“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

Archive for the ‘Manhaj Ahlus Sunnah’ Category

Hukum Meminta – Minta & Bahayanya

Minta Minta

Ditulis oleh : Abu Ubaid Fadhl bin Muhammad Arsyad Thalib 

(Afahullohu wa walidaihi)

بسم الله الرحمن الرحيم

 

الحمد لله حمدا مباركا فيه كما يحب ربنا و يرضى و أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له و أشهد أن محمدا عبده و رسوله
:أما بعد

Pada beberapa hari yang lalu sebagian ikhwah menyampaikan pada ana suatu risalah (sms), yang dia mengharap agar ana menjawabnya. Dan nash risalah tersebut sebagai berikut:

Bismillah, Assalaamu’alaikum… Akhi kaifa haluk , ‘Afwan ana mau minta tolong kalau bisa tanyakan sama Ustadz fadly : ceritakan begini , tadi ana pergi ta`lim pelajaran `umdatul-ahkam, sebelum dimulai Ustadz Abu Juhaifah membawakan dalil tentang bolehnya meminta untuk da`wah (proposal), beliau berdalilkan dengan dua hadits
Hadits Pertama riwayat muslim (ana lupa siapa sahabatnya) di mana Rasulullah memerintahkan panglimanya meminta jizyah pada orang orang kafir kalau tidak mau masuk islam, kalau menolak diperangi .
Hadits Kedua : hadits Sahl bin Sa`ad di mana Rasulullah meminta dibuatkan minbar, Cuma itu saja yang ana bisa tangkap . tolong jawabannya di email ana saja . Barokallahu fiik wa jazakallahu khoir.

Demikian isi risalah tersebut melalui sms. Maka saya katakan dengan pertolongan dan izin Allah:

Wa’alaikum salaam warohmatullohi wa barokaatuh, sebelum ana menjawab pertanyaan ini, mari kita sedikit mengurai permasalahan minta minta (mengemis) dalam agama!!!

Hukum Meminta-Minta

Al-Imam Ibnu Al-Qoththon -rohimahulloh- telah menukilkan al-ijma’ (kesepakatan ulama’) atas haramnya meminta minta. Sebagaimana dalam bukunya Al-Iqnaa` jilid 2 hal. 397 cetakan dar Al-Kutub Al-`ilmiyyah.

Berkata Asy-syaikh Muqbil bin Hady –rohimahulloh- tentang penggalangan dana (تبرعات )

هذه ليست من سمات أهل السنة

“Perkara ini bukanlah dari ciri-ciri Ahlussunnah”

(tuhfatul-mujiib dibawah pertanyaan no 62)

Adapun dalil permasalahan ini adalah sebagai berikut:

عن عبد الله بن عمر رضي الله عنه قال: قال النبي صلى الله عليه و سلم ( ما يزال الرجل يسأل الناس حتى يأتي يوم القيامة ليس في وجهه مزعة لحم )

Dari ibnu `umar beliau berkata Rasulullah telah bersabda: “Seseorang akan terus-menerus meminta minta sampai dia datang di hari kiamat sedang kan tiada pada wajahnya sepotong dagingpun”  hadits riwayat Al- Bukhory dan Muslim (lebih…)

Setiap Kebid’ahan Adalah Buruk

Dan Alloh ta’ala telah menjadikan ahli hadits sebagai tiang utama syariat, dan dengan perantaraan merekalah Alloh meruntuhkan setiap bid’ah yang buruk (1).  (lebih…)

Wajib Bagi Umat Ini Untuk Mengikatkan Diri Dengan Para Ulama

 
 

يسم الله الرحمن الرحيم

Memang, Wajib bagi umat ini mendekatkan diri dengan para ulama Alloh ta’ala berfirman:

 يا أيها الذين آمنوا أطيعوا الله و أطيعوا الرسول و أولي الأمر منكم فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله و الرسول إن كنتم تؤمنون الله و اليوم الآخر ذلك خير و أحسن تأويلا   –    النساء : ٥٩   

“Wahai orang yang beriman taatilah Alloh dan taatilah Rosul dan para pemegang urusan di antara kalian, jika kalian berselisih pendapat dalam suatu perkara maka kembalikanlah pada Allah dan Rosul jka memang kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih baik dan lebih bagus kesudahannya.”  

(lebih…)

KEISTIMEWAAN ISLAM

BAB KEISTIMEWAAN ISLAM

Perkataan Allah Ta’ala:

(الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِإِثْمٍ ۙ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ)

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Aku cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagi kalian.” (Al-Maidah: 3).

Dan perkataan-Nya Ta’ala:

(قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي شَكٍّ مِنْ دِينِي فَلَا أَعْبُدُ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَٰكِنْ أَعْبُدُ اللَّهَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ)

“Katakanlah: Wahai manusia, jika keberadaan kalian di dalam keraguan tentang agamaku, maka sekali-kali aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah selain Allah, akan tetapi aku hanya menyembah Allah yang Dia akan mematikan kalian.” (Yunus: 104).

(lebih…)

Metode Orang-Orang Yang Mengikuti Dalil Dalam Menyelisihi Orang-Orang Yang Tidak Berdalil

minhajul-anbiya

PENGANTAR PENULIS

ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ
ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﺣﻤﺪﺍ ﻛﺜﻴﺮﺍ ﻣﺒﺎﺭﻛﺎ ﻓﻴﻪ ﻛﻤﺎ ﻳﺤﺐ ﺭﺑﻨﺎ ﻭﻳﺮﺿﻰ , ﻭﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻣﺤﻤﺪﺍ ﻋﺒﺪﻩ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ . ﺃﻣﺎ ﺑﻌﺪ:

Tulisan ini merupakan salah satu dari tulisan kami yang berjudul “MINHAJUT TABI’IN FII MUKHALAFATIL MUQALLIDIN” yang kemudian saudara kami Al-Ustadz Abu Zakariya Harits Al-Jabaliy Al-Jawiy Hafizhahullah menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia, semoga Allah membalasnya dengan kebaikan dan menjadikan kami dan beliau selalu di atas As-Sunnah dan istiqamah di atasnya.

ﻭﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ

Ditulis oleh hamba yang faqir atas ampunan Robbnya
Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir Al-MulkiyDi Darul Hadits Dammaj-Yaman.

******

(lebih…)

Syaikh Rabi’ Memiliki Andil dalam kesesatan Muhammad Al-Imam

syaikh-rabi-andil-dalam-kesesatan-muhammad-al-imam

((ذكروا عن الشيخ ربيع هداه الله كما نقل عنه المفتون حسن باجبع: أن محمد الإمام إخواني خبيث أخبث من الإخوان المسلمين))

Mereka menyebut Syaikh Rabi’ semoga Allah memberi petunjuk kepadanya, sebagaimana nukilan dari seorang maftuun (orang  yang  terfitnah), Hasan Bajaba’ : bahwa Muhammad Al Imam seorang ikhwaanii yang buruk, lebih buruk daripada ikhwanul Muslimiin.

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه.  أما بعد

Sungguh aku melihat percakapan sebagian anggota hizbi Al ‘Adni dalam masalah ini, maka aku melihat adanya ta’liq yang sedikit faidahnya.

Bahwa cara Muhammad Al Imam tidak pernah berubah sejak zaman  Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah ta’ala, kecuali terkadang menampakkan apa yang dia sembunyikan.

Dan ahlus sunnah mereka bermuamalah dengannya, dengan thoriqoh salafiyyah yang benar dalam keadaan ini. Maka dari Umar bin Khattab radhiyallahu anhu berkata : (lebih…)

Seburuk-buruk Agama dan Sejelek-jelek Ahli Bid’ah

seburuhburuk-agama-dan-sejelek-jelek-ahli-bidah

Dalam kitab Al Mujaalasah dan Jawaahirul Ilmi karya Ad Diinawari

عبد الله بن سبأ وأصحابه ادعوا الربوبية لعلي بن أبي طالب رضي الله عنه رقم    1102

فقال: حَدَّثَنَا حَدَّثَنَا أَحْمَدُ ، نَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُسْلِمٍ ؛ قَالَ : مَا نَعْلَمُ فِي أَهْلِ الْبِدَعِ وَالْأَهْوَاءِ قَوْمًا أَضْعَفَ عُقُولًا وَلَا أَكْثَرَ اخْتِلَافًا وَتَخْلِيطًا مِنَ الرَّافِضَةِ.

Abdullah bin Saba’ dan para pengikutnya mengklaim ke tuhanan atas Ali bin Abi Thalib radhiyallahu. Maka beliau berkata : Haddatsanaa Ahmad. Anba_anaa Abdullah bin Muslim, ia berkata : “Kami tidak pernah mengetahui dikalangan pelaku bid’ah dan pengikut hawa nafsu, suatu kaum yang lebih lemah akalnya dan lebih banyak perselisihan dan campur aduknya, dari pada Rafidhah”.

Dan itu dikarenakan kami tidak mengetahui dari kalangan ahli hawa dan ahli bid’ah, suatu kaum yang mengaku ketuhanan bagi seorang manusia, selain mereka.

Dan dikarenakan Abdullah bin Saba’ dan pengikutnya mengklaim Ruhuubiyyah untuk Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, lalu beliau membakar mereka dengan api, dan Ali radhiyallahu anhu berkata : “Tatkala aku melihat suatu perkara adalah kemungkaran aku nyalakan api dan aku memanggil Qunbur (pembantu beliau).” (lebih…)