“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

istighfar

Tanya: Ustadz mohon bimbingannya, saya sebagai hamba Allah yang biasa bikin dosa, saya berjihad meninggalkan dosa-dosa tapi masih saja mengulangi, saya menangis dan selalu berucap istighfar tapi sehabis itu saya lalai lalu bikin dosa lagi… Apakah betul saya pendusta dalam bertobat? Apakah betul saya ini istighfarnya tidak diterima karena hanya dibibir saja? Mohon ustadz bimbingannya, terima kasih ustadz, ustadz minta tolong doain saya ustadz, saya takut….. Saya dapat faedah ilmu dari kata salaf dan ulama bahwa perbuatan saya dusta, hanya dibibir saja, saya jadi tambah takut, apakah dengan begitu saya tidak perlu lagi istighfar? Ya Allah?.. Mohon ustadz bimbingannya supaya hati saya ini tenang? Ya Allah tolong!. 

Jawab: Saudaraku _semoga Allah mengampuni kami dan mengampuni engkau_, siapa yang tidak berbuat dosa? Siapa yang tidak menzalimi dirinya sendiri? Ketika sampai perkataan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para shahabat:

(الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ)

“Orang-orang yang beriman dan mereka tidak mencampur adukan keimanan mereka dengan kezhaliman maka bagi mereka keamanan dan mereka adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” [Al-Anaam: 82].

Maka para shahabat berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

أينا لم يظلم؟

“Siapa di antara kita yang dia tidak berbuat zhalim?.”

Mereka menyadari bahwa setiap anak keturunan Adam pasti akan terjatuh ke dalam kezhaliman kecuali para Nabi dan para Rasul, dengan demikian mereka pun merasa berat ketika ayat tersebut dibacakan kepada mereka, kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meluruskan pemahaman mereka dengan berkata:

إنه ليس بذاك، ألا تسمعون إلى قول لقمان لابنه: (إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ)

“Sesungguhnya bukanlah demikian, tidakkah kalian mendengarkan perkataan Luqman kepada putranya: “Sesungguhnya kesyirikan adalah kezhaliman yang besar.” [Luqman: 13].

Saudaraku _semoga Allah menerima taubat kami dan taubat engkau_ tetaplah engkau beristighfar dan berupayalah untuk meninggalkan segala perbuatan dosa, senantiasalah beristighfar dan yakinlah bahwa istighfar engkau itu akan bermanfaat, bukankah Allah Ta’ala tidak akan menyiksa hamba-hamba-Nya yang beristighfar kepada-Nya?:

(وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ)

“Dan tidaklah keberadaan Allah akan menyiksa mereka sedangkan mereka beristighfar.” [Al-Anfal: 33].

Saudaraku ketahuilah _semoga Allah melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada kami dan kepada engkau_ bahwa istighfar adalah suatu kebaikan yang akan menghapus kesalahan, berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

واتبع السيئة الحسنة تمحها

“Susullah kejelekan dengan kebaikan maka dia akan menghapus kejelekan tersebut.”

Dengan demikian janganlah engkau berputus asa, selama engkau masih terus berusaha untuk beramal kebaikan dan berupaya meninggalkan kejelekan maka istighfar engkau itu akan bermanfaat, selama engkau masih mukmin dan bukan munafik maka istighfar engkau itu akan bermanfaat, yakinlah bahwa istighfar engkau akan bermanfaat, ambillah pelajaran wahai saudaraku dengan kisah pembunuh 99 jiwa, beliau berusaha mencari taubat, beliau menyesali perbuatan dosanya dan beliau bertanya ke sana kemari, setelah beliau bertanya kepada seorang ahli ibadah ternyata jawabannya tidak memberi solusi yang tepat maka beliau pun membunuhnya, kesalahan pun berulang dan dosa pun semakin bertambah banyak, apakah kemudian dinyatakan tidak bermanfaat usaha dan upayanya dalam mencari taubat? Ternyata bermanfaat, hingga pada akhir usaha dan upayanya:

فقبضته ملائكة الرحمة

“Malaikat Rahmah menerima beliau.”

Saudaraku _semoga Allah mengampuni kami dan mengampuni engkau_, permasalahan yang semisal dengan pengucapan istighfar ini adalah shalatnya orang yang selalu berbuat dosa, disampaikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang salah seorang dari shahabatnya, pada malam hari shahabat tersebut shalat tahajjud dan pada siang harinya berbuat dosa, maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan bahwa shalatnya itu akan mencegahnya dari perbuatan dosa, yakni akan bermanfaat untuknya, lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membaca ayat:

(إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ)

“Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” [Al-‘Ankabut: 45].

***

Ditulis oleh :

[Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir di Binagriya-Pekalongan pada 4 Jumadil Akhirah 1438] http://t.me/majaalisalkhidhir

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: