“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

IMG-20170313-WA0004

Tanya: Bismillah… Afwan ustadz, berita datangnya Raja Salman ke Indonesia begitu banyak menimbulkan komentar di kalangan masyarakat muslimin khususnya, termasuk anak-anak raja yang ternyata  tidak memakai hijab syar’iy, sehingga itu menjadi patokan oleh sebagian kalangan dengan ucapan putri raja Arab saja tidak memakai hijab syar’iy, malah orang Indonesia sok-sokan pakai hijab syar’iy, bahkan ada yang komentar yang benar itu seperti putri raja otaknya yang dipakai bukan atribut. Tolong berikan nasehat kepada kami. Jazaakallohu khoiron.

Jawab: Ahlussunnah wal Jama’ah dari zaman salaf hingga zaman yang akan datang _Alhamdulillah_ keadaan mereka bukan seperti ahlul bid’ah wal furqah, mereka (Ahlussunnah wal Jama’ah) senantiasa mengedepankan dalil dari Al-Qur’an maupun dalil dari As-Sunnah, dan ini yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 (اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ ۗ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ) 

“Ikutilah oleh kalian apa-apa yang diturunkan kepada kalian dari Rabb kalian dan janganlah kalian mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Sangat sedikitlah kalian mengambil pelajaran (darinya).” [Al-Araf: 3].

Adapun ahlul bid’ah wal furqah maka mereka selalu mengedepankan pengikutan kepada pembesar-pembesar mereka:

(وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا) 

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang diturunkan Allah”. Mereka menjawab: “Bahkan kami akan mengikuti apa-apa yang telah kami dapatkan padanya bapak-bapak kami (melakukannya)”. [Luqman: 21].

Dan Allah Ta’ala berkata:

(وَإِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً قَالُوا وَجَدْنَا عَلَيْهَا آبَاءَنَا)

 “Dan jika mereka melakukan perbuatan dosa maka mereka mengatakan: Kami telah mendapati padanya bapak-bapak kami (melakukannya).” [Al-Araf: 28].

Apa yang dilakukan oleh para pemimpin dan orang-orang yang membantu mereka maka itu adalah urusan mereka, mereka akan ditanya tentang perbuatan mereka, dan kita tidak ditanya tentang perbuatan mereka, masing-masing kita sebagai hamba Allah akan menghadap kepada-Nya dalam keadaan sendiri-sendiri:

(إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَٰنِ عَبْدًا * لَقَدْ أَحْصَاهُمْ وَعَدَّهُمْ عَدًّا * وَكُلُّهُمْ آتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا)

“Tidak setiap orangpun di langit-langit dan di bumi kecuali dia akan datang kepada Ar-Rahman (Allah Yang Maha Pemurah) sebagai seorang hamba. Sesungguhnya Dia telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan setiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dalam keadaan sendiri-sendiri.” [Maryam: 93-95].

Dan keberadaan orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan dari suatu ilmu agama ketika mereka melihat kemewahan para pemimpin dan kemegahan para pembesar maka mereka pun menjadikannya sebagai ukuran dalam menilai kesuksesan dan bahkan sampai mereka mengangan-angankan seperti itu, berkata Allah tentang umat terdahulu:

(فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ ۖ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ)

“Lalu keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Andaikan kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya dia benar-benar mempunyai kesuksesan yang besar”. [Al-Qashash: 79].

Adapun orang-orang yang memiliki pengetahuan dari ilmu agama maka mereka tidak menjadikannya sebagai ukuran dalam menilai kesuksesan, karena ukuran mereka dalam menilai adalah pada keimanan dan amal shalih:

(وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُونَ)

“Dan berkata orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagi kalian, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih, dan tidaklah diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar”. [Al-Qashash: 80].

Walau pun keberadaan raja Salman dan keluarganya serta para pembesar kerajaan Saudi Arabia seperti apa yang dikomentari akan tetapi mereka _Alhamdulillah_ tidak sampai melarang atau menghalangi siapa saja yang menampakan syi’ar-syi’ar Islam, siapa yang mengamalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah maka mereka beri kebebasan, siapa yang mendakwahkan tauhid maka mereka lindungi, ini yang kita harapkan _semoga Allah memberikan hidayah kepada kita dan kepada mereka dan semoga Dia menjadikan kita dan mereka sebagai pembuka terhadap segala kebaikan dan penutup terhadap segala kejelekan_.

Adapun kalau kita mau berbicara tentang siapa yang memakai dan menggunakan *otaknya* maka dia itu ada dua orang:

Pertama: Orang yang mau mengikuti kebenaran yang dibawa oleh nabi dan rasul Allah. 

Dan contoh yang bagus pada orang seperti ini adalah ratu negeri Saba’, kisahnya yang begitu bagus telah Allah terangkan di dalam Al-Qur’an pada surat An-Naml, menunjukan kalau beliau cerdas hingga menggunakan otaknya pada kebaikan dan pengikutan kepada kebenaran, yang pada akhirnya berkata:

(وَأَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمَانَ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ)

“Dan aku memasrahkan diriku bersama Sulaiman hanya kepada Rabb semesta alam.” [An-Naml: 44].

Kedua: Orang yang belum sanggup mengikuti kebenaran yang dibawa oleh nabi dan rasul Allah akan tetapi dia menjadi pembela, penolong dan pemberi dukungan kepada orang yang mengamalkan dan mendakwahkan kebenaran tersebut.

Demikianlah tipe dari dua orang yang menggunakan *otaknya*. Jika engkau tidak sanggup menjadi tipe orang yang pertama maka jadilah tipe orang yang kedua, dengannya _In Sya Allah_ engkau akan memperoleh kebaikan:

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ)

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan mengokohkan kedudukan kalian.” [Muhammad: 7].

_Wabillahittuafiq_.

[Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir di Binagriya-Pekalongan pada 15 Jumadil Akhirah 1438]

Sumber : http://t.me/majaalisalkhidhir

Iklan
%d blogger menyukai ini: