“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

minhajul-anbiya

PENGANTAR PENULIS

ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ
ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﺣﻤﺪﺍ ﻛﺜﻴﺮﺍ ﻣﺒﺎﺭﻛﺎ ﻓﻴﻪ ﻛﻤﺎ ﻳﺤﺐ ﺭﺑﻨﺎ ﻭﻳﺮﺿﻰ , ﻭﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻣﺤﻤﺪﺍ ﻋﺒﺪﻩ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ . ﺃﻣﺎ ﺑﻌﺪ:

Tulisan ini merupakan salah satu dari tulisan kami yang berjudul “MINHAJUT TABI’IN FII MUKHALAFATIL MUQALLIDIN” yang kemudian saudara kami Al-Ustadz Abu Zakariya Harits Al-Jabaliy Al-Jawiy Hafizhahullah menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia, semoga Allah membalasnya dengan kebaikan dan menjadikan kami dan beliau selalu di atas As-Sunnah dan istiqamah di atasnya.

ﻭﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ

Ditulis oleh hamba yang faqir atas ampunan Robbnya
Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir Al-MulkiyDi Darul Hadits Dammaj-Yaman.

******

METODE ORANG-ORANG MENGIKUTI DALIL
DALAM MENYELISIHI ORANG-ORANG TAQLID YANG TIDAK BERDALIL

بسم الله الرحمن الرحيم
ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠَّﻪِ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺃَﻧْﺰَﻝَ ﻋَﻠَﻰ ﻋَﺒْﺪِﻩِ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏَ ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﺠْﻌَﻞْ ﻟَﻪُ ﻋِﻮَﺟًﺎ ﻗَﻴِّﻤًﺎ ﻟِﻴُﻨْﺬِﺭَ ﺑَﺄْﺳًﺎ ﺷَﺪِﻳﺪًﺍ ﻣِﻦْ ﻟَﺪُﻧْﻪُ ﻭَﻳُﺒَﺸِّﺮَ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺎﺕِ ﺃَﻥَّ ﻟَﻬُﻢْ ﺃَﺟْﺮًﺍ ﺣَﺴَﻨًﺎ ‏ ﺍﻟﻜﻬﻒ 1: – 2

“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya sebuah kitab tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya, sebagai bimbingan yang lurus untuk memperingatkan akan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih bahwa mereka akan mendapatkan balasan yang baik”. (QS: Al-Kahfi: 1-2)

Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutusnya dengan agama yang lurus dan agama yang kokoh, dan menjadikannya di atas syari’at dari perkaranya, Dia memerintahkannya untuk mengikutinya, dan Dia memerintahkannya untuk mengatakan:

( ﻫَﺬِﻩِ ﺳَﺒِﻴﻠِﻲ ﺃَﺩْﻋُﻮ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻋَﻠَﻰ ﺑَﺼِﻴﺮَﺓٍ ﺃَﻧَﺎ ﻭَﻣَﻦِ ﺍﺗَّﺒَﻌَﻨِﻲ ‏) ‏[ ﻳﻮﺳﻒ : 108 ]

Ini adalah jalanku dan aku menyeru kepada Allah di atas ilmu, saya dan orang-orang yang mengikutiku ” (QS: Yusuf: 18)

Shalawat dan salam dan sebenar-benar keselamatan atasnya. Kemudian dari pada itu:

Sungguh telah kokoh di dalam “Ash-Shahihain” (Al-Bukhari dan Muslim) dari hadits Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

ﻣَﻦْ ﺃَﻃَﺎﻋَﻨِﻰ ﻓَﻘَﺪْ ﺃَﻃَﺎﻉَ ﺍﻟﻠَّﻪَ ، ﻭَﻣَﻦْ ﻋَﺼَﺎﻧِﻰ ﻓَﻘَﺪْ ﻋَﺼَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪَ ، ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﻃَﺎﻉَ ﺃَﻣِﻴﺮِﻯ ﻓَﻘَﺪْ ﺃَﻃَﺎﻋَﻨِﻰ ، ﻭَﻣَﻦْ ﻋَﺼَﻰ ﺃَﻣِﻴﺮِﻯ ﻓَﻘَﺪْ ﻋَﺼَﺎﻧِﻰ

Barang siapa yang mentaatiku maka sungguh dia telah mentaati Allah dan barang siapa yang bermaksiat kepadaku maka sungguh dia telah bermaksiat kepada Allah dan barang siapa yang mentaati pemimpinku maka sungguh dia telah mentaatiku, barang siapa yang memaksiati pemimpinku maka sungguh dia telah memaksiatiku”.

Dan sungguh kitab Allah (Al-Qur’an) telah menunjukkan atas hadits ini sebagaimana perkataan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁَﻣَﻨُﻮﺍ ﺃَﻃِﻴﻌُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺃَﻃِﻴﻌُﻮﺍ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝَ ﻭَﺃُﻭﻟِﻲ ﺍﻟْﺄَﻣْﺮِ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ‏) ‏ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ : 59

Wahai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan ta’atilah Rasul serta ulil amri (umara’ dan ulama’) diantara kalian”. (QS: An-Nisa: 59)

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan untuk mentaati-Nya dan mentaati rasul-Nya serta memerintahkan untuk mentaati ulil amri (yaitu ulama’ dan umara).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengkhabarkan bahwa menta’ati beliau termasuk sebab seseorang masuk Jannah, dan bahwasanya memaksiati beliau termasuk sebab seseorang masuk neraka, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

( ﻛُﻞُّ ﺃُﻣَّﺘِﻰ ﻳَﺪْﺧُﻠُﻮﻥَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ، ﺇِﻻَّ ﻣَﻦْ ﺃَﺑَﻰ ‏» . ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﺄْﺑَﻰ ﻗَﺎﻝَ ‏« ﻣَﻦْ ﺃَﻃَﺎﻋَﻨِﻰ ﺩَﺧَﻞَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ، ﻭَﻣَﻦْ ﻋَﺼَﺎﻧِﻰ ﻓَﻘَﺪْ ﺃَﺑَﻰ ‏) ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ .

Semua umatku akan masuk jannah (surga), kecuali orang-orang yang enggan”. Para shahabat bertanya: Ya Rasulullah siapa orang enggan itu? Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: “Barang siapa yang mentaatiku maka dia kan masuk jannah, dan barang siapa yang memaksiatiku maka sungguh dia telah enggan “. (HR. Bukhariy)

PASAL:
PENYELISIHAN RASUL SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM TERHADAP MUNCULNYA BID’AH DI DALAM ISLAM, DAN KENGERIAN BID’AH TERHADAP KAUM MUSLIMIN ITU SANGATLAH DAHSYAT MAKA SANGAT DITEKANKAN BAGI KAUM MUSLIMIN DAN BAHKAN HARUS BAGI MEREKA UNTUK MENGETAHUINYA DAN WASPADA DARINYA.

Seperti apa yang telah diada-adakan oleh sebagian kaum muslimin dalam da’wah, mulai dari jam’iyah, muassasah (yayasan-yayasan) dan ma’had-ma’had Tarbiyatin Nisa’ dan selainnya dari perkara-perkara baru yang tidak disyari’atkan oleh Allah dan tidak pula rasul-Nya serta tidak pula seorang pun dari kalangan salaf. Maka sungguh telah ada di “Ash-Shahihain” dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

ﻣﻦ ﺃﺣﺪﺙ ﻓﻲ ﺃﻣﺮﻧﺎ ﻫﺬﺍ ﻣﺎ ﻟﻴﺲ ﻣﻨﻪ ﻓﻬﻮ ﺭﺩ

Barang siapa yang mengada-adakan perkara baru dalam urusan (agama) kami ini yang bukan bagian darinya, maka dia tertolak”.

PASAL:
PERINTAH UNTUK MENYELISIHI ORANG-ORANG YANG TAQLID

Allah Ta’ala berkata:

( ﻓَﺎﺳْﺄَﻟُﻮﺍ ﺃَﻫْﻞَ ﺍﻟﺬِّﻛْﺮِ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﻟَﺎ ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ ‏) ‏[ ﺍﻟﻨﺤﻞ : 43 ]

Bertanyalah kepada ahli dzikir jika kalian tidak mengetahui “. (An-Nahl: 43)

Berkata Asy-Syaikh Al-Allamah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah: Taqlid adalah termasuk salah satu penyakit umat-umat terdahulu, Allah Ta’ala berkata:

ﺍﺗَّﺨَﺬُﻭﺍ ﺃَﺣْﺒَﺎﺭَﻫُﻢْ ﻭَﺭُﻫْﺒَﺎﻧَﻬُﻢْ ﺃَﺭْﺑَﺎﺑًﺎ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟْﻤَﺴِﻴﺢَ ﺍﺑْﻦَ ﻣَﺮْﻳَﻢَ ﻭَﻣَﺎ ﺃُﻣِﺮُﻭﺍ ﺇِﻟَّﺎ ﻟِﻴَﻌْﺒﺪُﻭﺍ ﺇِﻟَﻬًﺎ ﻭَﺍﺣِﺪًﺍ ﻟَﺎ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﻫُﻮَ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ ﻋَﻤَّﺎ ﻳُﺸْﺮِﻛُﻮﻥَ ‏      ﺍﻟﺘﻮﺑﺔ 31

Mereka menjadikan ulama-ulama dan rahib-rahib mereka sebagai sesembahan selain Allah, dan (begitu pula) Al-Masih Ibnu Maryam. Dan tidaklah mereka diperintah melainkan supaya mereka beribadah kepada sesembahan yang satu saja (yakni Allah) yang tidak ada sesembahan kecuali Dia, Maha Suci Allah terhadap apa-apa yang mereka persekutukan“. (At-Taubah: 31 ).

Allah Ta’ala juga berkata:

( ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻗِﻴﻞَ ﻟَﻬُﻢْ ﺗَﻌَﺎﻟَﻮْﺍ ﺇِﻟَﻰ ﻣَﺎ ﺃَﻧْﺰَﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝِ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺣَﺴْﺒُﻨَﺎ ﻣَﺎ ﻭَﺟَﺪْﻧَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺁَﺑَﺎﺀَﻧَﺎ ﺃَﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﺁَﺑَﺎﺅُﻫُﻢْ ﻟَﺎ ﻳَﻌْﻠَﻤﻮﻥَ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﻬْﺘَﺪُﻭﻥَ ‏) ‏[ ﺍﻟﻤﺎﺋﺪﺓ 104: ].

Jika dikatakan kepada mereka: Kemarilah kepada apa-apa yang telah Allah turunkan (Al-Qur’an) dan kepada Rasul-Nya (As-Sunnah)! Mereka menjawab: Cukuplah bagi kami apa-apa yang kami dapatkan dari bapak-bapak kami. Walaupun bapak-bapak mereka itu tidak memiliki ilmu sedikipun dan tidak pula bapak-bapak mereka mendapat petunjuk“. (Al-Maidah: 104)

Dan sungguh Islam telah mencela taqlid ini begitu pula orang-orang yang taqlid, Allah Ta’ala berkata:

( ﻳَﻮْﻡَ ﺗُﻘَﻠَّﺐُ ﻭُﺟﻮﻫُﻬُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﻳَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﻳَﺎ ﻟَﻴْﺘَﻨَﺎ ﺃَﻃَﻌْﻨَﺎ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺃَﻃَﻌْﻨَﺎ ﺍﻟﺮَّﺳﻮﻟَﺎ ‏( 66 ‏) ﻭَﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺇِﻧَّﺎ ﺃَﻃَﻌْﻨَﺎ ﺳَﺎﺩَﺗَﻨَﺎ ﻭَﻛُﺒَﺮَﺍﺀَﻧَﺎ ﻓَﺄَﺿَﻠُّﻮﻧَﺎ ﺍﻟﺴَّﺒِﻴﻠَﺎ ‏) ‏[ ﺍﻷﺣﺰﺍﺏ 66: ، 67 ].

Pada suatu hari nanti (hari kiamat) akan dibulak-balik wajah-wajah mereka di dalam neraka. Maka mereka mengatakan (dengan penuh penyesalan): Seandainya dahulu (ketika di dunia) kami mentaati Allah dan Rasul-Nya. Dan mereka berkata: Wahai Robb kami! Sesungguhnya kami telah membebek kepada pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, maka merekalah yang menyesatkan kami dari jalan (Mu)“. (Al-Ahzab: 66-67)

PASAL:
PERINTAH UNTUK MENYELISIHI FANATISME

Dan termasuk dari perkara yang tercela adalah ‘ashobiyyah (fanatik) terhadap teman atau mazhab walaupun di atas kebatilan:

( ﻭَﺗَﻌَﺎﻭَﻧُﻮﺍ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺒِﺮِّ ﻭَﺍﻟﺘَّﻘْﻮَﻯ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻌَﺎﻭَﻧُﻮﺍ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺈِﺛْﻢِ ﻭَﺍﻟْﻌُﺪْﻭَﺍﻥِ ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺷَﺪِﻳﺪُ ﺍﻟْﻌِﻘَﺎﺏِ ‏) ‏[ ﺍﻟﻤﺎﺋﺪﺓ : 2 ].

Dan tolong menolonglah kalian di atas kebaikan dan taqwa dan janganlah tolong menolong di atas dosa dan permusuhan. dan bertaqwalah kalian kepada Allah. sesungguhnya Allah sangatlah pedih siksaan-(Nya)“. (Al-Maidah: 2)

Allah Ta’ala juga berkata:

( ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁَﻣَﻨُﻮﺍ ﻛُﻮﻧُﻮﺍ ﻗَﻮَّﺍﻣِﻴﻦَ ﺑِﺎﻟْﻘِﺴْﻂِ ﺷُﻬَﺪَﺍﺀَ ﻟِﻠَّﻪِ ﻭَﻟَﻮْ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻜُﻢْ ﺃَﻭِ ﺍﻟْﻮَﺍﻟِﺪَﻳْﻦِ ﻭَﺍﻟْﺄَﻗْﺮَﺑِﻴﻦَ ﺇِﻥْ ﻳَﻜُﻦْ ﻏَﻨِﻴًّﺎ ﺃَﻭْ ﻓَﻘِﻴﺮًﺍ ﻓَﺎﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻭْﻟَﻰ ﺑِﻬِﻤَﺎ ﻓَﻠَﺎ ﺗَﺘَّﺒِﻌُﻮﺍ ﺍﻟْﻬَﻮَﻯ ﺃَﻥْ ﺗَﻌْﺪِﻟُﻮﺍ ﻭَﺇِﻥْ ﺗَﻠْﻮُﻭﺍ ﺃَﻭْ ﺗُﻌْﺮِﺿُﻮﺍ ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻛَﺎﻥَ ﺑِﻤَﺎ ﺗَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ ﺧَﺒِﻴﺮًﺍ ‏[ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ : 135

Wahai orang-orang yang beriman jadilah kalian orang-orang yang benar-benar sebagai penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan para kerabatmu, meskipun ia kaya atau miskin, maka Allah lebih mengetahui kemaslahatannya. maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau berpaling dari menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan”. (An-Nisa’: 13)

Dan telah ada di dalam “Shahih Muslim”, dari hadits Abu Hurairah, dari Nabi
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwasanya beliau berkata:

(( ﻣَﻦْ ﺧَﺮَﺝَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻄَّﺎﻋَﺔِ ﻭَﻓَﺎﺭَﻕَ ﺍﻟْﺠَﻤَﺎﻋَﺔَ ﻓَﻤَﺎﺕَ ﻣَﺎﺕَ ﻣِﻴﺘَﺔً ﺟَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔً ﻭَﻣَﻦْ ﻗَﺎﺗَﻞَ ﺗَﺤْﺖَ ﺭَﺍﻳَﺔٍ ﻋُﻤِّﻴَّﺔٍ ﻳَﻐْﻀَﺐُ ﻟِﻌَﺼَﺒَﺔٍ ﺃَﻭْ ﻳَﺪْﻋُﻮ ﺇِﻟَﻰ ﻋَﺼَﺒَﺔٍ ﺃَﻭْ ﻳَﻨْﺼُﺮُ ﻋَﺼَﺒَﺔً ﻓَﻘُﺘِﻞَ ﻓَﻘِﺘْﻠَﺔٌ ﺟَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔٌ ﻭَﻣَﻦْ ﺧَﺮَﺝَ ﻋَﻠَﻰ ﺃُﻣَّﺘِﻰ ﻳَﻀْﺮﺏُ ﺑَﺮَّﻫَﺎ ﻭَﻓَﺎﺟِﺮَﻫَﺎ ﻭَﻻَ ﻳَﺘَﺤَﺎﺵَ ﻣِﻦْ ﻣُﺆْﻣِﻨِﻬَﺎ ﻭَﻻَ ﻳَﻔِﻰ ﻟِﺬِﻯ ﻋَﻬْﺪٍ ﻋَﻬْﺪَﻩُ ﻓَﻠَﻴْﺲَ ﻣِﻨِّﻰ ﻭَﻟَﺴْﺖُ ﻣِﻨْﻪ )) .

Barang siapa yang keluar dari ketaatan dan memisahkan diri dari jama’ah maka dia mati dalam keadaan mati jahiliyyah. dan barang siapa yang berperang di bawah bendera fanatime, dia marah karena fanatik atau menyeru kepada fanatik atau menolong karena fanatik kemudian dia terbunuh maka dia mati jahiliyyah, dan barang siapa yang keluar (memisahkan diri) dari umatku, dia memukul orang yang baik dan yang fajir (jahat) dan dia tidak membiarkan hidup dari orang mukminnya dan tidak pula memenuhi terhadap yang membuat perjanjian dengannya maka sungguh dia tidak termasuk dari kami dan kami bukan dari mereka”.

PASAL:
PERINTAH UNTUK MENYELISIHI PENGIKUT HAWA NAFSU

Allah Subhanahu berkata:

( ﻭَﻟَﻘَﺪْ ﺁَﺗَﻴْﻨَﺎ ﺑَﻨِﻲ ﺇِﺳْﺮَﺍﺋِﻴﻞَ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏَ ﻭَﺍﻟْﺤُﻜْﻢَ ﻭَﺍﻟﻨُّﺒُﻮَّﺓَ ﻭَﺭَﺯَﻗْﻨَﺎﻫُﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻄَّﻴِّﺒَﺎﺕِ ﻭَﻓَﻀَّﻠْﻨَﺎﻫُﻢْ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤِﻴﻦَ ‏( 16 ‏) ﻭَﺁَﺗَﻴْﻨَﺎﻫُﻢْ ﺑَﻴِّﻨَﺎﺕٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺄَﻣْﺮِ ﻓَﻤَﺎ ﺍﺧْﺘَﻠَﻔُﻮﺍ ﺇِﻟَّﺎ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِ ﻣَﺎ ﺟَﺎﺀَﻫُﻢُ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢُ ﺑَﻐْﻴًﺎ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻢْ ﺇِﻥَّ ﺭَﺑَّﻚَ ﻳَﻘْﻀِﻲ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻢْ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﻓِﻴﻤَﺎ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻓِﻴﻪِ ﻳَﺨْﺘَﻠِﻔُﻮﻥَ ‏( 17 ‏) ﺛُﻢَّ ﺟَﻌَﻠْﻨَﺎﻙَ ﻋَﻠَﻰ ﺷَﺮِﻳﻌَﺔٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺄَﻣْﺮِ ﻓَﺎﺗَّﺒِﻌْﻬَﺎ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺘَّﺒِﻊْ ﺃَﻫْﻮَﺍﺀَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻟَﺎ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ ‏) ‏[ ﺍﻟﺠﺎﺛﻴﺔ : 18-16]

Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada bani Israil Al-Kitab, kekuasaan dan kenabiaan dan kami berikan rezki-rezki yang baik dan Kami lebihkan atas bangsa-bangsa (pada masanya) dan Kami berikan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata tentang urusan (agama); maka mereka tidak berselisih melainkan sesudah datang kepada mereka ilmu karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. sesungguhnya Robbmu akan memutuskan antara mereka pada hari kiamat terhadap apa yang mereka selalu berselisih padanya. kemudian kami jadikan kamu di atas syari’at, maka ikutlah syari’at tersebut dan janganlah kamu mengikuti keinginan orang-orang yang tidak berilmu“. (Al-Jaatsiyah: 15-18)

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam “Al-Iqtidho’ “ (hal. 30): Allah
Subhanahu mengabarkan bahwasanya Dia telah memberikan nikmat-nikmat kepada bani Isroil dengan nikmat dien (agama) dan nikmat dunia. dan bahwasanya mereka berselisih setelah datang kepada mereka ilmu, diantara mereka saling membenci antara satu dengan yang lainnya, kemudian setelah diutus  Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan suatu syari’at yang Dia menyari’atkannya  dan memerintahkan untuk mengikutinya dan melarang dari mengikuti hawa nafsu orang-orang yang mereka tidak memiliki ilmu. Dan sungguh telah masuk pada orang-orang yang mereka tidak memiliki ilmu; setiap orang yang menyelisihi syari’at-Nya. 

Dan Allah Ta’ala berkata:

( ﻭَﻛَﺬَﻟِﻚَ ﺃَﻧْﺰَﻟْﻨَﺎﻩُ ﺣُﻜْﻤًﺎ ﻋَﺮَﺑِﻴًّﺎ ﻭَﻟَﺌِﻦِ ﺍﺗَّﺒَﻌْﺖَ ﺃَﻫْﻮَﺍﺀَﻫُﻢْ ﺑَﻌْﺪَﻣَﺎ ﺟَﺎﺀَﻙَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢِ ﻣَﺎ ﻟَﻚَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻣِﻦْ ﻭَﻟِﻲٍّ ﻭَﻟَﺎ ﻭَﺍﻕٍ ‏) ‏[ ﺍﻟﺮﻋﺪ : 37 ]

Dan demikianlah Kami telah menurunkan Al-Qur’an itu sebagai perturan (yang benar) dalam bahasa Arob dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang ilmu kepadamu maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa Allah)”. (Ar-Ra’du: 37)

Dan Allah ta’ala berkata:

( ﻭَﻟَﺌِﻦِ ﺍﺗَّﺒَﻌْﺖَ ﺃَﻫْﻮَﺍﺀَﻫُﻢْ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺟَﺎﺀَﻙَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢِ ﻣَﺎ ﻟَﻚَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻣِﻦْ ﻭَﻟِﻲٍّ ﻭَﻟَﺎ ﻧَﺼِﻴﺮٍ ‏) ‏[ ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ : 120 ]

Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang kepadamu ilmu maka Allah tidak akan menjadi pelindung dan penolong bagimu”. (Al-Baqarah: 120)

Dan Allah ta’ala berkata:

( ﻭَﻟَﺌِﻦِ ﺍﺗَّﺒَﻌْﺖَ ﺃَﻫْﻮَﺍﺀَﻫُﻢْ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِ ﻣَﺎ ﺟَﺎﺀَﻙَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢِ ﺇِﻧَّﻚَ ﺇِﺫًﺍ ﻟَﻤِﻦَ ﺍﻟﻈَّﺎﻟِﻤِﻴﻦَ ‏) ‏[ ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ : 145 ]

Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti hawa nafsu mereka (Yahudi dan Nasroni) setelah datang kepadamu ilmu, sesungguhnya kalau begitu kamu termasuk golongan orang-orang yang zhalim”. (QS: Al-Baqarah: 145)

Di tulis oleh:
Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir Al-Mulkiy Al-Andunisiy
di Darul Hadits Dammaj (17/12/1429 H).

AUDIO KAJIAN “MINHAJUT TABI’IN FII MUKHALAFATIL MUQALLIDIN”

Bagian 1

Bagian  2

Bagian  3

img_1490552_48579547_64

ﻣﻨﻬﺎﺝ ﺍﻟﺘﺎﺑﻌﻴﻦ ﻓﻲ ﻣﺨﺎﻟﻔﺔ ﺍﻟﻤﻘﻠﺪﻳﻦ

ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ
( ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠَّﻪِ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺃَﻧْﺰَﻝَ ﻋَﻠَﻰ ﻋَﺒْﺪِﻩِ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏَ ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﺠْﻌَﻞْ ﻟَﻪُ ﻋِﻮَﺟًﺎ ﻗَﻴِّﻤًﺎ ﻟِﻴُﻨْﺬِﺭَ ﺑَﺄْﺳًﺎ ﺷَﺪِﻳﺪًﺍ ﻣِﻦْ ﻟَﺪُﻧْﻪُ ﻭَﻳُﺒَﺸِّﺮَ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺎﺕِ ﺃَﻥَّ ﻟَﻬُﻢْ ﺃَﺟْﺮًﺍ ﺣَﺴَﻨًﺎ ‏) ‏[ ﺍﻟﻜﻬﻒ 1: – 2 ]
ﻭﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺣﺪﻩ ﻻ ﺷﺮﻳﻚ ﻟﻪ ﻭﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻣﺤﻤﺪﺍ ﻋﺒﺪﻩ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ . ﺃﺭﺳﻠﻪ ﺑﺎﻟﺪﻳﻦ ﺍﻟﻘﻴﻢ ﻭﺍﻟﻤﻠﺔ ﺍﻟﺤﻨﻴﻔﻴﺔ ﻭﺟﻌﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﺷﺮﻳﻌﺔ ﻣﻦ ﺍﻷﻣﺮ ﺃﻣﺮﻩ ﺑﺎﺗﺒﺎﻋﻬﺎ ﻭﺃﻣﺮﻩ ﺑﺄﻥ ﻳﻘﻮﻝ ‏( ﻫَﺬِﻩِ ﺳَﺒِﻴﻠِﻲ ﺃَﺩْﻋُﻮ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻋَﻠَﻰ ﺑَﺼِﻴﺮَﺓٍ ﺃَﻧَﺎ ﻭَﻣَﻦِ ﺍﺗَّﺒَﻌَﻨِﻲ ‏) ‏[ ﻳﻮﺳﻒ : 108 ‏] ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺗﺴﻠﻴﻤﺎ .
ﻭﺑﻌﺪ , ﻓﻘﺪ ﺛﺒﺖ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﺤﻴﺤﻴﻦ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﺃَﻥَّ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻗَﺎﻝَ ‏« ﻣَﻦْ ﺃَﻃَﺎﻋَﻨِﻰ ﻓَﻘَﺪْ ﺃَﻃَﺎﻉَ ﺍﻟﻠَّﻪَ ، ﻭَﻣَﻦْ ﻋَﺼَﺎﻧِﻰ ﻓَﻘَﺪْ ﻋَﺼَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪَ ، ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﻃَﺎﻉَ ﺃَﻣِﻴﺮِﻯ ﻓَﻘَﺪْ ﺃَﻃَﺎﻋَﻨِﻰ ، ﻭَﻣَﻦْ ﻋَﺼَﻰ ﺃَﻣِﻴﺮِﻯ ﻓَﻘَﺪْ ﻋَﺼَﺎﻧِﻰ ).
ﻓﻘﺪ ﺩﻝ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ‏( ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁَﻣَﻨُﻮﺍ ﺃَﻃِﻴﻌُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺃَﻃِﻴﻌُﻮﺍ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝَ ﻭَﺃُﻭﻟِﻲ ﺍﻟْﺄَﻣْﺮِ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ‏) ‏[ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ : 59 ] .
ﺃﻣﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﺑﻄﺎﻋﺘﻪ ﻭﻃﺎﻋﺔ ﺭﺳﻮﻟﻪ ﻭﺃﻣﺮ ﺑﻄﺎﻋﺔ ﺃﻭﻟﻲ ﺍﻷﻣﺮ ﻭﻫﻢ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻭﺍﻷﻣﺮﺍﺀ ﻭﻟﻜﻦ ﻃﺎﻋﺔ ﺃﻭﻟﻲ ﺍﻷﻣﺮ ﺑﺸﺮﻁ ﺃﻥ ﻻ ﻳﺄﻣﺮﻭﺍ ﺑﻤﻌﺼﻴﺔ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﺈﻥ ﺃﻣﺮﻭﺍ ﺑﺬﻟﻚ ﻓﻼ ﻃﺎﻋﺔ ﻟﻤﺨﻠﻮﻕ ﻓﻲ ﻣﻌﺼﻴﺔ ﺍﻟﺨﺎﻟﻖ . ﻭﻗﺪ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻤﺼﻄﻔﻰ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ ﺃﻥ ﻃﺎﻋﺔ ﺃﻭﻟﻲ ﺍﻷﻣﺮ ﻣﻦ ﻃﺎﻋﺘﻪ ﻭﺃﻥ ﻃﺎﻋﺘﻪ ﻣﻦ ﻃﺎﻋﺔ ﺍﻟﻠﻪ .
ﻭﺃﺧﺒﺮ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻋﻠﻰ ﺁﻟﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﻥ ﻃﺎﻋﺘﻪ ﺳﺒﺐ ﻟﺪﺧﻮﻝ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻭﺃﻥ ﻣﻌﺼﻴﺘﻪ ﺳﺒﺐ ﻟﺪﺧﻮﻝ ﺍﻟﻨﺎﺭ . ﻓﻌﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻋﻠﻰ ﺁﻟﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ : ‏( ﻛُﻞُّ ﺃُﻣَّﺘِﻰ ﻳَﺪْﺧُﻠُﻮﻥَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ، ﺇِﻻَّ ﻣَﻦْ ﺃَﺑَﻰ ‏» . ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﺄْﺑَﻰ ﻗَﺎﻝَ ‏« ﻣَﻦْ ﺃَﻃَﺎﻋَﻨِﻰ ﺩَﺧَﻞَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ، ﻭَﻣَﻦْ ﻋَﺼَﺎﻧِﻰ ﻓَﻘَﺪْ ﺃَﺑَﻰ ‏) ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ .

ﻓﺼﻞ:
ﻣﺨﺎﻟﻔﺔ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻋﻠﻰ ﺁﻟﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺑﻈﻬﻮﺭ ﺍﻟﺒﺪﻉ ﻓﻲ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﻭﺧﻄﺮ ﺍﻟﺒﺪﻉ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻋﻈﻴﻢ ﻳﺘﺄﻛﺪ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻭﺟﻮﺏ ﻣﻌﺮﻓﺘﻬﺎ ﻭﺍﻟﺘﺤﺬﻳﺮ ﻣﻨﻬﺎ .

ﻣﺜﻞ ﻣﺎ ﺃﺣﺪﺙ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻋﻮﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﻤﻌﻴﺎﺕ ﻭﺍﻟﻤﺆﺳﺴﺎﺕ ﻭﻣﻌﺎﻫﺪ ﺗﺮﺑﻴﺔ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ ﻭﻏﻴﺮﻫﺎ ﻣﻦ ﺍﻷﻣﻮﺭ ﺍﻟﻤﺤﺪﺛﺔ ﺍﻟﺘﻲ ﻟﻢ ﻳﺸﺮﻋﻬﺎ ﺍﻟﻠﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ .
ﻓﻘﺪ ﺟﺎﺀ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﺤﻴﺤﻴﻦ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﻋﺎﺋﺸﺔ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﺎ، ﻗﺎﻟﺖ : ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : ‏( ﻣﻦ ﺃﺣﺪﺙ ﻓﻲ ﺃﻣﺮﻧﺎ ﻫﺬﺍ ﻣﺎ ﻟﻴﺲ ﻣﻨﻪ ﻓﻬﻮ ﺭﺩ ) .

ﻓﺼﻞ:
ﺍﻷﻣﺮ ﺑﻤﺨﺎﻟﻔﺔ ﺍﻟﻤﻘﻠﺪﻳﻦ

ﻗﺎﻝ ﺗﻌﺎﻟﻰ : ‏( ﻓَﺎﺳْﺄَﻟُﻮﺍ ﺃَﻫْﻞَ ﺍﻟﺬِّﻛْﺮِ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﻟَﺎ ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ ‏) ‏[ ﺍﻟﻨﺤﻞ : 43].
ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﻟﻌﻼﻣﺔ ﺍﻟﻌﺜﻴﻤﻴﻦ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﺍﻷﺻﻮﻝ ﻣﻦ ﻋﻠﻢ ﺍﻷﺻﻮﻝ : ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺬﻛﺮ ﻫﻢ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻭﺍﻟﻤﻘﻠﺪ ﻟﻴﺲ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺍﻟﻤﺘﺒﻮﻋﻴﻦ ﻓﺈﻧﻤﺎ ﻫﻮ ﺗﺎﺑﻊ ﻟﻐﻴﺮﻩ , ﺍﻫـ
ﻭﺍﻟﺘﻘﻠﻴﺪ ﻫﻮ ﺩﺍﺀ ﺍﻷﻣﻢ ﺍﻟﺴﺎﺑﻘﺔ ﻗﺎﻝ ﺗﻌﺎﻟﻰ : ‏( ﺍﺗَّﺨَﺬُﻭﺍ ﺃَﺣْﺒَﺎﺭَﻫُﻢْ ﻭَﺭُﻫْﺒَﺎﻧَﻬُﻢْ ﺃَﺭْﺑَﺎﺑًﺎ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟْﻤَﺴِﻴﺢَ ﺍﺑْﻦَ ﻣَﺮْﻳَﻢَ ﻭَﻣَﺎ ﺃُﻣِﺮُﻭﺍ ﺇِﻟَّﺎ ﻟِﻴَﻌْﺒﺪُﻭﺍ ﺇِﻟَﻬًﺎ ﻭَﺍﺣِﺪًﺍ ﻟَﺎ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﻫُﻮَ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ ﻋَﻤَّﺎ ﻳُﺸْﺮِﻛُﻮﻥَ ‏) ‏[ ﺍﻟﺘﻮﺑﺔ 31: ].
ﻭﻗﺎﻝ ﺗﻌﺎﻟﻰ : ‏( ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻗِﻴﻞَ ﻟَﻬُﻢْ ﺗَﻌَﺎﻟَﻮْﺍ ﺇِﻟَﻰ ﻣَﺎ ﺃَﻧْﺰَﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝِ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺣَﺴْﺒُﻨَﺎ ﻣَﺎ ﻭَﺟَﺪْﻧَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺁَﺑَﺎﺀَﻧَﺎ ﺃَﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﺁَﺑَﺎﺅُﻫُﻢْ ﻟَﺎ ﻳَﻌْﻠَﻤﻮﻥَ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﻬْﺘَﺪُﻭﻥَ ‏) ‏[ ﺍﻟﻤﺎﺋﺪﺓ 104: ].
ﻭﻗﺪ ﺫﻡ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﺍﻟﺘﻘﻠﻴﺪ ﻭﺃﻫﻠﻪ ﻗﺎﻝ ﺗﻌﺎﻟﻰ : ‏( ﻳَﻮْﻡَ ﺗُﻘَﻠَّﺐُ ﻭُﺟﻮﻫُﻬُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﻳَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﻳَﺎ ﻟَﻴْﺘَﻨَﺎ ﺃَﻃَﻌْﻨَﺎ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺃَﻃَﻌْﻨَﺎ ﺍﻟﺮَّﺳﻮﻟَﺎ ‏( 66 ‏) ﻭَﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺇِﻧَّﺎ ﺃَﻃَﻌْﻨَﺎ ﺳَﺎﺩَﺗَﻨَﺎ ﻭَﻛُﺒَﺮَﺍﺀَﻧَﺎ ﻓَﺄَﺿَﻠُّﻮﻧَﺎ ﺍﻟﺴَّﺒِﻴﻠَﺎ ‏) ‏[ ﺍﻷﺣﺰﺍﺏ 66: ، 67 ].

ﻓﺼﻞ:
ﺍﻷﻣﺮ ﺑﻤﺨﺎﻟﻔﺔ ﺍﻟﻌﺼﺒﻴﺔ

ﻭﻣﻦ ﺍﻷﻣﻮﺭ ﺍﻟﻤﺬﻣﻮﻣﺔ ﺍﻟﺘﻌﺼﺐ ﻟﻠﺼﺎﺣﺐ ‏( ﺃﻭﺍﻟﻤﺬﻫﺐ ‏) ﻭ ﺇِﻥ ﻛﺎﻥ ﻣﺒﻄﻼ ﻭﻗﺎﻝ ﺗﻌﺎﻟﻰ ‏( ﻭَﺗَﻌَﺎﻭَﻧُﻮﺍ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺒِﺮِّ ﻭَﺍﻟﺘَّﻘْﻮَﻯ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻌَﺎﻭَﻧُﻮﺍ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺈِﺛْﻢِ ﻭَﺍﻟْﻌُﺪْﻭَﺍﻥِ ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺷَﺪِﻳﺪُ ﺍﻟْﻌِﻘَﺎﺏِ ‏) ‏[ ﺍﻟﻤﺎﺋﺪﺓ : 2 ]
ﻭﻗﺎﻝ ﺗﻌﺎﻟﻰ ‏( ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁَﻣَﻨُﻮﺍ ﻛُﻮﻧُﻮﺍ ﻗَﻮَّﺍﻣِﻴﻦَ ﺑِﺎﻟْﻘِﺴْﻂِ ﺷُﻬَﺪَﺍﺀَ ﻟِﻠَّﻪِ ﻭَﻟَﻮْ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻜُﻢْ ﺃَﻭِ ﺍﻟْﻮَﺍﻟِﺪَﻳْﻦِ ﻭَﺍﻟْﺄَﻗْﺮَﺑِﻴﻦَ ﺇِﻥْ ﻳَﻜُﻦْ ﻏَﻨِﻴًّﺎ ﺃَﻭْ ﻓَﻘِﻴﺮًﺍ ﻓَﺎﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻭْﻟَﻰ ﺑِﻬِﻤَﺎ ﻓَﻠَﺎ ﺗَﺘَّﺒِﻌُﻮﺍ ﺍﻟْﻬَﻮَﻯ ﺃَﻥْ ﺗَﻌْﺪِﻟُﻮﺍ ﻭَﺇِﻥْ ﺗَﻠْﻮُﻭﺍ ﺃَﻭْ ﺗُﻌْﺮِﺿُﻮﺍ ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻛَﺎﻥَ ﺑِﻤَﺎ ﺗَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ ﺧَﺒِﻴﺮًﺍ ‏[ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ : 135 ] .
ﻭﻗﺪ ﺛﺒﺖ ﻓﻲ ﺻﺤﻴﺢ ﻣﺴﻠﻢ ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻰ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﻋَﻦِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰِّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﺃَﻧَّﻪُ ﻗَﺎﻝَ )) ﻣَﻦْ ﺧَﺮَﺝَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻄَّﺎﻋَﺔِ ﻭَﻓَﺎﺭَﻕَ ﺍﻟْﺠَﻤَﺎﻋَﺔَ ﻓَﻤَﺎﺕَ ﻣَﺎﺕَ ﻣِﻴﺘَﺔً ﺟَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔً ﻭَﻣَﻦْ ﻗَﺎﺗَﻞَ ﺗَﺤْﺖَ ﺭَﺍﻳَﺔٍ ﻋُﻤِّﻴَّﺔٍ ﻳَﻐْﻀَﺐُ ﻟِﻌَﺼَﺒَﺔٍ ﺃَﻭْ ﻳَﺪْﻋُﻮ ﺇِﻟَﻰ ﻋَﺼَﺒَﺔٍ ﺃَﻭْ ﻳَﻨْﺼُﺮُ ﻋَﺼَﺒَﺔً ﻓَﻘُﺘِﻞَ ﻓَﻘِﺘْﻠَﺔٌ ﺟَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔٌ ﻭَﻣَﻦْ ﺧَﺮَﺝَ ﻋَﻠَﻰ ﺃُﻣَّﺘِﻰ ﻳَﻀْﺮِﺏُ ﺑَﺮَّﻫَﺎ ﻭَﻓَﺎﺟِﺮَﻫَﺎ ﻭَﻻَ ﻳَﺘَﺤَﺎﺵَ ﻣِﻦْ ﻣُﺆْﻣِﻨِﻬَﺎ ﻭَﻻَ ﻳَﻔِﻰ ﻟِﺬِﻯ ﻋَﻬْﺪٍ ﻋَﻬْﺪَﻩُ ﻓَﻠَﻴْﺲَ ﻣِﻨِّﻰ ﻭَﻟَﺴْﺖُ ﻣِﻨْﻪ )) .

 

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: