“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

photo_2017-11-08_22-33-50

Arti kata TASHFIYAH :
Tashfiyah / mensucikan kehidupan kaum muslimin dari noda-noda kesyirikan dalam berbagai bentuknya, memperingatkan dari bid’ah yang mungkar dan pemikiran-pemikiran batil yang menyusup ke dalam tubuh kaum muslimin, membersihkan sunnah nabi dari riwayat-riwayat dha’if dan palsu yang mengotori kemurnian islam dan menghambat kemajuan kaum muslimin demi menunaikan amanah ilmiyah seperti sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,

“Agama ini dibawa pada setiap penerusnya oleh orang-oang adilnya, mereka melenyapkan penyimpangan orang-orang yang melampau batas dan tipu daya para pengekor kebatilan serta menghilangkan takwilnya orang-orang jahil”.

Dari sini berarti dalam memperbaiki keadaan umat Islam kita tidak lepas dari dua amalan besar, yaitu :

Pertama: Membersihkan dan memurnikan Islam dari hal-hal yang mengaburkannya seperti bid’ah-bid’ah, khurafat, dan berbagai macam pemahaman-pemahaman yang menyeleweng. Inilah yang kita maksudkan dengan TASHFIYAH.

Kedua: Mendidik dan membina kaum Muslimin untuk meyakini dan mengamalkan Islam yang murni tersebut. Inilah yang dimaksudkan dengan TARBIYAH.

PENTINGNYA TASHFIYAH

Sesungguhnya Dien dibangun di atas ilmu dan amal, maka ketika ilmu tersebut tidak dalam keadaan jernih dan tidak bersih dari syubhat-syubhat dan bid’ah-bid’ah, bangunan Dien tersebut tidak seperti apa yang ada pada generasi pertamanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan hikmah-Nya menjaga ilmu ini dan memilihkan pula para pembawa-pembawa ilmu ini adalah orang-orang yang jujur dan adil yang selalu menjaga dan membersihkan ilmu tersebut dari kerancuan-kerancuan yang mengaburkannya.

Tujuan Allah mengutus para rasul adalah untuk menyampaikan kabar gembira dan memberi peringatan.

 Allah ta’ala berfirman:


ﻭﺃﺭﺳﻞَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺟﻤﻴﻊَ ﺍﻟﺮُّﺳﻞِ ﻣﺒﺸِّﺮﻳﻦَ ﻭﻣُﻨﺬﺭﻳﻦَ،

Dan Allah ta’ala berfirman

ﺭُﺳُﻠًﺎ ﻣُﺒَﺸِّﺮِﻳﻦَ ﻭَﻣُﻨﺬِﺭِﻳﻦَ ﻟِﺌﻠَّﺎ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺣُﺠَّﺔٌ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟﺮُّﺳُﻞِ ‏… ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ :165

(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu.(An-Nisaa’ : 165).

Makna membersihkan diri, bisa terapkan Pada Pembersihan shof/barisan ahlussunnah dari orang-orang yang merusak aqidah, dan merusak persatuan kaum muslimin dari Pemikiran, ahlak yang buruk yang bercokol pada barisan ahlussunnah. dengan tujuan agar Dakwah ini murni seperti diawal para salaf mendakwahkan Islam.

Metode At-tasfiyah dan At-Tarbiyyah sudah ada dan dipraktekkan oleh para nabi-nabi ‘alayhimussalam terdahulu.

Dalam sebuah riwayat. {Kisah Matahari Pernah Tertahan.(tidak terbenam}

” ﺇﻥ ﺍﻟﺸﻤﺲ ﻟﻢ ﺗﺤﺒﺲ ﻋﻠﻰ ﺑﺸﺮ ﺇﻻ ﻟﻴﻮﺷﻊ ﻟﻴﺎﻟﻲ ﺳﺎﺭ ﺇﻟﻰ ﺑﻴﺖ ﺍﻟﻤﻘﺪﺱ ” ﻭ ﻓﻲ ﺭﻭﺍﻳﺔ ” ﻏﺰﺍ ﻧﺒﻲ ﻣﻦ ﺍﻷﻧﺒﻴﺎﺀ، ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻘﻮﻣﻪ : ﻻ ﻳﺘﺒﻌﻨﻲ ﺭﺟﻞ ﻗﺪ ﻣﻠﻚ ﺑﻀﻊ ﺍﻣﺮﺃﺓ، ﻭ ﻫﻮ ﻳﺮﻳﺪ ﺃﻥ ﻳﺒﻨﻲ ﺑﻬﺎ، ﻭ ﻟﻤﺎ ﻳﺒﻦ ” ﺑﻬﺎ ” ، ﻭ ﻻ ﺁﺧﺮ ﻗﺪ ﺑﻨﻰ ﺑﻨﻴﺎﻧﺎ، ﻭ ﻟﻤﺎ ﻳﺮﻓﻊ ﺳﻘﻔﻬﺎ، ﻭ ﻻ ﺁﺧﺮ ﻗﺪ ﺍﺷﺘﺮﻯ ﻏﻨﻤﺎ ﺃﻭ ﺧﻠﻔﺎﺕ، ﻭ ﻫﻮ ﻣﻨﺘﻈﺮ ﻭﻻﺩﻫﺎ، ﻗﺎﻝ : ﻓﻐﺰﺍ، ﻓﺄﺩﻧﻰ ﻟﻠﻘﺮﻳﺔ ﺣﻴﻦ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﻌﺼﺮ، ﺃﻭ ﻗﺮﻳﺒﺎ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ، ” ﻭ ﻓﻲ ﺭﻭﺍﻳﺔ : ﻓﻠﻘﻲ ﺍﻟﻌﺪﻭ ﻋﻨﺪ ﻏﻴﺒﻮﺑﺔ ﺍﻟﺸﻤﺲ ” ، ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻠﺸﻤﺲ : ﺃﻧﺖ ﻣﺄﻣﻮﺭﺓ، ﻭ ﺃﻧﺎ ﻣﺄﻣﻮﺭ، ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﺣﺒﺴﻬﺎ ﻋﻠﻲ ﺷﻴﺌﺎ، ﻓﺤﺒﺴﺖ ﻋﻠﻴﻪ، ﺣﺘﻰ ﻓﺘﺢ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ، ” ﻓﻐﻨﻤﻮﺍ ﺍﻟﻐﻨﺎﺋﻢ ” ، ….
ﻫﺬﺍ ﺣﺪﻳﺚ ﺻﺤﻴﺢ ﺟﻠﻴﻞ ، ﻣﻤﺎ ﺣﻔﻈﻪ ﻟﻨﺎ ﺃﺑﻮ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻭ ﻟﻪ ﻋﻨﻪ ﺃﺭﺑﻊ ﻃﺮﻕ :
ﺍﻷﻭﻟﻰ : ﻗﺎﻝ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ ‏( 2 / 325 ‏) . ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺃﺳﻮﺩ ﺑﻦ ﻋﺎﻣﺮ ، ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ ﻋﻦ ﻫﺸﺎﻡ ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﺳﻴﺮﻳﻦ ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﻗﺎﻝ : ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Suatu ketika, seorang Nabi (Yusya bin Nun Alaihi Salam) berperang, kemudian ia berkata kepada kaumnya, ‘Janganlah ikut serta dalam peperanganku ini seseorang lelaki yang baru saja menikah dan ia hendak berhubungan dengan istrinya itu, jangan pula ikut serta dalam peperangan ini seorang yang tengah membangun rumah dan belum mengangkat atapnya, jangan pula seseorang yang membeli kambing atau onta yang sedang bunting tua yang ia menantikan kelahiran anak-anak ternaknya itu’.
Kemudian sang Nabi berangkat perang. Ketika ia telah dekat dengan sebuah desa pada waktu shalat ashar atau sudah dekat dengan itu, ia berkata kepada matahari ,

‘Sesungguhnya engkau diperintahkan dan saya pun juga diperintahkan.Ya Allah tahanlah jalan matahari itu di atas kami.Kemudian matahari itu tertahan (tertunda dari waktu terbenamnya) sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kemenangan kepada sang Nabi.

HR. Ahmad dalam Al-Musnad (2/325) dari Abu Hurairah. Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash Shhohih 202

 

Faedah:
apa-apa yang diperintahkan oleh Nabi tersebut agar 3 golongan manusia agar tidak ikut berjihad, alasannya dikhawatirkan 3 kelompok orang tersebut akan tidak fokus dalam berjihad karena masih memikirkan urusan dunianya masing-masing, bahkan bisa merusakkan barisan yang sudah terpilih untuk berjihad.

Dalam ayat lain dijelaskan
Alloh azza wa jalla berfirman:

ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﻓَﺼَﻞَ ﻃَﺎﻟُﻮﺕُ ﺑِﺎﻟْﺠُﻨُﻮﺩِ ﻗَﺎﻝَ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻣُﺒْﺘَﻠِﻴﻜُﻢ ﺑِﻨَﻬَﺮٍ ﻓَﻤَﻦ ﺷَﺮِﺏَ ﻣِﻨْﻪُ ﻓَﻠَﻴْﺲَ ﻣِﻨِّﻲ ﻭَﻣَﻦ ﻟَّﻢْ ﻳَﻄْﻌَﻤْﻪُ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻣِﻨِّﻲ ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﻦِ ﺍﻏْﺘَﺮَﻑَ ﻏُﺮْﻓَﺔً ﺑِﻴَﺪِﻩِ ۚ ﻓَﺸَﺮِﺑُﻮﺍ ﻣِﻨْﻪُ ﺇِﻟَّﺎ ﻗَﻠِﻴﻠًﺎ ﻣِّﻨْﻬُﻢْ ۚ ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺟَﺎﻭَﺯَﻩُ ﻫُﻮَ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻣَﻌَﻪُ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻟَﺎ ﻃَﺎﻗَﺔَ ﻟَﻨَﺎ ﺍﻟْﻴَﻮْﻡَ ﺑِﺠَﺎﻟُﻮﺕَ ﻭَﺟُﻨُﻮﺩِﻩِ ۚ ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﻈُﻨُّﻮﻥَ ﺃَﻧَّﻬُﻢ ﻣُّﻠَﺎﻗُﻮ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻛَﻢ ﻣِّﻦ ﻓِﺌَﺔٍ ﻗَﻠِﻴﻠَﺔٍ ﻏَﻠَﺒَﺖْ ﻓِﺌَﺔً ﻛَﺜِﻴﺮَﺓً ﺑِﺈِﺫْﻥِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ۗ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﻣَﻊَ ﺍﻟﺼَّﺎﺑِﺮِﻳﻦ’

Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata, “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barang siapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku.” Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata, “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.” Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Baqoroh 249)

Tashfiyah dalam bentuk lain disebut Tamayyuz (pembedaan diri) dengan golongan yang lain.
Ketika dia membedakan dirinya dengan ahli syrik, maka dia harus mengisi kehidupannya dengan Ilmu tauhid, begitupun ia membedakan diri dengan ahli bid’ah maka seharusnya dia mengisi hidupnya dengan belajar Sunnah yang shohih dan tidak bergabung dengan kelompok-kelompok bid’ah. dengan demikian keseimbangan dalam At-Tashfiyyah dan At-Tarbiyyah berjalan dengan semestinya.

Wallohul muwaafiq

Walhamdulillah


Faedah Markiz Silale Ambon:
13 shofar 1439

Sebuah uraian Ilmiyyah dari pembahasan Kitab “Irsyadhul Bariyyah ila intisaab assalafi”

Ditulis: Abu Muhammad Al-Ambooniy وفقه الله
dari Uraian Kajian Al-ustadz Abu ‘amr حفظه الله

🌐 https://telegram.me/markiz_silale

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: