“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

waktu-waktu sholat

WAKTU-WAKTU SHALAT {الْمَوَاقِيْتِ}

Al-Mawâqît adalah jama’ dari mîqât, dan yang dimaksud di sini adalah al-mawâqît az-zamâniyyah yaitu batas waktu tertentu untuk melakukan shalat-shalat yang wajib atau yang lainnya. Dan masuknya waktu merupakan syarat sahnya shalat, Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ berkata:

{إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا}

“Sesungguhnya shalat keberadaannya bagi orang-orang yang beriman adalah telah ditentukan waktu(nya)”. (An-Nisâ’: 103). 

Dan shalat pada waktunya termasuk pula paling utamanya amalan:

عَن أَبِي عَمْرٍو الشَّيْبَانِيِّ –وَاسْمُهُ سَعْدُ بْنُ إِيَاسٍ- قَالَ: حَدَّثَنَا صَاحِبُ هَذِهِ الدَّارِ وَأَشَارَ بِيَدِهِ إِلَى دَارِ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ: سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ؟ قَالَ: الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا، قَالَ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ، قَالَ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ، قَالَ: حَدَّثَنِي بِهِنَّ وَلَوْ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي.

Dari Abî ‘Amr Asy-Syaibâniy –dan nama beliau adalah Sa’d bin Iyâs-, beliau berkata: Telah menceritakan kepadaku pemilik rumah ini, dan beliau mengisyaratkan dengan tangannya ke rumah Abdullâh bin Mas’ûd, beliau berkata: Aku bertanya kepada Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam amalan apakah yang paling dicintai oleh Allâh?, Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: “Shalat pada waktunya”, beliau bertanya lagi: Kemudian apa?, Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: “Berbuat baik kepada kedua orang tua”, beliau bertanya lagi: Kemudian apa?, Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: “Jihad di jalan Allâh, beliau berkata: Telah menceritakan kepadaku dengan semua itu, dan kalaulah aku menambah pertanyaan kepada beliau maka tentu beliau menambahkan jawabannya kepadaku”.

Perkataannya: {الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا}, “Shalat pada waktunya”, yaitu di awal waktu, sebagaimana dikatakan Al-Imam Albâniy Rahimahullâh di dalam “Ta’lîq Riyâdhish Shâlihîn” (hal. 169).

MENGETAHUI WAKTU SHALAT SHUBUH

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنهَا، قَالَتْ: لَقَد كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الفَجرَ فَيَشْهَدْنَ مَعَهُ نِسَاءُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ مُتَلَفِّعَاتٍ بِمُرُوطِهِنَّ مَا يُعْرَفْنَ أَحَدٌ مِنَ الْغَلَسِ

“Dari ‘Âisyah semoga Allâh meridhainya, beliau berkata: Sungguh Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam shalat shubuh maka hadirlah bersamanya para wanita dari wanita-wanita beriman yang mengenakan penutup dengan murûth mereka kemudian mereka kembali ke rumah-rumah mereka, tidaklah seorang pun mengetahui mereka karena ghalas”.

Perkataannya: { بِمُرُوطِهِنَّ} murûth-nya mereka, dan murûth maknanya adalah:

أَكْسِيَّةٌ مُعَلَّمَةٌ تَكُوْنُ مِنْ حَرِيْرٍ وَتَكُوْنُ مِنْ صُوْفٍ

“Kain yang bercorak, terkadang terbuat dari sutera dan terkadang terbuat dari bulu”.

Perkataannya: {الْغَلَسِ} yaitu bercampurnya cahaya shubuh dengan gelapnya malam.
Awal mula shalat shubuh yaitu ketika muncul fajar shâdiq, dan tidak ada khilaf di kalangan ahlul ilmi tentang masalah ini. Lihat: “Syarhu Ibni Rajab” (17/430), “Nailul Authâr” (2/17), “Subulus Salâm” (1/176), dan “Asy-Syarhul Mumti'” (2/112).
Berkata Al-Imâm Muhammad bin Shâlih Al-Utsaimîn Rohimahulloh di dalam “Asy-Syarhul Mumti'” (2/112): “Dan (satu seperempat) jam.

Adapun jika melihat tanda-tanda alam, apabila kamu berada di daratan dan tidak ada di sekitarmu cahaya-cahaya yang menghalangi pandangan dan tidak ada pula kabut maka apabila kamu telah melihat cahaya putih yang membentang dari utara keselatan maka sungguh telah masuk waktu fajar, adapun sebelum jelas hal tersebut maka tidak boleh shalat fajar”.

Dan fajar ada dua, yaitu: Fajar kâdzib dan fajar shâdiq. Sebagaimana telah disebutkan di dalam riwayat Ibnu Khuzaimah dan Al-Hâkim dari Ibnu ‘Abbâs Radhiyallohu ‘Anhumâ.
Dan ulama telah menyebutkan perbedaan diantara keduanya:

Pertama: Bahwasanya fajar awal yakni fajar kâdzib adalah vertical dan tidak horizontal yaitu memanjang membela langit dari timur ke barat. Adapun fajar kedua ya’ni fajar shâdiq maka dia horizontal, membentang dari utara ke keselatan.

Kedua: Fajar yang awal diakhiri dengan kegelapan dan fajar yang kedua diakhiri dengan bertambahnya cahaya dan semakin terang.

Ketiga: Fajar yang kedua bersambung dengan ufuk dan terdapat kegelapan. Fajar awal terpisahkan dari ufuk dan terdapat kegelapan diantara keduanya.

Masalah:
Ulama berbeda pendapat, manakah yang afdhal di dalam waktu shalat fajar, apakah menyegerakannya atau mengakhirkannya?.

Pendapat pertama: Bahwasanya isfar adalah afdhal. Ini adalah pendapatnya Abû Hanîfah, berdasarkan hadîts:

«أَسْفِرُوا بِالْفَجْرِ فَإِنَّهُ أَعْظَمُ لِلْأَجْرِ»

“Shalat shubuhlah kalian ketika langit kekuning-kuningan, karena sesungguhnya dia lebih besar pahalanya”.

Pendapat kedua: Menyegerakan shalat adalah afdhal. Ini adalah mazhab jumhûr, berdasarkan dalil yang sangat banyak, diantaranya dalil yang ini.
Dan jawaban atas dalil pendapat pertama: Bahwasanya yang dimaksud dengan isfar (kekungin-kuningan) yaitu yakinnya akan terbitnya fajar, sehingga tidak tergesa-gesa atau yang dimaksud dengan isfar yaitu memanjangkan bacaan dalam shalat, maka sesungguhnya dia adalah mustahab, dan dengan memanjangkan bacaan tersebut tidaklah selesai dari shalat kecuali setelah langit kekunging-kuningan.

Faedah hadits:
Pertama: Disunnahkan bersegera melaksanakan shalat shubuh di awal waktunya.
Kedua: Bolehnya kaum wanita mendatangi masjid-masjid untuk melaksanakan shalat bersama laki-laki apabila tidak dikhawatirkan terjadi fitnah, beserta menjaga diri-diri mereka dari menampakan perhiasan-perhiasan mereka.

WAKTU SHALAT ZHUHUR

عَن جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الظُّهْرَ بِالْهَاجِرَةِ وَالْعَصْرَ وَالشَّمْسُ نَقِيَّةٌ وَالْمَغْرِبَ إِذَا وَجَبَتْ وَالْعِشَاءَ أَحْيَانًا وَأَحْيَانًا إِذَا رَآهُمُ اجْتَمَعُوا عَجَّلَ وَإِذَا رَآهُمْ أَبْطَوْا أَخَّرَ وَالصُّبْحَ كَانُوا أَوْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّيهَا بِغَلَسٍ

Dari Jâbir bin Abdillâh, beliau berkata: Dahulu Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam shalat zhuhur ketika matahari tergencir, shalat ashar ketika matahari dalam keadaan putih bersih, shalat maghrib di saat matahari telah tenggelam dan shalat isya’ terkadang tepat waktunya dan beliau terkadang mengakhirkannya, jika beliau melihat mereka para shahabat telah berkumpul maka beliau menyegerakan shalat, jika beliau melihat mereka berlambat-lambat maka beliau mengakhirkannya, dahulu mereka shalat shubuh atau dahulu Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam melaksanakannya pada saat masih gelap yang bercampur dengan terangnya pagi”.

Perkataannya: {يُصَلِّي الظُّهْرَ بِالْهَاجِرَةِ} “Beliau shalat zhuhur ketika matahari tergencir”, padanya terdapat dalil bahwa awal waktu shalat zhuhur yaitu setelah tergelincirnya matahari dari tengah-tengah langit, ini berdasarkan perkataan Allâh Ta’âlâ:

{أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ}

“Tegakanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir”. (Al-Isrâ’: 78).

Dan berdasarkan hadîts Abdillâh bin ‘Amr yang diriwayatkan oleh Al-Imâm Muslim:

«وَوَقتُ صَلَاةِ الظُّهْرِ إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ»

“Dan waktu shalat zhuhur ketika tergelincir matahari”. Dan ahlul ‘ilmi telah menukilkan ijma’ ulama tentang masalah ini, diantara mereka adalah Ibnu Abdil Bârr, Ibnu Mundzir, Ibnu Hajar dan selain mereka.
Lihat: Fathul Bâriy (2/121), Naiul Authâr (1/302) dan Asy-Syarhul Mumti’ (2/96).

Akhir Waktu Zhuhur
Jumhur berpendapat bahwa akhir waktu shalat zhuhur adalah ketika bayangan sesuatu sama dengan aslinya (panjangnya), berdasarkan hadîts Jâbir Radhiyallâhu ‘Anhu (ketika Jibrîl memgimami Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam):

{وَأَتَاهُ حِيْنَ كَانَ الظِّلُّ مِثْلَ شَخْصِهِ}

“Dan Jibrîl mendatangi beliau ketika keberadaan bayangan semisal dengan benda aslinya”. Dan hadîts Abdillâh bin ‘Amr yang diriwayatkan oleh Al-Imâm Muslim:

«وَكَانَ ظِلُّ الرَّجُلِ كَطُوْلِهِ مَا لَمْ يَحْضُرْ وَقْتُ الْعَصْرِ»

“Dan keberadaan bayangan seseorang seperti panjangnya selama belum masuk waktu ashar”. Pendapat jumhur ini diselisihi oleh Abû Hanîfah, beliau berpendapat bahwa akhir waktu shalat zhuhur yaitu ketika bayangan sesuai 2 x (dua kali) benda aslinya. Dan yang benar adalah pendapat jumhur.

Ditulis oleh: Al-Ustâdz Abul ‘Abbâs Harmin bin Sâlim Al-Limbôriy Al-Huâmuâliy
Rahimahullâh.

[Sumber: Risalah AL-HIKMAH, Edisi 3/Jum’at 4/Rajab 1438 Penerbit Maktabah AL-KHIDHIR Bekasi].  

HUKUM SHALAT BERJAMÂ’AH SEBELUM MASUK WAKTU

Tanya:
Ustâdz kebanyakan muadzdzin di masjid kaum muslimin saat ini ketika adzan mereka mengikuti jadwal shalat abadi dengan tanpa melihat tanda-tanda masuknya waktu yang sesuai dengan bimbingan Nabî Shallallâhu ’Alaihi wa Sallam? Apakah masih boleh bagi kita untuk ikut shalat berjamâ’ah di masjid mereka?

Jawab:
Kita dapati demikian kenyataan yang ada, namun hendaknya bagi seseorang bila dia dapati di suatu masjid yang muadzdzinnya adzan sebelum masuk waktu shalat maka dia lihat lagi, karena terkadang antara adzan dan iqamahnya itu memiliki selang waktu, terkadang sebelum iqamah sudah masuk waktu, bila seperti ini keadaannya maka wajib bagi orang tersebut untuk ikut shalat berjamâ’ah di masjid tersebut, adapun kalau dia mengetahui secara pasti (bukan was-was dan bukan pula ragu-ragu) bahwa waktu shalat belum masuk hanya saja muadzin masjid tersebut mengikuti waktu sesuai jadwal abadi maka jangan dia ikut shalat berjamâ’ah di masjid itu pada waktu shalat berjamâ’ah tersebut, karena kalau dia bersengaja mengikuti shalat berjamâ’ah bersama mereka pada waktu tersebut maka sungguh tidaklah sah shalatnya, karena Allâh Ta’âlâ telah berkata:

{إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا}

“Sesungguhnya shalat keberadaannya bagi orang-orang yang beriman adalah ditentukan waktunya”. (An-Nisâ’: 103).
Al-Imâm Ibnu Bâzz Rahimahullâh ketika ditanya oleh seseorang:

إِذَا صَلَّيْتُ أَحَدَ الْفُرُوْضِ قَبْلَ مَوْعِدِ الصَّلَاةِ بِمَا يَقْرُبُ مِنْ عَشْرِ دَقَائِقَ، وكَاَنَ ذَلِكَ سَهْوٌ مِنِّي، هَلْ تَسْقُطُ عَنِّي تِلْكُمُ الصَّلَاةُ، أَمْ مَا زَالَتْ فِي ذِمَّتِي؟

“Jika aku melakukan shalat pada salah satu shalat-shalat yang wajib sebelum waktunya shalat kurang lebih 10 menit, dan demikian itu adalah keteledoran dariku, apakah telah gugur dariku shalat tersebut ataukah masih pada kewajibannku?” Maka beliau menjawab:

إِذَا صَلَّيْتَهَا قَبْلَ الْوَقْتِ فَهِيَ بَاطِلَةٌ وَلَا تَسْقُطُ عَنْ ذِمَّتِكَ، فَإِذَا صَلَّيْتَ الظُّهْرَ قَبْلَ الزَّوَالِ أَوِ الْمَغْرِبَ قَبْلَ غُرُوْبِ الشَّمْسِ أَوِ الْفَجْرَ قَبْلَ طُلُوْعِ الْفَجْرِ فَالصَّلَاةُ بَاطِلَةٌ، عَلَيْكَ أَنْ تُعِيْدَهَا وَلَا تَبْرَأُ الذِّمَّةُ إِلَّا بِإِعَادَتِهَا وَلَا يَجُوْزُ لَكَ أَنْ تُصَلِّيَ قَبْلَ الْوَقْتِ أَبَداً بَلْ أَنْتَ آثِمٌ وَعَلَيْكَ التَّوْبَةُ مِنْ ذَلِكَ، وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ.

“Jika kamu menshalatkannya sebelum waktu maka dia adalah batil (yakni tidak sah) dan tidaklah gugur dari kewajibanmu, jika kamu shalat zhuhur sebelum matahari tergencir atau maghrib sebelum tenggelam matahari atau shubuh sebelum terbit fajar maka shalatmu adalah batil, wajib bagimu untuk mengulanginya, dan tidaklah gugur kewajibanmu kecuali dengan mengulanginya. Dan tidak boleh bagimu selama-lamanya untuk shalat sebelum waktu, bahkan kamu adalah berdosa, dan wajib bagimu bertaubat dari shalat sebelum waktunya. Wallâhul Musta’ân. “

Apa yang dijelaskan oleh Al-Imâm Ibnu Bâzz Rahimahullâh tersebut sangatlah jelas, adapun bila seseorang khawatir akan menimbulkan fitnah kalau dia tidak ikut berjama’ah dengan kaum muslimin pada saat belum masuk waktu maka dia ikut shalat berjamâ’ah bersama mereka pada waktu tersebut dengan niat shalat sunnah, Al-Imâm Ibnul Utsaimîn Rahimahullâh berkata:

فَمَنْ صَلَّى الصَّلَاةَ قَبْلَ وَقْتِهَا فَإِنَّ صَلَاتَهُ لَا تُجْزِئُهُ عَنِ الْفَرِيْضَةِ لَكِنَّهَا تَقَعُ نَفْلًا بِمَعْنَى أَنَّهُ يُثَابُ عَلَيْهَا ثَوَابُ نَفْلٍ، وَعَلَيْهِ أَنْ يُعِيْدَ الصَّلَاةَ بَعْدَ دُخُوْلِ الْوَقْتِ، وَاللهُ أَعْلَمُ.

“Barangsiapa melakukan shalat sebelum waktunya maka sungguh shalatnya tidaklah memenuhinya dari shalat wajib, akan tetapi shalatnya terletak sebagai sunnah, dengan makna bahwasanya dia diberi padanya pahala sunnah, dan wajib baginya untuk mengulangi shalat setelah masuknya waktu.”

Dijawab oleh: Abû Ahmad Muhammad Al-Khidhir ‘Afallâhu ‘anhu.
[Sumber: Risalah AL-HIKMAH, Edisi 3/Jum’at 4/Rajab 1438].  

Suber penukilan : http://t.me/majaalisalkhidhir

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: