“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

wahai muslimah sempurnakan ketaatanmu.

Tanya:Ustâdz ada dari saudari kita muslimah mâsyâ Allâh rajin shalat 5 waktu dan ia jaga shalat tahajjud, berpuasa Ramadhân dan senang puasa senin-kamis, mengeluarkan zakat dan bersedekah, tapi sangat disayangkan ia tidak mau pakai jilbâb, alasannya yang penting hatinya selalu terjilbâbi dari dosa-dosa, ustâdz mohon nasehatnya, semoga ia diberi hidayah dengan nasehat dari ustâdz.  

 Jawab: Kami nasehatkan kepadanya dan kepada seluruh wanita muslimah yang belum mengenakan jilbâb agar bersegera mengenakan jilbâb, karena mengenakan jilbâb adalah suatu kewajiban, Allâh berkata:

{يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ}

“Wahai Nabî katakanlah kepada istri-istrimu dan putri-putrimu serta wanita orang-orang berîmân supaya mereka mengulurkan ke tubuh mereka dengan jilbâb-jilbâb mereka”. [Al-Ahzab: 59].

Tidak cukup bagi wanita membuktikan keîmânannya hanya dengan melaksanakan kewajiban-kewajibannya yang lain sementara kewajiban berjilbâb ini belum ia lakukan, bila seorang wanita benar-benar ingin membuktikan keîmânannya dan ia berkeinginan untuk masuk ke dalam surga maka harus baginya berjilbâb karena para teladan wanita muslimah yang telah mendapatkan jaminan dari Allâh Ta’âlâ untuk masuk surga adalah mereka yang mengenakan jilbâb, Al-Imâm Al-Bukhâriy dan Muslim meriwayatkan dari ‘Athâ bin Abî Rabâh, beliau berkata:

قَالَ لِي ابْنُ عَبَّاسٍ: أَلَا أُرِيكَ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟ قُلْتُ: بَلَى، قَالَ: هَذِهِ الْمَرْأَةُ السَّوْدَاءُ أَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَتْ: إِنِّي أُصْرَعُ وَإِنِّي أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ لِي! قَالَ: إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ، فَقَالَتْ: أَصْبِرُ، فَقَالَتْ: إِنِّي أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ لِي أَنْ لَا أَتَكَشَّفَ، فَدَعَا لَهَا.

“Berkata kepadaku Ibnu ‘Abbâs: Maukah aku perlihatkan kepadamu seorang wanita yang termasuk dari kalangan penduduk surga? Aku berkata: “Tentu”, beliau berkata: “Wanita hitam ini datang menemui Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam lalu ia berkata: Sesungguhnya aku sakit ayan dan sungguh tersingkap auratku, mintalah kesembuhan kepada Allâh untukku!” Beliau Shallallâhu ’Alaihi wa Sallam berkata: “Jika engkau bersabar maka bagimu surga dan jika engkau menginginkan supaya aku berdoa kepada Allâh untuk menyembuhkanmu? Maka ia berkata: “(Kalau begitu) aku bersabar”. Lalu ia berkata: “Sesungguhnya aku tersingkap auratku (bila sakit ayan sedang menimpaku) maka berdoalah kepada Allâh untukku supaya tidak tersingkap auratku!”. Beliapun berdoa untuknya (supaya tidak tersingkap lagi auratnya)”.

Setiap orang tentu berkeinginan untuk hidup sehat sebagaimana keinginan shahabiyyah tersebut, beliau menginginkan kesehatan jasmani dan rohaninya, beliau sudah diberi jaminan masuk surga karena memilih bersabar dari penyakitnya namun beliau masih tetap meminta didoakan supaya tidak tersingkap auratnya, beliau memahami bahwa menutupi aurat adalah suatu kewajiban yang harus ia lakukan, walau pun keadaannya tersifati sebagai wanita yang berkulit hitam namun tidaklah membuat dirinya bermudah-mudahan menampakan auratnya, lalu bagaimana dengan yang selainnya dari para wanita yang menjadi penyebab munculnya fitnah syahawat?
Orang yang sakit seperti shahahabiyyah tersebut ketika sakitnya menimpanya tentu ia tidak sadar kalau auratnya tersingkap, dan keadaan seperti ini tentu dimaafkan oleh Allâh Ta’âlâ, disebutkan di dalam suatu hadîts bahwa pena diangkat dari menulis amalan tiga orang, diantaranya:

وَعَنِ الْمَعْتُوهِ حَتَّى يُفِيقَ

”Dari orang yang tidak sadar sampai dia sadar”.

Lalu bagaimana dengan saudari-saudari kita yang merasa sehat dan cantik, bukankah mereka lebih pantas untuk menutupi aurat mereka dengan mengenakan jilbâb?!

 PERMATA SALAF 

Berkata Jâbir bin Abdillâh Radhiyallâhu ’Anhumâ:

“Jika engkau berpuasa maka hendaknya berpuasa pula pendengaran, penglihatan dan lisanmu dari berdusta dan dari melakukan perbuatan-perbuatan harâm”.
(Syu’abul Îmân; 3/317).

Ditulis oleh  : Abû Ahmad Muhammad Al-Khidhir Saddadahullah wa Jammalah.

Sumber: Risalah AL-HIKMAH, Edisi 10 / Jum’at 2 / Ramadhan 1438].http://t.me/majaalisalkhidhir

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: