“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

IMG-20170317-WA0006

TANYA: Assalaamu’alaikum… Ustadz. Apakah hukum mengambil upah dari praktek bekam? Dalam keadaan seorang pembekam mengeluarkan biaya seperti untuk membeli alat bekam, tissu, plastik, sarung tangan dan lain-lain. Jazaakumullaahu khoiron.

JAWAB: Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh. Kalau keberadaannya seperti itu maka boleh baginya mengambil imbalan ketika dia diberi dan pemberian tersebut hendaknya karena keinginan dan kerelaan dari orang yang dibekam, ini sesuai dengan apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari hadits Anas bin Malik semoga Allah meridhainya:

أَنَّ رَسُوْلَ اللّٰهِ صَلَى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلّّمَ احْتَجَمَ وَأَعْطَى الْحَجَّامَ أَجْرَهُ

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berbekam lalu beliau memberikan kepada tukang bekam imbalannya.”

Menerima imbalan ketika diberi seperti ini keberadaannya semisal dengan orang yang diminta untuk keluar dakwah, dia tentu akan mengeluarkan banyak biaya, biaya transportasi dan atau biaya untuk keperluan lainnya selama keluar dakwah, dengan demikian maka ada rukhsah (keringanan) padanya untuk menerima imbalan ketika diberikan kepadanya, selama dia tidak berharap atau bergantung padanya. Dan sengaja kami mempermisalkan di sini dengan orang yang diminta untuk keluar dakwah karena ada pula pertanyaan yang berkaitan dengan itu.

Dan pemberian imbalan dari Rasululullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada orang yang membekamnya, ini bukan sekali bekam atau dua kali bekam saja namun nampak pada riwayat-riwayat yang ada menunjukan kalau setiap kali beliau dibekam maka setelah itu beliau memberikan imbalan, terkadang beliau memberikan langsung darinya dan terkadang pula diberikan melalui orang lain, sebagaimana yang disebutkan di dalam riwayat Ibnu Majah dari hadits Ali bin Abi Thalib, bahwasanya beliau berkata:“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berbekam lalu beliau memerintahkanku untuk aku berikan kepada tukang bekam imbalannya.”

Dan lebih jelas lagi, sebagai pendukung hadits yang kami sebutkan adalah hadits Anas bin Malik yang diriwayatkan oleh dua orang imam; Al-Bukhariy dan Muslim:

اِحْتَجَمَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلّٰى اللّٰهِ عَلَيْهِ، حَجَمَهُ أَبُوْ طَيْبَةَ، وَأَعْطَاهُ صَاعَيْنِ مِنْ طَعَامٍ

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berbekam, Abu Thaibah yang membuka  beliau lalu beliau memberikan (imbalan) dua takaran dari makanan.”

Apa yang kami bawakan dari dalil-dalil di sini masih menunjukan tentang kebolehan memberi imbalan kepada yang membekam dan kebolehan pula bagi yang membekam tersebut untuk menerima imbalan dari orang yang dia bekam, dan di sana ada pula dalil-dalil yang menunjukan tentang larangan berprofesi sebagai tukang bekam dan jeleknya imbalan yang diterima oleh tukang bekam, dengan demikian memerlukan adanya pengkompromian.

Pada larangan yang ada  tidaklah menunjukan kepada pengharaman secara mutlak namun dia dibawa kepada hukum lain, ini sesuai dengan yang disebutkan dalam kaedah:

ﻛُﻞُّ ﻣَﺎ ﻭَﺭَﺩَ ﺍﻟﻨَّﻬْﻲُ ﻋَﻨْﻪُ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﺣَﺮَﺍﻡٌ ﺇِﻻَّ ﺃَﻥْ ﺗَﺄْﺗَﻲَ ﻗَﺮِﻳْﻨَﺔٌ ﺷَﺮْﻋِﻴَّﺔٌ ﺗُﺼَﺮِّﻑُ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟﻨَّﻬْﻲَ ﻋَﻦِ ﺍﻟﺘَّﺤْﺮِيْمِ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﻜَﺮَﺍﻫَﺔِ ﺃَﻭِ ﺍلْإِرْﺷَﺎﺩِ

“Setiap apa yang ada larangan padanya maka sesungguhnya dia adalah haram, kecuali akan datang (suatu dalil) pendamping yang syar’iy, yang memalingkan larangan ini dari yang haram kepada yang makruh atau penunjukan (boleh).”

Dalil-dalil yang telah kami sebutkan menunjukan pembolehan memberi imbalan kepada yang membekam, dengan demikian boleh pula menerima imbalan dari yang dibekam, karena:

مَا حُرِمَ أَخْذُهُ حُرِمَ إِعْطَاؤُهُ

“Apa-apa yang diharamkan mengambilnya maka diharamkan pula memberikannya.”

Dan landasan dari pendapat ini adalah hadits Abdullah bin ‘Abbas semoga Allah meridhai keduanya, yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhariy:

اِحْتَجَمَ رَسُوْلُ اللّٰهُ صَلَّى اللّٰهُ عُلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأعْطَى الَّذِي حَجَمَهُ، وَلَوْ كَانَ حَرَامًا وَلَمْ يُعْطِهِ

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berbekam, lalu beliau memberikan (imbalan) kepada yang membekam beliau. Dan kalaulah keberadaannya haram maka tentu beliau tidak akan memberikannya.”

Dari apa yang telah kami sebutkan menunjukan bolehnya memberi imbalan atau menerima imbalan ketika bekam, dan ini adalah pendapat dari kebanyakan ulama.
Semoga apa yang kami sebutkan pada lembaran sederhana lagi singkat ini dapat bermanfaat. Walhamdulillah.

Ditulis oleh  : (Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir, di Binagriya-Pekalongan pada 1 Jumadil Ula 1438).

Sumber : http:// t.me/majaalisalkhidhir 

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: