“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

Buletin jum'at 40 Mitos-mitos seputar kehamilan

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الْحَمْدُ لِلَّهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ. أَمَّا بَعْدُ:

Sungguh termasuk dari perkara mengherankan yang tersebar luas di tengah-tengah masyarakat tentang adanya berbagai anggapan dan sangkaan seputar kehamilan para wanita. Pada kesempatan ini Insya Allah akan kami paparkan jawaban terhadap beberapa permasalahan yang berkaitan dengan mitos-mitos kehamilan:

Masalah 1: Apakah benar bahwa setiap ibu hamil kalau meninggal dunia maka dia akan menjadi kuntilanak?

Jawab: Tidak, ibu hamil atau pun selainnya kalau meninggal dunia maka mereka akan diproses di dalam kubur, jika amalannya baik maka dia akan mendapatkan balasan kebaikan dan jika amalannya jelek maka dia akan mendapatkan balasan kejelekan pula, sesuai dengan amalan yang dia lakukan, Allah Ta’ala berkata:

{فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (8)} [الزلزلة : 7 ، 8]

“Barangsiapa beramal suatu kebaikan semisal dengan atom maka dia akan melihat balasannya, dan barangsiapa beramal suatu kejelekan semisal dengan atom maka dia akan melihat pula balasannya.” (Az-Zalzalah: 7-8)

Adapun mitos yang tersebar seperti itu maka itu hanya permainan dan tipuan setan, sama saja setan dari kalangan jin maupun setan dari kalangan manusia, perkara seperti ini dahulu telah kami dapati, terkhusus di daerah kami, bila wanita hamil dan ibu bersalin meninggal dunia maka malam harinya mulai bergentayangan setan yang menyerupai wajah orang meninggal tersebut, terkadang dia melakukan penampakan dari atas kubur mayat dan terkadang disaksikan bahwasanya dia berputar-putar di sekeling rumah mayat sambil memanggil-manggil orang yang dicintai oleh mayat, dan suara yang terdengar pun semisal dengan suara mayat.

Mitos seperti ini bila disebar terkadang ada orang yang mengingkarinya dan menganggapnya sebagai sandiwara saja, atau menganggapnya sebagai sesuatu yang dibuat-buat dalam sinetron, padahal tidak demikian, perkara seperti ini dalam menghadapinya sama dengan menghadapi berita yang sampai pada kita, jika yang menyampaikan perkara ini adalah orang yang adil atau terpercaya maka tidak ada pencegah untuk menolak penyampaiannya, karena permasalahan yang berkaitan dengan mitos seperti ini memiliki keterkaitan dengan praktek sihir dan perdukunan, perkara sihir dan perdukunan adalah perkara yang telah ada penjelasannya di dalam syari’at, tidak ada yang mengingkari keberadaannya melainkan orang yang tidak memiliki keinginan untuk mengetahui syari’at secara mendalam.

Para dukun dan tukang sihir memiliki andil pula dalam permasalahan seperti adanya penampakan setan, terkadang mereka datang kekuburan orang yang meninggal lalu membaca mantranya atau membakar kemenyan atau menyiramkan air di atas kuburan, dengan sihirnya itu kemudian terbela kuburan lalu keluar sosok aneh, dan terkadang kalau kuburan tidak benar-benar dijaga ketika selesai penggaliannya maka makhluk utusan dari dukun atau tukang sihir yang semisal ular atau tikus akan berdatangan lalu masuk langsung ke lahat kuburan, sesampainya di kuburan akan menghilang, dan pada malam harinya dilihat kuburan terbelah lalu keluar sosok aneh dari kuburan atau terkadang pada pagi harinya kuburan didapati sudah terbongkar.

Dari kejadian seperti itu tidaklah membuat orang mukmin ragu dengan keimanan mereka, justru dengan kejadian seperti itu membuat mereka semakin yakin tentang keberadaan fitnah-fitnah, seperti fitnah Dajjal di akhir zaman nanti, dia mampu menampakan suatu penampakan yang luar biasa, bisa membela tubuh manusia kemudian di sambung lagi, bisa menurunkan hujan, bisa mematikan lalu dihidupkan –dengan izin Allah- sebagai ujian bagi manusia, begitu pula keberadaan sihir dan perdukunan adalah ujian bagi manusia, Allah Ta’ala berkata:

{وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ} [البقرة : 102]

“Dan apa yang diturunkan kepada kedua malaikat di negeri Babil Yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya Kami hanya cobaan (bagimu) maka janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua Malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya.” (Al-Baqarah: 102)

Masalah 2: Wanita hamil tidak boleh membunuh binatang, begitu pula suaminya tidak boleh membunuh binatang selama isterinya hamil, karena dengan sebab itu akan mengakibatkan bayi yang akan dilahirkan mengalami kecacatan atau menyerupai binatang tersebut, apakah benar begitu?

Jawab: Tidak ada pemutlakkan seperti itu, karena ada dari binatang yang dianjurkan untuk dibunuh, bahkan ada perintah untuk membunuhnya, seperti kalajengking, tikus dan ular, namun untuk ular ini perlu dilihat keberadaannya, kalau dia didapati berada di dalam rumah maka tidak boleh langsung dibunuh karena dikhawatirkan dia adalah jin, namun dibacakan Basmalah lalu diperintahkan untuk keluar dari rumah, kalau dia adalah jin maka dia akan bersegera keluar dari rumah namun kalau dia ular biasa maka dia akan tetap diam atau bahkan melawan, ketika dia tidak mau keluar atau bahkan melawan maka boleh langsung dibunuh. Demikian yang dibimbingkan oleh Ar-Rosul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagaimana telah shahih riwayatnya dari beliau di dalam “Shahih Muslim”, juga yang berkaitan dengan perintah untuk membunuh tikus telah shahih riwayatnya sebagaimana disebutkan di dalam “Ash-Shahihul Musnad”, semua perintah itu tidaklah ada pengkhususan bagi yang tidak hamil atau bagi yang tidak memiliki isteri sedang hamil, namun semua perintah itu umum mencakup siapa saja yang mampu melakukannya maka dia lakukan.

Dan pembunuhan yang disebutkan di sini hendaknya dilakukan dengan yang wajar, bukan dengan cara penganiayaan dan penyiksaan, karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ»

“Sesungguhnya Allah menulis kebaikan atas setiap sesuatu. Apabila kalian membunuh, maka perbaguslah kalian dalam membunuh, dan apabila kalian menyembelih maka perbaguslah kalian dalam menyembelih, dan hendaklah salah seorang diantara kalian menajamkan pisaunya dan menyenangkan hewan sembelihannya.” Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dari hadits Abi Ya’la Syaddad bin Aus Radhiyallahu ‘Anhu.

Kalau seorang wanita hamil atau suaminya melakukan pembunuhan binatang tersebut dengan cara zhalim berupa menyiksanya, membunuhnya dengan diiris sedikit demi sedikit ataudengan penyiksaan yang mengerikan lainnya atau dia menganiaya binatang yang terlarang untuk dibunuh seperti kucing maka mungkin bisa jadi seperti itu keadaan bayinya –dengan izin Allah-, sebagai pelajaran dan ujian untuk wanita hamil tersebut atau juga sebagai pelajaran dan ujian bagi suaminya. Wallahu A’lam.

Masalah 3: Adakah anjuran bagi wanita hamil untuk membaca surat Yusuf?

Jawab: Tidak ada dalil yang menganjurkan hal tersebut, itu hanyalah anjuran dari orang-orang yang berkeyakinan bahwa kalau dibacakan surat Yusuf kepada wanita hamil maka ia akan melahirkan seorang bayi yang cakap seperti cakapnya Nabiullah Yusuf atau akan melahirkan bayi yang cantik kalau ia bayi wanita. Ini hanyalah anggapan yang salah, sampai terkadang ada orang yang sangat keras dalam mengingkari anggapan salah ini dengan mengatakan: “Kalau begitu tidak boleh dibacakan surat Al-Baqarah karena takut nanti bayinya seperti sapi?!”.

Perkaranya bukanlah demikian! Namun hendaklah seorang wanita tidak menjadikannya rutinitas sebagai suatu keharusan atau sebagai suatu anjuran, namun kapan saja ia menginginkan membaca surat Yusuf atau surat yang lainnya di saat hamilnya atau di saat tidak hamilnya maka itu adalah perkara yang baik dan bahkan dianjurkan supaya menjadi penentram jiwa dan penenang hati, Allah Ta’ala berkata:

{وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا} [الإسراء : 82]

“Dan diturunkan dari Al-Quran apa yang dia adalah penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zhalim selain kerugian.” (Al-Isra’: 82)

Ditulis oleh:

Abu Ahmad Al-Khidhir dan Ummu Ahmad Al-Bigriyyah Hafizhohumalloh

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: