“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

Tata cara tayamum

Tanya: Minta tolong tanyakan kepada Ustâdz Abû Ahmad tentang tata cara tayammum sesuai petunjuk Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam, karena kebanyakan teman-teman ana masih awam yang baru mengenal sunnah minta ajarkan tata cara tayammum dengan benar jika tidak mendapatkan air?

Jawab: Adapun tata cara tayammum adalah sebagai berikut:

Niat bertayammum, dan niat ini keberadaannya di dalam hati, Asy-Syaikhân meriwayatkan dari hadîts Umar Ibnil Khaththâb Radhiyallâhu ‘Anhu bahwa beliau mendengar Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

إنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya amalan-amalan tergantung pada niat-niat, dan sesungguhnya bagi setiap orang tergantung kepada apa yang diniatkan”.

Berkata Al-Imām Abul ‘Abbās Ahmad Al-Harrāniy Rahimahullāh:

مُرَادُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالنِّيَّةِ النِّيَّةُ الَّتِي فِي الْقَلْبِ؛ دُونَ اللِّسَانِ بِاتِّفَاقِ أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ: الْأَئِمَّةِ الْأَرْبَعَةِ، وَغَيْرِهِمْ.

“Yang diinginkan beliau Shallallāhu ‘Alaihi wa Sallam dengan niat adalah niat yang di dalam hati, bukan di lisan sesuai dengan kesepakatan para imām kaum muslimin, imām (mazhab) yang empat dan selain mereka”.

Kemudian menempelkan kedua telapak tangan ke bumi yang berdebu atau ke suatu tempat yang terdapat debu padanya, berkata Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam:

إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيْكَ أَنْ تَقُوْلَ بِيَدِكَ هَكَذَا

“Sesungguhnya cukup bagimu untuk kamu lakukan dengan tanganmu begini”.
Yaitu:

ضَرَبَ بِيَدِهِ الْأَرْضَ ضَرْبَةً وَاحِدَةً

“Beliau meletakan dengan tangannya ke tanah dengan sekali peletakan”.

Kemudian meniup bekas debu yang nempel di kedua telapak tangan, berkata ‘Ammâr bin Yâsir Radhiyallâhu ‘Anhumâ:

فَضَرَبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَفَّيْهِ الْأَرْضَ، وَنَفَخَ فِيْهِمَا

“Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam menempelkan kedua telapak tangannya ke bumi lalu beliau meniupnya.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhâriy dan Muslim.

Kemudian mengusap kedua tangan:

ثُمَّ مَسَحَ الشِّمَالَ عَلَى الْيَمِيْنِ وَظَاهِرِ كّفَّيْهِ وَوَجْهِ

“Kemudian beliau mengusap yang kiri atas yang kanan, dan punggung telapak tanggannya lalu mengusap wajahnya”.

Kemudian mengusap wajah.
Untuk mengusap kedua tangan dan wajah ini bukanlah suatu keharusan untuk mengurutkannya, namun boleh mendahulukan mengusap tangan lalu wajah atau mendahulukan mengusap wajah lalu tangan, untuk mendahulukan mengusap tangan dalilnya adalah hadits yang telah lalu penyebutannya, adapun mendahulukan mengusap wajah dalilnya adalah perkataan Allâh Ta’âla:

(وفَتَيَمَّمُواْ صَعِيدٗا طَيِّبٗا فَٱمۡسَحُواْ بِوُجُوهِكُمۡ وَأَيۡدِيكُم مِّنۡهُۚ)

“Maka bertayammumlah kalian dengan debu yang baik, usaplah oleh kalian wajah-wajah kalian dan tangan-tangan kalian dengannya”. [Al-Mâidah: 6].

Ditulis oleh : [Abû Ahmad Muhammad Al-Khidhir ‘Afallâh ’anhu di Bekasi pada 16 Rajab 1437].

[Dikutip dari Risalah AL-HIKMAH (Edisi 2/hal. 3)].

sumber : http://t.me/majaalisalkhidhir

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: