“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

Adakah Bidadari yang turun ke bumi

Tanya : Pak kiyai saya ada pertanyaan seputar cerita yang saya pernah baca bahwa dulu di Maluku Utara ada seorang laki-laki muda menemukan bidadari mandi di Danau terus dia bawa pulang lalu dia nikahi, dari pernikahannya lahirlah 4 orang anak laki-laki, kesemuanya kemudian menjadi Sultan, pertanyaan saya: Apakah benar bidadari ada di dunia karena setahu saya bidadari hanya ada di Surga? Mohon penjelasan pak kiyai tentang masalah ini, terima kasih banyak atas penjelasannya pak kiyai.
(Pertanyaan dari Petuanan Luhu)

Jawab:

 بسم الله الرحمن الرحيم   وبه نستعين الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على رسول الله وآله وصحبه أجمعين أما بعد

Bidadari adalah makhluk yang Allah ciptakan untuk menjadi isteri-isteri dan atau pelayan-pelayan bagi orang-orang yang beriman di dalam Jannah (Surga), Allah Ta’ala sebutkan tentang mereka dengan sebutan “Hur ‘Ien”, Allah berkata tentang para lelaki yang menjadi penghuni Jannah:

وزوجناهم بحور عين

“Dan Kami nikahkan mereka dengan bidadari.”
Banyak di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah menyebutkan tentang keberadaan para bidadari, bahwasanya mereka adalah makhluk yang berada di dalam Jannah. Adapun mitos atau cerita bahwa pernah ada bidadari turun ke dunia lalu mandi di sungai, telaga atau di danau maka ini adalah tipuan dan permainan dari para penyihir, dukun dan atau dari kalangan jin, karena ini ditinjau dari beberapa sisi:

1. Para bidadari memiliki sifat-sifat dan kecantikan yang tidak didapati pada wanita dunia.
2. Tidak ada riwayat menyebutkan bahwa ada dari penghuni Jannah baik itu para bidadari atau pun yang selain mereka dikeluarkan dari Jannah setelah dikeluarkannya bapak dan ibu kita Adam dan Hawa dari Jannah.
3. Para bidadari tidak pernah disentuh oleh jin dan manusia sebagaimana yang Allah katakan:

لم يطمثهن إنس قبلهم ولا جان

“Mereka (para bidadari) tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum (penghuni Jannah yang menjadi suami mereka) dan tidak pula jin.”
Lalu bagaimana kemudian diceritakan pernah disentuh dan dinikahi di dunia oleh orang-orang yang tidak jelas apakah mereka akan menjadi penghuni Jannah ataukah neraka?!.
4. Para bidadari dikekalkan di dalam Jannah bersama penghuni Jannah lainnya lalu bagaimana ada bidadari yang kemudian mati atau berumur seperti berumurnya anak manusia di dunia?!.

Mitos semisal dengan yang ditanyakan ini pernah kami dengarkan pula di Limboro bahwa ada dari para pemuka adat yang termasuk para pendatang yang pertama-tama ke Limboro bahwasanya dia menikah dengan bidadari, ada lagi dari orang tua yang masih kerabat dengan kami menceritakan bahwa bapaknya dahulu pernah menangkap seekor ikan besar yang disebut dengan “ikan lema” tiba-tiba ikan tersebut berubah menjadi wanita cantik dia pun membawanya ke rumah kemudian dinikahi, dari pernikahan tersebut lahir banyak anak dan diwasiatkan kepada mereka agar tidak memakan “ikan lema” karena ibu mereka berasal dari ikan tersebut. Mereka menganggap bahwa wanita seperti itu adalah bidadari, padahal itu bisa dikatakan sebagai jelmaan dari orang yang memiliki sihir atau jelmaan dari kalangan jin, karena bangsa jin bisa merubah bentuk menjadi bentuk lain -dengan izin Allah-.

Kalaulah disebutkan pada kejadian wanita seperti itu adalah jelmaan dari bangsa jin maka ini bisa dibenarkan, karena jin bisa merubah bentuk -dengan izin Allah-, disebutkan dalam suatu riwayat di dalam “Shahih Muslim” tentang jin yang berubah bentuk menjadi ular kemudian bertikai dengan seorang shahabat karena ular tersebut masuk ke dalam rumah shahabat yang mulia tersebut.
Dan keberadaan jin sama dengan keberadaan manusia, dari mereka ada yang beriman dan ada pula yang kafir, ada yang baik dan ada yang jelak, mereka terbebani pula kewajiban untuk beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla:

وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah (kepada-Ku)”. Demikian yang Allah katakan. Jika ada jin merubah bentuk menjadi manusia dan dia memilih untuk hidup dengan sekelompok manusia, dia beragama dengan agama mereka, bertingkah laku sama dengan tingkah laku mereka maka bisa dimasukan ke golongan mereka, ini masuk pada keumuman perkataan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

المرء على دين خليله

“Seseorang itu di atas perilaku teman dekatnya.”
Di kalangan jin ada juga dari mereka beragam agama, bersekte-sekte dan berkelompok-kelompok, sebagaimana ada dalam suatu kisah tentang jin yang datang ke majlis orang shalih lalu ditanyakan tentang kelompok-kelompok di dalam agama pada kalangan jin maka jin menyebutkan kelompok yang paling sesat adalah rafidhah.
Wallahu A’lam.

(Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir bin Salim Al-Limboriy di Limboro pada 18 Dzulqa’dah 1437)

tumblr_inline_n3tr7kqFYW1stvxrr

TANYA: Bagaimana cara yang baik dalam mengarahkan/mengingatkan atau menasehati orang tua agar mau sholat dan kembali kepada jalan Allah? Biasanya anak yang dibimbing orang tua dan lebih sulit jika anak yang mengingatkan dan menasehati orang tua, bagaimana cara yang baik agar orang tua bisa menerima dengan baik nasehat sang anak? Mengingat orang tua lebih mudah tersinggung dan agak keras hatinya.
Pertanyaan dari Cikarang

JAWAB: Bila anak sudah mencoba berkali-kali menasehati dengan cara lembut dan hikmah namun orang tua masih bersikeras pada pendiriannya maka carilah penengah yang akan menyampaikan nasehat kepada orang tuamu, kamu lihat kepada orang yang seusia dengannya, kawannya atau orang yang dia segani atau orang yang dia kagumi. Bila mereka yang menyampaikan nasehat kepada orang tuamu maka Insya Alloh nasehat dari mereka akan mudah diterima, dan ini sudah terbukti dan sudah banyak terjadi di Limboro ini, ada orang tua bermalas-malas dari melaksanakan sholat, karena anaknya rajin sholat maka orang-orang tua lainnya sering mengingatkannya dengan selalu menyebut-nyebut ketaatan dan kebaikan anaknya, dengan itu orang tuanya pun tersentuh hatinya hingga mencoba untuk beramal sebagaimana anaknya.

tumblr_inline_n3tr7kqFYW1stvxrr

TANYA: Apa hukum membuatkan proposal kesehatan untuk membantu teman ana yang sakit?  Misalnya dengan proposal itu dia diberi tunjangan, nanti ana bawa ke rumah sakit operasi di Korea. Apakah itu termasuk dari tasawwul (minta-minta) yang diharomkan?

JAWAB: Boleh bagimu hanya menjadi pensyafa’at, yaitu kamu menghimbau orang-orang untuk membantunya, bila kamu sudah menghimbau mereka maka dari sini akan terlihat apakah mereka akan membantu ataukah tidak? Jika mereka akan membantu maka tentu mereka akan bertanya bagaimana mengirimkan bantuannya? Atau mereka akan menghubungimu untuk menyerahkannya melalui perantaramu, dan ini kejadiannya seperti kisah pembebasan Salman Al-Farisiy dari perbudakan, Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam mengajak para shohabat untuk membantu Salman Al-Farisiy sampai ada yang datang membawa sepohon anak korma dan ada pula yang membawa lebih dari itu, dengan bantuan yang mereka lakukan itu maka Salman Al-Farisiy pun terbebaskan dari perbudakan.
Walhamdulillah.

tumblr_inline_n3tr7kqFYW1stvxrr

TANYA: Apakah boleh mengambil ilmu dari ustadz yang diketahui sebagai murid Ibnu Mar’iy?

JAWAB: Dilihat keadaannya! Karena tidak semua murid Ibnu Mar’iy sejalan dengan Ibnu Mar’iy, ada dari mereka meninggalkan Abdurrohman Al-Adniy Al-Mar’iy serta Abdulloh Al-Mar’iy setelah adanya fatwa jihad melawan Hutsiy di Yaman sementara Abdurrohman Al-Mar’iy tidak menginginkan adanya jihad, hingga terjadi perselisihan antaranya dan antara murid-muridnya, hingga terjadi pengusiran dari markiznya di Fuyusy terhadap sebagian dari murid-muridnya. Dengan demikian maka perlu untuk dilihat dan dipilah mana murid yang terus bersamanya dan mana murid yang memilih kepada jalan kebenaran? Dan boleh mengambil ilmu dari muridnya kalau keadaan muridnya:
Pertama: Tidak tampak hizbiynya, yakni tidak gabung dengan orang-orang Ibnu Mar’iy.
Kedua: Dia tidak fanatik dengan hizbiynya.
Ketiga: Dia tidak melakukan sikap al-wala’ wal baro (berloyalitas dan berlepas diri) yang dhoyyiq (sempit).
Keempat: Dia tidak menjadikan para hizbiyyun sebagai teman terdekat, karena Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

المرء على دين خليله

“Seseorang adalah di atas agama kholilnya.” Yaitu di atas prilaku teman terdekatnya, tidak diragukan lagi bahwa seorang guru adalah orang terdekatnya murid, karena hari-harinya dia gunakan untuk mengajarinya, maka dengan itu kita dituntut untuk melihat siapa yang kita jadikan sebagai guru? Al-Imam Ibnu Sirin berkata:

إن هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم

“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” 

(Limboro, 5 Syawwal 1437)

tumblr_inline_n3tr7kqFYW1stvxrr
Tanya:Bismillah… Afwan mau tanya setelah sholat sunnah lail atau dhuha bolehkah kita berdoa mengangkat tangan (doa-doa kebaikan). Jazaakallah khoiron.
Pertanyaan dari Cirebon.

Jawab: Boleh, karena Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

إن ربكم حيي كريم يستحي من عبده إذا رفع يديه إليه أن يردهما صفرا

“Sesungguhnya Robb kalian adalah Maha Hidup lagi Maha Mulia, Dia malu pada hamba-Nya jika dia mengangkat kedua tangannya kepada-Nya untuk menolak keduanya begitu saja.” Diriwayatkan oleh Ashhabus Sunan kecuali An-Nasa’iy dari hadits Salman Rodhiyallohu ‘Anhu dan dishohihkan oleh Al-Hakim.
Dari hadits tersebut menunjukan bahwa asal dalam berdoa adalah mengangkat kedua tangan. Dan berdoa setelah sholat sunnah adalah dianjurkan, terutama setelah sholat sunnah di antara dua adzan dan setelah sholat lail pada sepertiga malam terakhir, karena ada padanya waktu terkabulkannya doa, barangsiapa berdoa dengan mengangkat kedua tangannya pada waktu tersebut maka dia telah mencocoki sunnah. Adapun berdoa setelah sholat dhuha maka dengan berdasarkan dalil umum tersebut terdapat anjuran padanya namun untuk setelah sholat dhuha ini hendaknya dilakukan dengan terkadang, karena tidak kita ketahui bahwa Nabi kita Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam setiap kali selesai sholat dhuha beliau mengangkat kedua tangannnya. Adapun berdoa dengan mengangkat tangan setelah sholat wajib maka tidak ada dalil yang shohih tentang demikian itu, yang datang dari Nabi kita Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam adalah beliau membaca dzikir-dzikir khusus setelah sholat wajib. Wallohu A’lam.

(Limboro, 9 Syawwal 1437).

tumblr_inline_n3tr7kqFYW1stvxrr

Tanya : Dimana posisi yang benar bagi ma’mum ketika dia sendirian dalam shalat berjama’ah? Apakah sejajar dengan imam ataukah beberapa jingkal ke belakang dari imam sebagaimana kebanyakan orang melakukan hal ini?

Jawab: Yang benar keberadaannya adalah sejajar dengan imam, ini berdasarkan dalil hadits Abdillah bin ‘Abbas ketika beliau mengikuti shalat lail bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau berdiri di samping kiri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membawanya ke samping kanan yang sejajar dengan beliau. Adapun kalau ma’mum shalat yang sendirian berdiri di belakang imam maka ini tidak ada dalilnya, bahkan dia bisa masuk ke dalam larangan shalat sendiri di belakang shaff, supaya tidak masuk ke dalam larangan ini maka hendaknya bagi ma’mum -kalau dia bersendirian- untuk berdiri sejajar dengan imam. Wallahu A’lam.

(Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir, Limboro 25 Syawwal 1437)

tumblr_inline_n3tr7kqFYW1stvxrr

Tanya: Apakah bayi yang meninggal dalam kandungan umur 9 bulan boleh di aqiqoh? Aku terima bingkisan yang katanya aqiqoh tapi bayinya sudah meninggal dalam 7 hari.

Jawab: Tidak ada aqiqah bagi bayi yang mati di dalam kandungan ibunya, juga janin yang keguguran tidak ada aqiqahnya, begitu pula bayi yang mati sebelum berusia 7 hari tidak ada aqiqahnya, karena aqiqah disyari’atkan bagi bayi yang sudah berusia 7 hari ke atas, berdasarkan perkataan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

كل غلام مرتهن بعقيقته، تذبح عنه يوم سابعه، ويحلق ويسمى

“Setiap bayi tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelikan (kambing) darinya pada hari yang ketujuh lalu dicukur dan diberi nama.” Hadits ini adalah hasan dan terangkat derajatnya menjadi shahih dengan penggabungan jalur periwayatan, dia diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dan Ashhabussunan. Pada hadits tersebut dapat diambil faedah bahwa disyari’atkan aqiqah ketika bayi sudah berumur 7 hari, ini batas minimalnya adapun batas maksimalnya sebelum dia baligh, selama dia masih belum baligh maka disyari’atkan untuk diaqiqahkan baginya. Adapun bayi yang meninggal sebelum usia 7 hari maka tidak ada anjuran untuk diaqiqahkan, begitu pula janin yang keguguran maka tidak ada anjuran untuk diaqiqahkan. Wallahu A’lam.

(Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir bin Salim Al-Limboriy Jammalahullah wa Ayyadah, Limboro 26 Syawwal 1437)

tumblr_inline_n3tr7kqFYW1stvxrr

Pertanyaan : Bagaimana hukum mencukur jenggot seorang kakek yang pikun? Kondisi kakek tersebut tidak memiliki anak seorang pun. Apakah boleh mencukurkan jenggot kepada sang kakek tersebut?  بارك الله فيكم… وجزاكم الله خيرا….

Jawab: بسم الله الرحمن الرحيم وبه نستعين، وبعد: 

Tidak boleh bagi siapa pun untuk mencukurkan jenggotnya, siapa yang mencukurkan jenggotnya maka dia telah terjatuh ke dalam dosa, kalau dia melakukannya karena mengikuti keinginan kakek yang pikun tersebut berarti dia telah membantunya dalam perkara dosa, padahal Allah Ta’ala telah berkata:

ولا تعاونوا على الإثم والعدوان

“Dan janganlah kalian bantu membantu pada perbuatan dosa dan permusuhan.”
Kalau kakek tersebut melakukan sendirian, dia mencukur sendiri jenggotnya karena kepikunannya, dan kepikunannya belum sampai pada tingkat majnun (gila) maka dia berdosa, karena dia telah melanggar perintan Ar-Rosul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk membiarkan jenggot, dan kalau kepikunannya sudah setingkat majnun lalu dia melakukan sendiri maka dia tidak berdosa, ini berdasarkan hadits: “Diangkat pena dari tiga”, disebutkan salah satunya adalah “Dari seorang gila sampai dia sembuh (dari gilanya)”.
Kalau pun kondisinya sudah gila dan dia tidak sanggup untuk mencukur jenggotnya maka tetap tidak diperbolehkan bagi siapa pun untuk mencukurkannya, karena jenggot tidak memberi pengaruh kepada kegilaan dan juga tidak menyebabkan munculnya penyakit serta tidak pula berat dan memberatkan, belum ada cerita bahwa seseorang pernah mati karena rasa berat pada jenggotnya. Wallahul Musta’an.

(Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir bin Salim Al-Limboriy di Limboro-Huamual, 29 Syawwal 1437)

tumblr_inline_n3tr7kqFYW1stvxrr

Tanya : Bismillah… ana ada pertanyaan untuk ustadz. Apakah anak yang tidak diaqiqah,apakah tidak dapat memberi syafaat pada orang tuanya? Baarakallahufiik.
Pertanyaan dari Muna Sulteng

JAWAB: Dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala- dia dapat memberi syafa’at, karena hadits yang disebutkan bahwa bayi tergadaikan dengan aqiqahnya bukanlah sebagai penghalang syafa’at bagi yang tidak diaqiqahkan, walaupun ada dari ulama menyebutkan itu sebagai penghalang syafa’at namun yang benarnya bayi tetap memberi syafa’at kalau dia meninggal dunia sebelum baligh, dan telah ada dalil yang memperjelas tentang masalah ini, bahwa bayi yang meninggal akan berdiri di depan pintu Jannah, dia tidak akan mau masuk ke dalamnya sampai kedua orang tuanya datang lalu dia masuk bersama keduanya. Begitu pula kalau dia sudah baligh lalu meninggal dunia dan dia dalam keadaan bertauhid maka dia akan memberi syafa’at kepada kedua orang taunya -dengan izin Allah-. Dan permasalahan ini pernah kami jelaskan dalam sebuah jawaban kami seputar masalah ini. Wallahul Musta’an. (Limboro, 29 Syawwal 1427).

Tanya: Assalaamu’alaykum… Apakah boleh kita membeli HP KW (barang tiruan) atau barang KW lainnya?
Pertanyaan dari Jombang.

Jawab: Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh.
Boleh membeli HP tiruan atau barang-barang tiruan lainnya, ini dengan ketentuan:
1. Kalau diperlukan.
2. Tidak mudarat dan tidak pula memudaratkan.
3. Diketahui dengan jelas bahwa dia adalah barang tiruan, dan kewajiban bagi yang menjual untuk memperjelas bahwa itu adalah barang tiruan, dengan itu para ulama membuat bab khusus di dalam kitab Fiqh pada “Bab Al-Iqrar” dengan membawakan hadits:

قل الحق ولو كان مرا

“Katakanlah kebenaran walau pun pahit rasanya.”
Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dari hadits Abi Dzarr.

(Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir, di Limboro, 13 Dzulqa’dah 1437

Tanya : Bismillah… Bagaimana sebaiknya kita menyikapi anak kecil atau orang cacat kadang dari panti asuhan, yang suka minta-minta ke rumah-rumah, kadang minta beras dan biasanya jadi keseringan mengingat Islam tidak membolehkan meminta-minta. جزاك الله خيرا و بارك الله فيك
Pertanyaan dari Muna Sulteng.

Jawab: Kalau kita memiliki apa yang diminta dan kita tidak terlalu membutuhkannya maka boleh untuk kita berikan kepadanya dan bahkan ini bernilai sedekah jika kita berikan dengan ikhlas karena Allah Ta’ala, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Ar-Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ketika ada yang meminta sesuatu kepada beliau maka beliau memberinya. Dan ketika beliau memotivasi kita untuk takut dari neraka dengan cara bersedekah walau dengan sepotong dari sebutir kurma, dengan itu maka Aisyah Ash-Shiddiqah memperbanyak bersedekah, datang seseorang wanita dengan kedua anaknya, mereka meminta kepada Aisyah sedangkan Aisyah tidak memiliki apa-apa melainkan hanya sebutir dari kurma maka diberikanlah kepada mereka, wanita tersebut kemudian membagi sebutir kurma tersebut untuk kedua anaknya.
Berbeda halnya kalau yang meminta itu adalah orang yang jelas diketahui akan menggunakannya untuk kemaksiatan atau dia meminta untuk acara-acara bid’ah dan kesyirikan maka tidak boleh untuk diberikan, karena kalau memberinya dalam keadaan mengetahui seperti itu maka sungguh telah membantunya dalam perbuatan dosa, padahal Allah Ta’ala telah berkata:

ولا تعاونوا على اﻹثم والعدوان

“Dan janganlah kalian tolong menolong di atas dosa dan pelanggaran.”
Adapun kalau tidak diketahui keadaan orang yang meminta, apakah dia gunakan untuk kebaikan ataukah kemaksiatan maka tidak mengapa untuk diberi sebagaimana pada kisah seseorang yang bersedekah pada malam hari kemudian pada pagi harinya dia diberitahu bahwa yang disedekahinya adalah orang kaya dan wanita pezina maka dia langsung memuji dan menyanjung Allah dengan berharap barangkali dengan pemberiannya akan menjadikan orang kaya itu untuk sadar bahwa dia tidak berhak menerima sedekah, dengan itu pula akan membuatnya untuk mudah bersedekah. Begitu pula wanita pezina yang diberi dengan sedekahi itu, barangkali dengan sedekah yang diberikan kepadanya akan membuatnya sadar dan bertaubat dari perbuatan kejinya.
Wallahu A’lam.

(Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir di Limboro pada 14 Dzulqa’dah 1437)

tumblr_inline_n3tr7kqFYW1stvxrr

Tanya : Bismillah… Mau tanya: Apakah boleh memberi zakat kepada orang yang beragama kristen? Jazakumullahu Khairan
Pertanyaan dari Cilacap.

Jawab: Tidak boleh, dan dibolehkan baginya kalau dia menjadi muallaf (orang yang baru memeluk Islam), Allah Ta’ala sebutkan di dalam Al-Qur’an:

والمؤلفة قلوبهم

“Dan orang-orang muallaf (yang dipikat) hati mereka (kepada keislaman).” Sebagaimana yang Allah sebutkan di dalam surat At-Taubah tentang mereka yang dibolehkan untuk diberi zakat.Dan penyebutan muallaf di sini bukan setiap orang yang dulunya beragama non Islam kemudian memeluk Islam, namun yang diinginkan adalah orang yang baru memeluk Islam, dipikat dan dikuatkan hatinya dengan diberi zakat supaya dia semakin mantap dan kokoh keislamannya, sebagaimana disebutkan di dalam suatu riwayat yang shahih tentang seseorang yang baru memeluk Islam maka Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberinya zakat, dia pun kembali ke kaumnya lalu mengajak kaum untuk masuk Islam karena akan dimuliakan dengan diberi zakat.
Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan zakat kepada orang yang baru masuk Islam dengan pemberian yang luar biasa banyak, dan beliau tidak memberikan kepada para shahabatnya yang sudah lama masuk Islam dikarenakan mereka sudah kokoh dan mantap keislaman mereka jadi tidak perlu untuk dipikat dengan zakat.
Dan suatu kesalahan terhadap suatu lembaga atau yayasan yang mengumpulkan zakat kemudian zakat tersebut diberikan kepada semua orang fakir miskin dalam suatu negara dengan tanpa melihat kepada agamanya, padahal yang berhak menerima zakat adalah para fakir miskin dari kalangan kaum muslimin saja.
Wallahu A’lam.

(Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir di Limboro pada 16 Dzulqa’dah 1437)

tumblr_inline_n3tr7kqFYW1stvxrr

Tanya : Bismillah…Apakah boleh memberi uang kepada orang yang mengamen kepada kita di rumah dan di pasar? Jazakumullahu Khairan
Pertanyaan dari Cilacap

Jawab: Tidak boleh memberinya, karena dengan memberinya dia akan datang lagi pada kali berikutnya, keadaan mereka dengan memperdengarkan musik atau lantunan ngamennya itu sama halnya mereka menjualkannya kepada yang mendengarkannya, lalu kemudian mereka menarik upah, Allah Ta’ala berkata:

ومن الناس من يشتري لهو الحديث ليضل عن سبيل الله بغير علم

“Dan diantara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan sia-sia untuk menyesatkan dari jalan Allah dengan tanpa ilmu.”
Dan diperkecualikan kalau tidak diberi para pengamen tersebut akan semakin menjadi-jadi ngamennya dengan memberi ancaman dan atau mereka akan berbuat kerusakan yang lebih besar lagi maka diberi karena untuk menolak kerusakan mereka yang lebih besar tersebut, dan sesungguhnya menolak mudarat itu lebih dikedepankan daripada mendatangkan kemaslahatan. Wallahu A’lam wa Ahkam.

(Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir di Limboro pafa 16 Dzulqa’dah 1437

tumblr_inline_n3tr7kqFYW1stvxrr

Tanya : Bismillah… Ana kalau baca Al-Qur’an selalu di HP yang ada aplikasi Al-Qur’an berikut terjemahannya, setiap ayat dibaca sekaligus baca artinya jadi dengan begitu ana bisa memahami setiap ayat yang dibaca,berbeda jika membaca di mushaf yang tidak ada terjemahannya, ana merasa tidak mengerti apa yang ana baca,pertanyaan ana bagaimana hukumnya membaca Al-Qur’an di HP dengan terus menerus sehingga mushaf Al-Qur’an tidak pernah di buka? Jazaakumullah khoiron.
Pertanyaan dari Cirebon

Jawab: Tidak mengapa bagimu membaca Al-Qur’an lewat HP, yang termudah bagimu itu yang kamu ambil:

فاقرءوا ما تيسر من القرآن

“Maka bacalah oleh kalian apa yang mudah dari Al-Qur’an.”
Baik surat yang termudah dan terpendek itu kamu baca lewat aplikasi HP atau pun lewat lembaran-lembaran mushhaf, yang termudah kamu tempuh itu yang kamu ambil.
Melalui aplikasi atau program di HP kapan saja dan dimana saja kamu bisa membukanya dan bisa membacanya, dengannya pula kamu bisa memanfaatkan aplikasi Al-Qur’an dan terjemahannya. Dengan membaca Al-Qur’an di HP yang memiliki terjemahannya yang dengannya kamu bisa memahami perkataan Rabb kita Ar-Rahman Subhanahu wa Ta’ala maka tentu ini memiliki keutamaan tersendiri. Di saat jenuh membaca dapat pula kamu menikmati aplikasi lain berupa mendengarkan bacaan Al-Qur’an, yang terpenting bagi kita adalah menjaga waktu dan memanfaatkan waktu kita, kapan kita memiliki kesempatan dan keluangan waktu maka kita gunakan, baik itu membaca Al-Qur’an lewat lembaran-lembaran mushhaf Al-Qur’an atau pun lewat HP. Wabillahit Taufiq.

(Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir, di Limboro pada 17 Dzulqa’dah 1437)

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: