“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

Perbedaan meminta-minta dan memberi syafa'at

Tanya: Mohon ustadz menjelaskan kepada kami perbedaan antara meminta-minta dan memberi syafa’at dalam membantu orang lain? Jazakumullahu khairan.

Jawab: Meminta-minta gambarannya adalah engkau meminta-minta langsung kepada orang lain atas nama seseorang, dengan bentuk ucapan: “Berilah kami uang atau sesuatu supaya kami berikan kepada orang itu, karena dia memerlukan bantuan” atau “Kami memerlukan uang sekian dan sekian untuk membantu orang itu”. Ini yang dikatakan meminta-minta untuk orang tersebut.

Adapun memberi syafa’at maka gambarannya adalah engkau memotivasi orang lain supaya dia membantu seseorang, dengan bentuk ucapan: “Tolonglah atau bantulah saudara kalian, karena dia sekarang memerlukan bantuan” atau “Saudara kita memerlukan bantuan, siapa yang berkesanggupan untuk membantunya maka hendaknya dia lakukan”. Dengan adanya pemotivasian seperti itu dia pun ditolong dan diberi bantuan, baik bantuannya diberikan secara langsung ke orang bersangkutan atau melalui perantara-perantara, ini yang dikatakan memberi syafa’at. Ini seperti yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika ada seseorang memerlukan untuk dijamu, beliau berkata kepada para Shahabatnya:

مَنْ يَضُمُّ أَوْ يُضِيفُ هَذَا

“Siapa yang akan menjamin atau menjamu orang ini?”.

Dalam suatu riwayat beliau berkata:

أَلَا رَجُلٌ يُضَيِّفُهُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ يَرْحَمُهُ اللَّهُ

“Adakah orang yang menjamunya pada malam ini semoga Allah merahmatinya?”.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah memotivasi para shahabiyyah untuk bersedekah, maka mereka pun langsung bersedekah, dan Bilal yang mengumpulkan sedekah mereka, di dalam riwayat-riwayat disebutkan dengan lafazh pemotivasian:

فَأَتَى النِّسَاءَ فَذَكَّرَهُنَّ

“Maka beliau datang kepada para wanita lalu memberikan nasehat kepada mereka”.

Dalam riwayat lain dengan lafazh:

وَأَمَرَهُنَّ بِالصَّدَقَةِ

“Dan beliau memerintahkan mereka untuk bersedekah”.

Apa yang beliau lakukan ini masuk pada pemotivasian atau pemberian dorongan untuk bersedekah, dengan sebabnya kemudian para shahabiyyah bersegera bersedekah. Di sini beliau mengungkapkan dengan suatu ungkapan yang terlihat sebagai pemotivasian dan bukan meminta secara langsung, padahal boleh bagi beliau untuk langsung menyebutkan apa yang diperlukan, boleh bagi beliau langsung meminta, karena keberadaan beliau sebagai seorang pemimpin negara Islam, dan beliau meminta di sini untuk kemaslahatan umat sebagaimana raja Dzulqarnain Radhiyallahu ‘Anhu dahulu meminta untuk kemaslahatan negara dan rakyatnya:

{آتُونِي زُبَرَ الْحَدِيدِ} [الكهف: 96]

“Datangkanlah oleh kalian kepadaku potong-potongan besi”.

Dan Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam boleh langsung meminta kepada umatnya karena keberadaan beliau terhadap umatnya seperti kedudukan seorang ayah terhadap anak-anaknya, di dalam suatu hadits beliau pernah berkata kepada seseorang yang melaporkan orang tuanya sendiri karena mengambil sesuatu dari hartanya:

أَنْتَ وَمَالُكَ لأَبِيكَ

“Kamu dan hartamu adalah milik ayahmu”.

Seorang ayah boleh mengambil harta anaknya seperlunya dengan tanpa sepengetahuan anaknya, maka tentu lebih boleh lagi baginya untuk meminta harta anaknya. Wallahu A’lam.

***

Ditulis oleh : [Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir di Kemang Pratama-Bekasi pada 5 Ramadhan 1438].

Sumber :  http://t.me/majaalisalkhidhir

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: