“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

Keutamaan beramal kebaikan dibulan ramadhan
DI ANTARA HUKUM-HUKUM PUASA

Tanya: Pak Ustâdz, kalau kita niat puasa itu mulainya kapan? Apakah ketika mau sahur ataukah ketika mau tidur? Terima kasih!

Jawab: Kalau seseorang sudah mengetahui bahwa besok akan mulai masuk tanggal 1 Ramadhân maka dia langsung berniat untuk berpuasa, baik keberadaan dia di waktu malam atau pada saat waktu sahur, berkata Al-Imâm Abul ‘Abbâs Ahmad Al-Harrâniy semoga Allâh merahmati kita dan merahmati beliau: 

فَإِذَا كَانَ يَعْلَمُ أَنَّ غَدًا مِنْ رَمَضَانَ فَلَا بُدَّ أَنْ يَنْوِيَ الصَّوْمَ، فَإِنَّ النِّيَّةَ مَحَلُّهَا الْقَلْبُ، وَكُلُّ مَنْ عَلِمَ مَا يُرِيدُ فَلَا بُدَّ أَنْ يَنْوِيَهُ.

“Jika keberadaan dia mengetahui bahwasanya besok masuk Ramadhân maka harus dia berniat puasa, dan sesungguhnya hati adalah tempatnya niat. Setiap orang yang telah mengetahui terhadap apa yang dia ingin lakukan maka harus dia meniatkannya.”

Ketika dia berada di waktu malam atau masih berada di waktu sahur lalu mengetahui bahwa malam tersebut adalah malam tanggal 1 Ramadhân maka dia mulai berniat puasa pada waktu tersebut. Adapun kalau dia mengetahui tentang masuknya tanggal 1 Ramadhân itu pada waktu setelah terbit fajar shâdiq yaitu pada waktu shubuh atau pada pagi hari maka tidak ada puasa lagi baginya pada hari tersebut, karena dia tidak meniatkan dari sebelum shubuh, dia teranggap pada hari tersebut tidak berpuasa, sebagaimana disebutkan di dalam suatu hadîts:

مَنْ لَمْ يُجْمِعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ

“Barangsiapa yang dia tidak bertekad untuk puasa sebelum shubuh maka tidak ada puasa baginya”. Diriwayatkan oleh Al-Imâm At-Tirmidziy dan Al-Baihaqiy. Di dalam riwayat Ibnu Abî Syaibah dengan lafazh:

لَا صِيَامَ لِمَنْ لَمْ يَعْزِمْ مِنَ اللَّيْلِ

“Tidak ada puasa bagi siapa yang tidak bertekad untuk berpuasa dari malam hari”. Ketika dia teranggap tidak ada puasa pada hari tersebut maka wajib baginya menqadhâ yaitu menggantinya pada hari lain di selain bulan Ramadhân, sebagaimana perkataan Allâh Ta’âlâ:

{فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ} [البقرة: 184]

“Maka dia mengganti (puasanya) pada hari-hari yang lain (di selain bulan Ramadhân)”. Surat Al-Baqarah ayat 184.

Adapun untuk puasa sunnah maka tidak mengapa walaupun tidak diniatkan dari sebelum hari berpuasa, misalnya seseorang kebiasaannya puasa senin dan kamis, suatu saat dia lupa hari, kemudian dia berada pada hari senin lalu diberi tahu bahwa dia berada pada hari senin, maka boleh baginya langsung berniat puasa pada hari tersebut, selama dia belum makan dan belum minum dari waktu fajar, berkata ‘Âisyah semoga Allâh meridhai beliau:

دَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيَّ ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ: هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ قُلْنَا: لَا قَالَ: فَإِنِّي إِذًا صَائِمٌ

“Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam menemuiku pada suatu hari, lalu beliau berkata: “Apakah di sisi kalian ada sesuatu dari makanan?”. Maka kami katakan: “Tidak ada”. Beliau pun berkata: “Sesungguhnya kalau begitu, aku berpuasa”. Diriwayatkan oleh Muslim.

***

Tanya: Ustâdz aku ingin sekali mengundang orang yang saya hormati untuk buka puasa di rumahku, tapi orangnya jauh sekali dari rumahku, dan aku ingin mengirimkan padanya makanan untuknya supaya berbuka puasa tapi aku takut dianya kurang selera dengan makanan yang aku kirimkan, bagaimana caranya supaya aku bisa berbuat baik kepadanya di bulan suci Ramadhân?

Jawab: Ditanyakan kepadanya: Biasanya dia berbuka puasa dengan apa? Karena pertanyaan seperti ini tidaklah mengapa, sebagaimana Khalîlullâh Ibrâhîm ‘Alaihis Salam pernah bertanya kepada menantu beliau:

مَا طَعَامُكُمْ وَمَا شَرَابُكُمْ؟

“Apa makanan kalian dan apa minuman kalian?”. Dan kalau masih tetap khawatir jangan-jangan tidak selera dengannya maka kirimkan kepadanya sejumlah uang kalau keberadaannya sebagai orang yang sederhana atau pas-pasan hidupnya, supaya dia bisa mencari sendiri seleranya. Karena kalau dia sudah memiliki uang maka dia akan memilih sekehendaknya terhadap apa-apa yang dia sukai dan dia senangi dari makanan, Allâh Ta’âlâ mengisahkan tentang Ashhâbul Kahfi:

{فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَذِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَى طَعَامًا فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِنْهُ} [الكهف: 19]

“Maka utuslah salah seorang di antara kalian untuk pergi ke kota dengan membawa uang kalian ini lalu dia melihat manakah makanan yang paling lezat kemudian dia membawakan kepada kalian di antara dari makanan tersebut”. Surat Al-Kahfi ayat 19.

***
KEUTAMAAN BERAMAL KEBAIKAN DI BULAN RAMADHÂN 

Tanya: Pak Ustâdz selain berpuasa Ramadhân, amalan apa saja yang bisa saya lakukan di bulan suci Ramadhân, pada amalan-amalan itu betul-betul menjadikan saya bertakwa, yang dengannya bisa memasukan saya ke dalam surga?

Jawab: Ada 4 amalan utama yang dengan sebabnya menjadikan seseorang masuk ke dalam surga yaitu ketika dia dalam keadaan berpuasa, dia ikutkan dengan mengantar jenazah, bersedekah dan mengunjungi orang sakit. Al-Imâm Muslim meriwayatkan dari Abû Hurairah Radhiyallâhu ‘Anhu, bahwasanya Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam bertanya kepada para shahabatnya:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ صَائِمًا؟ قَالَ أَبُو بَكْرٍ: أَنَا. قَالَ: فَمَنْ تَبِعَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ جَنَازَةً؟ قَالَ أَبُو بَكْرٍ: أَنَا. قَالَ: فَمَنْ أَطْعَمَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ مِسْكِينًا؟ قَالَ أَبُو بَكْرٍ: أَنَا. قَالَ: فَمَنْ عَادَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ مَرِيضًا؟ قَالَ أَبُو بَكْرٍ: أَنَا. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا اجْتَمَعْنَ فِى امْرِئٍ إِلاَّ دَخَلَ الْجَنَّةَ.

“Siapakah di antara kalian yang berpuasa pada hari ini? Abû Bakr menjawab: “Saya”. Beliau bertanya lagi: “Siapa di antara kalian mengikuti jenazah pada hari ini? Abû Bakr menjawab: “Saya”. Beliau bertanya lagi: “Siapakah di antara kalian mengunjungi orang sakit pada hari ini?”. Abû Bakr menjawab: “Saya”. Lalu Rasûlullâh Shallallâhu ’Alaihi wa Sallam mengatakan: “Tidaklah terkumpul semua amalan tersebut pada seseorang kecuali dia masuk surga”.

Sungguh sangat beruntung bagi seseorag yang Allâh beri taufik kepadanya bisa melakukan dua keutamaan terbesar di bulan Ramadhân:

• Di siang hari Ramadhân dia bisa mengumpulkan 4 kebaikan yaitu berpuasa, bersedekah, mengunjungi orang sakit dan bisa mengantar jenazah.

• Dan di malam hari dia bisa melakukan ibadah berupa shalat lail, membaca Al-Qur’ân, berdzikir atau berdoa yang dia lakukan bertepatan dengan Lailatul Qadr yaitu malam keutamaan, Allâh Ta’âlâ berkata:

{إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ * وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ * لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ * تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ * سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ} [القدر: 1 – 5]

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur’ân pada Lailatul Qadr, tahukah kamu apa itu Lailatul Qadr? Lailatul Qadr adalah malam yang paling baik dari 1000 bulan, pada malam tersebut turun para Malâikat dan Jibrîl dengan izin Rabb mereka untuk mengurusi semua urusan. Kesejahteraan pada malam tersebut sampai terbit fajar”. Surat Al-Qadr ayat 1-5.

***

Dijawab oleh: Abû Ahmad Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh di Bekasi pada 30 Sya’bân 1438.
Sumber: Risalah AL-HIKMAH Edisi 8 / Jum’at Akhir Sya’ban 1438, http://t.me/terjemahalkhidhir

SHALAT DUA RAKA’AT SEBELUM TARAWIH

Tanya:  Bismillah… afwan ustadz bagaimana sebenarnya hukum sholat iftitah sebelum tarowih yang dilakukan kebanyakan orang, apalagi Al-Fatihahnya dijahrkan, lantas bagaimana afdholnya apakah memang harus dilakukan berjamaah ataukah sendiri-sendiri?

Jawab: Hukumnya adalah sunnah, sebagaimana datang dalam suatu hadits bahwa ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata:

كَانَ رَسُول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذا قَامَ من اللَّيْل ليُصَلِّي افْتتح صلَاته بِرَكْعَتَيْنِ خفيفتين

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jika beliau bangun untuk shalat malam maka beliau membuka shalatnya dengan dua rakaat yang ringan.” Diriwayatkan oleh Muslim. 

Kalau engkau menanyakan tentang yang afdhalnya maka yang afdhalnya adalah dilakukan sendirian, karena yang namanya shalat sunnah itu afdhalnya dilakukan sendirian, dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

إِذا قَامَ أحدكُم من اللَّيْل فَليفْتتحُ صلَاته بِرَكْعَتَيْنِ خفيفَتينِ

“Jika salah seorang di antara kalian shalat malam maka hendaknya dia memulai shalatnya dengan shalat dua rakaat yang ringan.” Diriwayatkan oleh Muslim.

Pembicaraan beliau di sini adalah kepada seseorang yang mau shalat lail, karena pada asalnya shalat lain itu dilakukan dalam keadaan sendirian, pada shalat lail di bulan Ramadhan yang lebih kita kenal dengan shalat tarawih, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukannya dalam keadaan bersendirian, kemudian orang-orang mengikuti beliau menjadi ma’mun di belakang beliau, pada malam berikutnya bertambah banyak orang-orang yang mengikuti beliau kemudian beliau tinggalkan shalat tarawih berjama’ah karena khawatir akan menjadi suatu keharusan.

Dan Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma pernah ikut shalat di belakang beliau ketika beliau shalat lail.

Ketika seseorang shalat sunnah, baik itu shalat dua raka’at yang ringan atau shalat tarawih atau shalat witir kemudian ada yang mengikutinya yakni menjadi ma’mum di belakangnya maka hendaklah dia membiarkannya, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membiarkan orang-orang yang ikut shalat sunnah di belakang beliau.

Dan kalau seseorang bisa melakukan shalat dua raka’at yang ringan tersebut dalam keadaan bersedirian lalu dia ikutkan dengan shalat tarawih dan witr maka tentu ini afdhal baginya.

Terkadang seseorang meninggalkan shalat tarawih berjama’ah dengan alasan mencari yang afdhal yaitu shalat sendirian namun ternyata dia tidak bisa melakukannya, bila seperti ini keadaannya maka yang afdhal baginya mengikuti shalat tarawih berjama’ah.  Wallahu A’lam.

[Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir di Bekasi pada 1 Ramadhan 1438].

 

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: