“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الحمد لله الذي امتن على عباده المؤمنين ببعثة الرسول الصادق الأمين، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له الملك الحق المبين، وأشهد أن  محمدا عبد الله ورسوله الذي ترك أمته على المنهج الواضح المستبين. أما بعد

Ini beberapa pertanyaan yang diajukan kepada Ustadz kita Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir Ibnu Salim Al-Laimboriy Hafizhahullah, semoga dengannya dapat memberikan manfaat untuk para penanya dan siapa saja yang membacanya dan menukilnya.

Tanya:  Anak saya kan baru meninggal sebulan yang lalu, sampai sekarang ana masih selalu teringat, bahkan sampai menangis-nangis, jadi ana rasanya belum bisa senang-senang atau tertawa. Waktu itu suami minta, afwan (jima’)…, tapi ana merasa belum saatnya ana melayani suami karena perasaan ana belum stabil…, akhirnya ana menolak ajakan suami, terus besoknya suamipun minta tapi ana menolak dan akhirnya ana pun melayani tapi dengan perasaan tidak ikhlas dan cemberut. Apakah ana berdosa? Jazaakallahu khairan. (Pertanyaan dari Sulteng)

Jawab: Hendaknya kamu beristighfar dan bertaubat kepada Allah, karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا الْمَلَائِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ»

Jika seseorang mengajak isterinya ke tempat tidur (untuk jima’) lalu ia enggan, lalu suaminya tidur dalam keadaan marah padanya maka malaikat melaknatnya hingga pagi.” Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhariy dan Muslim dari hadits Abi Hurairah.

Dan kami menasehatkan agar kita meneladani pendahulu kita yang shalih dalam hidup ini, apa yang kamu alami tentu itu sudah pernah terjadi di zaman pendahulu kita, Al-Imam Muslim meriwayatkan di dalam “Shahih”nya tentang kisah Ummu Sulaim Radhiyallahu ‘Anha yang ditinggal mati oleh bayinya, tidaklah kemudian ia sebagai seorang isteri mengabaikan dan membiarkan Abu Thalhah sebagai suaminya, bahkan ia melakukan yang lebih baik:

فَجَاءَ فَقَرَّبَتْ إِلَيْه عَشَاءً فَأَكَلَ وَشَرِبَ، ثُمَّ تَصَنَّعَتْ لَهُ أَحْسَنَ مَا كَانَتْ تَصَنَّعُ قَبْلَ ذلِكَ، فَوَقَعَ بِهَا

Setelah Abu Thalhah datang maka Ummu Sulaim menghidangkan kepadanya makan malam, lalu beliau pun makan dan minum, kemudian Ummu Sulaim melakukan untuknya apa-apa yang keberadaannya lebih baik daripada yang ia lakukan sebelum itu, lalu Abu Thalhah bersetubuh dengannya.”

Lihatlah pada kisah tersebut! Ummu Sulaim bahkan berhias dengan yang lebih baik dan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menampakkan wajah sedih dan cemberut sehingga yang tampak padanya adalah rasa ridho dengan apa yang telah Allah tetapkan untuknya. Wallahul Musta’an.

*******

Tanya: Apakah boleh seorang wanita memakai mukena shalat dengan warna pink dan tipis? (Pertanyaan dari Medan-Sibolga)

Jawab: Boleh kalau dia mengenakannya di atas pakaian dalam yang tebal, yaitu pakaian dalam yang menutupi auratnya, kemudian dia kenakan mukena tersebut di atasnya pakaian dalam, sebagaimana seseorang yang mengenakan khimar (kerudung) kemudian dia menutupinya dengan jilbab di atas kerudungnya. Dan hendaknya dia mengenakan mukena seperti itu di di rumahnya atau di tempat yang bukan keramaian manusia.

*******

Tanya:  Ana mau tanya masalah mendhi (henna) jika seseorang ingin berhias dengannnya tanpa untuk berhias di depan suami, apakah ini termasuk perbuatan mubadzir? (Pertanyaan dari Bukittinggi)

Jawab: Tidak mengapa bagi wanita untuk berhias dengannya, keberadaannya sama dengan mengenakan hiasan yang boleh baginya, hukum henna pada asalnya adalah mubah, dan dia akan berubah hukumnya kalau dia mementingkan hal itu dengan mengabaikan yang lebih penting untuknya, misalnya dia lebih mengutamakan henna daripada kebutuhan pokoknya maka tentu ini adalah suatu kesalahan, atau dia menghambur-hamburkan hartanya hanya untuk henna ini maka tentu ini tidak dibenarkan.

*******

Tanya: Apakah kita perlu ikut BPJS kesehatan? (Pertanyaan dari Purwokerto)

Jawab: Tidak perlu, karena yang ikut BPJS diharuskan membayar iuran sebagaimana yang ikut asuransi. Adapun yang pernah ikut Jamkesmas, ini diperkhususkan bagi mereka yang tidak mampu, mereka yang terdaftar sebagai anggota Jamkesmas ini tidak dikenai iuran atau tidak bayar, mereka mengikuti pengobatan di RS atau di Puskesmas selalu gratis namun untuk keberadaan Jamkesmas saat ini sudah tidak ada, yang pernah menjadi anggota Jamkesmas ketika ingin melakukan pengobatan di RS atau di instansi kesehatan maka dia diikutkan sebagai anggota BPJS. Wallahu A’lam.

*******

Tanya: Afwan ada yang ingin ana tanyakan, ana masih bingung dengan adanya julukan halabiyuun, rodjaiyyun, luqmaniyyun dsb. Mohon ustadz memberikan penjelasan ! (Pertanyaan dari Purbalingga)

Jawab: Julukan seperti itu adalah pengikutan bagi siapa saja yang berloyalitas dan fanatik serta taqlid kepada mereka, jika dia taqlid dan fanatik kepada Syaikh Ali Hasan Al-Halabiy maka dia dikatakan sebagai halabiy, begitu pula yang fanatik dan taqlid kepada ustadz-ustadz yang dakwah melalui TV Rodja maka dikatakan sebagai Rodjaiy, begitu pula yang fanatik dan taqlid kepada Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh maka dikatakan sebagai Luqmaniy, begitu seterusnya pemberian julukan-julukan lainnya.

Namun pada pemberian julukan seperti ini banyak kita dapati salah penempatan, terkadang seseorang itu hanya pemula, yang dia belum tahu apa-apa, maka langsung dijuluki dengan julukan seperti itu, atau terkadang hanya sekedar bermuamalah maka langsung dijuluki dengan julukan tersebut.

Dengan keterangan seperti ini tentu akan memunculkan pertanyaan: Lalu kapan pemberian julukan itu tepat dan benar keberadaannya? Dikatakan tepat dan benar adanya manakalah orang tersebut berloyalitas dan fanatik serta taqlid dengan orang yang dia ikuti, dengannya dia menerapkan al-wala’ (berloyalitas) dan al-bara’ (berlepas diri) yang sempit, dan ini sesuai dengan apa yang Allah Ta’ala katakan di dalam Al-Qur’an:

{وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ} [المائدة : 51]

“Dan barangsiapa diantara kalian yang berloyalitas dengan mereka maka dia termasuk dari mereka, sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zhalim.” QS: Al-Maidah: 51

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ».

“Seseorang di atas prilaku teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat kepada siapa dia jadikan sebagai teman dekat!”. Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dan Abu Dawud serta yang lainnya dari hadits Abi Huroiroh.

*******

Tanya: Apa hukumnya mengeluarkan dahak (lendir) dari mulut dengan suara keras? (Pertanyaan dari Limboro-Huamual)

Jawab: Boleh, hanya saja perlu diperhatikan tempatnya dan penempatannya, terkadang seseorang karena sudah terbiasa dia pun mengeluarkannya di hadapan orang lain dengan suara keras yang mengakibatkan orang lain tersebut merasa jijik atau bahkan sampai marah, sebagaimana yang pernah terjadi pada seorang Ahlussunnah karena dia memiliki kebiasaan meludah dengan suara keras, sedangkan dia meludahnya ketika melewati para hizbiyyun maka para hizbiyyun pun menjadikan hal itu sebagai alasan untuk melakukan pemukulan dan pengkroyokan kepadanya dan kepada beberapa ikhwah Ahlussunnah, kalaulah para hizbiyyun itu menahan diri dari tindakan kezhaliman itu maka tentu itu lebih baik bagi mereka akan tetapi mereka lebih memilih untuk berbuat zhalim  -‘Ajjalahumullahu bilbala’-:

{وَالَّذِينَ كَسَبُوا السَّيِّئَاتِ جَزَاءُ سَيِّئَةٍ بِمِثْلِهَا وَتَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ مَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ عَاصِمٍ} [يونس : 27]

“Dan orang-orang yang mengerjakan kejelekan maka balasannya adalah kejelekan yang semisalnya dan mereka diliputi kehinaan, tidak ada bagi mereka dari Allah pelindung.” QS: Yunus: 27

Meludah dengan mengeluarkan suara keras di hadapan orang lain tentu teranggap sebagai perbuatan yang mengurangi kewibawaan atau dikatakan dengan tidak sopan, namun sangatlah tidak pantas bila pelakunya dihukum dengan hukuman kezhaliman seperti itu, orang yang berakal tentu mengetahui bahwa kencing di tempat keramaian adalah suatu kemungkaran dan kekurang ajaran lebih-lebih kalau tempat itu adalah masjid, bila dia dibandingkan dengan meludah di hadapan orang lain tentu sangat jauh perbedaannya, namun apa yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika mendapati seorang badui (orang Arab yang tinggal di pedalaman) yang kencing di masjid? Apakah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukan pemukulan? Ataukah beliau memerintahkan para shahabatnya untuk mengkroyok dan menganiayanya? Ternyata tidak, bahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang para shahabatnya untuk menghardik atau menggertak seorang badui tersebut, Al-Imam Al-Bukhariy meriwayatkan di dalam “Shahih”nya dari hadits Abi Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata:

قَامَ أَعْرَابِيٌّ فَبَالَ فِي الْمَسْجِدِ فَتَنَاوَلَهُ النَّاسُ فَقَالَ لَهُمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعُوهُ وَهَرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلًا مِنْ مَاءٍ أَوْ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ

“Berdiri seorang badui lalu kencing di dalam masjid, lalu manusia membentaknya, maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepada mereka:  “Biarkan dia, dan siramilah air kencingnya dengan sewadah dari air atau seember dari air, karena sesungguhnya kalian itu diutus untuk memberi kemudahan dan bukanlah kalian itu diutus untuk menyusahkan.” Hadits ini diriwayatkan pula oleh Al-Imam Al-Bukhariy dan Muslim dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu.

Kalaulah para da’i hizbiyyin berakhlak dengan akhlak Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini maka tentu kebaikan bagi mereka, namun sangat disayangkan! justru mereka membiarkan para pengikut mereka melakukan pembentakan, pengejaran dengan parang hingga pemukulan dan pengkroyokan serta pengrusakan –Laa Jazaahumullahu khairan:

{كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ} [المائدة : 79]

“Keberadaannya mereka adalah tidak melarang dari kemungkaran yang mereka telah melakukannya, sungguh betapa jeleknya apa yang mereka lakukan.” QS : Al-Maidah: 79

(Limboro, Selasa 2 Muharram 1437)

*******

Tanya: Ustadz kapan seseorang dikatakan sebagai hakim yang bisa menikahkan orang lain? Apakah imam masjid dan ustadz yang memiliki Ponpes masuk kategori hakim itu? (Pertanyaan dari Nasiri-Huamual)

Jawab: Yang dikatakan sebagai hakim adalah pemimpin kaum muslimin atau orang yang diangkat olehnya sebagai perwakilan semisal KUA, mereka ini yang mendapatkan kuasa tertulis dan sah. Keberadaan pemerintah kaum muslimin atau perwakilannya ini sah secara mutlak untuk menikahkan, Raja Najasyiy Radhiyallahu ‘Anhu sebagai wali hakim dalam menikahkan Nabi kita Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan putri Abi Sufyan Radhiyallahu ‘Anhuma, juga Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah menjadi wali hakim terhadap seorang wanita yang menyerahkan dirinya kepada beliau.

Adapun keberadaan sebagian orang yang merasa sebagai imam masjid atau sebagai ustadz di Pondok Pesantren yang memaksakan dirinya berposisi sebagai hakim maka sungguh dia telah salah, dia tidak memiliki kekuatan untuk menolak tuntunan orang-orang yang tidak menyetujui, mereka tidak memiliki wilayah kekuasaan dan tidak pula berkuasa maka dengan itu yang dikatakan sebagai hakim dalam perkara pernikahan ini adalah pemimpin kaum muslimin dan perwakilan mereka, baik itu pemerintah daerah masing-masing atau perwakilan di KUA.

Dan terkadang ada dari imam masjid yang mendapatkan surat kuasa dari pemerintah setempat untuk menjadi hakim dalam menikahkan, bila keberadaannya seperti ini maka dia diikutkan sebagai hakim dan sah bagi dia untuk menikahkan orang lain. Wallahu A’lam.

*******

Dijawab oleh : Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir Al-Limboriy (Hafidzahullah)

di Limboro, 4 Muharram 1438

 

Comments on: "Tanya Jawab di Bulan Muharram 1438 H" (1)

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: