“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

Talaq dan Iddah

talaq

Pertanyaan : بسم الله  Pada surat At Talaq ayat 4 berbunyi : “Dan perempuan-perempuan  yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya”

Seperti apa tafsir dari ayat tersebut untuk perempuan-perempuan yang hamil, apakah untuk perempuan yang sudah bersuami lalu meninggal suaminya atau perempuan yang belum menikah dan berzina? Mohon penjelasannya ustadz.    بارك الله فيك 

Jawab : Bismillaah…Baarokallohufiikum…insyaAlloh kami akan memberikan beberapa faedah yang sangat berharga insya Alloh ta’aala yaitu :

MENGENAI KEADAAN WANITA ATAU ISTRI YANG DI CERAI.

  1. Jika wanita tersebut (dalam keadaan tidak hamil) kemudian di talak dengan talak 1-2, (seorang suami masih ada kesempatan /diperbolehkan untuk kembali kepada istrinya), maka masa iddahnya untuk masing-masing talak tersebut adalah : TIGA KALI SUCI/TIGA KALI HAIDH , Alloh ta’aala berfirman :

ﻭﺍﻟْﻤُﻄَﻠَّﻘَﺎﺕُ ﻳَﺘَﺮَﺑَّﺼْﻦَ ﺑِﺄَﻧﻔُﺴِﻬِﻦَّ ﺛَﻠَﺎﺛَﺔَ ﻗُﺮُﻭﺀٍ ۚ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﺤِﻞُّ ﻟَﻬُﻦَّ ﺃَﻥ ﻳَﻜْﺘُﻤْﻦَ ﻣَﺎ ﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻓِﻲ ﺃَﺭْﺣَﺎﻣِﻬِﻦَّ ﺇِﻥ ﻛُﻦَّ ﻳُﺆْﻣِﻦَّ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟْﻴَﻮْﻡِ ﺍﻟْﺂﺧِﺮِ ۚ ﻭَﺑُﻌُﻮﻟَﺘُﻬُﻦَّ ﺃَﺣَﻖُّ ﺑِﺮَﺩِّﻫِﻦَّ ﻓِﻲ ﺫَٰﻟِﻚَ ﺇِﻥْ ﺃَﺭَﺍﺩُﻭﺍ ﺇِﺻْﻠَﺎﺣًﺎ ۚ ﻭَﻟَﻬُﻦَّ ﻣِﺜْﻞُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻦَّ ﺑِﺎﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ ۚ ﻭَﻟِﻠﺮِّﺟَﺎﻝِ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻦَّ ﺩَﺭَﺟَﺔٌ ۗ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﺰِﻳﺰٌ ﺣَﻜِﻴﻢٌ.

“Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan Hari Akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan lebih daripada istrinya. Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. Al-Baqarah: 228).

  1. Jika si wanita atau istri tersebut (dalam keadaan hamil) maka masa iddahnya berlaku umum yaitu : HINGGA MELAHIRKAN KANDUNGANNYA baik karena di ceraikan atau di tinggal mati suaminya.

Alloh ta’aala berfirman :

ﻭﺃُﻭﻟَﺎﺕُ ﺍﻟْﺄَﺣْﻤَﺎﻝِ ﺃَﺟَﻠُﻬُﻦَّ ﺃَﻥْ ﻳَﻀَﻌْﻦَ ﺣَﻤْﻠَﻬُﻦَّ

“Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya .” (QS. Ath Tholaq: 4).

Para ulama berdalilkan dengan ayat di atas bahwa para istri yang di ceraikan, ditinggal mati suaminya (dalam keadaan hamil), dan wanita hamil karena zina, maka masa iddahnya adalah : MELAHIRKAN KANDUNGANNYA.

RINCIAN RINCIAN YANG LAINNYA :

Adapun jika istri yang di tinggal mati suaminya dalam keadaan  tidak hamil atau belum sempat jima’ (berhubungan badan), maka masa iddahnya adalah EMPAT BULAN lebih SEPULUH HARI sebagaimana firman Alloh ta’aala :

ﻭﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳُﺘَﻮَﻓَّﻮْﻥَ ﻣِﻨﻜُﻢْ ﻭَﻳَﺬَﺭُﻭﻥَ ﺃَﺯْﻭَﺍﺟًﺎ ﻳَﺘَﺮَﺑَّﺼْﻦَ ﺑِﺄَﻧﻔُﺴِﻬِﻦَّ ﺃَﺭْﺑَﻌَﺔَ ﺃَﺷْﻬُﺮٍ ﻭَﻋَﺸْﺮًﺍ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺑَﻠَﻐْﻦَ ﺃَﺟَﻠَﻬُﻦَّ ﻓَﻠَﺎ ﺟُﻨَﺎﺡَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻓِﻴﻤَﺎ ﻓَﻌَﻠْﻦَ ﻓِﻲ ﺃَﻧﻔُﺴِﻬِﻦَّ ﺑِﺎﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ ﻭَﺍﻟﻠَّـﻪُ ﺑِﻤَﺎ ﺗَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ ﺧَﺒِﻴﺮٌ

“Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’iddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis ‘iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat .” (QS. Al Baqarah: 234)

Adapun jika istri yang di ceraikan tersebut sudah berhenti masa haidhnya dalam artian sudah tidak bisa haidh lagi(monopause) atau perempuan yang tidak bisa haidh , maka iddahnya adalah : TIGA BULAN.

ﻭﺍﻟﻠَّﺎﺋِﻲ ﻳَﺌِﺴْﻦَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤَﺤِﻴﺾِ ﻣِﻦْ ﻧِﺴَﺎﺋِﻜُﻢْ ﺇِﻥِ ﺍﺭْﺗَﺒْﺘُﻢْ ﻓَﻌِﺪَّﺗُﻬُﻦَّ ﺛَﻠَﺎﺛَﺔُ ﺃَﺷْﻬُﺮٍ ﻭَﺍﻟﻠَّﺎﺋِﻲ ﻟَﻢْ ﻳَﺤِﻀْﻦَ…

“Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), maka masa iddah mereka adalah tiga bulan, dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid…” (QS. Ath Tholaq: 4).

Adapun Jika wanita di tinggal mati suaminya setelah akad walaupun belum berhubungan suami istri (jima’), maka tetap menjalani iddah selama empat bulan sepuluh hari. Berbeda dengan wanita yang di ceraikan setelah akad namun belum sempat jima’, maka yang seperti ini tidak ada kewajiban bagi wanita tersebut untuk menunggu iddah yang harus di sempurnakan. 

Dalilnya adalah firman Alloh ta’aala :

ﻳﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁَﻣَﻨُﻮﺍ ﺇِﺫَﺍ ﻧَﻜَﺤْﺘُﻢُ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨَﺎﺕِ ﺛُﻢَّ ﻃَﻠَّﻘْﺘُﻤُﻮﻫُﻦَّ ﻣِﻦْ ﻗَﺒْﻞِ ﺃَﻥْ ﺗَﻤَﺴُّﻮﻫُﻦَّ ﻓَﻤَﺎ ﻟَﻜُﻢْ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻦَّ ﻣِﻦْ ﻋِﺪَّﺓٍ ﺗَﻌْﺘَﺪُّﻭﻧَﻬَﺎ ﻓَﻤَﺘِّﻌُﻮﻫُﻦَّ ﻭَﺳَﺮِّﺣُﻮﻫُﻦَّ ﺳَﺮَﺍﺣًﺎ ﺟَﻤِﻴﻠًﺎ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan- perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya maka sekali-sekali tidak wajib atas mereka ‘iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya. Maka berilah mereka mut’ah (hadiah untuk membuat mereka senang) dan lepaskanlah mereka itu dengan cara yang sebaik- baiknya” (QS. Al Ahzab: 49).

Yang  terakhir… Jika si wanita tersebut sudah di talak dengan talak 3, maka si suami tidak boleh balik lagi kepada istrinya, kecuali istrinya harus di nikahi sama orang lain kemudian di ceraikan (sama suami yang kedua tersebut).

Alloh ta’aala berfirman :

ﻓﺈِﻥ ﻃَﻠَّﻘَﻬَﺎ ﻓَﻼَ ﺗَﺤِﻞُّ ﻟَﻪُ ﻣِﻦ ﺑَﻌْﺪُ ﺣَﺘَّﻰ ﺗَﻨﻜِﺢَ ﺯَﻭْﺟﺎً ﻏَﻴْﺮَﻩُ ﻓَﺈِﻥ ﻃَﻠَّﻘَﻬَﺎ ﻓَﻼَ ﺟُﻨَﺎﺡَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻤَﺂ ﺃَﻥ ﻳَﺘَﺮَﺍﺟَﻌَﺂ ﺇِﻥ ﻇَﻨَّﺎ ﺃَﻥ ﻳُﻘِﻴﻤَﺎ ﺣُﺪُﻭﺩَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺗِﻠْﻚَ ﺣُﺪُﻭﺩُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻳُﺒَﻴِّﻨُﻬَﺎ ﻟِﻘَﻮْﻡٍ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ

“Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan istri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akaan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkanNya kepada kaum yang (mau) mengetahui.” (Al-Baqarah: 230).

Dan perlu diketahui bahwa : ucapan cerai, misalkan : (أنتِ طالق) maka menurut pendapat yang shohih adalah tetap di hitung satu walaupun di ucapkan tiga kali sekaligus dalam satu majelis. Jadi si wanita terkena talak  satu (1). wallohu a’lam.

Dijawab oleh

Ustadz Abu Zakariyya Harits Al-Jabaliy Al-Jawiy hafidzahullah

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: