“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

berdzikirlah
SEGALA SESUATU YANG TERJADI TENTU MEMILIKI HIKMAH

Tanya: Ustadz mohon nasehatnya, bagaimana supaya ana ini tidak merasa bosan dan benci dalam melakukan kebaikan pada orang lain? Terutama sekali ketika ana melihat orang lain tadi berlaku tidak ana senangi, sampai terkadang keluar kata-kata dari lisan ana ketika ana dapati orang lain itu berlaku tidak ana senangi: “Tidak mau lagi ana melakukan seperti yang pernah ana lakukan…, cukup orang itu sebagai pelajaran ana”.  

Jawab: Supaya engkau tidak merasa bosan dalam melakukan kebaikan kepada orang lain maka:

🔹 Jadikanlah keikhlasan sebagai modal utama engkau dalam berbuat kebaikan.

🔸 Bersyukurlah kepada Allah karena engkau telah berbuat kebaikan, ketahuilah bahwa dengan kesyukuran engkau kepada-Nya akan bertambah berbagai kebaikan kepada engkau.

🔹 Anggaplah perbuatan yang pernah engkau lakukan tidak ada nilainya, dengan demikian engkau akan terus termotivasi untuk senantiasa melakukan kebaikan.

🔸 Yakinlah bahwa setiap apa yang engkau lakukan dan setiap apa saja yang diperlakukan kepada engkau tentu ada hikmahnya, ketahuilah bahwa segala sesuatu yang terjadi itu memiliki hikmah yang terkadang kita tidak mengetahuinya.

🔹 Yakinlah bahwa setiap amalan kita pasti akan dibalas, engkau berbuat kebaikan maka engkau akan meraih kebaikannya dan bila orang yang engkau telah berbuat baik kepadanya berbuat sesuatu yang tidak engkau senangi maka dia sendiri yang akan memikul urusannya, masing-masing kita akan menghadap kepada Allah dengan membawa amalan masing-masing, Allah Ta’ala berkata:

(إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَٰنِ عَبْدًا)

“Tidaklah semua orang yang ada di setiap langit dan bumi kecuali akan datang kepada Ar-Rahman sebagai hamba”. [Maryam: 93].

Ketika seseorang yang datang kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan keadaannya sebagai hamba maka dia akan tersibukan dengan urusan dirinya sendiri, dia tidak akan ditanya tentang perbuatan orang lain kecuali yang pertama ditanya adalah tentang perbuatannya sendiri, Allah ‘Azza wa Jalla berkata:

(يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ * وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ * وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ * لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ)

“Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, lari dari ibu dan ayahnya, lari dari kawan-kawan dan anak-anaknya. Bagi setiap orang dari mereka pada hari itu memiliki urusan yang menyibukannya”. [‘Abasa: 43-37].

Tidaklah bermanfaat keluarga, harta dan apa saja yang dimiliki dari semua itu kecuali bagi siapa yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat dan bersih dari apa-apa yang mengotorinya:

(يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ * إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ)

“Pada hari itu tidaklah bermanfaat harta dan anak keturunan kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat”. [Ash-Shu’ara: 88-89]

[Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir di Kemang Pratama Bekasi pada 12 Ramadhan 1438]

***

HUKUM SESEORANG MENYEMBELIH BINATANG DALAM KEADAAN ISTRINYA SEDANG HAMIL

Tanya: Bismillah… Afwan ustadz ini ada titipan pertanyaan: Adakah larangan dalam agama bagi seorang suami yang istrinya sedang hamil untuk menyembelih seekor hewan? katanya takut berakibat apa-apa terhadap si bayi yang ada dalam kandungan
Mohon faidahnya.

Jawab: Boleh bagi seseorang yang istrinya sedang hamil untuk dia menyembelih binatang, karena tidak ada larangan dalam masalah ini, boleh baginya menyembelih binatang, diperkecualikan ketika dia sedang ihram, karena Allah Ta’ala telah berkata:

ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮﺍ ﻻَ ﺗَﻘْﺘُﻠُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﻴْﺪَ ﻭَﺃَﻧﺘُﻢْ ﺣُﺮُﻡٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian membunuh binatang buruan, ketika kalian sedang berihram”. [Al-Maidah: 95].

Kita dapati pada sebagian orang-orang awam berkeyakinan kalau seseorang istrinya sedang hamil maka tidak boleh baginya menyembelih hewan atau membunuh binatang karena akan terjadi apa-apa pada bayi yang di dalam kandungan istrinya atau nanti ketika dilahirkan bayinya akan cacat atau serupa dengan binatang yang dibunuh tersebut.

Kita katakan: Bahwasanya ini adalah keyakinan yang salah, karena kami dahulu bekerja di kebun dan kami mendapati seekor ular di atas pohon lalu kami bunuh sedangkan istri di rumah dalam keadaan hamil, dan kejadian ini berulang, bukan hanya seekor ular yang kami bunuh selama istri hamil namun lebih dari itu, dan Alhamdulillah setelah istri melahirkan bayi dalam keadaan sehat dan normal.

Dan memang pernah ada seseorang yang membunuh babi dan istrinya dalam keadaan hamil, ketika istrinya lahir maka bayinya dalam keadaan cacat, sampai disebutkan keadaannya seperti keadaan babi yang telah dibunuh tersebut, hal itu terjadi karena orang tersebut ketika membunuh babi dia lakukan dengan cara zhalim yaitu dia menganiaya babinya terlebih dahulu, dia menyiksanya setelah itu baru dia bunuh, ini tentu kezhaliman, dan orang yang berbuat zhalim seperti ini tidaklah dibolehkan, dan bisa jadi apa yang dia dapatkan dari keadaan bayinya seperti itu dikarenakan sebab kezhalimannya sendiri, bukankah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memberikan bimbingan:

ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻗَﺘَﻠْﺘُﻢْ ﻓَﺄَﺣْﺴِﻨُﻮﺍ ﺍﻟْﻘِﺘْﻠَﺔَ، ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺫَﺑَﺤْﺘُﻢْ ﻓَﺄَﺣْﺴِﻨُﻮﺍ ﺍﻟﺬَّﺑْﺢَ، ﻭَﻟْﻴُﺤِﺪَّ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﺷَﻔْﺮَﺗَﻪُ، ﻭَﻟْﻴُﺮِﺡْ ﺫَﺑِﻴﺤَﺘَﻪُ

“Jika kalian membunuh maka bunuhlah dengan cara yang baik. Dan jika kalian menyembelih maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaklah salah seorang di antara kalian menajamkan pisau sembelihannya dan menenangkan hewan sembelihannya”.

Pada hadits tersebut terdapat bimbingan dan adab dalam menyembelih dan membunuh hendaknya dilakukan dengan cara baik, orang yang melampui batas dalam membunuh atau melampui batas dalam menyembelih maka dia telah zhalim dan orang yang zhalim akan melihat sendiri akibat dari kezhalimannya.

Dari keterangan tersebut menunjukan bolehnya bagi seseorang menyembelih hewan dan juga boleh membunuh binatang yang diperintahkan untuk dibunuh dengan ketentuan:

* Membaca Bismillah sebelum melakukan penyembelihan terhadap hewan atau sebelum melakukan pembunuhan terhadap binatang.
* Dilakukan dengan cara baik.
* Tidak menzhaliminya, baik berbentuk menganiayanya atau menyiksanya terlebih dahulu namun hendaknya langsung dibunuh dengan cara yang baik. Wallahu A’lam.

[Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir di Bekasi pada 10 Ramadhan 1438]

***

KEUTAMAAN BAGI LAKI-LAKI YANG SHALAT SHUBUH BERJAMA’AH LALU DIA BERDZIKIR SAMPAI MATAHARI TERBIT KEMUDIAN DIA SHALAT DUA RAKA’AT

Tanya: Bismillah… Assalamu’alaykum. ‘afwan Ustadz, ana mau bertanya: Berkaitan dengan hadits berikut ini: Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

«مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ». قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- «تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ»

“Barangsiapa yang melaksanakan shalat shubuh secara berjama’ah lalu ia duduk sambil berdzikir pada Allah hingga matahari terbit, kemudian ia melaksanakan shalat dua raka’at, maka ia seperti memperoleh pahala haji dan umroh.” Beliau pun bersabda: “Pahala yang sempurna, sempurna dan sempurna.” (HR. Tirmidzi).

Bagaimana hukumnya bagi wanita yang sholat dirumah, dan mengamalkan hadits di atas, apakah mendapatkan pahala seperti yang dijanjikan? Jazakumullohu khoiron katsiron wabarokallohu fiikum.

Jawab: Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh.

Kebanyakan dari Ahlul hadits mendha’ifkan hadits tersebut dan Al-Imam At-Tirmidziy yang meriwayatkan hadits tersebut mengatakannya sebagai hasan gharib.

Berkata Al-‘Allamah Ibnul Utsaimin Rahimahullah: “Sebagian ulama menyatakan bahwa hadits tersebut tidaklah shahih dan mereka berpendapat bahwasanya dia adalah hadits dha’if.

Dan kalau pun hadits tersebut dianggap shahih maka yang dimaksud hanya bagi kaum laki-laki saja, karena wanita tidak diperintahkan shalat berjama’ah, keberadaan hadits tersebut adalah khusus bagi orang-orang yang diperintahkan untuk shalat berjama’ah, yang mereka adalah para lelaki. Akan tetapi kalau seorang wanita duduk di tempat shalat di dalam rumahnya untuk berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla hingga matahari terbit setinggi tombak, kemudian ia shalat dua raka’at, mudah-mudahan baginya pahala atas perbuatannya. Sebagaimana diketahui bahwa waktu pagi dan sore, keduanya merupakan waktu untuk bertasbih dan berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, Allah Ta’ala berkata:

(ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺫْﻛُﺮُﻭﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺫِﻛْﺮﺍً ﻛَﺜِﻴﺮﺍً * ﻭَﺳَﺒِّﺤُﻮﻩُ ﺑُﻜْﺮَﺓً ﻭَﺃَﺻِﻴﻼً)

“Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kalian kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya” (Al-Ahzab: 41)”.

Demikian yang dijelaskan oleh Al-‘Allamah Ibnul Utsaimin Rahimahullah.

Dan pada hadits tersebut terdapat penyebutan “berjama’ah” ini bersifat pembatasan, mengeluarkan siapa saja yang shalat dalam keadaan tidak berjama’ah, baik dia
adalah laki-laki yang shalat di rumahnya atau wanita yang shalat di rumahnya. Bagi wanita yang shalat di rumahnya itu lebih utama baginya, ia mendapatkan keutamaan yang khusus yang tidak didapatkan oleh laki-laki yang shalat berjama’ah di masjid dan laki-laki yang shalat berjama’ah di masjid mendapatkan pula keutamaan yang khusus yang tidak didapatkan oleh wanita yang shalat di rumahnya. Masing-masing memiliki keutamaan-keutamaan tersendiri, Allah ‘Azza wa Jalla berkata:

وَيُؤْتِ كُلَّ ذِى فَضْلٍ فَضْلَهُۥۖ

“Dan Dia akan memberikan pengutamaan-Nya kepada setiap orang yang memiliki keutamaan”. (Hud: 3).
Walhamdulillah.

[Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir di Bekasi pada 8 Ramadhan 1438]

KISAH SULAIMAN ‘ALAIHIS SALAM DAN AR-RIHUL AHMAR

Tanya: Afwan ustadz apakah kisah ini berasal dari hadits yang shahih:
Pada satu ketika Nabiullah Sulaiman ‘Alaihis Salam duduk di singgasananya, lalu datang angin yang cukup besar, maka bertanya Nabiullah
Sulaiman: Siapakah engkau? Dijawab oleh Angin tersebut: Akulah Rihul Ahmar, dan
Aku bila memasuki rongga anak Adam, maka akan lumpuh dan akan keluar darah dari
rongga, dan apabila aku memasuki otak anak Adam maka menjadi gilalah anak Adam.
Lalu diperintahkan oleh Nabi Sulaiman ‘Alaihis Salam supaya dibakar angin tersebut, maka berkatalah Rihul Ahmar kepada Nabi Sulaiman ‘Alaihis Salam:
Aku kekal sampai hari kiamat tiba, tiada siapapun yang dapat membinasakan aku melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala”.
Lalu Rihul Ahmar pun menghilang…..

Jawab: Kisah tersebut termasuk dari kisah Isra’iliyat Al-Maudhu’ah, dia termasuk riwayat yang dusta, disebutkan dengan tanpa sanad, hanya dengan lafazh:

ﺭُﻭِيَ ﻋَﻦْ آﺻِﻒَ ﺑْﻦِ ﺑَﺮْﺧِﻴَﺎ أنَّهُ ﻗَﺎﻝَ: ﺑَﻴْﻨَﻤَﺎ ﺳُﻠَﻴْﻤَﺎنُ عَلَيْهِ ﺍﻟﺴَّﻼﻡُ ﺟَﺎﻟِﺲٌ….

Diriwayatkan dari Ashif bin Barkhiya bahwasanya dia berkata: Tatkala Sulaiman ‘Alaihis Salam duduk….”.

Dan keberadaan Ashif bin Barkhiya adalah seorang yang hidup di zaman Nabiullah Sulaiman ‘Alaihis Salam, maka dari manakah sumber kisah tersebut bila tidak ada penyebutan riwayatnya dari Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam?!. Karena tidak ada satu pun kisah tentang Ashif bin Barkhiya yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yang ada hanyalah perkataan Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma sebagaimana yang diriwayatkan oleh An-Nasa’iy, dan riwayat An-Nasa’iy ini pun tidak mengisahkan tentang Ar-Rih Al-Ahmar melainkan hanya penjelasan tentang Ashif bin Barkhiya bahwasanya beliau adalah juru tulis atau sekretarisnya Nabiullah Sulaiman ‘Alaihis Salam. Wallahul A’lam.

[Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir pada 19 Ramadhan 1438] Sumber : http://t.me/majaalisalkhidhir

 

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: