“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

 andil-wanita

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أَمَّا بَعْدُ

Para wanita dikenal di kalangan para pria sebagai orang-orang lemah, dengan itu seringkali kita dengarkan dari sebagian para pria mengeluarkan kata-kata yang berisikan peremehan terhadap para wanita, dan bahkan terkadang kita dengarkan para suami meremehkan isteri-isteri mereka karena menurut anggapan mereka bahwa merekalah yang membiayai, memberi makan dan memenuhi kebutuhan isteri-isteri mereka.

Tanpa mereka sadari kalau para wanita itu ternyata memiliki andil yang besar dalam memberikan kebaikan kepada keluarga dan bahkan agama -walaupun keadaan mereka lemah-, dan ini tentunya bisa dilihat dan dapat dirasakan oleh orang yang mengharapkan kebaikannnya, bukankah Ar-Rasul ‘Alaihish Shalatu was Salam telah berkata: 

هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُونَ إِلَّا بِضُعَفَائِكُمْ

“Tidaklah kalian ditolong dan diberi rizki kecuali dengan sebab orang-orang lemah kalian.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy dari hadits Sa’d bin Malik.

Maka tidak sepantasnya bagi para pria untuk meremehkan para wanita, begitu pula tidak sepantasnya bagi wanita muslimah meremehkan saudarinya sesama muslimah, dan ini kami katakan karena seringkali kita dapati para wanita yang taat beragama dan berbusana muslimah lagi berhijab syar’iy terkadang diremehkan dan dianggap tidak berguna bagi orang lain, tentu ini adalah anggapan yang salah, Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

أَبْغُونِي ضُعَفَاءَكُمْ فَإِنَّكُمْ إِنَّمَا تُرْزَقُونَ وَتُنْصَرُونَ بِضُعَفَائِكُمْ

“Apakah kalian menuntut kepadaku tentang orang-orang lemah kalian?! Sesungguhnya kalian itu hanyalah diberi rizki dan kalian ditolong karena sebab orang-orang lemah kalian.” Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dari hadits Abid Darda’.

Orang-orang yang lemah adalah:

  • Orang-orang faqir dan miskin.
  • Anak-anak.
  • Orang tua yang lanjut usia.
  • Dan tidak kita ragukan lagi bahwa para wanita adalah termasuk dari orang-orang yang lemah, ini berdasarkan banyak dalil, diantaranya adalah perkataan Allah Ta’ala:

{إِلَّا الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ لَا يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلَا يَهْتَدُونَ سَبِيلًا} [النساء : 98]

“Kecuali orang-orang lemah (yang tertindas) dari kalangan laki-laki dan wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berupaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah).” (An-Nisa’: 98)

Ketika Hiraql (yang kita sebut dengan Hiraklius) bertanya kepada Abu Sufyan tentang pengikut Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

فَأَشْرَافُ النَّاسِ يَتَّبِعُونَهُ أَمْ ضُعَفَاؤُهُمْ

“Apakah orang-orang terhormatnya manusia yang mengikutinya ataukah orang-orang lemahnya mereka?”

Abu Sufyan menjawab:

بَلْ ضُعَفَاؤُهُمْ

“Bahkan (yang mengikutinya) adalah orang-orang lemahnya mereka.”

Ketika Abu Sufyan menjawab demikian maka Hiraklius mengatakan:

وَهُمْ أَتْبَاعُ الرُّسُلِ

“Dan mereka itulah pengikut para rasul.” Diriwayatkan oleh Asy-Syaikhan dari hadits Abdillah bin ‘Abbas.

Orang-orang lemah yang mengikuti dakwah Ar-Rasul kebanyakan mereka dari kalangan orang-orang faqir dan miskin, dan ada dari orang yang teranggap kaya seperti isteri Nabi kita Khadijah bintu Khuwailid yang menjadi pengikut Ar-Rasul, bahkan beliau termasuk orang pertama dari kalangan wanita yang memeluk agama Islam, dengan keberadaannya sebagai orang yang lemah ternyata beliau memiliki andil besar terhadap kuatnya dakwah Islam, beliaulah yang menjadi penguat dan penopang dakwah suaminya Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan Ar-Rasul ‘Alaihish Shalatu was Salam pernah berkata:

أَيْ خَدِيجَةُ مَا لِي لَقَدْ خَشِيتُ عَلَى نَفْسِي

“Wahai Khadijah ada apa denganku? Sungguh benar-benar aku khawatirkan atas diriku.”

Dengan ucapan ini kemudian terlihatlah kekokohan Khadijah Radhiyallahu ‘Anha dan tampak keteguhan hatinya serta kuatnya keyakinan beliau, beliau berkata kepada Ar-Rasul ‘Alaihish Shalatu was Salam:

كَلَّا أَبْشِرْ فَوَاللهِ لَا يُخْزِيكَ اللهُ أَبَدًا

“Sekali-kali tidak, bergemberilah, demi Allah, tidaklah kamu dihinakan oleh Allah selama-lamanya.” Kemudian Khadijah menyebutkan tentang kebagusan-kebagusan akhlaq Ar-Rasul ‘Alaihish Shalatu was Salam sebagai penghibur untuknya.

Demikianlah andil besar dari wanita mulia umat ini, maka tidak heran kalau kemudian beliau dikatakan paling utamanya wanita pada umat ini dalam kedudukan, adapun Aisyah Radhiyallahu ‘Anha maka beliau paling utamanya wanita pada umat ini dalam keilmuan. Wallahu A’lam.

***

Dan diantara wanita yang memiliki andil besar dalam membangkitkan dakwah tauhid adalah Asiyah Radhiyallahu ‘Anha, beliau kedudukannya di hadapan kaumnya ketika itu teranggap tinggi, beliau terhormat dan terpandang, karena ketika itu beliau menjabat sebagai permaisuri raja dan menetap di dalam istana, bersamaan dengan itu keberadaan beliau tetap sebagai orang lemah, beliau termasuk dari orang-orang lemah dikarenakan beliau adalah wanita, yang tabiatnya adalah lemah, namun ternyata di balik lemahnya terdapat kekuatan yang bisa membangkitkan dakwah tauhid, ketika suaminya yang dikenal dengan Fir’aun memutuskan bahwa setiap anak laki-laki yang lahir dari kalangan Bani Israil harus dibunuh, lalu dihadapkan dengan bayi laki-laki yang bernama Musa sebagai ujian bagi Fir’aun, ternyata Fir’aun dan kaumnya ingin membunuhnya, Allah Ta’ala berkata:

{وَقَالَتِ امْرَأَتُ فِرْعَوْنَ قُرَّتُ عَيْنٍ لِي وَلَكَ لَا تَقْتُلُوهُ عَسَى أَنْ يَنْفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ} [القصص : 9]

“Dan berkatalah isteri Fir’aun: “Dia adalah penyejuk hati bagiku dan bagimu. Janganlah kalian membunuhnya, mudah-mudahan dia bermanfaat kepada kita atau kita menjadikannya sebagai anak angkat”, dan mereka tidak menyadari.” (Al-Qashshash: 9)

Ternyata Allah Ta’ala benarkan ucapannya dan wujudkan harapannya, Musa ‘Alaihis Salam kemudian menjadi anak angkat yang benar-benar menjadi penyejuk hatinya, menjadikannya termasuk dari Ahli Tauhid, dan Allah memberikan manfaat yang banyak dengan sebabnya.

Dan masih sangat banyak contoh-contoh para wanita shalihah yang memiliki andil besar dalam meberikan kebaikan untuk alam semesta ini, yang kami tidak bisa menyebutkan satu persatu di lembaran-lembaran sederhana ini, dan apa yang kami sebutkan di sini Insya Allah cukup sebagai pengingat yang bisa diambil pelajaran darinya.

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Ditulis oleh:

Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir di Limboro-Huamual pada hari Ahad 1 Rabiul Akhir 1438.

 

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: