“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

mubtadi

“Apakah seorang mubtadi’ di benci secara mutlak, ataukah di senangi sesuai kebaikannya, dan dibenci sesuai keburukannya?

Jawab : Tidaklah sama seorang mubtadi dan orang kafir, dan tidak diragukan lagi orang kafir harus kita bara’ kepada mereka secara keseluruhan.

Allah azza wa jalla berfirman :

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللهِ وَحْدَهُ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللهِ مِنْ شَيْءٍ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ المَصِيرُ

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagi kalian pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya, tatkala mereka berkata kepada kaumnya : Sesungguhnya kami berlepas dari kalian dari apa yang kalian sembah selain Allah, kami mengingkari kalian, dan telah nampak antara kami dan kalian  selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: sungguh benar-benar aku akan mohonkan ampunan untukmu dan aku tiada dapat menolak bagimu  dari Allah sedikit pun. Wahai Rabb kami hanya kepada mu lah kami bertawakkal dan hanya kepada-Mulah kami bertaubat dan hanya kepada-Mu kami kembali. QS: Al-Mumtahanah: 4

Maka tidak diragukan lagi bahwa seorang mubtadi tidaklah dibenci sebagaimana kebencian kita terhadap orang kafir.  Dan tidak diragukan lagi bahwa mereka layak mendapatkan loyalitas sesuai imannya. Tapi, bukan berarti maksudnya adalah : kita duduk bersamanya, atau kita menyuruh untuk belajar kepadanya, atau kita berteman dengannya, INI BUKANLAH TERMASUK MANHAJ SALAF

Dan bukan berarti kita tidak mengatakan : “kita membencinya”.

Kita membencinya. Dan jangan sampai kita mengatakan : “Kita benci dan juga senang kepadanya”.

Ini adalah muwazanah menyelisihi manhaj salaf. Bahkan kita katakan : “Ahli bid’ah mereka harus di benci dan waspada dari mereka.”

Sebagaimana sikapmu jika ada seseorang muslim yang berbuat buruk dan zhalim kepadamu, dia menculik anakmu, dia menginjak kehormatanmu, Apakah engkau menyukainya? 

Dia orang fasiq, zhalim, dan bersamaan dengan itu kau membencinya.

Dan tentunya tidak diragukan lagi bahwa ia mendapatkan loyalitas sesuai imannya, dia masih beriman ala kadar imannya, dan walaupun begitu engkau harus mengatakan : aku benci dia, dan kau tidak akan mengatakan : “Aku senang kepadanya diatas kadar imannya.

Maka seorang mubtadi lebih-lebih lagi. Karena keburukannya berdampak buruk bagi agama dan keburukannya terhadap manhaj nabi Shallallahu’alaihi Wasallam lebih besar, dan bahayanya terhadap manusia menyebar. Maka dia pantas untuk di benci.

Dan Imam Al Baghawi telah menukilkan dalam `Syarhus Sunnah `tentang Ijmaknya para ulama dalam membenci ahli bid’ah dan memutus hubungan dari mereka, tidak bergaul dengan mereka. Maka bedakanlah antara ini dan itu.

📜✒️ Soal jawab bersama Syaikh Muhammad bin Ali bin Hizam Al-Ba’daniy Al-Yamaniy Hafidzahullah

📩 Faedah kiriman Al akh Mahir Al Fadhli Al-Yamaniy hafidzahullah disaluran telegram ibnhezam@

📌Alih bahasa dan editor : team Ashhabulhadits

img_1490552_48579547_64

NASKAH ASLI

الســـــــؤال :– يقول السائل هل المبتدع يكره مطلقًا، أم يحب على ما عنده من الخير، ويكره على ما عنده من الشر ؟

الإجــــــــــــابة :- لا يستوي المبتدع مع الكافر، لا شك أن الكافر يكون لنا معه البراءة المطلقة.قال الله عز وجل: (قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللهِ وَحْدَهُ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللهِ مِنْ شَيْءٍ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ المَصِيرُ﴾ الممتحنة: ٤، فلا شك أن المبتدع لا يبغض كبغضنا للكافر، ولا شك أن له ولاء على إيمانه، ولكن ليس معنى ذلك أنه يجلس معه، أو ننصح بالذهاب إليه، أو نجالسه، فهذا ليس من منهج السلف،  وليس معنى ذلك أننا لا نقول: إننا نبغضه، نحن نبغضه، ولا نقول نحن نبغضه ونحبه هذه موازنة، على خلاف منهج السلف، بل نقول: أهل البدع يبغضون ويحذر منهم،  كما أنك إذا أساء إليك إنسان مسلم وظلمك وأخذ ولدك وانتهك عرضك، هل تحبه، هو رجل فاسق ظالم، ومع ذلك أنت تبغضه، ولا شك أنه له ولاء على إيمانه، ما زال مؤمنًا على إيمانه، ومع ذلك تقول أنا أبغضه ولا تقول أنا أحبه على إيمانه، فالمبتدع من باب أولى، فإن شره على الدين، وشره على نهج النبي صلى الله عليه وسلم أعظم، وضرره على الناس متعدي، فهو يبغض، فقد نقل البغوي في شرح السنة إجماع أهل العلم على بغض المبتدعة ومقاطعتهم وعدم الجلوس معهم، ففرق بين هذا وهذا .

 

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: