“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

IMG-20170315-WA0013

Tanya: Apa hukumnya investasi?

Jawab:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللّٰهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.أَمَّا بَعْدُ

Investasi atau yang kami kenal dengan menanam modal, ini ada dua bentuk:

Pertama: Mudharabah (bagi keuntungan dan kerugian).

Kedua: Ijarah (menyewakan).

Pada bagian pertama, yaitu mudharabah, ini memiliki dasar dari syari’at, sebagaimana disebutkan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhariy dan Muslim dari Nafi’, dari Abdullah bin ‘Umar, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

ﺃَﻧَّﻪُ ﺩَﻓَﻊَ ﺇِﻟَﻰ ﻳَﻬُﻮﺩِ ﺧَﻴْﺒَﺮَ ﻧَﺨْﻞَ ﺧَﻴْﺒَﺮَ ﻭَﺃَﺭْﺿَﻬَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻥْ ﻳَﻌْﺘَﻤِﻠُﻮﻫَﺎ ﻣِﻦْ ﺃَﻣْﻮَﺍﻟِﻬِﻢْ ﻭَﻟِﺮَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺷَﻄْﺮُ ﺛَﻤَﺮِﻫَﺎ

“Bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyerahkan kepada yahudi Khaibar kebun kurma di Khaibar dan ladangnya supaya mereka bekerja padanya dengan biaya dari mereka sendiri, dan untuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setengah dari hasil panennya.”

Pada dalil tersebut menunjukan bahwa mudharabah ini sama-sama merasakan hasilnya, keuntungan atau hasilnya dibagi sama rata, adapun kalau tidak memperoleh hasil atau disebut dengan rugi, maka kedua belah pihak siap menanggung resiko, tidak boleh merugikan salah satu pihak dan atau dirugikan, ini sesuai dengan keumuman kaedah:

«ﻻَ ﺿَﺮَﺭَ ﻭَﻻَﺿِﺮَﺍﺭ»

“Tidak memudaratkan dan tidak (pula) merugikan.”

Kaedah ini merupakan suatu hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ad-Daruqutniy dari hadits Abu Sa’id Al-Khudriy. Walau pun haditsnya diperbincangkan oleh para ulama namun dia memiliki asal dan penguat yang bisa dijadikan sebagai dalil.

Pada bagian yang kedua yaitu ijarah (menyewakan), ini berbentuk penyewaan terhadap sesuatu yang dimiliki dan atau mempekerjakan orang lain dengan diberi gaji, ini bisa juga dijalani oleh orang yang memiliki modal, dalil tentang masalah ini adalah hadits di dalam “Shahihul Bukhariy” dari Abdullah bin ‘Umar semoga Allah meridhainya, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

ﻣَﺜَﻠُﻜُﻢْ ﻭَﻣَﺜَﻞُ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺑَﻴْﻦِ ﻛَﻤَﺜَﻞِ ﺭَﺟُﻞٍ ﺍﺳْﺘَﺄْﺟَﺮَ ﺃُﺟَﺮَﺍﺀَ ﻓَﻘَﺎﻝَ: ﻣَﻦْ ﻳَﻌْﻤَﻞُ ﻟِﻲ ﻣِﻦْ ﻏَﺪْﻭَﺓٍ ﺇِﻟَﻰ ﻧِﺼْﻒِ ﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ ﻋَﻠَﻰ ﻗِﻴﺮَﺍﻁٍ؟ ﻓَﻌَﻤِﻠَﺖِ ﺍﻟْﻴَﻬُﻮﺩُ. ﺛُﻢَّ ﻗَﺎﻝَ: ﻣَﻦْ ﻳَﻌْﻤَﻞُ ﻟِﻲ ﻣِﻦْ ﻧِﺼْﻒِ ﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ ﺇِﻟَﻰ ﺻَﻠَﺎﺓِ ﺍﻟْﻌَﺼْﺮِ ﻋَﻠَﻰ ﻗِﻴْﺮَﺍﻁٍ؟ ﻓَﻌَﻤِﻠَﺖِ ﺍﻟﻨَّﺼَﺎﺭَﻯ. ﺛُﻢَّ ﻗَﺎﻝَ: ﻣَﻦْ ﻳَﻌْﻤَﻞُ ﻟِﻲ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻌَﺼْﺮِ ﺇِﻟَﻰ ﺃَﻥْ ﺗَﻐِﻴﺐَ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲُ ﻋَﻠَﻰ ﻗِﻴﺮَﺍﻃَﻴْﻦِ؟ ﻓَﺄَﻧْﺘُﻢْ ﻫُﻢْ. ﻓَﻐَﻀِﺒَﺖِ ﺍﻟْﻴَﻬُﻮﺩُ ﻭَﺍﻟﻨَّﺼَﺎﺭَﻯ ﻓَﻘَﺎﻟُﻮﺍ: ﻣَﺎ ﻟَﻨَﺎ ﺃَﻛْﺜَﺮُ ﻋَﻤَﻠًﺎ ﻭَﺃَﻗَﻞُّ ﻋَﻄَﺎﺀً؟ ﻗَﺎﻝَ: ﻫَﻞْ ﻧَﻘَﺼْﺘُﻜُﻢْ ﻣِﻦْ ﺣَﻘِّﻜُﻢْ؟ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ: ﻻَ. ﻗَﺎﻝَ: ﻓَﺬَﻟِﻚَ ﻓَﻀْﻠِﻲ ﺃُﺗِﻴﻪِ ﻣَﻦْ ﺃَﺷَﺎﺀُ

“Perumpamaan kalian dan dua ahlul kitab (yahudi dan nasrani) adalah seperti seorang yang menyewa para pekerja. Dia berkata: “Siapakah yang mau bekerja untukku dari pagi hingga tengah hari (siang) dengan gaji satu qirath?” Maka bekerjalah yahudi. Lalu dia berkata: “Siapakah yang mau bekerja untukku dari tengah hari (siang) hingga shalat ashar dengan gaji satu qirath?” Maka bekerjalah nasrani. Kemudian dia berkata: “Siapa yang mau bekerja untukku dari ashar hingga tenggelam matahari dengan gaji dua qirath?” Maka (bekerjalah suatu kaum) dan kalianlah kaum tersebut. Lalu marahlah yahudi dan nasrani. Mereka berkata: “Kenapa kami yang lebih banyak pekerjaannya tetapi gajinya lebih sedikit?” Allah berkata: “Apakah Aku mengurangi sesuatu dari hak kalian? Mereka berkata: “Tidak.” Allah berkata: “Itulah pengistimewaan-Ku, Aku berikan kepada siapa yang Aku kehendaki.”

Pada hadits ini menunjukan tentang adanya anjuran untuk menyegerakan dalam memberikan gaji kepada yang dipekerjakan, ini sesuai dengan apa yang disebutkan di dalam suatu hadits shahih yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari ‘Abdullah bin ‘Umar, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau berkata:

ﺃَﻋْﻄُﻮﺍ ﺍﻷَﺟِﻴﺮَ ﺃَﺟْﺮَﻩُ ﻗَﺒْﻞَ ﺃَﻥْ ﻳَﺠِﻒَّ ﻋَﺮَﻗُﻪُ

“Berikanlah oleh kalian kepada pekerja gajinya sebelum keringatnya kering.”

Dan perkataannya “sebelum keringatnya kering” ini suatu ungkapan agar menyegerakan dalam memberi gaji kepada pekerja jika dia sudah selesai melakukan pekerjaannya, bila di sana ada kesepakatan bahwa gajinya akan diberikan setiap bulan atau yang kita kenal dengan gaji bulanan maka ini tidak mengapa. Wallahu A’lam.

Dari apa yang disebutkan dapat kita simpulkan bahwa:

1. Investor (penanam modal) dengan pengelola modal hendaknya sama-sama merasakan dari keuntungan atau kerugiaannya, bila ada keuntungan maka dibagi rata, begitu pula bila ada kerugian maka sama-sama menanggung resiko. Dengan demikian tidak boleh bagi investor menetapkan kepada pengelola modal bahwa dalam waktu tertentu harus dia mendapatkan keuntungan dengan nilai tertentu.

2. Di sana ada juga orang yang meminjamkan uang sebagai modal, keberadaannya dia ini adalah sebagai pemberi pinjaman, dan pinjaman yang dia berikan ini teranggap sebagai hutang, dengan demikian tidak boleh baginya kemudian mengharapkan ada keuntungan darinya.

Dia meminjamkan atau menghutangkan uang maka tidak diperbolehkan untuk mengambil keuntungan darinya, ini berdasarkan kaedah syar’iyyah:

ﻛُﻞُّ ﻗَﺮْﺽٍ ﺟَﺮَّ ﻣَﻨْﻔَﻌَﺔً ﻓَﻬُﻮَ ﺭِﺑًﺎ

“Setiap pinjaman yang mendatangkan kemanfaatan (keuntungan), maka itu adalah riba.”

Kaedah ini merupakan suatu hadits yang diriwayatkan oleh Al-Harits Ibnu Abi Usamah dari Ali, dan padanya pendukung dan penguat dari hadits lain, diantaranya hadits Fadhalah bin ‘Ubaid yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dan juga dari perkataan Abdullah bin Salam yang diriwayatkan oleh Al-Bukhariy. Dan Abdurrazzaq Ash-Shan’aniy meriwayatkan:

ﻛُﻞُّ ﻗَﺮْﺽٍ ﺟَﺮَّ ﻣَﻨْﻔَﻌَﺔً ﻓَﻬُﻮَ مَكْرُوْهٌ

“Setiap pinjaman yang mendatangkan manfaat (keuntungan) maka dia adalah makruh.”

Dan Ibnu Qudamah semoga Allah merahmatinya berkata:

ﻭَﻛُﻞُّ ﻗَﺮْﺽٍ ﺷَﺮَﻁَ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﻥْ ﻳَﺰِﻳﺪَﻩُ ﻓَﻬُﻮَ ﺣَﺮَﺍﻡٌ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﺧِﻠَﺎﻑٍ.

“Setiap pinjaman yang mensyaratkan adanya tambahan padanya, maka itu adalah haram, dengan tanpa perselisihan (di kalangan para ulama).”

Wallahu A’lam.

Ditulis oleh : (Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir, 5 Jumadil Ula 1438).

Sumber : http://telegram.me/majaalisalkhidhir

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: