“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

taqoballah

Hukum Takbiran Pada Malam Idul Fitri

Tanya: Bismillah….. Assalamu’alaikum, ‘afwan ada pertanyaan: Bagaimanakah hukum takbir pada malam ‘Iedul Fitri?

Jawab: Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh.

Takbiran pada malam ‘Iedul Fithri termasuk dari perkara yang disyari’atkan, berkata Allah Subhanahu wa Ta’ala:

(وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ)

“Dan hendaknya kalian menyempurnakan bilangan (bulan Ramadhan) lalu kalian bertakbir kepada Allah atas petunjuk yang telah Dia berikan kepada kalian, dan supaya kalian bersyukur”. [Al-Baqarah: 185]. 

Berkata Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’iy -semoga Allah merahmati kita dan merahmati beliau-:

ﻭَﺗُﻜَﺒِّﺮُﻭﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻋِﻨْﺪَ ﺇﻛْﻤَﺎﻟِﻪِ

“Dan kalian bertakbir kepada Allah ketika telah menyempurnakan Ramadhan”.
Dan beliau jelaskan:

ﻭَﺇِﻛْﻤَﺎﻟُﻪُ ﻣَﻐِﻴﺐُ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲِ ﻣِﻦْ ﺁﺧِﺮِ ﻳَﻮْﻡٍ ﻣِﻦْ ﺃَﻳَّﺎﻡِ ﺷَﻬْﺮِ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ.

“Dan menyempurnakannya yaitu waktu tenggalamnya matahari pada akhir hari dari hari-hari di bulan Ramadhan”.

Dan berkata Al-Imam Sufyan Ats-Tsauriy -semoga Allah merahmati kita dan merahmati beliau-:

ﻧَﺮْﺟُﻮ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮْﻥَ ﺍﻟﺘَّﻜْﺒِﻴْﺮُ ﻟَﻴْﻠَﺔَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ

“Kami menganggap keberadaan takbir itu pada malam ‘Iedul Fithri”.

Diriwayatkan dari Sa’id Ibnul Musayyab, Urwah Ibnuz Zubair dan Abu Bakr bin Abdirrahman:

ﺃَﻧَّﻬُﻢْ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻳُﻜَﺒِّﺮُﻭْﻥَ ﻟَﻴْﻠَﺔَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪِ ﻳَﺠْﻬَﺮُﻭﻥَ ﺑِﺎﻟﺘَّﻜْﺒِﻴﺮِ

“Bahwasanya mereka takbiran pada malam ‘Iedul Fithri di dalam masjid, mereka mengeraskan suara ketika bertakbir”.

Dari keterangan tersebut jelaslah bahwa bertakbir pada malam ‘Iedul Fithri termasuk dari perkara yang disyari’atkan.
Wallahu A’lam.

[Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir di Bekasi pada 25 Ramadhan 1438]

***

HUKUM MENGANGKAT TANGAN DI SETIAP KALI TAKBIR PADA SHALAT ‘IED

Tanya: Bismillah… Ustadz ada pertanyaan: Bagaimana dengan mengangkat tangan ketika takbir shalat ‘Ied, apakah setiap takbir diharuskan mengangkat tangan atukah hanya takbiratul ihram saja?

Jawab: Mengangkat kedua tangan pada setiap kali takbir di dalam shalat ‘Ied termasuk dari sunnah, ini berdasarkan keumuman hadits Wa’il bin Hujr Radhiyallahu ‘Anhu:

ﺭَﺃَﻳْﺖُ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳَﺮْﻓَﻊُ ﻳَﺪَﻳْﻪِ ﻣَﻊَ ﺍﻟﺘَّﻜْﺒِﻴْﺮِ

“Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengangkat kedua tangannya setiap kali takbir”.

Dan di dalam hadits Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘Anhuma yang diriwayatkan oleh Ahmad dan yang lainnya dengan lafazh:

ﻭَﻳَﺮْﻓَﻌُﻬُﻤَﺎ ﻓِﻲ ﻛُﻞِّ ﺭَﻛْﻌَﺔٍ ﻭَﺗَﻜْﺒِﻴْﺮَﺓٍ ﻛَﺒَّﺮَﻫَﺎ ﻗَﺒْﻞَ ﺍﻟﺮُّﻛُﻮْﻉِ ﺣَﺘَّﻰ ﺗَﻨْﻘَﻀِﻲَ ﺻَﻼَﺗُﻪُ

“Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengangkat kedua tangannya pada setiap raka’at dan setiap takbir yang beliau bertakbir padanya sebelum ruku’ sampai beliau selesai shalat”.

Dan takbir tambahan keberadaannya sebelum ruku’, dengan demikian termasuk dari sunnah adalah mengangkat kedua tangan pada setiap kali takbir sebelum ruku’.

Dengan demikian Jumhur ulama berpendapat bahwa:

ﺭَﻓْﻊُ ﺍﻟْﻴَﺪَﻳْﻦِ ﻓِﻲ ﺍﻟﺘَّﻜْﺒِﻴْﺮَﺍﺕِ ﺍﻟﺰَّﻭَﺍﺋِﺪِ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻌَﻴْﺪَﻳْﻦِ ﻫُﻮَ ﺍﻟﺴُّﻨَّﺔُ ﻭَﺍﻷَﻭْﻟَﻰ

“Mengangkat kedua tangan pada takbir-takbir tambahan di dalam shalat ‘Iedul Fithri dan ‘Idul Adhha adalah sunnah dan lebih utama”.

Ibnu Juraij pernah bertanya kepada ‘Atha:

ﻳَﺮْﻓَﻊُ ﺍﻹِﻣَﺎﻡُ ﻳَﺪَﻳْﻪِ ﻛُﻠَّﻤَﺎ ﻛَﺒَّﺮَ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻟﺘَّﻜْﺒِﻴْﺮَﺓَ ﺍﻟﺰِّﻳَﺎﺩَﺓَ ﻓِﻲ ﺻَﻼَﺓِ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ؟ ﻗَﺎﻝَ: ﻧَﻌَﻢْ، ﻭَﻳَﺮْﻓَﻊُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺃَيْضًا.

“Apakah imam mengangkat kedua tangannya setiap kali dia bertakbir pada takbir tambahan di dalam shalat ‘Ied ini? Maka beliau menjawab: “Iya, dan ma’mum juga mengangkat kedua tangannya”. Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq Ash-Shan’aniy, Al-Baihaqiy dan Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan pula yang semakna dengannya.
Walhamdulillah.

[Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir di Bekasi pada 25 Ramadhan 1438].

***

HUKUM MENINGGALKAN SHALAT ‘IED BAGI ORANG YANG SAFAR

 

Tanya: Bismillah… Ustadz apa hukum meninggalkan shalat ‘idul fitri atau ‘idul adha karena sedang safar? Jazaakallahu khairan atas jawabannya.

Jawab: Tidak mengapa bagi orang yang safar meninggalkan shalat ‘ied, sama saja dia menganggap shalat ‘ied itu hukumnya fardhu ‘ain atau pun dia menganggap fardhu kifayah, ketika keberadaannya sedang safar maka tidak mengapa baginya meninggalkannya, berkata Asy-Syaikh Ibnul Utsaimin Rahimahullah:

ﻻَ ﺗُﺸْﺮَﻉْ ﺻَﻼَﺓُ ﺍﻟْﻌِﻴْﺪِ ﻓِﻲ ﺣَﻖِّ ﺍﻟْﻤُﺴَﺎﻓِﺮِ، ﻛَﻤَﺎ ﻻَ ﺗُﺸْﺮَﻉُ ﺍﻟﺠُﻤْﻌَﺔُ ﻓِﻲ ﺣَﻖِّ ﺍﻟْﻤُﺴَﺎﻓِﺮِ ﺃَﻳْﻀﺎً

“Tidak disyari’atkan shalat ‘ied bagi orang yang safar, sebagaimana tidak disyari’atkannya juga shalat jum’at bagi orang yang safar”.

Shalat jum’at termasuk dari kewajiban namun para ulama menyebutkan bahwa orang yang safar tidaklah wajib baginya melaksanakan shalat jum’at dan yang menjadi kewajibannya adalah melaksanakan shalat zhuhur.

Dan apabila orang yang safar berada di suatu tempat atau di suatu pemukiman yang diadakan padanya shalat ‘ied dan mudah baginya untuk ikut shalat ‘ied bersama penduduk di tempat pemukiman tersebut maka dia ikut, Insya Allah dia mendapatkan pahala. Adapun kalau dia tidak menginginkan untuk shalat ‘ied maka dia tidak berdosa karena keberadaannya sebagai orang yang safar, dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menyebutkan:

ﺍﻟﺴَّﻔَﺮُ ﻗِﻄْﻌَﺔٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻌَﺬَﺍﺏِ

“Safar adalah bagian dari siksa”.

Yang dengan sebabnya seseorang memiliki rasa berat untuk melaksanakan amalan-amalannya sebagaimana ketika dia mukim. Wallahu A’lam.

***

SUNNAH-SUNNAH SEBELUM SHALAT ‘IEDUL FITHRI

Tanya: Bismillah… Ustadz apakah ada sunnah-sunnah sebelum melakukan shalat ‘iedul fithri.

Jawab: Di antara sunnah-sunnah sebelum shalat ‘iedul fithri adalah:

Bertakbir.
Disunnahkan memulai bertakbir dari tenggelamnya matahari pada hari terakhir dari hari-hari Ramadhan sampai imam berdiri mengimami shalat ‘iedul fithri, Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata:

ﻭَﻟِﺘُﻜَﺒِّﺮُﻭﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﺎ ﻫَﺪَﺍﻛُﻢْ ﻭَﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗَﺸْﻜُﺮُﻭﻥَ

“Dan bertakbirlah kalian kepada Allah atas petunjuk yang telah Dia berikan kepada kalian dan supaya kalian bersyukur”. (Al-Baqarah:185).

Di dalam suatu riwayat dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘Anhuma:

ﺃَﻧَّﻪُ ﻛَﺎﻥَ ﻳُﻜَﺒِّﺮُ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻌِﻴْﺪِ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺄْﺗِﻲَ ﺍﻟْﻤُﺼَﻠَّﻰ، ﻭَﻳُﻜَﺒِّﺮُ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺄْﺗِﻲَ ﺍْﻟِﺈﻣَﺎﻡُ

“Bahwasanya beliau bertakbir pada ‘Iedul Fithri sampai beliau datang ke tempat shalat, dan beliau bertakbir sampai imam datang (untuk mengimami shalat ‘Ied)”.

Mandi.
Al-Imam Malik meriwayatkan di dalam “Al-Muwaththa'” dari Nafi, bahwasanya beliau berkata:

ﺃَﻥَّ ﻋَﺒْﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦَ ﻋُﻤَﺮَ ﻛَﺎﻥَ ﻳَﻐْﺘَﺴِﻞُ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻗَﺒْﻞَ ﺃَﻥْ ﻳَﻐْﺪُﻭَ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﻤُﺼَﻠَّﻰ

“Sungguh Abdullah bin Umar mandi pada ‘Iedul Fithri sebelum beliau berangkat ke tempat shalat”.
Dan Al-Firyabiy meriwayatkan bahwa Sa’id Ibnul Musayyab berkata:

ﺳُﻨَّﺔُ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﺛَﻼَﺙٌ: ﺍﻟْﻤَﺸِﻲ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﻤُﺼَﻠَّﻰ، ﻭَﺍﻷَﻛْﻞُ ﻗَﺒْﻞَ ﺍﻟْﺨُﺮُﻭْﺝِ، ﻭَﺍﻻِﻏْﺘِﺴَﺎﻝُ.

“Sunnah ‘Iedul Fithri ada tiga: Berjalan ke tempat shalat, makan sebelum keluar dan mandi”.

Berhias dengan mengenakan pakaian yang bagus dan atau pakaian yang baru.

Al-Imam Al-Bukhariy meriwayatkan dari Ibnu Umar bahwasanya Umar Ibnul Khaththab pernah memperlihatkan suatu jubah kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sambil berkata:

ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ، ﺍﺑْﺘَﻊْ ﻫَﺬِﻩِ، ﺗَﺠَﻤَّﻞْ ﺑِﻬَﺎ ﻟِﻠْﻌِﻴﺪِ ﻭَﺍﻟْﻮُﻓُﻮﺩِ.

“Wahai Rasulullah, belilah ini supaya engkau berhias dengannya untuk ‘Ied dan menyambut orang-orang yang datang”.

Dan Allah Ta’ala berkata:

(يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ)

“Wahai anak keturunan Adam kenakanlah oleh kalian penghias kalian ketika akan shalat”. [Al-Araf: 31].

Berjalan di suatu jalan ketika berangkat ke tempat shalat dan berjalan ke jalan yang lain ketika kembali dari tempat shalat.

Al-Bukhariy meriwayatkan dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘Anhuma, bahwasanya beliau berkata:

ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺇِﺫَﺍ ﻛَﺎﻥَ ﻳَﻮْﻡُ ﻋِﻴﺪٍ ﺧَﺎﻟَﻒَ ﺍﻟﻄَّﺮِﻳﻖَ

“Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada hari Ied mengambil jalan yang berbeda (ketika berangkat dan ketika kembali dari tempat shalat)”. Wallahu A’lam.

[Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir pada 29 Ramadhan 1438]

***

UCAPAN SELAMAT PADA HARI RAYA I’EDUL FITHRI

Tanya:  Apakah boleh mengucapkan selamat hari raya ‘Iedul Fithri?

Jawab: Boleh mengucapkan ucapan selamat pada hari raya ‘Iedul Fithri, sebagai rasa senang dan rasa gembira, disebutkan dalam suatu hadits:

ﻟِﻠﺼَّﺎﺋِﻢِ ﻓَﺮْﺣَﺘَﺎﻥِ، ﻓَﺮْﺣَﺔٌ ﻋِﻨْﺪَ ﻓِﻄْﺮِﻩِ، ﻭَﻓَﺮْﺣَﺔٌ ﻋِﻨْﺪَ ﻟِﻘَﺎﺀِ ﺭَﺑِّﻪِ

“Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan; kegembiraan ketika ber’iedul Fithri dan kegembiraan ketika berjumpa dengan Rabbnya”.

Dan yang paling bagusnya ucapan adalah ucapan:

ﺗَﻘَﺒَّﻞَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻣِﻨَّﺎ ﻭَمِنْكُمْ

“Semoga Allah menerima amalan dari kami dan amalan dari kalian”.

Ucapan tersebut shahih sebagaimana disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar pada riwayat Jubair bin Nufair, bahwasanya beliau berkata:

ﻛَﺎﻥَ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏُ ﺭَﺳُﻮْﻝِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَ ﺳَﻠَّﻢَ ﺇِﺫَﺍ ﺍﻟْﺘَﻘَﻮْﺍ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻌِﻴْﺪِ ﻳَﻘُﻮْﻝُ ﺑَﻌْﻀُﻬُﻢْ ﻟِﺒَﻌْﺾٍ ﺗَﻘَﺒَّﻞَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻣِﻨَّﺎ ﻭَﻣِﻨْﻚَ

“Dahulu para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jika mereka saling bertemu pada ‘Iedul Fithri maka sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain: “Semoga Allah menerima amalan dari kami dan amalan darimu”.

Ucapan tersebut karena bentuknya adalah doa, ketika diucapkan kepada seseorang maka hendaknya orang yang diucapkan mengaminkannya yakni mengucapkan “Amin” karena pada asalnya setiap doa itu di-amin-kan atau dia mengucapkan yang semisal dengan yang diucapkan kepadanya. Wallahu A’lam.

[Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir di Kemang Pratama-Bekasi pada sore hari yang terakhir dari bulan Ramadhan 1438]  Sumber : http://t.me/majaalisalkhidhir

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: