“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

بسم الله الرحمن الرحيم

Meminta Didoakan Mayit 

Pertanyaan : Apa hukum meminta doa dan syafa’at dari mayit disisi kuburnya jika dia melakukannya berlandaskan bahwa mayit mendengarnya (mendengar perkataan orang yang masih hidup-penerj), apakah ini termasuk syirik akbar ?

Jawaban : Adapun yang berkaitan dengan i’tiqod bahwa mayit mendengar, maka bukan termasuk syirik akbar, bahkan sebagian ahlul ilmi sungguh telah menetapkan bahwa mayit mampu mendengar, mereka berlandaskan hadits : “sesungguhnya dia benar2 mendengar hentakan sendal mereka“, dan berlandaskan hadits : ” Assalamu’alaiykum wahai penghuni kubur, dari kalangan mu’minin dan muslimin”, mereka berkata : “tidaklah mereka diberi salam kcuali dalam keadaan mereka mendengar”, ini adalah pendapat sebagian ahlul ilmi, dan mereka juga berlandaskan hadits : ” sesungguhnya nabi صلى الله عليه وسلم telah mengecam ahlu badr : wahai Aba Jahl bin Hisyam, wahai ‘Utbah bin Roobi’ah, apakah kalian telah mendapatkan apa yang dijanjikan oleh Robb kalian dengan benar ? Maka sungguh aku tekah mendapatkan apa yang dijanjikan oleh Robbku dengan benar”, berkata Umar :” bagaimana engkau menyeru mereka dalam keadaan mereka telah membusuk ?” Rosululloh berkata : “demi Dzat yang jiwaku berada ditanganNya tidaklah kalian lebih mendengar dari apa yang aku katakan kepada mereka”.

Dan sebagian mereka juga berdalil dengan hadits : nabi صلى الله عليه وسلم bersabda : “tidaklah seseorang mengucapkan salam untukku, kecuali Alloh mengembalikan ruhku kepadaku sehingga akupun menjawab salamnya”, dan hadits ini tsabit, dan datang pada haknya selain nabi صلى الله عليه وسلم ” tidaklah seorang mengucapkan salam kepada saudaranya kecuali ruhnya dikembalikan kepadanya dan diapun menjawab salamnya”, dan hadits ini tidak tsabit didalam hak selain nabi صلى الله عليه وسلم.

Kesimpulannya, kami menyebutkan dalil-dalil ini sebagai penjelasan bahwasanya telah didapati dari ahlul ilmi yang berpendapat bahwa mayit itu mendengar pembicaraan, akan tetapi mereka tidak mampu menjawab, dan kesimpulannya pendapat yang shohih yang kami pilih adalah, bahwasanya mayit tidak mendengar.

Berdasarkan firman Alloh عز وجل :

وَمَاۤ اَنْتَ بِمُسْمِعٍ مَّنْ فِى الْقُبُوْرِ

“Dan kamu tidak akan sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar.”[QS. Fatir: Ayat 22]

Dan hanya saja keadaan-keadaan itu merupakan keadaan yang khusus, Alloh menjadikan mereka mampu mendengar sebagai cercaan dan kecaman bagi mereka, dan keadaan yang khusus juga ketika manusia beranjak dari kuburan mayit dan sesungguhnya dia mendengar hentakan sandal-sandal mereka, dan keadaan khusus juga pada korban badr, Alloh menjadikan mereka mendengar, dan kami tidak mampu untuk menjadikannya umun , dan begitu juga pada haknya nabi kita صلى الله عليه وسلم “kecuali Alloh mengembalikan ruhku padaku”, dan sungguh beliau صلى الله عليه وسلم telah bersabda : ” bersholawatlah kalian untukku, maka sesungguhnya sholawat kalian akan sampai padaku dimanapun kalian berada”, dikeluarkan oleh Abu Daud, dari Abu Huroriroh رضي الىه عنه, dan beliau صلى الله عليه وسلم bersabda : ” sesungguhnya Alloh memiliki malaikat yang berkeliling untuk menyampaikan padaku salam dari umatku”, dikeluarkan oleh An Nasa’i dari Abu Mas’ud رضي الله عنه, dan keduanya shohih,
Jadi, i’tiqod bahwasanya mayit mendengar, ini bukanlah syirik, dan i’tiqod bahwa Alloh عز وجل meneguhkan mayit berupa do’a, ini juga kesesatan, tidak datang padanya dalil-dalil yang menunjukkan hal yang demikian, ini adalah kesesatan yang sangat jauh, bahwa seseorang berkeyakinan bahwa Alloh sebagaimana telah mengkhususkan nabiNya dengan mendengar, dan mengkhususkan sebagian manusia dengan mendengar maka memungkinkan juga bahwa Alloh mengkhususkan mereka bahwa mereka akan berdoa bagi siapa yang meminta kepada mereka untuk didoakam, atau siapa yang meminta dari mereka syafa’at atau doa, sesungguhnya mereka akan berdoa (kepada Alloh) untuk mereka, ini adalah kesesatan yang amat jauh, tidak ada padanya dalil-dalil yang menunjukan akan hal tersebut.
Akan tetapi, apakah dihukumi atas i’tiqod ini dengan syirik akbar ??,

Jawabanya : kami tidak mampu untuk menghukuminya dengan syirik akbar, akan tetapi dikatakan : padanya bid’ah, dan kesesatan, karenanya pada i’tiqod ini tidak terdapat sesuatu dari perkara yang disitu ada kekhususan Uluhiyyah atau Rububiyyah, dan hanya saja itu merupakan ‘aqidah yang bathil, yang dia berkeyakinan bahwa Alloh عز وجل meneguhkan sebagian wali-wali atau nabi-nabi untuk berdo’a bagi siapa yang minta didoakan kepada mereka, ini ‘aqidah yang bathil, tidak ada padanya satu dalilpun dari dalil-dalil Al Quran dan As Sunnah, dan jika menyertai aqidah tapi dengan keyakinan bahwa wali ini memiliki kemampaun untuk merubah alam semesta atau yang semisal dengannya, maka disini tidak ada isykal bahwasanya itu termasuk syirik akbar, jadi keyakinan bahwa mayit memiliki pengaturan atau mampu merubah alam ini perkara yang lain.
Tersisa, hukum meminta syafaat dan do’a yang dibangun diatas keyakinan bathil ini, keyakinan bahwa wali memilik doa, seseorang pergi kekuburannya dan berkata : ” berdoalah kepada Alloh untukku agar Alloh mengampuniku”, “berdoalah kepada Alloh agar Alloh merizqikan kepadaku anak”, “wahai Ibnu ‘Ulwan atau semisalnya, “berdoalah kepada Alloh untukku” permisalan ini kalaulah hanya sekedar begini saja, kalau tidak, mereka telah berdoa kepada orang-orang mati secara langsung, akan tetapi kalau seseorang hanya sekedar pergi (kekubur) menyeru dan berkata : ” wahai Ibnu ‘Ulwan, berdoalah kepada Alloh agar Alloh memberi rizqi anak untukku” misalnya, maka kami katakan : pada permintaan ini secara umum orang-orang yang pergi kekuburan-kuburan pada kenyataannya, mereka meminta pada mayit dengan bentuk doa sembari menundukkan diri, jiwanya pergi seraya menundukkan diri, maka perendahan diri( pada mayit) dan doa ini merupakan syirik akbar, ketika dia merendahkan diri untuk wali sembari berdoa kepadanya dan meminta dari mayit melalui jalan doa, ini syirik akbar .

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْۤ اَسْتَجِبْ لَـكُمْ ؕ اِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ

Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk ke Neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” [QS. Ghafir: Ayat 60]

وَمَنْ اَضَلُّ مِمَّنْ يَّدْعُوْا مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ مَنْ لَّا يَسْتَجِيْبُ لَهٗۤ اِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَآئِهِمْ غٰفِلُوْنَ

“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang-orang yang menyembah selain Allah, (sembahan) yang tidak dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari Kiamat, dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka?” [QS. Al-Ahqaf: Ayat 5]

وَاِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوْا لَهُمْ اَعْدَآءً وَّ كَانُوْا بِعِبَادَتِهِمْ كٰفِرِيْنَ

“Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari Kiamat), sesembahan itu menjadi musuh mereka, dan mengingkari pemujaan-pemujaan yang mereka lakukan kepadanya. ” [QS. Al-Ahqaf: Ayat 6]

Jadi, jika permintaan doa itu dengan bentuk seperti ini, dan ini yang terjadi dari orang-orang yang pergi ke kuburan, dengan merengek dan merendahkan diri pada mayit, bukan sekedar meminta sebagaimana yang terjadinya permintaan dari orang yang masih hidup, seperti engkau mengatakan kepada saudaramu yang masih hidup “berdoalah kepada Alloh untukku“, Tidak!!! Ini dia pergi (kepada mayit) dengan merendahkan diri dan khusyuk berdoa kepada mayit, agar si mayit berdoa kepada Alloh untuknya, maka yang seperti ini menjadi syirik akbar, dan kalau sekedar bahwa terdapati permintaan doa sekedar sebagaimana permintaan doa dari yang masih hidup, maka disini dikatakan sebagai syirik ashghor, perantara kepada syirik akbar , ini kalau sekedar seperti ini wujudnya, sebagaimana yang dilakukan sebagian manusia ketika melewati kuburan nabi seraya berkata : “wahai Rosululloh, berdoalah kepada Alloh untukku agar Alloh mengampuniku“, dan sebagiannya tidaklah didalam niatnya berdoa kedapa nabi صلى الله عليه وسلم atau menyembahnya, atau menunduk kepadanya, sebagian orang bodoh melewati kuburan nabi dan berkata : ” Assalamu’aliyka wahai Rosululloh, berdoalah kepada Alloh untukku agar Alloh mengampuniku” , dengan dalih bahwasanya Nabi صلى الله عليه و سلم mendengar, dan bahwasanya Alloh menjadikannya mendengar salam, sebagaimana yang telah lalu, maka diapun mengatakan : ” Berdoalah kepada Alloh agar Alloh mengampuniku”, “Berdoalah kepada Alloh agar Alloh merizqikan untukku anak”, ini kebodohan, maka jika permintaanya kosong dari khusyuk, tadhoru’ dan do’a sebagaimana permintaan seseorang dari saudaranya yang hidup, maka disini menjadi bid’ah, syirik kecil, perantara kepada syirik akbar, Wallohul Musta’an.

📜 Soal jawab bersama Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Ali bin Hizam Al-Ba’daniy  Hafidzahuliah

Diterjemahkan oleh Admine Channel Fatwa Asy Syaikh Al Faqih Muhammad bin Hizam : Abu Nufailah al-Indunisy hafidzahullah.  Sumber Fatwa: Chanel Telegram @ibnhezam – https://telegram.me/bin_hizam_indonesia

Telah dikoreksi oleh : Ustadz Abu Zakariyya Harits Al-Jabaliy Jazaahullahukhoiro

 

Naskah  Asli : 

بسم اللــــه الرحمـــــــــن الرحيم

📩 الســـــــــؤال :-

ماحكم طلب الدعاء والشفاعة من الميت عند قبره إذا كان من يفعل ذلك يعتقد أن الميت يسمعه، هل هو شرك أكبر ؟

📝 الإجـــــــــابة :-

أما مايتعلق باعتقاد أن الميت يسمع فليس من الشرك الأكبر، بل قد أثبت هذا بعض أهل العلم على أن الميت قد يسمع معتمدين على حديث “” إنه ليسمع قرع نعالهم “” ومعتمدين على حديث “” السلام عليكم أهل الديار من المؤمنين والمسلمين “” قالوا مايسلم عليهم إلا وهم يسمعون _ هذا قول بعض أهل العلم واعتمدوا أيضاً على حديث أن النبي صلى الله عليه وسلم وبخ أهل بدر يا أبا جهل بن هشام يا عتبة بن ربيعة هل وجدتم ما وعد ربكم حقا فإني وجدت ماوعدني ربي حقاً _ قال عمر كيف تناديهم وقد جيفوا _ قال والذي نفسي بيده ما أنتم بأسمع لما أقول منهم ” واستدل بعضهم أيضاً بحديث النبي صلى الله عليه وسلم قال ” مامن أحدٍ يسلم علي إلا رد الله علي روحي حتى أرد عليه السلام ” وهذا حديث ثابت وجاء في حق غير النبي صلى الله عليه وسلم ” مامن أحد يسلم على أخيه إلاردت عليه روحه ويرد عليه السلام ” وهذا لم يثبت في حق غير النبي صلى الله عليه وسلم، على كلٍ ذكرنا هذه الأدلة لبيان أنه قد وجد من أهل العلم من يقول إن الميت يسمع الخطاب له ولكن لا يستطيع أن يجيب، وعلى كلٍ الصحيح الذي نختاره أن الميت لايسمع لقول الله عز وجل “”وَمَا أَنتَ بِمُسْمِعٍ مَّن فِي الْقُبُورِ”” سورة فاطر الآية: ٢٢., وإنما تلك حالات خاصة أسمعهم الله تقريعاً وتوبيخاً – حالة خاصة عند أن ينصرف الناس من دفن الميت إنه ليسمع قرع نعالهم، وحالة خاصة أيضاً في قتلى بدر أسمعهم الله _ ولا نستطيع أن نعمم وكذلك في حق نبينا عليه الصلاة والسلام حالة خاصة بالنبي صلى الله عليه وسلم” إلا رد الله علي روحي ” وقد قال صلى الله عليه وسلم “” صلوا علي فإن صلاتكم تبلغني حيث كنتم “” أخرجه أبواود عن ابي هريرة رضي الله عنه، وقال صلى الله عليه وسلم “” إن لله ملائكة سياحين يبلغوني عن أمتي السلام “” أخرجه النسائي عن ابن مسعود رضي الله عنه وكلاهما صحيح ،.

إذاً اعتقاد أن الميت قد يسمع هذا ليس شركاً ، واعتقاد أن الله عز وجل قد يُمٙكِّن الميت من الدعاء هذا أيضاً ضلال لم يأتِ في الأدلة مايدل على ذلك _ هذا ضلال بعيد أن يعتقد أن الله كما أنه خص نبيه بالسماع وخص بعض الناس بالسماع فيمكن أيضاً أن يخصهم بأنهم يدعون لمن يطلب منهم الدعاء _ أو من طلب منهم شفاعة أو دعاء أنهم يدعون له _ هذا ضلال بعيد، ليس في الأدلة مايدل على ذلك .

ولكن هل يحكم على هذا الاعتقاد أنه شرك أكبر ؟؟ ،، الجواب مانستطيع أن نحكم عليه بأنه شرك أكبر لكن يُقال فيه بدعة وضلالة لأنه لم يعتقد فيه شيئا من الأمور المختصة بالألوهية أو بالربوبية وإنما هي عقيدة باطلة أن يعتقد أن الله عز وجل قد يمكن بعض الأولياء أو بعض الأنبياء أن يدعوا لمن طلب منهم الدعاء _ هذه عقيدة باطلة ما عليها دليل من أدلة الكتاب والسنة، وإن اصطحب عقيدته أن هذا الولي له تصرف في الكون أو نحو ذلك فهنا مافيه إشكال أنه شرك أكبر _ إذا أعتقد أن له تدبيرا أو تصرفا في الكون هذا أمر آخر .

بقي حكم طلب الشفاعة والدعاء بناءً على هذا الاعتقاد الباطل _ يعتقد أن الولي سيدعوا له أو سيشفع له إذا طلب منه الدعاء : يذهب إلى القبر ويقول ادع الله لي أن يغفر لي _ أدع الله لي أن يرزقني الولد _ يا ابن علوان أو نحو ذلك أدع الله لي هذا مثلاً لو فرض وإلا هم يدعون الأموات مباشرة _ لكن لو فرض شخص ذهب يدعوا يقول يا ابن علوان أدع الله أن يرزقني الولد مثلاً : فنقول في هذا الطلب عامة من يذهبون إلى القبور الواقع أنهم يطلبونهم على صيغة الدعاء والتضرع _ هو نفسه يذهب يتضرع فذاك التضرع والدعاء شرك أكبر _ عند أن يتضرع للولي ويدعوه وطلبه من الميت على سبيل الدعاء هذا شرك أكبر “” وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ “” سورة غافر الآية_ ٦٠ ، “” وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّن يَدْعُو مِن دُونِ اللَّهِ مَن لَّايَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَن دُعَائِهِمْ غَافِلُون(٥)وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاءً وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ (٦) , سورة الأحقاف،
إذاً إذا كان الطلب على هذا السياق وهذا هو الواقع ممن يذهبون إلى القبور يذهب متزلفاً متضرعاً _ ليس طلباً مجرداً كما يحصل الطلب من الحي : تقول لأخيك الحي أدع الله لي _ لا !!! هذا يذهب متضرعاً خاشعاً يدع الميت أن يدع الله له فصار من الشرك الأكبر، ولو فرض أنه يوجد طلب مجرد كما يطلب من الحي فهنا يُقال شرك أصغر ذريعة إلى الأكبر : هذا لو فرض وجوده _ كما يفعله بعض الناس عند أن يمروا بالقبر النبوي يقولون يارسول الله أدع الله لي أن يغفر لي وبعضهم ليس في نيته أن يدعو النبي صلى الله عليه وسلم أو يعبده أو يتضرع له يمر بالقبر بعض الجهلة يقول السلام عليك يا رسول الله أدع الله لي أن يغفر لي _ بحجة أن النبي صلى الله عليه وسلم يسمع وأن الله يُسمعه السلام كما تقدم فيقول أدع الله أن يغفر لي _ أدع الله أن يرزقني الولد _ هذا جهل، فإن كان طلباً مجرداً عن الخشوع والتضرع والدعاء كما يطلب الإنسان من أخيه الحي فهنا يكون بدعة وشركا أصغر ذريعة للشرك الأكبر، والله المستعان.
_____________________
للاشتراك في قناة :-
فتاوى الشيخ الفقيه محمد بن حزام
على التلجرام :- @ibnhezam

 

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: