“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

Mengenang Darul-Hadits Dammaj

Nama Dârul Hadîts Dammâj sudah tidak asing lagi bagi salafiyyûn Indonesia merupakan markiz ahlus sunnah terbesar di dunia, markiz dambaan bagi setiap orang yang mencintai ‘ilmu dan ulamânya.

Para tholabul ‘ilmi dari berbagai belahan dunia berusaha menimba ‘ilmu di sana meneguk ‘ilmu di kalangan ‘ulamâ yang sejati untuk membersihkan kesyirikan-kesyirikan, bid’ah, khurofat dan hizbiyyah yang telah menghancurkan dakwah ahlus sunnah di sepanjang masa.

Dammâj harum namanya telah melahirkan puluhan ‘ulamâ kibar dan ribuan du’ât yang menyebar di pelosok dunia, di antara ‘ulamâ tersebut adalah :

·         Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî -hafizhohulloh-.

·         Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhâb Al-Wushôbî. (sekarang telah menyimpang)

·         Asy-Syaikh Al Walid Muhammad bin Muhammad Mâni’, -hafizhohulloh-

·         Asy-Syaikh Muhammad Al-Imâm -hafizhohulloh-. (sekarang telah menyimpang)

·         Asy-Syaikh Abdul Azîz Al-Burô’î -hafizhohulloh-.

·         Asy-Syaikh Abdullôh bin ‘Utsmân Ad-Dammarî -hafizhohulloh-.

·         Asy-Syaikh Muhammad Ash-Shoumalî -hafizhohulloh-.

·         Asy-Syaikh Ahmad ‘Utsmân Al-’Adanî -hafizhohulloh-

Pendiri ma’had terbesar ini adalah Imâm Jarh Wa Ta’dîl Al-’Allâmah Al-Wâlid Asy-Syaikh Muqbil bin Hâdî Al-Wâdi’î -rohimahulloh- seorang tokoh ‘ulamâ besar di dunia yang tidak asing lagi bagi para pembaca.

Beliau membangun da’wah dengan penuh ‘iffah tanpa yayasan dan tanpa minta sumbangan pada seorangpun, beliau tidak mengetahui berapa nilai mata uang real yaman (tentu saja beliau bisa membedakan 20 real dari 100 real. Hanya saja ini sekedar menggambarkan zuhud beliau -rohimahulloh-), tidak memiliki televisi, CD, radio, video. Bahkan rumahnya terbuat dari tanah.
Beliau terkenal waro’ dan zuhud dan penyayang, ketika orang sibuk mencari sumbangan kesana-kemari untuk membangun masjid, markiz dan sebagainya beliau terus mengarang kitab “Dzammul Mas’alah” (tercelanya meminta-minta). Sehingga Asy-Syaikh Robî’ bin Hâdî Al-Madkholî sangat kagum kepadanya.

Asy-Syaikh Muqbil rohimahulloh sering menunjuk Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî hafizhohulloh mengisi khutbah jum’ah, menjadi imâm, mengutus beliau untuk da’wah di berbagai negara, menggantikan beliau ketika tidak bisa mengajar, bahkan ketika para tamu meminta fatwa kepada Asy-Syaikh Muqbil maka beliau mengarahkan kepada Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî.

Ini jelas bukan pelimpahan mandat yang sepele karena ini permasalahan yang berkaitan dengan umat, namun beliau menyerahkan ini semua kepada Asy-Syaikh Yahyâ. Ini menunjukkan betapa kuatnya keilmuan beliau.

Bahkan Asy-Syaikh Muqbil menyatakan bahwa orang yang paling ‘âlim di Yaman adalah Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî. Sebagaimana perkataan Al- Akh ‘Abdullôh Mâthir: “Dan sungguh saya pernah bertanya kepada Asy-Syaikh Muqbil dan kami demi Allôh Subhanahu wa Ta’ala tidak ada antara saya dan beliau kecuali Allôh Subhanahu wa Ta’ala dan kami berada di kamar beliau di atas tempat tidur beliau yang beliau tidur di atasnya, kemudian kami katakan kepada beliau, ‘Wahai Syaikh kepada siapa ikhwah ahlus sunnah di Yaman mengembalikan urusan-urusan mereka? dan siapakah orang yang paling berilmu di Yaman?’ maka Syaikh Muqbil terdiam sebentar dan berkata : ‘Syaikh Yahya’.”

Ketika Asy-Syaikh Muqbil menyadari bahwa beliau tidak akan bisa hidup lama lagi di dunia yang fana ini maka beliau serahkan markiz terbesar di dunia tersebut kepada anak didiknya yang tercinta, yaitu Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî, seraya beliau memberikan wasiat, “Dan saya wasiatkan kepada mereka (penduduk dammâj) agar bersikap baik kepada Asy-Syaikh Yahyâ dan jangan sampai ridho dengan diturunkannya beliau dari kursinya, karena beliau adalah An-Nâshihul Amîn (penasehat yang terpercaya).”

Bahkan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhâb Al-Wushôbî yang juga punya dakwah besar saat itu juga menyadari bahwa markiz terbesar itu tidak ada yang paling pantas untuk memegangnya kecuali Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî. Sebagaimana perkataan beliau, “Demi Allôh bahwasanya termasuk anugerah dari Allôh Subhanahu wa Ta’ala kepada diriku bahwasanya Asy-Syaikh Muqbil tidak mewasiatkan markiz Dammaj kepadaku. Kalau seandainya beliau mewasiatkan itu kepadaku maka sungguh saya berada di antara dua gunung yang besar yaitu yang pertama adalah wasiat Asy-Syaikh Muqbil dan yang kedua bahwasanya diriku tidak pantas untuk menempati tempat itu (Dammâj) dan sesungguhnya itu tidak pantas kecuali kepada Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî, dia adalah orang yang ahli dan pantas untuk mendudukinya.”

Asy-Syaikh Muqbil juga mengatakan bahwa Asy- Syaikh Yahyâ adalah orang yang mustafîed dalam berbagai cabang ‘ilmu dan kuat dalam aqîdah sebagaimana perkataan beliau: “Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî Mustafîd di berbagai cabang ‘ilmu dan aku telah mendengar dars-darsnya yang menunjukkan bahwa beliau telah benar-benar mendapatkan faedah dan beliau kuat dalam bidang tauhîd.”

Asy-Syaikh Robî’ sebagai Imam Jarh Wa Ta’dîl juga menyanjung Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî seraya mengatakan: “Asy-Syaikh Yahyâ -hafidhohullôhu ta’âla- akan pantas menjadi imâm di alam ini dengan izin Allôh ta’âla.”

Asy-Syaikh Abûn Nashr Muhammad bin ‘Abdullôh Al-Imâm beliau termasuk kibâr ‘ulamâ Yaman mengatakan bahwa; “Tidaklah mencela Asy-Syaikh Al-‘Allâmah Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî kecuali orang bodoh atau ahlul ahwa (Ahlul Bid’ah)”.

Asy-Syaikh Muqbil sangat yakin bahwa Asy-Syaikh Yahyâ mampu memegang markiz Dammâj yang agung ini.

Berbagai ujianpun datang, fitnah demi fitnah mulai bermunculan, mulai dari makar orang-orang Libia yang berusaha menjatuhkan Asy-Syaikh Yahyâ, disusul dengan makar Abul Hasan Al-Mishrî, disusul lagi dengan makar Shôlih Al-Bakrî, makar Abû Mâlik Ar- Riyâsyî, dan makar Al-Mar’iyain. Namun subhanallôh, Allôh Subhanahu wa Ta’ala membantu perjuangan beliau dengan memberikan pertolongan yang luar biasa sebagaimana firman Allôh Subhanahu wa Ta’ala :


“Dan sesungguhnya telah tetap janji kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rosul, (yaitu) sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan. Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang.” { QS. Ash-Shoffât:171-173 }


Allôh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Sesungguhnya Kami menolong rosul-rosul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat),” { QS. Ghôfir:51 }

Asy-Syaikh Muqbil bin Hâdî selaku guru Asy-Syaikh Yahyâ juga mendapatkan ujian dan tuduhan yang luar biasa besarnya, karena beliau memegang dakwah ahlus sunnah di Yaman, beliau dikatakan:

·         Sebagai orang yang mutasyaddid (yang sangat keras)

·         Tidak tahu fiqhul wâqi’ (kenyataan yang terjadi)

·         Hanya memiliki ‘ilmu mustholah dan nahwu

·         Mengkafirkan kaum muslimîn

·         Tidak mencetak ‘ulamâ sampai syaikhpun dituduh mengharomkan permasalahan yang sepele, seperti mengharomkan sendok dan pisang. Semua ini jelas kedustaan yang diada-adakan dan tidak ada realitanya sama sekali. Oleh karena itulah tak heran Asy-Syaikh Yahyâ pun juga mendapatkan caci-makian dan tuduhan yang sangat hebat, di antaranya:

·         Beliau mencerca para ‘ulamâ.

·         Tidak tahu manhaj dan aqîdah.

·         Keras kepala.

·         Jelek akhlaknya.

·         Tidak bisa bahasa ‘arob.

·         Tajam lisannya.

·         Tidak menjaga kehormatan seseorang, dan sebagainya.


Dan di antara makar yang paling dahsyat dalam meruntuhkan markiz Dammâj adalah makar ‘Abdullôh dan ‘Abdurrohmân Al-Mar’iyain, bukti makar tersebut adalah sebagai berikut:

MAKAR ‘ABDURROHMÂN AL ‘ADNÎ:

Telah berkata Amîn Misybah dalam risâlah yang dikirim oleh sebagian ikhwah dan Sa’îd bin Da’âs juga telah membacanya (berisi ucapan ‘Abdurrohmân Al-’Adnî) : “Jangan kamu memberikan salam kepada Asy-Syaikh Yahyâ, karena kamu akan mendapatkan dosa.”
Ketika Kholîl At-Ta’izî memberikan muhâdhoroh (selaku utusan dari Dammâj), ‘Abdurrohmân mengarahkan para hadirin yang ada di masjid untuk keluar dari masjid, maka tidak ada yang tersisa kecuali hanya sedikit.

Meninggalkan pelajaran yang harus diikuti oleh semua santri dengan cara membuat majelis-majelis di luar masjid.

Membikin renggangnya hubungan beliau (Asy-Syaikh Yahyâ) dengan para Masyâyikh seperti, Asy-Syaikh ‘Ubaid Al-Jâbirî, Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb Al-Wushôbî, dan lain-lain. Padahal Asy-Syaikh ‘Ubaid juga telah hadir di Dammâj dan mengisi muhâdhoroh, adapun Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb selalu singgah di Dammâj minimal dua kali dalam setahun,
Mentahdzîr ikhwân yang belajar bersama Akhunal Mustafid Kamâl Al- ‘Adanî, karena dia sangat dekat dengan Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî.

Memperbanyak muhâdhoroh di beberapa tempat padahal ketika di Dammâj ‘Abdurrohmân sering absen ketika mengajarkan kitab “Ad-Darorî” dan “‘Umdatul Ahkâm Kubro”.
Berusaha untuk mengambil masjid-masjid ahlus sunnah yang memiliki hubungan baik dengan Dammâj.
Melarang Asy-Syaikh Ahmad ‘Utsmân Al-’Adanî hafizhohulloh untuk memberikan muhâdhoroh di beberapa tempat, padahal beliau adalah Asy-Syaikh yang dituakan di kota ‘Adn.
Menghasung para pelajar di Markiz Dammaj untuk keluar dan pindah dari Dammaj, dan membeli kapling di ma’had ‘Abdurrohmân Al-’Adanî yang sama sekali belum jadi, dan mendaftar nama-nama mereka, dan menjadikan mereka harus terburu-buru mengambil keputusan karena masa pendaftaran hanya berlangsung empat hari saja. Padahal Abdurrohman masih di Dammâj, dan bangunan ma’had di Fuyusy-Lahj-’Adn belumlah jadi, dan tanpa sama sekali meminta musyawaroh kepada Syaikhud Dar Syaikh Yahya -hafizhohulloh-. Hal ini jelas tidak punya adab kepada Syaikhud Dar, menyelisihi adab membangun ma’had yang telah berlangsung di kalangan ulama Yaman, dan merupakan tasyabbuh (peniruan) terhadap siasat jahat Sholih Al Bakry untuk merusak Darul Hadits Dammaj (sebagaimana ucapan Syaikh Muhammad Al Imam hafizhohulloh). Dan banyak alamat yang menunjukkan adanya makar untuk meruntuh markiz induk Darul Hadits Dammaj. Dan seluruh masyâyikh di Yaman menyatakan bahwa ‘Abdurrohmân Al-’Adanî bersalah dan mengharuskan untuk menulis pernyataan kesalahannya namun sampai sekarang belum juga menulis.

·         Menyatakan bahwa Asy-Syaikh Yahyâ pembangkang, sombong, dan munâfiq.

·         Menyatakan bahwa Asy-Syaikh Yahyâ pembikin makar.

·         Menyatakan bahwa Asy-Syaikh Yahyâ dungu.

·         Menyatakan bahwa Asy-Syaikh Yahyâ ghuluw.

·         Berusaha mendo’akan Asy-Syaikh Yahyâ demi kehancurannya.

·         Merendahkan usaha-usaha yang dilakukan oleh Asy-Syaikh Yahyâ, dsb.

MAKAR ‘ABDULLÔH Al-MAR’Î:

Berikut ini bagaimana ucapan ‘Abdullôh Al-Mar’î kepada Asy-Syaikh Yahyâ Al-Hajûrî sebelum meledaknya fitnah:
Asy-Syaikh Yahyâ gila.

·         Tidak mengetahui apa yang keluar dari otaknya.

·         Tidak memiliki adab.

·         Dakwah akan rusak karena ulah Asy-Syaikh Yahyâ.

·         Dia tidak menganggap keilmuan dan fatwanya, dsb.

MAKAR SÂLIM BÂ MUHRIZ:

Demikian pula makar Sâlim Bâ Muhriz tidak kalah hebatnya dia mengatakan:
Kita telah selesai dari fitnah Abul Hasan Al-Mishrî giliran berikutnya adalah Al-Hajûrî. (Ini diucapkan pada tahun 1423 H, tiga tahun sebelum fitnah Ibnu Mar’i) Asy-Syaikh Yahyâ dalam penyampaian nasehat menempuh jalan yang tidak diridhoi bahkan itu jalan yang ditempuh oleh Al-Hasanî (Abul Hasan Al-Mishrî) Yahyâ tidak ahli dalam jarh.

MAKAR LUQMÂN BÂ’ABDUH:

Dan dia ini adalah gembong terbesar orang Indonesia untuk menghancurkan Dammâj dan syaikhnya dengan alasan pembelaan kepada masyâyyikh ahlus sunnah dan mengembalikan Dammâj sebagaimana di zaman Asy-Syaikh Muqbil bin Hâdî Al-Wad’î -rohimahullôhu ta’âla-:

·         Melarang ikhwan-ikhwan Indonesia untuk belajar ke Dammâj.

·         Menyatakan bahwa setiap alumni Dammâj pada asalnya ditahdzir sampai ada rekomendasi dari asâtidzah atau menunjukkan kebaikan-kebaikannya.

·         Menghina Asy-Syaikh Yahyâ dengan kata-kata “ente” padahal kata-kata ini tidak ada di bahasa ‘arob, namun adanya di bahasa kampungan.

·         Menyatakan bahwa Asy-Syaikh Yahyâ menjarh tanpa bukti.

·         Menyatakan bahwa Asy-Syaikh Yahyâ menghina Rosulullôh dan para shohâbat.

·         Menyatakan bahwa Asy-Syaikh Yahyâ mirip dengan Mahmûd Al-Haddâd (fitnah Al-Haddâdiyah) sebagaimana tuduhan Abul Hasan Al-Mishrî terhadap Asy-Syaikh Yahyâ.

·         Mengatakan bahwa Asy-Syaikh Yahyâ rusak aqîdahnya.

·         Mengatakan (sesuai dengan berita palsu) bahwa Asy-Syaikh Yahya menuduh qodhi Ba Waih luthi (homo), dan Asy-Syaikh Yahya harus dicambuk delapan puluh kali, dan mendapatkan predikat “Kadzdzab” dan “Fasiq”.

·          Menghina para masyayikh markiz Dammaj -hafizhohumulloh-


Semua masalah ini ada saksi dan ada CD rekamannya, telah sampai kepada kami di Dammaj.
Akan tetapi semua tuduhan Luqmân Bâ’abduh ini sudah dijawab oleh masyâyikh ahlus sunnah di Yaman :

·          Fatwa Salah satu ‘ulamâ Yaman Asy-Syaikh Muhammad bin Muhammad bin Mâni’ dan di antara yang dituakan di kota Shon’â mengatakan : “Sebagai akhir kata aku ingin mempertegas terhadap suatu perkara yang penting bahwasanya Luqmân ini tidak dapat membedakan antara kritikan yang syar’î dan penjelasan kesalahan, antara celaan dengan kebohongan dan kedustaan, yang demikian itu menunjukkan bahwa dia (Luqmân) bodoh terhadap sunnah dan manhaj salaf. Dan aku ulangi kembali nasehat untuk saudara-saudara kami ahlus sunnah di Indonesia untuk menjauhi siapa yang diketahui seperti orang ini (Luqmân) karena dia bukan orang yang ahli untuk diambil ‘ilmunya, wallôhul musta’ân.

·         Asy-Syaikh Muhammad bin Hizâm Al-Ibbî, beliau menyatakan :“Dan sungguh dia (Luqmân Bâ’abduh) telah banyak mentahdzir Asy-Syaikh kami An-Nâshihul Amîn, meremehkannya dan meremehkan Markiz Dârul Hadîts Dammâj semoga Allôh Subhanahu wa Ta’ala menjaganya dan dia menyebutkan beberapa perkara dusta yang sama sekali tidak ada dasarnya dari kebenaran, maka dengan itu aku mengetahui bahwa orang ini terfitnah dan hatinya berpenyakit.”

·         Fatwa Fadhilatusy Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî tentang Luqmân bahwa:
Luqmân Bâ’abduh adalah Hizbî, dan di termasuk dari pengikut hizby baru yang paling jelek. Jangan sampai Luqmân memecah belah kalian, saya menganggap bahwa kalian (murid-murid Indonesia yang ada di Dammâj) demi Allôh Subhanahu wa Ta’ala di antara kalian lebih berilmu (lebih ‘âlim) dari pada Luqmân Saya betul-betul jengkel terhadap Luqmân dan orang-orang yang semisal Luqmân yang telah menelantarkan para thullab dari mencari ‘ilmu (belajar Agama di Dammâj) dan menjauhkan mereka dari As-Sunnah.

·         Fatwa Asy-Syaikh Abû ‘Amr Al-Hajûrî : “Luqmân adalah hizbî.”

·         Fatwa Asy-Syaikh ‘Abdullôh Al-‘Iryânî : “Luqmân adalah hizbî.”

·         Fatwa Asy-Syaikh Jamil As-Shulwi : Tidak sepantasnya belajar kepada orang yang menjelekkan Darul Hadits Dammaj seperti orang ini.

MAKAR ORANG-ORANG MAJHÛL (tidak jelas identitasnya):


Menurut kesepakatan para ‘ulamâ ahlul hadîts bahwa berita-berita yang datang dari orang majhûl tidak bisa diterima kecuali majhûlnya para shohâbat, karena mereka (para shohâbat) adalah orang-orang yang ‘udûl (bisa dipercaya). Allôh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fâsik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti.” { QS. Al-Hujurôt: 6 }

Namun Luqmân CS lebih percaya ucapan orang majhûl dari pada ucapan Masyâyikh Ahlus Sunnah di Yaman, di antara orang-orang majhûl tersebut:

·         Al-Barmakî (siapa dia, dari mana asalnya)? Tak seorang pun yang mengetahuinya

·         ‘Abdullôh bin Robî’ As-Salafî (orang mengira bahwa itu putra Imâm Jarh wa Ta’dîl Asy-Syaikh Robî’ bin Hâdî Al-Madkholî, padahal kita tidak tahu apakah dia itu ikhwânî, shûfî, atau syî’î)

·         Abdullôh bin Mubârok (orang mengira bahwa itu Imâm yang terdahulu yang sudah meninggal beratus tahun lamanya)

·         ‘Ammâr As-Salafî (siapa dia, dari mana asalnya? Berapa banyak salafiyyîn yang bernama ‘Ammâr) dsb. Orang Indonesia pun mulai menggunakan nama majhûl seperti ini :

·         Abu ‘Umar bin Abdul Hamîd, penulis “nasehat dan teguran guru yang arif dan bijak.” (kita tidak tahu apakah dia itu shûfî, syî’î, atau hizbî, sehingga seluruh beritanya tertolak akan tetapi kami sudah mengetahui dari internet bahwa ini adalah tulisan Luqmân Bâ’abduh)

·         Abu Mahfûdz ‘Alî bin ‘Imrôn bin ‘Alî Adam Al- Indonisî (kami yang berada di Dammâj tidak mengetahui siapa dia, padahal dia mengaku belajar di Yaman tapi yaman yang mana?)

·         ‘Abdul Ghofûr Malang, siapa dia? Yang namanya Abdul Ghofur di Malang juga sangat banyak.

Wahai orang-orang majhûl kalau kalian ini memang betul-betul lelaki tunjukkan kejantananmu, tunjukkan identitasmu!!! Kalian sudah belajar ‘ilmu mustholahul hadîts apa belum? kalau sudah dimana letak keilmuan kalian? Atau apakah syaithôn telah menguasai diri kalian! Allôhul musta’ân. Perlu antum ketahui wahai saudaraku seiman, semoga Allôh memberi taufîq dan hidâyahnya kepada kita semua, bahwasanya ahlul bid’ah betul-betul berusaha untuk memecah-belah Dârul Hadîts Dammâj, karena Dammâj merupakan markiz terbesar bagi Dakwah Ahlus Sunnah di Dunia, dan mereka senantiasa tidak tenang, mereka terus berusaha untuk menimbulkan fitnah.

Bukankah kalian telah melihat bagaimana usaha mereka untuk menguasai Jamî’ah Islâmiyah Madînah yang dulu dirintis oleh Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Azîz bin Bâz murni sebagai dakwah ahlus sunnah wal jama’ah setelah mereka melihat bahwa tauhîd dan sunnah berkembang di Madînah, maka orang hizbiyyûn dari para pengikut Hasan Al-Banna, Sayyid Quthb dsb. berusaha untuk menguasainya, dan kalian lihat kenyataan bagaimana Jamî’ah Islâmiyah Madînah sekarang dikuasai orang-orang hizbiyyûn. Walaupun Asy-Syaikh ‘Ubaid Al-Jâbirî menyatakan bahwa Jamî’ah dari dulu sampai sekarang dikuasai ahlus sunnah, tapi ini jelas tertolak karena Asy-Syaikh Robî’ bin Hâdî Al-Madkholî, Asy-Syaikh Muhammad bin Hâdî Al-Madkholî, Asy-Syaikh Muhammad Al-Imâm, Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al- Hajûrî dsb. menyatakan bahwa Jamî’ah Islâmiyah Madînah sekarang dikuasai oleh hizbiyyûn.

Demi Allôh para hizbiyyûn tidak akan tenang ketika melihat Dârul Hadîts di Dammâj, kalau bisa mereka berusaha untuk menguasainya, sungguh mereka akan segera menguasainya sampai Dammâj itu bisa tersia-sia. Bahkan beberapa masyayikhpun telah berfirasat akan datangnya gelombang makar terhadap Markiz induk Dammaj.
(baca Risalah “Fitnah Abdurrohman Al ‘Adani wal Ayadil ‘Amilah minal Khorij.”/Mu’afa bin Ali Al Mighlafi -hafizhohulloh-/5-6)

Tetapi alhamdulillâh setiap ada orang yang berusaha menghancurkan Dammâj Allôh selalu melindunginya, dan mereka akan rugi sendiri.

Demikian pula kita dapatkan bahwa mereka berusaha untuk menimbulkan kedustaan-kedustaan, pemutarbalikan fakta dan menghalangi manusia untuk belajar di Dârul Hadîts Dammâj seperti yang dilakukan oleh Luqmân Bâ’abduh CS. Telah berkata Ibnul Qoyyim dalam sebuah kitâbnya “Madârij As-Sâlikîn” 2/464 : “Dan tidak ada yang merintangi dari ‘ilmu kecuali mereka adalah para penyamun, wakil-wakil iblîs dan tentaranya.”

Imâm Jarh Wa Ta’dîl Robî’ bin Hâdî Al-Madkhôlî ketika ditanya :

“Di Madînah ada ikhwah dari Al Jazâir, ketika telah datang seorang dari Al Jazâir lainnya yang berusaha untuk melanjutkan ke Dammâj untuk mencari ‘ilmu, lalu mereka berusaha menahannya sampai dia tertahan, dan di sana juga ada ikhwah mereka yang tinggal di Su’ûdy dua tahun lamanya, maka kami minta nasehat untuk mereka yang menjadi penghalang jalan menuju kebaikan, maka Asy-Syaikh Robî’ memberikan jawaban:  “Mereka itu sebagaimana ucapan penanya adalah para penyamun, kenapa mentahdzir belajar ke Dammâj tempat yang di sana diajarkan semua ‘ilmu, demi Allôh tidak ada yang mentahdzîr Dammâj kecuali seorang yang merintangi dari jalan Allôh.” (berita dari Abul ‘Abbâs Asy-Syihrî, Abu ‘Abdillâh Al-Baidhônî, Abu ‘Alî ‘Abdullôh Al-Lîbî)

Buku yang ringkas ini sebagai penjelas bagi orang-orang yang menginginkan Al-Haq dengan mencantumkan fatwa ‘ulamâ yang berkaitan dengan fitnah yang ada di Yaman , dan ini adalah cuplikan dari tulisan-tulisan para penuntut ilmu di Damaaj . Mereka itu adalah:

·         Abu Turôb Saif bin Hadhor Al-Jâwî.

·         Abu Fairûz ‘Abdurrohmân Al-Jâwî

·         Abu Arqôm Muslih Zarqoni Al-Jâwî.

·         Abu Sholeh Dzakwan Al Medani.

·         Abu ‘Abdillah Imâm Al-Hanafi Al-Balikpapan

·         Abu Abdurrahman Shiddiq Al- Bugisi.

·         Abu Zakariyâ Irhâm bin Ahmad Al-Jâwî

·         Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limbory

Dan lainnya yang tidak kami sebutkan namanya satu persatu jazahumulloh khoiron atas uluran tangannya. Mudah-mudahan ringkasan ini bisa memberikan manfaat di dunia dan di akhirat

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: