“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

Tanya jawab part 14

بسم اللــــه الرحمـــــــــن الرحيم

Ada yang bertanya : Ada orang-orang yang mengatakan : “Perselisihan itu adalah rahmat?

الاختلاف شر، وليس برحمة، وهو عذاب من الله عز وجل: ﴿وَمِنَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَى أَخَذْنَا مِيثَاقَهُمْ فَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ فَأَغْرَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَسَوْفَ يُنَبِّئُهُمُ اللهُ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ﴾  المائدة: ١٤،

“Perselisihan adalah keburukan, dan bukan rahmat, dan itu termasuk adzab dari Allah azza wa jalla “.“Dan diantara orang-orang yang mengatakan: sesungguhnya kami adalah orang Nashara, ada yang telah kami ambil perjanjian mereka, dan mereka melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya, maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat. Dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang mereka kerjakan”. QS: Azl-Maidah 14

Dan sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam :

«اسْتَوُوا، وَلَا تَخْتَلِفُوا، فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ

 “Luruskanlah, dan janganlah kalian berselisih, sehingga hati kalian juga berselisih.”

Maka perselisihan itu adalah keburukan, dan bukanlah suatu rahmat, akan tetapi Allah azza wa jalla mentaqdirkannya karena suatu hikmah. Allah azza wa jalla mentaqdirkannya karena suatu hikmah yang agung, yang itu merupakan kebaikan atas apa yang telah Allah azza wa jalla tentukan. Karena Allah tidaklah menciptakan dan mentaqdirkan sesuatu melainkan terdapat padanya kebaikan dan hikmah yang Allahlah yang mengetahuinya.

Keburukan Allah ciptakan karena suatu hikmah.

Syaitan Allah ciptakan karena suatu hikmah.

Neraka Allah ciptakan karena suatu hikmah.

Diciptakannya syaitan, orang-orang jelek, ahli batil, orang-orang yang zhalim dan pembangkang karena suatu hikmah, dan Allahlah yang mengetahuinya, dan Allah ciptakan perselisihan juga karena hikmah.

الســـــــؤال :– يقول وجد أناس يقولون الاختلاف رحمة ؟

الإجــــــــــــابة :- الاختلاف شر، وليس برحمة، وهو عذاب من الله عز وجل: ﴿وَمِنَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَى أَخَذْنَا مِيثَاقَهُمْ فَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ فَأَغْرَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَسَوْفَ يُنَبِّئُهُمُ اللهُ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ﴾  المائدة: ١٤، وقول النبي صلى الله عليه وسلم: «اسْتَوُوا، وَلَا تَخْتَلِفُوا، فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ» فالاختلاف شر وليس برحمة، ولكن يقدره الله عز وجل لحكمة، ويقدر الله عز وجل الخلاف لحكمة عظيمة، وهو خير لما قدره الله عز وجل، فإن الله لا يخلق ولا يقدر إلا ما فيه مصلحة وحكمة يعلمها الله عز وجل، فالشر يخلقه الله لحكمة، خلق الله الشيطان لحكمة، وخلق الله النار لحكمة، وخلق الشياطين، وخلق أهل الشر، وأهل الباطل، وأهل الظلم والعناد لحكمة، يعلمها الله عز وجل، وخلق الاختلاف لحكمة .

***

Tanya : Apakah doa istiftah dibaca pada setiap dua raka’at, seperti shalat witr, apakah dibaca di setiap dua raka’at, dan begitu juga shalat dhuha, apakah dibaca disetiap dua raka’at?

Jawab : Tidak perlu. Nabi Shallallahu’alaihi wasallam mencukupkan membacanya diawal dua raka’at saja, dari setiap shalat malam, dan tidak ada dinukilan bahwa beliau mengulanginya pada setiap dua raka’at.

Dan telah diriwayatkan dari sejumlah shahabat tentang doa istiftah, dan mereka mencukupkan dengan membacanya di dua raka’at awal.

“maka siapa saja yang shalat malam, maka dicukupkan doa istiftahnya pada dua raka’at pertama, dan begitu pula shalat dhuha, jika dia membaca doa istiftah, maka cukup pada dua raka’at awal saja”. Dan shalat sunnah umumnya, mayoritas Fuqaha’ mengikutkannya dengan shalat fardhu dan shalat malam.

Mereka katakan : membaca doa istiftah dalam shalat tersebut, dan jika ia shalat beberapa raka’at, maka cukup pada dua raka’at yang awal, tidak mengapa, tapi tidak ada dalil yang jelas : bahwa Nabi Shallallahu’alaihi membaca istiftah pada shalat dhuha, ataupun shalat sunnah rawatib, hanya saja diqiyaskan dengan shalat malam dan fardhu.

الســـــــؤال :- هل دعاء الاستفتاح يُقرأ في كل ركعتين، فمثلاً الوتر هل يقرأه في كل ركعتين وكذلك الضحى هل يقرأه في كل ركعتين ؟

الإجــــــــــــابة :- لا – اكتفى النبي صلى الله عليه وسلم بقراءته في أول ركعتين من صلاة الليل ولم ينقل أنه كان يكرره في كل ركعتين فقد روى عدد من الصحابة دعاء الاستفتاح واقتصروا بذكره في الركعتين الأوليين  فمن صلى صلاة الليل اكتفى بدعاء الإستفتاح بالركعتين الأوليين وكذلك الضحى إن أتى بدعاء الاستفتاح فيكتفي به في الأوليين فقط، والتنفل المطلق كثير من الفقهاء ألحقوه بالفريضة و بصلاة الليل يقولون يدعوا دعاء الاستفتاح فيه وإن تنفل بركعات يكتفي بالركعتين الأوليين، ولابأس لكن ليس هناك دليلٌ صريح على أن النبي صلى الله عليه وسلم أتى بدعاء الاستفتاح في الضحى أو كذلك في رواتب الصلاة وإنما قياساً على صلاة الليل والفريضة .

***

Penanya berkata : Telah anda sebutkan dalam kitab shiyam : bahwa orang yang tidak mampu puasa, dibolehkan berbuka sebagaimana ijma’, dan anda sebutkan jika dia mampu puasa, maka harus membayar?

Pertanyaan kami : jika ia berbuka selama empat tahun apakah dia harus membayar tahun-tahun tersebut semuanya, ataukah tahun yang dia mampu berpuasa padanya?

Jawab : Apabila empat tahun berurutan itu dikarenakan tidak mampu, maka dia harus memberikan makan kepada satu orang miskin untuk setiap hari, kecuali ia mampu membayar puasa tanpa ada kesulitan, dan dia mudah baginya untuk membayar puasa, mungkin Allah memuliakannya dengan kesehatan dan kekuatan setelah itu, maka dia mengqadha puasanya seluruhnya.

Dan biasanya mereka tidak mampu untuk mengqadha setelah lanjut usia atau setelah menumpuk empat tahun, akan sulit baginya untuk puasa empat bulan.

Maka solusinya : memberi makan untuk setiap hari seorang miskin, sebagaimana para Shahabat ridhwanullah ta’ala alaihim, setelah mereka lanjut usia, mereka memberi makan dan berfatwa dengan nya. Dan ini dari Ibnu Abbas, Anas, Abu Hurairah dan yang lainnya.

الســـــــؤال :- يقول السائل: ذكرتم في كتاب الصيام أن العاجز الذي لا يُطيق الصيام له أن يفطر بالإجماع وقلتم إنه إذا قدر على الصيام لزمه القضاء؟ وسؤالنا أنه إذا أفطر أربع سنوات هل يلزمه قضاء تلك السنوات كلها أم السنة التي قدر على الصيام فيها ؟

الإجــــــــــــابة :-إذا توالت عليه أربع سنوات بسبب عجزه فيطعم عن كل يومٍ مسكيناً إلا أن يستطيع القضاء بدون مشقة ، يصير القضاء يسيراً عليه كأن يكرمه الله بصحةٍ بعد ذلك وقوة فيقضي ما تقدم كاملاً، والعادة في ذلك أنهم مايستطيعون القضاء بعد كِبر السنة أو بعد تراكمها أربع سنوات يشق عليه أربعة أشهر فيطعم عن كل يومٍ مسكيناً كما فعل الصحابة رضوان الله تعالى عليهم بعد كبرهم كانوا يطعمون وكانوا يفتون بذلك ثبت عن ابن عباس وأنس وعن أبي هريرة وغيرهم .

***

Tanya : Ada Seorang wanita yang tidak tahu akan wajib nya meng-qadha puasa ramadhan bagi yang haidh, maka apa yang sekarang perlu ia perbuat, dalam keadaan dia tidak mengetahui kewajiban qadha selama bertahun-tahun (dalam jangka waktu yang lama)?

Jawab : Dia meng-qadha semampunya, dan usahakan sesuai kemampuannya, sebagaimana firman Allah Ta’ala : “Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.”

Dan juga sebagaimana yang dikatakan Aisyah radhiyallahu anha : “Kami dahulu diperintahkan untuk mengqadha puasa dan tidak untuk shalat.Muttafaqun Alaihi.

Maka dia harus meng-qadha dan harus berusaha mengetahui berapa yang terluput darinya, dan tidak mengapa ia memisah-misah hari, agar tidak menyusahkannya.

الســـــــؤال :- امرأةٌ كانت جاهلةً بلزوم قضاء رمضان على الحائض فماذا عليها الآن، علماً أنها لم تكن تعلم وجوب القضاء لسنين كثيرة ؟

الإجــــــــــــابة :- تقضي ما استطاعت وتفرقها على قدر استطاعتها لقوله تعالى ” فعدةٌ من أيامٍ أخر” ولقول عائشة رضي الله عنها كنا يصيبنا ذلك فنؤمر بقضاء الصوم ولا نؤمر بقضاء الصلاة ” متفقٌ عليه، فعليها القضاء وعليها أن تجتهد في معرفة ما فاتها ولا بأس أن تفرق بين الأيام حتى لايشق عليها .

***

Penanya berkata : Anda telah menyebutkan dalam kitab Shiyam : Bahwasanya wanita yang sedang haidh jika telah suci di siang hari, tidak diharuskan puasa. Dan pada keadaan yang lain : seseorang yang lupa lupa niat puasa, diharuskan puasa. Lalu apakah perbedaan diantara keduanya?

Jawab : Karena orang yang tidak mengetahui masuknya bulan ramadhan, lalu sampai padanya berita dalam keadaan dia belum makan sama sekali. Maka Dia diharuskan untuk berpuasa : karena dia mendapatkan kewajibannya pada waktu tersebut.

Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam kisah ‘Asyura, tatkala nabi Shallallahu’alaihi Wasallam mengharuskan untuk puasa’ Asyura, dan bersabda : “Barang siapa yang belum makan, maka hendaklah ia berpuasa, dan barangsiapa siapa yang sudah makan, maka hendaklah ia menyempurnakan sisa harinya.”

Adapun wanita yang haidh, telah dibolehkan dalam agama untuk berbuka diawal siang hari, bahkan ia di perintahkan untuk berbuka, lalu bagaimana kita justru menyuruhnya untuk puasa pada sisa hari tersebut, padahal ia di perintah untuk berbuka pada hari itu.

الســـــــؤال :- يقول السائل : ذكرتم في كتاب الصيام أن الحائض لو طهرت في أثناء النهار لايلزمها الإمساك بينما الذي نسي تبييت النية يلزمه الإمساك فما الفرق بين الحالين ؟

الإجــــــــــــابة :- أن الذي ماعلم أنه رمضان بلغه الخبر في ذلك الوقت وكان لم يأكل بعد فلزمه الإمساك حيث بلغه الوجوب في ذلك الوقت  يدل عليه قصة عاشوراء لما ألزم النبي صلى الله عليه وسلم بصومه قال من كان منكم لم يأكل فليصم ومن كان قد أكل فليتم بقية يومه، وأما هذه فقد أباح لها الشرع أن تفطر في أول النهار – بل هي مأمورة بالإفطار فكيف سنأمرها أن تصوم بقية اليوم وهي مأمورة بفطر ذلك اليوم .

***

Tanya : Apakah dalil yang menunjukkan tentang sunnahnya membayar fidyah bagi yang tidak mampu berpuasa?

Jawab : Dalil tentang sunnahnya fidyah adalah perbuatan para sahabat ridhwanullah alaihim. Dan dikarenakan syari’atnya ketika sebelum diwajibkannya puasa, seseorang diberi pilihan antara berpuasa atau memberi makan, lalu diwajibkanlah puasa tersebut. Dan para Shahabat ridhwanullah alaihim, perbuatan dan fatwa mereka akan perkara tersebut, menunjukkan bahwa perkara ini mempunyai asal dalam masalah puasa, yang belum pernah dilakukan sebelum mereka dan tidak diketahui adanya yang menyelisihi dari kalangan shahabat.

Telah datang dari Anas bin Malik bahwasanya beliau ketika lanjut usia memberikan makan kepada orang-orang miskin, dan datang dari Ibnu Abbas, bahwa beliau memfatwakan hal tersebut, dan juga dari Abu Hurairah dan para Shahabat yang lain. Bahkan mayoritas ulama membawa atsar ini dalam hukum wajib, mereka mengatakan : ini menunjukkan bahwa ini wajib. Bagaimana mereka memfatwakannya dan memerintahkan manusia untuknya. Sehingga mereka (jumhur) membawanya kepada makna wajib.  Dan yang lebih dekat adalah : tidak bisa dibawa pada hukum wajib, karena Allah azza wa jalla mengharuskan puasa dan tidak mengharuskan memberi makan, setelah terhapusnya pilihan pada awal puasa.

الســـــــؤال :- مالدليل على استحباب الفدية عن العاجز الذي لايُطيق الصيام ؟

الإجــــــــــــابة :- الدليل على استحبابها فعل الصحابة رضوان الله عليهم ولأن الشرع قبل أن يلزم بالصيام كان مخيراً الصائم بين الإطعام أو الصوم ثم ألزم الله بالصوم، والصحابة رضوان الله عليهم فعلهم وفتياهم بذلك يدل على أن للمسألة أصل في هذا الأمر ،لم يُعمل من قبل أنفسهم ولا يُعلم لهم مخالف من الصحابة ثبت عن أنس أنه عند أن كبر كان يطعم المساكين، ثبت عن ابن عباس أنه كان يفتي بذلك وجاء عن أبي هريرة وغيرهم من الصحابة بل الجمهور حملوا هذه الآثار على الإيجاب – قالوا هذا يدل على أنه واجب، فكيف يفتون ويأمرون الناس بذلك فحملوه على الوجوب، والأقرب أنه لايمكن حمله على الوجوب لأن الله عزوجل ألزم بالصوم ولم يلزم بالإطعام بعد أن فسخ التخيير الأول .

***

Tanya : Seseorang telah mentato kulitnya, lalu ia ingin bertaubat. Maka bagaimana caranya ia bertaubat dan bagaimana cara untuk menghilangkan tato ?.

Jawab : Tato adalah merubah warna kulit, dan memberinya warna lain, juga digambar dan semisalnya. Dan ini termasuk dosa besar

“Allah melaknat orang yang menyambung rambut dan yang minta disambung, dan orang yang mentato juga yang minta ditato dan yang merenggangkan gigi, untuk memperindah penampilan, yang mengubah ciptaan Allah.”

Maka tato adalah haram  -salah satu dosa besar- dan diharuskan bagi pemiliknya agar bertaubat kepada Allah azza wa jalla. Dan  barangsiapa yang bertaubat maka Allah akan menerima taubatnya.

Allah Ta’ala berfirman :

قال تعالى: (( إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ ۚ )) النساء الآية ٤٨,

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” QS : An-Nisa 48

Allah berfirman :

وقال تعالى  : قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ  الزمر الآية ٥٣

“Katakanlah Wahai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” QS : Az-Zumar 53

Maka barangsiapa yang bertaubat pastilah Allah akan menerimanya. Menghilangkan tato, jika sedikit, dan tidak susah, maka di hilangkan. Dan jika sulit dihilangkan

يريد الله بكم اليسر ولا يريد بكم العسر

“Allah menginginkan untuk kalian kemudahan, dan tidak menginginkan untuk kalian kesulitan. baik kesulitan dari sisi biaya atau adanya efek samping pada kulitnya, dan tidaklah Allah menjadikan untuk kalian suatu yang sulit dalam agama. Maka dia berusaha semampunya untuk menghilangkan, jika tidak ada kesulitan.

الســـــــؤال :- رجلٌ وشم نفسه ثم يريد أن يتوب فكيف يتوب، وكيف يزيل الوشم ؟

الإجــــــــــــابة :- معنى الوشم تغيير ألوان الجلد وجعل عليه ألوان أخرى ونقش وما أشبه ذلك وهذا من كبائر الذنوب ” لعن الله الواصلات والمستوصلات والواشمات والمستوشمات والمتفلجات للحسن المغيرات خلق الله ” فالوشم محرم – كبيرة من كبائر الذنوب على صاحبه أن يتوب إلى الله عزوجل ومن تاب تاب الله عليه. قال تعالى: (( إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ ۚ )) النساء الآية ٤٨, وقال تعالى (( قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ)) الزمر الآية (٥٣)

فمن تاب تاب الله عليه ، إزالة الوشم إن كان يسيراً عليه لايُلحق به المشقة أزاله وإن كان يشق عليه ” يريد الله بكم اليسر ولا يريد بكم العسر ” سواءٌ مشقة من حيث المال أو مشقة من حيث الضرر في جلده ” وماجعل عليكم في الدين من حرج ” فيسعى قدر استطاعته في إزالته إذا تمكن بدون مشقة .

***

Tanya : Seorang membeli tanah yang lebar dan luas, apakah ia harus membayar zakatnya? Dan apakah zakat dari dua tahun, hanya setahun saja?

Jawab : Jika ia membelinya dengan niat untuk menyimpan hartanya, kemudian dia akan menjualnya dengan nilai yang lebih, maka dia dihukumi seperti yang menggunakannya untuk perdagangan maka dia harus membayar zakatnya, di setiap akhir tahun. Jika telah genap setahun maka ia mengeluarkan zakat hartanya seharga hari pembayaran zakat. Adapun jika ia membeli nya untuk pribadi, dan akan dia bangun atau di tanami, maka ini tidak ada zakatnya.  Wallahul musta’an.

الســـــــؤال :- رجلٌ اشترى أرضاً كبيرةً واسعة هل يزكي عليها ؟ وهل تكون الزكاة عند حولان الحول فقط ؟

الإجــــــــــــابة :- إن اشتراها بنية حفظ المال ثم بيع الأرض بمبلغ أكبر فهو في حكم من أخذها للتجارة فعليه أن يزكي عليها على رأس كل عام إذا حال الحول على أمواله يزكي عليها بسعر يوم الزكاة، وأما إذا اشتراها لنفسه يريد أن يبنيها أو أن يزرعها فهذه ليس فيها زكاة، والله المستعان .

***

📜✒️ Soal jawab bersama Syaikh Muhammad bin Ali bin Hizam Al-Ba’daniy Al-Yamaniy Hafidzahullah

📩 Faedah kiriman Al akh Mahir Al Fadhli Al-Yamaniy hafidzahullah disaluran telegram ibnhezam@

📌Alih bahasa dan editor : team Ashhabulhadits

ranting png

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: