“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

Archive for the ‘Ibadah’ Category

Metode Orang-Orang Yang Mengikuti Dalil Dalam Menyelisihi Orang-Orang Yang Tidak Berdalil

minhajul-anbiya

PENGANTAR PENULIS

ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ
ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﺣﻤﺪﺍ ﻛﺜﻴﺮﺍ ﻣﺒﺎﺭﻛﺎ ﻓﻴﻪ ﻛﻤﺎ ﻳﺤﺐ ﺭﺑﻨﺎ ﻭﻳﺮﺿﻰ , ﻭﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻣﺤﻤﺪﺍ ﻋﺒﺪﻩ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ . ﺃﻣﺎ ﺑﻌﺪ:

Tulisan ini merupakan salah satu dari tulisan kami yang berjudul “MINHAJUT TABI’IN FII MUKHALAFATIL MUQALLIDIN” yang kemudian saudara kami Al-Ustadz Abu Zakariya Harits Al-Jabaliy Al-Jawiy Hafizhahullah menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia, semoga Allah membalasnya dengan kebaikan dan menjadikan kami dan beliau selalu di atas As-Sunnah dan istiqamah di atasnya.

ﻭﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ

Ditulis oleh hamba yang faqir atas ampunan Robbnya
Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir Al-MulkiyDi Darul Hadits Dammaj-Yaman.

******

(lebih…)

Kesempurnaan Islam

kesempurnaan-islam

Dari Kitab Al Adillah Ar Radhiyyah fii bayaani haqiiqati dimuqraathiyyah.

KESEMPURNAAN ISLAM

Hak Allah atas hamba-hambanya.

Sungguh Allah telah menciptakan makhluk untuk tujuan beribadah kepadanya, Allah berfirman :

وَمَا خَلَقْتُ الجِنَّ وَالأِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ  الذريات:56

“Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia, melainkan untuk beribadah kepadaku.” QS: Adz-Dzariyat 56 

Dan Allah berfirman :

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ  النحل:36

“Dan sungguh telah Kami utus pada setiap ummat seorang rasul, hendaklah kalian menyembah Allah dan hindarilah thaghut.” QS : An-Nahl 36 (lebih…)

Bersumpah Dengan Selain Alloh

Bersumpah dengan selain Allah

بسم اللَّه الرحمن الرحيم

المقدمة : الحمد لله القائل: ﴿وَالضُّحَى * وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى﴾[الضحى: 1، 2]. والقائل: ﴿وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا * وَالْقَمَرِ إِذَا تَلَاهَا * وَالنَّهَارِ إِذَا جَلَّاهَا * وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَاهَا * وَالسَّمَاءِ وَمَا بَنَاهَا * وَالْأَرْضِ وَمَا طَحَاهَا * وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا * فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا * قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا﴾ [الشمس: 1-9].

Muqaddimah Segala puji bagi Allah yang mengatakan :”Demi waktu Dhuha.” “Dan demi malam apabila telah sunyi.” QS : Ad-Duha 1-2

Dan berfirman : “Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu”. QS: Asy-Syams 1-9

Dan shalawat serta salam atas Rasul dan Nabinya yang terpilih. Yang Allah azzawajalla berfirman kepadanya : (lebih…)

JUM’AT PAMUNGKAS dan Bantahan Para Ulama

JUM'AT PAMUNGKAS

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam dan shalawat serta shalawat tercurahkan kepada Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam, untuk keluarganya , shahabatnya dan yang mendukung nya, amma ba’du :

Adapun perkara yang disebut sebut dengan nama ~jum’at Pamungkas~ tidak ada asal-usulnya sama sekali dari wahyu Allah Ta’ala, dan semata-mata hanya bid’ah yang dibuat-buat yang tidak pernah Allah turunkan sama sekali bukti tentangnya, dan hanya para pemalsu dan pendusta yang membawakannya :

“Barang siapa yang melaksanakan shalat wajib lima waktu, siang malam, pada jum’at yang terakhir di bulan ramadhan, niscaya akan melunasi shalat yang kurang pada tahun tersebut”.

Dan Hadits ini telah dijelaskan oleh para ulama tentang ke dha’if an-nya, bahkan tentang ke palsuannya, dan bahwasanya hadits ini secara dusta mengatas namakan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Dan juga menyelisihi pokok landasan islam dan sunnah dalam ajakan untuk meninggalkan kebaikan-kebaikan dan perkara-perkara wajib yang lain.

Dan saya betul betul telah mendengarnya dari Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i tentang pengingkaran beliau dan vonis beliau mendustakan hadits tersebut.

Diantara komentar ulama tentang perkara ini : (lebih…)

Diantara Hukum-hukum Seputar Zakat

hukum hukum seputar zakat

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

TANYA:  Bolehkan kita menolak zakat yang diberikan kepada kita? Jika kita merasa masih mampu? (Pertanyaan dari Cianjur)

JAWAB: Boleh bagimu menolak zakat tersebut, dan yang lebih bagusnya kamu menerimanya lalu kamu berikan kepada orang lain yang lebih berhak menerimanya, Insya Alloh ini lebih menyenangkan hati orang yang mengeluarkan zakat tersebut, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam ketika didatangi oleh Salman Al-Farisiy lalu diberikan kepada beliau sedekah maka beliau menerimanya lalu beliau menyerahkan kepada para shohabatnya untuk memakannya dan beliau tidak memakan darinya karena beliau diharomkan untuk memakan sedekah, begitu pula kita yang memiliki kemampuan tentu tidak selayaknya bagi kita untuk memakan sedekah, dengan itu maka kita berikan sedekah tersebut kepada orang yang lebih layak baginya. (lebih…)

Peringatan Nisfu Sya’ban tidak disyareatkan

nisfu sya'ban tidak disyareatkan

((تحذير المسلمين من مشابهة الصوفية الضالين وتخصيص ليلة ويوم النصف من شعبان مالم يشرع في الدين))

Peringatan bagi kaum muslimin dari tasyabbuh dengan para sufi yang sesat, dan seputar pengkhususan untuk malam dan  hari dari setengah Sya’ban (Nisfu sya’ban) yang tidak disyari’atkan dalam agama.

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه  أما بعد 

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam dan shalat dan salam untuk rasulullah, keluarga dan shahabat dan yang mendukungnya. Amma ba’du :

Berapa banyak kita mendengar pada hari-hari ini orang-orang yang menyerukan seputar ~Nishfu Sya’ban~ dan mereka jadikan untuk Sya’ban sebuah pesona yang kau katakan adalah Lailatul Qadar, padahal tidak ada satupun yang benar dari Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam tentang hal ini, dan tidak ada perkara yang khusus untuk malam atau hari tersebut yang ma’ruf di kalangan shahabat.

Dan baru saja, banyak dari kalangan ahlus sunnah wal jama’ah yang terpengaruh dengan perkara ini, dikarenakan sebuah hadits yang di shahihkan sang alim Al Albani rahimahullah dengan segala jalurnya.

Dan yang benar adalah tidak ada yang shahih, dan jalur-jalurnya munkar dan dha’if, dan seperti ini tidak tidak bisa buat landasan.

Bertaqwalah kalian kepada Allah karena dan berhati- hatilah demi agama kalian, dan Ikhlaslah untuk Rabb kalian, dan ikutilah sunnah nabi kalian shallallahu alaihi wa sallam, dan hati hatilah kalian dari perkara yang baru dan mengekor kepada sufi yang sesat

Hadits yang disebutkan adalah dari Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu anhu dari Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda :

إن الله ليطلع في ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن

“Sesungguhnya Allah akan muncul pada malam ~nishfu Sya’ban~ dan mengampuni seluruh makhluk kecuali orang yang syirik atau yang bermusuhan.” (lebih…)

Dimana Posisi Muadzin ?

Muadzin

Ditulis oleh: Abu Turob Saif bin Hadhar al-Jawiy (Hafidzahullah)

Markiz Ahlussunnah – Bengkulu Utara, 3 Ramadhan 1434 H

******

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله ومن والاه أما بعد

Ada sebagian ikhwan menanyakan tentang posisi dan tempat muadzin ketika mengumandangkan adzan, maka inilah jawabannya, mudah-mudah memberi faedah bagi semua.

Mengumandangkan adzan di tempat yang tinggi (Risalah seperti ini pernah kami tunjukkan kepada Syaikh Yahya al-Hajuri, Syaikh Jamil Assulwi, dan Syaih Ahmad Al-Wasshoobi (Imam masjid di Dammaj) حفظهم الله, dan mereka menyetujuinya, hanya saja di Dammaj tidak bisa di terapkan karena faktor keamanan dll.)

Dalil – dalil atas perkara ini sebagai berikut :

Dalil pertama :

قال الإمام البخاري رحمه الله برقم: ( 1819 )- حدثنا عبيد الله بن إسماعيل عن أبي أسامة عن عبيد الله عن نافع عن ابن عمر والقاسم بن محمد عن عائشة رضي الله عنها : أن بلالا كان يؤذن بليل فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم ( كلوا واشربوا حتى يؤذن ابن أم مكتوم فإنه لا يؤذن حتى يطلع الفجر ) قال القاسم : ولم يكن بين أذانهما إلا أن يرقى ذا وينزل ذا .

Imam Bukhori رحمه الله meriwayatkan (1819) dengan sanadnya dari ‘Aisyah rodhialloohu ‘anha bahwa Bilal rodhialloohu ‘anhu mengumandangkan adzan dimalam hari, maka nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam mengatakan : “Silahkan makan dan minumlah kalian sampai beradzan Ibnu Ummi Maktum, karena dia tidaklah beradzan sehingga terbit fajar”. (lebih…)