“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

Khutbah 'Idul Fithri 1 Syawal 1438 H

بسم الله الرحمن الرحيم

Pada hari ini seluruh kaum Muslimin di seluruh penjuru dunia merayakan hari ‘idul fitri, mereka keluar dari rumah-rumah mereka dengan penuh kegembiraan dan keceriaan, akan tetapi sebagai seorang muslim yang sejati sebagai mukmin yang hakiki, seharusnya ditengah kegembiraan ini, hendaknya kita selalu menghadirkan muhaasabah senantiasa introspeksi diri-diri kita, apakah amalan sebulan penuh di bulan Romadhon diterima oleh Allah ta’ala atau tidak.! 

Tujuan utama bagi seorang mukmin adalah mencapai keridoan Allah ta’ala, karena tanpa keridoan Allah ta’ala seseorang tidak akan mendapatkan surga Allah ta’ala.

Oleh sebab itu Dijelaskan bahwa Allah ta’ala menciptakan manusia dalam rangka beribadah kepada Allah ta’ala.

ﻭَﻣَﺎ ﺧَﻠَﻘْﺖُ ﺍﻟْﺠِﻦَّ ﻭَﺍﻟْﺈِﻧْﺲَ ﺇِﻟَّﺎ ﻟِﻴَﻌْﺒُﺪُﻭﻥِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”

ﻣَﺎ ﺃُﺭِﻳﺪُ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻣِﻦْ ﺭِﺯْﻕٍ ﻭَﻣَﺎ ﺃُﺭِﻳﺪُ ﺃَﻥْ ﻳُﻄْﻌِﻤُﻮﻥِ

“Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.” ( QS :  Adz dzariyat 56-57)

🔹Ketahuilah, apabila seorang tidak muhasabah diri, bisa jadi seorang hamba bisa terjerumus pada perkara bangga dengan amalannya, dan merasa puas dan cukup kepada apa yang telah dia kerjakan, oleh karena sikap inilah seseorang bisa lemah dan kendor dalam melakukan ibadah kepada Allah ta’ala, sebab dia merasa telah melakukan amalan yang banyak.

🔹 Dan ini sangat berbeda dengan dengan apa yang telah dilakukan oleh salafussoleh, dari kalangan anbiya dan orang-orang sholeh, mereka terus berdoa Agar Allah menerima amalan kebaikan mereka dan takut dari tertolaknya amalan tersebut.

🔹Tatkala Nabiyulloh Ibrohim dan Ismail alayhimassalam meletakkan dan meninggikan pondasi Ka’bah kemudian mereka berdoa “

ﻭَﺇِﺫْ ﻳَﺮْﻓَﻊُ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴﻢُ ﺍﻟْﻘَﻮَﺍﻋِﺪَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺒَﻴْﺖِ ﻭَﺇِﺳْﻤَﺎﻋِﻴﻞُ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺗَﻘَﺒَّﻞْ ﻣِﻨَّﺎ ۖ ﺇِﻧَّﻚَ ﺃَﻧْﺖَ ﺍﻟﺴَّﻤِﻴﻊُ ﺍﻟْﻌَﻠِﻴﻢُ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS : Al Baqarah 127)

Allah ta’ala berfirman  :

ﺇِﺫْ ﻗَﺎﻟَﺖِ ﺍﻣْﺮَﺃَﺕُ ﻋِﻤْﺮَﺍﻥَ ﺭَﺏِّ ﺇِﻧِّﻲ ﻧَﺬَﺭْﺕُ ﻟَﻚَ ﻣَﺎ ﻓِﻲ ﺑَﻄْﻨِﻲ ﻣُﺤَﺮَّﺭًﺍ ﻓَﺘَﻘَﺒَّﻞْ ﻣِﻨِّﻲ ﺇِﻧَّﻚَ ﺃَﻧْﺖَ ﺍﻟﺴَّﻤِﻴﻊُ ﺍﻟْﻌَﻠِﻴﻢُ

“(Ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS: Ali Imran 35)

🔹 Seberapa besar amalan yang dilakukan seorang hamba, tidak akan bisa memasukkan seseorang kedalam surga Allah.

Dinukil dari hadist,  disebutkan :

ﺃَﻥَّ ﺃَﺑَﺎ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﻗَﺎﻝَ ﺳَﻤِﻌْﺖُ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻳَﻘُﻮﻝُ ‏« ﻟَﻦْ ﻳُﺪْﺧِﻞَ ﺃَﺣَﺪًﺍ ﻋَﻤَﻠُﻪُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ‏» . ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻭَﻻَ ﺃَﻧْﺖَ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻗَﺎﻝَ ‏« ﻻَ ، ﻭَﻻَ ﺃَﻧَﺎ ﺇِﻻَّ ﺃَﻥْ ﻳَﺘَﻐَﻤَّﺪَﻧِﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑِﻔَﻀْﻞٍ ﻭَﺭَﺣْﻤَﺔٍ

“Sesungguhnya Abu Hurairah berkata, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal seseorang tidak akan memasukkan seseorang ke dalam surga.” “Engkau juga tidak wahai Rasulullah?”, tanya beberapa sahabat. Beliau menjawab, “Aku pun tidak. Itu semua hanyalah karena karunia dan rahmat Allah.” (HR. Bukhari no. 5673 dan Muslim no. 2816)

Hadist diatas tidaklah bertentangan dengan ayat ini:

ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺗَﺘَﻮَﻓَّﺎﻫُﻢُ ﺍﻟْﻤَﻠَﺎﺋِﻜَﺔُ ﻃَﻴِّﺒِﻴﻦَ ۙ ﻳَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﺳَﻠَﺎﻡٌ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢُ ﺍﺩْﺧُﻠُﻮﺍ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﺑِﻤَﺎ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ

“(Yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Salaamun’alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”. (QS:An nahl 32)

Ini tidak ada pertentangan, bahwanya nabi bermaksud bahwa amalan tidak semata-mata dapat ditukar dengan surga Allah yang mulia, akan tetapi juga dengan sebab rahmat karunia dan keridoan Allah atas hamba tersebut.

🔹Para salafush shaleh bersungguh-sungguh dalam memperbaiki dan menyempurnakan amal mereka kemudian setelah itu mereka memperhatikan dikabulkannya amal tersebut oleh Allah subahanahu wa ta’ala dan takut daripada ditolaknya.

Perkataan Ali bin abi tholib  Radhiallahu’anhu:

كُونُوا لِقَبُولِ الْعَمَلِ أَشَدَّ اهْتِمَامَا مِنْكُمْ بِالْعَمَلِ

“Jadilah kalian orang-orang yang lebih memperhatikan amal diterima atau tidak, dibandingkan beramal itu sendiri.”

Kemudian beliau ‘ali radhiyallahu ‘anhu mengucapkan:

أَلَمْ تَسْمَعُوا اللَّهَ يَقُولُ : إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ سورة المائدة آية 27

“Apakah kalian tidak mendengar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Sesungguhnya Allah menerima hanya dari orang-orang yang bertaqwa.” (Q.S. Al-Ma’idah)

Begitu juga perkataan Fudhalah bin ‘Ubaid rahimahullahu Ta’ala, beliau mengatakan:

لأَنْ أَكُونَ أَعْلَمُ أَنَّ اللَّهَ قَدْ تَقَبَّلَ مِنِّي مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

“Sungguh aku mengetahui amalanku diterima walau seberat biji sawi lebih aku cintai dibandingkan aku memiliki dunia dan seisinya.”

Malik bin Dinar – seorang ulama tabi’in – pernah mengatakan,

الخَوفُ عَلَى العَمَلِ أَنْ لَا يَتَقَبَّلَ أَشَدُّ مِنَ العَمَلِ

“Perasaan takut amalnya tidak diterima, lebih berat dibandingkan amal itu sendiri.”

Demikian pula keadaan para sahabat sebagaimana di sebutkan oleh sebagian ulama salaf

كَانُوا يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَبْلُغَهُمْ شَهْرَ رَمَضَانَ ثُمَّ يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُمْ

”Mereka (para sahabat) berdo’a kepada Allah selama 6 bulan agar mereka dapat menjumpai bulan Ramadlan. Kemudian mereka pun berdo’a selama 6 bulan agar amalan yang telah mereka kerjakan diterima oleh-Nya.”

Demikianlah sifat seorang mukmin yang mukhlis dalam beribadah kepada Rabb-nya. Allah ta’ala telah mensifati mereka dengan orang-orang yang selalau bersegera di dalam kebaikan

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ (٦٠)

”Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.” (QS:Al Mukminun: 60).

Ummul Mukminin, ’Aisyah radliallahu ‘anha ketika mendengar ayat ini, beliau merasa heran dikarenakan tabiat asli manusia ketika telah mengerjakan suatu amal shalih, jiwanya akan merasa senang. Namun dalam ayat ini Allah ta’ala memberitakan suatu kaum yang melakukan amalan shalih, akan tetapi hati mereka justru merasa takut. Maka beliau pun bertanya kepada kekasihnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَهُمُ الَّذِينَ يَشْرَبُونَ الْخَمْرَ وَيَسْرِقُونَ

“Apakah mereka orang-orang yang meminum khamr dan mencuri?”

Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasalam pun menjawab,

لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ وَلَكِنَّهُمْ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لَا يُقْبَلَ مِنْهُمْ أُولَئِكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ

”Tidak wahai ’Aisyah. Mereka adalah orang-orang yang berpuasa, menegakkan shalat dan bersedekah akan tetapi mereka merasa takut amalan yang telah mereka kerjakan tidak diterima di sisi Allah. Mereka itulah golongan yang senantiasa berlomba-lomba dalam mengerjakan kebajikan.” (HR. Tirmidzi nomor 3175. Imam Al Albani menshahihkan hadits ini dalam Shahihut Tirmidzi nomor 2537).

Ada seorang ulama tabi’ tabi’in, Abdul Aziz bin Abi Rawad, beliau menceritakan kondisi para tabi’in di masa silam,

أَدْرَكْتُهُم يَـجْتَهِدُونَ فِي العَمَلِ الصَّالِـح فَإِذَا فَعَلُوهُ وَقَعَ عَلَيهِمُ الـهَمُّ أَيُقْبَلُ مِنهُمْ أَمْ لَا

“Aku menjumpai para ulama, mereka bersungguh-sungguh dalam beramal sholeh. Selesai beramal, timbul keresahan dari diri mereka, apakah amalnya diterima ataukah tidak.”

Inilah keadaan salafussoleh, berbeda keadaannya dengan kaum muslimin sekarang, mereka menganggap bahwa waktu yang kita tunggu-tunggu telah tiba kita telah terbebaskan dari berbagai macam perkara yang mengekang, kemudian mereka kembali melakukan kemaksiatan.

🔹Perkara diterima amal adalah sesuatu yang dirahasiakan oleh Allah, agar kaum muslimin bersungguh-sungguh dalan melakukan amalan dan ketaatan.
oleh karena itu, disana ada perkara dimana seseorang dapat mengetahui diterima amalnya atau tidak.

1. Keridoan terhadap Keputusan Allah.

Keridoan tanda keikhlasan seseorang terhadap ketentuan, takdir Allah. dan merupakan salah satu tanda diterima amalan yakni ikhlas dan mutaba’ah.

Allah berfirman:

ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻢْ ﻭَﺭَﺿُﻮﺍ ﻋَﻨْﻪُ ۚ ﺫَٰﻟِﻚَ ﻟِﻤَﻦْ ﺧَﺸِﻲَ ﺭَﺑَّﻪُ

“Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” (QS:Al bayyinah 8)

2. Mendapat taufiq untuk melakukan amalan-amalan dihari-hari berikutnya.

Allah berfirman:

ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﻘْﺘَﺮِﻑْ ﺣَﺴَﻨَﺔً ﻧَﺰِﺩْ ﻟَﻪُ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺣُﺴْﻨًﺎ ۚ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻏَﻔُﻮﺭٌ ﺷَﻜُﻮﺭٌ

“Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.”(QS:As syura 23)

ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺍﻫْﺘَﺪَﻭْﺍ ﺯَﺍﺩَﻫُﻢْ ﻫُﺪًﻯ ﻭَﺁﺗَﺎﻫُﻢْ ﺗَﻘْﻮَﺍﻫُﻢْ

“Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketakwaannya.”  (QS:Muhammad 17)

Dinukil dari perkataan Hasan Al bashri menukil ucapan Said bin zubair radiyallohu ‘anhu dia berkata:

ﻣﻦ ﺛﻮﺍﺏِ ﺍﻟﺤﺴﻨﺔُ : ﺍﻟﺤﺴﻨﺔُ ﺑﻌﺪﻫﺎ، ﻭﻣﻦ ﻋﻘﻮﺑﺔِ ﺍﻟﺴﻴﺌﺔِ : ﺍﻟﺴﻴﺌﺔُ ﺑﻌﺪﻫﺎ

“Balasan dari amal kebaikan adalah (seseorang diberikan taufiq) untuk melakukan amalan-amalan kebaikan berikutnya. Hukuman bagi orang yang berbuat kejelekan adalah mereka senantiasa diatas kemaksiatan berikutnya.”

3. Mendapat ketenangan dalam Kehidupan didunia ini.

ﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻞَ ﺻَﺎﻟِﺤًﺎ ﻣِﻦْ ﺫَﻛَﺮٍ ﺃَﻭْ ﺃُﻧْﺜَﻰٰ ﻭَﻫُﻮَ ﻣُﺆْﻣِﻦٌ ﻓَﻠَﻨُﺤْﻴِﻴَﻨَّﻪُ ﺣَﻴَﺎﺓً ﻃَﻴِّﺒَﺔً ۖ ﻭَﻟَﻨَﺠْﺰِﻳَﻨَّ
ﻬُﻢْ ﺃَﺟْﺮَﻫُﻢْ ﺑِﺄَﺣْﺴَﻦِ ﻣَﺎ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻳَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS:An nahl 97)

Orang yang Membaca dan Mengikuti Al Qur’an tidak akan celaka selamanya.

ﻋَﻦِ ﺍﺑْﻦِ ﻋَﺒَّﺎﺱٍ ﺭﺿﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ : ﺿَﻤِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟِﻤَﻦَ ﺍﺗَّﺒَﻊَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥَ ﺃَﻥْ ﻻَ ﻳَﻀِﻞَّ ﻓِﻲ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ، ﻭَﻻَ ﻳَﺸْﻘَﻰ ﻓِﻲ ﺍﻵﺧِﺮَﺓِ ، ﺛُﻢَّ ﺗَﻼَ { ﻓَﻤَﻦَ ﺍﺗَّﺒَﻊَ ﻫُﺪَﺍﻱَ ﻓَﻼَ ﻳَﻀِﻞُّ ﻭَﻻَ ﻳَﺸْﻘَﻰ }.

“Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata: “Allah telah menjamin bagi siapa yang mengikuti Al Quran, tidak akan sesat di dunia dan tidak akan merugi di akhirat”, kemudian beliau membaca ayat:

{ ﻓَﻤَﻦَ ﺍﺗَّﺒَﻊَ ﻫُﺪَﺍﻱَ ﻓَﻼَ ﻳَﻀِﻞُّ ﻭَﻻَ ﻳَﺸْﻘَﻰ }

“Lalu barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka”. (QS: Thaha: 123) (Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya).

4.. Seseorang dapat diterima oleh manusia dimuka bumi ini.

Dalam sahih Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah; Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

” إن الله إذا أحب عبدا دعا جبريل فقال إنى أحب فلانا فأحبه – قال – فيحبه جبريل ثم ينادى فى السماء فيقول إن الله يحب فلانا فأحبوه. فيحبه أهل السماء – قال – ثم يوضع له القبول فى الأرض. وإذا أبغض عبدا دعا جبريل فيقول إنى أبغض فلانا فأبغضه – قال – فيبغضه جبريل ثم ينادى فى أهل السماء إن الله يبغض فلانا فأبغضوه – قال – فيبغضونه ثم توضع له البغضاء فى الأرض ” .

“Sesungguhnya Allah jika mencintai seorang hamba, Ia memanggil Jibril dan berkata kepadanya: Sesungguhnya Aku mencintai si Fulan maka cintailah ia. Lalu Jibril ikut mencintainya, kemudian berseru di langit: Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan maka cintailah ia. Lalu penduduk langit turut mencintainya, kemudian diturunkan rasa cinta kepadanya di bumi. Dan jika Allah membenci seorang hamba, Ia memanggil Jibril dan berkata kepadanya: Sesungguhnya Aku membenci si Fulan maka bencilah ia. Lalu Jibril ikut membencinya, kemudian berseru di langit: Sesungguhnya Allah membenci si Fulan maka bencilah ia. Lalu penduduk langit turut membencinya, kemudian diturunkan rasa benci kepadanya di bumi.”

5. mengganggap remeh amalan yang dikerjakan.

Dinukil sebuah ucapan dari Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah : “Tanda diterimanya amalan yang anda lakukan, yaitu anda menganggap remeh dan menganggap sepele amalan tersebut dalam hati anda, bahkan orang-orang yang memahami keagungan Allah mereka memohon ampun kepada Allah setelah melakukan ketaatan.”

Mengangap kecil remeh amal sholeh yang kita lakukan. Ini akan mengobati perasaan ujub yang mungkin hinggap di hati kita.

Nasehat buat kaum lelaki

Sebagaimanapun solehnya seorang lelaki, dia tidak akan mampu menyelamatkan keluarganya, apabila keluarganya bukan dari kalangan orang yang beribadah, bukan kalangan orang yang beriman pada Allah ta’ala.

Dalam sebuah hadits yang shahih disebutkan:

ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲْ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻪُ ﻗَﺎﻝَ : ﻗَﺎﻡَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺣِﻴﻦَ ﺃَﻧْﺰَﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ } ﻭَﺃَﻧْﺬِﺭْ ﻋَﺸِﻴﺮَﺗَﻚَ ﺍﻟْﺄَﻗْﺮَﺑِﻴﻦَ { ﻗَﺎﻝَ ﻳَﺎ ﻣَﻌْﺸَﺮَ ﻗُﺮَﻳْﺶٍ ﺃَﻭْ ﻛَﻠِﻤَﺔً ﻧَﺤْﻮَﻫَﺎ ﺍﺷْﺘَﺮُﻭﺍ ﺃَﻧْﻔُﺴَﻜُﻢْ ﻟَﺎ ﺃُﻏْﻨِﻲ ﻋَﻨْﻜُﻢْ ﻣِﻦْ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻳَﺎ ﺑَﻨِﻲ ﻋَﺒْﺪِ ﻣَﻨَﺎﻑٍ ﻟَﺎ ﺃُﻏْﻨِﻲ ﻋَﻨْﻜُﻢْ ﻣِﻦْ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻳَﺎ ﻋَﺒَّﺎﺱُ ﺑْﻦَ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟْﻤُﻄَّﻠِﺐِ ﻟَﺎ ﺃُﻏْﻨِﻲ ﻋَﻨْﻚَ ﻣِﻦْ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻭَﻳَﺎ ﺻَﻔِﻴَّﺔُ ﻋَﻤَّﺔَ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻟَﺎ ﺃُﻏْﻨِﻲ ﻋَﻨْﻚِ ﻣِﻦْ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻭَﻳَﺎ ﻓَﺎﻃِﻤَﺔُ ﺑِﻨْﺖَ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺳَﻠِﻴﻨِﻲ ﻣَﺎ ﺷِﺌْﺖِ ﻣِﻦْ ﻣَﺎﻟِﻲ ﻟَﺎ ﺃُﻏْﻨِﻲ ﻋَﻨْﻚِ ﻣِﻦْ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺷَﻴْﺌًﺎ

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Ketika turun firman Allah {Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat} –QS asy Syua’raa/26 ayat 214- Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri dan berkata,’Wahai orang-orang Quraisy –atau kalimat semacamnya- belilah diri-diri kamu, aku tidak dapat menolak (siksaan) dari Allah terhadap kamu sedikitpun. Wahai Bani Abdu Manaf, aku tidak dapat menolak (siksaan) dari Allah terhadap kamu sedikitpun. Wahai ‘Abbas bin Abdul Muththolib, aku tidak dapat menolak (siksaan) dari Allah terhadap-mu sedikitpun. Wahai Shafiyyah bibi Rasulullah, aku tidak dapat menolak (siksaan) dari Allah terhadapmu sedikitpun. Wahai Fatimah putri Muhammad, mintalah dari hartaku yang engkau kehendaki, aku tidak dapat menolak (siksaan) dari Allah terhadapmu sedikitpun’.” [HR Bukhari, no. 2753; Muslim, no. 206; dan lainnya]

Kita semua adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggung jawaban sebagaimana dijelaskan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

ﻛُﻠُّﻜُﻢْ ﺭَﺍﻉٍ، ﻭَﻛُﻠُّﻜُﻢْ ﻣَﺴْﺆُﻭْﻝٌ ﻋَﻦْ ﺭَﻋِﻴَّﺘِﻪِ، ﻭَﺍﻷَﻣِﻴْﺮُ ﺭَﺍﻉٍ، ﻭَﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﺭَﺍﻉٍ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻫْﻞِ ﺑَﻴْﺘِﻪِ، ﻭَﺍﻟْﻤَﺮْﺃَﺓُ ﺭَﺍﻋِﻴَّﺔٌ ﻋَﻠَﻰ ﺑَﻴْﺖِ ﺯَﻭْﺟِﻬَﺎ ﻭَﻭَﻟَﺪِﻩِ، ﻓَﻜُﻠُّﻜُﻢْ ﺭَﺍﻉٍ ﻭَﻛُﻠُّﻜُﻢْ ﻣَﺴْﺆُﻭْﻝٌ ﻋَﻦْ ﺭَﻋِﻴَّﺖ ‏) ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﻴﻪ

“Kalian semua adalah pemimpin dan seluruh kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin. Penguasa adalah pemimpin dan seorang laki-laki adalah pemimpin, wanita juga adalah pemimpin atas rumah dan anak suaminya. Sehingga seluruh kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin.” (Muttafaqun alaihi)

Nasehat Untuk Wanita

Allah Azza wa Jalla berfirman dalam surat at-Tahrim :
“Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada dibawah pengawasan dua orang hamba yang saleh diantara hamba-hamba Kami, lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya…” (QS:At-Tahrim: 10)

Takutlah atas diri-diri kalian jangan jadi penghalang atas suami kalian dalam beribadah, jadilah kalian penolong-penolong agama Allah.

Nasehat bagi Anak-anak

Masa muda akan dimintai pertanggungjawaban, janganlah kalian mengatakan nanti diwaktu tua saja baru beribadah, ini adalah sebuah kesalahan. Teruslah melakukan ketaatan sebelum datang masa tua dimana tubuh ini akan lemah dalam menjalankan aktifitas ibadah kepada Allah.

Setiap dari kita, sudahkan muhaasabah diri-diri kita,?? Teruslah beramal mendekatkan diri kepada Allah robbul ‘alamiin.

Wallohu a’lam bish showaab
walhamdulillah

☘️🌷☘️🌷☘️🌷☘️🌷
Ditulis/transkript Akhukum Abu Muhammad Al Amboony hafidzahullah

Telah dikoreksi/dimuroja’ah Al ustadz muhammad syamsul hafidzohulloh ta’ala

Faedah Markiz Silale Ambon:
Khutbah ‘Idul Fithr 1438H Ahad 25 Juni 2017
Al Ustadz Muhammad Syamsul hafidzohulloh ta’ala
Lapangan Markiz Al Amin Ambon.

☘️🌷☘️🌷☘️🌷☘️

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: