itulah maka dirinya mencari ilmu tentang Al Kitab dan As Sunnah.” (“Al Masailil Ilmiyyah Wal Fatawasy Syar’iyyah Lisy Syaikh Al Albaniy”/disusun oleh Amr bin Abdil Mun’im/hal. 30/cet. Darudh Dhiya).

            Asy Syaikh Sholih Al Fauzan حفظه الله berkata: “Wajib untuk kita memperingatkan dari manhaj-manhaj yang menyelisihi manhaj Salaf. Ini termasuk dari bagian nasihat untuk Alloh, untuk kitab-Nya, untuk Rosul-Nya, dan untuk para pemimpin muslimin dan orang awamnya. Kita memperingatkan dari pelaku kejahatan, kita memperingatkan dari manhaj-manhaj yang menyelisihi manhaj Islam, dan kita menjelaskan bahaya-bahaya perkara-perkara ini pada manusia, dan kita mendorong mereka untuk berpegang teguh dengan Al Kitab dan As Sunnah. Ini wajib.” (Al Ajwibatul Mufidah”/Jamal Al Haritsiy/hal. 145/cet. Maktabatul Hadyil Muhammadiy).

Faedah dinukil dari kitab karya Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al-Qudsy berjudul Mengingat Koruptor Licik Berkedok Salafiy ABDULLOH BIN UMAR AL MAR’IY.

KEUTAMAAN ULAMA

﴿وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ الله خَيْرٌ لِمَنْ آَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُون﴾ [القصص/80]

“Dan orang-orang yang diberi ilmu berkata: Celakalah kalian, pahala Alloh itu lebih baik bagi orang yang beriman dan beramal sholih, dan tidak ada yang mendapatkannya kecuali orang-orang yang sabar.”

Al Imam Al Ajurriy رحمه الله berkata: “Maka sesungguhnya Alloh Yang Maha Perkasa dan Mahaagung, yang suci nama-namanya, mengkhususkan dari para makhluk-Nya orang yang dicintai-Nya. Maka Alloh membimbing mereka untuk beriman. Lalu Alloh mengkhususkan dari seluruh kaum mukminin orang yang dicintia-Nya, maka Dia memberikan karunia pada mereka, mengajari mereka Al Kitab dan Al Hikmah, dan menjadikan mereka paham terhadap agama, mengajari mereka tafsir, dan mengutamakan mereka di atas seluruh kaum Mukminin. Dan yang demikian itu terjadi di seluruh masa dan zaman. Alloh mengangkat mereka dengan ilmu dan menghiasi mereka dengan kesabaran. Dengan merekalah perkara yang halal itu bisa diketahui dan dipisahkan dari yang harom, yang benar diketahui dan dipisahkan dari yang batil, diketahui mana yang berbahaya dan mana yang bermanfaat, mana yang baik dan mana yang buruk.

Keutamaan mereka itu besar sekali, nilai mereka itu agung. Mereka adalah pewaris para Nabi dan penggembira para wali. Ikan paus di lautan memohonkan ampunan untuk mereka, para malaikat merundukkan sayap-sayap mereka untuk menghormati mereka. Dan para ulama para hari Kiamat memberikan syafaat setelah para Nabi. Majelis-majelis mereka memberikan faidah hikmah, dan dengan malan-amalan mereka orang-orang yang lalaipun berhenti dari kelalaian.

Mereka lebih utama daripada para ahli ibadah, dan lebih tinggi derajatnya daripada para ahli zuhud. Hidupnya mereka adalah ghonimah. Kematian mereka adalah musibah.

Mereka itu mengingatkan orang yang lalai, mengajari orang yang bodoh. Tidak dikhawatirkan datangnya kebinasaan untuk mereka, dan tidak ditakutkan datangnya kecelakaan dari arah mereka. Dengan bagusnya pendidikan mereka orang-orang yang taat berebutan. An dengan indahnya petuah mereka orang-orang yang kurang menjadi rujuk. Dan seluruh makhluk butuh kepada ilmu mereka.”(selesai dari kitab “Akhlaqul Ulama”/Al Ajurriy/hal. 3/cet. Darul Ats

Al Imam Ahmad bin Hanbal  رحمه الله تعالى:“Segala puji bagi Alloh yang menjadikan pada setiap zaman yang kosong dari para rosul sisa-sisa ulama yang mengajak orang yang tersesat untuk menuju kepada hidayah, dan bersabar menerima gangguan dari mereka, menghidupkan dengan kitabulloh orang-orang yang mati, dan memberi ilmu dengan cahaya Alloh orang-orang yang buta. Maka berapa banyaknya orang yang telah dibunuh oleh Iblis mereka hidupkan kembali, dan berapa banyaknya orang yang tersesat dan bingung mereka tunjuki lagi. Maka alangkah bagusnya pengaruh mereka kepada manusia, dan alangkah jeleknya bekas manusia kepada mereka. Mereka meniadakan dari Kitabulloh penyelewengan orang-orang yang ghuluw, dan pengaku-akuan para pelaku kebatilan, dan ta’wil orang-orang bodoh yang mengibarkan bendera-bendera kebid’ahan, dan melepaskan belenggu fitnah…” dst . (“Ar Rodd ‘Alaz Zanadiqoh Wal Jahmiyyah”/hal. 52/Darul Minhaj).


KARYA TULIS

Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “… dan ini dikarenakan Alloh subhanah telah menjamin penjagaan hujjah-hujjah-Nya dan bayyinah-bayyinah-Nya, dan Rosululloh صلى الله عليه وسلم mengabarkan bahwasanya akan senantiasa ada sekelompok dari umat beliau yang tegak di atas kebenaran, tidak membahayakan mereka orang yang menelantarkan mereka, ataupun orang yang menyelisihi mereka, sampai hari Kiamat. Maka senantiasa Alloh menanam orang-orang yang ditanam-Nya di dalam agama-Nya, mereka menanamkan ilmu di dalam hati-hati orang-orang yang Alloh beri kemampuan untuk itu dan diridhoi-Nya untuk itu, maka jadilah mereka itu pewaris bagi para ulama sebelumnya, sebagaimana para ulama sebelumnya pewaris bagi para ulama sebelumnya lagi, maka hujjah-hujjah Alloh tidak terputus. Dan yang menegakkannya juga tidak terputus di bumi. Dan di dalam atsar yang terkenal:

«لا يزال الله يغرس في هذا الدين غرسا يستعملهم بطاعته»

“Senantiasa Alloh menanam di dalam agama ini tanaman yang mereka itu Alloh jadikan beramal dengan ketaatan pada-Nya.”

Dan dulu termasuk doa sebagian orang terdahulu adalah:

اللهم اجعلني من غرسك الذين تستعملهم بطاعتك

“Ya Alloh jadikanlah saya termasuk dari tanaman-Mu yang Engkau jadikan mereka beramal dengan ketaatan pada-Mu.”

Dan karena itulah tidaklah Alloh tegakkan untuk agama ini orang yang menjaganya kemudian Dia mengambilnya kepada-Nya (mewafatkannya) kecuali dalam keadaan Alloh telah menanamkan apa yang diketahuinya dari ilmu dan hikmah, bisa jadi dalam hati-hati orang yang semisal dengannya, dan bisa jadi di dalam kitab-kitab yang dimanfaatkan oleh manusia sepeninggalnya.” (selesai dari “Miftah Daris Sa’adah”/1/hal. 147-148).

MEMBONGKAR AIB AHLUL BID’AH DAN JIHAD FII SABILILLAH

Al Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh berkata tentang ahlul bid’ah: “Maka menyingkap kebatilan mereka dan menjelaskan pembongkaran aib-aib mereka serta kerusakan kaidah-kaidah mereka termasuk jihad fi sabilillah yang paling utama. Nabi صلى الله عليه وسلم telah bersabda kepada Hassan bin Tsabit رضي الله عنه:

«إن روح القدس معك ما دمت تنافح عن رسوله»

“Sesungguhnya Ruhul Quds bersamamu selama engkau membela Rosul-Nya.”

Juga bersabda:

«أهجهم أو هاجهم وجبريل معك»

“Serang mereka dengan syair, atau balas serangan syair mereka, dan Jibril bersamamu.”

Juga bersabda:

«اللهم أيده بروح القدس ما دام ينافح عن رسولك»

“Ya Alloh, dukunglah dia dengan Ruhul Quds selama dia membela Rosul-Mu.”

Beliau juga bersabda tentang serangan syair beliau:

«والذي نفسي بيده لهو أشد فيهم من النبل»

“Demi Dzat Yang jiwaku ada di tangan-Nya, benar-benar itu lebih keras bagi mereka daripada panah.”

Dan bagaimana penjelasan itu tadi tidak termasuk dari jihad fi sabilillah?” (“Showa’iqul Mursalah” /1/hal. 114/cet. Maktabatur Rusyd).

KWALITAS AKAL

Yahya bin Kholid -rohimahullohu- berkata:

ثلاثةُ أشياء تدلُّ على عُقول أرْبابها: الكتاب يدُل على عقل كاتبه، والرسولُ يَدُل على عقل مُرْسِله، والهديَّةُ تدل على عقل مُهديها.

“Ada tiga perkara yang menunjukkan akal pemiliknya: Kitab menunjukkan akal penulisnya. Utusan menunjukkan akal sang pengutus. Hadiah  menunjukkan akal sang pemberi.” (“Al ‘Aqdul Farid”/1/hal. 170).

 Ats Tsa’labiy -rohimahullohu- berkata:

كتاب المرء عنوان عقله، بل عيار قدره ولسان فضله

“Kitab seseorang merupakan alamat dari akalnya. Bahkan dia merupakan timbangan kadar dirinya dan lisan keutamaannya.” (“Yatimatud Dahr”/1/hal. 400).

RISALAH DAN KADAR AKAL

Abu ‘Ali -rohimahullohu- :

رسائل المرءٍ في كتُبه أدَلُّ على مِقدار عقله، وأصْدَقُ شاهداً على غيبه لك

“Risalah-risalah seseorang itu di dalam kitab-kitabnya itu paling bisa menunjukkan kadar akal dirinya, dan menjadi saksi yang paling jujur terhadap keadaan dirinya yang tersembunyi darimu.” (“Al Bayan Wat Tabyin”/1/hal. 67).

KONDISI RASULULLAH

Al Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh berkata tentang kondisi Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam: “Dan termasuk perkara yang telah diketahui dengan pasti dari keadaan beliau: bahwasanya beliau itu orang yang paling bersemangat untuk menunjuki umat beliau, mengajari mereka dan memberikan penjelasan pada mereka. Maka berkumpullah di dalam diri beliau kesempurnaan kemampuan, kesempurnaan faktor penyeru, dan kesempurnaan ilmu. Maka beliau adalah orang yang paling tahu dengan apa yang beliau serukan, orang yang paling mampu menempuh sebab-sebab dakwah, orang yang paling besar minat dan harapannya, dan paling sempurna nasihatnya. Jika orang yang sekian banyak tingkat di bawah beliau dalam setiap sifat tadi saja telah menjelaskan maksud dirinya, maka beliau lebih berhak dan lebih pantas dari segala sisi untuk menguasai puncak tertinggi sifat bayan (penjelasan).” (“Ash Showa’iqul Mursalah”/1/hal. 220).

MENOLAK KEBENARAN

  Al Imam Ibnu Baththoh رحمه الله berkata:

 “Maka ketahuilah wahai saudaraku,bahwasanya barangsiapa membenci kebenaran yang datang dari orang lain, dan justru menolong kesalahan yang datang dari dirinya sendiri, tidak bisa diamankan bahwasanya Alloh akan mengambil darinya apa yang sebelumnya telah dia ketahui, dan menjadikan dia lupa terhadap apa yang diingatnya, bahkan di khawatir nya Alloh  akan mencabut keimanan nya, karena kebenaran itu datang dari Rasulullah kepadamu, beliau mewajibkan untuk kamu taat padanya. Maka barangsiapa mendengar kebenaran lalu mengingkari nya setelah mengetahuinya, maka dia termasuk orang yang sombong kepada Alloh. Dan barangsiapa menolong kesalahan, maka dia termasuk tentara setan.” (“Al Ibanatul Kubro”/2/hal. 206).

ISLAM YANG MURNI

Syaikhul Islam rahimahulloh berkata:

“Dan jalan yang lurus ini adalah agama Islam yang murni, dan dia itu adalah apa yang ada di dalam Kitabulloh ta’ala, dan dia itu adalah sunnah dan jama’ah, karena sesungguhnya sunnah yang murni itulah agama Islam yang murni. (“Majmu’ul Fatawa”/3/hal. 370).

PAKAIAN TAQWA

Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ﴾ [الأعراف/26].

“Dan pakaian ketaqwaan itu lebih baik”

            Al Imam As Sa’diy رحمه الله berkata: “… karena sesungguhnya pakaian taqwa itu lestari bersama sang hamba, tidak lusuh dan tidak binasa. Dan dia itu adalah kecantikan hati dan ruh. Adapun pakaian lahiriyyah, maka paling puncaknya adalah untuk menutup aurot, di suatu waktu, atau menjadi pakaian keindahan bagi manusia, dan tidak ada di belakang itu manfaat darinya.” (“Taisirul Karimir Rohman”/hal. 285).

TAQWA DAN HIDAYAH

 Alloh ta’ala berfirman:

﴿ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِين﴾ [البقرة/2]

“Yang Kitab ini tiada keraguan padanya, sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa.”

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Maka setiap kali sang hamba bertaqwa pada Robbnya, naiklah dirinya kepada hidayah yang lain, maka dia ada pada penambahan hidayah selama dirinya ada pada penambahan taqwa. Dan setiap kali meluputkan satu langkah dari ketaqwaan, luputlah darinya satu langkah dari hidayah sesuai dengan kadarnya.” (“Al Fawaid”/hal. 130).

AYAT ALLAH DAN ORANG  BERTAQWA

 Alloh ta’ala berfirman:

﴿إِنَّ فِي اخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَا خَلَقَ الله فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَّقُون﴾ [يونس/6].

“Sesungguhnya di dalam pergantian malam dan siang, dan apa yang Alloh ciptakan di langit dan di bumi benar-benar ada ayat-ayat bagi orang-orang yang bertaqwa.”

            Al Imam Asy Syaukaniy رحمه الله berkata dalam tafsir ayat ini: “Yaitu: orang-orang yang bertaqwa pada Alloh subhanah dan menjauhi kedurhakaan kepada-Nya. Alloh mengkhususkan mereka dengan ayat-ayat ini karena mereka itulah yang mencurahkan pandangan dan pikiran terhadap makhluq-makhluq Alloh Yang Mahasuci, karena mereka berusaha menghindar dari terjatuh kepada sedikit saja dari perkara yang menyelisihi keinginan Alloh Yang Mahasuci, dan dalam rangka memperhatikan kesudahan urusan mereka, dan apa yang membikin bagus di akhirat mereka.” (“Fathul Qodir”/Asy Syaukaniy/3/hal. 348).

RAHMAT DAN KEKERASAN

Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan termasuk perkara yang harus diketahui: bahwasanya rohmat itu adalah suatu sifat yang menuntut disampaikannya manfaat-manfaat  dan kemaslahatan-kemaslahatan kepada sang hamba. Sekalipun dirinya tidak menyukainya dan kebaikan tadi terasa berat baginya. Maka inilah rohmat yang hakiki. Maka orang yang paling menyayangimu adalah orang yang berat bagi dirimu dalam menyampaikan kemaslahatan-kemaslahatanmu dan membela dirimu dari mara bahaya. Maka termasuk dari rohmat bapak kepada anaknya adalah: dia memaksanya untuk beradab dengan ilmu dan amal, dan memberati dirinya untuk itu dengan pukulan dan sebagainya, dan menghalanginya dari syahwat-syahwatnya yang bisa membahayakan dirinya. Dan kapan saja dia menyepelekan itu dari anaknya, maka yang demikian itu adalah karena kecilnya rohmat dirinya terhadap anaknya, sekalipun dia menyangka dirinya sayang padanya, memberinya kemewahan dan memberinya ketenangan. Maka ini adalah rohmat yang disertai dengan kebodohan, …dst.” (lihat selengkapnya di “Ighotsatul Lahfan”/hal. 523-524/Dar Ibni Zaidun).

HAMBA YANG CERDAS

Al Imam An Nawawiy رحمه الله mengumandangkan syair:

إن لـله عبـادا فـطـنا              طلقوا الدنيا وخافوا الفتنا

نظروا فيها فلما علموا           أنها ليسـت لحـي وطـنا

جعلوها لجة واتخذوا             صالح الأعمال فيها سفنا

“Sesungguhnya Alloh punya para hamba yang cerdas. Mereka menceraikan dunia dan takut pada fitnah. Mereka memperhatikan dunia, manakala mereka mengetahui bahwasanya dunia itu bukan tempat tinggal bagi orang yang hidup, mereka menjadikan dunia sebagai samudra, dan mereka menjadikan amal sholih di dalamnya sebagai kapal-kapal.” (“Riyadhush Sholihin”/hal. 9). 

AWAL FITNAH

 ‏قال شيخ الإسلام ولا تقع فتنةإلا من ترك ما أمر الله به فإنه سبحانه أمر بالحق وأمر بالصبرفالفتنة إما من ترك الحق وإمامن ترك الصبرالإستقامة٥٧

 Syaikhul Islam rohimahulloh berkata: “Dan tidaklah terjadi fitnah kecuali karena meninggalkan perintah Alloh, karena sesungguhnya Alloh Yang Mahasuci memerintahkan kepada kebenaran dan memerintahkan kepada kesabaran. Maka fitnah itu terjadi bisa jadi karena meninggalkan kebenaran, bisa jadi karena meninggalkan kesabaran.” (Kitab “Al Istiqomah”/hal. 57).

FIRASAT TAK MELESET

Syuja’ Al-Karmaniy berkata, “Jika dzahir seseorang mengikuti Sunnah, batinnya merasakan pengawasan Allah, dia menahan pandangan mata dari hal-hal yang diharamkan, menahan diri dari syahwat dan memakan yang halal, tentu firasatnya tidak akan meleset.” (Raudhah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin)

TIDAK RAGU

Umar bin Al-Khattab رضي الله عنه berpantun dengan sebait syair ini,

“Seakan-akan engkau tiada gundah meski sekali

Jika engkau tahu apa yang sedang dicari”

(Raudhah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin)

MENINGGALKAN SESUATU KARENA ALLAH

   Dari salah seorang penduduk badui yang berkata:

أخذ بيدي رسول الله صلى الله عليه وسلم فجعل يعلمني مما علمه الله تبارك وتعالى، وقال:«إنك لن تدع شيئا اتقاء الله جل وعز إلا أعطاك الله خيرا منه».

“Rosululloh صلى الله عليه وسلم mengambil tanganku, lalu beliau mulai mengajariku dari apa yang Alloh تبارك وتعالى ajarkan pada beliau. Dan beliau bersabda:“Sesungguhnya engkau tidaklah dirimu meninggalkan sesuatu dalam rangka bertaqwa pada Alloh عز وجل kecuali Alloh akan memberimu dengan sesuatu yang lebih baik dari itu.” (HR. Al Imam Ahmad (20758) dan dishohihkan oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dalam “Ash Shohihul Musnad” (1489)).

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Karena sesungguhnya barangsiapa meninggalkan sesuatu karena Alloh, maka Alloh عز وجل akan memberinya ganti dengan sesuatu yang lebih baik dari itu.” (“Ighotsatul Lahfan”/hal. 47).

MENGHINAKAN DIRI KEPADA ALLAH

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahulloh- berkata:”Hamba itu manakala dia semakin menghinakan diri kepada Alloh dan semakin merasa butuh kepada-Nya, serta semakin besar penundukan dirinya kepada-Nya, dia semakin dekat kepada-Nya, semakin mulia di sisi-Nya dan semakin agung nilainya. Maka makhluk yang paling berbahagia adalah makhluk yang paling agung penghambaan dirinya kepada Alloh. Adapun makhluk, maka sebagaimana dikatakan : silakan engkau butuh kepada siapa yang engkau inginkan, maka engkau akan menjadi tawanannya. Janganlah engkau butuh pada siapapun yang engkau inginkan, maka engkau akan menjadi sepadan dengannya. Berbuat baiklah kepada siapapun yang engkau inginkan, maka engkau akan jadi pemimpin baginya

–sampai pada ucapan beliau :- Maka nilai seorang hamba yang paling agung dan paling terhormat di sisi para makhluk adalah jika dia tidak butuh sama sekali pada mereka. Jika engkau berbuat baik pada mereka bersamaan dengan ketidakbutuhan kepada mereka, engkau menjadi makhluk paling agung di sisi mereka. Dan kapan saja engkau butuh kepada mereka –meskipun seteguk air- berkuranglah nilaimu di sisi mereka sesuai dengan kadar kebutuhanmu pada mereka. Dan ini adalah bagian dari hikmah Alloh dan Rohmat-Nya agar ketundukan itu hanya diberikan untuk Alloh, dan tiada sesuatupun yang disekutukan dengan-Nya.” dst.

(selesai dari “Majmu’ul Fatawa”/ 1/hal. 39).]

TAWAKKAL

ِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ الله وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آَيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ * الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ * أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ[. (الأنفال: 2-4)

“Hanyalah orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang jika disebut nama Alloh, hati mereka merasa takut, dan jika ayat-ayat-Nya dibacakan pada mereka, ayat itu menambahi mereka dengan keimanan, dan hanya kepada Robb mereka sajalah mereka bertawakkal. Yaitu orang-orang yang menegakkan sholat, dan menginfaqkan sebagian dari apa yang Kami rizqikan pada mereka. Mereka itulah mukminun yang sebenarnya. Mereka akan mendapatkan derajat-derajat di sisi Robb mereka, ampunan, dan rizqi yang mulia.”

            Al Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata: dan ini adalah sifat mukmin yang sebenarnya, -sampai pada ucapan beliau:-  Yaitu: mereka tidak mengharapkan selain-Nya, dan tidak menginginkan selain-Nya, tidak berlindung kecuali dengan sisi-Nya, tidak meminta kebutuhan kecuali dari-Nya, tidak berdoa kecuali kepada-Nya, dan mereka mengetahui bahwasanya apa yang diinginkan-Nya pasti terjadi, dan apa yang tidak diinginkan-Nya pasti tak akan terjadi, dan bahwasanya Dia itu sajalah yang mengurusi kerajaan-Nya, satu-satu-Nya, tiada sekutu bagi-Nya, tiada yang membantah hukum-Nya, dan Dia itu Mahacepat perhitungan-Nya. Oleh karena itulah Sa’id bin Jubair berkata: “Tawakkal pada Alloh merupakan kumpulan iman.”

(“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/2/hal. 392/cet. Darush Shiddiq).

JIWA YANG MULIA

Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Maka jiwa-jiwa yang mulia itu tidak rela kecuali perkara yang paling tinggi, paling utama dan paling terpuji kesudahannya, sementara jiwa-jiwa yang rendah itu berputar di sekitar perkara-perkara yang hina dan jatuh ke dalamnya sebagaimana lalat hinggap ke kotoran.” (“Al Fawaid”/hal. 177).

RASA TAKUT

Abu Huroiroh رضي الله عنه berkata: Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

«من خاف أدلج ومن أدلج بلغ المنزل ألا إن سلعة الله غالية ألا إن سلعة الله الجنة». (أخرجه الترمذي (2450) وعبد بن حميد (1460)/حسن).

“Barangsiapa takut, dia akan berangkat di awal malam. Dan barangsiapa berangkat di awal malam dia akan tiba di tempat tinggal. Ketahuilah bahwa sesungguhnya barang dagangan Alloh itu mahal, ketahuilah bahwa sesungguhnya barang dagangan Alloh itu adalah Jannah.” (HR. At Tirmidziy (2450) dan Abd bin Humaid (1460)/hadits hasan).

Al Imam Al Mundziriy رحمه الله berkata: “Dan makna hadits adalah: barangsiapa takut, rasatakut tadi mengharuskan dirinya untuk berjalan ke Akhirat dan bersegera beramal sholih karena dia takut ada halangan dan rintangan di jalan.” (“At Targhib Wat Tarhib”/4/hal. 131).

Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Jika malam telah membayang, keinginan untuk tidur bertarung dengan keinginan untuk begadang. Maka rasa takut dan kerinduan ada di bagian depan pasukan kesadaran. Kemalasan dan sikap menunda-nunda ada di pasukan kelalaian. Maka apabila tekad jiwa itu melakukan serangan, dia akan menyerang sayap kanan, dan kalahlah tentara kemalasan. Maka tidaklah fajar itu menyingsing kecuali dalam keadaan hasil rampasan perang dibagi-bagi, dan pasukan yang berhak merasa senang dengan bagian yang dia dapatkan. Perjalanan di waktu malam tidak bisa dilakukan kecuali oleh orang yang biasa sedikit makan dan memikul rasa lapar. Kuda-kuda jagoan itu ada di bagian depan, sementara kuda pemikul beban itu ada di belakang.” (“Al Fawaid”/hal. 51).

PENDENGARAN

Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Pendengaran itu ada tiga macam: pendengaran yang bermakna menangkap suara dengan indra telinga, pendengaran yang bermakna pemahaman, dan pendengaran yang mengandung penerimaan dan pelaksanaan tuntutan.” (“Madarijus Salikin”/1/hal. 483).

Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Pokok pendengaran yang diperintahkan oleh Alloh adalah: mendengarkan apa yang dibawa oleh Rosul صلى الله عليه وسلم , pendengaran yang mengandung pemahaman dan penerimaan. Oleh karena itulah maka manusia dalam masalah tersebut terbagi menjadi empat golongan: golongan yang berpaling dan tidak mau mendengarkan wahyu yang beliau bawa, golongan yang mendengarkan suara tapi tidak paham maknanya, golongan yang memahaminya tapi tidak mau menerimanya, dan yang keempat adalah golongan yang mendengarnya dengan pendengaran yang mengandung pemahaman dan penerimaan.” (“Majmu’ul Fatawa”/8/hal. 16).

FAQIH

Al Imam Al Hasan Al Bashriy رحمه الله berkata: “Hanyalah orang faqih itu adalah orang yang zuhud terhadap dunia, cinta dan berhasrat kuat terhadap akhirat, punya ilmu yang mendalam dan keyakinan kokoh dalam urusan agamanya, senantiasa rutin beribadah pada Alloh عز وجل .”(“Akhlaqul Ulama”/Al Ajurriy/no. 47/dishohihkan oleh Syaikhuna Yahya Al Hajuriy/cet. Darul Atsar).

BODOH

Al Imam Sufyan bin ‘Uyainah رحمه الله berkata: “Orang yang paling bodoh adalah orang yang meninggalkan apa yang diketahuinya. Orang yang paling berilmu adalah orang yang mengamalkan apa yang diketahuinya. Orang yang paling utama adalah orang yang paling khusyu’ pada Alloh.”(“Muqoddimah Sunan Ad Darimiy”/no. 343/ dishohihkan oleh Syaikhuna Yahya Al Hajuriy dalam “Al ‘Urful Wardiy” hal. 159/cet. Darul Atsar).

 

Al-Haq (Kebenaran)

لقد جئناكم بالحق ولكن أكثركم للحق كارهون.

“Sungguh Kami telah mendatangkan kebenaran pada kalian akan tetapi kebanyakan dari kalian membenci kebenaran tadi.” (QS. Az Zukhruf: 78).

Al Imam Asy Syaukaniy rohimahulloh berkata: “Dan yang dimaksudkan dengan kebenaran adalah seluruh perkara yang Alloh perintahkan melalui lisan para Rosul dan Alloh turunkan di dalam kitab-kitab-Nya.” (“Fathul Qodir”/6/hal. 417)

Pemilik Akal 

Al Imam Al Qurthubiy Rahimahulloh berkata: “Ulul Albab adalah orang-orang yang mempergunakan akal-akal mereka untuk merenungkan dalil-dalil.” (“Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an”/4/hal. 310).

Hakikat ‘Ilmu

Abu Hilal Al Askariy rohimahulloh berkata: “Ilmu adalah keyakinan terhadap suatu perkara sesuai dengan kenyataannya sampai pada tingkat percaya kepadanya.” (“Al Furuqul Lughowiyyah”/karya Abu Hilal/hal. 94/cet. Daul Kutubil Ilmiyyah).

Al Imam Al Hadizh Ibnul Wazir rohimahulloh berkata: “Maka ilmu yang benar adalah ilmu yang mengumpulkan kepastian hati akan perkara tadi, kesesuaiannya dengan kenyataannya, dan kekokohan jiwa terhadap pengetahuan tadi di saat ada upaya yang membikin keraguan.” (“Itsarul Haqq ‘alal Kholq”/Ibnul Wazir/hal. 120).

 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahulloh berkata: “ilmu itu adalah perkara yang dalil itu tegak padanya. Dan ilmu yang bermanfaat adalah apa yang dibawa oleh Rosul. Maka yang terpenting adalah kita itu berkata dengan ilmu, yaitu penukilan yang telah dibenarkan dan penelusuran yang telah dipastikan. Karena yang selain itu, sekalipun sebagian orang menghiasi semisalnya, maka itu adalah bagaikan tembikar (tanah liat yang dibakar) yang dipalsukan. Jika tidak demikian, maka dia adalah kebatilan yang mutlak.” (“Majmu’ul Fatawa”/6/hal. 388).

Ibnu Hazm رحمه الله berkata: “Ilmu adalah: keyakinan terhadap suatu perkara sesuai dengan kenyataannya, bisa jadi berdasarkan burhan dhoruriy (bukti yang tak mungkin bisa ditolak) yang menyampaikan kepada keyakinannya itu tadi, dan bisa jadi yang pertama dengan indera, atau dengan pemahaman akal yang sangat jelas hingga tak butuh pada pendalilan,…” dst. (“Al Ahkam”/1/hal. 34).

Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata dalam “An Nuniyyah” (1/hal. 65):

إذ أجمع العلماء أن مقلدا*** للناس والأعمى هما أخوان

والعلم معرفة الهدى بدليله*** ما ذاك والتقليد مستويان

“…karena para ulama telah bersepakat bahwasanya orang yang membebek pada manusia dan orang yang buta itu keduanya adalah saudara. Dan ilmu adalah: mengetahui petunjuk dengan dalilnya. Tidaklah dia itu sama dengan taqlid.”

` Al Imam Ash Shon’aniy رحمه الله berkata: “Maka ilmu adalah makna yang menuntut ketenangan jiwa dengan apa yang diketahuinya itu. Dan dia itulah yang diungkapkan oleh para ulama bahwasanya dia itu adalah: pembenaran yang pasti yang mencocoki kenyataan disertai dengan ketenangan jiwa.” (“Ijabatus Sail Syarhu Bughyatil Amil”/1/hal. 33).

Al Imam Abdullathif bin Abdirrohman Alusy Syaikh رحمه الله berkata: “Dan ilmu adalah mengetahui petunjuk dengan dalilnya, dan mengetahui hukum sesuai dengan kenyataannya secara hakiki.” (“Uyunur Rosail”/karya beliau/2/hal. 525-526/Maktabatur Rusyd).

Persiapan Menghadapi Kematian

الذي خلق الموت والحياة ليبلوكم أيكم أحسن عملا وهو العزيز الغفور.

“Dialah Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian siapakah  dari kalian yang terbaik amalannya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al Mulk: 2).

Al Imam Muhammad Al Qoshshob Rahimahulloh berkata: “(ayat ini) merupakan dalil bahwasanya mempersiapkan diri menghadapi kematian adalah petuah yang terbesar dari Alloh jalla jalaluh, dan sebagai penolong yang bagus untuk beramal sholih, karena mempersiapkan diri menghadapi kematian menyebabkan sang hamba itu pendek angan-angannya, meringankan bagi dirinya beratnya musibah-musibah, dan pahitnya menelan kemiskinan.” (“Nukatul Qur’an”/4/hal. 374/cet. Dar Ibnil Qoyyim). 

Mutiara salaf 7

Assunnah (demi yang tidak ada sesembahan yang berhak di sembah selain Dia) adalah ada di antara ghuluw dan menganggap remeh (nglenyek). Maka bersabarlah di atasnya semoga Allah merohmati kalian. Sesungguhnya ahlus sunnah adalah paling sedikit di antara manusia pada zaman dahulu, dan mereka juga sedikit pada zaman sisanya (sekarang). Mereka adalah orang yang tidak ikut bersama orang kaya bersama kekayaanya.  Dan tidak juga bersama ahlu bid’ah bersama kebid’ahanya. Dan mereka bersabar atas sunnah mereka sampai mereka menjumpai rob mereka. Dan begitulah hendaknya kalian menjadi (ahlus sunnah).   hasan al bashri rohimahullaah (syarah aqidah  thohawiyyah 1/252)

mutiara salaf 1

Rasulullah shallallahu alaihi wassalam.”Sesungguhnya di depan hari kiamat nanti ada kekacauan, yaitu pembunuhan. Tidaklah itu pembunuhan terhadap orang kafir, akan tetapi pembunuhan suatu kaum sebagian pada sebagian yang lain sampai-sampai seseorang berjumpa dengan saudaranya, maka dia membunuhnya. Di angkatlah akal akal dari yang memilikinya pada saat itu dan di gantikan baginya debu/sesuatu yang tidak berharga dari manusia yang dengan itu kebanyakan dari mereka mengira telah berada pada suatu keadaan padahal tidaklah demikian”. Di shohihkan oleh Al albani pada shohihul jami’ NO 2047

Mutiara salaf 3

Berkata sufyan ats tsauri rohimahullah.   “wahai saudaraku, janganlah kalian berkeinginan (iri) terhadap ahlu syahwat dengan syahwat mereka, dan jangan pula seperti apa yang mereka terbalik dlm memahami nikmat.  Sesungguhnya di hadapan mereka ada suatu hari dimana tergalincir pada hari itu kaki kaki, menggigil badan badan, dan berubah warna warna (raut muka), dan akan lama berdiri (menanti hisab), akan berat pada hari itu perhitungan, dan berserak di dalamnya hati hati hingga mencapai kerongkongan. Maka wahai yg memiliki hati, apa bagianmu dari penyesalan atas apa yang telah menimpa dari syahwat syahwat ini?”  dikutip dari hilyatul auliya’ 7/24

mutiara salaf 3

Telah berkata Syaikh Muqbil bin Hadi al Wad’i Rahimahullah, “Maka aku nasehatkan kepada semua sunny untuk bersabar atas kemiskinan dan atas gangguan walau jika itu dari penguasa. Dan berhati-hatilah akan bisikan dalam hatimu yang berkata “Kelak kami akan bangkit dengan sebuah pemberontakan dan kudeta” (Dan jika itu terjadi) maka engkau akan menumpahkan darah kaum muslimin. Tuhfatul mujib

Mutiara salaf 4

Berkata al allamah sholih fauzan hafidhohullah dalam “al ijaabah lil hammah” halaman 47-48.
Tidaklah ibroh itu dengan penisbatan atau pada apa yang nampak dari luar. Akan tetapi ibroh itu adalah dengan kenyataan da bukti-bukti nyata dari berbagai perkara. Maka suatu golongan yang mereka menasabkan kepada dakwah wajib bagi mereka untuk memperhatikan apa yang ada pada mereka.
di mana mereka belajar?
Dan darimana mereka mengambil ilmu?
Dan kemana mereka menuju?
Dan apa aqidah mereka?
dan dilihat pada perbuatan-perbuatan dan jejak-jejak dari perbuatan mereka pada manusia dan apa saja dari kebaikan nereka?
Dan apa saja urutan atas perbuatan mereka dari perbaikan?
Wajib bagi mereka mempelajari keadaan keadaan mereka sebelum terpedaya oleh perkataan perkataan mereka dan perbuatan yang nampak dari mereka.
Poerkara ini adalah wajib ada pada mereka secara khusus pada zaman ini dimana telah tersebar di dalamnya para da’i yang menyeru kepada fitnah.
Dan sungguh Rosulullah telah mensifati da’i da’i fitnah tersebut dengan sifat bahwa mereka adalah dari golongan kami, berbicara dengan bahasa kami”

Mutiara salaf 5

Berkata Abdullah ibnu Abbas rodhiallaahu ‘anhuma “janganlah kalian duduk duduk dengan ahlul bid’ah! Sesungguhnya duduk duduknya kalian bersama mereka, menyakitkan (menimbulkan syubhat) bagi hati”  al ibanah milik Ibnu Batthoh 1/136

IMutiara salaf 6

Rosulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda “sesungguhnya perupa makhluk bernyawa (akan) masuk dalam neraka dan akan di tiupkan pada setiap gambar yang dibuatnya ruh dan akan menyiksa mereka di neraka jahanam” riwayat muslim.  Ibn abbas rodhiallaahu ‘anhuma “jika engkau memang harus melakukanya (menggambar) maka buatlah gambar pohon atau apa saja yang tidak memiliki ruh”

mutiara faedah 2

TAQWA DAN KEMUDAHAN

فإن مع العسر يسرا * إن مع العسر يسرا.

“Maka sesungguhnya bersama kesukaran itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesukaran tadi ada kemudahan.” (QS. Al Insyiroh: 5-6).

Al Imam Ibnu Hibban rohimahulloh berkata:

 

فكم من شدة قد صعبت وتعذر زوالها على العالم بأسره ثم فرج عنها السهل في أقل من لحظة.

 

“Maka alangkah banyaknya kesulitan yang berat dan tidak mungkin dihilangkan oleh alam semesta semuanya, lalu kemudahan justru bisa menghilangkannya dalam waktu kurang dari sekejap.” (“Roudhotul ‘Uqola”/hal. 192).

Termasuk senjata mukmin yg paling utama adalah taqwa dan tawakkal kepada  Alloh.

 

Alloh ta’ala berfirman ومن يتق الله يجعل له مخرجا ويرزقه من حيث لا يحتسب. ومن يتوكل على الله فهو حسبه. “Dan barangsiapa bertaqwa pada Alloh, Alloh akan menjadikan untuknya jalan keluar dan memberinya rizqi dari arah yg tdk diduganya. Dan barangsiapa bertawakkal pada Alloh maka Allohlah Yang akan mencukupinya.” (QS. Ath-tholaq 2-3)

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahulloh berkata: “Sungguh Alloh telah menjelaskan bahwasanya Dia itulah Yang mencukupi orang bertawakkal kepada-Nya, dan bahwasanya Dia pasti akan memberi rizqi pada orang yg bertaqwa dari arah yg tidak diduganya.” (“Al Istighotsah”/hal. 193). 

PERSIAPAN

Fudhoil bin ‘Iyadh suatu hari bertanya kepada seorang laki laki : “Berapa umurmu telah berlalu?”

Dia menjawab : “60 tahun”.

Fudhoil berkata :”Engkau selama 60 tahun berjalan menuju Rabbmu dan engkau hampir mencapainya”

Lelaki itu berkata “Innalillaahi wainnailaihi raji’uun”.

Fudhoil bertanya :”Apakah kau tahu maknanya?

Engkau telah mengatakan: “Sesungguhnya kita hamba Allah semata, dan kepadaNyalah kita kembali. Barang siapa telah mengetahui bahwa dirinya hamba Allah dan hanya kepadaNyalah dia kembali, maka hendaknya dia juga mengetahui bahwa dia akan berdiri dihadapanNya, barangsiapa mengetahui dirinya akan berdiri dihadapanNya, ketahuilah bahwa dia akan ditanya, maka persiapkanlah jawaban untuk pertanyaan pertanyaan tersebut”.

Lelaki itu bertanya,”Lalu bagaimana jalan keluarnya?”

Fudhoil menjawab : “Mudah”

Dia bertanya lagi : “Apa itu?”

Fudhoil menjawab : “Perbaikilah kehidupanmu yang masih tersisa, semoga Allah mengampuni apa apa yang telah lewat. Sebab,sesungguhnya apabila engkau berbuat jelek pada masa-masa yang tersisa ini, engkau akan dibalas dengan perbuatan perbuatanmu yang kamu lakukan dulu dan pada masa-masa yang tersisa ini.”

Jami’ululmul hikam halaman 519

 

AKIBAT DURHAKA

Al Hasan Al Basri berkata

“Tidaklah seorang hamba mendurkai Allah melainkan Allah menghinakannya”

Al Hasan juga berkata

“Mereka meremehkan Allah dan mendurhakainya, andaikan mereka memuliakan Allah, niscaya Allah akan menjaga mereka”

Abu Sulaiman Ad-Darniy berkata,

“Barang siapa mensucikan diri, maka dia aka diberi kesucian itu, dan barang siapa mengotori diri, maka kotoran itu akan diberikan kepadanya. Barang siapa melakukan kebaikan pada malam harinya, maka dia diberi perlindungan pada siang harinya, dan barang siapa melakukan kebaikan pada siang harinya, maka dia diberi perlindungan pada malam harinya. Barang siapa mengabaikan Alah karena syahwat didalam hatinya, maka Allah berhak untuk menyiksa hatinya.

Aisyah Ummul Mukminah RadhiaAllaahu’anha menulis surat kepada Muawiyyah Radhiallaahu’anhu, yang diantara isinya

“Barang siapa yang durhaka kepada Allah, maka orang yang tadinya memuji akan berubah mencelanya.”

Muharib bin Ditsar berkata,

“Sesungguhnya jika seseorang melakukan dosa, maka dia akan mendapatkan kehinaan didalam hatinya.

“Al Husain bin Muthair berkata :

“Bersihkan dirimu dari segala urusan,

agar setelah itu tiada nafsu yang tersimpan,

jangan dekati segala urusan yang haram,

sirna kenikmatannya dan kepahitannya terpendam.”

Sufyan Atsauri berpantun lewat dua bait syair, 

“Kenikmatan yang diharamkan begitu cepat sirna

Dosa dan cela tetap melekat selama lamanya

Akibat keburukan tetap terlihat nyata

Tiada artinya kenikmatan yang disusul neraka”

Dari Kitab Raudhah Al-Muhibbin wannuzzah Al Mustaqin Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah

 

SABAR UNTUK BERSUA ALLAH DALAM KETAATAN

Seseorang berdiri dihadapan Asy-Syibliy, seraya berkata, “Apakah kesabaran yang paling berat dimata orang-orang yang sabar”,

Dia menjawab, “Kesabaran karena Allah”

Orang itu berkata, “Bukan”

Asy-Syibliy menjawab, “Kesabaran untuk Allah”

“Bukan” kata orang itu

“Kesabaran beserta Allah” Jawab Asy-Syibliy

“Bukan”

“Kalau begitu apa?” Tanya Asy-Syibliy

Orang itu menjawab, “Kesabaran menunggu bersua Allah”

Seketika itu pula Asy-Syibliy menjerit karena kaget

Dari Kitab Raudhah Al-Muhibbin wannuzzah Al Mustaqin Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah

 

JATUH CINTA

Abu Bakar Al-Kattany berrkata, ‘Suatu kali takkala musim haji pernah diselenggarakan dialog yang mengupas masalah CINTA di Makkah. Maka banyak orang-orang tua yang angkat bicara dalam forum itu. Sementara AL-Junaid adalah orang yang paling muda diantara mereka, Mereka berkata kepadanya, ‘’ Sampaikan  pendapatmu wahai penduduk Iroq ‘’

Maka dia menundukkan mukanya dan airmata menetes dari kedua matanya, kemudian dia berkata,

‘’Orang yang jatuh cinta adalah hamba yang mengabaikan dirinya, selalu menyebut Rabbnya, melaksanakan hak-hak-Nya, memandang-Nya dengan hati, membakar hati dengan cahaya kehendak-Nya, minumannya berasal dari bejana cinta-Nya, jika bicara dengan menyertakan Allah, jika berucap dari Allah, jika bergerak menurut perintah Allah, jika diam bersama Allah, dia dengan Allah, milik Allah, dan bersama Allah.’’

Setelah mendengar, orang-orang tua pun menangis. Mereka berkata, ‘’Ini penjelasan yang tidak membutuhkan tambahan lagi, semoga Allah memberikan keperkasaan kepadamu wahai pemimpin orang-orang yang berilmu.”

(Dari Raudhoh Al Muhibbiin wa Nuzhah Al Musytaqin-Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah)

SIAP MENANGGUNG RESIKO

“Dan tidaklah aku peduli manakala aku terbunuh sebagai seorang muslim,

di tempat manakah terkaparnya aku untuk Alloh.

Dan yang demikian itu adalah demi Dzat sesembahanku,

dan jika Dia menghendaki Dia akan memberkahi jasad yang terpotong-potong.”

(HSR Al Bukhory (7402), dari ucapan Khubaib bin ‘Adi radhiyallohu ‘anhu)

 

BAHAYA DOSA

Syaikhul Islam رحمه الله berkata

”Maka sesungguhnya dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan itu

membahayakan manusia lebih besar daripada

apa yang dibahayakan oleh racun.“

(“Majmu’ul Fatawa”/8/hal. 348).

 

JAUH DARI ALLAH

‘Siapa yang dunianya lebih dicintai dan disenangi

Lenyaplah ketakutan akan akhirat dari dirinya

Siapa yang menginginkan ‘ilmu, namun semakin bertambah rakusnya kepada dunia

Maka tidak akan bertambah melainkan kemurkaan dan semakin jauh dari Allah

(Al-Hasan Al-Bashri rohimahullah/ Raudhotul ‘ uqala 35)

 

PENYAKIT AGAMA (DIIN)

‘’ Orang ‘aalim adalah dokternya diin

Sedangkan duit adalah penyakitnya diin

Andai sidokter lebih memilih penyakit untuk dirinya

Kapan dia akan mengobati orang lain ?

[Sufyaan Ats-Tsauri rohimahullah/ Raudhotul ‘Uqala,35]

 

Wasiat Isa bin Maryam

Imam Ahmad berkata, “ Kami diberitahu Sayyar,  kami diberitahu  Ja’far, kami diberitahu Abu Alib, dia berkata, “ Kami mendengar bahwa perkataan berikut ini  ada dalam wasiat Isa bin Maryam ‘alaihi salam

“ Wahai para Hawariyyin, cintailah Allah sekalipun mendapat kebencian pelaku kedurhakaan dan mendekatlah kepada Allah sekalipun dengan kemarahan mereka, serta carilah keridhoan Allah walaupun dengan mendapat kemurkaan mereka “.

Para Hawariyyun  berkata, “ Wahai Nabi Allah, lalu dengan siapa kami bergaul ?

Nabi Isa menjawab, “ Bergaullah dengan orang yang perkataannya bisa menambah ‘amal kalian, yang pandangannya bisa mengingatkan kalian kepada Allah dan yang ‘imunya bisa membuat kalian zuhud di dunia. “

Raudhoh Al- Muhibbin wa Nauzhah Al-musytaqin, Ibnu Qayyim Al- Jauziyyah

Al’ilmu adalah kebaikan di Dunia

العلم :الحسنة فى الدنيا
قال الحسن في قوله تعالى { ربنا اتنا في الدنيا حسنة } [ البقرة 201 ] هي العلم و العبادة .
“ 
و في الأخرة حسنة } [ البقرة 201 ] هي الجنة ”1 }
قال ابن القيم الجوزوية رحمه الله : و هذا من احسن التفسير
فإن أجل حسنات الدنيا العلم النافع و العمل الصالح
أخرجه ابن أبي شيبة و عبد ابن حميد, وابن جرير,والمرهبي في ( فضل العلم
“1
 (و البيهقي في ( شعب الإيمان

Al-Hasan berkata tentang perkataan Allah “ yaa RobbKami, datangkanlah kepada Kami kebaikan di Dunia” (AL-Baqoroh 201) adalah “ Al-‘Ilmu dan ‘ibadah.”dan kebaikan di Akhirat” (Al-baqoroh 201) adalah “ Surga”. Berkata Ibnul qoyyim Al-jauziyyah “dan ini adalah dari sebaik-baik tafsir” , karena ‘’ sesungguhnya seutama kebaikan-kebaikan dunia adalah ‘ilmu yang bermanfaat dan amal sholih”

(dari kitab Al Ilmu wafadhluhu Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah)

KARENA ALLAH

Al Imam Ibnul Qoyyim  berkata: “Maka sesungguhnya hamba itu jika
memurnikan niatnya untuk Alloh ta’ala, dan maksud dia, keinginan dia
dan amalan dia itu adalah untuk wajah Alloh Yang Mahasuci, maka Alloh
itu bersama dia, karena sesungguhnya Yang Mahasuci itu beserta
orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. Dan
kepala taqwa dan kebaikan adalah murninya niat untuk Alloh dalam
penegakan kebenaran. Dan Alloh Yang Mahasuci itu tiada yang bisa
mengalahkan-Nya. Maka barangsiapa Allo bersamanya, maka siapakah yang
bisa mengalahkannya atau menimpakan kejelekan padanya? Jika Alloh
bersama sang hamba, maka kepada siapakah dia takut? Jika Alloh tidak
bersamanya, maka siapakah yang diharapkannya? Dan kepada siapa dia
percaya? Dan siapakah yang menolongnya setelah Alloh meninggalkannya?
Maka jika sang hamba menegakkan kebenaran terhadap orang lain, dan
terhadap dirinya sendiri lebih dulu, dan dia menegakkannya itu adalah
dengan menyandarkan pertolongan pada Alloh dan karena Alloh, maka
tiada sesuatupun yang bisa menghadapinya. Seandainya langit dan bumi
serta gunung-gunung itu membikin tipu daya untuknya, pastilah Alloh
akan mencukupi kebutuhannya dan menjadikan untuknya jalan keluar dari
masalahnya.”

(“I’lamul Muwaqqi’in”/ hal. 412/cet. Darul Kitabil
‘Arobiy).

ASHHABUL HADITS

Abu Muhammad Ibnu Qutaibah رحمه الله berkata:

“Adapun ashabul hadits maka sesungguhnya mereka itu mencari kebenaran dari sisi hadits, dan menelusurinya dari tempat yang di situ ada dugaan besar ada kebenaran di situ, dan mereka mendekatkan diri pada Alloh ta’ala dengan mengikuti sunnah-sunnah Rosululloh صلى الله عليه وسلم dan mencari jejak-jejak beliau dan kabar-kabar beliau di daratan dan lautan, di timur dan barat, …”

(“Ta’wil Mukhtalafil Hadits”/hal. 73).

DOSA KECIL ?

Dari Anas رضي الله عنه yang berkata:

إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالاً هِي أَدَقُّ في أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعَرِ ، إِنْ كُنَّا نَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِي صلى الله عليه وسلم الْمُوبِقَاتِ.

“Sesungguhnya kalian benar-benar melakukan amalan-amalan yang dia itu lebih kecil dalam pandangan mata kalian daripada rambut, padahal sungguh kami pada zaman Rosululloh صلى الله عليه وسلم menilainya termasuk dari penghancur.”

(HR. Al Bukhoriy (6492)/Darul Kutubil ‘Ilmiyyah).

Ibnu Hajar رحمه الله berkata

: “Yaitu: kalian melakukan amalan-amalan yang kalian kira dia itu remeh, padahal dia itu besar atau berakhir pada perkara yang besar.”

(“Fathul Bari”/11/hal. 371/Maktabatush Shofa).

Ibnu Baththol رحمه الله berkata:

“Dosa-dosa yang diremehkan jika banyak akan menjadi besar jika terus-menerus dilakukan.”

(“Fathul Bari”/11/hal. 371/Maktabatush Shofa).

Al Imam Al Barbahariy رحمه الله berkata:

“Dan hindarilah perkara baru yang kecil-kecil karena sesungguhnya bid’ah yang kecil-kecil itu akan menjadi besar. Dan seperti itulah setiap bid’ah yang dibikin di umat ini, dulu awalnya adalah kecil menyerupai kebenaran, sehingga tertipulah dengan itu orang yang masuk ke dalamnya, lalu dia tak sanggup keluar darinya, lalu menjadi besar dan menjadi agama yang dipeluk, lalu menyelisihi shirothol mustaqim, lalu dia keluar dari Islam.”

(“Syarhus Sunnah”/Al Barbahariy/hal. 18/Darul Atsar).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata:

“Dan jika orang itu bersikeras untuk meninggalkan sunnah yang diperintahkan dan mengerjakan apa yang dilarang, maka terkadang dia akan dihukum dengan dicabutnya darinya ibadah wajib, sampai dia menjadi orang fasiq atau penyeru kepada bid’ah. Dan jika dia bersikeras di atas dosa-dosa besar, dikhawatirkan akan dicabutnya keimanan dari dirinya, karena sesungguhnya bid’ah it uterus-menerus mengeluarkan manusia dari yang kecil kepada yang besar sampai-sampai mengeluarkannya kepada ilhad (penyelwengan dari Islam) dan zandaqoh (nifaq aqidah)…”

(“Majmu’ul Fatawa”/22/hal. 305-306/ihalah/Darul Wafa).

ADAB-ADAB AHLUL SUNNAH

Al Imam Abu Utsman Ash Shobuni رحمه الله berkata:

“Kumpulan adab-adab ahlul hadits adalah: … dan mereka saling cinta karena agama ini, saling benci juga karena agama ini, menghindari perdebatan dan pertengkaran tentang Alloh, saling menjauh dengan ahli bid’ah dan pelaku kesesatan, memusuhi pengekor hawa nafsu dan kebodohan, …-sampai pada ucapan beliau- dan membenci ahlul bid’ah yang membikin dalam agama perkara yang tidak masuk di dalamnya, tidak mencintai mereka, tidak bersahabat dengan mereka, tidak mendengarkan ucapan mereka, tidak duduk-duduk dengan mereka, tidak mau berdebat mereka tentang agama, tidak berdiskusi dengan mereka. dan berpandangan untuk menjaga telinga-telinga mereka dari mendengarkan kebatilan ahli bid’ah tadi,… dst.”

(“Aqidatis Salaf Ashabil Hadits”/ hal. 107-108/cet. Darul Minhaj).

Al Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisiy رحمه الله berkata:

“Termasuk dari sunnah adalah meninggalkan ahli bid’ah, memisahkan diri dari mereka, tidak mau berdebat dan bertengkar dengan mereka tentang agama, tidak membaca-baca kitab-kitab mubtadi’ah, tidak mau mencurahkan pendengaran pada ucapan mereka. dan setiap perkara baru dalam agama adalah bid’ah.”

(“Lum’atul I’tiqod”/karya Ibnu Qudamah/syarh Ibnu Utsaimin/hal. 97/cet. Darul Atsar).

Abul Hasan Al Asy’ariy رحمه الله berkata:

“Dan kami berpendapat untuk memisahkan diri dari setiap penyeru kepada kebid’ahan, dan menjauhi pengekor hawa nafsu.”

(“Al Ibanah”/hal. 53/cet. Maktabah Shon’a).

Al ‘Allamah Abuth Thoyyib Shiddiq bin Hasan Khon At Tanukhiy رحمه الله berkata:

“Termasuk dari sunnah adalah meninggalkan ahli bid’ah, menjauhkan diri dari mereka, tidak mau berdebat dan bertengkar dengan mereka tentang agama dan sunnah. Dan setiap perkara baru dalam agama adalah bid’ah. Tidak membaca-baca kitab-kitab mubtadi’ah, tidak mau mencurahkan pendengaran pada ucapan mereka dalam masalah inti agama ataupun cabangnya, …dst.”

(“Qothfuts Tsimar”/karya Shiddiq Hasan Khon/hal. 178/dengan tahqiq Syaikhuna Abu Amr Al Hajuriy حفظه الله /cet. Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).

 

BENCI KARENA ALLAH

Al Imam Sufyan Ats Tsauriy رحمه الله berkata:

“Jika seseorang cinta pada saudaranya kerena Alloh عز وجل kemudian orang yang dicintainya itu  membuat perkara baru dalam Islam lalu dia tidak membencinya Karena perbuatan tadi maka berarti dia tidak mencintainya Karena Alloh عز وجل.

” (Riwayat Ibnu Abi Hatim dalam  “Al Jarh Wat Ta’dil”/1/hal. 52/sanadnya shohih).

 

MENAMBAH ‘ILMU

Berkata seorang penyair:

إذا لم يذاكر ذو العلوم بعلمه ولم يستزد علما نسي ما تعلما

“Apabila seorang yang berilmu tidak memuroja’ahi ilmunya dan tidak pula menambah ilmu dia akan lupa apa yang telah dia pelajari.”

[Jami’ Bayan Al-‘ilm wa Fadhlih 1/206]

 

CUKUP !!! DENGAN SUNNAH

Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Barangsiapa tidak merasa cukup bagi dirinya dengan sunnah sehingga melampaui sampai kepada bid’ah, dia akan keluar dari agama ini. Dan barangsiapa melontarkan kepada manusia sesuatu yang tidak dilontarkan oleh Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersamaan dengan adanya perkara-perkara yang dituntut untuk dilontarkannya sesuatu tadi (pada zaman itu), maka sungguh orang tadi telah mendatangkan syariat kedua dan dia itu bukan pengikut Rosul. Maka hendaknya dia memperhatikan urusannya, ke manakah dia meletakkan kakinya.”

(“Al Fatawal Kubro”/3/hal. 167).

 

AKHIR HIDUP YANG JELEK

Al Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisiy رحمه الله berkata: “Dan penghabisan yang buruk itu punya sebab-sebab sebelum datangnya kematian, seperti bid’ah, kemunafiqan, kesombongan dan sifat-sifat tercela yang lain. Oleh karena itulah ketakutan Salaf terhadap kemunafiqan itu sangat keras. 

(“Mukhtashor Minhajil Qoshidin”/karya Al Maqdasiy/4/hal. 69).

MENJAGA AGAMA

Al Hasan Al Bashri -rahimahulloh- berkata: ”Wahai anak Adam, jaga agamamu, jaga agamamu, karena hanya agama itulah daging dan darahmu. Kalau engkau selamat, maka alangkah tentramnya dan alangkah nikmatnya. Tapi jika yang terjadi adalah selain itu, maka -kita berlindung kepada Alloh- dia itu hanyalah api yang tidak padam, batu yang tidak dingin dan jiwa yang tidak mati” 

(Riwayat Al Firyabi -rahimahulloh- di “Shifatun Nifaq”/no. 49/dishahihkan Syaikh Abdurraqib Al Ibbi -hafidhahulloh-)

 

MANUSIA YANG PALING BERBAHAGIA

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rohimahullohu- berkata:

فأسعد الخلق وأعظمهم نعيما وأعلاهم درجة أعظمهم اتباعا وموافقة له علما وعملا اهـ.

“Maka makhluq yang paling beruntung, paling agung kenikmatannya dan paling tinggi derajatnya adalah makhluq yang paling besar mutaba’ahnya (sikap ikutnya) dan kesesuaiannya dengan beliau (Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam-) baik secara ilmu maupun amalan.”

(“Majmu’ul Fatawa”/4/hal. 26).

 

TIGA PERKARA

Abu Darda’ Rodhiyallohu ‘Anhu mengatakan: “Tiga perkara yang aku cintai sementara manusia membencinya; KEMISKINAN, SAKIT dan KEMATIAN. Aku mencintai kemiskinan karena  (menimbulkan) rasatawadhu’ kepada Robb-ku, aku mencintai kematian karenan kerinduan kepada Robb-ku, aku mencintai sakit karena (merupakan) penghapus kesalahan-kesalahanku”. 

[Siyar A’lamin Nubala’ biographi Abu Darda’]

HATI HATI TERHADAP AHLUL BID’AH

Ucapan Al Imam Ibnu Baththoh -rohimahulloh-

Setelah menyebutkan hadits syubuhat Dajjal, berkatalah Al Imam Ibnu Baththoh -rohimahulloh-:

هذا قول الرسول صلى الله عليه وسلم، وهو الصادق المصدوق، فالله الله معشر المسلمين، لا يحملن أحدا منكم حسن ظنه بنفسه، وما عهده من معرفته بصحة مذهبه على المخاطرة بدينه في مجالسة بعض أهل هذه الأهواء، فيقول: (أداخله لأناظره، أو لأستخرج منه مذهبه)، فإنهم أشد فتنة من الدجال، وكلامهم ألصق من الجرب، وأحرق للقلوب من اللهب، ولقد رأيت جماعة من الناس كانوا يلعنونهم، ويسبونهم، فجالسوهم على سبيل الإنكار، والردّ عليهم ، فما زالت بهم المباسطة وخفي المكر، ودقيق الكفر حتى صبوا إليهم اهـ.

“Ini adalah ucapan Rosul -shollallohu ‘alaihi wasallam-, dan beliau itu orang yang jujur dan dibenarkan. Maka bertaqwalah pada Alloh wahai Muslimun, jangan sampai rasa baik sangka pada diri sendiri dan juga ilmu yang dimiliki tentang bagusnya madzhab dirinya membawa salah seorang dari kalian untuk melangsungkan perdebatan dengan agamanya di dalam acara duduk-duduk dengan ahlul ahwa,seraya berkata: “Aku akan masuk ke tempatnya dan kuajak dia berdebat, atau kukeluarkan dirinya dari madzhabnya.” Mereka itu sungguh lebih dahsyat fitnahnya daripada Dajjal, ucapan mereka lebih lengket daripada kurap, dan lebih membakar daripada gejolak api. Sungguh aku telah melihat sekelompok orang yang dulunya mereka itu melaknati ahlul ahwa dan mencaci mereka. Lalu mereka duduk-duduk dengan mereka tadi dalam rangka mengingkari dan membantah mereka. Tapi mereka terus-terusan di dalam obrolan, dan makar musuh tersamarkan dari mereka, dan kekufuran yang lembut tersembunyi dari mereka, hingga akhirnya mereka pindah ke madzhab ahlul ahwa tadi.”

 (“Al Ibanatul Kubro”/dibawah no. (480)).

 

BERSEGERA kembali KALAU DIINGATKAN KEPADA AL- HAQ (kebenaran)

Umar bin Khaththab Radhiallaahu’anhu berkata dalam suratnya yang terkenal

ومراجعة الحق خير من التمادى فى الباطل

“Dan rujuk kepada kebenaran itu lebih baik daripada berlama lama di dalam kebathilan.” (HR.Al Baihaqy (20324), Ibnu Asakir 32/hal.70 dan yang lainnya.

Al Imam Ibnu Qoyyim rohimahullah berkata: “Ini adalah kitab (surat) yang agung yang telah di terima oleh Ummat.” (“I’lamul Muwaqqi’in” (1/hal. 110)

Syaikhuna Yahya -Hafidhahullah- berkata : “Para ulama bersepakat untuk menerima surat “umar ini”

AKHERAT AKHIRNYA DIJUAL

NASIHAT AL IMAM IBNUL MUBAROK ROHIMAHULLOH KEPADA IBNU ULAYYAH ROHIMAHULLOH:

يا جاعل العلم له بازيا *

يصطاد أموال المساكين احتلت للدنيا ولذاتها *

بحيلة تذهب بالدين فصرت مجنونا بها بعدما *

كنت دواء للمجانين أين رواياتك فيما مضى *

عن ابن عون وابن سيرين ودرسك العلم بآثاره *

في ترك (1) أبواب السلاطين تقول: أكرهت، فماذا كذا *

زل حمار العلم في الطين (2) لا تبع الدين بالدنيا كما *

يفعل ضلال الرهابين

“Wahai orang yang menjadikan ilmu sebagai barang dagangan untuk menjaring harta orang-orang miskin,

diambil demi dunia dan kesenangannya.

Dengan tipu daya engkau menghilangkan agama,

lalu engkau menjadi orang yang gila setelah dulunya engkau adalah obat bagi orang-orang gila.

Di manakah riwayat-riwayatmu yang lampau dari Ibnu ‘Aun dan Ibnu Sirin.

Dan manakah ilmu yang kamu pelajari dengan atsar-atsarnya yang berisi anjuran untuk meninggalkan pintu-pintu penguasa? Kamu berkata: “Aku terpaksa.” Lalu apa?

Demikianlah keledai ilmu tergelincir di tanah liat yang basah.

Janganlah kamu jual agama dengan dunia sebagaimana perbuatan para rahib yang sesat.”

 (“Siyar A’lamin Nubala”/9/110).

 

RIDHO MANUSIA ITU ADALAH PUNCAK YANG TAK BISA DIGAPAI

. AL IMAM ASY SYAFI’IY BERKATA KEPADA YUNUS BIN ABDIL A’LA رحمهما الله :

“Ridho manusia itu adalah puncak yang tak bisa digapai. Dan tiada jalan untuk selamat dari mereka. Maka engkau harus memegang apa yang bermanfaat bagimu, lalu tekunilah dia.” (“Siyaru A’lamin Nubala”/10/hal. 89/Biografi Al Imam Asy Syafi’iy/Ar Risalah).

AHMAD BIN HARB BIN FAIRUZ AN NAISABURIY رحمه الله BERKATA:

“Aku beribadah kepada Alloh selama limapuluh tahun, maka aku tidak mendapatkan kemanisan ibadah hingga aku meninggalkan tiga perkara: Aku meninggalkan keridhoan manusia hingga akupun sanggup untuk berbicara dengan kebenaran. Dan aku meninggalkan persahabatan dengan orang-orang fasiq hingga akupun mendapatkan persahabatan dengan orang-orang sholih. Dan aku tinggalkan manisnya dunia hingga akupun mendapatkan manisnya akhirat.”

 (“Siyaru A’lamin Nubala”/11/hal. 34/Biografi Ahmad bin Harb/Ar Risalah).

SIAP MENJADI GOLONGAN ALLAH DAN RASULNYA

BERKATA IBNUL QOYYIM- RAHIMAHULLAH-

ولا تستصعب مخالفة الناس و التحيز الى  الله ورسوله ولو كنت وحدك فان الله  معك  وانت بعينه و كلاءته و حفظه لك و انما امتحن يغقينك و صبرك واعظم الاعوان  لك على هذا بعد عونن الله التجرد من  الطمع و الفزع  فمتى تجردت منهما هان عليك التحيز الى الله و رسوله و كنت داءما في اللجانب الذى فيه الله ورسوله

“Dan janganlah engkau merasa berat untuk menyelisihi manusia dan menggabungkan diri pada golongan Allah dan RasulNya, meskipun engkau sendirian, karena sesungguhnya Allah bersamamu dengan pengawasan, pemeliharaan dan penjagaannya untukmu. Dan hanyalah Allah itu menguji keyakinan dan kesabaranmu. Dan penolong terbesar bagimu untuk itu – setelah pertolongan Allah- adalah melepaskan diri dari sifat tamak (rakus dunia) dan ketakutan. Maka kapan saja engkau bisa lepas dari keduanya, akan ringan bagimu untuk menggabungkan diri kepada golongan Allah dan Rasul- Nya, dan engkau senantiasa berada pada sisi yang disitulah Allah dan Rasul-Nya.”

(Al fawa’id ” 1/hal.116)

 

AKIBAT MENGIKUTI NAFSU

أرأيت من اتخذ إلهه هواه أفأنت تكون عليه وكيلا

أم تحسب أن أكثرهم يسمعون أو يعقلون إن هم إلا كالأنعام بل هم أضل سبيلا الفرقان

” Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai  sesembahannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu). ” Al-Furqan 43-44

“Dasar permusuhan, kejahatan dan kedengkian yang muncul dikalangan manusia ialah karena mengikuti nafsu. Siapa yang menentang nafsunya berarti membuat hati dan badannya menjadi tentram dan sehat. Abu Bakar Al Warraq berkata : “Jika nafsu yang menang, maka hati menjadi gelap. Jika hati menjadi gelap, maka dada terasa sesak. Jika dada menjadi sesak, maka akhlaq menjadi buruk. Jika akhlaq menjadi buruk, maka ia membenci orang lain, dan orang lainpun membencinya. Maka perhatikanlah apa yang diakibatkan nafsu, seperti kebencian, kejahaan, permusuhan, mengabaikan hak orang lain dan sebagainya.”

“Harus mengetahui bahwa nafsu tidaklah  mencampuri sesuatu melainkan ia merusaknya. Jika nafsu mencampuri ilmu, maka ia mengeluarkannya kebid’ah dan kesesatan, pelakunya menjadi kelompok orang yang mengikuti nafsu.Jika nafsu mencampuri zuhud, maka ia mengeluarkan pelakunya kepada riya’ dan menyalahi sunnah. Jika nafsu mencampuri hukum, maka ia mengeluarkan pelakunya kepada kedholiman dan menghalangi kebenaran. Jika nafsu mencampuri pembagian, maka mengeluarkan pembagian itu kepada ketidak adilan dan kebohongan. Jika nafsu mencampuri ibadah, maka ibadah itu akan keluar dari ketaatan dan taqarub. Jadi, selagi nafsu mencampuri sesuatu, maka ia akan merusaknya”.   

(Dari kitab Raudhah Al-Muhibbin wa nuzhah Al-Musytaqin, Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah)

 

MANFAAT AKAL BAGI SEORANG MUKMIN

MUADZ BIN JABAL RADHIALLAAHU’ANHU BERKATA :

“Andaikata orang yang berakal itu mempunyai dosa pada pagi dan sore hari sebanyak bilangan pasir, maka akhirnya dia cenderung masih bisa selamat dari dosa dosa itu.  Andaikata  orang yang bodoh itu mempunyai kebaikan dan kebajikan pada pagi dan sore hari sebanyak bilangan pasir, maka akhirnya dia cenderung tidak bisa mempertahankannya sekalipun hanya seberat biji sawi.Ada yang bertanya,”Bagaimana hal itu bisa terjadi?” Muaz bin Jabal Radhiallaahu’anhu menjawab,“Sesungguhnya jika orang yang berakal itu tergelincir maka dia segera menyadarinya dengan cara bertaubat dan menggunakan akal yang dianugerahkan kepadanya. Tetapi orang bodoh itu ibarat orang yang membangun dan merobohkannya. Karena kebodohan itu terlalu mudah melakukan apa yang  bisa merusak amal sholehnya”.

Dari kitab Raudhoh Al-Muhibbin wa nuzhan Al Musytaqin , karya Imam Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah

 

TABIAT  BABI

Imam Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah Rahimahullah berkata :

ومن الناس من طبعه طبع خنزير يمر با لطيبات فلا يلوى عليها فاذا قام الانسان عن رجيعه قمه وهكذا كثير من الناس يسمع منك ويرى من المحاسن اضعااف اضعاف الساوى ء فلا يحفظها ولا تناسبه فائذا راى سقطه او كلمة عوراء وجد بغيته وما يناسبها فا  كهته ونقله

“Dan diantara manusia ada yang tabiatnya tabiat babi. Dia melewati rizki yang baik baik tapi tidak mau mendekatinya. Jusrtu  jika ada orang bangkit dari kotorannya (selesai buang hajat), didatanginya kotoran tadi dan dimakannya hingga habis. Demikianlah kebanyakan orang. Mereka mendengar dan melihat darimu sebagian  dari kebaikanmu yang berlipa lipat daripada kejelekanmu, tapi dia tidak menghapalnya, tidak menukilnya dan tidak mencocokinya.  Tapi jika melihat ketergelincitan  atau ucapan yang cacat, dapatlah dia apa yang dicarinya dan mencocokinya, lalu dijadikannya sebagai buah santapan dan penukilan.”

(Madarijus Salikin  1/hal 403)

 

HINDARI MAKAN DAN MENGENAKAN KOTORAN  MANUSIA

Wahai saudaraku,

Hendaknya engkau memiliki pekerjaan dan penghasilan yang halal yang kamu peroleh dengan tanganmu. Hindari memakan atau mengenakan kotoran-kotoran manusia (maksudnya pemberian manusia -ed). Karena sesungguhnya orang yang memakan kotoran manusia, permisalannya laksana orang yang memiliki sebuah kamar di bagian atas, sedangkan yang di bawahnya bukan miliknya. Ia selalu dalam ketakutan akan terjatuh ke bawah dan takut kamarnya roboh. Sehingga orang yang memakan kotoran-kotoran manusia akan berbicara sesuai hawa nafsu. Dan dia merendahkan dirinya di hadapan manusia karena khawatir mereka akan menghentikan (bantuan) untuknya.

(kitab Mawa’izh Lil Imam Sufyan Ats-Tsaury, hal. 82-84)

  

JANGAN MAKAN DARI AGAMA

 العلماء هم الناس قول ابن المبارك  وقد سئل من الناس ؟ قال العلماء  قيل فمن الملوك؟ قال الزهاد قيل فمن السلة ؟قال: الذي يئكل بدينه

PARA ULAMA  ADALAH MANUSIA YANG HAKIKI, perkataan Ibnu Al Mubarok rahimahullah. Dan sungguh dia telah ditanya,  siapa manusia? dia berkata : PARA ULAMA’ ,  dikatakan  siapakah para raja?, dia berkata ORANG ORANG YANG ZUHUD, dikatakan siapa orang  orang rendahan ? dia berkata  ORANG YANG MAKAN DARI AGAMANYA.

dari kitab AL ILMU fadhluhu wa syarafuhu

Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah

Comments on: "MUTIARA SALAF" (12)

  1. Assalamualaikum ,

    Apakah boleh ana copas untuk ana taruh di blog ana ?

    Suka

  2. Assalaamu’a;aikum Ustadz….ana izin kopas juga dan semoga ini menjadi amal baik bagi antum disisi Alloh swt.

    Suka

    • Wa’alaikumussalam Warahmatullahiwabarakatuh, afwan panggil saja ana Abu Jasmine Umar, Tafaddhal tentunya dengan mencantumkan sumbernya.
      Barakallahufiik

      Suka

      • Abu Jasmine Umar yang pernah tinggal di Fatahilah ya ? Kalau iya masih kenal Sigit ga ?

        Suka

      • Assalaamu’alaikum warahmatullah na’am yaa Sigit, ana dulu di Depok Fatahillah, Alhamdulillah kalau masih ingat ana. bagaimana kabarnya? Ana sudah kunjungi web antum. Bisnis yang bagus dan prospek. Semoga sukses. Didepok markiz hizby khobits, makanya ana tinggalkan. Alhamdulillah ana diselamatkan dari tipu daya mereka. Barakallahufiik.

        Suka

  3. LAKNAT BAGI PEMBUAT PERKARA BARU tolong dbantu sumber rujukan, (dari buku mana gitu?) terima kasih mas , pernah dengar kata-kata dari abdullah bin umar g tentang agamu jaga agamu jag ambil dari org2 yg lurus jgn ambil dari org2 yg menyimpang, klo ada yg tahu ane butuh tulisan lengkapnya sumber buku dan lebih lengkap ucapan beliau ,

    terima kasih

    Suka

  4. alhamdulillah menjadi tenang membaca artikel dlm web ini..semoga allah swt menambahkn ilmu yg byk serta bermanfaat bagi pemilik web ini dn kita semua..amiiin

    Suka

  5. jazaakallahu khairan.
    Ijin sharing ,
    BArakallahu fiik

    Suka

  6. masyaAllah keren n syukron

    Suka

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: