“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

Hukum Meminta doa Syafa'at Kepada Mayit 2
بسم الله الرحمن الرحيم

 Meminta Didoakan Mayit 

Pertanyaan : Penanya berkata : Engkau telah menyebutkan didalam kitab (Taudhihul Mufid Syarah) Fathul Majid, bahwasanya meminta doa dari mayit merupakan bid’ah, dan bahwa penghukuman keatasnya dengan syirik akbar secara mutlak perlu ditinjau kembali, dan ini sungguh menjadikan kerancuan pada kami, maka bagaimana dia itu menjadi (sekedar) bid’ah, padahal dia meminta dari mayit suatu perkara yang mayit itu tidak mampu untuk melakukannya, dan termasuk syarat permintan dari makhluq adalah dia itu hidup, hadir, mampu dalam keadaan mendengar, dan mayit menyelisihi hal ini seluruhnya, bahkam kalaupun yang menyeru meyakini bahwa mayit itu mampu mendengar, akan tetapi bersamaan dengan itu, dia tidak mampu (untuk berdoa), dan kalupun dia mampu mendengar dengan keyakinannya, maka kenapa amalan ini tidak termasuk syirik akbar, dimana dia meminta darinya sesuatu yang mayit tidak mampu melakukannya saat ini dalam keadaan dia itu mayit, seperti perkataan kita, bahwa siapa yang meminta dari mayit berupa harta atau semisalnya dari apa yang dia tidak mampu memenuhinya pada masa hidupnya maka itu syirik akbar, maka apa perbedaan diantara kedua keadaan ini ? Jazaakumullohu Khoiroon.  

Jawaban : Wa Antum Fa Jazaakumullohu Khoiron masalah ini(hukumnya) berbeda beda sesuai dengan perbedaan apa yang di lakukan seseorang tersebut disisi mayit, maka jika sekedar meminta, kosong dari sikap khudhu’ (ketundukan), dan tadhorru’ (merendahkan diri), sebagaimana permintaan seseorang dari saudaranya pada masa hidupnya, sebagaimana permintaan doa darinya pada masa hidupnya tanpa menggantungkan hatinya pada mayit ini, dan juga tanpa disertai sikap khudhu’ atau tadhorru’ atau dengan keterkaitan hati dengannya, maka yang seperti ini kami tidak mampu menghukumi keatasnya bahwa itu syirik akbar dengan sekedar seperti itu, dan sungguh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahulloh juga telah menyebutkan masalah ini pada sebagian tempat, beliau menjadikannya termasuk bid’ah dan membedakan dengan perbedaan yang ada pada hati orang itu, dan begitu juga Al ‘Allamah Al ‘Utsaimin rohimahulloh juga begitu, beliau tawaquf didalam penghukuman bahwa itu syirik akbar, dan itu dikarenakan jika dia meyakini mayit ini mendengar, maka sungguh telah datang hadits-hadits yang berkaitan dengan masalah ini, dari apa diriwayatkan dari Nabi Shollallohu ‘alaihi was salam bahwa beliau berkata :

ليس أحدٌ يسلم علي إلا رد الله علي روحي حتى أرد عليه السلام​ “

“Tidaklah seseorang mengucapkam salam untukku, kecuali Alloh akan mengembalikan ruhku padaku sehingga akupun menjawab salamnya”.

Dan begitu pula, apa yang datang dari Nabi صلى الله عليه وسلم bahwa mayit jika telah beranjak darinya yang mengantarnya, dia mendengar hentakan sendal-sandal mereka, dan begitu pula, sebagian Ahlul Ilmi berpegang pada pendapat bahwa mayit itu mendengar, dengan perkataan beliau صلى الله عليه وسلم ketika beliau mengajarkan doa :

السلام عليكم أهل الديار من المؤمنين المسلمين

Dan sebagian mereka juga berpegang pada yang semisal ini pada pendapat bahwa mayit mampu mendengar, bersamaan itu, pendapat yang rojih yang kami rojihkan disisi kami adalah, bahwasanya dalil-dalil diatas tertuju pada kondisi-kondisi yang khusus yang dengannya datang nash, maka jika tidak, sungguh Alloh سبحانه وتعالى telah berfirman :

​وما أنت بمسمعٍ من في القبور

 ” Dan kamu tidak akan mampu menjadikan yang berada dikubur mendengar”

Maka yang lebih shohih adalah ketiadaan mendengarnya mereka, dan tidak keluar dari kondisi ink kecuali dengan apa yang datang dari nash, ini perkara pertama.

Kemudian pula, jika seseorang berkeyakinan bahwa Alloh telah meneguhkan berupa berdoa kepada Alloh عز وجل untuk siapa yang meminta dari mereka syafaat, maka bentuk seperti ini, kalau terdapat pada hati seseorang keyakinan ini, kami tidak mampu untuk menghukuminya dengan kekufuran, yakni seseorang berkeyakinan didalam hatinya bahwa Alloh عز وجل terkadang mengkhususkan sebagian wali-wali dengan mereka mampu berdoa kepada Alloh jika diminta untuk memberi syafaat kepada mereka ketika mereka telah mati, maka ini merupakan aqidah yang bathil, aqidah mubtadiah, dan menjadi syirik ashghor, akan tetapi kami tidak berani untuk menjadikannya termasuk syirik akbar dengan semisal perkara ini saja, bersamaan dengan itu, keumuman orang yang memohon kepada mayit-mayit, dan beristighotsah kepada mereka, keumumannya mereka khudhu’ dan tadhorru’ kepada mayit dan kepada wali-wali, dan begitu juga ini, mereka memalingkan kepada mereka doa untuk mayit tadi dengan memohon syafaat kepada mereka dengan shighoh doa, mereka berdoa agar mayit memberi syafaat untuknya, seraya bertadhorru’ kepadamya, maka ini termasuk syirik akbar yang tidak diampuni oleh Alloh, jika hatinya bergantung dan berdoa, khudhu’ kepadanya, dan tadhorru’ kepadanya, inilah dia yang dilakukan mayoritas manusia yang pergi ke wali-wali, dan bukan sekedar permintaan sebagimana yang dilakukan seseorang kepada saudaranya pada saat hidupnya, bahkan mayoritas mereka menyertainya dengan tadhorru’ dan khudhu’ sebagiamana yang ma’ruf dan perkara yang telah tersaksikan, maka kondisi yang mereka berada diatasnya itu, tidak ragu lagi bahwa itu syirik akbar, akan tetapi permasalahnnya, perincian atas apa yang ada pada hati orangnya, dan jika seseorang mengitlaqkan dengan kalimat syirik, maka hendaknya dia menjadikannya umum, baik syirik akbar atau syirik ashghor, dan yang lebih hati-hati adalah melarangnya, dan jika ingin mengitlaqkkan, maka dia mengatakan : Amalan ini termasuk syirik, dan syirik mencakup syirik akbar dan ashghor, dan dibedakan dengan perbedaan apa yang terdapat pada hati orangnya Walhamdulillahi Robbil Aalamin.

Dan adapun yang berkaitan dengan perbedaan antara dia bentuk ini, yakni antara meminta doa dari mayit yang sekedar permintaan biasa dan antara orang yang meminta harta, maka perbedaannya, Alloh عز وجل telah menjelaskan bahwa rezeqi itu merupakan kekhususan bagiNya, Alloh عز وجل berfirman :

قُلْ مَنْ يَّرْزُقُكُمْ مِّنَ السَّمَآءِ وَالْاَرْضِ اَمَّنْ يَّمْلِكُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَ مَنْ يُّخْرِجُ الْحَـيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَـيِّ وَمَنْ يُّدَبِّرُ الْاَمْرَ ؕ فَسَيَـقُوْلُوْنَ اللّٰهُ ۚ فَقُلْ اَفَلَا تَتَّقُوْنَ

“Katakanlah (Muhammad), “Siapakan yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab, “Allah.” Maka katakanlah, “Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?” [QS. Yunus: Ayat 31]

Dan Alloh عز وجل berfirman :

يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ ؕ هَلْ مِنْ خَالِـقٍ غَيْرُ اللّٰهِ يَرْزُقُكُمْ مِّنَ السَّمَآءِ وَالْاَرْضِ ؕ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۖ ۖ فَاَنّٰى تُؤْفَكُوْنَ

“Wahai manusia! Ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepadamu dari langit dan Bumi? Tidak ada Tuhan selain Dia; maka mengapa kamu berpaling (dari ketauhidan)? [QS. Fatir: Ayat 3]

Maka rezeqi termasuk kekhususan rubuniyyah, dan kondisi seseoramg yang memintanya dari selain Alloh عز وجل adalah syirik akbar, maka Alloh سبحانه وتعالى Dialah yang memberi rezeqi, dan barang siapa yang menyeru selain Alloh agar dia memberinya rezeqi berupa harta atau selainnya maka sungguh dia telah berbuat syirik kepada Alloh عز وجل, dan adapun sekedar permintaan agar (mayit) berdoa, sekedar permintaan saja, dan ini jarang didapati, maka kami tidak mampu menegaskan bahwa itu termasuk syirik akbar, Wa billahi At Taufiq.

📜 Soal jawab bersama Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Ali bin Hizam Al-Ba’daniy  Hafidzahuliah

Diterjemahkan oleh Admine Channel Fatwa Asy Syaikh Al Faqih Muhammad bin Hizam : Abu Nufailah al-Indunisy hafidzahullah.  Sumber Fatwa: Chanel Telegram @ibnhezam – https://telegram.me/bin_hizam_indonesia

Telah dikoreksi oleh : Ustadz Abu Zakariyya Harits Al-JabaliyJazaahullahukhoiro

Naskah Asli

 بسم اللــــه الرحمـــــــــن الرحيم

📩 الســـــؤال :-

تقول السائلة: ذكرتم في كتاب فتح المجيد أن طلب الدعاء من الميت أنه من البدع، وأن الحكم عليه أنه شرك أكبر على إطلاقه فيه نظر، وهذا أشكل علينا كثيراً، فكيف يكون من البدع وهو يطلب من الميت أمراً هو لايقدر عليه، ومن شروط الطلب من المخلوق أن يكون حياً حاضراً قادراً يسمع والميت بخلاف ذلك كله، حتى لوكان الذي يدعوا يعتقد سماع الأموات لكنه مع ذلك غير قادر وإن كان يسمع بحسب اعتقاده فلماذا لا يكون هذا العمل من قبيل الشرك الأكبر حيث أنه طلب منه أمراً لايقدر عليه الآن وهو ميت كمثل قولنا أن من طلب من الميت مالاً أو نحوه مما كان يقدر عليه في حال حياته أنه شرك أكبر، فما الفرق بين الحالتين وجزاكم الله خيراً ؟

📝الإجـــــــــابة:-

وأنتم جزاكم الله خيرا، وهذه المسألة تختلف باختلاف ما يقوم به الشخص عند هذا الميت فإن كان مجرد طلب متجرد عن الخضوع والتضرع كما يطلب الإنسان من أخيه في حال حياته _ كما يطلب منه الدعاء في حال حياته دون تعلق القلب بهذا الميت ودون أيضاً أن يصطحبه خضوع أو تضرع أو كذلك تعلق القلب به فهذا لانستطيع الحكم عليه بأنه شرك أكبر بمجرده وقد ذكر هذه المسألة أيضاً شيخ الإسلام ابن تيميه رحمه الله في بعض المواضع يجعلها من البدع ويختلف باختلاف مايقوم في قلب صاحبه، وكذلك العلامة العثيمين رحمه الله أيضاً كذلك توقف في الحكم عليه بأنه شرك أكبر، وذلك لأنه إن اعتقد أن هذا الميت يسمع فقد جاءت أحاديث له متعلقات بها، مما ورد عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال *ليس أحدٌ يسلم علي إلا رد الله علي روحي حتى أرد عليه السلام* ” وكذلك ماجاء عن النبي صلى الله عليه وسلم أن الميت إذا تولى عنه أصحابه يسمع قرع نعالهم، وكذلك تمسك بعض أهل العلم بسماع الأموات لقوله صلى الله عليه وسلم وهو يعلمهم الدعاء السلام عليكم أهل الديار من المؤمنين المسلمين – فتمسك بعضهم بمثل هذا على أن الأموات يسمعون، مع أن الراجح الذي ترجح لدينا أنها حالات مخصوصة بماجاء به النص وإلا فالله سبحانه وتعالى يقول” *وما أنت بمسمعٍ من في القبور* ” فالأصح عدم سماعهم وما نخرج من هذا الحال إلا ماجاء به النص، هذا أمر_
ثم أيضاً لو اعتقد أيضاً أن الله قد يمكن الولي من دعاء الله عز وجل لمن يطلب منه الشفاعة فهذه الصورة أيضاً لو حصلت في قلب شخصٍ هذا الاعتقاد ما استطعنا أن نحكم عليه بالكفر بأن يعتقد في قلبه أن الله عز وجل قد يخص بعض أوليائه أنهم يستطيعون الدعاء إذا اشتشفع بهم في حال موتهم فهذه عقيدة باطلة وعقيدة مبتدعة وقد تكون من الشرك الأصغر ولكن لا نتجرأ أن نجعلها من الشرك الأكبر بمثل هذا فقط، على أن عامة من يلجأون إلى الأموات ويستشفعون بهم عامتهم يخضعون ويتضرعون للميت وللولي وهكذا أيضاً يصرفون إليه الدعاء هم أنفسهم باستشفاعهم منهم على صيغة الدعاء _ يدعوه أن يشفع له ويتضرع إليه وهذا من الشرك الأكبر الذي لايغفره الله، إذا تعلق القلب ودعاه وخضع إليه وتضرع إليه وهذا هو الذي يصنعه عامة هؤلاء الناس الذين يذهبون إلى الأولياء، فليس طلباً مجرداً كما يصنعه الإنسان مع أخيه في حال حياته، بل عامتهم يصحبه من التضرع والخضوع ماهو معروف عند كثر من الناس _ أمور معروفة وأمور مشهودة ، فالحال الذي هم عليه لا شك أن فيه عبادة لغير الله وهو شرك أكبر ولكن المسألة فيها تفصيل على حسب مايقوم في قلب صاحبه، وإن أطلق أحدنا الشرك فليجعله عاماً حتى الشرك الأكبر والأصغر والأحوط في ذلك هو الزجر منه، وإذا أطلق الشرك فيقول هذا العمل من الشرك الشرك فيشمل الشرك الأكبر والاصغر ويختلف باختلاف مايقوم قلب صاحبه، والحمد لله رب العالمين .
وأما مايتعلق بالفرق بين الصورتين وهي بين من طلب الدعاء من الميت طلباً مجرداً وبين من يسأله المال فالفرق واضح الله عزوجل الرزق خاص به قال الله عزوجل” *قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّن يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَن يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ الْأَمْرَ ۚ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ ۚ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ* “” سورة يونس : الآية : ٣١ ، ويقول الله عزوجل ” *يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ ۚ هَلْ مِنْ خَالِ
قٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَأَنَّىٰ تُؤْفَكُونَ* “” سورة فاطر : الآية _٣ 
فالرزق من خصائص الربوبية وكون الإنسان يطلبه من غير الله عزوجل شرك أكبر، فالله سبحانه وتعالى هو الذي يرزق ومن دعا غير الله أن يرزقه مالاً أو غير ذلك فقد أشرك بالله عزوجل، وأما مجرد أن يطلب الدعاء طلباً مجرداً وهذا قد لا يوجد فلا نستطيع الجزم بأنه من الأكبر، وبالله التوفيق.
_____________________
للاشتراك في قناة :-
فتاوى الشيخ الفقيه محمد بن حزام
على التلجرام :- @ibnhezam

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: