“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

SEPUTAR TARAWIH

HUKUM MENYAMPAIKAN CERAMAH SETELAH SHALAT TARÂWÎH

Tanya: Pak ustâdz saya mau nanya: Apa hukumnya menyampaikan pidato setelah shalat ‘isyâ’ sebelum melaksanakan shalat tarâwîh?

Jawab: Apa yang pak tanyakan sama seperti yang ditanyakan oleh kawan kita kemarin, hanya saja letak perbedaannya pada waktu pelaksanaanya. Kalau pak menanyakan hukum ceramah setelah shalat ‘isyâ’ sebelum melaksanakan shalat tarâwîh, adapun kawan kita kemarin menanyakan tentang hukum ceramah setelah shalat tarâwîh sebelum melaksanakan shalat witr, dengan adanya perbedaan tersebut maka ada pula perbedaan hukum, dan di sini kami akan memberikan rinciannya. Apa yang pak tanyakan –semoga Allâh merahmati kami dan merahmati pak- itu memiliki asal dan dasar dari syari’at Islâm ini, Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam pernah memberikan ceramah setelah shalat isyâ’ sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Imâm Al-Bukhâriy dari hadîts Anas bin Mâlik, bahwasanya beliau berkata:

نَظَرْنَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ حَتَّى كَانَ شَطْرُ اللَّيْلِ يَبْلُغُهُ فَجَاءَ فَصَلَّى لَنَا ثُمَّ خَطَبَنَا

“Kami melihat kepada Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam pada suatu malam (mengakhirkan shalat ‘isyâ) sampai pertengahan malam mendapatinya lalu beliau datang mengimami kami kemudian beliau menyampaikan ceramah kepada kami”.

Dan juga datang dalam suatu riwayat dari hadîts Abdîllah bin ‘Umar Radhiyallâhu ‘Anhumâ, bahwasanya Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam shalat ‘isya’ pada akhir hidupnya kemudian beliau berdiri lalu menyampaikan nasehat dan peringatan.
Dengan demikian ketika ada yang menyampaikan ceramah atau membuka pengajian setelah shalat ‘isyâ’ maka ini boleh, karena Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam pernah melakukannya.

Bila seseorang melakukannya pada bulan Ramadhân ini karena memanfaatkan kesempatan di saat manusia sedang berkumpul untuk mengikuti shalat tarâwîh berjama’ah maka ini boleh dan bahkan termasuk dari anjuran kebaikan, karena Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam pernah menyampaikan ceramah setelah shalat ‘isyâ’.

Adapun menyampaikan ceramah setelah shalat tarâwîh sebelum melakukan shalat witr maka banyak dari para ‘ulamâ menganggap itu termasuk dari perkara yang diada-adakan di dalam agama, karena tidak pernah dilakukan oleh Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam dan para shahabatnya dan tidak pula dilakukan oleh para tâbi’în serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik.

Supaya tidak terjatuh ke dalam perkara yang diada-adakan di dalam agama maka kami nasehatkan kepada kaum muslimin agar mereka tidak mengadakan ceramah di sela-sela shalat tarâwîh atau ketika selesai shalat tarâwîh sebelum melanjutkan ke shalat witr, hendaknya mereka memilih waktu setelah ‘isyâ’ untuk menyampaikan ceramah kemudian setelah itu mereka melakukan shalat tarâwîh. Wallâhu A’lam.

Ditulis  oleh  :[Abû Ahmad Muhammad Al-Khidhir di Bekasi pada 8 Ramadhân 1438].

***

SHALAT DUA RAKA’AT SEBELUM TARAWIH

Tanya:  Bismillah… afwan ustadz bagaimana sebenarnya hukum sholat iftitah sebelum tarowih yang dilakukan kebanyakan orang, apalagi Al-Fatihahnya dijahrkan, lantas bagaimana afdholnya apakah memang harus dilakukan berjamaah ataukah sendiri-sendiri?

Jawab: Hukumnya adalah sunnah, sebagaimana datang dalam suatu hadits bahwa ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata:

كَانَ رَسُول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذا قَامَ من اللَّيْل ليُصَلِّي افْتتح صلَاته بِرَكْعَتَيْنِ خفيفتين

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jika beliau bangun untuk shalat malam maka beliau membuka shalatnya dengan dua rakaat yang ringan.” Diriwayatkan oleh Muslim.

Kalau engkau menanyakan tentang yang afdhalnya maka yang afdhalnya adalah dilakukan sendirian, karena yang namanya shalat sunnah itu afdhalnya dilakukan sendirian, dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

إِذا قَامَ أحدكُم من اللَّيْل فَليفْتتحُ صلَاته بِرَكْعَتَيْنِ خفيفَتينِ

“Jika salah seorang di antara kalian shalat malam maka hendaknya dia memulai shalatnya dengan shalat dua rakaat yang ringan.” Diriwayatkan oleh Muslim.

Pembicaraan beliau di sini adalah kepada seseorang yang mau shalat lail, karena pada asalnya shalat lain itu dilakukan dalam keadaan sendirian, pada shalat lail di bulan Ramadhan yang lebih kita kenal dengan shalat tarawih, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukannya dalam keadaan bersendirian, kemudian orang-orang mengikuti beliau menjadi ma’mun di belakang beliau, pada malam berikutnya bertambah banyak orang-orang yang mengikuti beliau kemudian beliau tinggalkan shalat tarawih berjama’ah karena khawatir akan menjadi suatu keharusan.

Dan Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma pernah ikut shalat di belakang beliau ketika beliau shalat lail.

Ketika seseorang shalat sunnah, baik itu shalat dua raka’at yang ringan atau shalat tarawih atau shalat witir kemudian ada yang mengikutinya yakni menjadi ma’mum di belakangnya maka hendaklah dia membiarkannya, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membiarkan orang-orang yang ikut shalat sunnah di belakang beliau.

Dan kalau seseorang bisa melakukan shalat dua raka’at yang ringan tersebut dalam keadaan bersedirian lalu dia ikutkan dengan shalat tarawih dan witr maka tentu ini afdhal baginya.

Terkadang seseorang meninggalkan shalat tarawih berjama’ah dengan alasan mencari yang afdhal yaitu shalat sendirian namun ternyata dia tidak bisa melakukannya, bila seperti ini keadaannya maka yang afdhal baginya mengikuti shalat tarawih berjama’ah. Wallahu A’lam.

Ditulis oleh : [Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir di Bekasi pada 1 Ramadhan 1438].

***
BATASAN MINIMAL SHALAT TARAWIH

Tanya: Ustadz apakah shalat tarawih itu harus 11 raka’at atau lebih? Boleh kah kurang?

Jawab:  Shalat tarawih tidak harus 11 raka’at, boleh kurang dari 11 raka’at, minimalnya 1 raka’at, dan Amirul Mu’minin Ustman bin ‘Affan Radhiyallahu ‘Anhu pernah melakukan shalat lail hanya 1 raka’at, akan tetapi 1 raka’atnya beliau beda dengan kita, beliau melakukan shalat lail 1 raka’at dengan panjang berdiri hingga mengkhatamkan Al-Qur’an dalam semalam dengan 1 raka’at saja shalat.

Satu raka’at tersebut teranggap sebagai shalat lail, yang dia adalah witir, berkata ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha:

ﻣِﻦْ ﻛُﻞِّ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻗَﺪْ ﺃَﻭْﺗَﺮَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻣِﻦْ ﺃَﻭَّﻝِ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻭَﺃَﻭْﺳَﻄِﻪِ ﻭَﺁﺧِﺮِﻩِ ﻓَﺎﻧْﺘَﻬَﻰ ﻭِﺗْﺮُﻩُ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺴَّﺤَﺮِ .

“Dari setiap malam beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melaksanakan witir di awal malam, pertengahannya dan akhir malam. Dan berakhir witir beliau hingga tiba waktu sahur.”

Di dalam hadits Ibnu ‘Umar dengan lafazh:

ﺍﺟْﻌَﻠُﻮﺍ ﺁﺧِﺮَ ﺻَﻼَﺗِﻜُﻢْ ﺑِﺎﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻭِﺗْﺮًا

“Jadikanlah akhir shalat malam kalian adalah shalat witir”.

Shalat lail yang dinamai dengan tarawih dan witir adalah termasuk sunnah, seseorang dianjurkan untuk melaksanakannya dengan apa yang dia mampui, Allah Ta’ala berkata:

(فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ)

“Bertakwalah kalian semampu kalian”. [At-Taghabun: 16].

Ditulis  oleh :  [Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir di Niaga Raya- Bekasi pada 2 Ramadhan 1438]   Sumber :  http://t.me/majaalisalkhidhir

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: