“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

Posts tagged ‘Syaikh Yahya bin Ali Al Hajury’

Hukum Mendengarkan Kaset Rekaman Ahli Bid’ah ?

Hukum mendengarkan rekaman ahlul bid'ah

Soal : Sebagian ikhwan ada yang suka menerima kaset rekaman para hizbi, rekaman tentang anjuran untuk memberontak terhadap pemerintah muslimin, maka bagaimana kewajiban kita terhadap mereka?

Jawaban : Aku menasehatkan kaum muslimin agar mereka menjauhi rekaman ahli bid’ah, baik itu rekaman Syi’ah, Shufi, atau rekaman  hizbi, dan ahli bid’ah yang lainnya.

Maka wajib untuk menjauhi rekaman mereka, dan kita katakan wajib, karena segala sebab menuju fitnah maka itulah fitnah.

Dan segala perantara menuju haram, maka juga haram, walaupun ada sedikit kebenaran padanya, akan tetapi telah ternodai dengan kebatilan.

Dan begitu pula kitabnya ahli bid’ah, tidak boleh dibaca, kecuali dengan sangat hati hati, terkhusus dengan tujuan membantah, dan untuk mengetahui kebatilan yang ada padanya, adapun jika ingin mengambil faidah, maka amat besar bahayanya. (lebih…)

Iklan

Syukur dan Penjelasan Dari Asy-Syaikh Yahya bin Ali Al-Hajuriy

SYUKUR DAN PENJELASAN DARI  ASY SYAIKH YAHYA BIN ALI AL HAJURIY

-SEMOGA ALLOH MENJAGA BELIAU-

TERKAIT DENGAN BAYAN MASYAYIKH

(PERTENGAHAN BULAN DZULHIJJAH 1434H)

Diterjemahkan Oleh:

Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Indonesiy Al Jawiy

Semoga Alloh memaafkannya

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه، وأشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله أما بعد:

Maka berikut  ini adalah terjemah dari tanggapan Fadhilatusy Syaikh Al ‘Allamah Yahya bin Ali Al Hajuriy-semoga Alloh menjaga beliau-atas keluarnya bayan Masyayikh yang terkait dengan serangan rofidhoh terhadap Dammaj.

 

Syukur dan Penjelasan Terhadap Kandungan Selebaran Masyayikh Yang Berisi Vonis Bahwasanya Hutsiy Itu Berbuat Zholim Dan Melampaui Batas

(lebih…)

Galeri

المبادئ المفيدة في التوحيد والفقه والعقيدة DASAR-DASAR YANG BERFAEDAH TENTANG TAUHID, FIQIH DAN AQIDAH

المبادئ المفيدة

في التوحيد والفقه والعقيدة

DASAR-DASAR YANG BERFAEDAH

TENTANG

TAUHID, FIQIH DAN AQIDAH

 

Penulis:

الشيخ الفقيه العلامة المحدث

أبي عبد الرحمن يحيى بن علي الحجوري

حفظه الله

ASY-SYAIKH AL-FAQIH AL-‘ALLAMAH AL-MUHADDITS

Abu Abdirrahman Yahya bin Ali Al-Hajuriy

Semoga Alloh menjaganya

 

Penerjemah:

محمد الأمين بن نور الدين الأمبوني

رحمه الله

Muhammad Al-Amin bin Nurdin Al-Amboniy

Semoga Alloh merahmatinya

أبي العباس خضر بن آيه اللّمبوري

عفا الله عنه

Abul ‘Abbas Khidhir bin Aiyah Al-Limboriy

Semoga Alloh memaafkannya

 


PENGANTAR CETAKAN KEDUA

بسم الله الرحمن الرحيم

          الحمد لله حمدا كثيرا مباركا فيه كما يحب ربنا ويرضى, وأشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله. أما بعد:

            Dengan tersebar luasnya terjemahan kitab “المَبَادِئُ المُفِيْدَةُ” telah banyak sampai kepada kami saran dan kritikan yang membangun dari para pembaca yang terhormat.

            Sebagai insan manusia yang tentu tak luput dari salah, lupa dan keliru, setelah kami memeriksa kembali kitab terjemahan tersebut ternyata benar terdapat ketidak sempurnaan, baik itu yang berkaitan dengan salah pengetikan atau yang berkaitan dengan beberapa kekurangan dalam terjemahan, hal tersebut sebagai bentuk dari pembenaran terhadap perkataan orang-orang cerdas yang mereka memiliki akal pikiran yang jernih bahwa tidak ada satu pun kitab yang selamat dari kesalahan kecuali Kitabulloh, yang mana Alloh (تعالى) telah mengatakannya di dalam Al-Qur’an sebagaimana dalam surat An-Nisa’ ayat 82:

﴿أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآَنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا﴾.

“Apakah mereka tidak merenungi Al-Qur’an, kalaulah Al-Qur’an itu bukan dari sisi Alloh tentulah mereka akan mendapati di dalamnya banyak pertentangan”.

            Pada kesempatan ini kami sampaikan ucapan terima kasih kepada segenap para pembaca yang telah memberikan saran dan kritik yang membangun terhadap kitab terjemahan ini semoga Alloh senantiasa memberikan hidayah kepada kami dan mereka semua.


Al-Mabadiul Mufidah fil Tauhiid wal Fiqhi wal ‘Aqidah

Aku sampaikan pada terjemahan ini dengan bahasa yang pas dan mudah

Aku dan Muhammad Al-Amin menerjemahkan dengan penuh amanah

Ada kesalahan langsung kami luruskan dan mengakuinya itu adalah salah

Awal kali dalam menterjemahkan tentu tak luput dari keliru dan salah

Ambil pelajaran dari situ maka jangan kita berbuat gegabah

Aku memohon kepada Alloh semoga urusan kami dibuat mudah

Apa yang kami kerjakan ini semoga Alloh beri pahala dan upah

Aku memohon ampun kepada Alloh karena sering berbuat salah

Aku minta maaf kepada pembaca kalau ada dan pernah berbuat salah

Adapun para hizbiyyin maka mereka itu sukanya bikin amarah

Anak muslim yang baik tentu ingat perkataan Nabi untuk tidak marah

Apabila saudaranya ada salah dia ingatkan dengan sopan dan rahmah

Apabila hizbiyyun mau ikuti sunnah dan terima nasehat tentu dapat hidayah

Al-Mabadiul Mufidahmereka terjemahkan karena dunia yang rendah

Akhirnya sampai di sini kami sampaikan sebagai isi muqaddimah

Abul ‘Abbas dan Muhammad Al-Amin  yang bermanhaj Ahlus Sunnah

Akhir Dzulqa’dah mereka selesaikan koreksian dengan beri muqaddimah

 

 


PENGANTAR PENERJEMAH

 

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله وكفى بالله شهيدا وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له إقرارا به وتوحيدا وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وسلم تسليما مزيدا.

 أما بعد:

Tulisan ini merupakan terjemahan dari kitab “Al-Mabadiul Mufiidah fiit Tauhid wal Fiqhi wal ‘Aqidah” yang ditulis oleh Syaikh kami yang mulia Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al-Hajuriy semoga Alloh menjaganya yang kami beri judul terjemahannya DASAR-DASAR YANG BERFAEDAH TENTANG TAUHID, FIQIH DAN AQIDAH serta kami beri beberapa keterangan, yang kami lihat perlu untuk diberi keterangan tambahan yaitu pada catatan diantara dua kurung [……] baik pada terjemahan atau pada catatan kaki.

Pada pagi hari setelah terbitnya matahari, tepatnya pada hari Sabtu 14 Rabiul Awwal 1431 H., kami menemui Syaikh kami An-Nashih Al-Amiin Abu Abdirrohman Yahya Al-Hajuriy semoga Alloh menaganya di masjid As-Sunnah Darul Hadits Dammaj, setelah selesai beliau melaksanakan sholat dua rakaat, kami langsung mengemukakan maksud kami, dan kami meminta izin untuk menerjemahkan kitabnya “Al-Mabadiul Mufiidah fiit Tauhid wal Fiqhi wal ‘Aqidah” ke dalam bahasa Indonesia dan Asy-Syaikh pun menyambut dengan baik. Kami mengatakan bahwa pada terjemahan yang sedang kami kerjakan: Apakah boleh kami beri catatan yang kira-kira perlu untuk kami beri beberapa catatan (keterangan)? Maka Asy-syaikh menjawab: Boleh menambahkan beberapa catatan sebatas yang kamu mampui!. Kemudian Asy-Syaikh mendoakan kami: Semoga Alloh (memperbagus) hidupmu!

Ketika kami sudah hampir menyelesaikan terjemahan ini tiba-tiba ada saudara kami Rozif As-Singapuriy Semoga Alloh menjaganya datang dari Singapura ke Darul Hadits Dammaj untuk menuntut ilmu dengan membawa terjemahan kitab “Al-Mabadiul Mufiidah fiit Tauhid wal Fiqhi wal ‘Aqidah” yang dierbitkan oleh penerbit hizbiyyah [Maktabah Al-Ghuroba’-Solo-Indonesia/Cetakan ketiga/2008 H] yang beliau beli ketika di Batam-Indonesia, lalu beliau meminjamkan kepada kami untuk membacanya Semoga Alloh membalasnya dengan keaikan, kemudian ada beberapa kawan kami meminta kami untuk membantah kesalahan-kesalahan yang ada pada terjemahan tersebut bila ada kesalahannya, maka kami katakan: tidak perlu, lagi pula kami tidak punya waktu untuk membaca secara tuntas terjemahan tersebut, namun secara tidak disengaja terbaca pada kami satu hadits, yaitu hadits Shofwan bin ‘Assal semoga Alloh meridhoinya pada (hal. 92-93):

“…..وَلَكِنْ مِنْ غَائِطٍ وَبَوْلٍ وَنَوْمٍ”.

Yang para penerjemah menerjemahkan dengan:“…….akan tetapi beliau memerintahkan untuk melepaskan khuf kami dikarenakan buang air besar, kencing, dan tidur”. Yang seharusnya:

“…..وَلَكِنْ مِنْ غَائِطٍ وَبَوْلٍ وَنَوْمٍ”.

“….akan tetapi BAB (buang air besar), kencing, dan tidur [beliau صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ tidak memerintahkan kami untuk melepasnya]”. Kami menterjemahkan seperti ini karena kami memiliki dasar hukum dan penyangga yang menguatkan kebenarannya yaitu hadits dari Abu Hazim, beliau berkata:

رَأَيْت سَهْلَ بْنَ سَعْدٍ يَبُولُ بَوْلَ الشَّيْخِ الْكَبِيرِ يَكَاد أَنْ يَسْبِقَهُ قَائِمًا، ثُمَّ تَوَضَّأَ، وَمَسَحَ عَلَى خُفَّيْهِ، فَقُلْت: أَلَا تَنْزِعُ هَذَا؟ فَقَالَ: لَا، “رَأَيْت خَيْرًا مِنِّي وَمِنْك يَفْعَلُ هَذَا، وَرَأَيْت رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُهُ”.

“Aku melihat Sahl bin Sa’d kencing seperti kencingnya orang tua, hampir-hampir kencingnya mendahuluinya sedang dia masih dalam keadaan berdiri, kemudian dia berwudhu, dan mengusap di atas kedua khuf[1]nya, maka aku katakan: Sebaiknya engkau lepas saja (khuf-mu) ini? Maka beliau menjawab: Tidak (perlu). Aku melihat orang yang paling baik dariku dan darimu melakukan seperti yang aku lakukan ini, aku melihat Rosululloh (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) melakukannya”. [Lihat “Ash-Shohihul Musnad” (Juz. 1/Hal. 396, no. 476)].

Pada hadits tersebut sangatlah jelas bahwa  Rosululloh (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) dan Sahl bin Sa’d semoga Alloh meridhoinya tidak melepas sama sekali khuf-nya ketika kencing. Begitu pula ketika BAB (buang air besar) sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhariy dan Al-Imam Muslim dalam “Shohih Keduanya, Bab Al-Mashi ‘alal Khuffain” dari Al-Mughiroh bin Syu’bah dari Nabi (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ):

“أَنَّهُ خَرَجَ لِحَاجَتِهِ فَاتَّبَعَهُ الْمُغِيرَةُ بِإِدَاوَةٍ فِيهَا مَاءٌ، فَصَبَّ عَلَيْهِ حِينَ فَرَغَ مِنْ حَاجَتِهِ، فَتَوَضَّأَ وَمَسَحَ عَلَى الْخُفَّيْنِ”

“Bahwasanya beliau keluar untuk menunaikan hajatnya (BAB) maka Al-Mughiroh mengikutinya dengan membawakan seember air, lalu menuangkan kepadanya ketika telah selesai membuang hajatnya, maka beliau berwudhu’ dan mengusap di atas dua khuf-nya”.

Maka cukuplah ini sebagai keterangan yang menghujjah atas mereka para penerjemah dan penerbit Al-Ghuroba’:

﴿لِيَهْلِكَ مَنْ هَلَكَ عَنْ بَيِّنَةٍ وَيَحْيَى مَنْ حَيَّ عَنْ بَيِّنَةٍ [الأنفال: 42]

“Supaya orang yang binasa itu binasa dengan keterangan yang jelas dan supaya orang yang hidup itu hidup  dengan keterangan yang jelas [pula]”. (Al-Anfal: 42).

            Awalnya kami tidak berkeinginan untuk menjelaskan atau membantah kesalahan tersebut, namun karena ini berkaitan dengan kelancangan mereka dalam menetapkan dan meniadakan hukum syari’at yang tentunya ini adalah kesalahan yang sangat fatal maka mengharuskan kami untuk menjelaskannya, hal ini sebagai bentuk pengamalan terhadap perkataan Alloh (تعالى):

﴿وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ [النحل: 44]

“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan”. (An-Nahl: 44). Dan sebagai hujjah atas mereka [para penerjemah dan penerbit]nya, Alloh (تعالى) berkata:

﴿وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلَالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُون [النحل: 116].

“Dan janganlah kalian mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidah kalian dengan dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Alloh. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Alloh mereka tidak akan beruntung”. (An-Nahl: 116). Dan perkataan-Nya (تعالى):

﴿وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا [الإسراء: 36]

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabannya”. (Al-Isra’: 36).

            Begitu pula pada terjemahan dan cetakan yang sama (hal. 78) terulis: Al-Hizbiyyah (berpartai-partai)….. dari sini akan muncul anggapan dari para pembaca yang kebanyakan mereka adalah orang awam, bahwa hizbiyyah itu hanya sebatas partai-partai, yang mereka fahami partai politik atau perkumpulan tersendiri dalam demokrasi. Maka tentu ini adalah suatu pembatasan, yang sebaiknya menurut Syaikhuna (penulis) semoga Alloh menjaganya dibiarkan saja [tanpa diberi keterangan dalam kurung seperti itu]. Apakah mereka membuat keterangan dalam kurung seperti itu untuk mengalihkan para pembaca bahwa hizbiyyah itu hanya sebatas berpartai (partai-partai)? Ataukah karena mereka merasa pada diri mereka ada ciri-ciri dan sifat-sifat hizbiyyah maka mereka mau mengalihkannya kepada partai-partai supaya mereka tidak tertuduh? Cukuplah perkataan Alloh (تعالى) untuk mereka:

﴿وَمَنْ يَكْسِبْ خَطِيئَةً أَوْ إِثْمًا ثُمَّ يَرْمِ بِهِ بَرِيئًا فَقَدِ احْتَمَلَ بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا [النساء: 112]

“Dan barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkannya kepada orang yang tidak tahu menahu (tidak bersalah), maka sesungguhnya dia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata”. (An-Nisa’: 112).

            Padahal hizbiyyah itu sendiri adalah suatu perkara yang mudah untuk difahami oleh orang yang sekalipun baru mengenal manhaj Ahlussunnah Ash-Shohihah, sungguh bagus apa yang didefenisikan oleh Syaikh kami Abu Abdillah Muhammad bin ‘Ali bin Hizam semoga Alloh menjaganya tentang defenisi hizbiyyah dalam bukunya “Munkaraat Syaai’ah” (hal. 31), beliau berkata: “Hizbiyyah maknanya adalah perkumpulan suatu kelompok dari kalangan manusia di atas suatu pemikiran yang menyelisihi petunjuk Nabi (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ), mereka menjalin hubungan baik karena pemikiran tersebut dan bermusuhan karena pemikiran tersebut [pula], maka berubahlah hubungan baik mereka dan sifat berlepas diri mereka menjadi sempit”[2].

Dengan demikian, maka sangatlah lucu dan aneh serta menyelisihi realita yang ada kalau kemudian muncul para hizbiyyin semisal Muhammad Afifudin bin Husnunnuri As-Sidawiy, Muhammad As-Sarbiniy, Asykariy dan Ayip Safruddin serta kawan-kawan mereka yang memperingatkan umat dari membaca buku-buku yang diterjemahkan oleh orang-orang yang mereka anggap sebagai sururiy atau hizbiy namun hakekatnya merekalah hizbiyyun yang sesungguhnya, maka secara tidak mereka sadari peringatan mereka menghujjah atas mereka sendiri. Begitu pula tidak kalah canggihnya si orator jahil, sang ruwaibidhah[3] moder’n yang bernama Luqman bin Muhammad Ba’abduh yang mengkampanyekan misinya untuk membantah buku-buku yang diterbitkan oleh pustaka Al-Kautsar Jakarta. Namun sayang, ternyata permasalahan yang paling besar seperti peniadaan dan penetapan hukum seperti ini mereka lalaikan dengan tanpa adanya koreksian yang padahal sudah tercetak berulang-ulang, maka jawablah pertanyaan ini wahai para hizbiyyin yang hina:

﴿مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ (36) أَمْ لَكُمْ كِتَابٌ فِيهِ تَدْرُسُونَ (37) إِنَّ لَكُمْ فِيهِ لَمَا تَخَيَّرُونَ (38) أَمْ لَكُمْ أَيْمَانٌ عَلَيْنَا بَالِغَةٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ إِنَّ لَكُمْ لَمَا تَحْكُمُونَ (39) سَلْهُمْ أَيُّهُمْ بِذَلِكَ زَعِيمٌ (40) أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ فَلْيَأْتُوا بِشُرَكَائِهِمْ إِنْ كَانُوا صَادِقِينَ (41) [القلم: 36-41].

“Atau adakah kalian (berbuat demikian): Bagaimanakah kalian mengambil keputusan (dalam menghukumi)? atau adakah kalian mempunyai sebuah kitab tersendiri (yang diturunkan oleh Alloh) yang kalian membacanya?; bahwa di dalamnya kalian benar-benar boleh memilih apa yang kalian sukai untuk kalian. Atau apakah kalian memperoleh janji yang diperkuat dengan sumpah dari Kami, yang tetap berlaku sampai hari kiamat; Sesungguhnya kalian benar-benar dapat mengambil keputusan (sekehendak kalian)? Tanyakanlah kepada mereka: “Siapakah di antara mereka yang bertanggung jawab terhadap keputusan (hukum) yang diambil itu?” Atau apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu? Maka hendaklah mereka mendatangkan sekutu-sekutunya jika mereka adalah orang-orang yang benar”. (Al-Qalam: 36-41).

UCAPAN TERIMA KASIH

Dan sebagai peringatan pula: teringat dengan perkataan Alloh (تعالى):

﴿لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ [إبراهيم: 7]

“Jika kalian bersyukur, maka sungguh pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), Maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Ibrahim: 7). Dan juga hadits yang diriwayatkan oleh Abu Huroiroh dari Nabi (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ):

«لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ».

Tidak bersyukur kepada Alloh siapa yang tidak bersyukur kepada manusia“. (HR. At-Tirmidzi, no. 2081) dan beliau berkata: Ini adalah hadits hasan shohih)[4]. Maka beranjak dari sini kami sampaikan ucapan syukur dan terima kasih kami kapada:

–            Syaikh kami penasehat yang terpercaya Al-‘Allamah Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al-Hajuriy yang telah menulis kitab ini dan senantiasanya beliau dalam membimbing, mengajar dan menasehati kami, begitu pula para masyaikh kami yang ada di Darul Hadits Dammaj semoga Alloh (تعالى) menjaga kami dan mereka semuanya, begitu pula Syaikh kami Abu Abdir Rozzaq Riyadh Al-‘Udainiy yang telah mengajariku ilmu nahwu dan memberikan kepada kami banyak faidah dan nasehat semoga Alloh mengampuninya dan memasukannya ke dalam golongan para syuhada’[5].

–            Ibuku tercinta [Aiyah bintu Al-Khotib Hadiyinah] yang telah mengasuhku, membimbingku dan mencurahkan kebaikan dan kasih sayangnya kepadaku…..semoga Alloh merahmatinya dan memberinya kenikmatan di dalam kuburnya serta memasukannya ke dalam Jannah-Nya, begitu pula Bapakku dan saudara-saudariku yang tercinta di manapun mereka berada semoga Alloh menjaga kami dan mereka serta selalu menunjuki kami dan mereka untuk senantiasa di atas al-haq hingga berkesudahan yang baik (khusnul khotimah).

–            Abu Dujanah Muhammad Al-Amin bin Nurdin Al-Amboniy (selaku penerjemah kitab ini, yang kemudian kami sempurnakan terjemahannya) yang baik hati, penyabar dan siap menerima tantangan dan bersedia mengahadapi hambatan dalam menuntut ilmu, begitu pula kedua orang tuanya yang telah banyak membantu kami semoga Alloh menjaga dan memberikan berkah kepada kami dan kepada mereka[6].

–            Dan kawan-kawan kami dan siapa saja yang berbuat baik kepada kami, yang mendoakan kebaikan kepada kami yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu nama-nama mereka semoga Alloh menjaga kami dan menjaga mereka semua dan memberi balasan kebaikan yang banyak.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه. والحمد لله رب العالمين.

Ditulis oleh Abul ‘Abbas Khidhir bin Aiyah Al-Limboriy Al-Mulkiy di Darul Hadits Dammaj-Yaman pada akhir Rabiul Awwal 1430 H.


المبادئ المفيدة في التوحيد والفقه والعقيدة

بسم الله الرحمن الرحيم

“Dengan nama Alloh yang (الرحمن) Maha Pengasih lagi (الرحيم) Maha Penyayang”

 

PENDAHULUAN

Puji syukur kepada Alloh dengan pujian yang banyak dan baik serta berberkah pada-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhaq disembah kecuali Alloh satu-satunya, tidak ada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba-Nya sekaligus Rosul-Nya. Kemudian sesudah itu:

            Alloh (تعالى) berkata:

﴿أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آَبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ﴾ [البقرة: 133].

“Apakah kalian hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) kematian, ketika beliau berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang akan kalian sembah sepeninggalku?” mereka menjawab: “Kami akan menyembah Robbmu dan Robb bapak-bapakmu, Ibrohim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) إِلَهًا وَاحِدًا(Sesembahan Yang Maha Satu) dan kami berserah diri hanya kepada-Nya”. (Al-Baqaroh: 133).

            Dan telah shohih sebuah hadits dari Ibnu ‘Abbas semoga Alloh meridhoinya, beliau berkata: Aku berboncengan bersama Rosululloh (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) pada suatu hari, lalu Rosululloh (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:

«يَا غُلامُ إِنِّي مُعَلِّمُكُ كَلِمَاتٍ فَاحْفَظْهُنَّ, احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ, وَإِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ, وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ, وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ, جَفَّتِ الأَقْلامُ وَطُوِيَتِ الصُّحُفُ». 

“Wahai ghulam (anak remaja), bahwasanya aku ingin mengajarimu dengan beberapa kalimat: Jagalah Alloh niscaya Dia akan menjagamu, jagalah Alloh niscaya kamu akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika kamu meminta maka mintalah kepada Alloh dan bila kamu meminta pertolongan maka mintalah pertolongan kepada Alloh. Dan ketahuilah! bahwasanya, walaupun umat ini bersatu untuk memberikan manfaat kepadamu dengan sesuatu maka tidaklah bisa mereka memberimu manfaat kecuali dengan sesuatu yang Alloh telah menulis (menetapkan)nya bagimu. Dan kalaulah mereka semuanya bersatu untuk memberikan madhorat dengan sesuatu  kepadamu maka niscaya mereka tidak akan sanggup memberi madharat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Alloh menulis (menetapkan)nya kepadamu, telah diangkat pena-pena dan telah ditutup lembaran-lembaran[7].

            Ayat dan hadits tersebut, serta dalil yang semisal itu merupakan asas di dalam memberi bimbingan untuk anak-anak dan ini adalah kalimat yang mencakup tauhid kepada Alloh (عَزَّ وَجَلَّ), bimbingan tentang beribadah kepada-Nya, penjagaan batasan hukum-hukum-Nya, bertawakal kepada-Nya, beriman kepada taqdir (ketetapan)-Nya yang baik dan yang buruk, maka pengarahan semacam itu merupakan pendidikan yang benar. Diharapkan bagi siapa yang tumbuh di atas dasar pendidikan seperti itu, dia termasuk dari sebaik-baik hamba dari hamba-hamba Alloh. Dari apa-apa yang mendorongku menulis untuk anak-anak (putra-putri)ku –aku memohon kepada Alloh untuk memperbaiki keadaan mereka dan memperbaiki keadaan perantara mereka- Ini adalah kalimat yang ringkas dalam pelajaran tentang TAUHID, AQIDAH dan FIQIH, yang isinya penuh dengan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Aku mengharap dari Alloh (عَزَّ وَجَلَّ) agar dapat memberikan manfaat kepada anak-anak (putra-putri) semuanya dengan tulisan ini serta suluruh anak-anak kaum muslimin.

Ditulis oleh Abu Abdirrohman Yahya Al-Hajuriy pada bulan Rojab tahun 1425 (seribu empat ratus dua puluh lima) Hijriyah An-Nabawiyyah, shalawat dan salam kepadanya.

 


بسم الله الرحمن الرحيم

  1. Jika dikatakan kepadamu: Siapa yang menciptakanmu? Maka kamu katakan: Yang menciptakanku adalah Alloh, dan Dia yang telah menciptakan semua makhluk-makhluk, dan dalilnya adalah perkataan Alloh (تعالى):

﴿اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ [الزمر: 62].

“Alloh yang menciptakan segala sesuatu”. (Az-Zumar: 62)[8].

  1.  Jika dikatakan kepadamu: Siapa Robbmu? Maka kamu katakan: Alloh Robbku dan Robb segala sesuatu, dan dalilnya adalah perkataan Alloh (تَعَالَى):

﴿قُلْ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِي رَبًّا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ﴾ [الأنعام: 164].

“Katakanlah: “Apakah aku akan mencari Robb selain Alloh, padahal Dia adalah Robb segala sesuatu?”.(Al-An’am: 164). Dan perkataan-Nya (تعالى):

﴿الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾ [الفاتحة: 2].

“Segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam”. (Al-Fatihah: 2)[9].

  1. Jika dikatakan kepadamu: Untuk apa Alloh menciptakanmu? Maka kamu katakan: Alloh menciptakan kami untuk beribadah kepada-Nya, dan dalilnya adalah perkataan Alloh (تعالى):

﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ﴾ [الذاريات: 56].

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku“. (Adz-Dzariyat: 56).

  1. Jika dikatakan kepadamu: Apa agamamu? Maka kamu katakan: Agamaku adalah Islam yang haq (benar), dan dalilnya adalah perkataan Alloh (تعالى):

﴿إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ﴾ [آل عمران: 19].

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Alloh hanyalah Islam“. (Ali Imron: 19). Dan perkataan-Nya (تعالى):

﴿هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَق﴾ [التوبة: 33].

Dialah yang telah mengutus Rosul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar“. (At-Taubah: 33).

﴿وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ﴾ [آل عمران: 85].

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi“. (Ali Imron: 85)[10].

  1. Jika dikatakan kepadamu: Siapa nabimu? Maka kamu katakan: Nabiku dan nabi semua umat ini, dia adalah Muhammad (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ), dan dalilnya adalah perkataan Alloh (تعالى):

﴿مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّين﴾ [الأحزاب: 40].

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kalian, tetapi dia adalah Rosululloh dan penutup nabi-nabi”. (Al-Ahzab: 40). Dan perkataan-Nya (تعالى):

﴿هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِين﴾ [الجمعة: 2].

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rosul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Al-Kitab (Al-Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”. (Al-Jum’ah: 2). Dan perkataan-Nya (تعالى):

﴿فَآَمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُون﴾ [الأعراف: 158].

“Maka berimanlah kalian kepada Alloh dan Rosul-Nya, nabi yang ummi yang beriman kepada Alloh dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kalian mendapat petunjuk”. (Al-A’rof: 158). (Lihat pertanyaan no. 8).

  1.  Jika dikatakan kepadamu: Apa permulaan yang wajib diketahui oleh seorang hamba? Maka kamu katakan: Mempelajari tauhid (mengesakan) Alloh (عَزَّ وَجَلَّ), dan dalilnya adalah hadits Ibnu ‘Abbas semoga Alloh meridhoi keduanya, beliau berkata: Tatkala Rosululloh (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman, maka Beliau (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata kepadanya:

«إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى».

Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari kalangan ahlil kitab, maka hendaklah engkau memulai mendakwahi mereka agar mentauhidkan Alloh (تعالى)“. (Muttafaqun ‘Alaih[11] dan ini adalah lafazh Al-Imam Al-Bukhoriy[12]).

  1. 7.   Jika dikatakan kepadamu: Apa makna لا إله إلا الله? Maka kamu katakan: Maknanya adalah tidak ada sesembahan yang berhaq disembah kecuali Alloh, dan dalilnya adalah perkataan Alloh (تعالى):

﴿فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ﴾ [محمد: 19].

Ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang berhaq disembah kecuali Alloh“. (Muhammad: 19). Dan perkataan-Nya(تعالى):

﴿ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقّ﴾ [الحج: 6].

“Yang demikian itu, karena sesungguhnya Alloh, Dialah (sesembahan) yang haq (untuk disembah)”. (Al-Hajj: 62).

  1. Jika dikatakan kepadamu: Apa makna محمد رسول الله? Maka kamu katakan: Maknanya bahwasanya beliau adalah utusan Alloh kepada manusia seluruhnya, baik dari kalangan jin[13] ataupun dari kalangan manusia, dan dalilnya adalah perkataan Alloh (تعالى):

﴿وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ﴾ [سبأ: 28].

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui”. (Saba’: 28). Dan dari Abu Huroiroh semoga Alloh meridhoinya bahwasanya Nabi (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:

«وَأُرْسِلْتُ إِلَى الْخَلْقِ كَافَّةً».

“…..Aku diutus kepada para makhluk seluruhnya” (HR. Muslim[14])

            Dan wajib bagi kita semua untuk mentaatinya, membenarkannya dan menjauhi apa saja yang beliau larang, dan dalilnya adalah perkataan Alloh (تعالى):

﴿قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ﴾ [النور: 54].

“Katakanlah: “Taatlah kalian kepada Alloh dan taatlah kepada Rosul”. (An-Nuur: 54). Dan perkataan-Nya (تعالى):

﴿هَذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ﴾ [يس: 52].

“Inilah yang dijanjikan oleh الرَّحْمَنُ(Yang Maha Pengasih) dan benarlah Rosul-rosul(Nya)”. (Yaasiin: 52). Dan dari Abu Huroiroh semoga Alloh meridhoinya, beliau berkata: Berkata Rosululloh (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ):

«مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْه فَاجْتَنِبُوهُ، وَ مَا أَمَرْتُكُمْ بِه فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ».

Apa saja yang aku larang untuk kalian maka wajib bagi kalian untuk menjauhinya, dan apa saja yang aku perintahkan kepada kalian maka laksakanlah semampu kalian”. (Muttafaqun ‘Alaih[15]).

  1. Jika dikatakan kepadamu: Apa haq Alloh atas hamba-Nya? Maka kamu katakan: Haq Alloh atas hamba-Nya yaitu mereka beribadah kepada-Nya dan mereka tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan dalilnya adalah hadits Mu’adz bin Jabal bahwasanya Rosululloh (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:

«حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلاَ يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَحَقَّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لاَ يُعَذِّبَ مَنْ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا».

Haq Alloh atas seorang hamba yaitu mereka beribadah kepada-Nya dan mereka tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan haq hamba atas Alloh yaitu Alloh tidak akan mengazab siapa saja yang tidak berbuat syirik (menyekutukan)-Nya“. (Muttafaqun ‘Alaih[16]).

  1.  Jika dikatakan kepadamu: Apa itu syirik? Maka kamu katakan: Syirik adalah beribadah kepada selain Alloh, apa saja yang dianggap sebagai ibadah kepada Alloh (عَزَّ وَجَلَّ) kemudian memalingkannya kepada selain Alloh maka dia adalah syirik, dan dalilnya adalah perkataan Alloh (تعالى):

﴿وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا﴾ [النساء: 36].

“Beribadahlah kepada Alloh dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun”.

  1.  Jika dikatakan kepadamu: Apa hukum menggambar makhluk bernyawa? Maka kamu katakan: Menggambar makhluk bernyawa termasuk dari dosa-dosa besar, dan dalilnya adalah hadits Ibnu Mas’ud semoga Alloh meridhoinya, bahwasanya Rosululloh (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:

«إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ».

Sesungguhnya orang yang paling pedih siksaannya pada hari kiamat adalah tukang gambar (makhluk bernyawa)” (Muttafaqun ‘Alaih[17]).

            Dan dalam hadits Juhaifah semoga Alloh meridhoinya, beliau berkata:

{نَهَى النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ، وَثَمَنِ الدَّمِ…. وَلَعَنَ الْمُصَوِّرَ}.

“Rosululloh (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) melarang dari harga (jual beli) anjing, dan harga (jual beli) darah….. dan telah melaknat para pembuat gambar (makhluk bernyawa)”. (HR. Al-Bukhariy[18]).

  1.  Jika dikatakan kepadamu: Apa hubungan antara gambar makhluk bernyawa dengan syirik? Maka kamu katakan: Sesungguhnya menggambar makhluk bernyawa menyebabkan orang yang menggambar  menyaingi (Alloh) dan berbuat syirik kepada Alloh (عَزَّ وَجَلَّ) dalam hal tersebut, dan dalilnya adalah hadits Aisyah semoga Alloh meridhoinya bahwasanya Nabi (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:

«أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الَّذِينَ يُضَاهُونَ بِخَلْقِ اللَّهِ».

Orang yang paling pedih azabnya pada hari kiamat adalah orang-orang yang menyaingi ciptaan Alloh”. (Muttafaqun ‘Alaih[19]). Dan hadits Abu Huroiroh semoga Alloh meridhoinya bahwasanya Nabi (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:Alloh (تعالى) berkata:

«وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذَهَبَ يَخْلُقُ كَخَلْقِى…. ».

Siapa yang lebih zhalim dari pada orang yang mencoba-coba membuat ciptaan seperti ciptaan-Ku?….” (Muttafaqun ‘Alaih[20]).

  1.  Jika dikatakan kepadamu: Apa pengertian Ibadah? Maka kamu katakan: Ibadah adalah suatu nama yang mencakup seluruh apa-apa yang Alloh mencintainya dan meridhainya[21], dan dalilnya adalah perkataan Alloh (تعالى):

﴿إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ﴾ [الزمر: 7].

“Jika kalian kafir maka sesungguhnya Alloh tidak membutuhkan kalian dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-hamba-Nya; dan jika kalian bersyukur, niscaya Dia meridhai bagi kalian kesyukuran kalian itu”. (Az-Zumar: 7).

  1.  Jika dikatakan kepadamu: Dimana Alloh? Maka kamu katakan: Alloh di atas langit, beristiwa’ di atas ‘Arsy-Nya, dan dalilnya adalah perkataan Alloh (تعالى):

﴿أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ﴾ [الملك: 16].

“Apakah kalian merasa aman terhadap Alloh yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kalian, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?”. (Al-Mulk: 16). Dan perkataan-Nya (تعالى):

﴿الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى﴾ [طه: 5].

الرَّحْمَنُ(Yang Maha Pengasih) beristiwa’ di atas ‘Arsy“. (Thaahaa: 5). Dan hadits Abu Huroiroh semoga Alloh meridhoinya bahwasanya Nabi (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:

«يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ».

 “Robb kita (تَبَارَكَ وَتَعَالَى) turun setiap malam ke langit dunia, tatkala 1/3 (sepertiga) akhir malam Dia berkata: Barang siapa yang berdoa kepada-Ku maka Aku akan mengabulkannya, dan barang siapa yang meminta kepada-Ku maka Aku akan memberinya, dan barang siapa berirtighfar kepada-Ku maka Aku akan mengampuninya“. (Muttafaqun ‘Alaih[22]). Dan turun keberadaannya dari atas [ke bawah][23].

  1.  Jika dikatakan kepadamu: Apakah Alloh bersama kita? Maka kamu katakan: Alloh (عَزَّ وَجَلَّ) bersama kita dengan ilmu-Nya, dan dalilnya adalah perkataan Alloh (تعالى):

﴿وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ﴾ [الحديد: 4] .

Dan Dia bersama kalian dimana pun kalian berada“. (Al-Hadiid: 4). Dan perkataan-Nya (تعالى):

﴿وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ﴾ [الأنعام: 3].

“Dan Dialah Alloh (yang disembah), baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kalian rahasiakan dan apa yang kalian tampakkan dan Dia mengetahui (pula) apa yang kalian usahakan”. (Al-An’am: 3). Berkata Ibnu Katsir: Yang dimaksud bahwasanya Alloh mengetahui segala sesuatu yang di langit dan di bumi dari yang rahasia dan yang tampak”.

  1.  Jika dikatakan kepadamu: Apa pengertian Islam? Maka kamu katakan: Islam adalah berserah diri kepada Alloh dengan tauhid dan tunduk kepada-Nya dengan ketaatan dan membersihkan diri dari syirik, dan dalilnya adalah perkataan Alloh (تعالى):

﴿فَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ﴾ [الحج: 34].

“Maka sesembahan kalian adalah إِلَهٌ وَاحِدٌ (sesembahan yang satu), karena itu berserah dirilah kalian kepada-Nya. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk (kepada Alloh)”. (Al-Hajj: 34). Dan perkataan-Nya (تعالى):

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾ [آل عمران: 102].

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Alloh dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan berislam”. (Ali Imron: 102).

  1. Apabila dikatakan kepadamu: Apakah agama Islam telah sempurna, ataukah masih membutuhkan penyempurnaan? Maka kamu katakan: Islam adalah agama yang telah sempurna, dan dalilnya adalah perkataan Alloh (تعالى):

﴿الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا﴾ [المائدة: 3].

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Aku cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Aku ridhoi Islam sebagai agama bagi kalian”. (Al-Maidah: 3).

  1.  Jika dikatakan kepadamu: Dari mana seorang muslim mengambil (mempelajari) agamanya? Maka kamu katakan: Seorang muslim mempelajari agamanya dari Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman Salafush Sholih, dan dalilnya adalah perkataan Alloh (تعالى):

﴿أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَى عَلَيْهِمْ﴾ [العنكبوت: 51].

Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) sedang yang dibacakan kepada mereka?“. (Al-‘Ankabut: 51). Dan perkataan-Nya(تعالى):

﴿فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ﴾ [النساء: 59].

“Jika kalian berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Alloh (Al-Quran) dan Rosul (As-Sunnah), jika kalian benar-benar beriman kepada Alloh dan hari akhir”. (An-Nisa’: 59). Dan perkataan-Nya(تعالى):

﴿اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7)﴾ [الفاتحة: 6، 7].

“Tunjukilah kepada kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) orang-orang yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”. (Al-Fatihah: 6-7). Dan perkataan-Nya(تعالى):

﴿وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا﴾ [النساء: 115].

“Dan barangsiapa yang menentang Rosul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, maka Kami biarkan dia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”. (An-Nisa’: 115). Dan lihat hadits yang setelah ini [no. 19].

  1. Jika dikatakan kepadamu: Apakah aqidahmu? Maka kamu katakan: Aqidahku adalah sunniy, salafiy[24], dan dalilnya adalah hadits Irbadh bin Sariyah semoga Alloh meridhoinya bahwasanya Nabi (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:

«فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ».

Maka wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah al-khulafa’ur rasyidin (pemimpin yang terbimbing)[25] yang diberi petunjuk dan berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah kuat-kuat sunnah tersebut dengan gigi geraham[26], dan waspadalah dari perkara baru [yang di ada-adakan dalam agama]. Maka sesungguhnya semua perkara baru itu adalah bid’ah dan setiap kebid’ahan adalah sesat”. (HR. Abu Dawud[27] dan selainnya) dan ini adalah hadits hasan.

  1.  Jika dikatakan kepadamu: Siapakah awal rasul (yang diutus) kepada penduduk bumi dan siapa yang terakhir dari mereka? Maka kamu katakan: Yang pertama dari mereka diutus sebagai rasul adalah Nuh ‘Alaihis Salam, dan yang terakhir dari mereka adalah nabi yang paling utama yaitu Nabi kita Muhammad (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ), dengan diutusnya beliau adalah sebagai tanda kecil yang pertama (tentang) hari kiamat dan wajib bagi kita untuk mengimani para rasul itu semuanya, dan dalilnya adalah hadits Abu Huroiroh semoga Alloh meridhoinya bahwasanya Nabi (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata tentang ahli mahsyar (orang-orang yang bekumpul di padang mahsyar) pada hari kiamat:

«فَيَأْتُونَ نُوحًا فَيَقُولُونَ يَا نُوحُ أَنْتَ أَوَّلُ الرُّسُلِ إِلَى أَهْلِ الأَرْضِ ، وَسَمَّاكَ اللَّهُ عَبْدًا شَكُورًا».

Lalu mereka datang kepada Nuh dan mereka berkata: Wahai Nuh engkau adalah rasul yang pertama yang diutus kepada penduduk bumi dan Alloh telah menamaimu dengan hamba yang bersyukur” (Muttafaqun ‘Alaih[28]). Dan dalil bahwasanya akhir dari mereka (para nabi dan rasul) itu adalah Muhammad (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) adalah perkataan Alloh (تعالى):

﴿مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ﴾ [الأحزاب: 40].

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki diantara kalian, tetapi beliau adalah Rosululloh dan penutup  para nabi”. (Al-Ahzab: 40). Dan hadits Tsauban semoga Alloh meridhoinya bahwasanya Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:

«وَأَنَا خَاتِمُ النَّبِيِّينَ لاَ نَبِىَّ بَعْدِى».

Dan aku adalah penutup para nabi dan tidak ada nabi setelahku”. (HR. Muslim).

            Dan dalil bahwasanya beliau adalah nabi yang paling utama adalah hadits Abu Huroiroh semoga Alloh meridhoinya bahwa Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:

«أَنَا سَيِّدُ النَّاسِ يَوْمَ الْقِيَامَة».

Aku adalah tuan (pemimpin) manusia pada hari kiamat“. (Muttafaqun ‘Alaih[29]). Dan dalil bahwasanya beliau adalah tanda pertama tentang hari kiamat adalah hadits Sahl bin Sa’d semoga Alloh meridhoinya bahwasanya Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:

«بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةَ كَهَاتَيْنِ». وَضَمَّ السَّبَّابَةَ وَالْوُسْطَى.

Aku diutus dan (datangnya) hari kiamat seperti dua ini“. Dengan mengisyaratkan kedua jarinya. (Muttafaqun ‘Alaih[30]). Dan wajib bagi kita untuk mengimani mereka (para nabi dan rasul) itu semua dan barang siapa mengingkari salah seorang dari mereka maka sungguh dia telah mengingkari mereka semua, dengan dalil perkataan Alloh (تعالى):

﴿آَمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آَمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ﴾ [البقرة: 285].

“Rosul telah beriman kepada Al-Quran yang diturunkan kepadanya dari Robbnya, demikian pula orang-orang yang beriman. semuanya beriman kepada Alloh, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rosul-rosul-Nya. (mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seorangpun (dengan yang lain) dari rosul-rosul-Nya”. (Al-Baqarah: 285).Dan perkataan-Nya (تعالى):

﴿إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَنْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَنْ يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا (150) أُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا (151)﴾ [النساء:150، 151].

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Alloh dan rosul-rosul-Nya, dan bermaksud membeda-bedakan antara (keimanan kepada) Alloh dan rosul-rosul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebagian dan kami kafir terhadap sebagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir)”. Merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan”. (An-Nisa’: 150-151[31]).

  1.  Jika dikatakan kepadamu: Apa yang didakwahkan oleh para rosul kepada segenap manusia? Maka kamu katakan: Mereka menda’wahkan untuk beribadah hanya kepada Alloh saja dan tidak membuat tandingan-tandingan (syirik) dengan-Nya, dan dalilnya adalah perkataan Alloh (تعالى):

﴿وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ [النحل: 36]

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rosul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Alloh (saja), dan jauhilah thaghut[32]“. (An-Nahl: 36).

  1.  Jika dikatakan kepadamu: Apa pengertian tauhid yang para rasul mendakwahkannya? Maka kamu katakan: Tauhid adalah mengesakan Alloh dalam beribadah, dan dalilnya adalah perkataan Alloh (تعالى):

﴿وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا﴾ [النساء: 36].

“Dan sembahlah Alloh dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun”. (An-Nisa’: 36). Dan perkataan-Nya (تعالى):

﴿قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ﴾.

“Katakanlah: “Dia-lah Alloh adalah أَحَدٌ(Maha Satu)”. [(Al-Ikhlash: 1)].

  1.  Jika dikatakan kepadamu: Berapa macam tauhid kepada Alloh (عَزَّ وَجَلَّ)? Maka kamu katakan: Tiga macam:

            Pertama: Tauhid Ar-Rububiyyah[33].

            Kedua: Tauhid Al-Uluhiyyah[34].

            Ketiga: Tauhid Al-Asma’ wa Shifat[35].

            Dan dalilnya adalah perkataan Alloh (تعالى):

﴿بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ﴾.

“Dengan menyebut nama Alloh الرَّحْمَنِ(Maha Pengasih) lagi الرَّحِيمِ (Maha Penyayang)”[36].

﴿رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا﴾ [مريم: 65].

“Robb  langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?!”. (Maryam: 65). Pada dua ayat tersebut terdapat padanya pembagian tiga tauhid tersebut.

  1.  Jika dikatakan kepadamu: Apakah kebaikan yang paling besar[37] dan apakah kejelekan yang paling besar? Maka kamu katakan: Yang paling besarnya kebaikan adalah tauhid kepada Alloh (عَزَّ وَجَلَّ) dan yang paling besarnya kejelekan adalah syirik kepada Alloh (عَزَّ وَجَلَّ), dan dalilnya adalah perkataan Alloh (تعالى):  

﴿إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ﴾ [النساء: 48].

“Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Alloh, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”. (An-Nisa’: 48[38]). Dan perkataan-Nya (تعالى):

﴿فَمَا لَنَا مِنْ شَافِعِينَ (100) وَلَا صَدِيقٍ حَمِيمٍ (101) فَلَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (102)﴾ [الشعراء: 100-102].

“Maka kami tidak mempunyai pemberi syafa’at seorangpun, dan tidak pula mempunyai teman yang akrab (paling dekat), maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi (ke dunia) niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman”. (Asy-Syu’ara’: 100-102).

            Dari Anas bin Malik semoga Alloh meridhoinya, beliau berkata: Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:

«شَفَاعَتِى لأَهْلِ الْكَبَائِرِ مِنْ أُمَّتِى».

“Syafa’atku untuk pelaku dosa besar dari kalangan umatku (yang bertauhid)”. (HR. Ahmad[39]) dan ini adalah hadits shohih.

            Ini menunjukan bahwa orang yang paling berbahagia dengan syafa’at Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) adalah mereka para pelaku dosa besar dari kalangan kaum muslimin, dan tidak ada syafa’at untuk orang musyrik.

            Dari Jabir bin ‘Abdillah semoga Alloh meridhoi keduanya beliau berkata: Berkata Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ):

«مَنْ مَاتَ لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ».

Barang siapa yang mati dan dia tidak menyekutukan Alloh dengan sesuatu apapun  maka dia akan masuk Jannah (Surga). Dan barang siapa yang menyekutukan Alloh dengan sesuatu apapun maka dia masuk neraka”. (HR. Muslim[40]).

  1.  Jika dikatakan kepadamu: Ada berapa tingkatan agama? Maka kamu katakan: Agama memiliki tiga tingkatan yaitu: Islam, Iman dan Ihsan, dan dalilnya adalah hadits hadits ‘Umar bin Al-Khoththob semoga Alloh meridhoinya dalam “Shahih Muslim” (no. 8), pada hadits tersebut bahwa Jibril عليه السلام bertanya kepada Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) tentang Islam, kemudian Iman dan kemudian Ihsan.
  2. Jika dikatakan kepadamu: Berapa rukun Islam? Maka kamu katakan: Rukun Islam ada 5 (lima), dan dalilnya adalah hadits Abdulloh bin ‘Umar semoga Alloh meridhoi keduanya bahwa Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:

«بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالْحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ».

“Islam dibangun di atas 5 (lima)[41] perkara, yaitu: Persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang berhaq untuk disembah kecuali Alloh dan bahwa Muhammad adalah utusan Alloh, menegakan shalat, menunaikan zakat, haji, dan puasa Romadhan”. (Muttafaqun ‘Alaih[42]).

  1.  Jika dikatakan kepadamu: Apa itu iman? Maka kamu katakan: Iman adalah pengucapan dengan lisan, keyakinan dengan qalbu (hati), dan pengamalan dengan anggota tubuh. Dan iman itu bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan, dalil bahwasanya iman itu pengucapan dengan lisan dan pengamalan dengan anggota tubuh  adalah hadis Abu Huroiroh semoga Alloh meridhoinya bahwa Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ):

«الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ».

Iman itu ada 70 (tujuh puluh) atau 60 (eman puluh) tingkatan, tingkatan yang paling tertinggi adalah perkataan: Tidak ada sesembahan yang berhaq kecuali Alloh dan yang paling rendahnya adalah menyingkirkan gangguan dari jalan dan malu adalah bagian dari iman“. (Muttafaqun ‘Alaihi[43]).

            Dalil bahwasanya iman adalah keyakinan dengan qalbu (hati) adalah hadits Umar yang telah lewat pada “Rukun Iman” (no. 25)[44] dan perkataan Alloh (تعالى):

﴿وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِين﴾ [المائدة: 23].

“Dan hanya kepada Alloh hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”. (Al-Maidah: 23).

            Dan dari hadits Anas bin Malik semoga Alloh meridhoinya dari Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:

«آيَةُ الإِيمَانِ حُبُّ الأَنْصَارِ، وَآيَةُ النِّفَاقِ بُغْضُ الأَنْصَارِ».

Alamat keimanan adalah mencintai orang Anshar dan alamat kemunafiqan dan benci (para shahabat) Anshar“. (Muttafaqun ‘Alaihi[45]).

            Dan dalil bahwasanya iman bertambah dengan ketaatan adalah perkataan Alloh (تَعَالَى):

﴿إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آَيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ﴾ [الأنفال: 2].

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah jika disebut nama Alloh gemeterlah hati-hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka. Dan kepada Robbnya mereka bertawakal”. (Al-Anfaal: 2). Dan perkataan-Nya (تَعَالَى):

﴿هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ﴾ [الفتح: 4].

“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan di dalam hati-hati orang yang beriman, supaya iman mereka bertambah di samping keimanan (yang ada) pada mereka”.(Al-Fath: 4).Dan perkataan-Nya (تَعَالَى):

﴿وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آَمَنُوا إِيمَانًا﴾ [المدثر: 31].

“Dan orang-orang yang beriman bertambah keimanannya”. (Al-Mudatsir: 31).

            Dan dalil bahwasanya keimanan berkurang dengan maksiat adalah dalil-dalil yang menunjukan bertambahnya keimanan, karena sesungguhnya keimanan sebelum bertambah maka sebelum itu dalam keadaan berkurang, berkata Al-Imam Al-Bukhoriy dalam “Kitabul Iman” dalam “Shohihnya” (Bab: 33): Jika meninggalkan sesuatu dari keimanan maka dia berkurang.

            Dan hadits tingkatan keimanan yang baru saja kami sebutkan, dan hadits Abu Sa’id Al-Khudriy bahwasanya Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:

«مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ».

Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran maka hendaklah dia merubahnya dengan tangannya, dan apabila dia tidak mampu maka dengan lisannya dan bila tidak mampu maka dengan qalbu (hati)nya, dan yang demikian itu yang selemah-lemahnya keimanan“. (HR. Muslim[46]). Pad hadits ini menunjukan bahwa mengingkari kemungkaran adalah termasuk dari keimanan.

  1.  Jika dikatakan kepadamu: Ada berapa rukun iman? Maka kamu katakan: Rukun iman ada 6 (enam) dan dalilnya adalah hadits Umar bin Khoththob dalam “Shohih Muslim” bahwasanya Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) ditanya oleh Jibril عليه السلام tentang iman maka beliau menjawab:

«أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ».

“Engkau beriman kepada Alloh, Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya dan Rosul-rosul-Nya dan hari akhir serta beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk. Berkata Jibril (عليه السلام): Engkau benar”. (HR. Al-Bukhariy dan Muslim[47] dari Abu Huroiroh).

  1.  Jika dikatakan kepadamu: Apa pengertian ihsan antara seorang hamba dengan Robbnya? Maka kamu katakan: Ihsan adalah engkau beribadah kepada Alloh seakan-akan engkau melihat-Nya meskipun engkau tidak melihat-Nya maka yakinlah bahwasanya Dia melihatmu, sebagaimana hadist Umar bin Al-Khoththob dalam “Shohih Muslim” (no. 8).
  2. Jika dikatakan kepadamu: Apa hukum mencela Alloh, mencela Rasul-Nya dan mencaci maki agamanya atau mengolok-olok? Maka kamu katakan: Perbuatan ini adalah perbuatan kufur akbar (perbuatan kekafiran yang paling besar), barang siapa yang sengaja maka dia telah keluar dari agama Islam, dan dalilnya adalah perkataan Alloh (تَعَالَى):

﴿قُلْ أَبِاللَّهِ وَآَيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ (65) لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ﴾ [التوبة: 65، 66].

Katakanlah (wahai Muhammad): Apakah terhadap Alloh, Ayat-ayat-Nya dan Rosul-rosul-Nya kalian mengolok-olok. Dan tidak ada udzur (alasan) bagi kalian, kalian telah kafir setelah keimanan kalian[48]. (Al-Maidah: 65-66).

  1. Jika dikatakan kepadamu: Apa balasan bagi orang-orang yang beriman dan apa balasan bagi orang-orang yang kafir pada hari kiamat nanti? Maka kamu katakan: Balasan bagi orang-orang beriman adalah Jannah (Surga) di puncak yang paling tinggi, dan dalilnya adalah perkataan Alloh (تَعَالَى):

﴿إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ (7) جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ (8)﴾ [البينة: 7-8].

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Robb mereka adalah syurga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Alloh ridho kepada mereka dan merekapun ridho kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Robbnya”. (Al-Bayyinah: 7-8).

            Dan balasan bagi orang-orang yang kafir adalah neraka yang paling dangkal, dan dalilnya adalah perkataan Alloh (تَعَالَى):

﴿وَالَّذِينَ كَفَرُوا لَهُمْ نَارُ جَهَنَّمَ لَا يُقْضَى عَلَيْهِمْ فَيَمُوتُوا وَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمْ مِنْ عَذَابِهَا كَذَلِكَ نَجْزِي كُلَّ كَفُورٍ﴾ [فاطر: 36]      

“Dan orang-orang kafir bagi mereka neraka Jahannam. mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak (pula) diringankan dari mereka azabnya. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir”. (Fathir: 36).

            Dan dalil bahwa balasan bagi orang-orang beriman adalah Jannah (Surga) di puncak yang paling tinggi adalah perkataan Alloh (تَعَالَى):

﴿وَلَقَدْ رَآَهُ نَزْلَةً أُخْرَى (13) عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى (14) عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى (15)﴾ [النجم: 13-15].

“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal”. (An-Najm: 13-15).

            Dan dalil bahwa balasan bagi orang-orang yang kafir adalah neraka yang paling dangkal, dan dalilnya adalah hadits Baro’ bahwa Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata dalam satu riwayat yang diriwayatkan langsung dari Robbnya (عَزَّ وَجَلَّ):

«اكْتُبُوا كِتَابَهُ فِى سِجِّينٍ فِى الأَرْضِ السُّفْلَى».

Tulislah kalian catatan hamba-Ku di Sijjin di bagian bumi yang paling bawah“. (Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dalam “Al-Musnad” dan ini adalah hadits shohih[49]).

            Dan kita tidak memastikan bagi seseorang dia masuk jannah (surga) atau masuk naar (neraka) kecuali telah dipastikan oleh dalil, dengan perkataan Alloh (تَعَالَى): 

﴿وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ﴾ [الإسراء: 36].

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai ilmu (pengetahuan tentangnya)”. (Al-Isra’: 36).

  1.  Apabila dikatakan kepadamu: Berapakah jumlah negri (tempat tinggal  manusia)? Maka kamu katakan: Jumlah alam ada 3 (tiga):

            Pertama: Alam dunia yang fana (tidak kekal), dan dalilnya adalah perkataan Alloh (تَعَالَى):

﴿وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ﴾ [آل عمران: 185].

“Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”. (Ali Imron: 185).

            Kedua: Alam Barzakh (kubur), dan dalilnya adalah perkataan Alloh (تَعَالَى):

﴿وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ﴾ [المؤمنون: 100].

“Dan di hadapan mereka ada barzakh (kubur) sampai hari mereka dibangkitkan”. (Al-Mu’minun: 100).

            Ketiga: Alam Qaraar (akhirat), dan dalilnya adalah perkataan Alloh (تَعَالَى) dalam mengkhabarkan tentang orang yang beriman dari keluarga Fir’aun[50]:

﴿يَا قَوْمِ إِنَّمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الْآَخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ﴾ [غافر: 39] .

“Hai kaumku, Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat Itulah negeri yang kekal”. (Ghafir: 39).

  1.  Jika dikatakan kepadamu: Tempat apakah yang pertama kali di lewati di akhirat? Maka kamu katakan: Tempat yang pertama kali dilewati di akhirat adalah kubur, dan dalilnya adalah hadits Utsman bin ‘Affan semoga Alloh meridhoinya, bahwasanya Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:

«إِنَّ الْقَبْرَ أَوَّلُ مَنَازِلِ الآخِرَةِ فَإِنْ نَجَا مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَرُ مِنْهُ وَإِنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَشَدُّ مِنْهُ».

“Sesungguhny kubur adalah  awal tempat di akhirat, apabila selamat darinya maka yang setelahnya akan mudah. Dan bila tidak selamat darinya maka setelahnya akan lebih parah (azabnya) dari sebelumnya”. (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad[51]. Dan ini adalah hadits hasan).

  1.  Apabila dikatakan kepadamu: Apa keyakinanmu tentang azab kubur dan kenikmatannya?  Maka kamu katakan: Aku berkeyakinan bahwasanya azab kubur dan kenikmatannya adalah benar bagi siapa yang melewatinya, dan dalilnya adalah hadits ‘Aisyah semoga Alloh meridhoinya bahwasanya dia bertanya kepada Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) tentang azab kubur maka Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) mengatakan:

«عَذَابُ الْقَبْرِ حَقٌّ».

Azab kubur adalah haq (benar adanya)” (Muttafaqun ‘Alaih[52]). Dan ini adalah lafadz Al-Imam Al-Bukhariy. Dan dari ‘Aisyah bahwasanya Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) meminta perlindungan (kepada Alloh) dari fitnah dan azab kubur, dan berlindung dari fitnah Al-Masih Dajjal (Muttafaqun ‘Alaih[53]).

            Pada dalil tersebut penetapan adanya azab kubur, fitnah kubur, dan adanya fitnah Dajjal yang besar.

            Dan dalil tentang adanya kenikmatan kubur adalah hadits Al-Baro’ yaitu:

«وأَما المِؤمن فيقال: أَلْبِسُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَافْتَحُوا لَهُ بَاباً إِلَى الْجَنَّةِ, فَيَأْتِيهِ مِنْ رَوْحِهَا وَطِيبِهَا وَيُفْسَحُ لَهُ فِى قَبْرِهِ مَدَّ بَصَرِهِ».

“Dan adapun orang-orang yang beriman maka dikatakan kepada mereka: Pakaikanlah kepadanya pakaian dari surga, bukakanlah kepadanya pintu ke surga dan datangkan kepadanya minyak wangi dan wewangian (yang harum) serta luaskan baginya kuburnya sejauh mata memandang”. (HR. Al-Imam Ahmad dalam “Musnad[54]” dan ini adalah hadits shahih).

  1.  Jika dikatakan kepadamu: Apa keyakinanmu tentang hari kebangkitan, hari perhitungan dan hari mengambil kitab (catatan amal)? Maka kamu katakan: Aku berkeyakinan bahwasanya itu adalah haq (benar adanya), dan dalilnya adalah perkataan Alloh (تَعَالَى):

﴿زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ لَنْ يُبْعَثُوا قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ وَذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ﴾ [التغابن: 7].

“Orang-orang yang kafir menyangka bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: “Memang, demi Robbku, benar-benar kalian akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” yang demikian itu adalah mudah bagi Alloh”. (At-Taghabun: 7). Dan perkataan-Nya (تَعَالَى):

﴿خُشَّعًا أَبْصَارُهُمْ يَخْرُجُونَ مِنَ الْأَجْدَاثِ كَأَنَّهُمْ جَرَادٌ مُنْتَشِرٌ (7) مُهْطِعِينَ إِلَى الدَّاعِ يَقُولُ الْكَافِرُونَ هَذَا يَوْمٌ عَسِرٌ﴾ [القمر: 7، 8].

“Maka berpalinglah kamu dari mereka, (ingatlah) hari (ketika) seorang penyeru (malaikat) menyeru kepada sesuatu yang tidak menyenangkan (hari pembalasan), sambil menundukkan pandangan-pandangan mereka keluar dari kuburan seakan-akan mereka belalang yang beterbangan, mereka datang dengan cepat kepada penyeru itu. Orang-orang kafir berkata: “Ini adalah hari yang sulit”. (Al-Qomar: 6-8). Dan perkataan-Nya (تَعَالَى):

﴿فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ (7) فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا (8) وَيَنْقَلِبُ إِلَى أَهْلِهِ مَسْرُورًا (9) وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ (10) فَسَوْفَ يَدْعُو ثُبُورًا (11) وَيَصْلَى سَعِيرًا (12)﴾ [الإنشقاق: 7-12].

“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka Dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah,dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak: “Celakalah aku” dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)”. (Al-Insyiqaq: 7-12). Dan perkataan-Nya (تَعَالَى):

﴿يَوْمَ نَدْعُوا كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَامِهِمْ فَمَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَأُولَئِكَ يَقْرَءُونَ كِتَابَهُمْ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا (71) وَمَنْ كَانَ فِي هَذِهِ أَعْمَى فَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ أَعْمَى وَأَضَلُّ سَبِيلًا (72)﴾ [الإسراء: 71، 72].

“(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya; dan barangsiapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikitpun. Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar)”. (Al-Isra’: 71-72).

  1. Jika dikatakan kepadamu: Apakah orang-orang yang beriman melihat Robb mereka pada hari kiamat? Maka kamu katakan: Iya, mereka melihat Robb mereka pada hari kiamat di padang mahsyar dan di surga, dan dalilnya adalah perkataan Alloh (تَعَالَى):

﴿وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ (22) إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ (23)﴾ [القيامة: 22، 23]

“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri, kepada Robbnyalah mereka melihat”. (Al-Qayyimah: 22-23).

Dan di dalam “Shohihain[55] dari hadits Jarir bin ‘Abdillah semoga Alloh meridhoinya bahwasanya Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:

«إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ».

Sesungguhnya kalian akan melihat Robb kalian pada hari kiamat“.Dan diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim [(no. 467)] dari jalur Hammad bin Salamah, dari Tsabit, dari Abdirrohman bin Abi Laila, dari Shuhaib semoga Alloh meridhoinya bahwasanya Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:

«إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ يَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ؟ فَيَقُولُونَ: أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ؟ قَالَ: فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ».

Jika penduduk Jannah (surga) masuk ke dalam Jannah maka Alloh ( تبارك وتَعَالَى) berkata: “Maukah kalian Aku tambahkan sesuatu?” Mereka berkata: Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukan kami ke dalam Jannah dan menyelamatkan kami dari neraka? Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:”Maka dibukalah hijab (wajah Alloh), maka tidaklah diberikan kepada mereka yang paling mereka cintai yaitu melihat wajah Robb mereka (عَزَّ وَجَلَّ)[56].

Dan orang kafir mereka tidak melihat wajah Alloh (عَزَّ وَجَلَّ) pada hari kiamat dan dalilnya adalah perkataan Alloh (تَعَالَى):

﴿كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ﴾ [المطففين: 15].

“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari (melihat) Robb mereka”. (Al-Muthaffiffin: 15).

  1. Jika dikatakan kepadamu: Apa keyakinanmu tentang Al-Qur’an Al-Karim yang di mushaf? Maka kamu katakan: Aku berkeyakinan bahwa Al-Qur’an adalah Kalamulloh (perkataan Alloh)(عَزَّ وَجَلَّ), dan dia bukan makhluk dan dalilnya adalah perkataan Alloh (تَعَالَى):

﴿وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ﴾ [التوبة: 6].

“Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, Maka lindungilah dia supaya dia sempat mendengar perkataan Alloh”. (Al-Maidah: 6).

  1. Jika dikatakan kepadamu: Apakah Al-Qur’an bahasa Arob ataukah bahasa selain Arob? Maka kamu katakan: Al-Qur’an adalah bahasa Arob dan dalilnya adalah perkataan Alloh (تَعَالَى):

﴿إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآَنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ﴾ [الزخرف: 3].

“Sesungguhnya Kami menjadikan Al-Quran dalam bahasa Arob supaya kamu memahami(nya)”. (Az-Zuhruf: 3). Dan perkataan-Nya (تَعَالَى):

﴿نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (193) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (194) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ (195)﴾ [الشعراء: 193-195].

“Dia dibawa turun oleh الرُّوحُ الْأَمِينُ (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arob yang jelas”. (Asy-Syu’ara: 193-195).

  1. Jika dikatakan kepadamu: Apakah Alloh memiliki nama-nama dan sifat-sifat? Maka kamu katakan: Iya, Alloh memiliki nama-nama dan sifat-sifat sesuai dengan keagungan-Nya dan dalilnya adalah perkataan Alloh (تَعَالَى):

﴿وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا﴾ [الأعراف: 180]

“Dan Alloh memiliki الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى (nama-nama yang indah) dan berdoalah kalian dengannya”. (Al-A’rof: 180). Dan perkataan-Nya (تَعَالَى):

﴿وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَى وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ﴾ [النحل: 60]

“Dan Alloh mempunyai sifat Al-A’laa; dan Dia-lah الْعَزِيزُ(Maha Perkasa) lagi الْحَكِيمُ (Maha Bijaksana)”. (An-Nahl: 60). Dan perkataan-Nya (تَعَالَى):

﴿قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)﴾ [الإخلاص: 1-4].

“Katakanlah: “Dia-lah Alloh, أَحَدٌ(Maha Satu). Alloh adalah الصَّمَدُ (Maha Bergantung segala sesuatu). Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan-Nya”. (Al-Ikhlash: 1-4). Dan dalam “Shohihain” dari hadits ‘Aisyah bahwa ada seseorang berkata: (Bahwasanya surat Al-Ikhlas adalah sifat الرحمن  Maha Pengasih) maka Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) membenarkan yang demikian itu[57].

Dan nama-nama (عَزَّ وَجَلَّ) tidaklah terbatasi dengan jumlah bilangan dengan yang kita ketahui, Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ):

«لاَ أُحْصِى ثَنَاءً عَلَيْكَ…».

Tidak ada batasan pujian kepada-Mu…” (HR. Muslim[58]dari ‘Aisyah semoga Alloh meridhoinya)[59].

  1. Jika kamu dikatakan: Apakah ada satu pun selain Alloh yang mengetahui ilmu ghoib? Maka kamu katakan: Tidak ada satu pun (dari makhluk) yang mengetahui ilmu ghoib kecuali Alloh, dan dalilnya adalah perkataan Alloh (تَعَالَى):

﴿وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى الْغَيْبِ﴾ [آل عمران: 179].

“Dan Alloh sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kalian perkara-perkara yang ghoib”. (Ali Imran: 179). Dan perkataan-Nya (تَعَالَى):

﴿فَقُلْ إِنَّمَا الْغَيْبُ لِلَّهِ﴾ [يونس: 20].

Maka katakanlah: “Sesungguhnya yang ghoib itu kepunyaan Alloh”. (Yunus: 40). Dan perkataan-Nya (تَعَالَى):

﴿وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُو﴾ [الأنعام: 59].

“Dan pada sisi Alloh-lah kunci-kunci semua yang ghoib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia”. (Al-An’am: 59).

  1. Jika dikatakan kepadamu: Kapan hari kiamat akan terjadi? Maka kamu katakan: Perkara hari kiamat adalah termasuk dari perkara-perkara ghoib yang tidak ada yang mengetahuinya kecuali Alloh, dan dalilnya adalah perkataan Alloh (تَعَالَى):

﴿إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ﴾ [لقمان: 34].

“Sesungguhnya Alloh, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat”. (Luqman: 34). Dan perkataan-Nya (تَعَالَى):

﴿إِلَيْهِ يُرَدُّ عِلْمُ السَّاعَةِ﴾ [فصلت: 47].

“Kepada-Nyalah dikembalikan pengetahuan tentang hari Kiamat”. (Fushilat: 47). Dan perkataan-Nya Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ):

«وَلاَ يَعْلَمُ مَتَى تَقُومُ السَّاعَةُ إِلاَّ اللَّهُ».

“Tidak ada yang mengetahui kapan hari kiamat akan terjadi kecuali Alloh”. (HR. Al-Bukhariy dari hadits Ibnu ‘Umar semoga Alloh meridhoi keduanya [60]).

  1. Jika dikatakan kepadamu: Berapa syarat-syarat diterimanya amalan? Maka kamu katakan: Diterimanya amal ada tiga syarat:

Pertama: Berislam (muslim), orang kafir, Alloh tidak menerima amalannya, dan dalilnya adalah perkataan Alloh (تَعَالَى):

﴿وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا [الفرقان: 23].

“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan”. (Al-Furqan: 23). Dan perkataan-Nya (تَعَالَى):

﴿إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِين﴾ [المائدة: 27].

“Sesungguhnya Alloh hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertaqwa”. (Al-Maidah: 27).

Kedua: Ikhlash, dan dalilnya adalah:

﴿وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ [البينة: 4، 5].

“Dan tidaklah mereka diperintah kecuali supaya menyembah Alloh dengan mengiklaskan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama”. (Al-Bayyinah: 5). Dan dalam hadits Qudsiy dari Abu Huroiroh bahwa Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:

«قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ».

“Alloh (تَبَارَكَ وَتَعَالَى) berkata: Aku tidak butuh dengan sekutu (tandingan) dari kesyirikan. Barang siapa yang mengerjakan suatu amalan dan dia berbuat syirik padanya dengan-Ku maka Aku tinggalkan dia dengan kesyirikannya“. (HR. Muslim[61]).

Ketiga: Mutaba’ah (Mengikuti petunjuk Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ)), dan dalilnya adalah hadits Ummul Mu’minin ‘Aisyah semoga Alloh meridhoinya, bahwasa Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:

«مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ».

“Barang siapa mengerjakan suatu amalan yang bukan dari perkara (agama) kami maka amalan tersebut tertolak”. (HR. Muslim[62]).

  1. Jika dikatakan kepadamu: Berapa macam tawassul (permohonan kepada Alloh) yang disyari’atkan? Maka kamu katakan: Ada tiga macam:

          Pertama: Permohonan dengan menggunakan nama-nama Alloh dan sifat-sifat-Nya, dan dalilnya adalah perkataan Alloh (تَعَالَى):

﴿وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا﴾ [الأعراف: 180].

“Hanya milik Alloh الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى (nama-nama yang indah), maka memohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu”. (Al-A’rof: 180). Dan perkataan-Nya (تَعَالَى):

﴿وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِين﴾ [النمل: 19].

“Dan masukkanlah aku dengan rohmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang sholih”. (An-Naml: 19).

          Kedua: Permohonan seseorang kepada Alloh dengan dengan  amalan sholih, dan dalilnya adalah perkataan Alloh (تَعَالَى):

﴿الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا آَمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ﴾ [آل عمران: 16].

“(Yaitu) orang-orang yang berdoa: Ya Robb kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan lindungilah kami dari siksa neraka”. (Ali Imron: 16). Dan perkataan-Nya (تَعَالَى):

﴿رَبَّنَا آمَنَّا بِمَا أَنْزَلْتَ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ﴾ [آل عمران: 53].

“Ya Robb kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rosul, karena itu masukanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Alloh)”. (Ali Imran: 53).

Dan diantara dalil dari As-Sunnah adalah hadits tentang tiga orang yang tertutup oleh batu besar, sehingga mereka terkurung dalam gua, maka mereka pun bertawasul dengan setiap amalan sholeh mereka (Muttafaqun ‘Alaih).

Ketiga: Permohonan dengan doa orang sholih, dan dalilnya adalah hadits Anas bin Malik semoga Alloh meridhoinya, beliau berkata:

“بينما رسول الله -صلى الله عليه وعلى آله وسلم- يخطب إذ جاءه رجل فقال: يا رسول الله قحط المطر، فادع الله أن يسقينا، فدعا فمطرنا”.

“Ketika Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) sedang berkhutbah tiba-tiba datang seseorang lalu berkata: Wahai Rosululloh hujan sudah lama belum turun, mohon agar Rosululloh berdoa kepada Alloh agar merunkan hujan kepada kami, maka beliau pun berdoa kepada Alloh kemudian Alloh menurunkan hujan[63].

  1.  Jika dikatakan kepadamu: Apakah dalam agama ada bid’ah hasanah (bid’ah yang bagus)? Maka kamu katakan: Semua bid’ah adalah sesat dan dalilnya adalah hadits Al-Irbadh yang telah disebutkan pada nomor (19), pada hadits tersebut: 

((كل بدعة ضلالة)).

“Semua bid’ah adalah sesat”. Dan hadits Jabir bin ‘Abdillah semoga Alloh meridhoi keduanya, sesungguhnya Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) apabila berkhutbah….. beliau mengatakan:

«أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ».

“Kemudian dari pada itu, Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah perkataan Alloh (تَعَالَى), dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ). Dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan, dan setiap bid’ah adalah sesat”. (HR. Muslim). Dan dari Abu Sa’id Al-Khudriy semoga Alloh meridhoinya bahwasanya Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata: “Aku menunggu kalian di atas telagaku, barang siapa mendatanginya maka meminum (air)nya, dan barang siapa meminumnya maka tidak akan haus selama-lamanya, sungguh akan mendatangiku suatu kaum yang akau mengenal mereka dan mereka mengenalku, kemudian dihalangi antaraku dengan mereka. Lalu aku mengatakan: Sesungguhnya mereka termasuk dari (umat)ku. Maka dikatakan kepadaku: Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang mereka rubah (dari agama ini) setelahmu. Maka aku katakan: jauhkan siapa saja yang melalukan itu setelahku”. (Muttafaqun ‘Alaih).

  1.  Jika dikatakan kepadamu: Siapakah sejelek-jelek makhluk yang wajib bagi kita untuk membenci mereka? Maka kamu katakan: Mereka adalah Yahudi dan Nasrani serta orang-orang musyrik dan dalilnya adalah perkataan Alloh (تَعَالَى):

﴿إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ [البينة: 6].

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir Yakni ahli kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk”. (Al-Bayyinah: 6). Dan perkataan-Nya (تَعَالَى):

﴿لا تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ [المجادلة: 22].

“Tidaklah kamu akan mendapati suatu kaum yang beriman pada Alloh dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Alloh dan Rosul-Nya”. (Al-Mujadilah: 22).

  1.  Jika dikatakan kepadamu: Apa itu demokrasi? Maka kamu katakan: Dia adalah hukum yang berlandaskan atas kekuasaan rakyat [dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat] yang bukan berlandaskan Kitab (Al-Qur’an) dan bukan pula dengan Sunnah (Al-Hadits).
  2. Jika dikatakan kepadamu: Apa hukum demokrasi? Maka kamu katakan: Demokrasi adalah syirik akbar (syirik yang paling terbesar) dan dalilnya adalah perkataan Alloh (تَعَالَى):    

﴿إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ [يوسف: 40].

“Sesungguhnya hukum itu hanyalah kepunyaan Alloh”. (Yusuf: 40). Dan perkataan-Nya (تَعَالَى):

﴿وَلا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَداً [الكهف: 26].

“Dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan”. (Al-Kahfi: 26).

48. Jika dikatakan kepadamu: Apa hakikat dari intikhobat (pemilu)? Maka kamu katakan: Pemilu adalah termasuk dari bagian ketentuan-ketentuan (aturan-aturan) demokrasi yang bertentangan dengan syari’at Alloh yang benar. Dan pemilu termasuk salah satu bentuk penyerupaan terhadap orang-orang kafir, dan menyerupai mereka adalah tidak boleh. Dan di dalam pemilu itu terdapat kerusakan yang banyak dan tidak ada manfaat serta tidak ada faidahnya untuk kaum muslimin, diantara kerusakannya yang paling menonjol adalah penyamaan al-haq (kebenaran) dan kebatilan, penyamaan orang-orang yang baik dengan orang yang jelek (batil) dengan melihat suara terbanyak (voting), menyempitkan al-wala wal bara (prinsip loyalitas dan berlepas diri), memecah bela persatuan kaum muslimin, menebarkan benih-benih permusuhan, kebencian, berkelompok-kelompok dan menebarkan faham fanatik (fanasisme) diantara mereka, kecurangan, penipuan, tipu daya, menyia-nyiakan waktu dan harta, menghancurkan kewibawaan wanita dan meruntuhkan kepercayaan terhadap ilmu-ilmu syari’at dan ahli ilmu.

49. Jika dikatakan kepadamu: Apa hukum hizbiyyah (berkelompok-kelompok)? Maka kamu katakan: Hizbiyyah adalah haram, kecuali Hizbulloh (kelompoknya Alloh) dan dalilnya adalah perkataan Alloh (تَعَالَى):

﴿وَلا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ * مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعاً كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ [الروم: 31-32].

“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Alloh, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa kelompok, tiap-tiap kelompok merasa bangga dengan apa yang ada pada kelompok mereka”. (Ar-Rum: 31-32). Dan perkataan-Nya (تَعَالَى):

﴿وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعاً وَلا تَفَرَّقُوا [آل عمران: 103].

“Dan berpegang teguhlah kalian kepada tali (agama) Alloh, dan janganlah kalian bercerai berai”. (Ali Imran: 103). Dan perkataan-Nya (تَعَالَى):

﴿إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ [الأنبياء: 92].

“Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kalian; dia adalah agama yang satu dan aku adalah Robbmu, maka sembahlah Aku”. (Al-Anbiya’: 92). Dan perkataan-Nya (تَعَالَى):

﴿أَلا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ[المجادلة: 22].

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Hizbulloh itu adalah golongan yang beruntung”. (Al-Mujadilah: 22). Dan dari Abdulloh bin ‘Amr Ibnul ‘Ash semoga Alloh meridhoi keduanya baliau bekata: Berkata Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ):

((…..وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِى عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِى النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً (أي فرقة) واحدة)). قَالُوا وَمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِى».

“Dan akan berpecah belah umatku menjadi 73 (tuju puluh tiga) millah semuanya masuk nereka kecuali 1 (satu) millah (yaitu kelompok). Para shohabat berkata: Siapa satu kelompok itu wahai Rosululloh? Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata: Yaitu golongan yang menempuh di atas (metode)ku dan para shohabatku berada di atasnya“. (HR. At-Tirmidzi (5/26) dan hadits ini memiliki penguat dari hadits Mu’awiyyah semoga Alloh meridhoinya yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 4597) dan Ahmad (4/102). Dan pada hadits ini pula terdapat penguat dari hadits lain. Maka hadits ini adalah hasan.

            Dan perkataannya:

«كُلُّهُا فِى النَّارِ».

“Semuanya dalam neraka” padanya terdapat penjelasan tentang perihal ahli ahwa (para pengekor hawa nafsu) dan celaannya mereka.

            50. Jika dikatakan kepadamu: Siapakah kelompok-kelompok yang paling sesat yang mengklaim (mengaku) Islam? Maka kamu katakan: Mereka adalah al-bathiniyyah[64], ar-rofidhoh[65], jahmiyyah[66] dan sufi yang ekstrim (melampui batas)[67].   

مبادئ الفقه

Dasar-Dasar Fiqih

Dari Abu Umamah Al-Bahiliy semoga Alloh meridhoinya, beliau berkata: Aku mendengar Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkhutbah ketika haji wada’, beliau berkata:

«اتَّقُوا اللَّهَ ، وَصَلُّوا خَمْسَكُمْ ، وَصُومُوا شَهْرَكُمْ ، وَأَدُّوا زَكَاةَ أَمْوَالِكُمْ ، وَأَطِيعُوا ذَا أَمْرِكُمْ ، تَدْخُلُوا جَنَّةَ رَبِّكُمْ»

“Bertaqwalah kalian kepada Alloh, sholat lima waktulah kalian, berpuasa Ramadhanlah kalian, tunaikanlah zakat harta-harta kalian dan taatilah oleh kalian pemimpin kalian, maka dengan itu Robb kalian akan memasukan kalian ke Jannah”. [(HR. Al-Hakim, Ibnu Hibban dan At-Tirmidzi, dan beliau berkata: Ini adalah hadits hasan shohih)].

            51. Setiap ibadah harus disertai dengan niat, dan niat tempatnya di dalam hati, dan dalilnya adalah Umar bin Al-Khoththob semoga Alloh meridhoinya bahwasanya Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:

((إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ)).

“Hanyalah amalan itu tergantung pada niatnya”. (Muttafaqun ‘Alaih).

52. Melafadzkan niat adalah bid’ah, dan dalilnya adalah hadits ‘Aisyah semoga Alloh meridhoinya bahwasanya Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:

«مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ».

“Barang siapa membuat-buat perkara  dalam urusan (agama) kami ini yang bukan bagian darinya maka dia tertolak”. (Muttafaqun ‘Alaih).

53. Jika dikatakan kepadamu: Apakah bid’ah itu? Maka kamu katakan: Bid’ah adalah apa-apa yang diada-adakan setelah wafatnya Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) dengan tujuan beribadah, dan tidak ada padanya dalil dari Al-Kitab (Al-Qur’an) dan dari As-Sunnah (Al-Hadits).

54. Alloh menciptakan air dalam keadaan suci  yang dapat mensucikan najis dan hadats, dan dalilnya adalah perkataan Alloh (تَعَالَى):

﴿وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُوراً [الفرقان: 48].

“Dan Kami turunkan dari langit air yang suci”. (Al-Furqan: 48). Dan perkataan-Nya (تَعَالَى):

﴿وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ [الأنفال: 11].

“Dan diturunkan kepada kalian hujan dari langit untuk mensucikan kalian dengan hujan itu”. (Al-Anfal: 11).

            55. Apa yang diucapkan bagi orang yang hendak masuk tempat buang air (WC)? Dari Anas bin Malik semoga Alloh meridhoinya, beliau berkata: Adalah Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) apabila hendak masuk WC, beliau berkata:

«اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ».

Ya Alloh aku berlindung kepada-Mu dari syaithon laki-laki dan syaithon perempuan“. (Muttafaqun ‘Alaih).

56. Diantara adab-adab buang hajat:

Dari Salman Al-Farisiy semoga Alloh meridhoinya bahwasanya beliau pernah dikatakan kepadanya oleh seorang Yahudi: Nabi kalian telah mengajarkan kepada kalian segala sesuatu hingga permasalahan buang hajat! Salman berkata: Memang (iya), beliau melarang kami menghadap kiblat ketika buang hajat, ketika kencing atau istinja’ (bersuci setelah buang hajat) dengan tangan kanan serta beristinja dengan batu kurang dari tiga buah. (HR. Muslim).

57. Tidak sah seseorang sholat kecuali dengan wudhu’, dan dalilnya adalah hadits Abu Huroiroh semoga Alloh meridhoinya, bahwa Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:

«لاَ تُقْبَلُ صَلاَةُ مَنْ أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ».

Tidak akan diterima sholat seorang yang berhadats sampai dia berwudhu’“. (Muttafaqun ‘Alaih). Dan dari Ibnu ‘Umar semoga Alloh meridhoinya bahwasanya Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:

«لاَ تُقْبَلُ صَلاَةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ».

Tidak diterima sholat dengan tanpa bersuci“. (HR. Muslim).

           58. Anggota-anggota wudhu’: Wajah; termasuk di dalamnya  al-madhmadhah (berkumur-kumur) dan al-istinsyaq (memasukan air ke dalam lubang hidung). Kedua tangan; keduanya dibasuh sampai ke siku. Kepala; diusap dengan sekali usapan. Kedua kaki; keduanya dibasuh sampai ke kedua mata kaki, dan dalilnya adalah perkataan Alloh (تَعَالَى):

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُؤُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ [المائدة:6].

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak menegakan sholat, maka basuhlah muka kalian dan tangan kalian sampai dengan siku, dan sapulah kepala kalian dan (basuh) kaki kalian sampai dengan kedua mata kaki”. (Al-Maidah: 6).

Dan dalilnya pula adalah hadits Abdulloh bin ‘Amr semoga Alloh meridhoi kedunya bahwasanya Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:

«وَيْلٌ لِلأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ».

“Kecelakaanlah bagi tumit-tumit (yang tidak terbahasi oleh air wudhu) dari siksa neraka”. (Muttafaqun ‘Alaih).

           59. Mendahulukan anggota wudhu yang kanan ketika berwudhu, memperpanjang al-ghurrah dan at-tahjil[68], dan dalilnya adalah hadits Abu Huroiroh semoga Alloh meridhoinya bahwasanya Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) mencuci tangannya yang kanan sampai lengan bagian yang atas, dan mencuci lengan kiri  sampai lengan bagian atas, kemudian mengusap kepalanya, dilanjutkan mencuci kaki kanannya hingga ke betis kemudian mencuci kaki kiri hingga ke betis, kemudian beliau mengatakan:

«أَنْتُمُ الْغُرُّ الْمُحَجَّلُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ إِسْبَاغِ الْوُضُوءِ».

“Kalian adalah orang-orang yang bersinar putih pada anggota wudhu kalian pada hari kiamat disebabkan kalian menyempurnakan wudhu”. (HR. Muslim). Dan telah shahih dalam “Sunan Abu Dawud” dari hadits Abu Huroiroh semoga Alloh meridhoinya bahwasanya Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:

«إِذَا لَبِسْتُمْ وَإِذَا تَوَضَّأْتُمْ فَابْدَءُوا بِأَيَامِنِكُمْ».

“Jika kalian memakai sesuatu dan kalian berwudhu maka memulailah dengan yang kanan”.

            60. Sifat Wudhu Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) yang paling baik: Bahwasanya beliau membasuh tangannya tiga kali, kemudian madhmadh (berkumur-kumur), istinsyaq (memasukan air ke dalam hidung) dan istinsyar (mengeluarkannya kembali) beliau melakukannya (dengan menggabungkan antara madhmadh, istinsyaq dan istinsyar dengan sekali cidukan tangan sebanyak tiga kali), kemudian membasuh wajah tiga kali dan membasuh kedua tangan sampai siku tiga kali dan meneruskannya hingga lengan atas. Kemudian mengusap kepala bukan dengar air sisa yang ada di tangan beliau –satu kali- memulai dari kepala bagian depan menuju ke belakang hingga tengkuk kemudian mengembalikannya ke tempat pertama mengusap. Kemudian mencuci kedua kakinya tiga kali sampai kedua mata kaki dan meneruskannya sampai pada betis. Tata cara wudhu seperti itu telah shohih dari hadits Utsman semoga Alloh meridhoinya (Muttafaqun ‘Alaih) dan pada hadits tersebut terdapat tambahan-tambahan penguat dari hadits-hadits lain tentang keshohihannya.

            Dan disunnahkan untuk bersiwak (membersihkan gigi dan mulut dengan siwak) sebelum shalat[69], dan dalilnya adalah hadits Abu Huroiroh semoga Alloh meridhoinya bahwa Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:

«لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِى لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلاَةٍ».

“Kalaulah tidak memberatkan umatku niscaya aku akan perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali hendak sholat”. (Muttafaqun ‘Alaih).

            61. Barang siapa memakai khuf (sepatu) atau kaos kaki maka disyari’atkan baginya untuk mengusap di atas keduanya, apabila dia dalam keadaan mukim (menetap/tidak bepergian), diperbolehkan mengusapnya sehari semalam, dan jika dia dalam keadaan safar maka boleh baginya mengusap selama tiga hari tiga malam, dengan dalil hadits Abu Bakroh semoga Alloh meridhoinya bahwasanya Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) memberikan keringanan bagi musafir (orang yang berpergian) apabila berhadats dan ingin berwudhu dan dia menggunakan khuf-nya maka diperbolehkan baginya mengusap khuf-nya selama tiga hari tiga malam dan bagi yang mukim hanya sehari semalam. (HR. Ibnu Majah, dan ini adalah hadits hasan, pada hadits ini terdapat penguat-penguat yang menjadikannya shohih).

            Dan mengusap pada bagian atas khuf dan dalilnya adalah hadits Ali bin Abi Tholib semoga Alloh meridhoinya beliau berkata[70]:

“وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْهِ”.

“Dan sungguh saya telah melihat Rosulalloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) mengusap atas kedua khuf-nya”. (HR. Abu Dawud dan hadits ini adalah shohih).

62. Apabila telah masuk waktu sholat dan kamu tidak mendapatkan air maka bertayamumlah! Dan dalilnya adalah perkataan-Nya (تَعَالَى):

﴿فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيداً طَيِّباً فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ [المائدة:6].

“Bila kalian tidak memperoleh air, maka bertayammumlah kalian dengan tanah yang baik (bersih); usaplah muka kalian dan tangan kalian dengan tanah tersebut”.(Al-Maidah: 6). Ash-Sha’id adalah tanah/bumi (debu), dengan dalil hadits Huzaifah bahwasanya Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:

«وَجُعِلَتْ لَنَا الأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدًا وَجُعِلَتْ تُرْبَتُهَا لَنَا طَهُورًا إِذَا لَمْ نَجِدِ الْمَاءَ».

“Dijadikan bumi untuk kita sebagai tempat sholat (masjid) dan dijadikan tanahnya untuk kita sebagai pensuci apabila kita tidak mendapatkan air”. (HR. Muslim) [71].

           63. Jika kamu telah selesai berwudhu maka ucapkanlah:

«أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ».

“Tidak ada sesembahan yang berhaq disembah kecuali Alloh dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya”, dan dalilnya adalah hadits Umar bin Al-Khoththob semoga Alloh meridhoinya beliau berkata: Berkata Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ):

((ما منكم من أحد يتوضأ، فيسبغ الوضوء، ثم يقول أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ إِلاَّ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاء)).

“Tidaklah salah seorang diantara kalian berwudhu kemudian menyempurnakan wudhunya dan mengucapkan: “Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Alloh dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya” melainkan akan dibukakan baginya 8 (delapan) pintu-pintu Jannah dan dia masuk dari pintu mana saja yang dia inginkan”. (HR. Muslim).

           64. Pembatal-pembatal wudhu:

Pertama: Keluar sesuatu dari qubul (kemaluan) dan dubur, dan dalilnya adalah hadits Abu Huroiroh semoga Alloh meridhoinya:

«لاَ تُقْبَلُ صَلاَةُ مَنْ أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ».

“Tidak diterima sholat seseorang yang berhadats sampai dia berwudhu”. (Muttafaqun ‘Alaih).

           Kedua dan Ketiga: Tidur lelap dan junub,  dan dalilnya adalah hadits Shofwan bin ‘Assal semoga Alloh meridhoinya beliau berkata: 

«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَأْمُرُنَا إِذَا كُنَّا سَفْرًا أَنْ لاَ نَنْزِعَ خِفَافَنَا ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيَهُنَّ إِلاَّ مِنْ جَنَابَةٍ وَلَكِنْ مِنْ غَائِطٍ وَبَوْلٍ وَنَوْمٍ».

“Dahulu Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) memerintahkan kami apabila kami dalam keadaan safar untuk tidak kami lepas khuf kami selama tiga hari tiga malam kecuali junub (jenabah), akan tetapi BAB (buang air besar), kencing, dan tidur (beliau tidak memerintahkan kami untuk melepasnya)”. (HR. At-Tirmidziy, dan ini adalah hadits hasan).

           Dan tidurnya para Nabi tidaklah membatalkan wudhu mereka, dan dalilnya adalah hadits Anas bin Malik semoga Alloh meridhoinya yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhoriy dalam “Shohihnya” bahwasanya Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:

«الأَنْبِيَاءُ تَنَامُ أَعْيُنُهُمْ وَلاَ تَنَامُ قُلُوبُهُم».

“Para Nabi tidur hanya pada mata-mata mereka dan tidak tidur hati-hati”. Dan ini adalah kekhususan  bagi mereka عليهم الصلاة وسلم.

           Keempat: Menyentuh kemaluan, dan dalilnya adalah hadits Busyroh binti Shofwan  semoga Alloh meridhoinya bahwasanya Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:

«مَنْ مَسَّ ذَكَرَهُ فَلاَ يُصَلِّ حَتَّى يَتَوَضَّأَ».

“Barang siapa menyentuh kemaluannya maka tidak boleh dia melakukan shalat sampai dia berwudhu’. (HR. At-Tirmidziy,  dan ini adalah hadits hasan. Hadits ini shohih  dengan adanya penguat-penguat yang diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dan selainnya dari hadits ‘Abdulloh bin ‘Amr semoga Alloh meridhoinya bahwasanya Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:

«أيما رجل مس ذكره فليتوضأ، وأيما امرأة مست فرجها فلتتوضأ».

“Laki-laki mana saja yang menyentuh kemaluannya, maka hendaklah berwudhu, dan wanita mana saja yang menyentuh kemaluannya maka hendaklah berwudhu”.

           Kelima: Makan daging onta, dan dalilnya adalah hadits Jabir bin Samuroh semoga Alloh meridhoinya bahwasanya ada seseorang bertanya kepada Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ):

“أنتوضأ من لحوم الإبل؟ قال: «نعم»”.

Apakah kita harus berwudhu karena memakan daging onta? Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) menjawab: “Iya”. (HR. Muslim).

Keenam: Murtad (kafir/keluar dari agama Islam), dan ini adalah pembatal wudhu dan pembatal keislaman, dan dalilnya adalah perkataan Alloh (تَعَالَى):

﴿وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ [المائدة:5].

“Barangsiapa yang kafir sesudah beriman maka batallah amalannya”. (Al-Maidah: 5).

            Ketujuh: Hilang akal disebabkan gila, pingsan, mabuk, dan apa saja yang serupa dengannya semisal obat-obatan yang menyebabkan hilangnya akal. Telah sepakat para ulama bahwa wudhu batal disebabkan hal-hal tersebut.

            65. Wajib bagi seorang muslim menegakan sholat lima waktu sehari semalam, dan dalilnya adalah hadits Tholhah bin ‘Ubaidillah semoga Alloh meridhoinya bahwasanya ada seorang Arob Badui (orang pegunungan/pedalaman) bertanya kepada Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) tentang Islam, maka Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:

«خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِى الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ».

“Shalat lima waktu sehari semalam”. (Muttafaqun ‘Alaih).

            Jika dikatakan: Berapa rakaat dalam shalat lima waktu? Maka kamu katakan: Semuanya ada 17 (tujuh belas rokaat), zhuhur 4 (empat) rokaat, ‘ashr 4 (rokaat), magrib 3 (tiga rokaat), isya’ 4 (empat rokaat) dan shubuh 2 (dua) rokaat, dan ketika safar di-qashar (diringkas) shalat zhuhur, ashar dan ‘isya’ [masing-masing] menjadi dua rokaat maka berubalah menjadi 11 (sebelas) rokaat.

            66. Setiap sholat harus dikumandangkan adzan padanya pada waktu (yang telah ditentukan)nya, dan dalilnya adalah hadits Malik bin Al-Huwairits semoga Alloh meridhoinya bahwasanya Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:

«فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ ».

“Jika telah masuk waktu sholat maka adzanlah salah seorang diantara kalian dan hendaklah menjadi imam adalah orang besar (orang yang tertua) kalian”. (Muttafaqun ‘Alaih).

            67. Barang siapa yang mendengar adzan maka hendaklah dia mengucapkan seperti yang diucapkan oleh mu’adzin (orang yang adzan), dan dalilnya adalah hadits Abu Sa’id Al-Khudriy semoga Alloh meridhoinya, bahwa Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:

«إِذَا سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ فَقُولُوا مِثْلَ ما يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ».

“Apabila kalian mendengar adzan, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan oleh muadzin”. (Muttafaqun ‘Alaih).

            68. Apabila kamu hendak menegakkan sholat maka menghadaplah ke kiblat (Ka’bah), dan dalilnya adalah perkataan Alloh (تَعَالَى):

﴿فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ [البقرة:144].

“Maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. dan dimana saja kalian berada, palingkanlah muka kalian ke arahnya”. (Al-Baqarah: 144).

            69. Mengangkat kedua tangan ketika sholat terdapat pada 4 (empat) tempat, dan dalilnya adalah hadits Abdulloh bin Umar semoga Alloh meridhoi keduanya bahwasanya Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) jika memulai sholat beliau bertakbir dan mengakat kedua tangannya hingga sejajar dengan pundaknya, jika hendak ruku’ maka beliau mengangkat kedua tangannya, jika beliau mengucapkan:

«سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ».

 Beliau mengangkat kedua tangannya (dan jika beliau berdiri dari rokaat kedua maka beliau mengangkat kedua tangannya, dan terus menerus Ibnu Umar mengerjakan yang demikian itu. (Muttafaqun ‘Alaih), Adapun mengangkat kedua tangan jika berdiri dari rokaat kedua diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhoriy sendirian).

            70. Meletakan tangan kanan di atas tangan kiri dalam sholat, dan dalilnya adalah hadits Sahl bin Sa’ad, beliau berkata:

«كَانَ النَّاسُ يُؤْمَرُونَ أَنْ يَضَعَ الرَّجُلُ اليَدَ الْيُمْنَى عَلَى اليَدَ الْيُسْرَى فِى الصَّلاَةِ».

“Dahulu orang-orang diperintahkan supaya meletakan tangan kakan di atas tangan kiri dalam sholat”. Dan hadits tersebut terangkat derajatnya sampai kepada Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ). 

            71. Doa yang paling shohih yang berkaitan dengan istiftah (pembukaan sholat) setelah takbiratul ihram (takbir pertama), sebagaimana yang ada pada hadits Abu Huroiroh semoga Alloh meridhoinya, beliau berkata: Adalah Rosululloh (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) jika telah bertakbir dalam sholat beliau berdiam sejenak sebelum membaca (Al-Fatihah), maka ditanyakan tentang apa yang beliau ucapkan: Maka beliau berkata: “Aku mengucapkan:

«اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِى وَبَيْنَ خَطَايَاىَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ ، اللَّهُمَّ نَقِّنِى مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ ، اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَاىَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ».

“Ya Alloh jauhkanlah antara aku dengan kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Alloh bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana bersihnya pakaian putih dari noda (kotoran). Ya Alloh bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan es”. (Muttafaqun ‘Alaih).

            72. Sebelum membaca Al-Fatihah ber-tawa’udz (memohon perlindungan) kepada Alloh dari syaithon yang terkutuk dan membaca Basmallah (menyebut nama Alloh) dengan suara pelan, dan dalilnya adalah [perkataan Alloh (تَعَالَى)]:

﴿فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ [النحل:98].

“Jika kamu hendak membaca Al-Qur’an maka mintalah perlindungan kepada Alloh dari godaan syaithan  yang terkutuk”. (An-Nahl: 98). Dan dari Anas bin Malik semoga Alloh meridhoinya bahwa Nabi (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ), Abu Bakr dan Umar semoga Alloh meridhoi keduanya mereka semuanya memulai sholat dengan membaca:

((الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ)).

“Segala puji bagi Alloh Rabb semesta alam”. (Muttafaqun ‘Alaih). Dan dalam suatu riwayat: Mereka semuanya tidak mengeraskan bacaan:

 ((بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ)).

“Dengan nama Alloh الرَّحْمَنِ (Maha Pengasih) lagi الرَّحِيمِ (Maha Penyayang)”. (HR. Ahmad: 3/179, dan An-Nasa’i: 2/531, dengan sanad shohih).

            73. Setelah membaca tawa’udz dan basmalah bacalah Al-Fatihah, dan dalilnya adalah hadits ‘Ubadah Ibnush Shomit bahwa Nabi (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:   

«لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ».

“Tidak ada sholat bagi siapa saja yang tidak membaca pembukaan Al-Qur’an (Al-Fatihah)”. (Muttafaqun ‘Alaih).

            74. Ta’min (Mengucapkaan Amin yang maknanya: Ya Alloh kabulkanlah), dan dalilnya adalah hadits Abu Huroiroh semoga Alloh meridhoinya, beliau mengatakan: Rosululloh (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:

«إِذَا قَالَ الإِمَامُ (غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ) فَقُولُوا آمِينَ».

“Jika imam telah mengucapkan:

﴿غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ

“Maka kalian katakan: Ya Alloh kabulkanlah!”. Dan dari hadits Aisyah semoga Alloh meridhoinya dari Nabi (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) beliau berkata:

«مَا حَسَدَتْكُمُ الْيَهُودُ عَلَى شَىْءٍ مَا حَسَدَتْكُمْ عَلَى السَّلاَمِ وَالتَّأْمِينِ».

“Tidaklah orang-orang Yahudi hasad kepada kalian atas sesuatu sebagaimana hasadnya mereka kepada kalian atas ucapan salam dan ucapan Amin”. (HR. Ibnu Majah dengan sanad hasan).

75. Sholat dengan thuma’ninah (tenang dan khusyu’), dan dalilnya adalah hadits Abu Huroiroh, bahwa Nabi (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) mengajar seorang shahabat yang jelek sholatnya dan beliau mengatakan:

«إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَكَبِّرْ، ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ، ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِى صَلاَتِكَ كُلِّهَا».

“Jika kamu hendak sholat maka bertakbirlah, kemudian bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Qur’an, kemudian ruku’lah sampai posisimu tenang (thuma’ninah) dalam ruku’, kemudian bangkitlah dari ruku’ (i’tidal) sampai posisimu benar-benar berdiri tegak, kemudian sujudlah sampai kamu tenang dalam sujud. Kemudian kerjakan yang demikian itu pada setiap shalatmu”. (Muttafaqun ‘Alaih).

            76. Turun ketika sujud dengan bertumpu pada kedua tangan, dan dalilnya adalah hadits Al-Baro’ bin ‘Azib semoga Alloh meridhoinya beliau berkata: Adalah Rosululloh (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) jika telah mengucapkan:

«سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ».

Tidak ada seorang pun dari kami yang membungkukkan punggungnya sampai Nabi (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) sujud, kemudian kami sujud setelahnya”. (Muttafaqun ‘Alaih). Dan membungkukkan punggung akan terjadi ketika turun sujud dengan bertumpu pada dua tangan.

            77. Dzikir-dzikir ruku’ dan sujud: Dari Huzaifah semoga Alloh meridhoinya bahwa Nabi (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) membaca dalam ruku’nya:  

«سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيمِ».

“Maha Suci Robbku الْعَظِيمِ(Maha Agung)”. Dan dalam sujudnya:

«سُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى».

“Maha Suci Robbku الأَعْلَى(Maha Tinggi) “. (HR. Muslim, no. 772). Dan jumlah tasbih paling sedikitnya dalam ruku’ adalah tiga kali tasbih, telah ada yang demikian itu pada sebuah hadits dari Nabi (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) dengan banyak periwayatannya.

Dan hendaknya dalam ruku’ memperbanyak dzikir dan hendaknya dalam sujud  memperbanyak do’a, dan dalilnya adalah hadits Ibnu ‘Abbas semoga Alloh meridhoinya bahwa Nabi (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:

«فَأَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ الرَّبَّ عَزَّ وَجَلَّ وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِى الدُّعَاءِ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ».

“Adapun ketika ruku’ maka agungkanlah Robb kalian (عَزَّ وَجَلَّ), dan adapun ketika sujud maka bersunguh-sungguhlah kalian dalam berdo’a dikarenakan lebih cepat untuk dikabulkan bagi kalian (doa kalian)”. (HR. Muslim).

            78. Yang dibaca oleh Imam dan munfarid (orang yang sholat sendirian) setelah bangkit dari ruku’, dari Abu Huroiroh semoga Alloh meridhoinya, beliau berkata: Adalah Rosululloh (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) jika berdiri untuk melakukan sholat, beliau bertakbir ketika berdiri, kemudian bertakbir ketika hendak ruku’, kemudian  mengucapkan ketika beliau berdiri (dari ruku’):

«سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ».

“Alloh mendengar orang yang memuji-Nya”. Ketika mengangkat punggungnya dari ruku’ kemudian berkata:

«رَبَّنَا ولَكَ الْحَمْدُ».

“Wahai Robb kami hanya untuk-Mulah segala pujian”…..Al-Hadits (Muttafaqun ‘Alaih). Pada hadits ini terdapat perintah untuk takbiratul intiqal [takbir ketika berpindah dari gerakan satu ke gerakan lainnya].

            79. Tasyahud dalam sholat, dan yang paling shohih tentang bentuk bacaan tasyahud adalah hadits Abdulloh bin Mas’ud semoga Alloh meridhoinya bahwa Nabi (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata: Jika salah seorang diantara kalian telah duduk dalam sholat maka hendaklah mengucapkan:

«التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ».

“Segala penghormatan hanya untuk Alloh, sholawat dan segala kebaikan salam atasmu wahai Nabi  beserta rahmat Alloh dan berkah-Nya. Semoga salam untuk kami dan hamba-hamba Alloh yang sholih. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Alloh dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan Rosul-Nya”. (Muttafaqun ‘Alaih).

            80. Sifat (tata cara) duduk dalam sholat dan memberi isyarat (jari telunjuk) ketika tasyahud, sebagaimana dalam hadits Abdulloh Ibnuz Zubair semoga Alloh meridhoi keduanya beliau berkata:

“كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا قَعَدَ يَدْعُو وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَيَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ السَّبَّابَة”.

“Adalah Nabi (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) jika duduk dalam sholat maka beliau meletakan tangannya kanannya di atas paha kanannya dan meletakan tangan kirinya di atas paha kirinya dan memberi isyarat dengan jari telunjuknya”. (HR. Muslim).

            81. Mengucapkan sholawat atas Nabi (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) setelah tasyahud, dan dalilnya adalah hadits Fudholah bin ‘Ubaid semoga Alloh meridhoinya bahwa Nabi (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:

 «إذا صلى أحدكم فليبدأ بتحميد ربه سبحانه وتعالى، والثناء عليه، ثم يصلي على النبي -صلى الله عليه وعلى آله وسلم-، ثم يدعوا بعد بما شاء».

“Jika salah seorang diantara kalian sholat maka memulailah dengan memuji Robbnya (سبحانه وتعالى) dan memberi sanjungan kepada-Nya kemudian bersholawat kepada Nabi (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ), kemudian berdo’a sesuai dengan apa yang dia inginkan”. (HR. Abu Dawud, dan ini adalah hadits shohih).

            Dan termasuk yang paling bagusnya bentuk lafadz sholawat atas Nabi (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) adalah yang ada pada hadits  Abu Mas’ud Al-Badriy semoga Alloh meridhoinya bahwa Basyir bin Sa’d berkata kepada Nabi (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ): “Alloh memerintahkan kepada kami untuk bersholawat kepadamu wahai Rosululloh, lalu bagaimana caranya kami bersholawat kepadamu? Berkata Rosululloh (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ): “Kalian ucapkan:

«اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ».

“Ya Alloh, limpahkanlah sholawat atas Muhammad dan atas keluarganya sebagaimana Engkau telah melimpahkan sholawat kepada keluarga Ibrahim. Dan limpahkanlah berkah atas Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah melimpahkan berkah kepada keluarga Ibrohim, sesungguhnya Engkau adalah حَمِيدٌ(Maha Terpuji) dan مَجِيدٌ(Maha Mulia)”. (HR. Muslim).

            82. Doa sebelum salam kemudian dzikir setelahnya, dari Abu Huroiroh semoga Alloh meridhoinya, beliau berkata: Berkata Rosululloh (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ):

«إِذَا فَرَغَ أَحَدُكُمْ مِنَ التَّشَهُّدِ الآخِرِ فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ».

“Jika salah seorang dari kalian telah selesai dari tasyahud yang terakhir maka hendaklah ber-tawa’udz (berlindung) kepada Alloh dari 4 (empat) perkara: Berlindung dari fitnah neraka jahannam, dari azab kubur dan dari fitnah kehidupan serta fitnah kematian dan berlindung dari kejelekan al-masih Ad-Dajjal”. (HR. Muslim, no. 588). Dan dari Mu’adz bin Jabal semoga Alloh meridhoinya bahwa Nabi (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) memegang tangannya dan berkata:

«يَا مُعَاذُ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ». فَقَالَ «أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لاَ تَدَعَنَّ فِى دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ تَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ».

“Wahai Mu’adz sesungguhnya aku menyenangimu, aku ingin memberimu wasiat wahai Mu’adz agar jangan sekali-kali kamu meninggalkan pada penghujung setiap shalat ucapan:

«اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ».

“Ya Alloh tolonglah aku untuk selalu mengingat-Mu dan mensyukuri (ni’mat)-Mu dan memperbaiki ibadahku kepada-Mu”. Ini adalah hadits shahih.

            82. Diantara dzikir-dzikir tidur dan bangun tidur: Dari Huzaifah semoga Alloh meridhoinya beliau berkata: Adalah Rosululloh (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) jika ingin tidur beliau mengucapkan: 

«بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا».

“Dengan nama-Mu ya Alloh aku mati dan aku hidup”. Dan jika bangun dari tidurnya beliau berkata:

«الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ».

“Segala puji bagi Alloh yang telah menghidupkan kami setelah mematikan (menidurkan) kami dan hanya kepada-Nya-lah kami dibangkitkan”. (HR. Al-Bukhariy).

            84. Membaca “basmalah” ketika akan makan, dan dalilnya adalah hadits Umar bin Abi Salamah bahwa Nabi (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata kepadanya:

«يَا غُلاَمُ سَمِّ اللَّهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ».

“Wahai anak (remaja) sebutlah nama Alloh dan makanlah dengan tangan kananmu serta makanlah dari yang dekat denganmu”. Maka sentiasa aku makan seperti itu. (Muttafaqun ‘Alaih).

            85. Mengganggu tetangga dan kaum muslimin adalah harom, dan dalilnya adalah hadits Ibnu ‘Amr semoga Alloh meridhoi keduanya bahwa Nabi (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:

«الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ».

“Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari kejelekan lisannya dan gangguan tangannya”. (Muttafaqun ‘Alaih).

            86. Jika kamu berkeinginan untuk masuk rumah maka minta izinlah sebelum kamu masuk, dan dalilnya adalah perkataan Alloh (تَعَالَى):

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَدْخُلُوا بُيُوتاً غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا [النور:27].

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah yang bukan rumah kalian sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya”. (An-Nuur: 27).

            Dan dari seorang shohabat Nabi (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) bahwa Nabi (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata kepada seorang pembantunya:

 «اخْرُجْ إِلَى هَذَا فَعَلِّمْهُ الاِسْتِئْذَانَ فَقُلْ لَهُ قُلِ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَأَدْخُلُ».

“Keluarlah kepada orang ini dan ajarkanlah kepadanya tata cara meminta izin, katakan kepadanya: Ucapkanlah: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ (keselamatan atas kalian), bolehkah aku masuk?!”. Dan dari Abu Huroiroh semoga Alloh meridhoinya bahwa Nabi (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:

«….أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ».

“Tebarkan salam diantara kalian”. (HR. Muslim).

            87. Wajib bagi kalian untuk jujur, karena kejujuran itu menunjuki (mengantarkan) kepada Jannah (surga), dan dalilnya adalah hadits Ibnu Mas’ud semoga Alloh meridhoinya bahwa Nabi (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata: 

«إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقًا، وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ».

“Sesungguhnya kejujuran mengantarkan ke Jannah, dan kebaikan mengantarkan ke Jannah dan dusta mengantarkan kepada kejahatan, dan sungguh kejahatan mengantarkan ke neraka”. (Muttafaqun ‘Alaih).

            88. Wajib bagimu untuk berbakti kepada kedua orang tua, dan sungguh Alloh (عَزَّ وَجَلَّ) telah memerintahkan hal yang demikian itu, Alloh (تَعَالَى) berkata:

﴿وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً [الإسراء:23].

“Dan Robbmu telah memerintahkan supaya kalian jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya”. (Al-Isra’: 23).

            89. Menjauhi perbuatan menyerupai orang-orang kafir, karena sesungguhnya Nabi (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) telah berkata:

«مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ».

“Barang siapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari mereka”. (HR. Ahmad dan selainnya dari hadits Ibnu ‘Umar dan hadits ini hasan).

            90. Hendaklah kamu memperbanyak dzikir (mengingat) Alloh (عَزَّ وَجَلَّ), dengan dzikir-dzikir yang telah pasti (keshahihannya) dengan dalil yang ada, karena hal itu termasuk dari sebab-sebab keberuntungan di dunia dan di akhirat, Alloh (تَعَالَى) berkata:

﴿وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيراً لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ [الجمعة:10].

“Dan ingatlah Alloh sebanyak-banyaknya supaya kalian beruntung”. (Al-Jum’ah: 10).Dan dari Abu Huroiroh semoga Alloh meridhoinya beliau berkata: Berkata Rosululloh (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ):

«كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ، سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ».

“Dua kalimat yang sangat ringan di lisan dan sangat berat di mizan (timbangan) yang dicintai oleh الرَّحْمَنِ (Maha Pengasih): Maha Suci Alloh الْعَظِيمِ(Maha Agung) dan Maha Suci Alloh dengan segala pujian-Nya”[72]. (Muttafaqun ‘Alaih).

            91. Penutup majelis: Dari ‘Aisyah semoga Alloh meridhoinya bahwa Nabi (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) jika duduk dalam suatu majelis atau shalat maka beliau mengucapkan beberapa kalimat, maka Aisyah bertanya kepadanya tentang kalimat-kalimat tersebut, lalu Rosululloh (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) mengatakan:

«إِنْ تَكَلَّمَ بِخَيْرٍ كَانَ طَابِعًا عَلَيْهِنَّ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَإِنْ تَكَلَّمَ بِغَيْرِ ذَلِكَ كَانَ كَفَّارَةً لَهُ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ».

“Apabila kamu berbicara dengan pembicaraan yang baik maka pembicaraanmu tersebut adalah stempel (cap) sampai hari kiamat, dan jika kamu berkata dengan perkataan selain demikian itu maka itu sebagai kaffarah (tebusan)nya: “Maha Suci Engkau ya Alloh, dan dengan memuji-Mu yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau, aku ber-istighfar (memohon ampun) kepada Alloh dan aku bertaubat kepada-Nya”. (HR. Ahmad, dan ini adalah hadits shohih).

 

ذكر أسماء الله الحسنى بأدلتها

Menyebut Nama-nama Alloh Yang Indah dengan diserta Dalil-dalilnya

            Dari Abu Huroiroh semoga Alloh meridhoinya dari Nabi (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ), beliau berkata:

«إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً إِلاَّ وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ إِنَّهُ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ».

“Sesungguhnya Alloh memiliki 99 (sembilan puluh sembilan) nama, 100 (seratus) kurang satu, barang siapa menghafal [dan menjaganya] maka akan masuk jannah, dan sesungguhnya Alloh الْوِتْرَ(Yang Maha Ganjil/Satu) dan dia menyukai الْوِتْرَ (yang ganjil)”. (HR. Al-Bukhariy, no. 6410 dan Muslim, no. 2677 dan ini adalah lafadz beliau).

1. اللَّهُ, 2. إِلَهَ, 3. الْحَيُّ(Yang Maha Hidup), 4. الْقَيُّوم(Yang Maha Terus Menerus), Alloh (تَعَالَى) berkata:

﴿اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوم [البقرة: 255]

“Alloh, tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) melainkan الْحَيُّlagi الْقَيُّوم“. (Al-Baqarah: 255).

            5.الرَّبّ  (Yang Maha Menciptakan/Mengatur), 6. الرَّحْمَنِ(Yang Maha Pengasih), 7. الرَّحِيمِ  (Yang Maha Penyayang), Alloh (تَعَالَى) berkata:

﴿الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2) الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (3) [الفاتحة: 2، 3]

“Segala puji bagi Alloh الرَّبّ  semesta alam, الرَّحْمَنِ lagi الرَّحِيمِ“. (Al-Fatihah: 2-3). Dan dari Ibnu ‘Abbas semoga Alloh meridhoinya beliau berkata: Berkata Rosululloh (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ):

«فَأَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ الرَّبّ عز وجل». 

“…Adapun ruku’ maka agungkanlah kalian pada ruku’ tersebut الرَّبّ عز وجل“. (HR. Muslim, no. 479).

            8. الْمَلِكُ (Yang Maha Berkuasa), 9. الْقُدُّوسُ (Yang Maha Suci), 10. السَّلَامُ (Yang Maha Sejahtera), 11. الْمُؤْمِنُ  (Yang Maha Memberi keamanaan), 12. الْمُهَيْمِنُ  (Yang Maha Memelihara), 13.  الْجَبَّارُ(Yang Maha Perkasa), 14. الْمُتَكَبِّرُ (Yang Maha Besar/Kuasa), 15. الْخَالِقُ  (Yang Maha Pencipta), 16. الْبَارِئُ  (Yang Maha Mengadakan), 17. الْمُصَوِّرُ (Yang Maha Membentuk Rupa), 18. الْعَزِيزُ(Yang Maha Perkasa), 19. الْحَكِيمُ (Yang Maha Bijaksana), Alloh (تَعَالَى) berkata:

﴿هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ (22) هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ (23) هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (24) [الحشر: 22-24].

“Dialah Alloh yang tidak ada sesembahan selain Dia, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah الرَّحْمَنُ  lagi الرَّحِيمُ. Dialah Alloh yang tidak ada sesembahan selain Dia, الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ, Maha suci Alloh dari apa yang mereka persekutukan. Dialah الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ, yang mempunyai nama-nama yang Indah. bertasbih kepadanya apa yang di langit dan bumi. dan Dialah الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ“. (Al-Hasyr: 22-24).

            20.الْأَوَّلُ  (Yang Maha Awal), 21. الآَخِرُ  (Yang Maha Akhir) , 22. الظَّاهِرُ (Yang Maha Tampak), 23. الْبَاطِنُ(Yang Maha Tersenbunyi), 24. العَلِيمٌ (Yang Maha Mengetahui), Alloh (تَعَالَى) berkata:

﴿هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآَخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [الحديد: 3]

“Dia adakah الْأَوَّلُ, الْآَخِرُ,الظَّاهِرُ,  الْبَاطِن; dan Dia adalah العَلِيمٌ terhadap segala sesuatu”. (Al-Hadiid: 3).

            25. الْغَفُورُ  (Yang Maha Pengampun), 26. الْوَدُودُ (Yang Maha Pengasih), 27. الْمَجِيدُ (Yang Maha Mulia), Alloh (تَعَالَى)berkata:

﴿وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ (14) ذُو الْعَرْشِ الْمَجِيدُ (15) [البروج: 14، 15]

“Dia-lah الْغَفُورُlagi الْوَدُودُ, yang mempunyai ‘Arsy الْمَجِيدُ“. (Al-Buruuj: 14-15).

            28. الرَّزَّاقُ (Yang Maha Memberi Rezki), 29. الْقُوَّةِ  (Yang Maha Kuat), 30. الْقُوَّةِ (Yang Maha Kokoh), Alloh (تَعَالَى) berkata:

﴿إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِين [الذاريات: 58]

“Sesungguhnya Alloh Dialah الرَّزَّاقُ, pemilik لْقُوَّةِ  lagi الْمَتِين“. (Adz-Dzariyat: 58). Dan Alloh (تَعَالَى) berkata:

﴿وَهُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ [الشورى: 19]

“Dialah الْقَوِيُّ lagi الْعَزِيزُ“. (Asy-Syuro’o: 19).

            31. الخَيْرُ (Yang Maha Baik) , 32. الحَافِظُ(Yang Maha Menjaga), 33. الحَفِيظُ (Yang Maha Menjaga). Alloh (تَعَالَى) berkata:

﴿فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ [يوسف: 64]

“Maka Alloh adalah الخَيْرُlagi الحَافِظُ dan adalah أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ (Paling Maha Penyanyang)”. (Yusuf: 64). Dan perkataan (تَعَالَى):

﴿إِنَّ رَبِّي عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ [هود: 57]

“Sesungguhnya Robbku adalah الحَفِيظُ“. (Hud: 87).

            34. العَالِمُ (Yang Maha Berilmu), 35. الْكَبِيرُ (Yang Maha Besar), 36. الْمُتَعَالِ (Yang Maha Tinggi). Alloh (تَعَالَى) berkata:

﴿عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْكَبِيرُ الْمُتَعَالِ [الرعد: 9]

Dia adalah العَالِمُ terhadap semua yang ghoib dan yang nampak; الْكَبِيرُ lagi الْمُتَعَالِ“. (Ar-Ro’d: 9).

            37. المَلِيكُ (Yang Maha Berkuasa), 38. المَلِكُ (Yang Maha Menguasai), 39. المُقْتَدِرُ (Yang Maha Mampu). Alloh (تَعَالَى) berkata:

﴿فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيكٍ مُقْتَدِرٍ [القمر: 55]

“Di tempat yang disenangi di sisi المَلِيكُ lagi المُقْتَدِرُ“. (Al-Qamar: 55).

            40. الأَحَدُ (Yang Maha Satu), 41. الصَّمَدُ (Yang Maha bergantung segala sesuatu kepada-Nya) . Alloh (تَعَالَى)berkata:

﴿قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) [الإخلاص: 1، 2]

“Katakanlah: “Dia-lah Alloh adalah الأَحَدُ, Alloh adalah الصَّمَدُ“. (Al-Ikhlash: 1-2). Dan dari Abu Huroiroh semoga Alloh meridhoinya, dari Nabi (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) beliau berkata:

«قال الله عز وجل: ….. وَأَنَا الأَحَدُ الصَّمَدُ لَمْ أَلِدْ وَلَمْ أُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لِى كُفْأً أَحَدٌ».

“Alloh (عَزَّ وَجَلَّ) berkata:…. Dan Aku الأَحَدُ lagi الصَّمَدُ, tidak beranak dan tidak pula diperanakan dan tidak ada sesuatupun yang setara (dengan-Ku)”. (HR. Al-Bukhariy, no. 4979).

            42. الْوَاحِدُ (Yang Maha Satu), 43. الْقَهَّارُ (Yang Maha Perkasa). Alloh (تَعَالَى) berkata:

﴿وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ [الرعد: 16]

“Dia-lah الْوَاحِدُ lagi الْقَهَّارُ“. (Ar-Ra’d: 16).

            44. الْوَلِيُّ (Yang Maha Melindungi), 45. الْحَمِيدُ (Yang Maha Terpuji). Alloh (تَعَالَى) berkata:

﴿وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ [الشورى: 28]

“Dan Dia-lah adalah الْوَلِيُّ lagi الْحَمِيدُ“. (Asy-Syuuraa: 28).

            46. الْمَوْلَى (Yang Maha Pelindung), 47. النَّصِيرُ (Yang Maha Penolong). Alloh (تَعَالَى) berkata:

﴿فَنِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ [الحج: 78]

“Maka Dia adalah sebaik-baik الْمَوْلَى dan sebaik- baik النَّصِيرُ“. (Al-Hajj: 78).

  1.  الرَّقِيبُ(Yang Maha Mengawasi), 49. الشَهِيدُ (Yang Maha Menyaksikan). Alloh (تَعَالَى) berkata:

﴿فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ [المائدة: 117]

“Maka setelah Engkau wafatkan Aku, Engkau adalah الرَّقِيبُ atas mereka. Dan Engkau adalah الشَهِيدُ atas segala sesuatu”. (Al-Maidah: 117).

            50. السَّمِيعُ (Yang Maha Mendengar), 51. الْبَصِير (Yang Maha Melihat). Alloh (تَعَالَى) berkata:

﴿إِنَّ اللَّهَ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِير [غافر: 20]

“Sesungguhnya Dia-lah السَّمِيعُ lagi الْبَصِير“. (Ghaafir: 20).

52. الْحَقُّ (Yang Maha Benar), 53. الْمُبِينُ (Yang Maha Jelas). Alloh (تَعَالَى) berkata:

﴿وَيَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ الْمُبِينُ [النور: 25]

“Dan mereka mengetahui bahwa Alloh-lah الْحَقُّ lagi الْمُبِينُ“. (An-Nuur: 25).

            54. اللَّطِيفُ (Yang Maha Lembut), 55. الْخَبِيرُ (Yang Maha Mengetahui). Alloh (تَعَالَى) berkata:

﴿أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ [الملك: 14]

“Apakah Alloh yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan Dia-lah اللَّطِيفُlagi الْخَبِيرُ. (Al-Mulk: 14).

            56. القَرِيبُ (Yang Maha Dekat), 57. المُجِيبُ (Yang Maha Mengabulkan). Alloh (تَعَالَى) berkata:

﴿إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ [هود: 61]

“Sesungguhnya Robbku القَرِيبُ lagi المُجِيبُ“. (Huud: 61).

            58. الْكَرِيمُ (Yang Maha Dermawan/Memberi), 59. الْأَكْرَمُ (Yang Maha Mulia). Alloh (تَعَالَى) berkata:

﴿يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ [الإنفطار: 6]

“Hai manusia, Apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Robbmu الْكَرِيمِ“. (Al-Infithor: 6). Dan perkataan-Nya (تَعَالَى):

﴿اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ [العلق: 3]

“Bacalah, dan Robbmulah الْأَكْرَمُ“. (Al-‘Alaq: 3).

            60. الْعَلِيُّ (Yang Maha Tinggi), 61. الْعَظِيمُ(Yang Maha Agung/Besar). Alloh (تَعَالَى) berkata:

﴿وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ [البقرة: 255]

“Dan Alloh tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia-lah الْعَلِيُّ lagi الْعَظِيمُ“. (Al-Baqaroh: 255).

            62. الحَسْبُ(Maha Mencukupi), 63. الْوَكِيلُ(Maha Memberi Kecukupan), Alloh (تَعَالَى) berkata:

﴿فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ [آل عمران: 173]

“Maka bertambahlah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Alloh-lah الحَسْبُ bagi Kami dan Alloh-lah الْوَكِيلُ“. (Ali Imran: 173).

            64. الشَكُورُ (Yang Maha Membalas Kebaikan), 65. الحَلِيمُ (Yang Maha Penyantun). Alloh (تَعَالَى) berkata:

﴿وَاللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ [التغابن: 17]

“Dan Alloh adalah الشَكُورُ lagi الحَلِيمُ“. (At-Taghobun: 17).

            66. الْبَرُّ(Yang Maha Baik). Alloh (تَعَالَى) berkata:

﴿إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيمُ [الطور: 28]

“Sesungguhnya Dia adalah الْبَرُّ lagi الرَّحِيمُ“. (Ath-Thuur: 28).

            67. الشَاكِرُ (Yang Maha Mensyukuri). Alloh (تَعَالَى) berkata:

﴿وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا [النساء: 147]

“Dan Alloh adalah الشَاكِرُ lagi العَلِيمُ“. (An-Nisa’: 147).

            68. الْوَهَّابِ (Yang Maha Pemberi). Alloh (تَعَالَى) berkata:

﴿أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَحْمَةِ رَبِّكَ الْعَزِيزِ الْوَهَّابِ [ص: 9]

“Atau Apakah mereka itu mempunyai perbendaharaan rahmat Robbmu الْعَزِيزِ lagi الْوَهَّابِ“. (Shaad: 9).

            69. الْقَاهِرُ (Yang Maha Kuasa). Alloh (تَعَالَى) berkata:

﴿وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ [الأنعام: 18]

“Dan Dia-lah الْقَاهِرُ atas semua hamba-hamba-Nya”. (Al-An’am: 18).

            70. الْغَفَّارُ(Yang Maha Pengampun). Alloh (تَعَالَى) berkata:

﴿رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا الْعَزِيزُ الْغَفَّارُ [ص: 66]

“Robb langit-langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya الْعَزِيزُ lagi الْغَفَّارُ“. (Shaad: 66).

            71. التَّوَّابُ (Yang Maha Penerima Taubat/Pengampun). Alloh (تَعَالَى) berkata:

﴿فَتَلَقَّى آَدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ [البقرة: 37]

“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Robbnya, maka Alloh menerima taubatnya. Sesungguhnya Alloh التَّوَّابُ lagi الرَّحِيمُ“. (Al-Baqarah: 37).

            72. الْفَتَّاحُ (Yang Maha Memberi Keputusan). Alloh (تَعَالَى) berkata:

﴿وَهُوَ الْفَتَّاحُ الْعَلِيمُ [سبأ: 26]

“Dan Dia-lah الْعَلِيمُ lagi الْعَلِيمُ“. (Saba’: 26).

            73. الرَءُوفُ (Yang Maha Penyantun). Alloh (تَعَالَى) bekata:

﴿وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ وَأَنَّ اللَّهَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ [النور: 20]

“Dan Sekiranya tidaklah karena kurnia Alloh dan rahmat-Nya kepada kamu semua, dan sungguh Alloh adalah الرَءُوفُ lagi الرَّحِيمُ“. (An-Nuur: 20).

            74. النُورُ (Yang Maha Menerangi/Bersinar). Alloh (تَعَالَى) berkata:

﴿اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ [النور: 35]

“Alloh-lah النُورُ langit dan bumi”. (An-Nuur: 35).

            75. المُقِيتُ (Yang Maha Kuasa). Alloh (تَعَالَى) berkata:

﴿وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُقِيتًا [النساء: 85]

“dan Alloh-lah المُقِيتُ atas segala sesuatu”. (An-Nisa’: 85).

            76. الوَاسِعُ (Yang Maha Luas). Alloh (تَعَالَى) berkata:

﴿وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ [البقرة: 247]

“Dan Alloh adalah الوَاسِعُ lagi الْعَلِيمُ“. (Al-Baqaroh: 247).

            77. الْوَارِثُ (Yang Maha Mewariskan/Memberikan). Alloh (تَعَالَى) berkata:

﴿وَنَحْنُ الْوَارِثُونَ [الحجر: 23]

“Dan Kami-lah الْوَارِثُ“. (Al-Hijr: 23).

            78. الْأَعْلَى (Yang Maha Tinggi). Alloh (تَعَالَى) berkata:

﴿سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى [الأعلى: 1]

“Sucikanlah nama Robbmu الْأَعْلَى“. (Al-A’la: 1).

            79. المُحِيطُ(Yang Maha Meliputi). Alloh (تَعَالَى) berkata:

﴿أَلَا إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ مُحِيطٌ [فصلت: 54]

“Ingatlah bahwa sesungguhnya Dia adalah المُحِيطُ“. (Fushshilat: 54).

            80. العَلَّامُ (Yang Maha Mengetahui). Alloh (تَعَالَى) berkata:

﴿أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ سِرَّهُمْ وَنَجْوَاهُمْ وَأَنَّ اللَّهَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ [التوبة: 78]

“Tidaklah mereka tahu bahwasanya Alloh mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Alloh-lah العَلَّامُ segala yang ghaib”. (At-Taubah: 78).

            81. الْمُسْتَعَانُ (Yang Maha Menolong). Alloh (تَعَالَى) berkata:

﴿وَرَبُّنَا الرَّحْمَنُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ [الأنبياء: 112]

“Dan Robb kami-lah الرَّحْمَنُ lagi الْمُسْتَعَانُ terhadap apa yang kalian katakan”.(Al-Anbiya’: 112).

            82. الهَادِي (Maha Memberi Petunjuk/Hidayah). Alloh (تَعَالَى) berkata:

﴿وَإِنَّ اللَّهَ لَهَادِ الَّذِينَ آَمَنُوا إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ [الحج: 54]

“Dan sesungguhnya Alloh adalah الهَادِي bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus”. (Al-Hajj: 54).

            83. النَّاصِرُ (Yang Maha Menolong). Alloh (تَعَالَى) berkata:

﴿بَلِ اللَّهُ مَوْلَاكُمْ وَهُوَ خَيْرُ النَّاصِرِينَ [آل عمران: 150]

“Tetapi (ikutilah Alloh), Allohlah Pelindung kalian, dan Dia adalah sebaik-baik النَّاصِرُ“. (Ali Imraan: 150).

            84. الْخَلَّاقُ (Yang Maha Pencipta). Alloh (تَعَالَى) berkata:

﴿إِنَّ رَبَّكَ هُوَ الْخَلَّاقُ الْعَلِيمُ [الحجر: 86]

“Sesungguhnya Robbmu, Dia-lah الْخَلَّاقُ lagi الْعَلِيمُ“. (Al-Hijr: 86).

            85. العَفُوُّ (Yang Maha Memaafkan). Alloh (تَعَالَى) berkata:

﴿فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا قَدِيرًا [النساء: 149]

“Maka Sesungguhnya Alloh adalah العَفُوُّ lagi القَدِيرُ“. (An-Nisa’: 149).

            86. الْحَاكِمُ (Yang Maha Bijkasana). Alloh (تَعَالَى) berkata:

﴿وَاتَّبِعْ مَا يُوحَى إِلَيْكَ وَاصْبِرْ حَتَّى يَحْكُمَ اللَّهُ وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ [يونس: 109]

“Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah hingga Alloh memberi keputusan dan Dia adalah الْحَاكِمُ“. (Yunus: 109).

            87. الْغَنِيُّ (Yang Maha Kaya). Alloh (تَعَالَى) berkata:

﴿وَرَبُّكَ الْغَنِيُّ ذُو الرَّحْمَةِ [الأنعام: 133]

“Dan Robbmu الْغَنِيُّ lagi memiliki kasih sayang”. (Al-An’am: 133).

            88. الكَفِيلُ (Yang Maha Mencukupi/Menyaksikan). Alloh (تَعَالَى) berkata:

﴿وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلًا [النحل: 91]

“Dan sungguh kalian telah menjadikan Alloh atas kalian sebagai الكَفِيلُ“. (An-Nahl: 91).

            Dan Al-Imam Al-Bukhoriy semoga Alloh merahmatinya telah meriwayatkan dengan tanpa sanad pada Kitab “Al-Hawalat”, setelah hadits (no. 2291) dan Al-Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanad [yang bersambung sampai kepada Rosululloh (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ)] (Juz 2/Hal. 348) dari Abu Huroiroh semoga Alloh meridhoinya dari Rosululloh (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) bahwasanya beliau menyebutkan seseorang dari Bani Isroil:

…..قال: وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلاً».

…..Berkata: Cukuplah bagi Alloh الكَفِيلُ“. Dan ini adalah hadits shohih.

            89. الحَيِىُّ (Yang Maha Malu), 90. السِتِّيرُ (Maha Menutupi). Alloh (تَعَالَى) berkata:

﴿وَاللَّهُ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ [الأحزاب: 53]

“Dan Alloh tidak malu (menerangkan) yang benar”. (Al-Ahzab: 53). Dan dari Ya’la bin Umayyah, beliau berkata: Berkata Rosululloh (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ):

«إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَيِىٌّ سِتِّيرٌ».

“Sesungguhnya Alloh (عَزَّ وَجَلَّ) adalah الحَيِىُّ lagi السِتِّيرُ“. (HR. Abu Dawud (no. 4012), Ahmad (4/224) dan An-Nasiy (406)), dan ini adalah hadits shohih.

            91. الْمُسَعِّرُ (Yang Menahan), 92. الْقَابِضُ(Yang Maha Menggenggam), 93. الْبَاسِطُ (Yang Maha Membentangkan), 94. الرَّازِقُ (Yang Maha Memberi Rezki), dari Anas bin Malik semoga Alloh meridhoinya, beliau berkata: Berkata Rosululloh (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ):

«إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ الْقَابِضُ الْبَاسِطُ الرَّازِقُ وَإِنِّى لأَرْجُو أَنْ أَلْقَى رَبِّى وَلَيْسَ أَحَدٌ مِنْكُمْ يَطْلُبُنِى بِمَظْلَمَةٍ فِى دَمٍ وَلاَ مَالٍ».

“Sesungguhnya Alloh adalah الْمُسَعِّرُ, الْقَابِضُ, الْبَاسِطُ, الرَّازِقُ. Dan aku berharap berjumpa dengan Robbku dan tidak seorang pun dari kalian menuntutku tentang kezholiman penumpahan darah dan pengambilan harta”. Ini adalah hadits shohih (HR. Abu Dawud, no. 3450, dan selainnya). 

            95.الْمُقَدِّمُ, 96. الْمُؤَخِّرُ, 97. القَدِيرُ, dari Abu Musa, dari Nabi (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ), beliau berkata:

«…..أَنْتَ الْمُقَدِّمُ، وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ»

“Engkau الْمُقَدِّمُ, Engkau الْمُؤَخِّرُ, dan Engkau atas segala sesuatu القَدِيرُ“. (HR. Al-Bukhariy, no. 6398 dan Muslim, no. 2719).

            98. السُبُّوحُ(Yang Maha Suci), dari Aisyah semoga Alloh meridhoinya, bahwa Rosululloh (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:

«سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ….».

السُبُّوحُlagiالقُدُّوسُ…”. (HR. Muslim, no. 487).

            99. الرِّفْقُ (Yang Maha Lemah Lembut), dari Aisyah semoga Alloh meridhoinya, bahwa Rosululloh (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:

«إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِى الأَمْرِ كُلِّهِ».

“Ya Aisyah, sesungguhnya Alloh adalah الرِّفْقُ, Dia mencintai kelembutan pada semua perkara…”. (HR. Al-Bukhoriy, no. 6927 dan Muslim, no. 2597).

            100. الطيّبُ (Yang Maha Bagus), dari Abu Huroiroh semoga Alloh meridhoinya, beliau berkata: Berkata Rosululloh (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ):

«أيُّها الناس إنَّ الله طيّبٌ لا يَقْبَلُ إلا طيّباً …».

“Wahai manusia, sesungguhnya Alloh adalah الطيّبُ, tidaklah Dia menerima kecuali yang baik-baik….”. (HR. Muslim, no. 1015).

            101. الْحَكَمُ (Yang Maha Adil/Bijaksana), dari Abu Syuroih Hani’ bin Yazid semoga Alloh meridhoinya, beliau berkata: Berkata Rosululloh (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ):

«إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَكَمُ وَإِلَيْهِ الْحُكْمُ».

“Sesungguhnya Alloh adalah الْحَكَمُ, dan kepadanya keputusan (hukum)….”. (HR. Abu Dawud, no. 4955, An-Nasaiy, no. 5387, dan ini adalah hadits shohih.

            102. الشَّافِى (Yang Maha Menyembuhkan), dari Aisyah semoga Alloh meridhoinya, bahwa Rosululloh (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) jika sakit maka beliau berkata:

«أَذْهِبِ الْبَاسَ رَبَّ النَّاسِ، اشْفِ وَأَنْتَ الشَّافِى… ».

“Hilangkanlah derita (sakit) Robb manusia, sembuhkanlah aku, Engkau الشَّافِى….”. (HR. Al-Bukhariy, no. 5675 dan Muslim, no. 2191).

            103.الْمُعْطِى (Yang Maha Memberi), dari Mu’awiyyah semoga Alloh meridhoinya, beliau berkata: Berkata Rosululloh (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ):

«…. وَاللَّهُ الْمُعْطِى وَأَنَا الْقَاسِم….».

“…..Alloh الْمُعْطِى dan aku Al-Qosim”. (HR. Al-Bukhariy, no. 3116 dan Muslim, no. 1037) dan ini adalah lafadz Al-Bukhoriy.

            104. الوِترُ (Yang Maha Ganjil/Satu), dengan dalil hadits yang telah disebutkan pada awal nama-nama (Alloh) ini.

            105. الطَّبِيبُ (Yang Maha Menyebuhkan), dari Abu Rimtsah, beliau berkata: Berkata Rosululloh (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ):

«….اللَّهُ الطَّبِيبُ…».

“…..Alloh adalah الطَّبِيبُ“. (HR. Abu Dawud, no. 4206, dan Ahmad: 4/163), dan ini adalah hadits shohih.

            106.الجَمِيل (Yang Maha Indah/Bagus), dari Abdulloh bin Mas’ud semoga Alloh meridhoinya, dari Nabi (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ), beliau berkata:

«إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ».

“Sesungguhnya Alloh adalah الجَمِيل, Dia mencintai kebagusan”. (HR. Muslim, no. 91).

            107. المَنَّان (Yang Maha Memberi Kebaikan/Nikmat), dari Anas bin Malik semoga Alloh meridhoinya, beliau berkata: Nabi (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) mendengar seseorang berkata: Ya Alloh sesungguhnya aku memohon kepadamu bahwa bagi-Mu pujian, tidak ada sesembahan yang berhaq disembah kecuali Engkau, tidak ada sekutu bagi-Mu, المَنَّان…. Maka Rosululloh (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:

«لَقَدْ دَعَا اللَّهَ بِاسْمِهِ الأَعْظَمِ الَّذِي إِذَا دُعِيَ بِهِ اسْتَجَابَ».

“Sungguh benar-benar dia telah meminta kepada Alloh dengan nama-Nya الأَعْظَمِ (Yang Agung) yang jika diminta dengannya maka diberi, dan jika memohon dengannya maka dikabulkan”. (HR. Ibnu Majah, no. 3858), dan ini adalah hadits hasan.

            108. السَّيِّدُ (Yang Maha Tertinggi/Memimpin), dari Abdulloh Ibnusy-Syikhkhir, beliau berkata: Kami berkata: Ya Rosululloh engkau sayyid kami, maka Rosululloh (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:

«السَّيِّدُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى».

السَّيِّدُadalah Alloh (تَبَارَكَ وَتَعَالَى)“. (HR. Abu Dawud, no. 4806) dan ini adalah hadits shohih.

            109. الدَّيَّانُ (Yang Maha Bijkasana/Perkasa), berkata Al-Imam Al-Bukhoriy semoga Alloh merahmatinya (dalam “Kitab Tauhid“), Bab (32) dan disebutkan dari Jabir, dari Abdulloh bin Unais, beliau berkata: Aku mendengar Rosululloh (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:

«يحشرالله العباد فَيُنَادِيهم بِصَوْتٍ يَسْمَعُهُ مَنْ بَعُدَ كَمَا يَسْمَعُهُ مَنْ قَرُبَ أَنَا الْمَلِكُ أَنَا الدَّيَّانُ…..».

“Alloh mengumpulkan hamba-hamba (Nya), lalu diserulah mereka dengan seruan yang dapat didengar oleh orang yang jauh sebagaimana seruan tersebut didengar oleh orang dekat: Aku Al-Malik, Aku adalah الدَّيَّانُ“. Sanad hadits ini disambung oleh Al-Imam Ahmad dalam “Musnadnya” (3/495), dan hadits ini hasan, dan sungguh telah ditetapkan (dishohihkan) nama ini oleh Al-Imam Ibnu Qoyyim dalam “An-Nuuniyyah[73].

 


[1] [Khuf adalah sejenis alas kaki seperti sepatu dan kaos kaki atau yang semisalnya, adapun sandal maka dia tida termasuk].  

[2] [Adapun tentang pengertian hizbiyyah dan ciri-ciri atau rukun-rukunnya telah kami sebutkan dalam tulisan kami “Mereka Adalah Hizbiyyun“].

[3] [Ruwaibidhoh adalah orang dungu atau orang fasiq kelas rendah yang berbicara tentang urusan orang banyak].

[4]  [Dua dalil tersebut sebagai hujjah atas hizbiyyin yang mereka mencetak dan menyebarkan terjemahan kitab ini, sampai dicetak berkali-kali, yang kemudian nikmat tersebut mereka kufuri dan kemudian mencetak buku yang mencela dan menghina penulisnya, maka semoga Alloh tidak memberkahi mereka].

[5] [Beliau adalah salah seorang murid senior Asy-Syaikh An-Nashih Al-Amin, beliau memiliki kitab (karya tulis) dengan judul “Tuhfatul Qariy Binazhmi Rijalil Bukhariy” dan memiliki banyak “Qasidah” (sya’r-sya’ir). Semasa hidupnya beliau adalah termasuk salah satu pengajar Ilmu Nahwu di Markaz Darul Hadits Dammaj. Semoga Alloh merahmatinya].

[6]  [Tulisan ini kami kerjakan membutuhkan waktu yang cukup lama, mengingat keterbatasan alat untuk mengetik tulisan ini dan begitu pula banyaknya kesibukan di Darul Hadits mulai dari ibadah, dars (belajar), muraja’ah (mengulang-ngulang pelajaan atau hafalan) dan aktivitas da’wah lainnya, dan ditambah lagi dengan adanya jihad melawan para hizbiyyin dengan lisan dan tulisan, yang kemudian ditambah lagi dengan adanya jihad yang Ahlussunnah bersama penguasanya (pemerintah Yaman) memerangi musuh-musuh Islam dari kalangan para Pemberontak-Teroris-Rofidhah yang termasuk seutama-utamanya jihad di jalan Alloh, mulai dari kesibukan membantu membuat matras (benteng/posko), khandak (parit) dan menjaga di beberapa tempat di Darul Hadits Dammaj, namun segala puji dan syukur hanya untuk Alloh yang telah memberikan nikmat dan memudahkan kami menjalani aktivitas dan amal ibadah kami, semoga Alloh mencatatnya sebagai amal sholih dan semoga Alloh membalas amalan kami dengan Jannah-Nya:

﴿يَسْتَبْشِرُونَ بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُؤْمِنِينَ [آل عمران: 171]

Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang yang besar dari Alloh, dan bahwa Alloh tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman“. (Ali Imron: 171). Dan Alloh (تَعَالَى) berkata:

﴿وَلَا يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلًا إِلَّا كُتِبَ لَهُمْ بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِين [التوبة: 120]

“….dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal sholih. Sesungguhnya Alloh tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik”. (At-Taubah: 120). Dan Alloh (تَعَالَى) mengisahkan tentang perkatan Nabi-Nya Yusuf (عليه السلام):

﴿قَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا إِنَّهُ مَنْ يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ [يوسف: 90]

Sesungguhnya Alloh telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami”. Sesungguhnya barang siapa yang bertaqwa dan bersabar, maka sungguh Alloh tidak menyia-nyiakan pahala bagi orang-orang yang berbuat baik“. (Yusuf: 90)].   

[7]  [Berkata Al-Imam At-Tirmidziy: Ini adalah hadits hasan shohih. Berkata Al-Imam Al-Wadi’iy semoga Alloh merahmatinya: Ini adalah hadits shohih, yang terangkat derajatnya dengan hadits selainnya. (Lihat “Ash-Shohihul Musnad” (Juz 1, hal. 558)).

[8]  [dan (Ar-Ra’d: 16)].

[9] [dan (Yunus: 10, Az-Zumar: 75, Ghofir: 65)].

[10] Islam adalah jalan yang lurus, dengan dalil hadits An-Nawwas bin Sam’an semoga Alloh meridhoinyabahwasanya Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:  …….الصراط الإسلام……..”Jalan Islam”……  yang diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad (Juz. 3/hal. 182), dan dia adalah hadits shohih. Barang siapa yang kokoh di jalan tersebut maka Alloh akan mengokohkannya –Insya Alloh– ketika melewati jembatan yang dipajang di atas jahannam, dan dalilnya adalah perkataan Alloh (تَعَالَى):

﴿وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا كَانَ عَلَى رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا (71) ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا (72)﴾ [مريم:71، 72].

Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Robbmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan“. (Maryam: 71). Dan hadits Abu Huroiroh semoga Alloh meridhoinya bahwasanya Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ):

«……وَتُرْسَلُ الأَمَانَةُ وَالرَّحِمُ فَتَقُومَانِ جَنَبَتَىِ الصِّرَاطِ يَمِينًا وَشِمَالاً فَيَمُرُّ أَوَّلُكُمْ كَالْبَرْقِ….ثُمَّ كَمَرِّ الرِّيحِ ثُمَّ كَمَرِّ الطَّيْرِ وَشَدِّ الرِّجَالِ تَجْرِى بِهِمْ أَعْمَالُهُمْ…. حَتَّى تَعْجِزَ أَعْمَالُ الْعِبَاد… وَفِى حَافَتَىِ الصِّرَاطِ كَلاَلِيبُ مُعَلَّقَةٌ مَأْمُورَةٌ بِأَخْذِ مَنْ أُمِرَتْ بِهِ فَمَخْدُوشٌ نَاجٍ وَمَكْدُوسٌ فِى النَّار».

….dan diutus al-amanah dan ar-rahim keduanya tegak di dua sisi jalan (jembatan) yang kanan dan kiri, maka akan lewat orang diantara kalian (yang kecepatannya) seperti kilat…. Kemudian ada (yang kecepatanya) seperti angin yang lewat…. Kemudian ada (yang kecepatannya) seperti burung yang lewat dan ada seperti orang yang berlari kencang, yang melewati jembatan tersebut sesuai dengan amalan mereka….. hingga melemah amal-amalan seorang hamba…. Dan di emper-emper jembatan terdapat besi-besi yang tajam (kail) diperintahkan untuk mengambil siapa yang diperintahkan untuk diambil, ada yang terkena (cedera) namun selamat (melewatinya) dan ada yang terjerumus langsung ke dalam neraka “. [(HR. Muslim, no. 195)].

Dan diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhoriy [dalam “Shohihnya” (no. 7439)] dari hadits Abu Sa’id Al-Khudriy semoga Alloh meridhoinya bahwasanya Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:

«….يُؤْتَى بِالْجَسْرِ فَيُجْعَلُ بَيْنَ ظَهْرَىْ جَهَنَّمَ». قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْجَسْرُ قَالَ «مَدْحَضَةٌ مَزِلَّةٌ، عَلَيْهِ خَطَاطِيفُ وَكَلاَلِيبُ…. فَنَاجٍ مُسَلَّمٌ وَنَاجٍ مَخْدُوشٌ وَمَكْدُوسٌ فِى نَارِ جَهَنَّمَ».

Didatangkan pada al-jasru maka di pajang di antara punggung jahannam” Kami bertanya: Wahai Rosululloh: Apa itu al-jasru? Beliau (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) menjawab: “Tempat yang licin yang menggelincirkan, padanya besi-besi  tajam (yang bengkok/kail)….ada yang langsung selamat (ketika melewatinya), ada yang terkena (cedera) tapi selamat (melewatinya) dan ada yang langsung terjerumus ke dalam neraka jahannam”.

                [Berkata Al-Imam Ibnu Atsir dalam “An-Nihaayah fii Ghoribil Hadits wal Atsar” (hal. 797): المكَرْدَس adalah orang yang dikumpulkan kedua tangan dan kedua kakinya dan didilemparkan ke tempatnya].     

[11]  [Muttafaqun ‘alaih adalah keterangan tentang suatu hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhoriy dan Al-Imam Muslim (dari shahabat yang sama), sebagaimana disebutkan dalam “Asy-Syarhul Mukhatshor ‘ala Bulughul Marom” (Juz 1/hal. 4)].

[12]  [HR. Al-Bukhoriy (no. 7372) dan Muslim (no. 19)]

[13]  Jin dikatakan pula sebagai manusia, sebagaimana dalam “Shohih Al-Bukhoriy” (no. 4714), berkata Ibnu Mas’ud semoga Alloh meridhoinya: Adalah manusia dari kalangan manusia beribadah kepada manusia dari kalangan jin. Jin masuk Islam dan mereka berpegang teguh dengan agama mereka.

[14]  [no. 523 dan diriwayatkan pula oleh Al-Imam Ahmad dalam “Musdnadnya” (no. 9326)]

[15]  [HR. Al-Bukhoriy (no. 7288) dan Muslim (no. 1337)].

[16]  [HR. Al-Bukhoriy (no. 2856) dan Muslim (no. 30)].

[17] [HR. Al-Bukhoriy (no. 5950) dan Muslim (no. 2109)].

[18]  [no. 2086 dan 2238].

[19] [HR. Al-Bukhoriy (no. 5954) dan Muslim (no. 2107)].

[20] [HR. Al-Bukhoriy (no. 5953) dan Muslim (no. 2111)].

[21] [Ini adalah pengertian ibadah yang paling bagus, sebagaimana yang dikemukakan oleh para ulama’, dan pengertian ini dikemukakan oleh Syaikhul Islam Abul ‘Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Taimiyyah semoga Alloh merahmatinya sebagaimana dalam kitabnya “Al-‘Ubudiyyah” (Juz 1/hal. 3).  

[22] [HR. Al-Bukhoriy (no. 1145) dan Muslim (no. 758)].  

[23]  [Dalil-dalil tersebut adalah sebagai bantahan terhadap orang yang berkeyakinan bahwa Alloh ada di mana-mana, atau keyakinan lain bahwa Alloh ada di dalam hati setiap hamba. Ada suatu kisah di Darul Hadits Dammaj ketika ada seorang penuntut ilmu dari China datang ke Dammaj untuk menuntut ilmu, maka ketika pada pelajaran umum (antara Maghrib dan Isya’) Asy-Syaikh An-Nashih Al-Amin bertanya kepada saudara kita tersebut: Dimana Alloh? Beliau pun dengan cepat menjawab: Alloh ada di hatiku , sambil memberi isyarat ke dadanya!. Kemudian Syaikhuna dengan kelemah-lembutannya langsung memberinya pengarahan dan mengatakan kepada salah seorang pengajar untuk mengajari saudara kita tersebut dengan kitab “Al-Mabadi’ul Mufiidah” ini, والحمد لله (segala puji bagi Alloh) saudara kita tersebut kemudian faham tentang “Aqidah Islamiyyah” yang benar]. 

[24] [Sunniy-Salafiy atau disebut pula Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah orang yang beramal dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah dan berpegang teguh dengannya. (Lihat Al-Wajiz: Juz 1/Hal. 29)]. 

[25]  [Mereka adalah Abu Bakr As-Shiddiq, Umar Ibnul Khoththob, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Tholib].

[26] [yaitu suatu ungkapan supaya benar-benar berpegang teguh dengannya (lihat “Jami’ul ‘Ulum wal Hikam” (Juz 28 hal. 23)].

[27]  [(no. 4609), Ibnu Majah (no. 44 dan 45), Ahmad (no. 17606, 17608, 17609) dan At-Tirmidzi (no. 2891) beliau berkata: Hadits ini adalah hadits hasan shohih].

[28] [HR. Al-Bukhoriy (no. 3340, 4712) Muslim (no. 501)]

[29] [HR. Al-Bukhoriy (no. 4712) dan Muslim (no. 501, 502)].

[30] [HR. Al-Bukhoriy (no. 5301, 6503, 6504, 6505) dan Muslim (no. 2042, 7592, 7593, 7594, 7597)].

[31]  Pada akhir ayat perkataan Alloh (تَعَالَى):

﴿وَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ﴾ [آل عمران: 131].

“Dan peliharalah diri kalian dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir”. (Ali Imron: 31). Dan perkataan-Nya (تَعَالَى):

﴿وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ﴾ [آل عمران: 133].

“Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Robb kalian dan kepada Surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa”. (Ali Imron: 133). Ini adalah dalil bahwa Jannah (Surga) dan Nar (Neraka) keduanya telah ada sekarang.

[32] [Berkata Al-Imam Ibnul Qoyyim semoga Alloh merahmatinya: Ath-Thoghut sangat banyak dan pemimpin (pentolan)nya ada 5 (lima): Iblis semoga Alloh melaknatnya, orang yang disembah dan dia ridho, orang yang mengajak manusia untuk menyembahnya, orang yang mengaku mengetahui ilmu ghoib, dan orang yang berhukum dengan hukum yang bukan hukum Alloh”].

 

[33] [Tauhid Ar-Rububiyyah adalah mengesakan Alloh dalam perbuatan-perbuatan-Nya. (Lihat “Ushulul Iman“: Juz 1/Hal. 15)].

[34] [Tauhid Al-Uluhiyyah adalah mengesakan Alloh (تَعَالَى) dalam peribadahan hamba. Tauhid ini dinamakan pula tauhid ibadah. (Lihat Al-Wajiz fii ‘Aqidahis Salafish Shalih Ahlis Sunnah wal Jama’ah: Juz 1/Hal. 38)].

[35] [Tauhid Al-Asma’ wash Shifat adalah mengesakan Alloh dalam Nama-nama dan Sifat-sifat-Nya, yang Alloh tetapkan untuk diri-Nya dan yang ditetapkan Rosul-Nya (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) untuk-Nya. (Lihat “Ushulul Iman”: Juz 1/Hal. 95)].

[36] [Semua surat terdapat ayat (Basmalah) ini kecuali surat At-Taubah]. 

[37] Penamaan tauhid dengan kebaikan adalah sesuai dengan hadits Abdulloh bin ‘Amr semoga Alloh meridhoinya sanadnya bersambung sampai kepada Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) yang diriwayatkan oleh At-Tirmidziy dan Ibnu Majah dan dia adalah hadits shohih.

                Dan penamaan syirik  dengan kejelekan adalah pada perkataan Alloh (تَعَالَى):

﴿بَلَى مَنْ كَسَبَ سَيِّئَةً وَأَحَاطَتْ بِهِ خَطِيئَتُهُ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ﴾

“(Bukan demikian) yang benar: Barangsiapa berbuat dosa dan dia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”. [(Al-Baqaroh: 81)]. Berkata Mujahid dan Abu Wail dan selain keduanya –sebagaimana dalam Tafsir Ibnu Jarir ketika menafsirkan ayat tersebut-: Kejekan yang disebutkan pada ayat tersebut dia adalah syirik. Pada ayat ini adalah penjelasan terhadap kebodohan dan kesesatan Khawarij dalam pendalilan semisal ayat ini atas kafirnya pelaku ma’siat dari kalangan kaum muslim.

[38] [(An-Nisa’: 116)].

[39] [HR. Ahmad dalam “Musnadnya” no. 13245].

[40] [(no. 279)].

[41]  Pada cetakan pertama dari tulisan ini terdapat kesalahan  ketik yang sangat fatal tertulis “rukun Islam ada 4 (empat)…” yang seharusnya ada 5 (lima), dan kami bersyukur dengan kesalahan tersebut dapat diketahui adanya maling yang menjiblak terjemahan kami, sampai kami mendapati ada suatu terjemahan yang sudah dicetak dan gaya bahasanya hampir sama dengan terjemahan kami, dan bukti terkuat yang kami dapati pada terjemahan tersebut dikutip pula kesalahan yang ada pada terjemahan kami “rukun Islam ada 4 (empat)” semoga Alloh tidak memberkahi si maling tersebut .  

[42] [HR. Al-Bukhoriy (no. 8) dan Muslim (no. 122).

[43] HR. Al-Bukhoriy (no. 9) dan Muslim (no. 161 dan 162).

[44] [Dan akan datang pula pada (no. 28)].

[45] [HR. Al-Bukhoriy (no. 17 dan 3784) dan Muslim (no. 245)].

[46]  [(no. 186)].

[47] [HR. Al-Bukhoriy (no. 50 dan 4777) HR. Muslim (no. 102)].

[48]  Tidak ada perbedaan dalam hukum antara orang yang mencela Nabi kita Muhammad (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) atau mencela selainnya dari kalangan para nabi dan para rosul. Atau mencela malaikat dari kalangan para malaikat, atau memusuhi mereka atau memusuhi satu malaikat dari para malaikat, dan dalilnya perkataan Alloh (تَعَالَى):

﴿اللَّهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا وَمِنَ النَّاسِ [الحج: 75].

“Alloh memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia”. (Al-Hajj: 75).

                Dan perkataan-Nya (تَعَالَى):

﴿لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ﴾ [البقرة: 285].

“Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rosul-rosul-Nya”. (Al-Baqaroh: 285).

                Dan perkataan-Nya (تَعَالَى):

﴿قُولُوا آَمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ (136) [البقرة: 136] .

“Katakanlah (hai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Alloh dan apa yang diturunkan kepada Kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrohim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Robbnya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. (Al-Baqaroh: 136).

                Dan perkataan-Nya (تَعَالَى):

﴿مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِلَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللَّهَ عَدُوٌّ لِلْكَافِرِينَ [البقرة: 98].

“Barang siapa yang menjadi musuh Alloh, malaikat-malaikat-Nya, rosul-rosul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Alloh adalah musuh orang-orang kafir”. (Al-Baqaroh: 98).

[49] [Adapun pada cetakan pertama dengan halaman yang sama (hal. 21, no. 30) penulis mengatakan hadits tersebut adalah hasan].

[50]  [Diantara keluarga Fir’aun yang beriman adalah istrinya sendiri (Asiyah semoga Alloh meridhoinya) sebagaimana Alloh sebutkan kemuliannya dalam surat “At-Tahrim” ayat ke 11 (sebelas)].

[51]  [HR. At-Tirmidzi (no. 2478) dan beliau berkata: Ini adalah hadits hasan ghorib, Ibnu Majah (no. 4408), dan Ahmad (no. 463)].

[52] [(HR. Al-Bukhoriy (no. 1372)].

[53] [(HR. Al-Bukhoriy (no. 8320) dan Muslim (no. 1353)].

[54] [(no. 19038)].

[55]  [HR. Al-Bukhoriy (no. 4736) dan Muslim (no. 1466)].

[56] Hadits ini adalah shohih dari Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ), aku tidak berpendapat bahwa kritikan ini tidak sempurna, dan telah dinukil oleh Al-Imam Muslim dalam “Tamyiis” Telah sepakat bahwa Hammad bin Salamah adalah orang yang lebih terpercaya dari Tsabit. Berkata Ibnu Ma’in: Barang siapa yang menyelisihi Hammad bin Salamah dari Tsabit, maka perkataan yang diambil adalah perkataan Hammad. Dan pada hadits tersebut pula penjelasan terhadap perkataan Alloh (عَزَّ وَجَلَّ):

﴿يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ [آل عمران: 106]

“Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram”. (Dua ayat dari surat Ali Imron: 106-107).    

[57] Pada ayat tersebut terdapat keutamaan surat yang agung ini, yang dia mengimbangi sepertiga Al-Qur’an sebagaimana dalam “Shohih Al-Bukhoriy” dari hadits Abu Sa’id Al-Khudriy, dalam “Shohih Muslim” dari hadits Abu Huroiroh.

[58] [(no. 1118)].

[59] Dan sungguh telah kami sebutkan tentang nama-nama dan sifat-sifat Alloh yang Indah, yang telah Alloh mudahkan kami menyebutkannya dengan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah pada akhir kitab ini.

[60] [(no. 4697 dan 7379)].

[61]  [(no. 7666)].

[62]  [(no. 4590)].

[63] Di dalam hadits ini terdapat penjelasan bahwa mereka yang bertawasul kepada Alloh dengan doanya makhluk yang paling mulia (Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ)) dan mereka tidak duduk di rumah mereka seraya berkata: Aku memohon kepada-Mu Ya Alloh dengan kedudukan Nabi-Mu, atau dengan hak Nabi-Mu”. Kalau seandainya hal itu disyariatkan niscaya mereka (para shohabat) akan melakukannya semasa hidup beliau ((صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ)). Akan tetapi kenyataannya tidak ada seorangpun dari mereka semasa hidup beliau dan tidak pula setelah wafatnya beliau (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ). Umar bin Al-Khoththob telah meminta hujan  setelah wafatnya Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) dan meminta Al-Abbas untuk memohon kepada Alloh agar Alloh merunkan hujan untuk mereka. Sebab Al-Abbas adalah orang tua yang sholih sebagaimana di jelaskan dalam “Fathul Bariy” (Juz 3/Hal. 150). Al-Abbas berdoa kepada Alloh. Kalau seandainya mereka bertawasul dengan kedudukannya niscaya mereka juga akan bertawasul dengan kedudukan Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) ketika beliau masih hidup, beliau jelas lebih mulia, namun kenyataannya mereka tidak melakukakannya.

                Dan Mu’awiyah juga telah meminta hujan dan berkata: “Ya Alloh, sesungguhnya kami meminya syafaat kepada Engkau pada hari ini dengan Yazid bin Al-Aswad Al-Jasriy. Wahai Yazid! Angkatlah tanganmu berdoalah kepada Alloh! Maka Yazid pun mengangkat kedua tangannya dan orang-orang pun mengangkat tangan-tangan mereka, kemudian Alloh pun menurunkan hujan kepada mereka. Hampir orang-orang tidak kuasa untuk kembali ke rumah-rumah mereka. (HR. Ibnu Asyakir (65/112-113) dengan sanad shohih. Lihat “At-Tawasul” karya Al-Allamah Al-Albaniy semoga Alloh merahmatinya (hal. 45).

[64]  [Berkata Syaikhul Islam dalam “Al-Fatawa’” (Juz. 18/ Hal. 82): (Ilmu bathin)yang mereka dakwahkan mengandung pengkufuran kepada Alloh, malaikat-malakat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rosul-rosul-Nya serta hari akhir, bahkan dakwah mereka itu mencakup segala macam kekufuran, akan tetapi masing-masing mereka memiliki tingkatan-tingkatan yang tidak sama dalam kekufuran, karena pada mereka ada 7 (tujuh) thobaqat (tingkatan/kelas), setiap tingkatan mengajak manusia sesuai dengan keberadaan jauh dan dekatnya mereka dari agama. Mereka memiliki gelar-gelar dan tingkatan-tingkatan yang diserap dari mazhab orang-orang Majusi”.

[65]  [Berkata Asy-Syaikh Kholil Harros semoga Alloh merahmatinya dalam “Syarhu Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah” (Hal. 225): Telah terkenal bahwa Rofidhoh semoga Alloh membinasakan mereka, mereka mencela para shohabat semoga Alloh meridhoi mereka dan melaknat para shohabat dan adakalanya mereka mengkafirkan para shohabat atau mengkafirkan sebagian shohabat. Dan yang mendominasi, mereka mencela kebanyakan shohabat dan khulafa’ [Abu Bakar, Umar dan Utsman], mereka ghuluw (melampui batas) terhadap Ali dan anak cucunya, dan mereka meyakini bahwa Ali dan anak cucunya memiliki Uluhiyyah [makna Uluhiyyah lihat pada pembagian tauhid ada 3 (tiga)].

[66]  [Al-Jahmiyyah adalah penisbatan kepada Jahm bin Shofwan At-Tirmidziy pencetus fitnah dan kesesatan. Mereka (Al-Jahmiyyah) melakukan peniadaan nama-nama dan sifat-sifat Alloh, dan Jahmiyyah ini mencakup atas semua kelompok penafian (peniadaan nama-nama dan sifat-sifat bagi Alloh), baik dari kalangan filsafah, mu’tazilah, asy’ariyyah, dan qaromithah bathiniyyah. (lihat “Syarhu Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah” Hal. 219)].

[67]  [Sufiy ghuluw yang ada di Indonesia sangat banyak kelompoknya, ada dari mereka membagi Islam ada tingkatan; tingkatan ma’rifah dan hakikah, ada pula dari mereka mengaku mewarisi ilmu laduni dari Nabi Khidhir (عليه السلام) atau mengaku bertemu dengannya atau mengaku sebagai muridnya, tentu bagi orang yang berakal akan bertanya-tanya: Bagaimana mungkin bisa belajar dengan orang sudah meninggal? Atau pertanyaan dalam bentuk pengingkaran: Nabi Musa saja termasuk dari nabi dan rosul pilihan sudah tidak lolos seleksi menjadi muridnya [sebagaimana dalam surat “Al-Kahfi“] lalu bagaimana kiranya orang yang tidak pernah sholat atau orang tidak tahu cata cara sholat yang pendusta dan penipu semacam orang-orang sufiy itu, maka sangat dan paling mustahil dan tidak masuk akal kalau mereka diterima sebagai murid oleh Nabi Khidhir?!].

                Kami sengaja tidak menjelaskan 4 (empat) kelompok tersebut secara mendeteil, karena sudah cukup sebagai gambaran dengan penjelasan global dari Syaikhul Islam tentang al-bathiniyyah, yang tingkatan-tingakat mereka memiliki keterkaitan satu dengan yang lainnya,  الله أعلم(hanya Alloh yang paling tahu).

[68]  [Lihat penjelasan dua kata tersebut pada hadits Abu Huroiroh].

[69] [Dalam suatu riwayat …… setiap kali hendak wudhu. Tentang permasalah siwak ini silahkan membaca tulisan kami “Ahkamus Siwak” atau tulisan kami yang berbahasa Indonesia “Siwak Pembersih Mulut yang Diridhoi Alloh“].

[70]  [Sebelum perkataan tersebut beliau berkata: “Kalaulah agama ini (di bangun di atas) akal maka lebih pantasnya untuk diusap adalah bawah sepatu dari pada atasnya” (Lihat “Ash-Shahih Al-Musnad” Juz. 2/Hal. 53-54, no. 967)].

[71] [Tentang permasalahan ini silahkan baca tulisan Syaikh kami (penulis) “Ahkamut Tayammum“].

[72]  Hadits ini adalah penetapan tentang adanya mizan (timbangan amalan) dan dia berat dengan kebaikan.

[73] [Selesai diterjemahkan pada hari Ahad 15/Rabiul Awwal/1431 H. selepas zhuhur di Asrama Penuntut Ilmu Darul Hadits Dammaj-Sho’dah-Yaman, والحمد لله )segala puji bagi Alloh).

﴿إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ يَهْدِيهِمْ رَبُّهُمْ بِإِيمَانِهِمْ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ (9) دَعْوَاهُمْ فِيهَا سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلَامٌ وَآَخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (10) [يونس/9، 10]  

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal sholeh, mereka diberi petunjuk oleh Robb mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam Jannah yang penuh kenikmatan. Do’a mereka di dalamnya Ialah: “Maha Suci Engkau Ya Alloh”, dan salam penghormatan mereka adalah: “Salam”. dan penutup doa mereka adalah: “Segala puji bagi Alloh Robb semesata alam“. (Yunus: 9-10)].