“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

Hukum Gadai

Berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah dan ijma’ kaum muslimin, sistem hutang–piutang dengan gadai ini diperbolehkan dan disyariatkan.
Dalil di dalamAl-Qur’an, yaitu firman Allah:

ﻭَﺇِﻥ ﻛُﻨﺘُﻢْ ﻋَﻠَﻰٰ ﺳَﻔَﺮٍ ﻭَﻟَﻢْ ﺗَﺠِﺪُﻭﺍ ﻛَﺎﺗِﺒًﺎ ﻓَﺮِﻫَﺎﻥٌ ﻣَّﻘْﺒُﻮﺿَﺔٌ ۖ ﻓَﺈِﻥْ ﺃَﻣِﻦَ ﺑَﻌْﻀُﻜُﻢ ﺑَﻌْﻀًﺎ ﻓَﻠْﻴُﺆَﺩِّ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺍﺅْﺗُﻤِﻦَ ﺃَﻣَﺎﻧَﺘَﻪُ ﻭَﻟْﻴَﺘَّﻖِ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺭَﺑَّﻪُ ۗ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻜْﺘُﻤُﻮﺍ ﺍﻟﺸَّﻬَﺎﺩَﺓَ ۚ ﻭَﻣَﻦ ﻳَﻜْﺘُﻤْﻬَﺎ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﺁﺛِﻢٌ ﻗَﻠْﺒُﻪُ ۗ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑِﻤَﺎ ﺗَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ ﻋَﻠِﻴﻢٌ

“Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu’amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah Rabbnya dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan siapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya dan Allah Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. [Al-Baqarah : 283].  

Dibolehkannya Ar-Rahn, juga dapat ditunjukkan dengan amalan Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau pernah melakukan sistem gadai ini, sebagaimana dikisahkan Umul Mukminin A’isyah Radhiyallahu ‘anha.

ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺍﺷْﺘَﺮَﻯ ﻃَﻌَﺎﻣًﺎ ﻣِﻦْ ﻳَﻬُﻮﺩِﻱٍّ ﺇِﻟَﻰ ﺃَﺟَﻞٍ ﻭَﺭَﻫَﻨَﻪُ ﺩِﺭْﻋًﺎ ﻣِﻦْ ﺣَﺪِﻳﺪٍ

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membeli dari seorang yahudi bahan makanan dengan cara hutang dan menggadaikan baju besinya” [HR Al Bukhari no 2513 dan Muslim no. 1603]

Ada beberapa ketentuan dalam gadai setelah terjadinya serah terima yang berhubungan dengan pembiayaan (pemeliharaan), pertumbuhan barang gadai dan pemanfaatan serta jaminan pertanggung jawaban bila rusak atau hilang.

1. Pemegang Barang Gadai
Barang gadai tersebut berada ditangan pemberi pinjaman/ Murtahin selama masa perjanjian gadai tersebut, sebagaimana firman Allah:

ﻭَﺇِﻥ ﻛُﻨﺘُﻢْ ﻋَﻠَﻰٰ ﺳَﻔَﺮٍ ﻭَﻟَﻢْ ﺗَﺠِﺪُﻭﺍ ﻛَﺎﺗِﺒًﺎ ﻓَﺮِﻫَﺎﻥٌ ﻣَّﻘْﺒُﻮﺿَﺔٌ

“Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu’amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang).” [Al-Baqarah : 283]

Dan sabda beliau  shalallahu alihi wasallam : 

ﺍﻟﻈَّﻬْﺮُ ﻳُﺮْﻛَﺐُ ﺇِﺫَﺍ ﻛَﺎﻥَ ﻣَﺮْﻫُﻮﻧًﺎ ﻭَﻟَﺒَﻦُ ﺍﻟﺪَّﺭِّ ﻳُﺸْﺮَﺏُ ﺇِﺫَﺍ ﻛَﺎﻥَ ﻣَﺮْﻫُﻮﻧًﺎ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻳَﺮْﻛَﺐُ ﻭَﻳَﺸْﺮَﺏُ ﻧَﻔَﻘَﺘُﻪُ

“Hewan yang dikendarai dinaiki apabila digadaikan. Dan susu (dari hewan) diminum apabila hewannya digadaikan. Wajib bagi yang mengendarainya dan yang minum, (untuk) memberi nafkahnya.” [Hadits Shohih riwayat Al Tirmidzi]

2. Pembiayaan, Pemeliharaan, Pemanfaatan Barang Gadai.
Pada asalnya barang, biaya pemeliharaan dan manfaat barang yang digadaikan adalah milik orang yang menggadaikan (Rahin). Adapun (pemberi pinjaman/murtahin) , ia tidak boleh mengambil manfaat barang gadaian tersebut, kecuali bila barang tersebut berupa kendaraan atau hewan yang diambil air susunya, maka boleh menggunakan dan mengambil air susunya apabila ia memberikan nafkah (dalam arti pemeliharaan barang tersebut). Pemanfaatan barang gadai tesebut, tentunya sesuai dengan besarnya nafkah yang dikeluarkan dan memperhatikan keadilan. Hal ini di dasarkan sabda Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

ﺍﻟﻈَّﻬْﺮُ ﻳُﺮْﻛَﺐُ ﺇِﺫَﺍ ﻛَﺎﻥَ ﻣَﺮْﻫُﻮﻧًﺎ ﻭَﻟَﺒَﻦُ ﺍﻟﺪَّﺭِّ ﻳُﺸْﺮَﺏُ ﺇِﺫَﺍ ﻛَﺎﻥَ ﻣَﺮْﻫُﻮﻧًﺎ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻳَﺮْﻛَﺐُ ﻭَﻳَﺸْﺮَﺏُ ﻧَﻔَﻘَﺘُﻪُ

“Hewan yang dikendarai dinaiki apabila digadaikan dan susu (dari hewan) diminum apabila hewannya digadaikan. Wajib bagi yang mengendarainya dan yang minum, (untuk) memberi nafkahnya.”  [Hadits Shahih riwayat At-Tirmidzi]

Ulama sepakat bahwa biaya pemeliharaan barang gadai dibebankan kepada pemiliknya. Demikian juga pertumbuhan dan keuntungan barang tersebut juga menjadi miliknya, kecuali pada dua hal, yaitu kendaraan dan hewan yang memiliki air susu yang diperas oleh yang menerima gadai.

 

APABILA BARANG GADAI RUSAK / HILANG DI TANGAN PEMEGANG BARANG

Apabila barang gadai rusak atau hilang di tangan pemegang barang gadai tersebut, maka pemegang barang tidak menanggungnya, dan yang menanggung adalah pemilik barang (penggadai barang) itu sendiri, kecuali apabila ada unsur kesengajaan yang dilakukan oleh pemegang barang.
Hal ini didasari oleh sabda Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam yang telah lalu, yaitu : ”keuntungan dan kerugian adalah haknya (penggadai / pemilik barang)”.
Dan didasari pula karena barang yang ada di tangan pemegang adalah amanah, maka barang tersebut tidak boleh dimanfaatkan kecuali dengan seizin pemiliknya yang sah; sedangkan orang yang diberi amanah tidak menanggung kerusakan kecuali jika ada unsur kesengajaan.

Juga dikarenakan orang yang memegang amanah adalah orang yang berbuat baik kepada sesamanya sehingga tidak ada jalan menyalahkannya kalau dia tidak menyengaja.

Wallohu a’lam

Dari Kajian Minhajus Saalikin di  Masjid silale Ambon

Dimurojaah : Al ustadz Abu ‘Amr Ridwan Hafidzohulloh.

Sumber :   https://telegram.me/markiz_silale

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: