“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

Perkara Penting Yang Harus Diketahui Oleh Orang Yang Berpuasa

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

 :اَلْحَمْدُ لِلَّهِ وَحْدَهُ.. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مَنْ لَا نَبِيَ بَعْدَهُ. أَمَّا بَعْدُ

Orang yang berpuasa supaya puasanya diterima oleh Allâh ‘Azza wa Jalla maka hendaknya dia melakukan perkara-perkara berikut ini:

Mengikhlaskan niat

Allâh Ta’âlâ berkata:

{وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ}

”Dan tidaklah mereka diperintah kecuali supaya mereka menyembah Allâh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus”. (Al-Bayyinah: 5).

Berkata Al-’Allâmah Asy-Syiraziy Asy-Syâfi’iy Rahimahullâh:

فَلَمْ تَصِحْ مِنْ غَيْرِ نِيَّةٍ كَالصَّوْمِ وَمَحَلُّ النِّيَةِ الْقَلْبِ فَإِنْ نَوَى بِقَلْبِهِ دُوْنَ لِسَانِهِ أَجْزَأْهُ

“Tidak akan sah (amalan-amalan yang mendekatkan diri kepada Allâh) dengan tanpa adanya niat seperti puasa, dan tempatnya niat adalah di dalam hati, jika seseorang niatkan di dalam hatinya dengan tanpa mengucapkan dengan lisannya maka telah sah baginya”. [“Al-Muhadzdzab fiî Fiqhi Al-Imâm Asy-Syâfi’iy” (juz 1/hal 134)].

 ’Azza wa Jalla dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.

Berkata Al-Ustâdz Abul ’Abbâs Harmîn bin Salîm Al-Limbôriy Rahimahullâh: “Orang yang beramal akan tetapi keîmânannya tidak benar, dia mencampur keîmânannya itu dengan noda-noda kesyirikan maka dia merugi dan celaka, sebagaîmana yang telah Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ katakan:

{وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ} [الأنعام: 88]

“Dan kalaulah mereka berbuat kesyirikan maka sungguh lenyaplah dari mereka apa-apa yang mereka amalkan”. (Al-An’âm: 88). [“Hubungan Antara Tauhîd dengan Syari’at” (hal. 14)].

Memeluk agama Islâm dengan mengikuti ajaran-ajarannya

Barangsiapa melakukan suatu amalan yang dia bukan termasuk dari  ajaran-ajaran Islâm seperti ajaran nenek moyang atau ajaran sesuai tradisi dan adat istiadat yang bertentangan dengan ajaran-ajaran Islâm maka amalan tersebut tidak diterima oleh Allâh Ta’âlâ dan bahkan orang yang  melakukannya tergolong ke dalam orang-orang yang merugi, Allâh Ta’âlâ berkata:

{وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ}

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islâm, maka sekali-kali dia tidak akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi”.(Ali ‘Imrân: 85).

Mengikuti Petunjuk Nabî Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam

Berkata Al-Ustâdz Abul ‘Abbâs Harmîn bin Salîm Al-Limbôriy Rahimahullâh: “Seseorang yang beramal akan tetapi tidak sesuai dengan petunjuk Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ dan Rasûl-Nya Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam maka dia adalah termasuk dari orang-orang yang merugi, atau orang yang memiliki keîmânan akan tetapi beramal dengan amalan yang tidak ada petunjuknya di dalam agama maka dia termasuk dari orang-orang yang merugi, Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan di dalam hadîtsnya yang diriwayatkan oleh Al-Imâm Ahmad dari ‘Âisyah, bahwa Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ، فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang mengadakan perkara baru di dalam urusan (agama) kami ini, yang dia bukan termasuk darinya maka dia tertolak”.

Dan di dalam riwayat Al-Imâm Muslim disebutkan bahwa Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam- berkata:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang amalan tersebut bukan dari perkara (agama) kami maka dia tertolak”. [“Hubungan Antara Tauhîd dengan Syari’at” (hal. 14)].

Menegakan Shalat

Walaupun seseorang melakukan berbagai amal kebaikan seperti puasa, zakat dan haji serta amalan kebaikan yang lainnya ketika keberadaan dia tidak menegakan shalat maka amalan-amalan kebaikannya tersebut tidaklah berguna baginya, Rasûlullâh Shallallâhu ’Alaihi wa Sallam berkata:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمُ الصَّلاَةُ قَالَ يَقُولُ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ لِمَلاَئِكَتِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ: انْظُرُوا فِى صَلاَةِ عَبْدِى أَتَمَّهَا أَمْ نَقَصَهَا فَإِنْ كَانَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً وَإِنْ كَانَ انْتَقَصَ مِنْهَا شَيْئًا قَالَ: انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِى مِنْ تَطَوُّعٍفَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ قَالَ: أَتِمُّوا لِعَبْدِى فَرِيضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ. ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ عَلَى ذَلِكُمْ

“Sesungguhnya amalan yang pertama kali diperhitungkan pada manusia di hari kiamat nanti adalah shalat. Allâh ‘Azza wa Jalla berkata kepada malaikat-Nya dan Dia adalah lebih mengetahui: “Lihatlah pada shalat hamba-Ku. Apakah shalatnya sempurna ataukah tidak? Jika shalatnya sempurna, maka akan dicatat baginya pahala yang sempurna. Namun jika shalatnya ada sedikit kekurangan, maka Allâh berkata: Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki amalan sunnah. Jika hamba-Ku memiliki amalan sunnah, Allâh berkata: Sempurnakanlah kekurangan yang  ada pada amalan wajib dengan amalan sunnahnya.” Kemudian amalan lainnya akan diperlakukan seperti ini.” Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy, Ibnu Mâjah dan Abû Dâwud dari hadîts Abû Hurairah.

Dan Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلَاةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

“Perjanjian antara kita (orang-orang yang memeluk agama Islâm) dengan mereka (orang-orang kafir) adalah shalat, maka barangsiapa meninggalkannya maka sungguh dia telah kafir”. Diriwayatkan oleh Ibnu Mâjah, An-Nasâ’iy dan At-Tirmidziy.

Ketika seseorang keberadaannya seperti itu maka tidaklah berguna amalannya, Allâh Ta’âlâ berkata:

وَقَدِمۡنَآ إِلَىٰ مَا عَمِلُواْ مِنۡ عَمَلٖ فَجَعَلۡنَٰهُ هَبَآءٗ مَّنثُورًا ٢٣ 

“Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu bagaikan debu yang berterbangan.” [Al-Furqân: 23]. 

***

Di tulis oleh: Abû Ahmad Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh di Bekasi pada 15 Sya’bân 1438.

Tanya : Ustâdz bagaimana menjawab komentar orang bahwa dakwah Salafiyyah/Ahlissunnah itu dakwah keras?

Jawab :Yang membawa dakwah Ahlissunnah wal Jamâ’ah dari zaman dahulu hingga zaman ini berbeda-beda, ada yang keras, ada yang lemah  lembut dan ada yang sedang-sedang, dari ulama ahlil hadits ada yang dikatakan mutasyaddid (keras) dan ada yang selain itu, ketika keberadaannya demikian maka hendaknya seseorang berlapang dada, jangan sampai dengan perbedaan-perbedaan tersebut seseorang menjadikannya sebagai alasan untuk menolak kebenaran atau menghina orang lain dengan tanpa kebenaran.  Wallahul Musta’an.

[Abû Ahmad Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh di Bekasi pada 15 Sya’bân 1438].

PERMATA SALAF

Berkata Al-Imâm Abû Abdillâh Muhammad Az-Zar’iy Rahimahullâh:

 وَمُحْبِطَاتُ الْأَعْمَالِ وَمُفْسِدَاتُهَا أَكْثَرُ مِنْ أَنْ تُحْصَرَ وَلَيْسَ الشَّأْنُ فِي الْعَمَلِ إِنَّمَا الشَّأْنُ فِي حِفْظِ الْعَمَلِ مِمَّا يُفْسِدُهُ وَيُحْبِطُهُ

“Penghapus-penghapus amalan dan perusak-perusaknya lebih banyak daripada yang dihitung, dan bukanlah masalah  itu pada amalan hanyalah masalah itu pada penjagaan terhadap amalan dari apa-apa yang merusaknya dan membatalkannya.” [Faedah dari Abû Ahmad Muhammad Al-Khidhir Hafizahullâh].

***

Sumber : [Risalah AL-HIKMAH, Edisi 6 / Jum’at 3 / Rajab 1438.  http://t.me/majaalisalkhidhir%5D.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: