“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

Hukum gaji PNS dan gaji guru a

Tanya: Ustadz yang kami hormati, apa pendapat ustadz tentang gaji PNS? Karena kami mendengar ada orang berpendapat bahwa gaji PNS itu haram?

Jawab: Pertanyaan yang semisal itu telah ditanyakan kepada kami beberapa hari yang lalu, dan telah kami jelaskan tentang kehalalannya.
Bagi seseorang yang memutuskan hukum tentang haramnya gaji PNS hendaklah dia mengerti dan mengetahui darimana diambil dana untuk gaji PNS tersebut? Kalau dia ketahui bahwa gaji PNS tersebut murni diambilkan dari hasil perjudian, pelacuran, perdukunan, penjualan babi dan anjing, serta dari hasil penjualan narkoba dan miras serta yang lainnya dari perkara-perkara yang sangat jelas keharamannya maka bisa dikatakan haram. Adapun kalau gaji PNS itu tidak jelas diambilkan dari mana? Maka tidak boleh bagi seseorang untuk menghukuminya sebagai gaji yang haram, karena negara memiliki banyak pendapatan dan penghasilan, diantaranya dari penghasilan BUMN, retribusi, sumbangan, hadiah, wakaf dan dari penghasilan Migas serta yang lainnya.

Dan perlu diketahui bahwa Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam semasa hidupnya telah mendapati adanya negara-negara yang berbentuk kerajaan-kerajaan, kalau gaji pegawai kerajaan itu haram maka tentu beliau sudah menjelaskannya, tentu akan ada periwayatan hadits tentang itu, namun kenyataan yang ada justru beliau memerintahkan para shahabatnya untuk hijrah dari Makkah ke Habasyah, sementara di Habasyah adalah kerajaan yang menganut agama nasrani, dan keberadaan para shahabat ketika itu dilindungi oleh Raja Najasyiy Radhiyallahu ‘Anhu. Dan Raja Najasyiy sendiri adalah pemimpin negara ketika itu, terus darimana ketika itu pendapatan beliau diperoleh? Kalaulah pendapatan beliau dari kerajaan ketika itu dianggap haram maka tentu para shahabat tidak akan mau menetap di sisi beliau, karena khawatir akan diberi makan dari pendapatan beliau dari kerajaan, namun kenyataan yang ada ketika itu para shahabat bisa menetap di sana dan mereka mendapatkan perlindungan dari An-Najasiy Radhiyallahu ‘Anhu. Wallahu A’lam.

Ditulis  oleh : Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir di Lantana-Bekasi pada 3 Ramadhan

***

MENYOAL GAJI GURU

Tanya: Assalamu’alaikum…
Seorang guru mengajar di sekolah yang ada ikhtilatnya, apakah karena ada ikhtilat di sekolahnya bisa membuat gaji guru tersebut jadi haram?

Jawab: Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh

Beberapa hari ini pertanyaan seputar masalah tersebut semakin bermunculan, telah kita ketahui bahwasanya ikhtilat adalah perkara yang tidak diperbolehkan oleh syari’at, dalil-dalil tentang permasalahan ini sangat banyak, namun perlu untuk kita ketahui bahwa gaji seorang guru tersebut bukan karena ikhtilatnya dia namun karena keberadaannya dia sebagai guru yang mengajar di sekolah tersebut, dia digaji karena dia mengajar.

Permasalahan ini sama dengan orang yang bekerja di instansi atau di perusahaan yang ada ikhtilatnya atau berjualan di pasar yang ada ikhtilatnya, tidaklah benar bila dikatakan bahwa gaji atau penghasilannya adalah haram karena dia berikhtilat.
Namun yang benarnya dia dikatakan berdosa karena ikhtilatnya, adapun gaji atau penghasilannya adalah halal. Berbeda halnya kalau pekerjaannya itu murni hanya berikhtilat saja lalu dia digaji karena berikhtilatnya maka ini baru bisa dikatakan haram, karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah berkata:

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﺇِﺫَﺍ ﺣَﺮَّﻡَ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﺣَﺮَّﻡَ ﺛَﻤَﻨَﻪُ

“Sesungguhnya Allah jika mengharamkan sesuatu maka Dia mengharamkan pula hasilnya”. Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud.

Kalau seseorang digaji murni karena ikhtilatnya sebagaimana pelacur digaji karena dia melacur maka hasilnya adalah haram, ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhariy dan Muslim dari Abu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu:

ﺃَﻥَّ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻧَﻬَﻰ ﻋَﻦْ ﺛَﻤَﻦِ ﺍﻟْﻜَﻠْﺐِ ﻭَﻣَﻬْﺮِ ﺍﻟْﺒَﻐِﻲِّ ﻭَﺣُﻠْﻮَﺍﻥِ ﺍﻟْﻜَﺎﻫِﻦِ

“Bahwasanya Rasulullah melarang dari hasil jual anjing, upah melacur dan upah menjadi dukun”.
Wallahu A’lam.

Ditulis  oleh : [Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir di Lantana-Bekasi pada 4 Ramadhan 1438]

Sumber :  http://t.me/majaalisalkhidhir

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: