“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

Mengutamakan  Puasa 6 Hari di Bulan Syawal Daripada Puasa Dawud

Tanya: Bismillah… Assalamu’alaikum Warahmatullah…
afwan ustadz ganggu waktunya, ana ada pertanyaan: Apakah puasa sunah syawal 6 hari berturut-turut menyelisihi hadits puasa nabi Dawud ‘Alaihissalam, tentang puasa sunah paling utama? Jazakallahu khairan wa Barakallahu fiykum.

Jawab: Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh. Puasa 6 hari di bulan syawwal bukanlah bertujuan untuk menyelisihi puasa Dawud yang akan dilakukan di bulan Syawwal, karena kedua puasa tersebut termasuk dari sunnah-sunnah, dan keduanya sama-sama dianjurkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dengan demikian pelaksanaannya kembali kepada orang yang mau melaksanakannya, jika dia memilih untuk puasa Dawud di bulan Syawwal dengan tanpa berpuasa 6 hari di bulan Syawwal maka dia lakukan, akan tetapi dia tidak mendapatkan keutamaan yang disebutkan di dalam hadits:

ﻣَﻦْ ﺻَﺎﻡَ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﺛُﻢَّ ﺃَﺗْﺒَﻌَﻪُ ﺳِﺘًّﺎ ﻣِﻦْ ﺷَﻮَّﺍﻝٍ ﻛَﺎﻥَ ﻛَﺼِﻴَﺎﻡِ ﺍﻟﺪَّﻫْﺮِ

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian dia mengikutkannya dengan puasa 6 hari dari bulan Syawwal maka dia seperti berpuasa sepanjang zaman”.

Jika dia memilih puasa 6 hari di bulan Syawwal maka dia lakukan, baik dia lakukan secara berurutan atau dia lakukan seperti pelaksanaan puasa Dawud yaitu sehari berpuasa dan sehari tidak, karena puasa 6 hari di bulan Syawwal boleh dilakukan dengan tidak berturut-turut, Al-Imam Muhammad Al-Utsaimin Rahimahullah mengatakan:

ﻭَﻳَﺠُﻮْﺯُ ﺃَﻥْ ﺗَﻜُﻮْﻥَ ﻣُﺘَﻔَﺮِّﻗَﺔً ﺃَﻭْ ﻣُﺘَﺘَﺎﺑِﻌَﺔً، ﻟَﻜِﻦِ ﺍﻟﺘَّﺘَﺎﺑُﻊَ ﺃَﻓْﻀَﻞُ

“Dan boleh pelaksanaannya berpisah-pisah atau berturut-turut, akan tetapi berturut-turut itu lebih utama”.

Dan hendaknya seseorang mengutamakan puasa 6 hari di bulan Syawwal daripada puasa Dawud, karena puasa Dawud memiliki keluasan waktu, adapun puasa 6 hari di bulan Syawwal hanya terbatas pada bulan Syawwal.

Kalau misalnya seseorang terbiasa puasa Dawud dan dia ingin puasa 6 hari di bulan Syawwal ini, dia lakukan seperti puasa Dawud yaitu sehari puasa dan sehari tidak maka ini adalah bagus, ini sebagai penjelas pula bahwa puasa 6 hari di bulan Syawwal itu bukan menyelisihi puasa Dawud. Wallahu A’lam.

[Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir di Kemang Pratama-Bekasi pada 3 Syawwal 1438]

 

MENGELUARKAN ZAKAT MAL DARI GAJI BULANAN

Tanya:  Berapa persenkah dari gaji yang harus dibayarkan untuk zakat mal dengan gaji di atas 2 juta?

Jawab: Untuk yang mengeluarkan zakat mal maka baginya dua syarat, yaitu:

Pertama: Hartanya sudah memenuhi nishab (yakni sudah memenuhi ukuran zakat).

Kedua: Hartanya sudah mencapai satu haul (yakni sudah satu tahun).

Adapun orang yang memiliki gaji maka tidak ada zakat pada gajinya tersebut, yang ada hanya anjuran untuk bersedekah dan berinfak dari gaji dan profesi tersebut. Karena tidak ada di dalam Islam yang namanya zakat pada gaji dan profesi, yang ada zakatnya itu hanya pada harta yang sudah dimilikinya, dan ini bila sudah terpenuhi dua syarat tersebut.

Kalau gaji dari pekerjaannya yang pernah dia tabung -misalkan- itu sudah Rp. 24.000.000,- (dua puluh empat juta rupiah), dan ini sudah setahun dia simpan, maka ini ada zakat malnya, karena ini sudah memenuhi nishab dan telah mencapai haul.

Dan zakat yang dikenakan padanya adalah sesuai dengan nishab perak, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

ﻟَﻴْﺲَ ﻓِﻴْﻤَﺎ ﺩُﻭﻥَ ﺧَﻤْﺲِ ﺃَﻭَﺍﻕٍ ﺻَﺪَﻗَﺔٌ ‏

“Tidaklah ada kewajiban zakat pada uang perak yang kurang dari lima Uqiyah”. Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy dan Muslim.

Untuk 5 uqiyah itu sebesar 595 gram perak, kalau kita melihat kepada harga perak sesuai harga sekarang -misalkan- 1 gram sama dengan Rp. 10.000,- (sepuluh ribu rupiah), bila dikalikan dengan 595 gram maka sama dengan Rp. 5.950.000,- (lima juta sembilan ratus lima puluh ribu rupiah), sedangkan uang yang dimiliki adalah Rp. 24.000.000,-

Dengan demikian dikeluarkan zakat dari jumlah uang tersebut sebesar 2,5 %, sebagaimana dijelaskan di dalam riwayat Al-Bukhariy bahwa Abu Bakr Radhiyallahu ‘Anhu berkata:

ﻭَﻓِﻲْ ﺍﻟﺮِّﻗَّﺔِ ﺭُﺑْﻊُ ﺍﻟْﻌُﺸْﺮ ‏

“Dan pada perak, dikeluarkan zakatnya sebesar 1/40 (yakni 2,5 %)”.

Jadi kesimpulannya kalau uangnya sebanyak Rp. 24.000.000,- itu sudah setahun maka zakat malnya Rp. 600.000,- (enam ratus ribu rupiah).
Dan kalau -misalkan- uangnya hanya Rp. 6.000.000,- dan ini sudah setahun maka zakatnya Rp. 140.000,- (seratus empat puluh ribu rupiah). Wallahu A’lam wa Ahkam.

[Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir di Perum Kemang Pratama-Bekasi pada 1 Syawwal 1438]

***

Tanya: Ustadz terima kasih atas petunjuk dan pemberitahuannya, Ustadz ini saya mau tanya lagi: Kalau gaji disedakahkan atau diinfakan, apakah itu pelaksanaanya setahun juga atau perbulannya setiap menerima gaji?

Jawab: Kalau tidak memberatkan maka setiap kali terima gaji, dan itu sifatnya atas inisiatif sendiri:

(وَأَن تَصَدَّقُوا۟ خَيْرٌ لَّكُمْۖ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ)

“Dan jika kalian bersedekah maka itu lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahui”. (Al-Baqarah: 280).

Perlu untuk kita ketahui bahwa seseorang bersedekah dan berinfak ini tidak dibatasi waktu dan tempat, namun kapan pun dan dimana pun, bila berkeinginan untuk bersedekah dan berinfak maka dia lakukan. Demikian pula tidak ada ketentuan berapa yang harus disedekahkan dan diinfakkan namun melihat pada kerelaannya, karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi Sallam ketika menganjurkan bersedekah, beliau berkata:

وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ

“Walau pun hanya dengan separoh dari butir korma”.
Wabillahit Taufiq.

[Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir di Bekasi pada 2 Syawwal 1438]

 

KETENTUAN HAUL ZAKAT DIHITUNG DENGAN HIJRIYYAH.

Tanya: Afwan ustadz ana mau tanya tentang zakat: Haul zakat itu dihitung dengan hijriah atau masehi karena hijriah lebih cepat 11 hari?

Jawab: Yang benar dihitung dengan hijriyyah, para ulama berdalil dengan perkataan Allah Ta’ala:

(إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ)

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan berbagai langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, ” [At-Taubah: 36].

Dan perkataan Allah Ta’ala:

(ﻳَﺴْﺄَﻟُﻮﻧَﻚَ ﻋَﻦِ ﺍﻷﻫِﻠَّﺔِ ﻗُﻞْ ﻫِﻲَ ﻣَﻮَﺍﻗِﻴﺖُ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ ﻭَﺍﻟْﺤَﺞِّ) ‏

“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit maka katakanlah: Itulah (petunjuk) waktu bagi manusia dan (penetapan waktu) haji”. [Al-Baqarah: 189].

Al-Imam Ahmad Al-Harraniy Rahimahullah mengatakan:

ﻭَﻫٰﺬَﺍ ﻋَﺎﻡٌ ﻓِﻲ ﺟَﻤِﻴْﻊِ ﺃُﻣُﻮْﺭِﻫِﻢْ ﻓَﺠَﻌَﻞَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍﻷَﻫِﻠَّﺔَ ﻣَﻮَﺍﻗِﻴْﺖَ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ ﻓِﻲ ﺍﻷَﺣْﻜَﺎﻡِ ﺍﻟﺜَّﺎﺑِﺘَﺔِ

“Dan ini adalah umum pada seluruh perkara-perkara mereka, Allah Ta’ala menjadikan bulan sabit sebagai ketentuan waktu bagi manusia pada hukum-hukum yang ditetapkan”.

Kemudian beliau sebutkan contoh-contoh tentang hukum-hukum yang ditetapkan dengan bulat sabit yang ini merupakan penetapan hijriyyah, di antara contoh-contoh yang beliau sebutkan adalah zakat.

Dengan demikian orang yang akan mengeluarkan zakat fithri itu ketika sudah masuk pada hari terakhir Ramadhan yaitu ketika matahari telah tenggelam pada hari terakhir Ramadhan, dan waktu terakhir Ramadhan itu tidaklah diketahui kecuali dengan melihat bulan sabit yang merupakan tanda diketahui masuknya bulan hijriyyah.
Demikian pula masalah zakat mal, penentuan haulnya dengan melihat tahun hijriyyah bukan tahun masehi. Wallahu A’lam.

[Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir di Bekasi pada 2 Syawwal 1438]

 

DALIL TENTANG TIDAK ADANYA ZAKAT PADA GAJI DAN PROFESI

Tanya: Akh ucapan anta bahwa “tidak ada di dalam Islam yang namanya zakat pada gaji dan profesi” apakah anta punya dalil bilang begitu? Syukran.

Jawab: Ketahuilah -semoga Allah memberikan hidayah kepada kami dan kepadamu- bahwasanya gaji atau upah itu bukanlah perkara baru di dalam kehidupan dunia ini, namun dia sudah ada di zaman salaf, sangat banyak hadits-hadits yang menjelaskan tentang masalah pekerjaan dan pemberian upah dari pekerjaan namun tidak ada satu pun keterangan dan penjelasan dari ulama salaf tentang disyari’atkannya mengeluarkan zakat dari upah tersebut.
Shahabat yang mulia Abu Bakr Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu ketika menjabat sebagai khalifah maka beliau diberi upah atas jabatannya, sebelumnya beliau masih sibuk ke pasar untuk berusaha supaya bisa menafkahi keluarganya namun Umar Al-Faruq Radhiyallahu ‘Anhu memberikan jaminan bahwa mereka para shahabat akan memberikan upah karena jabatannya sebagai khalifah yang membuatnya sangat sibuk mengurusi kaum muslimin, dan shahabat yang mulia Abu Bakr Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu telah menyebutkan sendiri:

ﻟَﻘَﺪْ ﻋَﻠِﻢَ ﻗَﻮْﻣِﻲ ﺃَﻥَّ ﺣِﺮْﻓَﺘِﻲ ﻟَﻢْ ﺗَﻜُﻦْ ﺗَﻌْﺠِﺰُ ﻋَﻦْ ﻣَﺆُﻭْﻧَﺔِ ﺃَﻫْﻠِﻲ ﻭَﺷُﻐِﻠْﺖُ ﺑِﺄَﻣْﺮِ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴﻦَ ﻓَﺴَﻴَﺄْﻛُﻞُ ﺁﻝُ ﺃَﺑِﻲ ﺑَﻜْﺮٍ ﻣِﻦْ ﻫٰﺬَﺍ ﺍﻟْﻤَﺎﻝِ ﻭَﻳَﺤْﺘَﺮِﻑُ ﻟِﻠْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴﻦَ ﻓِﻴْﻪِ.

“Sungguh benar-benar kaumku telah mengetahui bahwa usahaku tidaklah mengurangi dari kebutuhan keluargaku, namun aku sekarang disibukkan dengan urusan kaum muslimin, maka sekarang keluarga Abu Bakr akan makan dari harta ini (sebagai upah) dan Abu Bakr akan bekerja untuk urusan kaum muslimin”.

Tidak ada satu keterangan pun dari ulama salaf menjelaskan bahwa Abu Bakr dan para pemimpin kaum muslimin serta para pekerja mereka mengeluarkan zakat atas upah mereka. Dengan demikian jelaslah bahwa tidak ada yang namanya zakat dari upah atau profesi, kalau pun didapati -sebagaimana di zaman ini- orang yang memiliki upah pada pekerjaannya dengan upah dalam sebulan milyaran rupiah maka tetap tidak ada zakat pada upahnya tersebut, karena upah besar seperti ini bukan perkara baru namun telah disebutkan di dalam Islam sebagaimana di dalam suatu hadits:

َﻣَﻦْ ﻳَﻌْﻤَﻞُ ﻟِﻲ ﻣِﻦْ ﺍﻟْﻌَﺼْﺮِ ﺇِﻟَﻰ ﺃَﻥْ ﺗَﻐِﻴﺐَ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲُ ﻋَﻠَﻰ ﻗِﻴﺮَﺍﻃَﻴْﻦِ

“Siapa yang mau bekerja untukku dari ‘Ashar hingga terbenamnya matahari dengan upah dua qirath”.

Ini merupakan upah yang sangat besar, akan tetapi para ulama salaf tetap tidak menerangkan tentang adanya zakat pada upah, karena sesungguhnya dalil telah menjelaskan dengan gamblang sebagaimana di dalam riwayat At-Tirmidziy dari Ibu Umar yang mauquf:

ﻣَﻦِ ﺍﺳْﺘَﻔَﺎﺩَ ﻣَﺎﻻً ﻓَﻼَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺤُﻮْﻝَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟْﺤَﻮْﻝُ

“Barangsiapa memperoleh harta maka tidak ada kewajiban zakat padanya hingga berlalu atasnya waktu satu tahun”.

Dan riwayat yang mauquf ini memiliki penguat pada riwayat Abu Dawud dari Ali, yang riwayat Abu Dawud ini telah dihasankan oleh Al-Hafizh Ahmad bin Ali Al-Mishriy Rahimahullah.

Jadi kesimpulannya tidak ada zakat pada upah dari orang yang bekerja, akan tetapi yang wajib atasnya adalah zakat mal yang dia miliki dari hartanya, baik hartanya itu dia miliki dari upah pekerjaannya itu atau pun dia miliki dari pendapatan lainnya, ketika hartanya sudah memenuhi nishab dan telah mencapai haul yakni sudah berlalu setahun maka wajib mengeluarkan zakat malnya. Wallahu A’lam.

[Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir di Bekasi pada 4 Syawwal 1438] Sumber  : https://t.me/majaalisalkhidhir/

 

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: