“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

BAB KEISTIMEWAAN ISLAM

Perkataan Allah Ta’ala:

(الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِإِثْمٍ ۙ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ)

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Aku cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagi kalian.” (Al-Maidah: 3).

Dan perkataan-Nya Ta’ala:

(قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي شَكٍّ مِنْ دِينِي فَلَا أَعْبُدُ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَٰكِنْ أَعْبُدُ اللَّهَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ)

“Katakanlah: Wahai manusia, jika keberadaan kalian di dalam keraguan tentang agamaku, maka sekali-kali aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah selain Allah, akan tetapi aku hanya menyembah Allah yang Dia akan mematikan kalian.” (Yunus: 104).


Dan perkataan-Nya Ta’ala:

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ)

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya niscaya Allah akan memberikan rahmat-Nya kepada kalian dua bagian, dan menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan cahaya itu kalian dapat berjalan dan Dia akan mengampuni kalian. Dan Allah adalah Ghafur (Maha Pengampun) lagi Rahim (Maha Penyayang).” (Al-Hadid:28)
Dan di dalam “Ash-Shahih” dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau berkata:

ﻣَﺜَﻠُﻜُﻢْ ﻭَﻣَﺜَﻞُ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺑَﻴْﻦِ ﻛَﻤَﺜَﻞِ ﺭَﺟُﻞٍ ﺍﺳْﺘَﺄْﺟَﺮَ ﺃُﺟَﺮَﺍﺀَ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻣَﻦْ ﻳَﻌْﻤَﻞُ ﻟِﻰ ﻣِﻦْ ﻏُﺪْﻭَﺓَ ﺇِﻟَﻰ ﻧِﺼْﻒِ ﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ ﻋَﻠَﻰ ﻗِﻴﺮَﺍﻁٍ ﻓَﻌَﻤِﻠَﺖِ ﺍﻟْﻴَﻬُﻮﺩُ، ﺛُﻢَّ ﻗَﺎﻝَ ﻣَﻦْ ﻳَﻌْﻤَﻞُ ﻟِﻰ ﻣِﻦْ ﻧِﺼْﻒِ ﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ ﺇِﻟَﻰ ﺻَﻼَﺓِ ﺍﻟْﻌَﺼْﺮِ ﻋَﻠَﻰ ﻗِﻴﺮَﺍﻁٍ ﻓَﻌَﻤِﻠَﺖِ ﺍﻟﻨَّﺼَﺎﺭَﻯ ﺛُﻢَّ، ﻗَﺎﻝَ ﻣَﻦْ ﻳَﻌْﻤَﻞُ ﻟِﻰ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻌَﺼْﺮِ ﺇِﻟَﻰ ﺃَﻥْ ﺗَﻐِﻴﺐَ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲُ ﻋَﻠَﻰ ﻗِﻴﺮَﺍﻃَﻴْﻦِ ﻓَﺄَﻧْﺘُﻢْ ﻫُﻢْ ، ﻓَﻐَﻀِﺒَﺖِ ﺍﻟْﻴَﻬُﻮﺩُ ﻭَﺍﻟﻨَّﺼَﺎﺭَﻯ، ﻓَﻘَﺎﻟُﻮﺍ ﻣَﺎ ﻟَﻨَﺎ ﺃَﻛْﺜَﺮَ ﻋَﻤَﻼً، ﻭَﺃَﻗَﻞَّ ﻋَﻄَﺎﺀً ﻗَﺎﻝَ ﻫَﻞْ ﻧَﻘَﺼْﺘُﻜُﻢْ ﻣِﻦْ ﺣَﻘِّﻜُﻢْ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻻَ. ﻗَﺎﻝَ ﻓَﺬَﻟِﻚَ ﻓَﻀْﻠِﻰ ﺃُﻭﺗِﻴﻪِ ﻣَﻦْ ﺃَﺷَﺎﺀُ

“Permisalan kalian (orang-orang Islam) dengan orang-orang ahlul kitab (yahudi dan nasrani) seperti seorang yang memperkerjakan para pekerja. Dia berkata: “Siapa yang mau bekerja untukku dari waktu pagi sampai pertengahan siang, dengan upah satu qirath?” maka orang-orang yahudi melakukannya. Kemudian dia berkata: “Siapa yang mau bekerja untukku dari waktu pertengahan siang sampai waktu shalat ashar, dengan upah satu qirath?” maka orang-orang nasrani melakukannya. Kemudian dia berkata: “Siapa yang mau bekerja untukku dari waktu ashar sampai waktu matahari tenggelam, dengan upah dua qirath?” Kemudian kalian (orang-orang Islam) melakukannya. Maka marahlah orang-orang yahudi dan nasrani. Mereka berkata: “Kenapa kami lebih banyak pekerjaannya tetapi lebih sedikit upahnya?” Dia menjawab: “Apakah aku mengurangi dari hak kalian sedikit pun?” Mereka menjawab: “Tidak.” Dia berkata: “Itulah pengistimewaanku yang aku berikan kepada orang-orang yang aku kehendaki.”
Dan di dalam “Ash-Shahih” juga dari Abu Hurairah
semoga Allah merahmatinya, beliau berkata: Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

ﺃَﺿَﻞَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﺠُﻤُﻌَﺔِ ﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻗَﺒْﻠَﻨَﺎ، ﻓَﻜَﺎﻥَ ﻟِﻠْﻴَﻬُﻮْﺩِ ﻳَﻮْﻡُ ﺍﻟﺴَّﺒْﺖِ ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻟِﻠﻨَّﺼَﺎﺭَﻯ ﻳَﻮْﻡُ ﺍْﻷَﺣَﺪِ، ﻓَﺠَﺎﺀَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺑِﻨَﺎ ﻓَﻬَﺪَﺍﻧَﺎ ﺍﻟﻠﻪُ ﻟِﻴَﻮْﻡِ ﺍﻟْﺠُﻤُﻌَﺔِ ﻓَﺠَﻌَﻞَ ﺍﻟْﺠُﻤُﻌَﺔَ ﻭَﺍﻟﺴَّﺒْﺖَ ﻭَﺍْﻷَﺣَﺪَ، ﻭَﻛَﺬَﻟِﻚَ ﻫُﻢْ ﺗَﺒَﻊٌ ﻟَﻨَﺎ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ، ﻧَﺤْﻦُ ﺍْﻵﺧِﺮُﻭْﻥَ ﻣِﻦْ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﺍْﻷَﻭَّﻟُﻮْﻥَ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ

“Allah menyesatkan dari hari Jum’at orang-orang yang sebelum kita. Keberadaan hari sabtu adalah bagi orang yahudi dan bagi orang-orang nasrani adalah hari Ahad. Kemudian Allah mendatangkan untuk kita dan memberi petunjuk kepada kita kepada hari Jum’at. Dan demikian pula mereka adalah mengikut kepada kita pada hari kiamat, kita adalah orang-orang terakhir dari penduduk dunia akan tetapi kita adalah orang-orang terawal pada hari kiamat.”
Dan dalam “Ash-Shahih” secara mu’allaq (dengan tanpa menyebutkan jalur periwayatan) dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bahwa beliau berkata:

ﺃَﺣَﺐُّ ﺍﻟﺪِّﻳْﻦِ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠﻪِ ﺍﻟْﺤَﻨِﻴْــــــﻔِﻴَّﺔُ ﺍﻟﺴَّـــﻤْﺤَﺔُ

“Paling dicintainya agama oleh Allah adalah al-hanifiyah as-samhah (agama Islam yang mudah).”

Dan dari Ubay bin Ka’ab semoga Allah meridhainya, beliau berkata:

‏«ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺑِﺎﻟﺴَّﺒِﻴﻞِ ﻭَﺍﻟﺴُّﻨَّﺔِ، ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻟَﻴْﺲَ ﻣِﻦْ ﻋَﺒْﺪٍ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﺒِﻴﻞٍ ﻭَﺳُﻨَّﺔٍ ﺫَﻛَﺮَ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦَ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ ﻓَﻔَﺎﺿَﺖْ ﻋَﻴْﻨَﺎﻩُ ﻣِﻦْ ﺧَﺸْﻴَﺔِ ﺍﻟﻠﻪِ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ ﻓَﺘَﻤَﺴَّﻪُ ﺍﻟﻨَّﺎﺭُ، ﻭَﻟَﻴْﺲَ ﻣِﻦْ ﻋَﺒْﺪٍ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﺒِﻴﻞٍ ﻭَﺳُﻨَّﺔٍ ﺫَﻛَﺮَ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦَ ﻓَﺎﻗْﺸَﻌَﺮَّ ﺟِﻠْﺪُﻩُ ﻣِﻦْ ﻣَﺨَﺎﻓَﺔِ ﺍﻟﻠﻪِ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ ﺇِﻟَّﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻣَﺜَﻠُﻪُ ﻛَﻤَﺜَﻞِ ﺷَﺠَﺮَﺓٍ ﻳَﺒِﺲَ ﻭَﺭَﻗُﻬَﺎ ﻓَﺒَﻴْﻨَﺎ ﻫِﻲَ ﻛَﺬَﻟِﻚَ ﺇِﺫْ ﺃَﺻَﺎﺑَﺘْﻬَﺎ ﺍﻟﺮِّﻳﺢُ ﻓَﺘَﺤَﺎﺕَّ ﻋَﻨْﻬَﺎ ﻭَﺭَﻗُﻬَﺎ ﺇِﻟَّﺎ ﺗَﺤَﺎﺗَّﺖْ ﻋَﻨْﻪُ ﺫُﻧُﻮﺑُﻪُ ﻛَﻤَﺎ ﺗَﺤَﺎﺕَّ ﻋَﻦْ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻟﺸَّﺠَﺮَﺓِ ﻭَﺭَﻗُﻬَﺎ، ﻭَﺇِﻥَّ ﺍﻗْﺘِﺼَﺎﺩًﺍ ﻓِﻲ ﺳَﺒِﻴﻞٍ ﻭَﺳُﻨَّﺔٍ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِﻦِ ﺍﺟْﺘِﻬَﺎﺩٍ ﻓِﻲ ﺧِﻠَﺎﻑِ ﺳَﺒِﻴﻞٍ ﻭَﺳُﻨَّﺔٍ، ﻓَﺎﻧْﻈُﺮُﻭﺍ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟَﻜُﻢْ، ﻓَﺈِﻥْ ﻛَﺎﻧَﺖِ ﺍﺟْﺘِﻬَﺎﺩًﺍ ﺃَﻭِ ﺍﻗْﺘِﺼَﺎﺩًﺍ ﺃَﻥْ ﺗَﻜُﻮﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﻣِﻨْﻬَﺎﺝِ ﺍﻟْﺄَﻧْﺒِﻴَﺎﺀِ ﻭَﺳُﻨَّﺘِﻬِﻢْ‏»

“Wajib bagi kalian untuk mengikuti as-sabil (Islam) dan as-sunnah, karena sesungguhnya tidaklah
dari seorang hamba di atas as-sabil dan as-sunnah, dia mengingat Allah dan kedua matanya mengalirkan air mata karena rasa takut kepada Allah akan menyentuhnya api neraka. Dan tidaklah dari seorang hamba di atas as-sabil dan as-sunnah, kemudian mengingat Allah dan merinding kulit-kulitnya karena rasa takut kepada Allah kecuali permisalannya seperti satu pohon yang kering daunnya, ketika keberadaannya seperti itu, tiba-tiba angin menimpanya sehingga daunnya berguguran kecuali akan berguguran dosa-dosanya sebagaimana bergugurannya dari pohon ini daun-daunnya. Sesungguhnya sederhana dalam as-sabil dan as-sunnah adalah lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam penyelisihan terhadap Sabilillah (jalan Allah) dan sunnah-sunnah (nabi)-Nya. Maka lihatlah oleh kalian, hendaknya kesungguhan atau kesederhanaan itu keberadaannya di atas manhaj (jalan) para nabi dan di atas sunnah-sunnah mereka.”

Dan dari Abu Darda’ semoga Allah meridhainya, beliau berkata:

ﻳَﺎ ﺣَﺒَّﺬَﺍ ﻧَﻮْﻡُ ﺍﻷَﻛْﻴَﺎﺱِ ﻭَﺇِﻓْﻄَﺎﺭُﻫُﻢْ , ﻛَﻴْﻒَ ﻳَﻌِﻴﺒُﻮﻥَ ﺳَﻬَﺮَ ﺍﻟْﺤَﻤْﻘَﻰ ﻭَﺻِﻴَﺎﻣَﻬُﻢْ , ﻭَﻟَﻤِﺜْﻘَﺎﻝُ ﺫَﺭَّﺓٍ ﻣِﻦْ ﺑِﺮٍّ ﻣِﻦْ ﺻَﺎﺣِﺐِ ﺗَﻘْﻮًﻯ ﻭَﻳَﻘِﻴﻦٍ ﺃَﻓْﻀَﻞُ ﻭَﺃَﺭْﺟَﺢُ ﻭَﺃَﻋْﻈَﻢُ ﻣِﻦْ ﺃَﻣْﺜَﺎﻝِ ﺍﻟْﺠِﺒَﺎﻝِ ﻋِﺒَﺎﺩَﺓً ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﻐْﺘَﺮِﺑِﻴﻦَ

“Duhai lebih baiknya tidur bagi orang-orang berilmu dan (begitu pula) makan minumnya bagi mereka, bagaimana mereka mengalahkan bergadangnya orang-orang dungu dan (begitu pula mengalahkan) puasa mereka. Seberat atom kebaikan bersamaan dengan ketakwaan dan keyakinan itu lebih agung, lebih istimewa dan lebih berat daripada ibadahnya orang-orang yang tertipu.”

BAB KEWAJIBAN UNTUK MASUK KE DALAM ISLAM

Dan perkataan Allah Ta’ala:

(وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ)

“Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima (agama tersebut) darinya, dan dia di akhirat termasuk dari orang-orang yang merugi.” (AliImron: 85).

Dan perkataan-Ny Ta’ala:

(إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامِ)

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah adalah Islam.” (Ali Imron: 19).
Dan perkataan-Nya Ta’ala:

(وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ)

“Dan sungguh ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu akan mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya.” (Al-An’am: 153).
Berkata Mujahid: “As-Subul (jalan-jalan) adalah bid’ah-bid’ah dan syubhat-syubhat.”
Dan dari ‘Aisyah semoga Allah meridhainya, beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

ﻣَﻦْ ﺃَﺣْﺪَﺙَ ﻓِﻲْ ﺃَﻣْﺮِﻧَﺎ ﻫَﺬَﺍ ﻣَﺎ ﻟَﻴْﺲَ ﻣِﻨْﻪُ ﻓَﻬُﻮَ ﺭَﺩٌّ

“Barangsiapa yang mengada-adakan dalam perkara (agama) kami ini, yang dia tidak termasuk darinya, maka dia tertolak.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy dan Muslim.

Dan dalam suatu lafazh:

ﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻞَ ﻋَﻤَﻼً ﻟَﻴْﺲَ ﻋَﻠَﻴﻪِ ﺃَﻣْﺮُﻧﺎ ﻓَﻬُﻮَ ﺭَﺩٌّ

“Barangsiapa beramal dengan suatu amalan, yang dia tidak ada padanya perintah kami maka dia tertolak.”
Dan pada riwayat Al-Bukhariy dari Abu Hurairah semoga Allah meridhainya, beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

ﻛُﻞُّ ﺃُﻣَّﺘِﻲ ﻳَﺪْﺧُﻠُﻮﻥَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﻦْ ﺃَﺑَﻰ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﺄْﺑَﻰ؟ ﻗَﺎﻝَ: ﻣَﻦْ ﺃَﻃَﺎﻋَﻨِﻲ ﺩَﺧَﻞَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﻭَﻣَﻦْ ﻋَﺼَﺎﻧِﻲ ﻓَﻘَﺪْ ﺃَﺑَﻰ.

“Setiap umatku akan masuk surga kecuali orang yang enggan.” Mereka (para shahabat) bertanya:
“Wahai Rasulullah, siapakah yang enggan?” Beliau menjawab: “Barangsiapa mentaatiku maka dia akan masuk surga dan barangsiapa mendurhakaiku maka sungguh dia telah enggan.”
Dan dalam “Ash-Shahih” dari Ibnu ‘Abbas bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

ﺃَﺑْﻐَﺾُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺛَﻼَﺛَﺔٌ : ﻣُﻠْﺤِﺪٌ ﻓِﻲ ﺍﻟﺤَﺮَﻡِ، ﻭَﻣُﺒْﺘَﻎٍ ﻓِﻲ ﺍﻹِﺳْﻼَﻡِ ﺳُﻨَّﺔَ ﺍﻟﺠَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔِ، ﻭَﻣُﻄَّﻠِﺐُ ﺩَﻡِ ﺍﻣْﺮِﺉٍ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﺣَﻖٍّ ﻟِﻴُﻬَﺮِﻳﻖَ ﺩَﻣَﻪُ

“Paling dibencinya manusia oleh Allah ada tiga: Orang yang melanggar kehormatan tanah haram, orang yang mengharapkan (hidupnya) sunnah jahiliyah di dalam Islam, dan orang yang bersungguh-sungguh menuntut darah bagi seorang tanpa kebenaran supaya dia menumpahkan darahnya.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhoriy.

Berkata Ibnu Taimiyyah berkata: “Perkataannya: “Sunnah Jahiliyyah” masuk di dalamnya semua perbuatan jahiliyyah secara mutlak atau secara terperinci” yaitu pada seseorang yang tidak ada pada orang lain, seperti ahlul kitab (orang-orang yahudi dan nasrani) atau para penyembah berhala atau selain dari mereka dari setiap orang yang menyelisihi apa-apa yang telah dibawa oleh para rasul.
Dan dalam “Ash-Shahih” dari Hudzaifah semoga Allah meridhainya, beliau berkata:

ﻳَﺎ ﻣَﻌْﺸَﺮَ ﺍﻟﻘُﺮَّﺍﺀِ ﺍﺳْﺘَﻘِﻴﻤُﻮﺍ ﻓَﻘَﺪْ ﺳَﺒَﻘْﺘُﻢْ ﺳَﺒْﻘًﺎ ﺑَﻌِﻴﺪًﺍ، ﻓَﺈِﻥْ ﺃَﺧَﺬْﺗُﻢْ ﻳَﻤِﻴﻨًﺎ ﻭَﺷِﻤَﺎﻟًﺎ، ﻟَﻘَﺪْ ﺿَﻠَﻠْﺘُﻢْ ﺿَﻼَﻟًﺎ ﺑَﻌِﻴﺪًﺍ

“Wahai para pembaca (Al-Qur’an dan As-Sunnah) istiqamahlah, sungguh kalian telah jauh mendahului. Jika kalian mengambil jalan ke kanan dan ke kiri maka sungguh kalian telah tersesat dengan kesesatan yang jauh.”
Dari Muhammad bin Wadhah bahwasanya beliau masuk ke sebuah masjid, lalu beliau berhenti di perkumpulan orang-orang, kemudian beliau berkata: ….. beliau menyebutkannya.
Dan beliau berkata: Telah menyampaikan kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah dari Mujahid dari Asy-Sya’bi dari Masruq, beliau berkata: ‘Abdullah yakni Ibnu Mas’ud berkata:

ﻟَﻴْﺲَ ﻋَﺎﻡٌ ﺇِﻟَّﺎ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻱ ﺑَﻌْﺪَﻩُ ﺷَﺮٌ ﻣِﻨْﻪُ، ﻟَﺎ ﺃَﻗُﻮﻝُ: ﻋَﺎﻡٌ ﺃَﻣْﻄَﺮُ ﻣِﻦْ ﻋَﺎﻡٍ، ﻭَﻟَﺎ ﻋَﺎﻡٌ ﺃَﺧْﺼَﺐُ ﻣِﻦْ ﻋَﺎﻡٍ، ﻭَﻟَﺎ ﺃَﻣِﻴﺮٌ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻣِﻴﺮٍ، ﻟَﻜِﻦْ ﺫَﻫَﺎﺏُ ﻋُﻠَﻤَﺎﺋِﻜُﻢْ ﻭَﺧِﻴَﺎﺭِﻛُﻢْ، ﺛُﻢَّ ﻳَﺤْﺪُﺙُ ﺃَﻗْﻮَﺍﻡٌ ﻳَﻘِﻴﺴُﻮﻥَ ﺍﻟْﺄُﻣُﻮﺭَ ﺑﺂﺭَﺍﺋِﻬِﻢْ؛ ﻓَﻴُﻬْﺪَﻡُ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡُ ﻭَﻳُﺜْﻠَﻢُ

“Tidak ada suatu tahun kecuali tahun yang sesudahnya lebih jelek darinya. Aku tidak mengatakan satu tahun lebih banyak turun hujan dari yang lain, dan satu tahun lebih subur dari yang lain, dan bukan seorang penguasa lebih baik dari penguasa yang lain, akan tetapi perginya orang-orang berilmunya kalian dan orang-orang terbaiknya kalian, kemudian muncul kaum-kaum yang mengkiaskan perkara-perkara dengan akal-akal mereka maka Islam hancur dan rusak.”

BAB TAFSIR TENTANG ISLAM

Dan perkataan-Nya Ta’ala:

(فَإِنْ حَاجُّوكَ فَقُلْ أَسْلَمْتُ وَجْهِيَ لِلَّهِ وَمَنِ اتَّبَعَنِ)

“Jika mereka mendebatmu (tentang Islam), maka katakanlah: “Aku memasrahkan wajahku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku.” (Ali ‘Imron: 20).
Dan dalam “Ash-Shahih” dari ‘Umar Ibnul Khaththb semoga Allah meridhainya, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

ﺍﻹﺳْﻼﻡُ ﺃَﻥْ ﺗَﺸْﻬَﺪَ ﺃَﻥْ ﻻ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﺃَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪﺍً ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻭَﺗُﻘِﻴﻢَ ﺍﻟﺼَّﻼﺓَ ﻭَﺗُﺆْﺗِﻲَ ﺍﻟﺰَّﻛَﺎﺓَ ﻭَﺗَﺼُﻮﻡَ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﻭَﺗَﺤُﺞَّ ﺍﻟْﺒَﻴْﺖَ ﺇِﻥِ ﺍﺳْﺘَﻄَﻌْﺖَ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﺳَﺒِﻴﻼً

“Islam adalah kami bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah, kamu menegakkan shalat, kamu menunaikan zakat, kamu berpuasa ramadhan dan kamu menunaikan haji ke Baitullah jika kamu mampu melakukan perjalanan ke sana.”
Dan di dalam “Ash-shahih” dari Abu Hurairah
semoga Allah meridhainya dengan periwayatan sampai kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻢُ ﻣَﻦْ ﺳَﻠِﻢَ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤُﻮﻥَ ﻣِﻦْ ﻟِﺴَﺎﻧِﻪِ ﻭَﻳَﺪِﻩِ

“Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya.”
Dari Bahz bin Hakim dari ayahnya dari kakeknya bahwasanya beliau bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang Islam maka beliau berkata:

ﺃَﻥْ ﺗُﺴْﻠِﻢَ ﻗَﻠْﺒَﻚَ ﻟِﻠّٰﻪِ، ﻭَﺃَﻥْ ﺗُﻮَﻟِّﻲَ ﻭَﺟْﻬَﻚُ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠّٰﻪِ، ﻭَﺃَﻥْ ﺗُﺼَﻠِّﻲَ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓَ ﺍﻟْﻤَﻜْﺘُﻮْﺑَﺔَ، ﻭَﺗُﺆَﺩِّﻱَ ﺍﻟﺰَّﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻤَﻔْﺮُﻭْﺿَﺔَ

“Kamu mempasrahkan hatimu karena Allah, kamu memalingkan wajahmu kepada Allah, kamu menegakan shalat yang wajib dan kamu mengeluarkan zakat yang wajib.” Diriwayatkan oleh Ahmad.
Dan dari Abu Qilabah dari Amr bin ‘Abasah semoga Allah meridhainya, dari seseorang yang termasuk penduduk Syam, dari ayahnya bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Apa itu Islam?” maka Beliau menjawab:

ﺃَﻥْ ﻳُﺴْﻠِﻢَ ﻗَﻠْﺒُﻚَ ﻟِﻠَّﻪِ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ، ﻭَﺃَﻥْ ﻳَﺴْﻠَﻢَ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤُﻮﻥَ ﻣِﻦْ ﻟِﺴَﺎﻧِﻚَ ﻭَﻳَﺪِﻙَ

“Ketika hatimu pasrah kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan selamatnorang-orang Islam dari lisanmu dan tanganmu.”
Dia bertanya: Apa itu iman? Beliau menjawab:

ُﺃَﻥْ ﺗُﺆْﻣِﻦَ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﻣَﻠَﺎﺋِﻜَﺘِﻪِ ﻭَﻛُﺘُﺒِﻪِ ﻭَﺑِﻠِﻘَﺎﺋِﻪِ ﻭَﺭُﺳُﻠِﻪِ ﻭَﺗُﺆْﻣِﻦَ ﺑِﺎﻟْﺒَﻌْﺚِ

“Kamu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya dan pada hari berbangkit setelah kematian.”

BAB PERKATAAN ALLAH TA’ALA:

(وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ)

“BARANGSIAPA MENCARI AGAMA SELAIN AGAMA ISLAM, MAKA SEKALI-KALI TIDAKLAH AKAN DITERIMA (AGAMA TERSEBUT) DARINYA.” (ALI- IMRON: 85).

Dan dari Abu Hurairah semoga Allah meridhainya, beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

ﺗَﺠِﻲﺀُ ﺍﻟْﺄَﻋْﻤَﺎﻝُ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﻓَﺘَﺠِﻲﺀُ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓُ ﻓَﺘَﻘُﻮﻝُ ﻳَﺎ ﺭَﺏِّ ﺃَﻧَﺎ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓُ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ ﺇِﻧَّﻚِ ﻋَﻠَﻰ ﺧَﻴْﺮٍ ﻓَﺘَﺠِﻲﺀُ ﺍﻟﺼَّﺪَﻗَﺔُ ﻓَﺘَﻘُﻮﻝُ ﻳَﺎ ﺭَﺏِّ ﺃَﻧَﺎ ﺍﻟﺼَّﺪَﻗَﺔُ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ ﺇِﻧَّﻚِ ﻋَﻠَﻰ ﺧَﻴْﺮٍ ﺛُﻢَّ ﻳَﺠِﻲﺀُ ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ ﺃَﻱْ ﻳَﺎ ﺭَﺏِّ ﺃَﻧَﺎ ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ ﺇِﻧَّﻚَ ﻋَﻠَﻰ ﺧَﻴْﺮٍ ﺛُﻢَّ ﺗَﺠِﻲﺀُ ﺍﻟْﺄَﻋْﻤَﺎﻝُ ﻋَﻠَﻰ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ ﺇِﻧَّﻚَ ﻋَﻠَﻰ ﺧَﻴْﺮٍ ﺛُﻢَّ ﻳَﺠِﻲﺀُ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡُ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ ﻳَﺎ ﺭَﺏِّ ﺃَﻧْﺖَ ﺍﻟﺴَّﻠَﺎﻡُ ﻭَﺃَﻧَﺎ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡُ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ ﺇِﻧَّﻚَ ﻋَﻠَﻰ ﺧَﻴْﺮٍ ﺑِﻚَ ﺍﻟْﻴَﻮْﻡَ ﺁﺧُﺬُ ﻭَﺑِﻚَ ﺃُﻋْﻄِﻲ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ ﻓِﻲ ﻛِﺘَﺎﺑِﻪ:ِ (ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﺒْﺘَﻎِ ﻏَﻴْﺮَ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ ﺩِﻳﻨًﺎ ﻓَﻠَﻦْ ﻳُﻘْﺒَﻞَ ﻣِﻨْﻪُ ﻭَﻫُﻮَ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺂﺧِﺮَﺓِ ﻣِﻦْ ﺍﻟْﺨَﺎﺳِﺮِﻳﻦَ).

“Amalan-amalan datang pada hari kiamat. Lalu datanglah shalat, dia berkata: “Wahai Rabbku, aku adalah shalat.” Allah berkata: “Sesungguhnya kamu di atas kebaikan.” Kemudian datang sedekah, dia berkata: “Wahai Rabbku, aku adalah sedekah.” Allah berkata: “Sesungguhnya kamu di atas kebaikan.” Lalu datang puasa, dia berkata: “Wahai Rabbku, aku adalah puasa.” Allah berkata: “Sesungguhnya kamu di atas kebaikan.” Kemudian datanglah amalan-amalan di atas demikian itu, lalu Allah berkata: “Sesungguhnya kamu di atas kebaikan.” Kemudian datang Islam, dia berkata: “Wahai Rabbku, Engkau adalah As-Salam, dan aku adalah Islam.” Allah ‘Azza wa Jalla berkata: “Sesungguhnya kamu di atas kebaikan, denganmu pada hari ini Aku mengambil dan denganmu pula Aku memberi. Maka Allah ‘Azza wa Jalla berkata di dalam kitab-Nya: “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali ‘Imron: 85). Diriwayatkan oleh Ahmad.
Dan di dalam “Ash-Shahih” dari ‘Aisyah semoga Allah meridhainya bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

ﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻞَ ﻋَﻤَﻠًﺎ ﻟَﻴْﺲَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺃَﻣْﺮُﻧَﺎ ﻓَﻬُﻮَ ﺭَﺩٌّ

“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang dia tidak ada padanya perintah kami maka dia tertolak.” Diriwayatkan Ahmad.

BAB WAJIBNYA MERASA CUKUP DENGAN MENGIKUTI BELIAU SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM DARI SETIAP APA-APA YANG SELAINNYA

Dan perkataan Allah Ta’ala:

(ﻭَﻧَﺰَّﻟْﻨَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏَ ﺗِﺒْﻴَﺎﻧًﺎ ﻟِﻜُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ)

“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) sebagai penjelas terhadap segala sesuatu.” (An-Nahl: 89).
An-Nasa’iy dan selainnya meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwasanya beliau melihat pada tangan Umar Ibnul Khaththab suatu lembaran dari Taurat maka beliau berkata:

ﺃَﻣُﺘَﻬَﻮِّﻛُﻮﻥَ ﻳَﺎ ﺍﺑْﻦَ ﺍﻟْﺨَﻄَّﺎﺏِ ﻟَﻘَﺪْ ﺟِﺌْﺘُﻜُﻢْ ﺑِﻬَﺎ ﺑَﻴْﻀَﺎﺀَ ﻧَﻘِﻴَّﺔً، ﻟَﻮْ كَانَ ﻣُﻮﺳَﻰ ﻛَﺎﻥَ ﺣَﻴًّﺎ ﻣَﺎ ﻭَاتَّبَعْتُمُوْهُ وَتَرَكْتُمُوْنِي ضَلَلْتُمْ

“Apakah kamu bingung wahai Ibnul Khoththob? Sungguh aku telah datang kepada kalian dengannya dalam keadaan putih bersih. Kalau seandainya Musa hidup dan kalian mengikutinya dan kalian meninggalkanku maka kalian telah sesat.”
Dan di dalam satu riwayat:

ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﻣُﻮْﺳَﻰ حَيًّا ﻣَﺎ ﻭَسِعَهُ ﺇِﻻَّ ﺍﺗِّﺒَﺎﻋِﻲ

“Kalau seandainya Musa hidup maka tidak ada keluasan baginya kecuali mengikutiku.” Maka Umar berkata:

ﺭَﺿِﻴﺖُ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﺭَﺑًّﺎ، ﻭَﺑِﺎﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ ﺩِﻳﻨًﺎ، ﻭَﺑِﻤُﺤَﻤَّﺪٍ ﺭَﺳُﻮﻟًﺎ

Aku ridha Allah sebagai Rabb dan Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul.”

BAB APA-APA YANG DATANG TENTANG KELUAR DARI SERUAN ISLAM

Dan perkataan-Nya Ta’ala:

(هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَٰذَا)

Dia (Allah) telah menamai kalian sebagai orang-orang Islam dari dahulu dan begitu pula di dalam (Al-Quran) ini.” (Al-Hajj: 78)
Dari Al-Harits Al-Asy’ariy semoga Allah meridhainya, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bahwasanya beliau berkata:

ﻭَﺃَﻧَﺎ ﺁﻣُﺮُﻛُﻢْ ﺑِﺨَﻤْﺲٍ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻣَﺮَﻧِﻲ ﺑِﻬِﻦَّ ﺍﻟﺴَّﻤْﻊُ ﻭَﺍﻟﻄَّﺎﻋَﺔُ ﻭَﺍﻟْﺠِﻬَﺎﺩُ ﻭَﺍﻟْﻬِﺠْﺮَﺓُ ﻭَﺍﻟْﺠَﻤَﺎﻋَﺔُ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻣَﻦْ ﻓَﺎﺭَﻕَ ﺍﻟْﺠَﻤَﺎﻋَﺔَ ﻗِﻴﺪَ ﺷِﺒْﺮٍ ﻓَﻘَﺪْ ﺧَﻠَﻊَ ﺭِﺑْﻘَﺔَ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ ﻣِﻦْ ﻋُﻨُﻘِﻪِ ﺇِﻟَّﺎ ﺃَﻥْ ﻳَﺮْﺟِﻊَ ﻭَﻣَﻦْ ﺍﺩَّﻋَﻰ ﺩَﻋْﻮَﻯ ﺍﻟْﺠَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔِ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻣِﻦْ ﺟُﺜَﺎ ﺟَﻬَﻨَّﻢ

“Dan aku memerintahkan kalian dengan lima perkara yang Allah telah memerintahkan kepadaku dengannya, yaitu: Mendengar, mentaati, berjihad, berhijrah dan bersatu dengan al-jama’ah. Sesungguhnya barangsiapa yang meninggalkan al-jama’ah dengan jarak sejengkal, maka sungguh dia telah melepaskan tali Islam dari lehernya kecuali dia kembali. Dan barangsiapa yang menyeru dengan seruan jahiliyah maka dia termasuk dari para penghuni neraka jahannam.”
Kemudian seseorang berkata kepada beliau: “Wahai Rasulullah, meskipun dia shalat dan puasa?” Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab:

ﻭَﺇِﻥْ ﺻَﻠَّﻰ ﻭَﺻَﺎﻡَ ﻓَﺎﺩْﻋُﻮﺍ ﺑِﺪَﻋْﻮَﻯ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺳَﻤَّﺎﻛُﻢْ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴﻦَ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﻋِﺒَﺎﺩَ ﺍﻟﻠَّﻪِ

“Walau pun dia shalat dan puasa. Maka serulah oleh kalian dengan seruan-seruan Allah yang Dia telah menamai kalian sebagai orang-orang Islam, kaum mukminin, dan hamba-hamba Allah.” Diriwayatkan oleh Ahmad dan At-Tirmidziy. Beliau At-Tirmidzi berkata: Ini adalah hadits hasan shahih.
Dan di dalam “Ash-Shahih”:

ﻣَﻦْ ﻓَﺎﺭَﻕَ ﺍﻟْﺠَﻤَﺎﻋَﺔَ ﻗِﻴْﺪَ ﺷِﺒْﺮٍ ﻓَﻤَﺎﺕَ ﻓَﻤِﻴﺘَﺘُﻪُ ﺟَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔٌ

“Barangsiapa memisahkan diri dari jama’ah sejauh sejengkal saja maka matinya adalah jahiliah.”
Dan juga di dalam “Ash Shahih”:

ﺃَﺑِﺪَﻋْﻮَﻯ ﺍﻟْﺠَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔِ ﻭَﺃَﻧَﺎ ﺑَﻴْﻦَ ﺃَﻇْﻬُﺮِﻛُﻢْ؟

“Apakah (kalian menyeru) dengan seruan jahiliah dan aku ada di antara kalian?”
Abul ‘Abbas berkata, “Setiap yang keluar dari seruan Islam dan Al-Qur`an dan beralih kepada seruan keturunan, negara, jenis, madzhab, atau thariqah maka dia termasuk pendukung seruan jahiliah. Bahkan ketika seorang dari kaum Muhajirin dan seorang dari kaum Anshar berdebat, orang dari Muhajirin itu berkata, “Wahai orang-orang Muhajirin!” Dan orang dari Anshar itu berkata, “Wahai orang-orang Anshar!”.
Beliau Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

ﺃَﺑِﺪَﻋْﻮَﻯ ﺍﻟْﺠَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔِ ﻭَﺃَﻧَﺎ ﺑَﻴْﻦَ ﺃَﻇْﻬُﺮِﻛُﻢْ؟

“Apakah (kalian menyeru) dengan seruan jahiliyah padahal aku berada di tengah-tengah kalian?”. Beliau marah terhadap yang demikian itu dengan sangat marah.”

BAB WAJIBNYA MASUK KE DALAM ISLAM SECARA MENYELURUH DAN MENINGGALKAN APA-APA YANG SELAINNYA

Dan perkataan-Nya Ta’ala:

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً)

“Wahai orang-orang yang beriman masuklah kalian ke dalam Islam secara menyeluruh.” [Al-Baqarah: 208].
Dan perkataan-Nya Ta’ala:

(أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ)

Tidakkah kamu melihat kepada orang-orang yang mereka menyangka bahwasanya mereka telah beriman kepada apa-apa yang telah diturunkan kepadamu dan apa-apa yang diturunkan sebelummu.” [An-Nisa’: 60].
Dan perkataan-Nya Ta’ala:

(إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ)

“Sesungguhnya orang-orang yang mereka memecah agama mereka menjadi berkelompok-kelompok maka kamu tidak termasuk dari mereka sedikit pun.” [Al-An’am: 159].
Dan Ibnu Abbas semoga Allah meridhai keduanya berkata tentang perkataan-Nya:

(يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ)

“Pada hari itu ada wajah yang putih berseri-seri dan ada pula yang hitam muram.” [Ali ‘Imran: 106], yaitu putih berseri-seri wajah Ahlussunnah dan Al-I’tilaf (orang-orang yang berada pada Al-Jama’ah), dan hitam muram wajah Ahlul Bida’h dan Al-‘Ikhtilaf (orang-orang yang berpecah belah).”
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, beliau berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

ﻟَﻴَﺄْﺗِﻴَﻦَّ ﻋَﻠَﻰ ﺃُﻣَّﺘِﻲْ ﻣَﺎ ﺃَﺗَﻰ ﻋَﻠَﻰ ﺑَﻨِﻲْ ﺇِﺳْﺮَﺍﺋِﻴْﻞَ ﺣَﺬْﻭَ ﺍﻟﻨَّﻌْﻞِ ﺑِﺎﻟﻨَّﻌْﻞِ ﺣَﺘَّﻰ ﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻣَﻦْ ﺃَﺗَﻰ ﺃُﻣَّﻪُ ﻋَﻼَﻧِﻴَﺔً ﻟَﻜَﺎﻥَ ﻓِﻲْ ﺃُﻣَّﺘِﻲْ ﻣَﻦْ ﻳَﺼْﻨَﻊُ ﺫَﻟِﻚَ ﻭَﺇِﻥَّ ﺑَﻨِﻲْ ﺇِﺳْﺮَﺍﺋِﻴْﻞَ ﺗَﻔَﺮَّﻗَﺖْ ﻋَﻠَﻰ ﺛِﻨْﺘَﻴْﻦِ ﻭَﺳَﺒْﻌِﻴْﻦَ ﻣِﻠَّﺔً ﻭَﺗَﻔْﺘَﺮِﻕُ ﺃُﻣَّﺘِﻲْ ﻋَﻠَﻰ ﺛَﻼَﺙٍ ﻭَﺳَﺒْﻌِﻴْﻦَ ﻣِﻠَّﺔً ﻛُﻠُّﻬُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﺇِﻻَّ ﻣِﻠَّﺔً ﻭَﺍﺣِﺪَﺓً، ﻗَﺎﻟُﻮْﺍ: ﻭَﻣَﻦْ ﻫِﻲَ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ؟ ﻗَﺎﻝَ: مَا ﺃَﻧَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺃَﺻْﺤَﺎﺑِﻲْ.

“Sungguh benar-benar akan datang pada umatku sebagaimana telah datang kepada Bani Israil selangkah demi selangkah hingga ada dari mereka mendatangi (menyetubuhi) ibunya terang-terangan maka ada pula dari umatku akan melakukan demikian itu. Dan sesungguhnya Bani Israil berpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, semuanya di neraka kecuali satu golongan dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, yang semuanya di neraka kecuali satu golongan.” (Para Shahabat) bertanya: “Siapa mereka wahai Rasulullah?’ Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: “Apa yang aku dan para shahabatku berada di atasnya.” Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy.
Maka hendaklah seorang mukmin yang mengharap perjumpaan dengan Allah memperhatikan perkataan orang yang benar lagi dibenarkan pada tempat ini, terkhusus pada perkataannya:

مَا ﺃَﻧَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺃَﺻْﺤَﺎﺑِﻲْ.

“Apa yang aku dan para shahabatku berada di atasnya.”
Duhai nasehat ini kalau tersentuh pada semua hati maka hiduplah (semua hati).
Dan At-Tirmidziy meriwayatkan pula dari hadits Abu Hurairah dan At-Tirmidziy menshahihkannya, akan tetapi tanpa ada penyebutan neraka, dan dia pada hadits Mu’awiyah yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud, padanya:

ﻭَﺇِﻧَّﻪُ ﺳَﻴَﺨْﺮُﺝُ ﻓِﻲ ﺃُﻣَّﺘِﻲ ﺃَﻗْﻮَﺍﻡٌ ﺗَﺠَﺎﺭَﻯ ﺑِﻬِﻢْ ﺗِﻠْﻚَ ﺍﻟْﺄَﻫْﻮَﺍﺀُ ﻛَﻤَﺎ ﻳَﺘَﺠَﺎﺭَﻯ ﺍﻟْﻜَﻠْﺐُ ﺑِﺼَﺎﺣِﺒِﻪِ ﻟَﺎ ﻳَﺒْﻘَﻰ ﻣِﻨْﻪُ ﻋِﺮْﻕٌ ﻭَﻟَﺎ ﻣَﻔْﺼِﻞٌ ﺇِﻟَّﺎ ﺩَﺧَﻠَﻪُ

“Sesungguhnya akan muncul pada umatku sekelompok orang yang mengalir pada mereka hawa-hawa nafsu sebagaimana berjalannya anjing rabies, tidak tersisa satu pun dari urat dan sendinya melainkan telah dirasukinya.”
Dan telah lewat perkataannya:

ﻭَﻣُﺒْﺘَﻎٍ ﻓِﻲْ ﺍْﻹِﺳْﻼَﻡِ ﺳُﻨَّﺔَ ﺍﻟْﺠَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔِ

“Orang yang memeluk Islam, akan tetapi masih mengamalkan tradisi jahiliyah.”

BAB TENTANG APA-APA YANG DATANG BAHWASANYA
BID’AH LEBIH BERBAHAYA DARIPADA DOSA-DOSA BESAR

Dan perkataan-Nya Ta’ala:

(ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻻ ﻳَﻐْﻔِﺮُ ﺃَﻥْ ﻳُﺸْﺮَﻙَ ﺑِﻪِ ﻭَﻳَﻐْﻔِﺮُ ﻣَﺎ ﺩُﻭﻥَ ﺫَﻟِﻚَ ﻟِﻤَﻦْ ﻳَﺸَﺎﺀُ)

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni perbuatan syirik pada-Nya, dan Dia mengampuni segala apa yang selain dari syirik tersebut bagi siapa yang Dia kehendaki.” (An-Nisa: 48).
Dan perkataan-Nya Ta’ala:

(ﻓَﻤَﻦْ ﺃَﻇْﻠَﻢُ ﻣِﻤَّﻦِ ﺍﻓْﺘَﺮَﻯ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻛَﺬِﺑﺎً ﻟِﻴُﻀِﻞَّ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻋِﻠْﻢٍ)

“Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang membuat kedustaan terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan?” (Al-An’am: 144).
Dan perkataan-Nya Ta’ala:

( ﻟِﻴَﺤْﻤِﻠُﻮﺍ ﺃَﻭْﺯَﺍﺭَﻫُﻢْ ﻛَﺎﻣِﻠَﺔً ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﻭَﻣِﻦْ ﺃَﻭْﺯَﺍﺭِ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳُﻀِﻠُّﻮﻧَﻬُﻢْ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻋِﻠْﻢٍ ﺃَﻻ ﺳَﺎﺀَ ﻣَﺎ ﻳَﺰِﺭُﻭﻥَ)

“Mereka akan memikul dosa-dosa mereka sendiri dengan sempurna pada hari kiamat, dan dari dosa-dosa orang yang mereka sesatkan dengan tanpa ilmu sedikitpun. Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul.” (An-Nahl: 25).
Dan di dalam “Ash-Shahih” bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda tentang orang-orang khawarij:

ﺃَيْنَمَا ﻟَﻘِﻴْﺘُﻤُﻮْﻫُﻢْ ﻓَﺎﻗْﺘُﻠُﻮْﻫُﻢْ، ﻟَﺌِﻦْ ﻟَﻘَﻴْﺘُﻬُﻢْ

لَأقْتُلَنَّهُمْ ﻗَﺘْﻞَ ﻋَﺎﺩٍ

“Di mana saja kalian mendapati mereka maka bunuhlah mereka. Seandainya aku mendapati mereka maka sungguh aku akan membunuh mereka sebagaimana pembunuhan terhadap kaum ‘Ad.”
Dan di dalam “Ash-Shahih” bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

ﻧَﻬَﻰ ﻋَﻦْ ﻗَﺘْﻞِ ﺃُﻣَﺮَﺍﺀِ ﺍﻟْﺠَﻮْﺭِ مَا صَلُّوا

“Melarang untuk membunuh penguasa yang jahat selama mereka shalat.”
Dan dari Jarir bin ‘Abdillah semoga Allah meridhainya bahwasanya seseorang bersedekah kemudian orang-orang mengikuti (dalam bersedekah), maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

(( ﻣَﻦْ ﺳَﻦَّ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ ﺳُﻨَّﺔً ﺣَﺴَﻨَﺔً ﻓَﻠَﻪُ ﺃَﺟْﺮُﻫَﺎ ﻭَﺃَﺟْﺮُ ﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻞَ ﺑِﻬَﺎ ﺑَﻌْﺪَﻩُ ﻣِﻦْ ﻏَﻴْﺮِ ﺃَﻥْ ﻳَﻨْﻘُﺺَ ﻣِﻦْ ﺃُﺟُﻮﺭِﻫِﻢْ ﺷَﻲْﺀٌ ﻭَﻣَﻦْ ﺳَﻦَّ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ ﺳُﻨَّﺔً ﺳَﻴِّﺌَﺔً ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭِﺯْﺭُﻫَﺎ ﻭَﻭِﺯْﺭُ ﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻞَ ﺑِﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِﻩِ ﻣِﻦْ ﻏَﻴْﺮِ ﺃَﻥْ ﻳَﻨْﻘُﺺَ ﻣِﻦْ ﺃَﻭْﺯَﺍﺭِﻫِﻢْ ﺷَﻲْﺀٌ

“Barangsiapa menghidupkan suatu sunnah yang baik di dalam Islam maka baginya pahala sunnah yang baik tersebut, dan pahala orang-orang yang melakukan sunnah yang baik itu setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang menghidupkan suatu prilaku yang jelek di dalam Islam, maka dia akan menanggung dosa prilaku yang jelek itu dan dosa orang-orang yang melakukannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” Diriwayatkan oleh Muslim.
Dan Muslim meriwayatkan pula dari hadits Abu Hurairah semoga Allah meridhainya, dan lafadznya:

ﻣَﻦْ ﺩَﻋَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﻫُﺪًﻯ، ﺛُﻢَّ ﻗُﺎﻝَ: ﻭُﻣَﻦْ ﺩَﻋَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﺿَﻼَﻟَﺔٍ

“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk”. Kemudian beliau berkata: “Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan.”

BAB APA-APA YANG DATANG TENTANG BAHWASANYA ALLAH MENGHALANGI TAUBATNYA PELAKU BID’AH

Ini adalah diriwayatkan dari hadits Anas dan dari riwayat-riwayat yang sampai pada Al-Hasan. Dan Ibnu Wadhah menyebutkan dari Ayyub, beliau berkata: “Dahulu diantara kami ada seseorang yang berpendapat dengan suatu pemikiran (bid’ah) lalu dia meninggalkannya. Kemudian aku mendatangi Muhammad bin Sirin, lalu aku katakan: “Apakah kamu menyangka bahwa fulan telah meninggalkan pemikirannya?.” Beliau berkata: “Lihatlah kamu kemana dia berpindah! sesungguhnya akhir perkaranya itu lebih dahsyat dari awalnya:

ﻳَﻤْﺮُﻗُﻮﻥَ ﻣِﻦْ ﺍلْإِسْلَامِ ﻛَﻤَﺎ ﻳَﻤْﺮُﻕُ ﺍﻟﺴَّﻬْﻢُ ﻣِﻦْ ﺍﻟﺮَّﻣِﻴَّﺔِ ﺛُﻢَّ ﻟَﺎ ﻳَﻌُﻮﺩُﻭﻥَ

“Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah keluar dari sasarannya kemudian tidak kembali lagi.”
Ahmad bin Hanbal ditanya tentang makna demikian itu, maka beliau berkata:

لَا يُوَفَّقُ لِلتَّوْبَةِ

“Tidak akan diberi taufik untuk bertaubat.”

BAB PERKATAAN ALLAH TA’ALA:

(يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تُحَاجُّونَ فِي إِبْرَاهِيمَ)

“Wahai Ahli Kitab, mengapa kalian membantah tentang Ibrahim.” Sampai kepada perkataan-Nya:

(وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ)

“Dan tidaklah mereka termasuk dari orang-orang musyrik.” (Ali ‘Imran: 65-67).
Dan perkataan-Nya:

(وَمَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهُ ۚ وَلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا ۖ وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ)

“Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim kecuali orang yang memperbodoh dirinya sendiri dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang shalih.” (Al-Baqarah: 130).
Dan padanya hadits tentang khawarij yang telah lewat.
Dan padanya: Bahwasanya beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

ﺇِﻥَّ ﺁﻝَ ﺃَﺑِﻲ ﻓُﻼَﻥٍ ﻟَﻴْﺴُﻮْﺍ ﻟِﻲ ﺑِﺄَﻭْﻟِﻴَﺎﺀِ ﻭَﺇِﻧَّﻤَﺎ أَوْلِيَائِي الْمُتَّقُوْنَ

“Sesungguhnya keluarga ayahku –yaitu si fulan- bukanlah mereka sebagai waliku, hanyalah para waliku adalah orang-orang yang bertakwa.”
Dan padanya juga dari Anas bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam disebutkan kepadanya bahwa sebagian para shahabat berkata: “Adapun aku maka tidak akan makan daging”, yang lain berkata: “Adapun aku maka akan shalat malam dan tidak akan tidur”, yang lain berkata: “Adapun aku maka tidak akan menikahi para wanita” dan yang lain lagi berkata: “Adapun aku maka akan berpuasa dan tidak akan berbuka.” Maka beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

ﻟَﻜِﻨِّﻲَ ﺃَﻗُﻮﻡُ ﻭَﺃَﻧَﺎﻡُ وَﺃَﺻُﻮﻡُ ﻭَﺃُﻓْﻄِﺮُ
ﻭَﺃَﺗَﺰَﻭَّﺝُ ﺍﻟﻨِّﺴَﺎﺀَ ﻭَﺁﻛُﻞُ ﺍﻟﻠَّﺤْﻢَ ﻓَﻤَﻦْ ﺭَﻏِﺐَ ﻋَﻦْ ﺳُﻨَّﺘِﻲ ﻓَﻠَﻴْﺲَ ﻣِﻨِّﻲ

“Akan tetapi aku shalat malam dan aku tidur aku berpuasa dan aku berbuka puasa, aku menikahi para wanita dan aku memakan daging, maka barangsiapa membenci sunnahku maka dia bukan dari golonganku.”
Maka perhatikanlah kamu jika keberadaan sebagian para shahabat ketika mereka menginginkan untuk terfokus pada ibadah maka dikatakan dengan perkataan yang keras ini, dinamai perbuatannya sebagai kebencian terhadap sunnah, maka bagaimana sangkaanmu dengan selain ini dari kebid’ahan-kebid’ahan? dan apa sangkaanmu dengan selain para shahabat?!.

BAB
PERKATAAN ALLAH TA’ALA:

‏‏(ﻓَﺄَﻗِﻢْ ﻭَﺟْﻬَﻚَ ﻟِﻠﺪِّﻳﻦِ ﺣَﻨِﻴﻔﺎً ﻓِﻄْﺮَﺕَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﻓَﻄَﺮَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﻻ ﺗَﺒْﺪِﻳﻞَ ﻟِﺨَﻠْﻖِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺫَﻟِﻚَ ﺍﻟﺪِّﻳﻦُ ﺍﻟْﻘَﻴِّﻢُ ﻭَﻟَﻜِﻦَّ ﺃَﻛْﺜَﺮَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻻ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ ‏)

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah di atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Ar-Rum: 30).
Dan perkataan-Nya Ta’ala:

‏(ﻭَﻭَﺻَّﻰ ﺑِﻬَﺎ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴﻢُ ﺑَﻨِﻴﻪِ ﻭَﻳَﻌْﻘُﻮﺏُ ﻳَﺎ ﺑَﻨِﻲَّ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺍﺻْﻄَﻔَﻰ ﻟَﻜُﻢُ ﺍﻟﺪِّﻳﻦَ ﻓَﻼ ﺗَﻤُﻮﺗُﻦَّ ﺇِﻟَّﺎ ﻭَﺃَﻧْﺘُﻢْ ﻣُﺴْﻠِﻤُﻮﻥَ)

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagi kalian maka janganlah kalian mati kecuali kalian beragama Islam.” (Al-Baqarah: 132).
Dan perkataan-Nya Ta’ala:

(ﺛُﻢَّ ﺃَﻭْﺣَﻴْﻨَﺎ ﺇِﻟَﻴْﻚَ ﺃَﻥِ ﺍﺗَّﺒِﻊْ ﻣِﻠَّﺔَ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴﻢَ ﺣَﻨِﻴﻔﺎً ﻭَﻣَﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﺸْﺮِﻛِﻴﻦَ)

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu supaya kamu mengikuti agama Ibrahim yang lurus, dan tidaklah keberadaan beliau termasuk dari orang-orang musyrik.” (An-Nahl: 132).
Dan dari Ibnu Mas’ud semoga Allah meridhainya, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

ﺇِﻥَّ ﻟِﻜُﻞِّ ﻧَﺒِﻲٍّ ﻭُﻟَﺎﺓً ﻣِﻦْ ﺍﻟﻨَّﺒِﻴِّﻴﻦَ ﻭَﺇِﻥَّ ﻭَﻟِﻴِّﻲ ﻣِﻨْﻬُﻢُ ﺃَﺑِﻲ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴﻢ ﻭَﺧَﻠِﻴﻞُ ﺭَﺑِّﻲ

“Sesungguhnya setiap nabi ada wali (orang dekatnya) dari para nabi, dan sesungguhnya waliku dari mereka adalah ayahku Ibrahim dan beliau adalah khalil (orang paling terdekatnya) dengan Rabbku.”
Kemudian beliau berkata:

‏(ﺇِﻥَّ ﺃَﻭْﻟَﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺑِﺈِﺑْﺮَﺍﻫِﻴﻢَ ﻟَﻠَّﺬِﻳﻦَ ﺍﺗَّﺒَﻌُﻮﻩُ ﻭَﻫَﺬَﺍ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﻟِﻲُّ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ‏)

“Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya dan mengikuti Nabi ini (Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) dan orang-orang yang beriman, dan Allah adalah Pelindung bagi orang-orang yang beriman.” (Ali Imran: 68). Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy.
Dan dari Abu Hurairah semoga Allah meridhainya, beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻟَﺎ ﻳَﻨْﻈُﺮُ ﺇِﻟَﻰ ﺃَﺟْﺴَﺎﻣِﻜُﻢ ﻭَﻻَ ﺇِﻟَﻰ ﺃَﻣْﻮَﺍﻟِﻜُﻢْ ﻭَﻟَﻜِﻦْ ﻳَﻨْﻈُﺮُ ﺇِﻟَﻰ ﻗُﻠُﻮﺑِﻜُﻢْ ﻭَﺃَﻋْﻤَﺎﻟِﻜُﻢْ

“Sesungguhnya Allah tidaklah melihat kepada diri-diri kalian dan harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati-hati kalian dan amalan-amalan kalian.”
Dan pada riwayat Al-Bukhariy dan Muslim dari Ibnu Mas’ud semoga Allah meridhainya, beliau berkata:
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

ﺃَﻧَﺎ ﻓَﺮَﻃُﻜُﻢْ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺤَﻮْﺽِ، ﻭﻟَﻴُﺮْﻓَﻌَﻦَّ ﺇِﻟَﻲَّ ﺭِﺟَﺎﻝٌ ﻣِﻦْ ﺃُﻣَّﺘِﻲ ﺣَﺘَّﻰ ﺇِﺫَﺍ ﺃَﻫْﻮَﻳْﺖُ ﻟِﺄُﻧَﺎﻭِﻟَﻬُﻢْ ﺍﺧْﺘُﻠِﺠُﻮﺍ ﺩُﻭﻧِﻲ ﻓَﺄَﻗُﻮﻝُ : ﺃَﻱْ ﺭَﺏِّ ! ﺃَﺻْﺤَﺎﺑِﻲ ! ﻓﻴُﻘَﺎﻝُ : ﺇِﻧَّﻚَ ﻻ ﺗَﺪْﺭِﻱ ﻣَﺎ ﺃَﺣْﺪَﺛُﻮﺍ ﺑَﻌْﺪَﻙَ

“Aku akan mendahului kalian sampai di telagaku dan akan dihadapkan kepadaku orang-orang dari umatku. Tatkala aku mendekati mereka, mereka terhalangi dariku maka aku berkata: “Wahai Rabbku, bukankah mereka adalah para pengikutku? Allah berkata: Kamu tidak tahu apa yang mereka ada-adakan (di dalam agama) sepeninggalmu.”
Dan pada riwayat keduanya dari Abu Hurairah semoga Allah meridhainya bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

ﻭَﺩِﺩْﺕُ ﺃَﻧَّﺎ ﻗَﺪْ ﺭَﺃَﻳْﻨَﺎ ﺇِﺧْﻮَﺍﻧَﻨَﺎ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ : ﺃَﻭَﻟَﺴْﻨَﺎ ﺇِﺧْﻮَﺍﻧَﻚَ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﺃَﻧْﺘُﻢْ ﺃَﺻْﺤَﺎﺑِﻲ ﻭَﺇِﺧْﻮَﺍﻧُﻨَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻟَﻢْ ﻳَﺄْﺗُﻮﺍ ﺑَﻌْﺪُ ﻓَﻘَﺎﻟُﻮﺍ: ﻛَﻴْﻒَ ﺗَﻌْﺮِﻑُ ﻣَﻦْ ﻟَﻢْ ﻳَﺄْﺕِ ﺑَﻌْﺪُ ﻣِﻦْ ﺃُﻣَّﺘِﻚَ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ؟ ﻓَﻘَﺎﻝَ: ﺃَﺭَﺃَﻳْﺘُﻢْ ﻟَﻮْ ﺃَﻥَّ ﺭَﺟُﻠًﺎ ﻟَﻪُ ﺧَﻴْﻞٌ ﻏُﺮٌّ ﻣُﺤَﺠَّﻠَﺔٌ ﺑَﻴْﻦَ ﻇَﻬْﺮَﻱْ ﺧَﻴْﻞٍ ﺩُﻫْﻢٍ ﺑُﻬْﻢٍ ﺃَﻟَﺎ ﻳَﻌْﺮِﻑُ ﺧَﻴْﻠَﻪُ؟ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ: ﺑَﻠَﻰ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ، ﻗَﺎﻝَ: ﻓَﺈِﻧَّﻬُﻢْ ﻳَﺄْﺗُﻮﻥَ ﻏُﺮًّﺍ ﻣُﺤَﺠَّﻠِﻴﻦَ ﻣِﻦْ ﺍﻟْﻮُﺿُﻮﺀِ ﻭَﺃَﻧَﺎ ﻓَﺮَﻃُﻬُﻢْ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺤَﻮْﺽِ، ﺃَﻟَﺎ ﻟَﻴُﺬَﺍﺩَﻥَّ ﺭِﺟَﺎﻝٌ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﻋَﻦْ ﺣَﻮْﺿِﻲ ﻛَﻤَﺎ ﻳُﺬَﺍﺩُ ﺍﻟْﺒَﻌِﻴﺮُ ﺍﻟﻀَّﺎﻝُّ، ﺃُﻧَﺎﺩِﻳﻬِﻢْ ﺃَﻟَﺎ ﻫَﻠُﻢَّ ﻓَﻴُﻘَﺎﻝُ: ﺇِﻧَّﻬُﻢْ ﻗَﺪْ ﺑَﺪَّﻟُﻮﺍ ﺑَﻌْﺪَﻙَ ﻓَﺄَﻗُﻮﻝُ ﺳُﺤْﻘًﺎ ﺳُﺤْﻘًﺎ

“Aku sangat ingin melihat saudara-saudara kami”. Mereka (para sahabat) berkata: “Bukankah kami adalah saudara-saudaramu wahai Rasulullah?” Beliau berkata: “Kalian adalah para sahabatku, sedangkan saudara kita adalah orang-orang yang belum datang berikutnya”. Mereka berkata: “Bagaimana engkau mengenal orang-orang yang belum datang berikutnya dari kalangan umatmu wahai Rasulullah?” Beliau berkata: “Bagaimana pandangan kalian jika seseorang memiliki seekor kuda yang berwajah putih, dan kakinya (juga putih), berada di antara kuda yang hitam pekat. Bukankah dia bisa mengenal kudanya”. Mereka berkata, “Betul, wahai Rasulullah”. Beliau berkata: “Sesungguhnya mereka (umat beliau) akan datang dalam keadaan putih wajahnya dan kakinya karena wudhu’. Sedangkan aku akan mendahului mereka menuju telaga. Ingatlah, sungguh akan terusir beberapa orang dari telagaku sebagaimana onta tersesat terusir. Aku memanggil mereka: “Ingatlah, kemarilah!!” Lalu dikatakan (kepadaku): “Sesungguhnya mereka melakukan perubahan (terhadap ajaran agama) sepeninggalmu”. Lalu aku katakan: “Jauhkan mereka, jauhkan mereka”.
Dan para riwayat Al-Bukhariy:

ﺑَﻴْﻨَﺎ ﺃَﻧَﺎ ﻗَﺎﺋِﻢٌ ﺇِﺫَﺍ ﺯُﻣْﺮَﺓٌ ﺣَﺘَّﻰ ﺇِﺫَﺍ ﻋَﺮَﻓْﺘُﻬُﻢْ ﺧَﺮَﺝَ ﺭَﺟُﻞٌ ﻣِﻦْ ﺑَﻴْﻨِﻲ ﻭَﺑَﻴْﻨِﻬِﻢْ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻫَﻠُﻢَّ ﻓَﻘُﻠْﺖُ ﺃَﻳْﻦَ ﻗَﺎﻝَ؛ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪِ ﻗُﻠْﺖُ: ﻭَﻣَﺎ ﺷَﺄْﻧُﻬُﻢْ ﻗَﺎﻝ:َ ﺇِﻧَّﻬُﻢْ ﺍﺭْﺗَﺪُّﻭﺍ ﺑَﻌْﺪَﻙَ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﺩْﺑَﺎﺭِﻫِﻢْ ﺍﻟْﻘَﻬْﻘَﺮَﻯ ﺛُﻢَّ ﺇِﺫَﺍ ﺯُﻣْﺮَﺓٌ – ﻓﺬﻛﺮ ﻣﺜﻠﻪ – ﻗﺎﻝ : ﻓَﻠَﺎ ﺃُﺭَﺍﻩُ ﻳَﺨْﻠُﺺُ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﺇِﻟَّﺎ ﻣِﺜْﻞُ ﻫَﻤَﻞِ ﺍﻟﻨَّﻌَﻢِ .

“Ketika aku berdiri, ternyata (muncul) sekelompok orang yang aku mengenal mereka, maka keluarlah seseorang di antaraku dan diantara mereka, lalu berkata: Kemarilah engkau!, Maka aku bertanya: “Kemana?”, dia menjawab: Ke neraka, demi Allah aku katakan: “Dan apa perihal mereka? Dia berkata: Sesungguhnya mereka telah murtad (keluar dari agama) sepeninggalmu dan berpaling ke belakang, kemudian sekelompok orang itu -lalu dia menyebutkan riwayat semisalnya-, dia berkata: Aku tidak melihatnya yang lolos kecuali seperti jumlah onta yang tersesat dari rombongannya.”
Dan tentang mereka di dalam hadits Ibnu ‘Abbas semoga Allah meridhai keduanya, maka aku katakan sebagaimana berkata hamba yang shalih:

(ﻭَﻛُﻨْﺖُ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﺷَﻬِﻴﺪﺍً ﻣَﺎ ﺩُﻣْﺖُ ﻓِﻴﻬِﻢْ ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺗَﻮَﻓَّﻴْﺘَﻨِﻲ ﻛُﻨْﺖَ ﺃَﻧْﺖَ ﺍﻟﺮَّﻗِﻴﺐَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻭَﺃَﻧْﺖَ ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﺷَﻬِﻴﺪٌ‏)

“Dan keberadaanku adalah sebagai saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau atas segala sesuatu adalah Syahid (Maha Menyaksikan)” (Al-Maidah: 117).
Dan pada riwayat keduanya dengan penyebutan jalur periwayatan sampai kepada Ar-Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

ﻣَﺎ ﻣِﻦْ ﻣَﻮْﻟُﻮﺩٍ ﺇِﻟَّﺎ ﻳُﻮﻟَﺪُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮَﺓِ ﻓَﺄَﺑَﻮَﺍﻩُ ﻳُﻬَﻮِّﺩَﺍﻧِﻪِ ﺃَﻭْ ﻳُﻨَﺼِّﺮَﺍﻧِﻪِ ﺃَﻭْ ﻳُﻤَﺠِّﺴَﺎﻧِﻪِ ﻛَﻤَﺎ ﺗُﻨْﺘَﺞُ ﺍﻟْﺒَﻬِﻴﻤَﺔُ ﺑَﻬِﻴﻤَﺔً ﺟَﻤْﻌَﺎﺀَ ﻫَﻞْ ﺗُﺤِﺴُّﻮﻥَ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﺟَﺪْﻋَﺎﺀَ؟ ﺣَﺘَّﻰ ﺗَﻜُﻮﻧُﻮﺍ ﺃَﻧﺘُﻢْ ﺗَﺠْﺪَﻋُﻮﻧَﻬَﺎ

“Tidaklah ada dari seseorang yang dilahirkan kecuali dilahirkan dalam keadaan fithrah, dan kedua orang tuanya-lah yang menjadikannya yahudi atau nashrani atau menjadikannya sebagai majusi sebagaimana hewan yang dilahirkan dalam keadaan selamat tanpa cacat maka apakah kalian merasakan adanya cacat?.”
Kemudian Abu Hurairah semoga Allah meridhainya membaca ayat:

‏(ﻓِﻄْﺮَﺕَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﻓَﻄَﺮَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ)

“(Tetaplah atas) fitrah Allah yang Dia telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (Ar-Rum: 30). Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy dan Muslim.
Dari Hudzaifah semoga Allah meridhainya berkata:

ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻳَﺴْﺄَﻟُﻮﻥَ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻋَﻦْ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻭَﻛُﻨْﺖُ ﺃَﺳْﺄَﻟُﻪُ ﻋَﻦْ ﺍﻟﺸَّﺮِّ ﻣَﺨَﺎﻓَﺔَ ﺃَﻥْ ﻳُﺪْﺭِﻛَﻨِﻲ ﻓَﻘُﻠْﺖُ: ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻧَّﺎ ﻛُﻨَّﺎ ﻓِﻲ ﺟَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔٍ ﻭَﺷَﺮٍّ ﻓَﺠَﺎﺀَﻧَﺎ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑِﻬَﺬَﺍ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻓَﻬَﻞْ ﺑَﻌْﺪَ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻣِﻦْ ﺷَﺮٍّ؟ ﻗَﺎﻝَ: ﻧَﻌَﻢْ، ﻗُﻠْﺖُ: ﻭَﻫَﻞْ ﺑَﻌْﺪَ ﺫَﻟِﻚَ ﺍﻟﺸَّﺮِّ ﻣِﻦْ ﺧَﻴْﺮٍ؟ ﻗَﺎﻝَ: ﻧَﻌَﻢْ ﻭَﻓِﻴﻪِ ﺩَﺧَﻦٌ، ﻗُﻠْﺖُ: ﻭَﻣَﺎ ﺩَﺧَﻨُﻪُ؟ ﻗَﺎﻝَ: ﻗَﻮْﻡٌ ﻳَﻬْﺪُﻭﻥَ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻫَﺪْﻳِﻲ ﺗَﻌْﺮِﻑُ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻭَﺗُﻨْﻜِﺮُ، ﻗُﻠْﺖُ: ﻓَﻬَﻞْ ﺑَﻌْﺪَ ﺫَﻟِﻚَ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻣِﻦْ ﺷَﺮٍّ؟ ﻗَﺎﻝَ: ﻧَﻌَﻢْ! ﻓِﺘْﻨَﺔٌ ﻋَﻤْﻴَﺎْﺀ، ﻭَﺩُﻋَﺎﺓٌ ﺇِﻟَﻰ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏِ ﺟَﻬَﻨَّﻢَ ﻣَﻦْ ﺃَﺟَﺎﺑَﻬُﻢْ ﺇِﻟَﻴْﻬَﺎ ﻗَﺬَﻓُﻮﻩُ ﻓِﻴﻬَﺎ، ﻗُﻠْﺖُ: ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻِﻔْﻬُﻢْ ﻟَﻨَﺎ، ﻓَﻘَﺎﻝَ: ﻫُﻢْ ﻣِﻦْ ﺟِﻠْﺪَﺗِﻨَﺎ ﻭَﻳَﺘَﻜَﻠَّﻤُﻮﻥَ ﺑِﺄَﻟْﺴِﻨَﺘِﻨَﺎ، ﻗُﻠْﺖُ: ﻓَﻤَﺎ ﺗَﺄْﻣُﺮُﻧِﻲ ﺇِﻥْ ﺃَﺩْﺭَﻛَﻨِﻲ ﺫَﻟِﻚَ؟ ،ﻗَﺎﻝَ: ﺗَﻠْﺰَﻡُ ﺟَﻤَﺎﻋَﺔَ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴﻦَ ﻭَﺇِﻣَﺎﻣَﻬُﻢْ، ﻗُﻠْﺖُ: ﻓَﺈِﻥْ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﻟَﻬُﻢْ ﺟَﻤَﺎﻋَﺔٌ ﻭَﻟَﺎ ﺇِﻣَﺎﻡٌ؟ ﻗَﺎﻝَ: ﻓَﺎﻋْﺘَﺰِﻝْ ﺗِﻠْﻚَ ﺍﻟْﻔِﺮَﻕَ ﻛُﻠَّﻬَﺎ ﻭَﻟَﻮْ ﺃَﻥْ ﺗَﻌَﺾَّ ﺑِﺄَﺻْﻞِ ﺷَﺠَﺮَﺓٍ ﺣَﺘَّﻰ ﻳُﺪْﺭِﻛَﻚَ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕُ ﻭَﺃَﻧْﺖَ ﻋَﻠَﻰ ﺫَﻟِﻚَ.

“Dahulu manusia bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir akan menimpaku. Aku bertanya: Wahai Rasulullah, dahulu kita berada di zaman Jahiliyah dan keburukan, kemudian Allah mendatangkan kebaikan ini. Apakah setelah ini ada keburukan? Beliau berkata: ‘Ada’. Aku bertanya: Apakah setelah keburukan itu akan datang kebaikan?. Beliau berkata: Ya, akan tetapi di dalamnya ada dakhan. Aku bertanya: Apakah dakhan itu?. Beliau menjawab: “Suatu kaum berpetunjuk dengan suatu petunjuk yang selain dari petunjukku. Kamu mengetahui tentang mereka dan kamu mengingkari.” Aku bertanya: Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan?. Beliau menjawab: Ya, ada fitnah-(ujian dahsyat) dari orang-orang yang buta dari ilmu dan ada da’i-da’i yang mengajak kepada pintu-pintu neraka jahannam. Barangsiapa yang memenuhi seruan mereka maka mereka akan memasukannya ke dalam neraka jahannam. Aku bertanya: Wahai Rasulullah, sifatkanlah kepada kami tentang ciri-ciri mereka?. Beliau berkata: “Mereka mempunyai kulit seperti kita dan berbahasa dengan bahasa kita.” Aku bertanya: Apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menjumpainya?. Beliau berkata: “Berpegang teguhlah kamu kepada Jama’ah Muslimin dan pemimpinnya.” Aku bertanya: Bagaimana jika tidak ada jama’ah maupun pemimpinnya? Beliau berkata: “Hindarilah semua kelompok-kelompok itu, walaupun dengan menggigit akar pohon hingga kematian menjemputmu sedangkan engkau dalam keadaan seperti itu”. Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy dan Muslim.
Dan Muslim menambahkan:

ﺛُﻢَّ ﻣَﺎﺫَﺍ؟، ﻗَﺎﻝَ: ﺛُﻢَّ ﻳَﺨْﺮُﺝُ ﺍﻟﺪَّﺟَّﺎﻝُ ﻣَﻌَﻪُ ﻧَﻬْﺮٌ ﻭَﻧَﺎﺭٌ ﻓَﻤَﻦْ ﻭَﻗَﻊَ ﻓِﻲ ﻧَﺎﺭِﻩِ ﻭَﺟَﺐَ ﺃَﺟْﺮُﻩُ ﻭَﺣُﻂَّ ﻭِﺯْﺭُﻩُ ﻭَﻣَﻦْ ﻭَﻗَﻊَ ﻓِﻲ ﻧَﻬْﺮِﻩِ ﻭَﺟَﺐَ ﻭِﺯْﺭُﻩُ ﻭَﺣُﻂَّ ﺃَﺟْﺮُﻩُ، ﻗَﺎﻝَ: ﻗُﻠْﺖُ: ﺛُﻢَّ ﻣَﺎﺫَﺍ؟، ﻗَﺎﻝَ: ﺛُﻢَّ ﻫِﻲَ ﻗِﻴَﺎﻡُ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔِ.

“Kemudian apa? beliau berkata: Kemudian akan keluar Dajjal bersamanya sungai dan api, barangsiapa terjatuh ke dalam apinya maka dia mendapatkan balasan pahalanya dan di gugurkan dosanya, dan barangsiapa terjatuh ke dalam sungainya maka dia mendapatkan dosanya dan digugurkan pahalanya.” Dia berkata: Lalu aku katakan: Kemudian apa? beliau berkata: “Kemudian terjadinya kiamat.”
Berkata Abul ‘Aliyah: “Pelajarilah Islam, jika kalian telah mempelajarinya maka janganlah kalian membencinya, dan wajib bagi kalian (mengikuti) jalan yang lurus karena sesungguhnya dia adalah Islam, dan janganlah kalian condong ke kanan dan jangan pula ke kiri, dan wajib bagi kalian (berpegang) kepada sunnah Nabi kalian, dan berhati-hatilah kalian dari hawa-hawa nafsu ini.”
Perhatikanlah perkataan Abul ‘Aliyah semoga Allah Ta’ala merahmatinya, betapa bagusnya, dan ketahuilah zamannya yang dia memperingatkan dari hawa nafsu, siapa yang mengikutinya maka sungguh dia telah membenci pada Islam, dan tafsir Islam adalah dengan sunnah, dan rasa takut atas para pembesarnya tabi’in dan ulama mereka dari keluar dari As-Sunnah dan Al-Kitab, dan jelaslah bagimu makna perkataan-Nya Ta’ala:

‏( ﺇِﺫْ ﻗَﺎﻝَ ﻟَﻪُ ﺭَﺑُّﻪُ ﺃَﺳْﻠِﻢْ)

“Ketika berkata kepadanya Rabbnya: Berislamlah! (Al-Baqarah: 131).
Dan perkataan-Nya:

‏(ﻭَﻭَﺻَّﻰ ﺑِﻬَﺎ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴﻢُ ﺑَﻨِﻴﻪِ ﻭَﻳَﻌْﻘُﻮﺏُ ﻳَﺎ ﺑَﻨِﻲَّ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺍﺻْﻄَﻔَﻰ ﻟَﻜُﻢُ ﺍﻟﺪِّﻳﻦَ ﻓَﻼ ﺗَﻤُﻮﺗُﻦَّ ﺇِﻟَّﺎ ﻭَﺃَﻧْﺘُﻢْ ﻣُﺴْﻠِﻤُﻮﻥَ)

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan dengannya kepada anak-anaknya dan kepada Ya’qub: Wahai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih bagi kalian suatu agama maka janganlah kalian mati kecuali kalian adalah berislam.” (Al-Baqarah: 132).
Dan perkataan-Nya:

(ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﺮْﻏَﺐُ ﻋَﻦْ ﻣِﻠَّﺔِ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴﻢَ ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﻦْ ﺳَﻔِﻪَ ﻧَﻔْﺴَﻪُ )

“Dan tidaklah benci kepada agama Ibrahim kecuali orang yang membodohi dirinya.” (Al-Baqarah: 130).
Dan yang semisal pada landasan yang besar ini, yang dia adalah pokoknya landasan dan manusia pada lalai terhadap landasan-landasan ini, dengan mengenalnya maka jelaslah makna pada hadits-hadits dalam bab ini dan yang semisalnya. Adapun manusia yang membaca hadits-hadits tersebut dan yang semisal dengannya dan dia merasa aman lagi tenang bahwasanya dia tidak mengenainya dan dia menyangkanya itu pada kaum yang keberadaan mereka telah lalu:

‏(ﺃَﻓَﺄَﻣِﻨُﻮﺍ ﻣَﻜْﺮَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻓَﻼ ﻳَﺄْﻣَﻦُ ﻣَﻜْﺮَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟْﻘَﻮْﻡُ ﺍﻟْﺨَﺎﺳِﺮُﻭﻥَ)

“Apakah mereka akan merasa aman dari makar Allah, tidaklah merasa aman terhadap makar Allah kecuali kaum yang merugi.” (Al-A’raf: 99).
Dari Ibnu Mas’ud semoga Allah meridhainya, beliau berkata:

ﺧَﻂَّ ﻟَﻨَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳَﻮْﻣًﺎ ﺧَﻄًّﺎ ﺛُﻢَّ ﻗَﺎﻝَ: ﻫَﺬَﺍ ﺳَﺒِﻴﻞُ ﺍﻟﻠَّﻪِ، ﺛُﻢَّ ﺧَﻂَّ ﺧُﻄُﻮﻃًﺎ ﻋَﻦْ ﻳَﻤِﻴﻨِﻪِ ﻭَﻋَﻦْ ﺷِﻤَﺎﻟِﻪِ ﺛُﻢَّ ﻗَﺎﻝَ: ﻫَﺬِﻩِ ﺳُﺒُﻞٌ ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ ﺳَﺒِﻴﻞٍ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺷَﻴْﻄَﺎﻥٌ ﻳَﺪْﻋُﻮ ﺇِﻟَﻴْﻪِ،
ﺛُﻢَّ ﺗَﻠَﺎ: (وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ) ‏(ﺍﻷﻧﻌﺎﻡ: 153‏). ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺣﻤﺪ ﻭﺍﻟﻨﺴﺎﺋﻲ.

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada suatu hari membuatkan garis kepada kami kemudian beliau berkata: “Ini adalah jalan Allah”, kemudian beliau membuat garis-garis pada kanan dan kirinya, lalu beliau berkata: Ini adalah jalan-jalan yang berpisah-pisah, pada setiap jalan ada setan-setan yang menyeru kepadanya. Kemudian beliau membaca: “Sesungguhnya ini adalah jalanku yang lurus maka ikutilah dia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan yang memecah belah kalian dari jalan-Nya, demikian itu yang telah Dia wasiatkan kepada kalian dengannya supaya kalian bertakwa.” (Al-An’am: 153) Diriwayatkan oleh Ahmad dan An-Nasa’iy.

 

BAB APA-APA YANG DATANG TENTANG ASINGNYA ISLAM DAN KEISTIMEWAAN ORANG-ORANG ASING

Dan perkataan-Nya Ta’ala:

(فَلَوْلَا كَانَ مِنَ الْقُرُونِ مِنْ قَبْلِكُمْ أُولُو بَقِيَّةٍ يَنْهَوْنَ)

“Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kalian orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang.”[Hud: 116].
Dari Abu Hurairah semoga Allah meridhainya, beliau meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

َﺑَﺪَﺃَ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡُ ﻏَﺮِﻳﺒًﺎ ﻭَﺳَﻴَﻌُﻮﺩُ ﻏَﺮِﻳﺒًﺎ كَمَا بَدَأَ ﻓَﻄُﻮﺑَﻰ ﻟِﻠْﻐُﺮَﺑَﺎﺀِ

Islam memulai dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing sebagaimana permulaannya maka beruntunglah bagi orang-orang asing.” Diriwayatkan oleh Muslim.
Dan Ahmad meriwayatkan dari hadits Abdillah bin Mas’ud semoga Allah meridhainya, dan padanya:

ﻗِﻴﻞَ: ﻭَﻣَﻦِ ﺍﻟْﻐُﺮَﺑَﺎﺀُ؟ ﻗَﺎﻝ:َ ﺍﻟﻨُّﺰَّﺍﻉُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻘَﺒَﺎﺋِﻞِ.

“Dikatakan: Siapakah orang-orang yang asing itu? Beliau berkata: “Mereka yang berseberangan dengan berbagai kaum”.
Dalam suatu riwayat:

ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳُﺼْﻠِﺤُﻮﻥَ إِذَا فَسَدَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ

“Orang-orang yang selalu melakukan perbaikan ketika manusia telah rusak.”
Dan Ahmad meriwayatkan dari hadits Sa’d bin Abi Waqqash, dan padanya:

ﻓَﻄُﻮﺑَﻰ يَوْمَئِذٍ ﻟِﻠْﻐُﺮَﺑَﺎﺀِ إِذَا فَسَدَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ

“Maka beruntunglah pada saat itu orang-orang yang asing, apabila manusia telah rusak.”
Dan pada riwayat At-Tirmidziy dari hadits Katsir bin Abdillah, dari ayahnya, dari kakeknya:

ﻓَﻄُﻮﺑَﻰ ﻟِﻠْﻐُﺮَﺑَﺎﺀِ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳُﺼْﻠِﺤُﻮﻥَ ﻣَﺎ ﺃَﻓْﺴَﺪَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻣِﻦْ ﺳُﻨَّﺘِﻰ

“Maka beruntunglah orang-orang yang asing yang selalu melakukan perbaikan di saat manusia telah merusak sunnahku.”
Dari Abu Umayyah, beliau berkata:

ﺳَﺄَﻟًْﺖُ ﺃﺑَﺎ ﺛَﻌْﻠَﺒَﺔَ ﺍﻟﺨُﺸَﻨِﻲَّ ﻗُﻠْﺖُ: ﻛَﻴْﻒَ ﺗَﺼْﻨَﻊُ ﻓِﻲ ﻫٰﺬِﻩِ ﺍﻵﻳَﺔُ: (ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺃَﻧْﻔُﺴَﻜُﻢْ ﻟَﺎ ﻳَﻀُﺮُّﻛُﻢْ ﻣَﻦْ ﺿَﻞَّ ﺇِﺫَﺍ ﺍﻫْﺘَﺪَﻳْﺘُﻢْ) ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻟِﻲ: ﺃَﻣَﺎ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪِ ﻟَﻘَﺪْ ﺳَﺄَﻟْﺖَ ﻋَﻨْﻬَﺎ ﺧَﺒِﻴﺮًﺍ، ﺳَﺄﻟﺖُ ﻋَﻨﻬَﺎ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴﻪِ ﻭَﺳﻠَّﻢَ ﻓَﻘﺎﻝَ: ﺑَﻞِ ﺍﺋﺘَﻤِﺮﻭﺍ ﺑِﺎﻟْﻤَﻌْﺮُﻭْﻑِ ﻭَﺗَﻨَﺎﻫَﻮﺍ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤُﻨْﻜَﺮِ، ﺣَﺘَّﻰ ﺇِذَﺍ ﺭَﺃﻳْﺖَ ﺷُﺤًّﺎ ﻣُﻄَﺎﻋًﺎ ﻭَﻫَﻮًﻯ ﻣُﺘَّﺒَﻌًﺎ ﻭﺩُﻧْﻴَﺎ ﻣُﺆﺛَﺮَﺓً ﻭَﺇِﻋْﺠَﺎﺏَ ﻛُﻞِّ ﺫِﻱ ﺭَﺃْﻱٍ ﺑِﺮَﺃﻳِﻪِ، ﻓَﻌَﻠَﻴْﻚَ ﺑِﻨَﻔﺴِﻚَ، ﻭَدَعْ عَنْكَ ﺍﻟﻌﻮﺍﻡِّ، ﻓﺈﻥَّ ﻣِﻦ ﻭَﺭَﺍﺋِﻜُﻢْ ﺃﻳَّﺎﻡَ ﺍﻟﺼَّﺒﺮِ، ﺻَﺒْﺮٌ ﻓِﻴْﻬِﻦَّ ﻋَﻠَﻰ ﻣﺜﻞِ ﻗَﺒْﺾٍ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺠَﻤْﺮِ، ﻟِﻠْﻌَﺎﻣِﻞِ ﻓِﻴْﻬِﻦَّ مِثْلِ أَﺟْﺮِ ﺧَﻤْﺴِﻴﻦَ ﺭَﺟُﻠًﺎ ﻳَﻌﻤَﻠﻮﻥَ ﻣِﺜْﻞَ عَمَلِكُمْ، قِيْلَ: مِنَّا أَمْ مِنْهُمْ؟ قَالَ: بَلْ مِنْكُمْ

“Aku bertanya kepada Abu Tsa’labah: Bagaimana pendapatmu tentang ayat ini: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian; tidaklah orang yang sesat itu akan memberi madharat kepada kalian apabila kalian telah mendapat petunjuk.”
Maka beliau berkata: Adapun tentang ayat itu maka Demi Allah sungguh engkau telah bertanya tentang hal yang penting. Akupun pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan beliau berkata: “Tetaplah kalian memerintahkan kepada kebaikan dan laranglah oleh kalian dari kemungkaran sampai pun engkau melihat orang kikir ditaati, hawa nafsu diikuti, dunia diutamakan, setiap orang yang berakal berpendapat dengan akalnya. Maka perhatikanlah dirimu dan berhati-hatilah terhadap orang awam, karena sungguh dibelakang kalian akan ada hari-hari yang penuh kesabaran, orang-orang yang bersabar padanya seperti menggenggam bara api, bagi orang yang beramal (kebaikan) mendapatkan pahala 50 orang yang mereka beramal semisal amalan kalian.” Dikatakan: Dari kami (para shahabat) ataukah dari mereka? Beliau berkata: “Bahkan dari kalian.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidziy.
Dan Ibnu Wadhdhah meriwayatkan sesuai maknanya dari hadits Ibnu ‘Umar semoga Allah meridhainya, dan lafazhnya:

«ﺇِﻥَّ مِنْ ﺑَﻌْﺪِﻛُﻢْ ﺃَﻳَّﺎﻣﺎً لِلصَّابِرِ ﻓِﻴْﻬَﺎ ﺍﻟْﻤُﺘَﻤَﺴِّﻚِ ﺑِﻤِﺜْﻞِ ﻣَﺎ ﺃَﻧْﺘُﻢْ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟْﻴَﻮْﻡَ؛ ﻟَﻪُ ﺃَﺟْﺮُ ﺧَﻤْﺴِﻴْﻦَ ﻣِﻨْﻜُﻢْ‏»

“Sesungguhnya setelah kalian nanti ada hari-hari bagi orang yang bersabar padanya, yang dia berpegang teguh (kepada agamanya) semisal dengan apa yang kalian berada padanya di hari ini, baginya pahala 50 orang dari kalian.”
Kemudian Ibnu Wadhdhah berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sa’id, beliau berkata: Telah menyampaikan kepada kami Asad, beliau berkata: Telah menyampaikan kepada kami Sufyan bin Uyainah, dari Aslam Al-Bashriy, dari Sa’id bin Abil Hasan, beliau berkata: Aku berkata kepada Sufyan: Dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam? beliau berkata: Iya, beliau berkata:

ﺇِﻧَّﻜُﻢُ ﺍﻟْﻴَﻮْﻡَ ﻋَﻠَﻰ ﺑَﻴِّﻨَﺔٍ ﻣِﻦْ ﺭَﺑِّﻜُﻢ ﺗَﺄﻣُﺮُﻭْﻥَ ﺑِﺎﻟْﻤَﻌﺮُﻭْﻑِ ﻭَﺗَﻨﻬَﻮْﻥُ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤﻨْﻜَﺮِ ﻭﺗُﺠَﺎﻫِﺪُﻭْﻥَ ﻓِﻲ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ، ﻭَﻟَﻢْ ﺗَﻈﻬَِﺮْ ﻓِﻴْﻜُﻢُ ﺍﻟﺴَّﻜْﺮَﺗﺎﻥِ: ﺳَﻜْﺮَﺓُ ﺍﻟْﺠَﻬْﻞِ ﻭَﺳَﻜْﺮَﺓُ حُبِّ ﺍﻟْﻌَﻴْﺶِ، ﻭَﺳَﺘُﺤَﻮَّﻟﻮْﻥَ ﻋَﻦْ ﺫٰﻟِﻚَ، ﻓﺎﻟﻤُﺘَﻤَﺴِّﻚُ ﻳَﻮْﻣَﺌِﺬٍ ﺑِﺎﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻭَﺍﻟﺴَّﻨﺔِ ﻟَﻪُ ﺃُﺟْﺮُ ﺧَﻤْﺴِﻴﻦَ، قِيْلَ: مِنْهُمْ؟ قَالَ: بَلْ مِنْكُمْ.

“Sesungguhnya kalian pada hari ini di atas kejelasan dari Rabb kalian, kalian memerintahkan kepada kebaikan dan kalian mencegah dari kemungkaran, kalian berjihad di jalan Allah, dan tidak nampak pada kalian dua kemabukan: Mabuk kebodohan dan mabuk kecintaan terhadap dunia. Dan kalian akan dialihkan dari yang demikian itu, sehingga orang yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah pada hari itu baginya pahala 50 orang.” Dikatakan: “(50 orang) dari mereka?”, beliau berkata: “Bahkan (50 orang) dari kalian.”
Dan padanya dengan jalur periwayatan dari Al-Mu’afiriy, beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

طُوْبَى لِلْغُرَبَاءِ، اللَّذِينَ يتَمُسَّكُوْنَ بِكِتَابِ اللّٰهِ حِيْنَ يُتْرَكُ، وَيَعْمَلُوْنَ بِسُنَّتِي يَوْمَ تُتْرَكُ

“Beruntung bagi orang-orang asing, yang mereka berpegang teguh kepada Kitabullah ketika dia ditinggalkan (oleh manusia), dan yang mereka mengamalkan terhadap sunnahku pada hari ditinggalkan (oleh manusia).”

 

BAB PERINGATAN DARI BID’AH-BID’AH

Dari ‘Irbadh bin Sariyah semoga Allah meridhinya, beliau berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menasehati kami dengan suatu nasehat yang mengena, yang dengannya membuat hati bergetar dan air mata bercucuran, kami berkata: “Wahai Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasehat perpisahan maka berilah kami wasiat.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

ﺃُﻭﺻِﻴﻜُﻢْ ﺑِﺘَﻘْﻮَﻯ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟﺴَّﻤْﻊِ ﻭَﺍﻟﻄَّﺎﻋَﺔِ ﻭَﺇِﻥْ ﺗَﺄَﻣَّﺮَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻋَﺒْﺪٌ، ﻭَﺇِﻧَّﻪُ ﻣَﻦْ ﻳَﻌِﺶْ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﻓَﺴَﻴَﺮَﻯ ﺍﺧْﺘِﻠَﺎﻓًﺎ ﻛَﺜِﻴﺮًﺍ، ﻓَﻌَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺑِﺴُﻨَّﺘِﻲ ﻭَﺳُﻨَّﺔِ ﺍﻟْﺨُﻠَﻔَﺎﺀِ ﺍﻟﺮَّﺍﺷِﺪِﻳﻦَ ﺍﻟْﻤَﻬْﺪِﻳِّﻴﻦَ ﻭَﺇِﻳَّﺎﻛُﻢْ ﻭَﻣُﺤْﺪَﺛَﺎﺕِ ﺍﻟْﺄُﻣُﻮﺭِ ﻓَﺈِﻥَّ ﻛُﻞَّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻠَﺎﻟَﺔٌ

“Aku wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat (kepada penguasa), walaupun yang memerintah kalian adalah seorang budak. Sesungguhnya barangsiapa yang hidup di antara kalian maka dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib atas kalian untuk berpegang teguh kepaada sunnahku dan sunnah khulafaur Rasyidin yang terbimbing. Berhati-hatilah kalian dari perkara-perkara baru yang diadakan (dalam agama), karena setiap yang diada-adakan (dalam agama) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.” Berkata At-Tirmidziy:Hadits ini adalah hasan shahih.”
Dan dari Hudzaifah semoga Allah meridhainya, beliau berkata: “Setiap ibadah yang para shahabat Muhammad tidak beribadah dengan ibadah tersebut maka jangan kalian beribadah dengannya, karena sesungguhnya generasi awal tidak akan membiarkan satu perkataan pun pada generasi akhir. Maka bertakwalah kepada Allah wahai para pembaca (Al-Qur’an), dan ambillah jalan orang-orang sebelum kalian.” Diiriwayatkan oleh Abu Dawud.
Berkata Ad-Darimiy: Telah mengabarkan kepada kami Al-Hakam bin Al-Mubarak, beliu berkata: Telah memberitahukan kepada kami ‘Umar bin Yahya, beliau berkata: Aku mendengar ayahku mengabarkan dari ayahnya, beliau berkata: Dahulu kami duduk di pintu rumah ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu sebelum shalat dhuhur, apabila beliau keluar (dari rumahnya) maka kami pun berjalan bersamanya menuju masjid. Kemudian Abu Musa Al-Asy’ariy Radhiyallahu ‘Anhu mendatangi kami, dia berkata: “Apakah Abu ‘Abdirrahman (Abdullah bin Mas’ud) telah keluar kepada kalian?” Kami berkata: “Belum.” Kemudian Abu Musa Al-Asy’ariy duduk-duduk bersama kami hingga Abdullah bin Mas’ud keluar. Ketika beliau keluar kami semua bangkit menuju ke beliau. Lalu Abu Musa Al-Asy’ariy berkata kepadanya: “Wahai Abu ‘Abdirrahman! Baru saja di masjid aku melihat satu perkara yang aku ingkari, namun aku tidak melihat –segala puji bagi Allah- kecuali kebaikan.” Abdullah bin Mas’ud bertanya: “Apa itu dia?” Abu Musa Al-Asy’ariy menjawab: “Jika engkau berumur panjang mka engkau akan melihatnya….”
Abu Musa Al-Asy’ariy berkata: “Aku melihat di masjid ada orang berkelompok-kelompok dalam keadaan duduk sambil menunggu waktu shalat, pada setiap kelompok ada seorang, dan pada tangan-tangan mereka ada kerikil-kerikil (untuk menghitung), lalu dia berkata: “Bertakbirlah seratus kali.” Maka mereka pun bertakbir seratus kali. Kemudian dia berkata: “Bertahlillah 100 kali.” Maka mereka pun bertahlil 100 kali. Lalu dia berkata: “Bertasbihlah 100 kali.” Maka mereka pun bertasbih 100 kali.”
Kemudian Abdullah bin Mas’ud bertanya kepada Abu Musa Al-Asy’ariy: “Apa yang kau katakan pada mereka?” Abu Musa Al-Asy’ariy menjawab: “Aku tidak berkata apapun kepada mereka, aku menunggu perintah engkau atau aku menunggu pendapat engkau” Abdullah bin Mas’ud berkata: “Mengapa engkau tidak perintahkan mereka untuk menghitung kejelekan-kejelekan mereka dan engkau beri jaminan kepada mereka bahwa kebaikan-kebaikan mereka tidak akan sia-sia sedikitpun?” Kemudian Abdullah bin Mas’ud berjalan maka kamipun berjalan bersamanya, hingga kami mendatangi perkumpulan daribkelompok-kelompok tersebut, lalu beliau berdiri pada perkumpulan mereka, beliau berkata: “Apa ini yang aku lihat pada kalian kerjakan?” Mereka berkata: “Wahai Abu ‘Abdirrahman! Ini adalah kerikil (yang kami gunakan) untuk menghitung takbir, tahlil, dan tasbih.”
Maka beliau berkata: “Hitunglah kesalahan-kesalahan kalian, aku jamin kebaikan-kebaikan kalian tidak akan hilang sedikitpun. Celaka kalian, wahai umat Muhammad, betapa cepatnya kebinasaan kalian! Mereka itu para shahabatnya Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam masih banyak dan ini pakaian beliau belum usang serta bejana-bejana beliau belum pecah. Demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya, apakah kalian berada di atas suatu agama yang dia lebih mendapat petunjuk daripada agama Muhammad ataukah kalian adalah orang-orang yang membuka pintu kesesatan?!”
Mereka berkata: “Demi Allah wahai Abu ‘Abdirrahman! Tidaklah yang kami inginkan kecuali kebaikan.”
Maka beliau berkata:
“Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan namun tidak dapat memperolehnya. Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengabarkan kepada kami tentang suatu kaum yang mereka membaca Al-Qur’an namun tidak sampai melampaui tenggorokan-tenggorokan mereka. Demi Allah mungkin kebanyakan dari mereka adalah kalian.” Kemudian beliau meninggalkan mereka.
Maka berkata ‘Amr bin Salamah semoga Allah meridhai mereka: “Kami melihat kebanyakan dari kelompok-kelompok itulah yang memerangi kami pada peristiwa An-Nahrawan bersama khowarij.”
Allah tempat kita memohon pertolongan dan kepada-Nyalah kita bertawakal.

وَصَلَى اللّٰهُ وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

 

Ditulis oleh:

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdil Wahhab
semoga Allah merahmatinya.

Judul asli:

فضل الإسلام
لشيخ الإسلام
محمد بن عبد الوهابرحمه الله

Penerjemah:
Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir bin Salim Al-Limboriy
semoga Allah merahmatinya.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: