“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

photo_2017-11-03_18-26-20

Imam dijadikan sebagai pemimpin dan wajib diikuti dalam shalat, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu :

ﻋَﻦْ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺃَﻧَّﻪُ ﻗَﺎﻝَ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺟُﻌِﻞَ ﺍﻟْﺈِﻣَﺎﻡُ ﻟِﻴُﺆْﺗَﻢَّ ﺑِﻪِ ﻓَﻠَﺎ ﺗَﺨْﺘَﻠِﻔُﻮﺍ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺭَﻛَﻊَ ﻓَﺎﺭْﻛَﻌُﻮﺍ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻗَﺎﻝَ ﺳَﻤِﻊَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟِﻤَﻦْ ﺣَﻤِﺪَﻩُ ﻓَﻘُﻮﻟُﻮﺍ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻟَﻚَ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺳَﺠَﺪَ ﻓَﺎﺳْﺠُﺪُﻭﺍ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺻَﻠَّﻰ ﺟَﺎﻟِﺴًﺎ ﻓَﺼَﻠُّﻮﺍ ﺟُﻠُﻮﺳًﺎ ﺃَﺟْﻤَﻌُﻮﻥَ

“Dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya imam hanya untuk diikuti, maka janganlah menyelisihnya. Apabila ia ruku’, maka ruku’lah. Dan bila ia mengatakan ‘sami’allahu liman hamidah’, maka katakanlah,’ Rabbana walakal hamdu’. Apabila ia sujud, maka sujudlah. Dan bila ia shalat dengan duduk, maka shalatlah dengan duduk semuanya”. [Muttafaqun ‘alaihi].

Kepala Dirubah menjadi Kepala Keledai bila mendahului Gerakan Imam

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

ﺃَﻣَﺎ ﻳَﺨْﺸَﻰ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﺃَﻭْ ﻟَﺎ ﻳَﺨْﺸَﻰ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﺇِﺫَﺍ ﺭَﻓَﻊَ ﺭَﺃْﺳَﻪُ ﻗَﺒْﻞَ ﺍﻟْﺈِﻣَﺎﻡِ ﺃَﻥْ ﻳَﺠْﻌَﻞَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺭَﺃْﺳَﻪُ ﺭَﺃْﺱَ ﺣِﻤَﺎﺭٍ ﺃَﻭْ ﻳَﺠْﻌَﻞَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺻُﻮﺭَﺗَﻪُ ﺻُﻮﺭَﺓَ ﺣِﻤَﺎﺭٍ

Tidak takutkah orang mengangkat kepalanya sebelum imam, Allâh ubah kepalanya menjadi kepala keledai ?! atau Allâh ubah bentuknya menjadi bentuk keledai ?[Dari Abu Huroiroh. HR. al-Bukhâri, hadits no: 691, dan Muslim, hadits no: 427. ]

Kewajiban mengikuti Imam

ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺟُﻌِﻞَ ﺍﻟْﺈِﻣَﺎﻡُ ﻟِﻴُﺆْﺗَﻢَّ ﺑِﻪِ، ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻛَﺒَّﺮَ ﻓَﻜَﺒِّﺮُﻭﺍ، ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺭَﻛَﻊَ ﻓَﺎﺭْﻛَﻌُﻮﺍ، ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻗَﺎﻝَ : ﺳَﻤِﻊَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻟِﻤَﻦْ ﺣَﻤِﺪَﻩُ، ﻓَﻘُﻮﻟُﻮﺍ : ﺍﻟﻠﻬُﻢَّ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻟَﻚَ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ، ﻭَﺇِﺫَﺍﺻَﻠَّﻰ ﻗَﺎﺋِﻤًﺎ، ﻓَﺼَﻠُّﻮﺍ ﻗِﻴَﺎﻣًﺎ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺻَﻠَّﻰ ﻗَﺎﻋِﺪًﺍ، ﻓَﺼَﻠُّﻮﺍ ﻗُﻌُﻮﺩًﺍ ﺃَﺟْﻤَﻌُﻮﻥَ

Sesungguhnya imam dijadikan agar diikuti, maka jika ia sudah bertakbir, maka bertakbirlah kalian. Jika ia sudah rukuk, maka rukuklah kalian. Jika ia sudah mengucapkan “sami’allâhu liman hamidah”, maka ucapkanlah “Rabbana lakal hamdu”. Jika ia shalat dengan berdiri, maka shalatlah kalian dengan berdiri. Dan jika ia shalat dengan duduk, maka shalatlah kalian dengan duduk semuanya.[ HR Muslim, hadits no. 417.]

Barâ’ bin ‘Âzib mengatakan, “Jika Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan ‘sami’allâhu liman hamidah’, kami masih tetap berdiri hingga kami melihat beliau benar-benar telah meletakkan wajahnya di tanah, baru kemudian kami mengikutinya.”[ HR. Muslim, hadits no: 474. ]

Mengucapkan “Aamiin”

Menjadi sebab terampuninya dosa apabila ucapan amin itu bersamaan dengan aminnya para malaikat. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ﺇِﺫَﺍ ﺃَﻣَّﻦَ ﺍﻹِﻣَﺎﻡُ ﻓَﺄَﻣِّﻨُﻮﺍ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻣَﻦْ ﻭَﺍﻓَﻖَ ﺗَﺄْﻣِﻴﻨُﻪُ ﺗَﺄْﻣِﻴﻦَ ﺍﻟْﻤَﻼَﺋِﻜَﺔِ ﻏُﻔِﺮَ ﻟَﻪُ ﻣَﺎ ﺗَﻘَﺪَّﻡَ ﻣِﻦْ ﺫَﻧْﺒِﻪِ

Apabila imam mengucapkan ‘âmîn’ maka ucapkanlah ‘âmîn’, karena siapa yang ucapan âmînnya bersamaan dengan ucapan âmîn para malaikat maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.[HR Bukhâri no. 111 dan Muslim 4/128)]

Para Ulama berpendapat tentang lafazh âmîn yang diperbolehkan adalah :
1. Lafazh yang disepakati kebolehannya dan sesuai dengan sunnah yaitu mengucapkan âmîn dengan dua lafazh; Pertama, âmîn ( ﺁﻣِﻴْﻦ) dengan memanjang huruf hamzah; dan kedua, amîn ( ﺃَﻣِﻴْﻦ) dengan tanpa memanjang huruf hamzah.
2. Lafazh yang dianggap sama dengan yang lafazh yang diperbolehkan yaitu: âmîn (ﺁﻣِﻴْﻦ) dengan memanjangkan hamzah ataupun tidak dengan disertai imâlah.

Bila menjadi Imam Maka Ringankanlah bacaan

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﺇِﺫَﺍ ﺻَﻠَّـﻰ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﻟِﻠﻨَّـﺎﺱِ ﻓَﻠْﻴُﺨَﻔِّﻒْ، ﻓَﺈِﻥَّ ﻓِﻴْﻬِﻢُ ﺍﻟﻀَّﻌِﻴْﻒَ ﻭَﺍﻟﺴَّﻘِﻴْﻢَ ﻭَﺍﻟْﻜَﺒِﻴْﺮَ، ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺻَﻠَّﻰ ﻟِﻨَﻔْﺴِﻪِ ﻓَﻠْﻴُﻄَﻮِّﻝْ ﻣَﺎ ﺷَﺎﺀَ .

“Jika salah seorang di antara kalian mengimami orang-orang, maka hendaklah ia meringankannya. Karena di antara mereka ada yang lemah, sakit, dan orang tua. Namun, jika dia shalat sendirian, maka dia boleh memperpanjang sesuka hatinya
Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/199 no. 703)], ini adalah lafazh darinya, Shahiih Muslim (I/341 no. 467)

Diriwayatkan dari Abu Mas’ud Al-Anshari, ia berkata, “Telah datang seorang lelaki menghadap Rasulullah Shallallohu ‘alayhi wa sallam ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, demi Allah aku telah mengakhirkan datang untuk shalat Subuh karena si Fulan memanjangkan shalat ketika (mengimami) kami’.”
Lalu Abu Mas’ud melanjutkan, “Aku tidak pernah melihat besarnya marah Nabi Shallallohu ‘alayhi wa sallam dalam memberi nasihat selain pada saat itu. Beliau pun bersabda :

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺇِﻥَّ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﻣُﻨَﻔِّﺮِﻳﻦَ ﻓَﻤَﻦْ ﺻَﻠَّﻰ ﺑِﺎﻟﻨَّﺎﺱِ ﻓَﻠْﻴُﻮﺟِﺰْ ، ﻓَﺈِﻥَّ ﻓِﻴﻬِﻢُ ﺍﻟﻀَّﻌِﻴﻒَ ﻭَﺍﻟْﻜَﺒِﻴﺮَ ﻭَﺫَﺍ ﺍﻟْﺤَﺎﺟَﺔِ

Wahai manusia, sesungguhnya sebagian kalian ada yang membuat orang lain lari. Barangsiapa mengimami shalat orang-orang, maka hendaklah ia mempersingkat, karena di antara mereka ada orang tua, orang lemah, dan orang yang sedang punya hajat’.(HR. Bukhari-Muslim)

Wallohu a’lam bish showaab

Walhamdulillah

Faidah dari Dars fiqh “Umdatul Ahkam”

Bab ” Al Imaamah”

Disampaikan : ustadz Abu Hasan Al Amboniy hafidzohullah 

https://telegram.me/markiz_silale

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: