“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

 
 

يسم الله الرحمن الرحيم

Memang, Wajib bagi umat ini mendekatkan diri dengan para ulama Alloh ta’ala berfirman:

 يا أيها الذين آمنوا أطيعوا الله و أطيعوا الرسول و أولي الأمر منكم فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله و الرسول إن كنتم تؤمنون الله و اليوم الآخر ذلك خير و أحسن تأويلا   –    النساء : ٥٩   

“Wahai orang yang beriman taatilah Alloh dan taatilah Rosul dan para pemegang urusan di antara kalian, jika kalian berselisih pendapat dalam suatu perkara maka kembalikanlah pada Allah dan Rosul jka memang kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih baik dan lebih bagus kesudahannya.”  

 Al Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata: “Dan yang nampak, wallohu a’lam, bahwasanya ayat ini berbicara tentang seluruh pemegang urusan, dari kalangan penguasa dan ulama, sebagaimana telah lewat pembahasannya. Dan Allo ta’ala berfirman:

 لو لا ينهاهم الربانيون والأحبار عن قولهم الإثم و أكلهم السحت  –   المائدة ٦٣ 

“Kenapa para robbaniyyun (ulama pendidik) dan para ulama itu tidak melarang mereka dari mengucapkan perkataan dosa dan memakan makanan yang harom.”

Dan Alloh berfirman:

 فاسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون . النحل : ٤٣ 

Maka bertanyalah kalian pada para ahli Qur’an jika kalian tidak mengetahui”

Dan di dalam hadits shohih yang disepakati oleh Al Bukhoriy dan Muslim dari Abu Huroiroh dari Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa’ala alihi wasallam bahwasanya beliau bersabda:

 من أطاعني فقد أطاع الله ، و من عصاني فقد عصا الله، .و من أطاع أميري فقد أطاعني، و من عصا أميري فقد عصاني 

“Barangsiapa taat kepadaku maka sungguh dia telah menaati Alloh, dan barangsiapa durhaka kepadaku maka sungguh dia telah durhaka pada Alloh. Dan barangsiapa taat kepada amirku maka sungguh dia telah menaatiku, dan barangsiapa durhaka kepada amirku maka sungguh dia telah durhaka padaku.” (HR Al Bukhori (2957) dan Muslim (1835) ).

Maka ini adalah perintah-perintah untuk taat pada ulama dan umaro. Oleh karena itu Alloh ta’ala berfirman: ” Taatilah Alloh” yaitu : ikutilah kitabnya. “Dan taatilah Rosul.” Yaitu : ambillah sunnah beliau. “Dan para pemegang urusan kalian.”  Yaitu : di dalam perkara yang mereka perintahkan, berupa ketaatan kepada Alloh, bukan dalam kedurhakaan pada Alloh, karena tidak boleh ada ketaatan pada makhluq dalam kedurhakaan  pada Alloh, sebagaimana telah lalu dalam  hadits Shohih :

” ٱنما الطاعة في المعروف”

“Hanyalah ketaatan itu dalam perkara yang baik”
Tafsir Qur’anil ‘Azhim”/2/hal. 384/cet. Darul Hadits

Dan firman Alloh subhanah :

[ و إذا جاءهم أمر من الأمن أو الخوف أذاعوا به ولو ردوه إلى الرسول و إلى أولي الأمر منهم لعلمه الذين يستنبطونه منهم .[النساء : ٨٣  

“Dan jka datang pada mereka suatu perkara dari keamanan atau ketakutan, mereka menyebarluaskannya. Seandainya mereka mereka mengembalikannya kepada Rosul atau kepada ulil amr dari mereka, niscaya orang-orang yang ingin mengambil pelajaran akan mengetahuinya dari mereka.”

Al Imam Ibnu Daqiq Al ‘Id رحمه الله berkata dalam ” Syarh kuthbatil Imam”: ” Dan bumi ini tidak kosong dari orang yang menegakkan hujjah untuk membela agama Alloh. Dan umat yang mulia ini pasti memilih para penempuh rute ke Surga dengan jalan yang jelas, sampai datangnya urusan Alloh dalam tanda-tanda kiamat yang besar.” (sebagaimana dalam ” Al Ghoitsul Hami'”/karya Abi Zur’ah Al ‘Iroqiy/3/hal. 902/cet. Al Faruq).

Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله : “Karena sesungguhnya umat ini adalah umat yang paling sempurna, dan umat yang paling baik yang dikeluarkan untuk manusia, dan Nabinya adalah penutup para Nabi, tiada nabi setelah beliau. Maka Alloh jadikan para ulama di dalam umat ini setiap kali orang alim meninggal, dia digantikan oleh orang alim yang lain agar alamat-alamat agama ini tidak pupus dan tidak tersamarkan tanda-tandanya.” ( “Miftah Daris Sa’adah”/1/hal.143) .

Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “… dan ini dikarenakan Alloh subhanah telah menjamin penjagaan hujjah-hujjah-Nya dan bayyinah-bayyinah-Nya, dan Rosululloh  صلى الله عليه و سلم mengabarkan bahwasanya akan senantiasa ada sekelompok dari umat beliau yang tegak di atas kebenaran, tidak membahayakan mereka orang yang menelantarkan mereka, ataupun orang yang menyelisihi mereka, sampai hari kiamat. Maka senantiasa Alloh menanam orang-orang yang ditanam-Nya di dalam agama-Nya, mereka menanamkan ilmu di dalam hati-hati orang-orang yang Alloh beri kemampuan untuk itu dan diridhoi-Nya untuk itu, maka jadilah mereka itu pewaris bagi para ulama sebelumnya, sebagaimana para ulama sebelumnya pewaris bagi para ulama sebelumnya lagi, maka hujjah-hujjah Alloh tidak terputus. Dan yang menegakkannya juga tidak terputus di bumi. Dan di dalam atsar yang terkenal :

لا يزال الله يغرس في هذا الدين غرسا يستعملهم بطاعته.

“Senantiasa Allih menanam di dalam agama ini tanaman yang mereka itu Alloh jadikan beramal dengan ketaatan pada-Nya”

Dan dulu termasuk doa sebagian orang terdahulu adalah :

( اللهم اجعلني من غرسك الذين تستعملهم بطاعتك)

” Ya Alloh jadikanlah saya termasuk dari tanaman-Mu yang engkau jadikan mereka beramal dengan ketaatan pada-Mu.”

Dan karena itulah maka tidaklah Alloh tegakkan untuk agama ini orang yang menjaganya kemudian Dia mengambilnya kepada-Nya (mewafatkannya) kecuali dalam keadaan Alloh telah menanamkan apa yang telah diketahuinya dari ilmu dan hikmah, bisa jadi dalam hati-hati orang yang semisal dengannya, dan bisa jadi di dalam kitab-kitab yang dimanfaatkan oleh manusia sepeniggalnya.”(selesai dari Miftah Daris Sa’adah”/1/hal. 147-148).

Kami tidak memerintahkan manusia untuk membebek pada para ulama. Akan tetapi barangsiapa mengucapkan perkataan yang tidak diucapkan oleh satu orangpun dari ulama sunnah sama sekali, maka sungguh dia di atas bahaya yang sangat besar. Alloh ta’ala berfirman:

 و تلك الأمثال نضربها للناس و ما يعقلها إلا العالمون

“Dan permisalan itu Kami buatkan untuk manusia, dan tidak ada yang bisa memahaminya kecuali orang-orang alim.” QS.  Al-Ankabut 43

Dan para ulama itulah yang mampu menelusuri dalil-dalil, menjelajahi nash-nash dan mengambil pelajaran sebagaimana yang seharusnya, lebih kuat dari yang lainnya.

Dan tiada keraguan bahwasanya meneliti dan memutuskan hukum itu perlu pada kedalaman  ilmu, itu ditegakkan oleh para ulama, bukan orang-orang yang kurang ilmunya.

Al Maimuniy رحمه الله berkata: Ahmad – Ibnu Hanbal رحمه الله berkata kepadaku: “Wahai Abul Hasan, jangan engkau berbicara tentang suatu masalah yang engkau tidak punya imam di situ.” (Siyar A’lamin Nubala”/Adz Dzahabiy/11/hal. 296).

Al Imam Utsman bin Sa’id Ad Darimiy رحمه الله berkata:

“Sesungguhnya orang yang ingin menyendiri dari kebenaran, dia akan mengikuti pendapat yang orang yang menyendiri dari kalangan ulama, dan dia bergantung dengan ketergelinciran mereka. Sedangkan orang yang mencari kebenaran untuk jiwanya, dia akan mengikuti pendapat yang masyhur dari jamaah para ulama, dan dia pulang bersama mayoritas ulama. Maka dua perkara ini adalah ayat yang jelas yang dengan itu diambil pendalilan apakah seorang itu mengikuti Nabi ataukah membuat bid’ah.” (“Ar Roddu ‘Ala Jahmiyyah”/Ad Darimiy/hal. 122).

Bukanlah maknanya: bahwasanya kebenaran itu dinilai dari banyaknya atau sedikitnya ulama. Akan tetapi tidak ada suatu kebenaranpun di suatu masa kecuali pasti sudah ada seorang alim dari kalangan ulama pada masa itu atau masa sebelumnya yang telah mengucapkannya. Maka berangsiapa mengucapkan suatu perkara dari agama ini yang sama sekali tidak diucapkan oleh seorang alim, maka orang tadi ada di atas kekeliruan dan kesesatan.

Al Imam Al Barbahariy رحمه الله : “Maka perhatikanlah, semoga Alloh merahmatimu, setiap orang yang engkau dengar perkataannya dari kalang orang di zamanmu secara khusus, maka janganlah engkau tergesa-gesa mengikutinya, dan janganlah engkau masuk sedikitpun ke dalam ucapan tadi sampai engkau bertanya dan melihat: apakah ada satu orang dari Shohabat Nabi صلى الله عليه و سلم yang mengucapkannya? Atau satu orang dari ulama? Jika engkau mendapatkan atsar tentang itu dari mereka, maka peganglah dia dengan erat dan janganlah engkau melampauinya karena suatu perkara, dan janganlah engkau memilih yang lain sehingga engkau terjatuh ke dalam neraka.” (“Syarhus Sunnah”/Al Barbahariy/hal. 18/cet. Darul Atsar).

Al Imam Muhammad bin Husain Al Ajurriy رحمه الله berkata: “Barangsiapa punya ilmu dan akal lalu dia mampu membedakan seluruh perkara yang aku sebutkan padanya sejak dari awal kitab sampai kepermasalahan ini, dia akan tahu bahwasanya dia sangat perlu untuk mengamalkannya. Maka jika Allah menghendaki kebaikan untuknya, dia akan menjadi setia pada sunnah-sunnah Rosululloh صلى الله عليه و سلم dan manhaj yang ada diatasnya para Shohabat رضي لله عنهم, dan orang yang mengikuti mereka dengan baik dari kalangan pemimpin kaum Muslimin di setiap zaman, dan mempelajari ilmu untuk dirinya sendiri demi menghilangkan kebodohan dari dirinya sendiri, dan keinginannya adalah dia mempelajarinya itu karena Alloh ta’ala, dan bukanlah keinginan dia untuk belajar tadi untuk berdebat, bertengkar dan bertikai dan bukan pula untuk dunia. Dan barangsiapa keinginannya adalah demikian, dia akan selamat insya Alloh ta’ala dari hawa nafsu, kebid’ahan dan kesesatan, dan dia telah mengikuti manhaj ulama yang terdahulu dari kalangan para pemimpin Muslimin yang tidak asing nama-nama mereka.” (“Asy Syariah”/Al Ajurriy/hal. 51/cet. Darul Hadits).

Dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله  berkata: “Maka syaikh itu sangat dalam ilmunya, mengetahui akibat-akibat dari perkara-perkara.” (“Majmu’ul Fatawa”/3/hal. 270).

Al Imam Ibnu Rojab رحمه الله berkata: “Jangan engkau berbicara tentang kitabulloh atau tentang hadits Rosululloh dengan apa yang tidak diucapkan oleh Salaf.” (“Majmu’ Rosail Ibnu Rojab”/ dengan pemilihan Abu Abdillah Al Atsyubiy).

Dan Al Imam Muqbil Al Wadi’iy رحمه الله berkata: “Dan Robbul ‘izzah berfirman dalam kitab-Nya yang mulia:

{ و تلك الأمثال نضربها للناس و ما يعقلها إلا العالمون [ العنكبوت: ٤٣ 

“Dan permisalan itu kami buatkan untuk manusia, dan tidak ada yang memahaminya kecuali orang-orang alim.”

Dan Dia Yang Mahasuci dan Mahatinggi berfirman:

{{ إن في ذلك لآيات للعالمين }}

“Sesungguhnya di dalam yang demikian itu benar-benar ayat bagi orang-orang yang alim”

Dan Dia Yang Mahasuci dan Mahatinggi berfirman menjelaskan kedudukan ulama dan bahwasanya mereka itulah yang meletakkan urusan-urusan pada tempatnya, ketika Qorun keluar di dalam perhiasannya, para pengagung dunia berkata:

{{ ياليت لنا مثل ما أوتي قارون إنه لذو حظ عظيم- و قال الذين أوتوا العلم ويلكم ثواب الله خير لمن آمن و عمل صالحا و لا يلقاها إلا الصابرون }} 

“Aduhai, andaikata kami memiliki seperti apa yang diberikan pada Qorun, sungguh dia benar-benar memiliki bagian harta yang banyak.” Dan orang-orang yang diberi ilmu berkata: “Celaka kalian, pahala Alloh itu lebih baik bagi orang yang beriman dan beramal sholih. Dan tidak ada yang mendapatkannya kecuali orang-orang yang sabar.”

Dan para ulama itulah yang mengajak manusia di atas ilmu yang mendalam. Dan Alloh berfirman:

{{ قل هذه سبيلي أدعو إلى الله على بصيرة أنا و من اتبعني }}

“Katakanlah: inilah jalanku, aku menyeru kepada Alloh di atas bashiroh-ilmu dan keyakinan-, aku dan orang yang mengikutiku.” (QS. Yusuf: 108).

Dan para ulama itulah yang mengajak pada kebaikan. Alloh ta’ala berfirman:

[ لتكن منكم أمة يدعون إلى الخير ويأمرون بالمعروف و ينهون عن المنكر و أولئك هم المفلحون  [ آل عمران : ١٠٤  

“Dan hendaknya ada sekelompok umat dari kalian yang menyeru kepada kebaikan, memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imron).

Dan mereka itulah yang Alloh mengangkat nilai mereka dan meninggikan kadar mereka. Firman Alloh ta’ala:

[يرفع الله الذين آمنوا و الذين أوتوا العلم درجات والله بما تعملون خبير [المجادلة/ ١١

 “Alloh akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al Mujadilah : 11).

Dan mereka itulah yang Alloh gandengkan dengan diri-Nya dara para Malaikat-Nya. Alloh berfirman:

[ شهد الله أنه لا اله إلا هو و الملآئكة و أولو العلم قائما بالقسط . [ أل عمران ١٨   

“Alloh dan para Malaikat serta para ulama bersaksi bahwasanya tida ada sesembahan yang benar selain dia, dalam keadaan Alloh menegakkan keadilan.”

Dan mereka itulah yang memerangi fitnah-fitnah, dan mereka itulah yang berdiri di hadapan orang-orang dzolim, dan mereka itulah yang bersabar terhadap kerasnya kehidupan, mereka duduk-duduk bersama umat dan memberikan faidah pada umat. Sementara engkau wahai  orang yang bodoh dan hina merasa tidak perlu pada majelis para ulama, dan merasa tidak perlu untuk mengikuti ulama?

Dan Robul ‘Izzah berfirman dalam kitab-Nya yang mulia:

{{ و اتبع سبيل من أناب إلي}}

“Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku.”

Dan orang yang disebutkan dalam surat Yasin berkata:

{{ اتبعوا من لا يسألكم أجرا و هم مهتدون}}.

“Ikutilah orang yang tidak meminta  pada kalian upah dan mereka itu mengikuti petunjuk.”

Maka kedudukan para ulama itu tinggi, sama saja engkau menghendaki itu ataupun enggan.” (selesai dari “Tuhfatul Mujib”/hal. 197-198/cet: Darul Atsar).

***

Dinukil dari catatan kaki no 9  halaman 91-98, dari  buku “Fatwa  para ulama  tentang fitnah  ISIS yang tengah membara”, karya  Syaikh Abu Fairuz Abdurrahman  bin Soekojo Al-Indonesiy Al-Jawiy,  cetakan kedua : Indonesia Jumadats  Tsaniyyah 1438 H  Ad-Dailamiy

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: