“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

macam-macam-bentuk-perbedaan-dan-pergaulan-bersama-orang-orang-berselisih

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله ربّ العالمين ، الملك الحق المبين ، العلي الحكيم ، وأشهد أن لا إله إلا الله ، وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله ؛ وصفيه من خلقه وخليله – صلى الله عليه وعلى آله وصحبه والتابعين – ، أما بعد :

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, Sang Raja yang Maha benar dan yang Maha menjelaskan segalanya, lagi Maha tinggi dan bijaksana. 

Dan aku bersaksi bahwa tiada ILAH yang BENAR selain ALLAH, satu satunya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya, orang yang terpilih dari ciptaan-Nya, dan kekasihnya shallallahu alaihi wa alaa aalihi wa shahbihi wat taabi’iyna wa sallam.

Sesungguhnya Allah azza wa jalla menciptakan kita untuk melaksanakan ketaatan dan ibadah kepadanya, Allah berfirman :

” وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ   ” [الذاريات : 56]

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada ku.” QS :  Adz Dzaariyat 56

Dan Allah berfirman :

وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً ” [النساء : 36]

“Dan sembahlah Allah dan janganlah kalian sekutukan ia dengan siapapun.” QS : An Nisa 36

Dan Allah mengutus para rasul dan menurunkan kitab untuk mewujudkan landasan yang agung.

Allah berfirman :

” وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ ” [النحل : 36

 “Dan sungguh telah kami utus pada setiap ummat seorang rasul, hendaklah kalian beribadah kepada Allah dan jauhilah tahghut.”  QS:  An Nahl 36

Dan Allah memerintahkan untuk mentaati-Nya dan rasul-Nya, Allah berfirman :

” وَأَطِيعُواْ اللّهَ وَالرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ ” [آل عمران : 132]

“Dan taatilah Allah dan rasul, niscaya kalian mendapatkan rahmat.”  QS: Ali Imran 132.

Dan berfirman :

وَمَن يُطِعِ اللّهَ وَالرَّسُولَ فَأُوْلَـئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاء وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَـئِكَ رَفِيقاً ” [النساء : 69]

“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya maka mereka itulah yang akan bersama orang-orang yang Allah beri anugerah mereka, dari para nabi, para shadiiq, orang-orang yang syahid, dan orang-orang shalih, dan mereka itulah sebaik-baik teman. “ QS : An nisa 69

Dan merupakan ketaatan kepada Allah azza wa jalla adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah, dan telah datang dalam sebagian riwayat dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Dan telah datang riwayat yang shahih : “Sesungguhnya diantara tali iman yang paling kuat adalah : cinta dan benci karena Allah.”

Dan cinta karena Allah subhanahu wata’ala hanya bagi orang yang benar-benar berpegang dengan syariat Allah azza wa jalla dan sunnah rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam, dan berpegang teguh dengan apa yang ada dalam Qur’an dan Sunnah. 

Allah berfirman :

” (وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعاً وَلاَ تَفَرَّقُواْ “(  آل عمران : 103

“Dan hendaklah kalian seluruhnya berpegang teguh pada tali Allah, dan janganlah berpecah belah.” QS : Ali Imran 103

Dan ini setelah firman Allah :

(”  وَمَن يَعْتَصِم بِاللّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ ” (آل عمران : 101

“Dan barangsiapa yang berpegang teguh dengan Allah, maka sungguh dia telah tertunjuki kepada jalan yang lurus.” QS : Ali Imran 101.

Dan Allah azza wa jalla telah memutuskan dan menentukan bahwa para hamba akan berselisih, kecuali yang Dia rahmati.

Allah berfirman :

“( وَلاَ يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ  * إِلاَّ مَن رَّحِمَ رَبُّكَ وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ ” (هود :118 – 119

“Tetapi dan mereka sentiasa berselisih. Kecuali yang di rahmati oleh Rabb mu, dan untuk tujuan itulah mereka diciptakan, dan telah sempurna kalimat Rabb mu.” QS :Hud 118-119

DAN PERSELISIHAN ITU BERMACAM MACAM:

Macam yang pertama : Ikhtilaaf Tanawwu’.

Dan ini terjadi disebabkan datangnya beberapa dalil dalam satu macam ibadah. Maka terkadang beramalan dengan ini, dan terkadang dengan itu.  Sebagaimana banyaknya dalil yang datang dalam bentuk bacaan iftitah, macam macam tasyahud, atau bentuk shalawat atas Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Dan perselisihan ini tidaklah dicela pelakunya sama sekali, karena dia berbuat sebagaimana dalil pada dua tempat, dan mengikuti Atsar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, yang bahkan bisa jadi mengharuskan beraneka ragam. Dalam rangka mengamalkan semua dalil, dan menampakkan sunnah, begitu dan juga sebagai hiburan untuk jiwa, dan yang lainnya dari tujuan tujuan syariat yang sudah maklum.

Macam yang kedua : Perbedaan Pemahaman. 

Dan ini terjadi dalam suatu permasalahan yang ada dalilnya, sehingga terjadilah perselisihan dalam mengamalkan dalil tersebut, karena adanya perbedaan dalam pemahaman dari apa yang dimaksud dari dalil itu, seperti : Perselisihan tentang Al-Qur’an, apakah yang diinginkan haid ataukah suci dari haid?. dan juga : Perselisihan tentang Dubur Shalat apakah yang dimaksud dengannya adalah sebelum salam atau setelah salam? dan apa yang dilakukan oleh para Shahabat dalam hadits :

من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يصلين العصر إلا في بني قريظة

“Barang siapa yang beriman dengan Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia jangan sekali-kali shalat ashar, kecuali di Bani Quraizhah.”

Sungguh sebagian mereka memahami dari hadits : Anjuran untuk bersegera dalam berjalan, dan melakukan shalat dimana yang dikehendaki dalam waktunya. Dan sebagian shahabat yang lainnya memahami untuk menunda shalat walaupun setelah habis waktunya. 

Dan perkara ini, juga termasuk dalam kategori perselisihan yang layak mendapatkan udzur, dikarenakan  yang melakukan salah satu dari keduanya mendapatkan pahala, dan tidak berdosa, bisa jadi mendapatkan dua pahala, yaitu pahala sekaligus benar dan bisa juga dapat satu pahala, karena tidak benar, setelah dia berusaha untuk mendapatkan  yang benar.

Dan ini sebagaimana hadits Amru bin Al Ash :

إذا حكم الحاكم فاجتهد فأصاب فله أجران ؛ فإن أخطأ فله أجر

“Apabila seorang hakim ber-ijtihad dan ia benar, maka mendapatkan dua pahala. Dan jika ia salah maka mendapatkan satu pahala.”

Macam yang Ketiga adalah : Perselisihan Tadhaadh. 

Dan ini terjadi pada perkara-perkara yang kebenarannya hanya satu, dan yang lainnya adalah batil. Sebagaimana perbedaan kita dengan Mu’tazilah tentang keyakinan mereka menafikan sifat-sifat Sang Pencipta yang Maha mulia dan Maha perkasa. Dan yang benar, adalah sebagaimana kesepakatan ahlussunnah wal jama’ah, bahwa Allah azza wa jalla mempunyai sifat, sebagaimana yang dia sifatkan untuk dirinya sendiri dalam Al-Qur’an dan sesuai dengan apa yang di sifatkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, tanpa perlu, dibagaimanakan, diserupakan, dipelintir maupun dirusak. 

Dan sebagaimana perselisihan khawarij terhadap ahlussunnah dalam menghukumi pelaku dosa besar dari ummat Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dengan vonis kekufuran, lalu mereka kekal di neraka. Atau seperti perkataan mu’tazilah : bahwa pelaku dosa besar di dunia ini berada pada posisi diantara dua keadaan, bukan seorang mukmin dan bukan seorang kafir, dan hukumnya pada hari kiamat, mereka sepakat dengan khawarij, yaitu di vonis kekal di neraka.

Dan hal ini sangat berbeda dengan para Salafush Shalih semoga Allah meridhai mereka : dimana bahwasanya pelaku dosa besar, selama tidak melakukan mensekutukan allah azza wa jalla, maka dia adalah seorang yang mu’min dengan kadar imannya, dan juga seorang yang fasiq sesuai maksiatnya, dan perkara-perkara yang lainnya yang di selisihi oleh ahli batil dari kalangan ahli bid’ah, seperti Rafidhah, Mu’tazilah, Asyaa’irah, Khawarij, Murjiah, Qadariyyah, Jahmiyyah dan yang lainnya. 

Ahlul Haq dan Al atsar adalah kelompok yang mendapatkan pertolongan, golongan yang selamat yang Salafiy. Dan siapa saja yang menyelisihi ahlus sunnah dalam masalah Iman, keyakinan, nama dan sifat Allah, maka dia adalah Mubtadi’, pelaku bid’ah yang sesat, dikarenakan mereka menyelisihi dalil yang jelas dan akal yang sehat, hanya dengan segelintir syubhat yang mereka gunakan ketika berdebat, yang lebih rapuh dari sarang laba-laba. Dan syubhat syubhat yang mereka jadikan sebagai  agama, sungguh kita telah diperingatkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dari orang yang menyebarkannya, dengan ucapan beliau kepada Aisyah :

“Apabila kalian melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat Qur’an yang mutsyaabih, maka mereka lah yang telah Allah sebutkan, maka waspadailah mereka.” kemudian beliau membaca ayat : 

فَأَمَّا الَّذِينَ في قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاء الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاء تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ اللّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُواْ الألْبَابِ ”      آل عمران :7 

“Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Rabb kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.”QS: Al-Imran: 7

Dan yang serupa dengan ini, adalah perbuatan Ikhwan Muslimin, Sururiyyah, dan para pemilik yayasan, mereka menyelisihi Ahli Hadist, Ahli Fiqh, Ahlul Atsar dan Ahli Nazhar, yang mereka selalu mengikuti Kitabullah, berpegang teguh dengan Sunnah RasulNya shallallahu alaihi wa sallam, dan mengambil tauladan para Salaf. 

Maka orang-orang yang tadi telah aku sebutkan dari kalangan ahlul bathil, mempunyai al wala’ dan al baraa’ yang sempit, mereka berloyalitas pada orang-orang yang bersama mereka, walaupun itu orang-orang fasiq dari kalangan muslimin, dan justru mereka memusuhi ahlussunnah, padahal mereka hanya berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah RasulNya.

Dan begitu pula keyakinan mereka akan perkara-perkara yang bertentangan dengan petunjuk Salaf, dengan adanya perbedaan di kalangan pribadi mereka dan jama’ah mereka, dalam masalah pen-takfir an, pemberontakan, baiat, perkara yang di rahasiakan,  fanatik jahiliyyah, dan perkara yang lainnya. Yang dimana terkumpulkan dalam banyak kitab yang tersebar, dan juga yang didengar dan tertulis, maka kelompok yang telah disebutkan ini dan kelompok yang terputus dari jalan Nabi shallallahu alaihi wa sallam, maka seharusnya bagi setiap orang yang membawa kebenaran untuk memperingatkan dari jalan dan jalur mereka. Maka jalan Allah azza wa jalla adalah satu, dan yang selainnya adalah bathil. 

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kalian bertakwa”. QS: Al-An’am: 153

Dan pembahasan seputar kelompok yang menyeleweng ini termasuk jihad di jalan Allah azza wa jalla, karena jihad bisa dengan tombak, dan juga dengan hujjah dan dalil. 

Dan Allah telah berfirman kepada Nabinya shallallahu alaihi wa sallam : 

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ ۚ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمۖ

“Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka”. QS: At-Taubah: 73

Dan Jihad Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam terhadap orang-orang munafik dengan lisan, dan tidak pernah ada dalil yang menunjukkan bahwa beliau memerangi mereka dengan senjata, hanya saja beliau menjelaskan aib-aib mereka dan memadamkan api mereka, dengan menyebutkan dengan menyebutkan sifat-sifat dan keburukan mereka, agar manusia waspada dari mereka. Maka hendaklah kita mengambil jalan jalan beliau, dan berpegang teguh dengan sunnah beliau. Dan hendaklah kita memerangi orang-orang yang menentang petunjuk dan jalan beliau, dan mencampakkan pemikiran-pemikiran mereka, agar agama Allah yang benar menjadi tinggi dan tersungkurlah panji syaitan dan pembantunya.

Dan begitu pula keyakinan mereka terhadap perkara-perkara yang menyelisihi petunjuk salaf, bersamaan dengan itu terdapat perbedaan di antara individu dan kelompok mereka, dari sisi mengkafirkan orang lain, memberontak kepada pemerintah, baiat, perkara-perkara yang dirahasiakan, fanatik jahiliyyah dan yang lainnya, yang tersebar di banyak kitab mereka, dan juga ada yang dalam bentuk rekaman, ataupun tulisan, maka kelompok yang disebutkan di sini dan yang mereka terputus dari jalan Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan juga petunjuknya, maka seharusnya bagi setiap orang yang memiliki kebenaran agar waspada dari jalan jalan mereka, maka jalan Allah azza wa jalla adalah satu dan adapun yang lainnya maka itulah jalan yang bathil. Allah berfirman :

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kalian bertakwa.” QS: Al-An’am: 153

Dan pembahasan tentang kelompok ini dari kalangan orang-orang yang menyimpang merupakan jihad fii sabilillah, karena jihad bisa dengan tombak dan juga dengan hujjah dan bukti. Dan Allah berfirman kepada Nabi nya shallallahu alaihi wa sallam :

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ 

“Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka.” QS: At-Taubah: 73

Dan dahulu jihad Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam terhadap para munafikin adalah dengan lisan, dan tidak ada yang menjelaskan bahwa beliau memerangi mereka dengan tombak, hanya saja beliau menyebutkan keburukan-keburukan mereka, dan memadamkan api mereka, dengan menyebutkan sifat dan keburukan mereka,  sehingga manusia mewaspadai mereka. 

Maka hendaklah kita mengambil jalannya, dan berpegang teguh kepada sunnahnya, dan hendaklah kita memerangi orang-orang menyelisihi jalan-Nya, membuang pemikiran mereka, sehingga agama Allah yang Haq menjadi tinggi dan runtuhlah panji syaitan dan para pembantunya.

Dan dengan ini perlu diketahui bagi setiap orang yang jauh dan yang dekat, bagi orang alim maupun jahil, dan yang sepakat maupun yang berselisih, bahwa Allah azza wa jalla tatkala menurunkan firman nya Ta’ala : 

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا 

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian , dan telah Ku-cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagi kalian.” QS: Al-Maidah: 3

Dengan ini Allah menjelaskan bahwa agama yang yang wajib diambil dan wajib untuk menyelisihi agama yang lainnya, itulah agama yang telah Dia sempurnakan dengan perantara Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, yang dimana Allah telah berfirman tentangnya :

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” QS: Al-Imran: 85

Suatu agama yang lengkap, komplit dan sempurna, maka setiap ucapan, perbuatan, maupun keyakinan yang bukan dari agama Allah azza wa jalla, walaupun dalam pandangan pelakunya itu adalah baik, maka itu adalah tetap, suatu yang batil dan jalan yang bengkok dan merupakan sebab kerugian. Dan perlu diketahui hal ini : “Betapa banyak orang yang ingin kebaikan dan tidaklah amal itu dengan sendirinya cukup, apabila berlandaskan kesesatan dan penyelewengan.” 

Syaikhain telah meriwayatkan hadits Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu tentang sifat khawarij :

قومٌ أحداث الأسنان سفهاء الأحلام ليست صلاتكم إلى صلاتهم بشيء ، ولا صيامكم إلى صيامهم بشيء ! ولا قراءتكم إلى قراءتهم بشيء يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرمية

“Suatu kaum yang usianya muda, orang-orang bodoh, yang shalat kalian bukanlah apa-apa dibandingkan shalat mereka, begitu pula puasa kalian dibandingkan puasa mereka, tidak pula bacaan kalian dengan bacaan mereka, mereka lepas dari agama, sebagaimana lepasnya anak panah dari busur nya”.

Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam kesempatan yang lain menyebutkan mereka dengan :

كلاب النار

“Anjing anjing neraka”.

Sebagai mana dalam hadits Abu Umamah dalam riwayat Ahmad dan yang lainnya. 

Maka agama yang benar, sunnah yang jelas, dan jalan yang terang, merupakan pertengahan antara berlebihan dan antipati, dan pertengahan antara yang keras dan yang lembek, maka hendaklah waspada akan hal ini. 

Dan hal ini adalah sebagaimana yang Allah azza wa jalla firmankan : 

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” QS: Al-Mulk: 2

Dan sebagai mana firman Ta’ala : 

نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا

 “Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” QS: Al-Insan: 2

Dan tidak akan bisa keluar dari ujian bagaikan emas merah, kecuali mereka yang selalu menaati Allah azza wa jalla dan berjalan sesuai sunnah Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam, baik dalam hal yang kecil dan besar, yang sedikit maupun yang banyak, jika tidak, maka semuanya akan hancur, mereka orang-orang yang ghuluw dalam agama, sungguh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda : 

هلك المتنطعون

“Celaka lah orang yang berlebih lebihan”. sebanyak tiga kali. Sebagaimana dalam riwayat Muslim, dari hadits Ibnu Mas’ud. 

Dan begitu pula orang-orang yang lembek dan antipati (meremehkan) dari kalangan pelaku bid’ah dan maksiat, baik berupa zina, kekejian, tabarruj, wanita yang tidak memakai hijab, dan meminum khamr. 

Dan diantara orang-orang yang telinga mereka sudah menjadi tempat bagi para pelawak laki-laki dan perempuan dari para biduan, sebagai mana hadits :

فمن كانت فترته إلى سنتي فقد رشد ؛ ومن كانت فترته إلى غير ذلك فقد هلك

“Barang siapa yang futurnya kepada sunnahku, maka dia tertunjuki, dan siapa saja yang futurnya kepada selainnya, maka ia telah binasa “

Dan orang yang mengamati keadaan kebanyakan kaum muslimin sekarang, dia akan melihat segala kejelekan dari sisi akhlak, pergaulan, keyakinan dan ibadah. Kemudian setelah itu kita melihat banyak dari mereka mengharapkan kemenangan, kekuasaan dan kemuliaan yang nyata.  Amat jauh dan amat jauh, dikarenakan pertolongan itu diharuskan adanya pertolongan juga. 

إِنْ تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ

“Jika kalian menolong allah, niscaya allah akan menolong kalian” QS: Muhammad: 7

Dan hal ini perlu diketahui bagi setiap orang yang memiliki secuil akal yang dia jadikan untuk mencari petunjuk dan orang yang masih memiliki sedikit keimanan yang dia ikuti. Dan apa yang terjadi pada ummat dari kemerosotan dan ketidak acuhan, kerendahan dan kehinaan, tidak lain disebabkan perkara-perkara yang telah disebutkan, yang merupakan penyelewengan dari syari’at dan meniti jalan yang tidak diridhai. Dan hasil ini, permulaan dan pendahuluanya adalah kebodohan terhadap agama. Dan tatkala kebodohan berada pada kedudukan seperti ini maka dakwah rosul adalah dakwah ilmu, maka dakwah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah dakwah ilmu, sebagaimana firman Allah azza wa jalla :

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ” [العلق : 1

“Bacalah dengan nama Rabb mu yang telah menciptakan.” QS: Al-Alaq: 1

Maka permulaan nubuwat adalah seruan kepada ilmu.

Dan pertengahannya :

 قُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْماً

“Dan katakanlah wahai Rabb ku berilah aku tambahan ilmu” QS: Thaha: 114

Dan akhirnya adalah peringatan akan diangkatnya ilmu, dan bahwasanya warisan Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah ilmu, maka siapa saja yang mengambilnya, maka dia telah mengambil bagian yang banyak. 

Dan harapan yang besar kepada Allah agar mengembalikan ummat ini kepada petunjuknya, dan mengangkat segala bala’ dan dan musibah yang menimpanya. 

Wallahul musta’an. 

Dan hanya kepada-Nya bertawakkal. Dan segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. 

Ditulis oleh  : Asy-Syaikh Abu Muhammad  Abdul  Hamid  bin Yahya Al-Hajuriy Az-Za’kariy hafidzahullah di  Qohiroh 12  Rabiul awal 1430 H

Dikirim kepada kami Ahad 20 Safar 1438 / 20 November 2016

Alih bahasa : Abu  Adam Abdan Syakur  Al-Baliy hafidzahullah

Naskah  Asli 

أقسام الخلاف والتعامل مع المخالفين

macam-macam-bentuk-perbedaan-dan-pergaulan-bersama-orang-orang-berselisih

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله ربّ العالمين ، الملك الحق المبين ، العلي الحكيم ، وأشهد أن لا إله إلا الله ، وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله ؛ وصفيه من خلقه وخليله – صلى الله عليه وعلى آله وصحبه والتابعين – ، أما بعد :

فإن الله – عز وجل – خلقنا لطاعته وعبادته ، فقال : ” وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ” [الذاريات : 56] ، وقال تعالى : ” وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً ” [النساء : 36] ، وأرسل الرسل ؛ وأنزل الكتب لتحقيق هذا الأصل العظيم ، فقال : ” وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ ” [النحل : 36] ، وأمر بطاعته وطاعة رسوله فقال : ” وَأَطِيعُواْ اللّهَ وَالرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ ” [آل عمران : 132] ، وقال : ” وَمَن يُطِعِ اللّهَ وَالرَّسُولَ فَأُوْلَـئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاء وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَـئِكَ رَفِيقاً ” [النساء : 69] ، وكان من طاعة الله – عز وجل – ؛ الحب في الله والبغض في الله ، فقد جاء في بعض ما روي عن النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – ، وصح عنه : [ إن من أوثق عرى الإيمان الحب في الله والبغض في الله ] والحب في الله – سبحانه وتعالى – إنما يكون لمن التزم شرع الله – عز وجل – وسنة رسوله – صلى الله عليه وآله وسلم – ، واعتصم بما في الكتاب والسنة ؛ قال تعالى : ” وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعاً وَلاَ تَفَرَّقُواْ ” [آل عمران : 103] ، بعد قوله : ” وَمَن يَعْتَصِم بِاللّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ ” [آل عمران : 101] ، وقضى الله – عز وجل – وحكم أن العباد في اختلاف إلا من رحم فقال : ” وََلاَ يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ * إِلاَّ مَن رَّحِمَ رَبُّكَ وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ ” [هود :118 – 119] .

والإختلاف على أقسام :

النوع الأول : إختلاف تنوع وهذا يحصل بسبب توارد الأدلة على نوع واحد من العبادات ! فيعمل بهذا الدليل تارة ، وبذلك أخرى ؛ كتوارد الأدلة على صفة افتتاح الصلاة ، أو صيغ التشهد ، أو صيغ الصلاة على النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – .

وهذا الإختلاف لا يُذم فاعله بحال لأنه عامل بالدليل في الموطنين ، ومتبع لآثار الرسول – صلى الله عليه وآله وسلم – ، بل قد يتعين التنويع ! من باب إعمال جميع الأدلة ، وإظهار السنن ، وكذلك الترويح على النفس ، إلى غير ذلك مما هو معلوم من مقاصد الشريعة .

النوع الثاني : اختلاف أفهام ! وهذا يكون في مسألة جاء فيها النص فاختُلف في العمل بهذا النص نظرًا للإختلاف في فهم المراد ، مثل الخلاف في القرء هل هو الحيض أم الطهر؟ والإختلاف في دبر الصلاة هل هو بعد السلام أم قبل السلام ؟ وما طبّقهُ الصحابة في حديث : [ من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يصلين العصر إلا في بني قريظة ] ، فقد فهم بعضهم من الحديث الحث على سرعة السير ويصلي حيث شاء في الوقت ! وفهم البعض الآخر تأخير الصلاة ولو لبعد ذهاب وقتها !! وهذا النوع من الخلاف أيضا يصوغ فيه العذر لأن العامل بأحدهما مأجور غير مأزور، إما أجران مع الإصابة وإما أجرٌ مع عدم الإصابة بعد بذله لجهده في الوصول إلى الحق والصواب ؛ يدل على ذلك حديث عمرو بن العاص : [ إذا حكم الحاكم فاجتهد فأصاب فله أجران ؛ فإن أخطأ فله أجر ] .

النوع الثالث : اختلاف التضاد ؛ وهذا يكون في المسائل التي فيها الحق واحد وما سواه باطل ، كاختلافنا مع المعتزلة في نفيهم صفات الباري – جل وعز – ، مع أن الحق الذي عليه إجماع أهل السنة والجماعة أن الله – عز وجل – موصوف بما وصف به نفسه في كتابه ، وبما وصفه به رسوله – صلى الله عليه وآله وسلم – من غير تكييف ولا تمثيل ولا تحريف ولا تعطيل ، وكخلاف الخوارج لأهل السنة في الحكم على أصحاب الكبائر من أمة محمد – صلى الله عليه وآله وسلم – بالكفر ثم الخلود في النار ، أو كقول المعتزلة بأن فاعل الكبيرة في الدنيا في منزلة بين المنزلتين ! لا مؤمن ولا كافر ! وفي الآخرة وافقوا الخوارج في الحكم بخلوده في النار ! ، وهذا خلاف ما عليه السلف الصالح رضوان الله – عز وجل – عليهم ؛ بأن مرتكب الكبيرة فيما خلا الشرك بالله عز وجل مؤمن بإيمانه فاسق بمعصيته ؛ وغير ذلك مما خالف فيه أهل الباطل من أهل البدع ؛ كالرافضة والمعتزلة والأشاعرة والخوارج والمرجئة والقدرية والجهمية ؛ وغيرهم ؛ أهل الحق والأثر الطائفة المنصورة ؛ الفرقة الناجية السلفيين ، فالمحالف لأهل السنة في مسائل الإيمان والإعتقاد والأسماء والصفات مبتدعة ضلال لأنهم يخالفون النص الصريح والعقل الصحيح بشبهات عند مناقشتها أوهى من خيط العنكبوت ! وهذه الشبهات التي يتخذونها دينًا قد حذرنا رسول الله – صلى الله عليه وآله وسلم – من سماع مر

وجِيها بقوله لعائشة – رضي الله – عنها : [ فإذا رأيتم الذين يتبعون ما تشابه منه فأولئك الذين سمَى الله فاحذروهم ] ، ثم تلا قوله تعالى : ” فَأَمَّا الَّذِينَ في قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاء الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاء تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ اللّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُواْ الألْبَابِ ” [آل عمران : 7] ، ومع هذا الخلاف أيضا مخالفة الإخوان المسلمين ؛ والسرورية ؛ وأصحاب الجمعيات ؛ لأهل الحديث والأثر والفقه والنظر ؛ الذين هم لكتاب الله متبعون وبسنة رسوله – صلى الله عليه وآله وسلم – معتصمون ؛ وبهدي السلف آخذون ، فذهب من أذكر لك من المبطلين إلى الولاء والبراء الضيق ! يوالون من كان معهم ! ولو كان من فساق المسلمين ، ويعادون أهل السنة ( !! ) مع أنهم بكتاب الله معتصمين وبهدي رسوله متمسكين .

وكذلك اعتقادهم لمعتقدات مخالفة لهدي السلف مع تفاوتٍ في أفرادهم وجماعاتهم من حيث التكفير والخروج والبيعة والسرية والعصبية الجاهلية وغير ذلك ؛ مما هو مدون عليهم في غير ما كتاب منشور ؛ وما هو مسموع ومسطور ؛ فهذا الصنف الذي ذُكر ، والذي عن طريقة النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – وهدية بُتر ينبغي لكل صاحب حق أن يحذِّر من طَرْقِهم وسبلهم ، فسبيل الله – عز وجل – واحد وما سواه باطل ، قال تعالى : ” وَأَنَّ هَـذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن ” [الأنعام : 153] ، والكلام في هذا الصنف من المخالفين جهاد في سبيل الله – عز وجل – لأن الجهاد يكون بالسٍنان ؛ ويكون بالحجة والبرهان ، وقد قال الله تعالى لنبيه – صلى الله عليه وآله وسلم – : ” يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ ” [التوبة : 73] ، وكان جهاد رسول الله – صلى الله عليه وآله وسلم – للمنافقين باللسان ، وما ورد أنه قاتلهم بالسِنان ! وإنما بيّن عوارهم ؛ وأخمد نارهم ! بذكر صفاتهم وشرِّهم حتى يحذرهم الناس فلنكن لسبيله آخذين ؛ وبسنته معتصمين ؛ ولمن خالف هديه وطريقه وسبيله مجاهدين ؛ ولأفكارهم نابذين ،حتى يعلو دين الله الحق وتُنكس راية الشيطان وأعوانه .

هذا وليُعلم لدى القاصي والداني ؛ والعالم والجاهل ؛ والموافق والمخالف أن الله – عز وجل – لما أنزل قوله تعالى : ” الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً ” [المائدة : 3] ، مبينًا أن الدين الذي يحب الأخذ به والمخالفة لغيره هو الدين الذي أكمله برسول الله – صلى الله عليه وآله وسلم – وهو الذي قال عنه : ” وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ ” [آل عمران : 85] ، الدين الكامل الشامل التام ، فكل قول أو فعل أو اعتقاد ليس من دين الله – عز وجل – وإن كان في نظر صاحبه حسنًا فهو دين باطل ! وطريق معوج وسبب للخسارة ليُعلم هذا : [ فكم من مريد للخير لم يدركه ] ، والعمل وحده ليس بكافٍ إذا كان مبنيا على الضلالة والمخالفة ، فقد روى الشيخان من حديث علي بم أبي طالب – رضي الله عنه – في وصف الخوارج : [ قومٌ أحداث الأسنان سفهاء الأحلام ليست صلاتكم إلى صلاتهم بشيء ، ولا صيامكم إلى صيامهم بشيء ! ولا قراءتكم إلى قراءتهم بشيء يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرمية ] ، وسمّاهم في موطن آخر [ كلاب النار ] ، كما في حديث أبي أمامة عند أحمد وغيره ، فالدين الحق والسنة الواضحة والطريق اللاحب هو وسط بين الغلو والجفاء ، والتشديد والتمييع فليتنبه لهذا الأمر .

والأمر كما قال الله – عز وجل – : ” لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ ” [الملك : 2] ، وكما قال تعالى : ” نَّبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعاً بَصِيراً ” [الإنسان : 2] ، فلن يخرج من الابتلاء كالذهب الأحمر ! إلا من لازم طاعة الله – عز وجل – وسار على سنة رسوله – صلى الله عليه وآله وسلم – في الصغير والكبير والقليل والكثير ، وإلا فكلٌ هالك ! أصحاب الغلو في الدين فقد قال رسول الله – صلى الله عليه وآله وسلم – : [ هلك المتنطعون ] ثلاثا ، كما في مسلم من حديث ابن مسعود – رضي الله عنه – وكذلك أصحاب التمييع والجفاء من أصحاب البدع والمعاصي من زنا وفجور وتبرج وسفور وشرب خمور ! وممن أصبحت آذانهم مستنقع للماجنين والماجنات من الأقيان والقينات ، لحديث : [ فمن كانت فترته إلى سنتي فقد رشد ؛ ومن كانت فترته إلى غير ذلك فقد هلك ] ، والناظر الآن في حال كثير من المسلمين يرى كل مشين ! في الأخلاق والمعاملات والاعتقادات والعبادات ! ثم بعد ذلك نرى كثيرًا منهم يرجون النصر والتمكين والعز المبين !! وهيهات هيهات لأن النصر مشروط بالنصر ( !! ) : ” إِنْ تَنصُرُوا اللَّهَ

يَنصُرْكُمْ ” [محمد : 7] ، ليَعلم هذا كل من بقي لديه مُزعة من عقل يسترشد به أو وازع من دين ينقاد له .

وما وصلت إليه الأمة من الإنحطاط والخذلان ؛ والذلة والهوان إلا بسبب ما تقدم ذكره من المخالفات الشرعية وسلوك غير السبيل المرضية ؛ وهذه النتيجة كانت مقدمتها والممهدة لها ؛الجهل بدين الله ربّ العالمين ، ولما كان الجهل بهذه المنزلة كانت دعوة الرسول – صلى الله عليه وآله وسلم – دعوة علم كما قال الله – عز وجل – : ” اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ” [العلق : 1] ، فمبدأ النبوة الدعوة إلى العلم ! ، وأوسطها : ” َقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْماً ” [طه : 114] ، وآخرها التحذير من رفع العلم والإخبار بأن إرث النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – هو العلم فمن أخذه أخذ بحظ وافر ، والأمل في الله عظيم أن يرد هذه الأمة إلى رشدها ، ويرفع عنها ما هي فيه من البلاء ، والله المستعان ؛ وعليه التكلان ؛ والحمد لله ربّ العالمين .

وكتب

أبو محمد عبد الحميد الحجوري

– القاهرة ?

12 / ربيع الثاني / 1430 هـ

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: