“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

Merasa cukup dengan penamaan dari salaf sholeh

Tanya: Bismillah… Ustadz bisakah dijelaskan tentang munculnya istilah Tsabitin?
Mengingat banyak ikhwah yang belum memahami istilah ini dan bertanya-tanya siapakah imam salaf yang memunculkannya, sehingga ketika ada ikhwah bertanya dan menyebutkan ikhwah tsabitin, ini menjadi tanda tanya terus. Jazaakallahu khairan Ustadz. 

Jawab: Sebagian ikhwah telah menjadikan istilah “ikhwah tsabitin” atau “ahlussunnah tsabitin” sebagai suatu pembeda di antara mereka dan di antara selain mereka, dengan alasan karena pernah ada fitnah besar, dengan demikian itu sebagai istilah pembeda saja, dan istilah ini semakin dipopulerkan.
Dan perlu kita ketahui bahwa di zaman Al-Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah sudah ada fitnah sangat dahsyat, tidak ada yang semisal dengan beliau pada waktu itu yang kuat dan tsabat di atas perkataan yang haq, beliau disiksa, dipenjara dan diseret ke sana ke sini karena beliau tsabat di atas suatu kalimat, namun tidaklah kita dapati di zaman mereka ada penyebutan bahwa Al-Imam Ahmad dan orang-orang yang semazhab dengannya adalah Ahlussunnah Tsabitun, adapun orang-orang yang tidak semazhab dengan mereka bukanlah termasuk dari Ahlissunnah Tsabitin. Tidak pula kita dapati ada dari ulama salaf yang sezaman dengan Al-Imam Ahmad mengatakan bahwa Al-Imam Ahmad dan orang-orang yang semazhab dengannya sebagai ikhwah tsabitin.

Dengan dimunculkannya istilah “ikhwah tsabitin” atau “ahlissunnah tsabitin” ini seakan-akan Ahlussunnah itu diklasifikasi menjadi dua bagian: Ahlussunnah Tsabitin dan ahlussunnah selainnya, dan kita khawatirkan ini akan menyeret kepada suatu perkara yang kita tidak inginkan, Wallahul Musta’an.

Ketika ada seorang syaikh yang menyebutkan tentang keberadaan dirinya sendiri dan mensifati dirinya dengan sifat tsabat di atas al-haq maka banyak kritikan padanya, lalu bagaimana dengan mengklaim secara khusus pada orang-orang tertentu sebagai “ikhwah tsabitin” sementara keadaan mereka nampak berbeda-beda?! Seorang syaikh tersebut menyebutkan tentang dirinya sebagaimana di dalam “Majmu’ul Kutub war Rasa’il”nya:

ﻭَﻧَﺤْﻦُ ﻭَﻟِﻠّٰﻪِ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻳَﺸْﻬَﺪُ ﻟَﻨَﺎ ﺍﻟْﻌُﻠَﻤَﺎﺀُ ﺍﻟﺴَّﻠَﻔِﻴُّﻮْﻥَ ﻓِﻲ ﻛُﻞِّ ﻣَﻜَﺎﻥٍ، ﻳَﺸْﻬَﺪُﻭْﻥَ ﻟَﻨَﺎ ﺑِﺎﻟﺜَّﺒَﺎﺕِ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺤَﻖِّ

“Dan kami -hanya kepada Allah kami memuji- telah mempersaksikan kami para ulama salafiyyun di setiap tempat. Mereka mempersaksikan tentang kami dengan ke-tsabat-an di atas al-haq”.

Dan dia perjelas lagi pada perkataannya di dalam “Majmu’ul Kutub war Rasa’il”nya:

ﻧَﺤْﻦُ ﻣَﻌْﺮُﻭْﻓُﻮْﻥَ ﻭَﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺃَﻧَّﻨَﺎ ﺃَﻗْﻮَﻯ ﻣَﻦْ ﻭَﻗَﻒَ ﻓِﻲ ﻭَﺟْﻪِ ﺍﻟْﻔِﺘَﻦِ ﻭَﺍلشَّعْبِ وَدُﻋَﺎﺓِ ﺍﻟْﻬَﺪَﻡِ ﻟِﻬَﺬِﻩِ ﺍﻟْﺒِﻼَﺩِ

“Kami dikenal -segala puji bagi Allah- bahwasanya kami paling kuatnya orang yang berdiri di hadapan fitnah, di hadapan publik dan di hadapan da’i-da’i penghancur negeri ini”.

Pengklaiman seperti ini terkadang sangat bertolak belakang dengan hakekat yang ada, bagaimana kalau kemudian mengklaim orang-orang tertentu dengan klaim tsabitin yang keadaan mereka berbeda-beda?

(فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ)

“Janganlah kalian mentazkiyyah diri-diri kalian, Dia adalah A’lam (Maha Mengetahui) terhadap siapa yang lebih bertakwa” [An-Najm: 32].

Dan hendaknya bagi orang-orang selalu berusaha agar tsabat di atas al-haq dan mencukupkan dengan penamaan sebagai Ahlussunnah wal Jama’ah, Salafiyyah atau Salafiyyun dan Tha’ifah Manshurah atau penamaan yang telah dinamai dengannya para salaf shalih, karena dengan penamaan itu akan mengharuskan untuk berpijak di atas apa yang dinamai dengannya, Asy-Syaikh Al-‘Allamah Abu Abdirrahman Yahya bin ‘Ali Al-Hajuriy Hafizhahullah mengatakan:

فَإِذَا قِيْلَ لَكَ: مَا عَقِيْدَتُكَ؟ فَقُلْ: أَنَا سُنِّيٌّ سَلَفِيٌّ

“Jika dikatakan kepadamu: Apa akidahmu? Maka katakanlah: Aku adalah sunniy salafiy.” Yakni aku adalah orang yang mengikuti sunnah dan mengikuti jejak salaf shalih.
Kemudian beliau menyebutkan dalil tentang kewajiban berakidah dengan akidah tersebut, beliau membawakan hadits dari Al-Irbadh bin Sariyyah.

Dan penamaan-penamaan yang telah ditetapkan oleh para salaf shalih itulah sebagai pembeda yang membedakan mereka dengan selain mereka, Walhamdulillah, jadi tidak perlu lagi adanya istilah baru sebagai istilah pembeda.

Dan masing-masing kita ketika sudah berada di alam kubur pasti akan ditanya tentang akidah kita, di tempat inilah akan terlihat siapa yang benar-benar tsabat di atas akidah yang telah diwajibkan baginya untuk dia berada di atasnya:

(يُثَبِّتُ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ بِٱلْقَوْلِ ٱلثَّابِتِ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَفِى ٱلْءَاخِرَةِۖ وَيُضِلُّ ٱللَّهُ ٱلظَّلِمِينَۚ وَيَفْعَلُ ٱللَّهُ مَا يَشَآءُ)

“Allah mengokohkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang kokoh di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki”. [Ibrahim: 27].

Wabillahit Taufiq.

***

Ditulis oleh : [Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir di Bekasi pada 16 Ramadhan 1438]

Sumber http://t.me/majaalisalkhidhir

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: