“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

Tanya jawab 15 Syaikh Muh.bin Hizam

بسم اللــــه الرحمـــــــــن الرحيم

Tanya :  Saudara ini bertanya : Bagaimana penjelasan hadits   “Barakah itu bersama orang-orang besar”.

Jawab :  Maksudnya adalah : bahwa para Ulama Rasikhin dijadikan sebagai rujukan, dan dari kita bisa mengambil faidah dan nasehat mereka.

Dan Allah azza wa jalla berfirman :

﴿وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُوْلِي الأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلا فَضْلُ اللهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا﴾ النساء: ٨٣،

“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita keamanan ataupun ketakutan, mereka langsung menyiarkannya. Dan kalaulah mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahuinya akan mendapatkan dari mereka. Dan jikalau bukan karena karunia dan rahmat Allah atas kalian, niscaya kalian mengikut syaitan, kecuali sebagian kecil saja. “ QS: An –Nisa  83     

Oleh karena itu sepantasnya bagi penuntut ilmu agar selalu merujuk kepada guru mereka, dan jika ada perselisihan maka bacalah pendapat mereka, dan juga pada dalil-dalil yang telah mereka sebutkan agar bisa mendapatkan kebenaran.

“Dan bukanlah maksudnya “orang orang besar”  adalah : orang tua , bahkan maksudnya adalah : yang banyak ilmu, tinggi derajat, dan juga agama dan kebaikannya”.

الســـــــؤال :- يقول الأخ: ما شرح حديث(البركة مع الأكابر) ؟

الإجــــــــــــابة :- معنى ذلك أن العلماء الراسخين يرجع إليهم، ويستفاد منهم ومن نصائحهم،  والله عز وجل يقول:﴿وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُوْلِي الأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلا فَضْلُ اللهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا﴾  النساء: ٨٣،

فلذلك ينبغي على طلبة العلم أن يرجعوا إلى علمائهم، وإذا حصل خلاف فيقرأوا في أقوالهم، وفي الأدلة التي يذكرونها حتى يتوصلوا إلى الحق. وليس المراد بالأكابر هو كبر السن، بل المراد كبر العلم والقدر والدين والصلاح

devider

Tanya  : Seseorang mempunyai tanah, dia jadikan bangunan pertama sebagai masjid dan yang diatasnya sebagai rumah untuk anak-anaknya, apakah hal ini dibolehkan untuknya?

Jawab :  Iya, jika tanah itu kepunyaan dia maka dia boleh berbuat sekehendak dia, maka dia bisa mewakafkan bangunan pertama untuk masjid dan yang kedua untuk kepemilikannya, maka tidak mengapa. Dan jika itu adalah tanah waqaf dan ia butuh untuk membangun rumah diatas masjid, karena dialah yang mengurus masjid, maka tidak mengapa, akan tetapi bukan milik dia, hanya saja mauquf karena dibangun diatas tanah waqaf. Dan tidak diperbolehkan untuknya membangun diatas tanah atau bangunan waqaf, dalam rangka untuk memiliki. Ini apabila manusia tidak butuh dengan atap bangunan. Adapun jika mereka membutuhkannya untuk kepentingan masjid, maka dia mencari tempat lain untuk rumahnya. Waqaf yang umum lebih diutamakan daripada waqaf yang khusus.

الســـــــؤال :- رجلٌ عنده أرض جعل الدور الأول فيها مسجداً وما فوقه بيتاً له ولأولاده ، هل يجوز له ذلك ؟

الإجــــــــــــابة :- نعم إذا كانت الأرض أرضه يصنع فيها ما شاء، فله أن يوقِف منها البناء الأول والبناء الثانــــي يجعله ملكاً له – فلابأس، وإن كانت أرضاً موقوفة واحتاج أن يبني بيتاً فوق المسجد بأنه هو القائم على المسجد فلابأس لكن لايكون ملكاً له وإنما موقوف لأنه مبنيٌ على وقف، فليس له أن يبني تملكاً على أرضٍ موقوفة أو على بناءٍ موقوف، هذا إذا استغنى الناس عن السطح وإما إن كانوا يحتاجونه للمسجد فيلتمس مكاناً آخر لبيته – الأوقاف العامة مقدمة على الأوقاف الخاصة .

devider

Tanya : Seorang perempuan bertanya : Ada seorang laki-laki yang melamar nya, dia orang yang shalat dan mengkonsumsi ganja, dia juga mempunyai beberapa ladang qoot (sejenis : ganja), yang dia bergantung padanya, seolah olah itulah sumber rezekinya.  Apakah lamaran lelaki tersebut diterima ataukah di tolak, dikarenakan rezeki nya dari hasil qoot?

Jawab : Kami sarankan agar ditolak, karena sumber makanannya dari harta yang buruk, dan nafkah untuk wanita itu dari harta tersebut, ditambah lagi dia mempunyai ladang tersebut, maka otomatis dia sendiri akan mengkonsumsi nya dan juga akan melakukan sebuah kemaksiatan, begitu pula perilaku para pengkonsumsi ganja sangat buruk terhadap keluarga dan anak-anak mereka. Maka nasehat kami kepadanya agar ia bersabar, sampai ada seseorang yang lebih baik yang akan datang melamarnya.

“Dan barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya allah menggantikannya dengan yang lebih baik”.

الســـــــؤال :- تقول السائلة: تقدم لها رجلٌ يُصلي وهو يُخزن وله مزارع قات وهو يعتمد عليها كمصدر رزقه فهل تقبل ذلك أم ترفض ذلك بسبب أن رزقه من كسب القات ؟

الإجــــــــــــابة :- ننصحها أن لا توافق على ذلك فإن مصدر أكله من هذا المال الخبيث فسينفق عليها منه إضافة إلى أنه إن كان عنده مزارع فمعنى أنه سيخزن هو بنفسه ويرتكب هذه المعصية وكذلك تسوء أخلاق المخزنين مع أهليهم وأولادهم فلاتُنصح بذلك وننصحها أن تصبر حتى يتقدم لها خير منه ومن ترك شيئا لله أبدله الله خيراً منه 

devider

Tanya : Apakah boleh ketika amin mengucapkan : Allahumma amin?

Jawab : Amin itu sendiri artinya adalah : “Yaa Allah kabulkanlah”.

Maka tidak perlu lagi ditambahkan : “Allahumma amin”. baik ketika khutbah atau yang lainnya, maka secara syar’i tidak dilarang, dan tidak pula secara bahasa -maksudnya adalah : dibolehkan-

Akan tetapi jika hanya : Aamiin, maka sudah mencukupi. Wallahul musta’an. Adapun pada surat Al Fatihah maka tidak boleh memberikan tambahan seperti ini. “Jika imam membaca amin, maka baca lah amin, maka tidak perlu mengucapkan : Allahumma amin.

الســـــــؤال :-هل يجوز أن يُقال عند التأمين ” اللهم آمين “؟

الإجــــــــــــابة : التأمين نفسه هو معناه: اللهم استجب فما يحتاج الإنسان أن يضيف قوله اللهم آمين  ولكن لو أضافها في غير الفاتحة : في الأدعية : سواءٌ في الخطبة أو في غيرها فليس فيه مانع شرعي ولالغوي ,- يجوز – ولكن الاقتصار على آمين يكفي والله المستعان ، وأما في الفاتحة فلا يجوز أن يزيد هذه الزيادة ” (إذا أمن الإمــــــام فأمنوا “) فلايقال اللهم آمين 

devider

Tanya : Penanya berkata : Empat tahun yang lalu telah meninggal seorang putrinya dan umurnya empat bulan dan dia belum melaksanakan aqiqahnya, apakah dibolehkan jika ia melakukan nya sekarang?  

Jawab : Iya, di syari’atkan menurut mayoritas ulama : untuk dilaksanakan aqiqah bagi yang telah meninggal, dan kematiannya bukan sebagai penghalang aqiqah, karena dia telah mendapatkan waktu yang telah diperintahkan syari’at.

ففي حديث سمرة بن جندب رضي الله عنه  “كل غلامٍ مرتهنٌ بعقيقته تذبح عنه يوم سابعه ويحلق رأسه ويسمى “

Dalam hadits Samurah bin Jundub radhiyallahu anhu : “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelih pada hari ketujuh dan di gundul rambutnya dan diberi nama”.

Bahkan sebagian ulama mengatakan : “Walaupun yang dilahirkan tidak sampai pada hari ketujuh, tetap di syari’at kan aqiqah, karena dia juga dikatakan ketujuh, walaupun sudah meninggal”.

Dan ini yang lebih dekat : bahwasanya aqiqah tetap disyari’atkan bagi yang sudah meninggal sebelum hari ketujuh atau setelahnya. Dan inilah fatwa Al Lajnah Ad Daimah, Imam Ibnu Baaz, Ibnu Utsaimin semoga rahmat Allah tercurah kan atas mereka.

الســـــــؤال :- يقول السائل قبل أربع سنوات توفيت ابنته وكان عمرها أربعة أشهر ولم يعق عنها هل يجوز له أن يذبحع عقيقتها الآن ؟

الإجــــــــــــابة :- نعم يشرع عند جمهور أهل العلم أن يُعق عن من توفي وليست الوفاة بمانعٍ عن العقيقة،لأنه قد أدرك الوقت الذي أمر به الشرع ففي حديث سمرة بن جندب رضي الله عنه  “كل غلامٍ مرتهنٌ بعقيقته تذبح عنه يوم سابعه ويحلق رأسه ويسمى ” بل قال بعض أهل العلم: حتى ولو لم يدرك المولود اليوم السابع فيشرع العقيقة لأنه يطلق عليه سابعٌ له ولوكان قد مات،  وهذا هو الأقرب أنها تشرع العقيقة عن من مات قبل السابع أو بعده وعليه فتوى اللجنة الدائمة والإمــــــام ابن باز والإمام العثيمين رحمة الله عليهم 

devider

Tanya : Apakah tahdzir terhadap ahli bid’ah sesuai kebutuhan atau pada setiap tempat dan majelis?

Jawab : Hanya ketika dibutuhkan, jika memang dibutuhkan maka diperingat kan, ada orang-orang yang masuk kepadanya yang mereka tidak mengetahui keadaan orang ini, maka diperingatkan.

 Apabila ia adalah da’i keburukan, kesesatan dan bid’ah, maka perlu di jelaskan.

Adapun waktu yang lain maka disibukkan dengan belajar dan mengulang Qur’an, dan dzikir kepada Allah, dan ta’lim dan yang lainnya, dari amalan amalan kebaikan.

الســـــــؤال :- يقول هل يكون التحذير من المبتدعة بحسب الحاجة، أم يكون في كل المجالس والأحوال ؟

الإجــــــــــــابة :- إنما يكون عند الحاجة، فإذا وجدت الحاجة حذر، دخل عنده أناس ما يعلمون حال هذا الرجل، فيحذر منه، إذا كان داعية شر وضلال وبدعة، ويبين حاله، وأما في باقي الأوقات فيشغل نفسه بالعلم، وبمراجعة القرآن، وذكر الله عز وجل، والتعليم وغيرها من أعمال الخير

devider

Tanya :  Sebagian orang bermudah mudahan dalam memasang gambar bernyawa di handphone mereka, terkhusus pada whatsapp dan yang lainnya, mereka berdalih bahwasanya ini tersembunyi?

Jawab  : Sepantasnya bagi seorang muslim, untuk bertaqwa kepada Allah subhanahu wata’ala, dan jangan mencari-cari alasan untuk dirinya, dan mencari cari dalih untuk membolehkan perkara yang haram.

Gambar adalah gambar…gambar yang bernyawa merupakan perkara yang haram dan dosa besar, dan telah kita sebutkan di banyak tempat dalil-dalil yang datang dalam masalah ini.

Maka kewajiban kita adalah agar tidak bermudah-mudahan dalam perkara. Dan jangan sampai syaitan menjerumuskan kita dengan langkah nya. Dan seorang itu hendaknya menjauh dari penggunaan gambar di handphonenya, dan jika ada sesuatu yang tiba-tiba muncul, maka segeralah di hapus, dia hilang kan dan jangan mengikuti grup yang terdapat padanya gambar bernyawa.

الســـــــؤال :- حصل تهاون من بعض الناس في جعل الصور في هواتفهم وخاصة في الواتساب وغيره ويعللون بأنها مخفية ؟

الإجــــــــــــابة :- ينبغي للمسلم أن يتقي الله سبحانه وتعالى وأن لايتلمس لنفسه الأعذار ويتلمس لنفسه المبررات فالصورة هي صورة، صور ذوات الأرواح محرمة وكبيرة من كبائر الذنوب وقد ذكرنا في أكثر من موضع الأدلة الواردة فيها.  فالواجب علينا أن لا نتساهل في هذا الأمر وأن لايستدرجنا الشيطان بخطواته، فالإنسان يبتعد عن استقبال الصور في جواله وإذا وصل شيء عارضاً أزاله سريعاً يزيل ذلك ولايشترك في مجموعات فيها صور ذوات الأرواح

devider

Tanya : Apakah dalil yang menunjukkan tentang sunnahnya membayar fidyah bagi yang tidak mampu berpuasa?

Jawab : Dalil tentang sunnahnya fidyah adalah perbuatan para sahabat ridhwanullah alaihim. Dan dikarenakan syari’atnya ketika sebelum diwajibkan nya puasa, seseorang diberi pilihan antara berpuasa atau memberi makan, lalu diwajibkanlah puasa tersebut.

Dan para Shahabat ridhwanullah alaihim, perbuatan dan fatwa mereka akan perkara tersebut, menunjukkan bahwa perkara ini mempunyai asal dalam masalah puasa, yang belum pernah dilakukan sebelum mereka dan tidak diketahui adanya yang menyelisihi dari kalangan shahabat.

Telah datang dari Anas bin Malik bahwasanya beliau ketika lanjut usia memberikan makan kepada orang-orang miskin, dan datang dari Ibnu Abbas, bahwa beliau memfatwakan hal tersebut, dan juga dari Abu Hurairah dan para Shahabat yang lain.

Bahkan mayoritas ulama membawa atsar ini dalam hukum wajib. Mereka mengatakan : ini menunjukkan bahwa ini wajib. Bagaimana mereka memfatwa kannya dan memerintahkan manusia untuknya. Sehingga mereka (jumhur) membawanya kepada ma’na wajib. Dan yang lebih dekat adalah : tidak bisa di bawa pada hukum wajib, karena Allah azza wa jalla mengharuskan puasa dan tidak mengharuskan memberi makan, setelah terhapusnya pilihan pada awal puasa.

الســـــــؤال :- مالدليل على استحباب الفدية عن العاجز الذي لايُطيق الصيام ؟

الإجــــــــــــابة :- الدليل على استحبابها فعل الصحابة رضوان الله عليهم ولأن الشرع قبل أن يلزم بالصيام كان مخيراً الصائم بين الإطعام أو الصوم ثم ألزم الله بالصوم، والصحابة رضوان الله عليهم فعلهم وفتياهم بذلك يدل على أن للمسألة أصل في هذا الأمر ،لم يُعمل من قبل أنفسهم ولا يُعلم لهم مخالف من الصحابة ثبت عن أنس أنه عند أن كبر كان يطعم المساكين، ثبت عن ابن عباس أنه كان يفتي بذلك وجاء عن أبي هريرة وغيرهم من الصحابة بل الجمهور حملوا هذه الآثار على الإيجاب – قالوا هذا يدل على أنه واجب، فكيف يفتون ويأمرون الناس بذلك فحملوه على الوجوب، والأقرب أنه لايمكن حمله على الوجوب لأن الله عزوجل ألزم بالصوم ولم يلزم بالإطعام بعد أن فسخ التخيير الأول

devider

Tanya : Seorang wanita menyusui anaknya, dan ia tertidur dalam keadaan payudaranya di atas wajah anaknya, dan tatkala ia bangun ternyata anak tersebut telah meninggal, maka apa yang harus di lakukan?

Jawab : Yang nampak dari keadaannya adalah dia menahan nafas anak tersebut ketika tidur, dan ini termasuk membunuh tanpa disengaja, dan dia harus membayar tebusan yang telah Allah subhanahu wata’ala perintah kan, yaitu : membebaskan seorang budak, dan jika tidak mampu, maka berpuasa dua bulan berturut turut. Dan yang tidak mampu, maka para ulama berselisih, apakah ia boleh pindah dengan memberikan makan enam puluh orang miskin, karena tidak disebutkan dalam ayat, ataukah tidak perlu pindah, yang lebih dekat adalah dia pindah. Karena Allah azza wa jalla telah menjadikannya sebagai ganti dari puasa dua bulan berturut pada kaffarah zhihar, dan kaffarah orang yang berhubungan badan dengan istrinya di siang hari ramadhan.

Dan sebagaimana para ulama membawa ayat zhihar, hendaknya adalah budak yang mu’min, mereka menjelaskan Allah telah memberikan ketentuan pada kaffarah pembunuhan, yaitu mu’min, maka begitu juga dikatakan : Allah telah menyebutkan pemberian makan kepada enam puluh orang miskin, sebagai ganti dari puasa dua bulan berturut dalam ayat-ayat tersebut. Dan yang lebih dekat adalah tidak jatuh darinya kewajiban diyat, hanya saja ia harus memberikan makanan, dan kewajiban diyatnya untuk ahli waris yang lain, jika mereka menuntutnya, dan jika sang bapak ada maka dialah satu satunya yang mewarisi, dan jika ia ternyata telah meninggal, maka dia juga mempunyai ahli waris yang lain dari saudaranya atau selain mereka.

Dan diyat pembunuhan yang tidak sengaja tidaklah kewajiban atas pembunuh semata, akan tetapi syari’at mewajibkannya atas qabilah seluruhnya, yaitu qabilah perempuan tadi. Dan merupakan kesalahan kalau mereka membebankan diyatnya hanya atas yang membunuh semata, *hanya saja di tanggung oleh pembunuh jika sengaja*

الســـــــؤال :- امرأة أرضعت ابناً لها ثم نامت وثديها على وجهه فقامت وقد مات ، فماذا عليها ؟

الإجــــــــــــابة :- الظاهر من الحال أنها كتمت نَفَسه في حال نومها ، وهذا يعتبر قتل خطأ – عليها الكفارة التي أمر الله سبحانه وتعالى بها وهي عتق رقبة فمن لم يجد فيصوم شهرين متتابعين فمن لم يستطع فاختلف أهل العلم هل له أن ينتقل إلى إطعام ستين مسكينا لأنه لم يذكر في الآية أم لا ينتقل والأقرب هو الانتقال، لأن الله عز وجل فد جعله عِدل صيام شهرين متتابعين في كفارة الظهار وفي كفارة المجامع امرأته في نهار رمضان  وكما أن أهل العلم حملوا آية الظهار فيما يتعلق بأن تكون مؤمنة قالوا قد قيدها الله في كفارة القتل بأنها مؤمنة  فكذلك يُقال قد ذكر الله عزوجل أن إطعام ستين مسكينا يعادل صيام شهرين متتابعين في تلك الآيات فالأقرب أنه ما يسقط وإنما يبقى عليه الإطعام، وعليها الدية لبقية الورثة إذا طالبوا بها –  إن كان الأب موجوداً فهو الوارث الوحيد وإن كان قد مات فقد يكون له ورثة آخرون من إخوانه، أو غيرهم . ودية القتل الخطأ ليست على القاتل فقط إنما أوجبها الشرع على القبيلة كاملة – قبيلة المرأة  كلها ،ومن الخطأ أن يحملوا دية الخطأ على القاتل فقط وإنما يتحملها القاتل فقط إذا كانت عمدا ً

📜✒️ Soal jawab bersama Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Ali bin Hizam Al-Ba’daniy Al-Yamaniy Hafidzahullah

📩 Faedah kiriman Al akh Mahir Al Fadhli Al-Yamaniy hafidzahullah disaluran telegram ibnhezam@

📌Alih bahasa dan editor : team Ashhabulhadits

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: