“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

Hukum dan Hikmah

Hukum Mengeluarkan Zakat Fithri Sebelum Matahari Tenggelam Pada Akhir Hari Ramadhan

Tanya:  Pak ustadz tadi di masjid sudah diumumkan bahwa pihak masjid mulai menerima zakat fithri, apakah boleh kita keluarkan zakat fithri pada hari ke 14 Ramadhan ini? Dan apa yang pak ustadz nasehatkan?

Jawab:  Ada dari para ulama berpendapat tentang bolehnya mengeluarkan zakat fithri pada hari-hari seperti sekarang ini, namun ini pendapat yang tidak tepat dan tidak mencocoki kebenaran, Asy-Syaikh Ibnul Utsaimin Rahimahullah ketika ditanya oleh seseorang yang sudah mengeluarkan zakat fithri di Mesir pada awal Ramadhan kemudian dia ke Makkah dan menetap di Makkah, apakah dia masih ada kewajiban mengeluarkan zakat? Maka beliau menjawab:  

ﻧَﻌَﻢْ، ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﺯَﻛَﺎﺓُ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ؛ لِأَﻧَّﻚَ ﺃَﺩَّﻳْﺘَﻬَﺎ ﻗﺒْﻞَ ﻭَﻗْﺘِﻬَﺎ

“Iya, wajib bagimu (mengeluarkan lagi) zakat fithri, karena sesungguhnya kamu telah mengeluarkannya sebelum waktunya”.

Beliau berpendapat tentang tidak sahnya mengeluarkan zakat fithri pada awal Ramadhan dengan alasan:

ﺯَﻛَﺎﺓُ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﺃُﺿِﻴْﻔَﺖْ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ

“Zakat fithri itu disandarkan kepada ‘Iedul Fithri”.

Jadi menurut beliau harus dikeluarkan ketika sudah masuk pada malam ‘Iedul Fithri, beliau berkata:

فَلَا ﻳَﺠُﻮْﺯُ ﺩَﻓْﻊُ ﺯَﻛَﺎﺓِ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﺇِلَّا ﺇِﺫَﺍ ﻏَﺎﺑَﺖِ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲُ ﻣِﻦْ ﺁﺧِﺮِ ﻳَﻮْﻡٍ ﻣِﻦْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ

“Tidak boleh mengeluarkan zakat fithri kecuali jika sudah tenggelam matahari pada akhir hari Ramadhan”.

Pendapat beliau ini yang benar, adapun bila waktu sempit atau dikhawatirkan kalau disalurkan pada malam ‘Iedul Fithri tidak akan bisa tersalurkan kepada orang-orang fakir dan miskin maka boleh mengeluarkannya dua hari atau tiga hari sebelum ‘Iedul Fithri, ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhariy dari Ibnu ‘Umar:

ﻭَﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻳُﻌْﻄُﻮْﻥَ ﻗَﺒْﻞَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﺑِﻴَﻮْﻡٍ ﺃَﻭْ ﻳَﻮْﻣَﻴْﻦِ

“Dan mereka memberikan zakat fithri sehari atau dua hari sebelum ‘Iedul Fithri”.

Dan Al-Imam Malik berkata:

ﺃَﺧْﺒَﺮَﻧِﻲ نَاﻓِﻊٌ ﺃَﻥَّ ﺍﺑْﻦَ ﻋُﻤَﺮَ ﻛَﺎﻥَ ﻳَﺒْﻌَﺚُ ﺑِﺰَﻛَﺎﺓِ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺗَﺠَﻤَّﻊَ ﻋِﻨْﺪَﻩُ ﻗَﺒْﻞَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﺑِﻴَﻮْﻣَﻴْﻦِ ﺃَﻭْ ﺛَﻼَﺛَﺔٍ

“Telah mengabarkan kepadaku Nafi’ bahwa Ibnu ‘Umar mengirimkan zakat fithri yang di sisinya kepada sekelompok orang, dua hari atau tiga hari sebelum ‘Idul Fithri”.

Dan mengeluarkan zakat fithri sehari atau dua hari atau tiga hari sebelum ‘Iedul Fithri ini hanyalah keringanan saja, adapun waktu yang sesungguhnya seperti yang disebutkan oleh Asy-Syaikh Ibnul Utsaimin Rahimahullah:

ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻳَﻜُﻮْﻥُ ﺑَﻌْﺪَ ﻏُﺮُﻭْﺏِ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲِ ﻣِﻦْ ﺁﺧِﺮِ ﻳَﻮْﻡٍ ﻣِﻦْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ

“Hanyalah waktu mengeluarkan zakat fithri itu setelah tenggelamnya matahari pada akhir hari Ramadhan”.

Dan yang kami nasehatkan hendaknya seseorang ketika mengeluarkan zakat fithri melihat waktu yang tepat dalam mengeluarkannya yaitu waktunya mulai dari tenggelamnya matahari pada akhir hari Ramadhan sampai waktu khatib keluar ke tempat shalat ‘Ied, Ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, bahwasanya beliau berkata:

ﻭَﺃَﻣَﺮَ ﺑِﻬَﺎ ﺃَﻥْ ﺗُﺆَﺩَّﻯ ﻗَﺒْﻞَ ﺧُﺮُﻭْﺝِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓِ

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan supaya mengeluarkannya sebelum manusia keluar untuk shalat ‘Ied”.

Bila seandainya seseorang sangat sibuk atau dia khawatir akan terlupakan dengan kewajiban zakat fithri tersebut maka dia titipkan ke orang yang dipercaya supaya orang tersebut menyalurkannya kepada orang yang berhak menerimanya pada waktu yang tepat, sungguh bagus apa yang dilakukan oleh seorang kawan kami dahulu ketika masih di Yaman, ketika dia berkunjung ke tempat kami pada suatu malam dari malam-malam Ramadhan maka dia menyempatkan dirinya mampir ke toko untuk belanja sekalian dia beli beras, ketika sampai di tempat kami dia meminta izin ke kami untuk menitipkan berasnya ke tempat kami, dia biarkan beras tersebut selama beberapa malam di tempat kami, setelah buka puasa pada akhir hari Ramadhan, dia langsung menghubungi kami dengan mengatakan bahwa beras yang dia titipkan itu dia akan jadikan sebagai zakat fithri dan pada malam tersebut dia nyatakan sebagai zakat fithri dan dia keluarkan ke kami karena kami katanya termasuk dari orang-orang yang berhak menerima zakat fithri. Kami pun katakan kepadanya: Bukankah berasnya tersebut banyak dan melebihi ukuran zakat fithri? Dia pun menjawab: Ambillah untukmu seukuran zakat fithri, adapun sisanya biarkan dulu sebagai barang titipan, setelah shalat ‘Ied kamu ambil lagi sisanya tersebut sebagai sedekah dariku. Subhanallah nampak kalau dia mengamalkan hadits dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma bahwasanya beliau berkata:

ﻣَﻦْ ﺃَﺩَّﺍﻫَﺎ ﻗَﺒْﻞَ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓِ ﻓَﻬِﻰَ ﺯَﻛَﺎﺓٌ ﻣَﻘْﺒُﻮﻟَﺔٌ ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﺩَّﺍﻫَﺎ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓِ ﻓَﻬِﻰَ ﺻَﺪَﻗَﺔٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺼَّﺪَﻗَﺎﺕِ

“Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat ‘Iedul Fithri maka itu adalah zakat yang diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat ‘Iedul Fithri maka itu adalah sedekah dari sedekah-sedekah”.

Semoga Allah Ta’ala menerima segala amal kita dan menjadikan kita termasuk dari hamba-hamba-Nya yang bersyukur.

Ditulis  oleh  :  [Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir Saddadahullah wa Jammalah di Bekasi pada 15 Ramadhan 1438]

HIKMAH MENGELUARKAN ZAKAT FITHRI SETELAH AKHIR HARI PUASA RAMADHAN SEBELUM MELAKUKAN SHALAT ‘IDUL FITHRI

Tanya: Mas kenapa sih zakat fithri harus dikeluarkan di penghujung hari Ramadhan sebelum shalat ‘Ied?

Jawab: Ketahuilah wahai saudaraku -semoga Allah memberikan hidayah kepada kami dan kepadamu- bahwasanya orang yang berpuasa Ramadhan selama sebulan tidaklah dia terjaga dari berbuat dosa, walau pun seseorang dalam keadaan berpuasa terkadang melakukan dosa, dengan demikian ada hikmah dari adanya syari’at untuk mengeluarkan zakat fithri di akhir hari Ramadhan dengan tujuan supaya mensucikan diri dan supaya benar-benar membersihkan dosa-dosa orang yang berpuasa Ramadhan tersebut, diriwayatkan di dalam suatu hadits bahwa Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma berkata:

ﻓَﺮَﺽَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻃُﻬْﺮَﺓً ﻟِﻠﺼَّﺎﺋِﻢِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻐْﻮِ ﻭَﺍﻟﺮَّﻓَﺚِ ﻭَﻃُﻌْﻤَﺔً ﻟِﻠْﻤَﺴَﺎﻛِﻴﻦِ

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mewajibkan zakat fithri untuk mensucikan orang yang berpuasa dari perkataan sia-sia, dari ucapan keji, dan untuk memberi makan kepada orang-orang miskin”.

Dan jelas pula hikmahnya untuk menyenangkan orang-orang fakir dan miskin dalam menyambut dan merayakan ‘Iedul Fithri. Wallahu A’lam.

Ditulis oleh : [Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir -Saddadahullah wa Jammalah- Di Bekasi Pada 15 Ramadhan 1438].

MENGUTAMAKAN ORANG FAKIR YANG TAAT

Tanya:  Bismillah… Tolong sampaikan pertanyaan ana ke ustadz!
Apakah syarat mmbayar fidyah harus kepada fakir yang taat atau boleh kepada fakir yang umumnya?

Jawab: Boleh diberikan kepada orang fakir yang umum dari kalangan kaum muslimin, namun yang diutamakan adalah orang fakir yang taat, banyak kisah-kisah dari para nabi menerangkan bahwa mereka memberikan pengutamaan kepada orang fakir yang taat, dan mereka mengutamakan pula anak-anak yatimnya, mereka itu diberi pengutamaan dalam sedekah, nafkah, fidyah atau bantuan-bantuan, di antaranya Allah Ta’ala sebutkan tentang kisah Nabi-Nya Al-Khidhir ‘Alaihis Salam yang memberikan pengutamaan kepada dua anak yatim dengan membangunkan tembok rumah keduanya:

(وَأَمَّا ٱلْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَٰمَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِى ٱلْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُۥ كَنزٌ لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَٰلِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَن يَبْلُغَآ أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنزَهُمَا رَحْمَةً مِّن رَّبِّكَۚ)

“Dan adapun dinding rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, yang di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua, dan ayah keduanya adalah orang yang shalih. Maka Rabbmu menghendaki agar keduanya sampai dewasa dan keduanya mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Rabbmu”. [Al-Kahfi: 82].

Juga Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diperintah untuk mengutamakan orang yang taat dalam berbagai pemberian, dan dalam masalah pelayanan pun orang yang taat itu diutamakan daripada yang lainnya, cukuplah pada permulaan dari surat ‘Abasa sebagai penjelasan. Wallahul Musta’an.

Ditulis oleh :[Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir di Bekasi pada 18 Ramadhan 1438]

HUKUM MENGELUARKAN ZAKAT MAL UNTUK ORANG YANG BERUTANG

Tanya: Boleh tidak zakat mal saya pakai untuk bayarkan hutangnya teman yang sekarang sudah sembunyi kesana kemari karena ditagih hutangnya.
Kemarin dia sudah berusaha cari kerja, 2 bulan dia jadi buruh di lokasi pertambangan dengan harapan supaya bisa cicil pembayaran hutangnya, ternyata tidak menerima upah dari pemiliknya dengan alasan tidak ada keuntungan. Jazaakallahu khairan.

Jawab: Oleh bagimu mengeluarkan zakat malmu untuk membebaskan hutang temanmu, Allah Ta’ala berkata:

إِنَّمَا ٱلصَّدَقَٰتُ لِلْفُقَرَآءِ وَٱلْمَسَٰكِينِ وَٱلْعَٰمِلِينَ عَلَيْهَا وَٱلْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِى ٱلرِّقَابِ وَٱلْغَٰرِمِينَ وَفِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِۖ فَرِيضَةً مِّنَ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (muallaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Dan Allah adalah ‘Alim (Maha Mengetahui) lagi Hakim (Maha Bijaksana)”. [At-Taubah: 60].

Boleh bagimu mengeluarkan zakat malmu untuk membantu membebaskan utang orang lain, yang orang tersebut tidak mampu membayarnya sebagaimana bolehnya bagimu membayarkan zakatnya orang lain, di dalam suatu hadits dari Abu Hurairah bahwa datang seseorang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menanyakan tentang kasusnya menggauli istrinya di siang hari Ramadhan maka beliau memberitahukan kepadanya dengan berbagai penebus dari kesalahannya, dia pun menyebutkan tidak bisa melakukannya, kemudian diperintahkan untuk bersedekah, ternyata dia juga tidak sanggup, hingga datang seseorang bersedekah kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyerahkan zakat tersebut kepadanya:

‏«ﺧُﺬْﻫَﺎ ﻓَﺘَﺼَﺪَّﻕْ ﺑِﻪِ»

“Ambillah sedekah ini lalu bersedekahlah kamu dengannya”.

Dia pun berkata:

ﺃَﻋَﻠَﻰ ﺃَﻓْﻘَﺮَ ﻣِﻨِّﻰ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻓَﻮَﺍﻟﻠَّﻪِ ﻣَﺎ ﺑَﻴْﻦَ ﻻَﺑَﺘَﻴْﻬَﺎ ﺃَﻫْﻞُ ﺑَﻴْﺖٍ ﺃَﻓْﻘَﺮُ ﻣِﻦْ ﺃَﻫْﻞِ ﺑَﻴْﺘِﻰ

“Apakah akan aku berikan kepada orang yang lebih miskin dariku, wahai Rasulullah? Demi Allah, tidak ada yang lebih miskin di ujung timur hingga ujung barat daripada keluargaku”.

Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tertawa, kemudian beliau berkata:

‏«ﺃَﻃْﻌِﻤْﻪُ ﺃَﻫْﻠَﻚَ»

“Berilah makanan tersebut pada keluargamu”.
Wallahu A’lam.

***

Ditulis oleh :[Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir di Bekasi pada 19 Ramadhan 1438]  Sumber :http://t.me/majaalisalkhidhir

Iklan
%d blogger menyukai ini: