“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

Kedudukan akal dalam beramal

Tanya: Pak ustadz betulkah kalau salafiy tidak mau pakai akal hanya mau pakai dalil Qur’an hadits saja?

Jawab: Akal memiliki peran dan pengaruh yang sangat penting bagi setiap hamba, dengan sebab akal seseorang bisa menerima dan memperoleh ilmu serta dengan sebabnya seseorang bisa beramal, berkata Al-Imam Abul Abbas Ahmad Al-Harraniy Rahimahillah: 

ﺍﻟْﻌَﻘْﻞُ ﺍﻟﻐَﺮِﻳْﺰَﺓُ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﺟَﻌَﻠَﻬَﺎ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻌَﺒْﺪِ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﻳَﻨَﺎﻝُ ﺑِﻬَﺎ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢَ ﻭَﺍﻟْﻌَﻤَﻞَ

“Akal adalah instink yang Allah menjadikannya pada seorang hamba yang dengannya dia akan memperoleh ilmu dan amal”.

Orang yang mengaku salafiy dituntut untuk beramal berdasarkan dalil, baik dalil dari Al-Qur’an maupun dalil dari As-Sunnah, dan tidaklah kemudian dia meniadakan akalnya namun akalnya dia gunakan untuk memahami dalil atau dia memahamkannya kepada orang yang dia dakwahi.

Terkadang orang yang didakwahi tidak mau menerima dalil, berapa banyak pun dalil yang disampaikan kepadanya tetap dia tidak mau terima namun ketika disampaikan penjelasan sesuai akal yang tidak bertentangan dengan dalil maka dia pun menerima, sebagaimana pada permasalahan gambar makhluk bernyawa, seseorang terkadang bermudah-mudahan menyebarkan foto atau video dirinya dengan tanpa keterpaksaan atau bukan karena darurat, ketika ditegakan dalil-dalil yang banyak kepadanya maka dia tidak terima, namun ketika dinasehati berdasarkan akal maka membuat dirinya berhenti dari bermudah-mudahan menyebarkan foto atau video dirinya, secara akal bahwa foto atau video yang disebarkan akan menjadi penyebab kejelekan, orang jahat akan menggunakannya untuk melakukan kejahatannya, terkadang foto seseorang diedit lalu digabungkan dengan foto-foto orang jahat sehingga orang tersebut dianggap sebagai orang jahat atau diedit dan digabungkan dengan foto-foto keji, orang tersebut kemudian dituduh melakukan perbuatan keji.
Demikian pula video, terkadang diedit lalu digabungkan dengan video orang jahat atau video orang berbuat keji hingga kemudian orang tersebut dikatakan bersama penjahat atau dikatakan berbuat keji:

فَٱعْتَبِرُوا۟ يَٰأُو۟لِى ٱلْأَبْصَٰرِ

“Maka ambillah pelajaran wahai orang-orang yang mempunyai pandangan”.
[Al-Hashr: 2].

Ditulis oleh : [Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir bin Salim bin Syahdiah pada 18 Syawwal 1438]

***

HUKUM MUAMALAH DENGAN NON MUSLIM

Tanya:  Bismillah… Bagaimana hukumnya jika seorang muslim/muslimah membeli barang di tempat orang non muslim (China).

Jawab: Membeli barang di tempat non muslim adalah boleh, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah menyarankan kepada para shahabatnya untuk membeli sumur milik orang yahudi:

‏«ﻣَﻦْ ﻳَﺸْﺘَﺮِﻱ ﺑِﺌْﺮَ ﺭُﻭﻣَﺔَ ﻓَﻴَﺠْﻌَﻞُ ﺩَﻟْﻮَﻩُ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻣَﻊَ ﺩِﻟَﺎﺀِ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴﻦَ ﺑِﺨَﻴْﺮٍ ﻟَﻪُ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ»

“Barangsiapa membeli sumur Romah lalu menjadikan timbanya di dalamnya bersama timba-timba kaum muslimin, maka akan diberi yang lebih baik daripada itu untuknya di Surga”.

Maka Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu ‘Anhu membelinya, sebagaimana beliau katakan:

ﻓَﺎﺷْﺘَﺮَﻳْﺘُﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﺻُﻠْﺐِ ﻣَﺎﻟِﻲ ﻓَﺠَﻌَﻠْﺖُ ﺩَﻟْﻮِﻱ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻣَﻊَ ﺩِﻟَﺎﺀِ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴﻦ

“Lalu aku membelinya dari pokok hartaku, kemudian aku menjadikan timbaku di dalamnya bersama timba-timba kaum muslimin”.

Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak hanya menyarankan kepada yang lain untuk membeli dari orang yahudi namun beliau pernah menggadaikan baju perang beliau kepada seorang yahudi sebagaimana yang disebutkan oleh Aisyah Radhiyallahu ‘Anha:

ﺗُﻮُﻓِّﻲَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻭَﺩِﺭْﻋُﻪُ ﻣَﺮْﻫُﻮﻧَﺔٌ ﻋِﻨْﺪَ ﻳَﻬُﻮﺩِﻱٍّ ﺑِﺜَﻠَﺎﺛِﻴﻦَ ﺻَﺎﻋًﺎ ﻣِﻦْ ﺷَﻌِﻴﺮٍ

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam wafat sedangkan baju perang beliau masih tergadai kepada seorang Yahudi seharga tiga puluh sha’ gandum”.

Ditulis oleh : [Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir bin Salim bin Syahdiah di Bekasi pada 16 Syawwal 1438]

***

HUKUM MENERIMA PEMBERIAN DARI NON MUSLIM

Tanya: Bagaimana hukum jika ada yang menyumbang di mesjid seorang non muslim (perusahaan tapi yang punya China)?

Jawab: Kalau ada dari orang non muslim menyumbang atau memberi suatu pemberian untuk masjid atau untuk kita maka kita terima jika tidak ada persyaratan yang mengikat kita, baik itu sumbangan atau pemberiannya berupa material atau pun imaterial maka boleh menerimanya, Ibnud Daghinah pernah berkata kepada Abu Bakr Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu:

ﻓَﺈِﻥَّ ﻣِﺜْﻠَﻚَ ﻳَﺎ ﺃَﺑَﺎ ﺑَﻜْﺮٍ ﻟَﺎ ﻳَﺨْﺮُﺝُ ﻭَﻟَﺎ ﻳُﺨْﺮَﺝُ ﺇِﻧَّﻚَ ﺗَﻜْﺴِﺐُ ﺍﻟْﻤَﻌْﺪُﻭﻡَ ﻭَﺗَﺼِﻞُ ﺍﻟﺮَّﺣِﻢَ ﻭَﺗَﺤْﻤِﻞُ ﺍﻟْﻜَﻞَّ ﻭَﺗَﻘْﺮِﻱ ﺍﻟﻀَّﻴْﻒَ ﻭَﺗُﻌِﻴﻦُ ﻋَﻠَﻰ ﻧَﻮَﺍﺋِﺐِ ﺍﻟْﺤَﻖِّ ﻓَﺄَﻧَﺎ ﻟَﻚَ ﺟَﺎﺭٌ ﺍﺭْﺟِﻊْ ﻭَﺍﻋْﺒُﺪْ ﺭَﺑَّﻚَ ﺑِﺒَﻠَﺪِﻙَ

“Sungguh orang yang semisal engkau wahai Abu Bakr tidak patut keluar dan tidak patut pula diusir, sungguh engkau termasuk orang yang bekerja untuk mereka yang fakir, menyambung silaturrahim, menanggung orang-orang yang lemah, menjamu tamu dan selalu menolong di jalan kebenaran. Aku akan menjadi pelindung engkau, maka kembalilah dan sembahlah Rabb engkau di negri engkau”.

Kemudian Ibnud Daghinah datang menemui para pembesar Quraisy dengan maksud untuk menolong atau melindungi Abu Bakr, supaya mereka tidak mengusir Abu Bakr dari Makkah, mereka pun berkata kepada Ibnud Daghinah:

ﻣُﺮْ ﺃَﺑَﺎ ﺑَﻜْﺮٍ ﻓَﻠْﻴَﻌْﺒُﺪْ ﺭَﺑَّﻪُ ﻓِﻲ ﺩَﺍﺭِﻩِ ﻓَﻠْﻴُﺼَﻞِّ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻭَﻟْﻴَﻘْﺮَﺃْ ﻣَﺎ ﺷَﺎﺀَ

“Perintahkanlah kepada Abu Bakr supaya dia beribadah Rabbnya di rumahnya dan shalat di dalamnya serta membaca Al-Qur’an sesukanya”.

Pada dalil tersebut menerangkan kepada kita bahwa Abu Bakr Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu menerima bantuan dari Ibnud Daghinah.

Dan dalil yang lebih jelas dari itu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menerima pemberian dari orang kafir, berkata Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma:

إِﻥَّ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓً ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻴَﻬُﻮﺩِ ﺃَﻫْﺪَﺕْ ﻟِﺮَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺷَﺎﺓً ﻣَﺴْﻤُﻮﻣَﺔً

“Bahwasanya seorang wanita Yahudi menghadiahkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam daging kambing yang beracun”.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menerima pemberian berupa hadiah tersebut, beliau memakannya hingga merasakan racunnya, beliau berkata kepada istri beliau:

ﻳَﺎ ﻋَﺎﺋِﺸَﺔُ ﻣَﺎ ﺃَﺯَﺍﻝُ ﺃَﺟِﺪُ ﺃَﻟَﻢَ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡِ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺃَﻛَﻠْﺖُ ﺑِﺨَﻴْﺒَﺮَ ﻓَﻬَﺬَﺍ ﺃَﻭَﺍﻥُ ﻭَﺟَﺪْﺕُ ﺇِﻧْﻘِﻄَﺎﻉَ ﺃَﺑْﻬَﺮِﻱ ﻣِﻦْ ﺫَﻟِﻚَ ﺍﻟﺴَّﻢِّ

“Wahai Aisyah, aku masih merasakan sakit karena makanan yang pernah aku makan di Khaibar. Dan inilah saatnya, aku merasakan tentang terputusnya urat nadiku karena racun tersebut”. Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy.

[Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir bin Salim bin Syahdiah di Bekasi pada 16 Syawwal 1438]  Sumber : http://t.me/majaalisalkhidhir

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: