“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

IMG-20170312-WA0002

بسم الله الرحمن الرحيم

وبه نستعين الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين أما بعد

Sungguh telah sampai kepada kami suatu perkataan yang sangat bertentangan dengan dakwah para nabi dan para rasul _Alaihimush Shalatu was Salam_, yaitu perkataan bahwa orang yang banyak-banyak belajar “tauhid” kalau di ibaratkan listrik maka otaknya “konslet”.

Ketahuilah _semoga Allah memberikan hidayah kepada kami dan kepada kalian_ bahwasanya orang yang belajar ilmu agama pasti dia akan dihadapkan dengan *tauhid*, dari awal belajarnya hingga akhir belajarnya akan berhadapan dengan *tauhid*, berkata Allah Ta’ala:

(وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا)

“Dan Dia telah mengajarkan kepada Adam nama-nama semuanya.” [Al-Baqarah: 31].

Tentu yang paling pertama-tama diajarkan kepadanya adalah tentang nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya, yang ini merupakan bagian dari *tauhid* yaitu tauhid Asma’ wa Shifat.

Kalau kita menyebutkan satu persatu dari para nabi dan para rasul yang dakhwah dan bimbingan mereka tidak lepas dari tauhid maka sangat tidak mencukupi tempat ini untuk membahasnya dan menyebutkannya, namun di sini kami akan menyebutkan nabi akhir zaman Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang dakwah dan bimbingan beliau yang selalu berkaitan dengan *tauhid*, pada awal beliau diangkat sebagai nabi, beliau diperintah untuk membaca, apa yang dibaca? Ternyata *tauhid* dan konsekwensi dari *tauhid*:

(اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ)

“Bacalah dengan nama Rabbmu yang Dia telah menciptakan.”  [Al-Alaq: 1].

Ayat tersebut dan ayat-ayat selanjutnya menyebutkan tentang *tauhid*, menyebutkan tentang tauhid Asma wa Shifat, tauhid Rububiyyah dan pada akhir surat menyebutkan tentang tauhid Uluhiyyah.

Tidak satu surat pun di dalam Al-Qur’an kecuali terdapat penyebutan tentang *tauhid*.

Pada dakwah, pengajaran, bimbingan, khutbah dan ceramah serta majelis Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak lepas dari menyebutkan *tauhid*.

Tentu yang mengerti perkara ini adalah mereka yang mengenal *tauhid*.

Adapun yang tidak mengenal *tauhid* ketika mempelajarinya atau melewatinya dia mengira itu bukan bagian dari *tauhid* atau kalau dia mengenal itu adalah bagian dari *tauhid* atau berkaitan dengan *tauhid* maka dia sangat keberatan, bukan hanya diibaratkan listrik yang konslet di otaknya namun dia lebih pantas diibaratkan dengan orang yang kesurupan jin lalu diruqyah dengan dibacakan ayat-ayat yang berisikan *tauhid*.

Supaya tidak diibaratkan sebagai listrik yang konslet di otak atau supaya tidak dikatakan takut kepada *tauhid* sebagaimana takutnya jin ketika dibacakan ayat-ayat atau doa-doa yang mengandung *tauhid* maka banyak-banyaklah dalam mempelajari *tauhid* karena dakwah para nabi dan rasul adalah dakwah *tauhid*, awal dakwah mereka hingga akhirnya tidak lepas dari *tauhid*, berkata Allah Ta’ala:

(وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ)

“Dan sungguh Kami telah mengutus rasul pada setiap umat supaya mereka menyembah Allah dan supaya mereka menjauhi thaghut.” [An-Nahl: 36].

Orang-orang di zaman sekarang bila didakwahi dengan dakwah *tauhid* maka banyak penolakan dari mereka, terkadang penolakan dengan cara lembut dan terkadang dengan cara keras, seakan-akan mereka mengetahui bahwa konsekwensi dakwah *tauhid* adalah meniadakan seluruh tandingan-tandingan dan perantara-perantara dalam beribadah kepada Allah dan seakan-akan mereka mengetahui pula bahwa konsekwensinya juga adalah melaksanakan perintah Allah Ta’ala:

(وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا)

“Dan apa saja yang telah Rasul datangkan kepada kalian maka terimalah dan apa saja yang Rasul larang kepada kalian maka jauhilah.” [Al-Hashr: 7].

Sebagaimana orang-orang kafir terdahulu ketika dikatakan kepada mereka:

قولوا لا إله إلا الله تفلحوا

“Katakanlah oleh kalian *La Ilaha Illallah*, kalian akan beruntung.”

Maka mereka enggan untuk mengatakannya, mereka tidak mau mengucapkannya, karena mereka mengetahui konsekwensi kalimat *tauhid* itu adalah meniadakan tandingan-tandingan dan perantara-perantara dalam beribadah kepada Allah, dan beribadah harus berdasarkan petunjuk dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, tidak boleh bagi mereka taqlid kepada pembesar-pembesar mereka, tidak boleh bagi mereka thawaf di Ka’bah dalam keadaan telanjang, tidak boleh bagi mereka memajang gambar-gambar Ibrahim, Ismail dan Maryam di Ka’bah serta tidak boleh bagi mereka mendatangi para dukun…., dengan demikian membuat mereka merasa berat dalam menerima dakwah *tauhid*.

Supaya tidak serupa dengan orang-orang kafir yang mempersekutukan Allah itu maka banyak-banyaklah mempelajari *tauhid*, pelajarilah konsekwensinya, diantara konsekwensinya adalah bertakwa kepada Allah dan menegakan shalat karena Allah:

(مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ)

“Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta tegakanlah shalat dan janganlah kalian termasuk dari orang-orang yang mempersekutukan Allah.” [Ar-Rum: 31].

Wallahu A’lam.

Ditulis oleh : [Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir di Binagriya-Pekalongan pada 10 Jumadil Akhirah 1438]

Sumber : http://t.me/majaalisalkhidhir

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: