“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

IMG-20170315-WA0014

TANYA: Bismillah…Assalamualaikum.. Afwan Ustadz mau tanya dengan diamnya wanita-wanita di dalam rumahnya dengan menuntut ilmu-ilmu syar’iy kepada para ulama yang dapat dipercaya melalui media-media seperti telegram dan internet, apakah dengan hal itu dapat mengantarkannya ke surga. 

Mohon penjelasannya dari dalil-dalil yang berhubungan dengan hal itu. Dan bagaimana caranya agar akhwat (wanita) tersebut tidak terjerumus ke dalam mengambil ilmunya yang malah akan menyesatkannya seperti yang banyak dikhawatirkan oleh sebagian wanita sekarang ini. 

Mohon penjelasannya. 

Jazaakallahu khoiron Barakallahufiik.

(Pertanyaan dari seorang ummahat di Bekasi).

JAWAB:

Wa’alaikumus salam Warahamtullahi Wabarakatuh.

Tentu dapat mengantarkannya ke dalam surga, ini berdasarkan keumuman dari perkataan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

ﻣَﻦْ ﺳَﻠَﻚَ ﻃَﺮِﻳْﻘًﺎ ﻳَﻠْﺘَﻤِﺲُ ﻓِﻴْﻪِ ﻋِﻠْﻤًﺎ ﺳَﻬَّﻞَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟَﻪُ ﺑِﻪِ ﻃَﺮِﻳْﻘًﺎ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ

“Barang siapa menempuh suatu jalan, dia mencari ilmu padanya maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.” Diriwayatkan oleh Muslim.

Pada penyebutan “thariqan” yaitu suatu jalan, di sini masih berbentuk umum, jalan apa saja yang dia tempuh untuk menuntut ilmu maka masuk dalam keumuman tersebut, selama jalan yang dia tempuh untuk memperoleh ilmu tersebut tidak ada penyelisihan terhadap syari’at Allah Ta’ala maka ini termasuk jalan ke surga, berkata Ustadz kami Asy-Syaikh Al-‘Allamah Abu Hatim Sa’id bin Da’as Al-Yafi’iy -semoga Allah merahmati kami dan beliau-:

وَالْأَجْدَرُ بِطَالِبِ الْعِلْمِ أَنْ تَكُوْنَ هِمَّتُهُ الْوُصُوْلَ إِلَيْهَا وَلَوْ طَالَ الزَّمَانُ، وَلَكِنْ بِسُلُوْكِ الطَّرِيْقَةِ الصَّحِيْحَةِ

“Dan yang paling pantas bagi penuntut ilmu adalah memiliki tekad untuk sampai kepada tingkatan orang-orang berilmu walau pun panjang waktu, akan tetapi dengan menempuh jalan-jalan yang benar.”

Saudariku Fillah -semoga Allah menjaga kami dan menjaga engkau-, media-media yang engkau sebutkan itu termasuk dari suatu jalan yang perlu engkau tempuh untuk memperoleh ilmu, itu termasuk dari karunia Allah yang diadakan untuk kita manfaatkan:

(وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ)

“Dan apa saja pada kalian dari suatu kenikmatan maka dia dari Allah.” [An-Nahl: 53].

Kesempatan bagi engkau wahai ukhtiy Fillah -semoga Allah meridhai kami dan engkau- untuk engkau manfaatkan media tersebut dalam memperoleh ilmu, keberadaan engkau di dalam rumah bisa menuntut ilmu itu lebih baik dan lebih utama, sesungguhnya engkau memiliki teladan  dari wanita shalihah wahai uktiy Fillah, dari Ummu Hisyam bintu Haritsah semoga Allah meridhainya, beliau berkata:

«ﻟَﻘَﺪْ ﻛَﺎﻥَ ﺗَﻨُّﻮﺭُﻧَﺎ ﻭَﺗَﻨُّﻮﺭُ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻭَﺍﺣِﺪًﺍ ﺳَﻨَﺘَﻴْﻦِ ﺃَﻭْ ﺳَﻨَﺔً ﻭَﺑَﻌْﺾَ ﺳَﻨَﺔٍ ﻭَﻣَﺎ ﺃَﺧَﺬْﺕُ: (ﻕ، ﻭَﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ ﺍﻟْﻤَﺠِﻴﺪِ)، ﺇِﻟَّﺎ ﻋَﻠَﻰ ﻟِﺴَﺎﻥِ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻛَﺎﻥَ ﻳَﻘْﺮَﺃُ ﺑِﻬَﺎ ﻛُﻞَّ ﻳَﻮْﻡِ ﺟُﻤُﻌَﺔٍ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤِﻨْﺒَﺮِ ﺇِﺫَﺍ ﺧَﻄَﺐَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ»

“Sungguh keberadaan dapur kami dan dapur Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah satu, dua tahun atau setahun setengah dan aku tidak mengambil: Surat “Qaaf” kecuali dari lisan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dahulu beliau membacanya setiap hari Jum’at di atas mimbar jika beliau berkhutbah kepada manusia.”

Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad, Muslim, Abu Dawud, An-Nasa’iy, Ibnu Majah dan Abu Ya’la. (Penjelasan dari hadits ini dapat didengarkan pula pada audio dari kajian kitab “An-Nashihati Lil Mar’atish Shalihah” yang disampaikan oleh yang menjawab pertanyaan ini, pada nasehat yang ke tigabelas).

Keberadaan seorang wanita menuntut ilmu dengan cara seperti ini lebih aman baginya dan lebih menjaga dirinya dari terjerumus ke dalam penyelisihan terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan kesenanantiasaannya dalam berpegang teguh kepada keduanya menunjukan tentang keutamaan, kebaikan dan keshalihahannya:

سَتَبْقَى الْمَرْأََةُ الْمُسْلِمَةُ طَيِّبَةً وَصَالِحَةً مَا دَامَتِ الْمُتَمَسِّكَةُ بِالْكتَابِ وَالسَّنَةِ

“Wanita muslimah akan tetap dalam keadaan baik dan shalihah selama dia berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.”

Ukhtiy Fillah -semoga Allah mengampuni kami dan engkau-, walau pun keberadaan engkau bersenantiasa di dalam rumah namun bukanlah itu sebagai penghalang dari memperoleh ilmu, anggaplah jiwa raga engkau di dalam rumah namun jadikanlah tekad dan cita-cita engkau berada dalam istana di surga, berkata Syaikh kami Al-‘Allamah Abu Hatim Sa’id bin Da’as Al-Yafi’iy -semoga Allah merahmati kami dan beliau:

فَكُنْ رَجُلًا رِجْلُهُ فِي الثَّرَى ***  وَهَامَةُ هِمَّتِهِ فِي الثُّرَيَّا

“Jadilah engkau seseorang yang kakinya di bumi ** namun tekad pada cita-citanya di bintang yang tinggi.”

Bersyukurlah wahai ukhtiy Fillah -semoga Allah menjadikan kami dan engkau termasuk dari hamba-hamba-Nya yang bersyukur-, sesungguhnya keberadaan engkau menunutu ilmu dari dalam rumah itu menunjukan adanya keteladan engkau kepada saudari-saudari kita yang telah mendahului kita dalam keimanan dan ketakwaan.

Bila engkau dapati ada majelis ilmu yang dekat dengan rumah engkau seperti di suatu masjid atau di suatu rumah yang disediakan tempat khusus untuk para wanita dan dia aman dari fitnah, yang tempatnya tersebut tidak termasuk hitungan safar dari rumah engkau maka tidak mengapa bagi engkau untuk hadir mendengarkan ilmu.

Adapun kalau jarak dari rumah engkau ke tempat majelis ilmu tersebut terhitung safar maka janganlah engkau hadir kecuali engkau dikawani mahram.

Ketahuilah wahai ukhtiy Fillah -semoga Allah mencintai kami dan engkau- bahwa sesungguhnya tidak ada di dalam sejarah bahwa ada dari mereka para wanita melakukan rihlah (perjalanan jauh) dengan tanpa ditemani mahram

dari suatu kota ke kota lain, dari suatu daerah ke daerah lain, dari suatu negara ke negara yang lain dalam rangka menuntut ilmu, tidak pula ada dalam riwayat-riwayat hadits yang menyebutkan bahwa ada dari mereka dengan tanpa ditemani mahram menunggangi kuda atau onta lalu melintasi daratan atau dataran dan tidak pula ada dari mereka menaiki perahu atau kapal lalu melintasi lautan dan samudera dalam rangka menuntut ilmu.

Dan belum kami dapati di dalam sejarah begitu pula di dalam riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa ada dari salaf shalih membawa wanita-wanitanya lalu dititipkan di suatu tempat penitipan dalam rangka untuk menuntut ilmu di tempat tersebut, setelah itu dia pergi meninggalkan mereka begitu saja. Namun yang kita dapati ada dari mereka ketika melakukan rihlah untuk menuntut ilmu maka dia membawa pula wanita-wanitanya lalu dia tinggal bersama mereka di suatu tempat tinggal, sebagaimana kita dapati pada para ulama Ahlussunnah, bagaimana Al-Imam Muqbil bin Hadiy Al-Wadi’iy ketika menuntut ilmu di Kerajaan Saudi Arabia? begitu pula Asy-Syaikh Yahya Al-Hajuriy dan masyayikh lainnya yang pernah rihlah ke Darul Hadits Dammaj, ketika memungkinkan untuk rihlah ke Dammaj dengan membawa wanita-wanita mereka maka mereka pun datang bersama wanita-wanita mereka ke Dammaj lalu tinggal bersama mereka di suatu tempat tinggal mereka.

Karena sesungguhnya keberadaan mereka para wanita itu adalah lemah, mereka memerlukan penjagaan, perhatian dan pemeliharaan dari mahram-mahram mereka, di saat mereka mengingingkan untuk safar maka wajib bagi mereka bersama mahram, dari Abdullah bin ‘Abbas semoga Allah meridhai keduanya, bahwasanya beliau mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«ﻟَﺎ ﻳَﺨْﻠُﻮَﻥَّ ﺭَﺟُﻞٌ ﺑِﺎﻣْﺮَﺃَﺓٍ ﺇِﻟَّﺎ ﻭَﻣَﻌَﻬَﺎ ﺫُﻭ ﻣَﺤْﺮَﻡٍ، ﻭَﻟَﺎ ﺗُﺴَﺎﻓِﺮِ ﺍﻟْﻤَﺮْﺃَﺓُ ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﻊَ ﺫِﻱ ﻣَﺤْﺮَﻡٍ»، ﻓَﻘَﺎﻡَ ﺭَﺟُﻞٌ ﻓَﻘَﺎﻝَ: ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ، ﺇِﻥَّ ﺍﻣْﺮَﺃَﺗِﻲ ﺧَﺮَﺟَﺖْ ﺣَﺎﺟَّﺔً، ﻭَﺇِﻧِّﻲ ﺍﻛْﺘُﺘِﺒْﺖُ ﻓِﻲ ﻏَﺰْﻭَﺓِ ﻛَﺬَﺍ ﻭَﻛَﺬَﺍ ﻗَﺎﻝَ: «ﻓَﺎﻧْﻄَﻠِﻖْ ﻓَﺤُﺞَّ ﻣَﻊَ ﺍﻣْﺮَﺃَﺗِﻚَ»

“Tidak boleh seseorang laki-laki bersepi-sepian dengan seorang wanita kecuali bersamanya mahram. Dan tidak boleh wanita safar kecuali bersamanya mahram.” Maka berdirilah seseorang lalu berkata: Wahai Rasulullah sesungguhnya isteriku keluar untuk haji dan aku sudah ditetapkan untuk ikut perang demikian dan demikian? beliau berkata: “Pergilah kamu untuk haji bersama isterimu.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy dan Muslim. (Penjelasan dari hadits ini dapat didengarkan pula pada audio dari kajian kitab “An-Nashihatu Lil Mar’atish Shalihah” pada nasehat yang ke duabelas).

Diperkecualikan bagi mereka yang hijrah dari negeri kafir ke negeri muslim, ketika tidak ada mahram maka boleh bagi mereka safar dengan tanpa mahram, Allah Ta’ala berkata:

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا جَاءَكُمُ الْمُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ فَامْتَحِنُوهُنَّ ۖ اللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمَانِهِنَّ ۖ فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ ۖ لَا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ)

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepada kalian para wanita yang beriman, maka hendaklah kalian uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; jika kalian telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kalian kembalikan mereka kepada orang-orang kafir itu. Mereka tidak halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tidak halal pula bagi mereka.” (Al-Mumtahanah: 10).

Karena keberadaan mereka datang dalam keadaan tidak memiliki apa-apa maka boleh bagi mereka untuk menginap di suatu tempat yang layak bagi mereka dan aman dari fitnah, sebagaimana yang disebutkan di dalam “Ash-Shahih” tentang keberadaan wanita hitam yang membuat kemah di dalam masjid karena tidak adanya tempat untuk ia tempati dan tidak adanya pula mahram atau keluarganya yang bisa ia ikuti.

Adapun kalau hanya sekedar alasan untuk menuntut ilmu lalu melakukan pelanggaran terhadap hukum-hukum syari’at maka ini adalah suatu kesalahan yang nyata menyelisihi prinsip dan kaedah syar’iyyah:

ﺩَﺭْﺀُ ﺍﻟْﻤَﻔَﺎﺳِﺪِ ﻣُﻘَﺪَّﻡٌ ﻋَﻠَﻰٰ ﺟَﻠْﺐِ ﺍﻟْﻤَﺼَﺎﻟِﺢِ

“Menghindari berbagai kerusakan adalah lebih didahulukan daripada mengambil berbagai manfaat.”

Semoga apa yang kami sampaikan ini dapat memberi manfaat. Wallahu A’lam.

Ditulis oleh : (Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir, di Binagriya-Pekalongan, pada 2 Jumadil Ula 1438).

Sumber : http://telegram.me/majaalisalkhidhir

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: