“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

khalifah dan ulama

Al Fadhli Ibnu Robi’ bercerita tentang perintah Harun Ar Rosyid padanya untuk mencari ulama : “…… carikanlah untukku seseorang.” Maka saya berkata: Di daerah ini ada Al Fudhoil bin Iyadh. ”  Maka Al Harun Ar Rosyid berkata: “Marilah kita berangkat menemuinya.” Maka kami mendatangi beliau, ternyata beliau sedang berdiri sholat, beliau membaca suatu ayat dan mengulang-ulangnya. Harun berkata padaku: “Ketuklah pintu.” Maka aku mengetuk pintu.

Lalu Al Fudhoil bertanya: “Siapakah ini?” Maka aku berkata: “Penuhilah panggilan Amirul Mukminin.” Maka beliau menjawab: “Apa urusanku dengan Amirul Mukminin?” Maka aku berkata: “Maha Suci Alloh, apakah anda tidak punya kewajiban taat? Atau bukankah telah diriwayatkan dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda:  

ليس للمؤمن أن يذل نفسه

“Tidak boleh bagi seorang mukmin untuk menghinakan dirinya sendiri.”

Maka beliaupun turun lalu membuka pintu. Kemudian beliau naik ke bilik beliau, lalu memadamkan pelita, kemudian bersandarkan pada salah satu dinding rumah. Maka kami masuk, dan kami mulai menjulurkan tangan-tangan kami(untuk menjabat tangan Al Fudhoil), tapi telapak tangan Harun mendahului telapak tanganku mencapai tangan Al Fudhoil. Maka Al Fudhoil berkata: “Alangkah halusnya telapak tangan ini andaikata besok selamat dari siksaan Alloh ‘Azza wa Jalla.”

Maka aku berkata di dalam diriku: “Pasti beliau akan berbicara dengan pembicaraan orang yang bertaqwa, hati yang bertaqwa.” Maka Harun berkata pada beliau: ” Mulailah anda memberikan nasihat sebagaimana yang dimaksudkan oleh kedatangan kami, semoga Alloh merahmati anda.”

Maka Al Fudhoil berkata: ” Sesungguhnya Umar bin Abdil ‘Aziz manakala mulai memegang khilafah (kepemimpinan sebagai kholifah), beliau memanggil Salim bin Abdillah, Muhammad bin Ka’ b Al Qorozhiy, dan Rodja bin Haiwah. Lalu beliau berkata kepada mereka: “Sungguh saya telah diuji dengan bencana ini. Maka bermusyawarahlah dengan saya.” Beliau menilai khilafah adalah bencana, sementara engkau dan sahabatku menilainya sebagai kenikmatan.

Maka Salim bin Abdillah berkata pada Umar bin Abdil ‘Aziz : “Jika anda ingin selamat dari siksaan Alloh, maka berpuasalah dari dunia, dan hendaknya saat berbuka anda darinya adalah saat kematian.”

Dan Muhammad bin Ka’ab berkata kepada Umar bin Abdul ‘Aziz: “Jika anda ingin selamat dari siksaan Alloh, maka hendaknya orang mukmin yang tua itu bagaikan ayah anda, yang pertengahan dari mereka bagaikan saudara bagi anda, dan yang paling muda dari mereka bagaikan anak bagi anda. Lalu agungkanlah ayah anda, Mulia kalah saudara anda, dan sayangilah anak anda.”

Dan Roja bin Haiwah berkata pada Umar bin Abdil ‘Aziz : “Jika anda ingin selamat dari siksaan Alloh besok, maka cintailah untuk kaum muslimin perkara yang anda cintai untuk diri anda sendiri, dan bencilah untuk mereka perkara yang anda benci untuk diri anda sendiri, kemudian, matilah jika anda menghendaki itu.”

Dan Aku (Fudhoil) berkata padamu: “Maka sungguh aku mengkhawatirkan dirimu di puncak kekhawatiran pada hari di mana telapak-telapak kaki itu tergelincir (di atas titipan neraka). Semoga Alloh mengasihanimu. Maka apakah engkau disertai amalan semacam tadi? Atau siapakah orang yang bermusyawarah padamu dengan nasihat-nasihat semacam tadi? “

Maka Harun menangis keras hingga pingsan. Maka aku berkata pada Al Fudhoil: ” Bersikap lembutlah pada Amirul Mukminin, “Maka Al Fudhoil menjawab:  ‘Wahai Ibnu Robi’, engkau dan sahabatmu telah mematikannya, dan Akulah yang bersifat lembut padanya.”

Kemudian Harun Ar Rosyid tersadarkan, kemudian dia berkata pada Al Fudhoil: “Tambahilah saya, semoga Alloh menyayangi anda.”

Maka Al Fudhoil berkata: “Wahai Amirul Mukminin, telah sampai kabar padaku bahwasanya seorang pegawai Umar bin Abdul ‘Aziz mengeluh pada beliau. Maka Umar menulis suratnya: “Wahai saudaraku, aku mengingatkan engkau akan panjangnya masa begadang (tidak tidur) para penghuni Neraka, disertai kekekalan mereka selama-lamanya. Dan jangan nanti engkau dibawa dari sisi Alloh dan jadilah neraka sebagai tempat akhirmu dan terputuslah harapan.” Maka begitu membaca surat tadi, si pegawai tadi melintasi negri-negri sampai tiba di hadapan Umar bin Abdil ‘Aziz. Maka Umar bertanya padanya: “Apa yang menyebabkan engkau datang?” dia menjawab: “Hati saya telah lepas dengan sebab surat Anda. Saya tidak mau kembali ke wilayah kekuasaan saya sampai saya berjumpa Alloh ‘Azza Wajalla.”

Maka Harun menangis keras, kemudian dia berkata pada Al Fudhoil:  “Tambahilah saya, semoga Alloh menyayangi anda.”

Maka Al Fudhoil berkata:  “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Al ‘Abbas paman Nabi Al Mushthofa Shollallohu alaihi wasallam datang kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam seraya berkata: “Wahai Rosululloh, tunjukkanlah pada saya pemerintahan itu.”  Maka Nabi shollollohu alaihi wa sallam bersabda padanya:

إن الإمارة حسرة و ندامة يوم القيامة فإن استطعت أن لا يكون أميرا فافعل.

Sesungguhnya pemerintahan adalah penyesalan besar pada hari kiamat. Maka jika engkau mampu untuk tidak menjadi pemimpin maka lakukanlah.”

Maka Harun menangis keras, kemudian dia berkata pada Al Fudhoil:  “Tambahilah saya, semoga Alloh menyayangi Anda.”

Maka Al Fudhoil berkata:  “Wahai orang yang berwajah tampan, engkaulah orang yang akan ditanya oleh Alloh Azza wa Jalla tentang para makhluq ini semua pada hari kiamat. Maka jika engkau mampu untuk melindungi wajah yang tampan tadi dari Neraka, maka jangan sekali-kali engkau masuk di waktu pagi dan masuk di waktu petang dalam keadaan di dalam hatimu ada penipuan pada satu saja dari rakyatmu, karena Nabi shollollohu alaihi wa sallam bersabda:

من أصبح لهم غاشا لم يرح رائحة الجنة

“Barangsiapa masuk di waktu pagi dalam keadaan menipu kaum Muslimin, dia tidak akan mencium wanginya Surga.”

Lalu Harun menangis lagi.

Lalu Harun berkata:  “Apakah anda punya hutang?”

Al Fudhoil menjawab: “Iya, hutang pada Alloh, jangan sampai dia memeriksa dengan hutang tadi. Maka kecelakaanlah bagiku jika dia menanyaiku. Dan kecelakaanlah bagiku jika Dia memeriksaku dengan seksama. Dan kecelakaanlah bagiku jika Dia tidak memberiku ilham untuk beragumentasi.”

Maka Harun berkata: “Saya hanyalah memaksudkan hutang pada para hamba.” Maka Al Fudhoil menjawab: “Sesungguhnya Robbku tidak memerintahkan aku melakukan itu. Dia hanyalah memerintahkan aku untuk membenarkan janji-Nya, dan menaati perintah-Nya. Alloh Jalla wa ‘Azza berfirman:

و ما خلقت الجن و الإنس إلا ليعبدون ما أريد منهم من رزق و ما أريد. أن يطعمون إن ألله هو الرزاق ذو القوة المتين

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menginginkan dari mereka rizqi dan Aku tidak menginginkan dari mereka untuk memberiku makan. Sesungguhnya Alloh, Dia itulah Yang Maha Memberikan Rizqi, Pemilik Kekuatan lagi Maha Kokoh.” (QS. Adz Dzariyat: 56-58).

Lalu Harun berkata pada beliau: “Ini ada seribu dinar ambillah dia, lalu infaqkanlah pada keluarga anda dan dengan itu anda menambah kekuatan untuk ibadah anda.”

Maka Al Fudhoil berkata“Maha Suci Alloh, aku menunjukkan kepadamu jalan keselamatan, tapi engkau membalasku dengan semacam ini? Semoga Alloh menyelamatkanmu dan memberimu taufiq.” Lalu Al Fudhoil diam dan tidak mau berbicara pada kami. Maka kamipun keluar dari sisi beliau.

Ketika kami tiba di pintu, Harun berkata (padaku) : “Jika engkau menunjukkanku pada seseorang, maka tunjukkanlah aku pada orang semacam ini, dia adalah sayyid(pemimpin) kaum Muslimin.”

Lalu seorang wanita dari keluarga Al Fudhoil masuk menemui Al Fudhoil seraya berkata: “Wahai engkau, engkau telah melihat kesempitan kondisi yang kita alami, Andaikata engkau mau menerima harta tadi sehingga kita mendapatkan kelonggaran.” Maka Al Fudhoil menjawab padanya: “Permisalanku dengan kalian bagaikan suatu kaum yang punya onta, dulu mereka selalu makan dari hasil onta tadi, manakala onta itu telah tua, mereka menyembelihnya lalu mereka memakan dagingnya.”

Manakala Harun mendengar perkataan tadi, dia berkata: “Marilah kita masuk lagi, barangkali mereka mau menerima uang ini.” Manakala Al Fudhoil mengetahui itu, beliaupun keluar ke atap rumah di depan bilik pintu beliau. Lalu datanglah Harun, kemudian dia duduk disamping beliau dan mulai mengajak dia berbicara. Tapi beliau tidak mau menjawabnya. Ketika kami dalam keadaan demikian, keluarga seorang wanita tua, pembantu disitu, seraya berkata: “Wahai engkau, engkau telah mengganggu Asy Syaikh sejak semalam, maka pulanglah, semoga Alloh mengasihanimu.” Maka kamipun pulang.

(Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam “Al Hilyah” (8/hal.462), Al Khotib dalam “Al Jami’ Li Akhlaqir Rowi” (2/hal. 462) dan Al Baihaqi dalam “Syu’abul Iman” (7028)).

Dinukil dari kitab: “Berhutang Atau Bekerja Lebih Baik Daripada Meminta-minta”. (hal.18-23/cet. “Maktabah Fairuz Ad Dailamiy”) Karya Asy Syaikh Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Indonesiy Al Jawiy

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: