“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

JUM'AT PAMUNGKAS

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam dan shalawat serta shalawat tercurahkan kepada Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam, untuk keluarganya , shahabatnya dan yang mendukung nya, amma ba’du :

Adapun perkara yang disebut sebut dengan nama ~jum’at Pamungkas~ tidak ada asal-usulnya sama sekali dari wahyu Allah Ta’ala, dan semata-mata hanya bid’ah yang dibuat-buat yang tidak pernah Allah turunkan sama sekali bukti tentangnya, dan hanya para pemalsu dan pendusta yang membawakannya :

“Barang siapa yang melaksanakan shalat wajib lima waktu, siang malam, pada jum’at yang terakhir di bulan ramadhan, niscaya akan melunasi shalat yang kurang pada tahun tersebut”.

Dan Hadits ini telah dijelaskan oleh para ulama tentang ke dha’if an-nya, bahkan tentang ke palsuannya, dan bahwasanya hadits ini secara dusta mengatas namakan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Dan juga menyelisihi pokok landasan islam dan sunnah dalam ajakan untuk meninggalkan kebaikan-kebaikan dan perkara-perkara wajib yang lain.

Dan saya betul betul telah mendengarnya dari Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i tentang pengingkaran beliau dan vonis beliau mendustakan hadits tersebut.

Diantara komentar ulama tentang perkara ini :

  1. Asy Syaukani rahimahullah berkata : hadits “Barang siapa yang melaksanakan shalat wajib lima waktu, siang malam, pada jum’at yang terakhir di bulan Ramadhan, niscaya akan melunasi shalat yang kurang pada tahun tersebut”.

Ia adalah hadits yang palsu, tidak perlu dipermasalahkan, dan aku tidak pernah mendapatkannya pada kitab kitab yang penulisnya mengumpulkan didalamnya hadits-hadits palsu, akan tetapi hadits ini terkenal dikalangan orang-orang yang mengaku sebagai ahli Fiqh, di Shan’a, pada masa kita ini, dan akhirnya banyak dari mereka yang melakukan hal tersebut, dan aku tidak tahu siapa yang memalsukannya untuk mereka, semoga Allah memburukkan para pendusta.

Selesai.  Kitab “Al Fawâidul Majmûàh fil Ahâdîtsil Mawdhûàh”  hal 54.

  1. Dan berkata Ulama Al Lajnah Ad Dâimah Lil Iftâ : Shalat adalah sebuah ibadah, dan secara asal adalah : Tawqîf (instan / terima jadi), dan tuntutan untuk meng qadhà shalat dan penjelasannya : adalah penetapan suatu syari’at, yang ini tidak sah kecuali jika dikembalikan kepada kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam, dan juga kesepakatan ulama yang bersandar kepada Al-Kitab dan As-Sunnah atau kembali kepada salah satu dari keduanya.

Dan tidak ada yang benar dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan tidak pula para shahabatnya radhiyallahu anhum, dan tidak pula para Aimmatul Hudâ (Imam dan Ulama) rahimahumullah : bahwa mereka melakukan shalat ini, atau mereka memerintahkannya ataupun memberikan anjuran, ataupun dorongan untuknya, dan andai saja hal ini benar adanya, pastilah para shahabat radhiyallahu anhum mengetahuinya, dan mereka akan menyampaikannya kepada kita, dan niscaya para Ulama akan membimbing kita untuk perkara tersebut, akan tetapi tidak ada yang shahih dari mereka baik itu ucapan atau perbuatan mereka.

Maka ini menunjukkan bahwasanya perkara yang disebutkan dalam pertanyaan tadi tentang shalat “Qadhâul Úmuri”/Pengganti sepanjang umur (sholat untuk mengqadha dan sekaligus menghapuskan dosa semua sholat lima waktu yang terlewatkan di masa lampau) : adalah perkara bid’ah dalam agama yang Allah tidak mengizinkannya.

Dan ada sebuah hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda : “Barang siapa yang membuat perkara yang baru dalam agama kami, yang bukan bagiannya, maka ia di tolak”. (Muttafaqun Alaihi.)

Dan hanya saja yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah meng qadhá shalat yang terluputkan, karena tertidur atau lupa, sehingga keluar dari waktunya, dan Beliau menjelaskan bahwa kita melaksanakan shalat tersebut jika kita bangun atau ketika kita ingat, bukan pada jum’at di akhir ramadhan. (Selesai dari Fatáwá Al Lajnah Ad Dáimah jilid 8 hal 167-168.)

Syaikh Abdul Aziz Bin Baaz

Syaikh Abdur Razzâq Àfîfî

Syaikh Abdullah bin Ghudyân

Syaikh Abdullah bin Qu’ûd.

  1. Keluarga Ibnu Baaz rahimahullah ta’ala : sebagai mana dalam situs resminya.

“Ini adalah berita yang palsu, merupakan kedustaan atas nama Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang tidak ada landasannya yang shahih sama sekali, seluruhnya adalah dusta, barang siapa yang terluputkan dari shalat, jika dikarenakan tertidur ataupun terlupakan, maka hendaklah shalat dan mengqadhanya.”

Adapun jika sengaja meninggalkan shalat, maka dia harus bertaubat kepada Allah, jika dia ingin mengqadhanya maka tidak mengapa, walaupun sebenarnya dia tidak diwajibkan untuk meng qadha, cukuplah taubat kepada Allah, dan menyesal atas perbuatan dia meninggalkan shalat, ini mencukupi, karena meninggalkan shalat adalah kufur akbar, dan kekufuran tercukupi dengan taubat.

يقول الله سبحانه: قُل لِلَّذِينَ كَفَرُواْ إِن يَنتَهُواْ يُغَفَرْ لَهُم مَّا قَدْ سَلَفَِ سورة الأنفال(38).

Allah subhanah berfirman : “Katakan lah kepada orang orang kafir, jika mereka berhenti, niscaya akan diampuni apa apa yang telah berlalu. “ QS: Al-Anfal 38

فمن ترك الصلاة عامداً كفر بذلك، وإن جحد وجوبها كفر بالإجماع -نعوذ بالله من ذلك- والواجب عليه التوبة في ذلك. أما إن كان عن نسيان أو نوم، فهذا متى ذكر أواستيقظ يبادر ويصلي الصلاة والحمد لله. جزاكم الله خيراً

“Dan barang siapa yang meninggalkan sholat dengan sengaja, maka sungguh dia telah kufur dengan sebab perbuatan tersebut.”

Dan jika ia mengingkari kewajibannya, maka dia menjadi kafir, sebagaimana kesepakatan ulama -kita berlindung kepada Allah darinya. Dan kewajibannya untuk bertaubat dari perkara tersebut.

Adapun meninggalkan sholat karena lupa atau tertidur, maka kapan saja ia ingat atau bangun, maka hendaknya dia bersegera /bergegas untuk shalat.

Dan segala puji bagi Allah. Semoga Allah membalas kalian dengan kebaikan.

  1. Dan Syaikh Muhammad bin Shâlih Al Utsaimîn rahimahullah ditanya : ada sekelompok orang yang pada bulan ramadhan mempunyai kebiasaan yaitu : melakukan lima shalat wajib, setelah shalat jumat yang terakhir, mereka mengatakan : sesungguhnya ini adalah sebagai ganti dari shalat wajib yang terluputkan oleh seseorang atau terlupakan di bulan ramadhan, maka bagaimana hukum shalat ini?

Beliau jawab : Hukum shalat ini adalah : termasuk BID’AH , yang tidak ada asalnya dalam syari’at islam, dan tidaklah menambahkan kecuali semakin jauhnya seseorang dari Rabbnya, dikarenakan rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : “Setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap yang sesat adalah di neraka”

Dan suatu bid’ah, walaupun dianggap baik oleh pelaku nya dan mereka melihatnya sebagai kebaikan pada diri mereka, maka sungguh itu merupakan keburukan dihadapan allah azza wa jalla, karena Nabi-Nya shallallahu alaihi wa sallam bersabda : “Setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap yang sesat adalah di neraka”.

Dan lima shalat ini yang di lakukan seseorang di akhir jumat ramadhan : tidak ada landasannya dari syari’at ini, kemudian kita katakan : “Apakah seorang tersebut tidak mempunyai kekurangan kecuali pada lima shalat itu saja? bahkan, bisa saja kekurangannya sudah berhari hari, tidak hanya beberapa shalat.

Dan yang terpenting : bahwa seseorang selama dia sadar mempunyai kekurangan dalam shalat : maka kewajiban dia untuk mengqadhanya, kapan dia menyadarinya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam : “Siapa saja yang tertidur dari shalat atau terlupakan oleh nya, maka shalatlah ketika ingat.”  Muttafaqun Alaihi

Adapun seseorang yang melakukannya untuk hati hati –sebagai mana yang mereka yakini– maka sungguh ini merupakan kemungkaran, dan tidak diperbolehkan.

Selesai.  Majmû Fatâwâ Syaikh Ibnu Utsaimin 12/227-228.

              5. Dan Syaikh Shâlih Al Fauzân hafizhahullâh ditanya : Aku pernah membaca sebuah hadits dari Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam yang bersabda di dalamnya : Barang siapa yang meluput kan shalat dalam hidupnya dan tidak bisa menghitungnya, maka hendaklah ia bangkit di jum’at yang terakhir dari Ramadhan dan shalat empat raka’at, dengan satu kali tasyahhud, dan hendaknya ia membaca Al Fatihah pada setiap raka’at, dan surat Al Qadr sebanyak lima belas kali, dan Surat Al Kautsar sebanyak itu juga, dan mengucapkan dalam niatnya : aku niat shalat empat raka’at untuk shalat yang luput dari ku.

Maka bagaimana derajat ke shahihan hadits ini?

Beliau menjawab : “Hadits ini tidak ada asalnya dari sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, yang benar dari Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam adalah sabda beliau :  “Barang siapa yang lupa shalat atau tertidur, maka hendaklah shalat ketika dia ingat, tidak ada tebusannya, selain itu “.(Muttafaqun Alaihi.)

Shalat shalat yang dulu telah engkau abaikan : jika egkau meninggalkannya karena tertidur  -contohnya- atau pingsan, atau karena suatu udzur yang engkau kira membolehkan engkau untuk diakhirkan : maka kewajiban engkau untuk mengqadhanya dan melaksanakannya secara berurutan.

Dan jika engkau meninggalkannya dengan sengaja : maka yang benar dari dua pendapat ulama adalah : harus bagimu untuk bertaubat kepada Allah, karena siapa yang meninggalkan shalat dengan sengaja : maka dia dalam bahaya, walaupun dia tidak mengingkari akan kewajibannya, karena pendapat yang benar adalah dia dikafirkan dikarenakan hal tersebut.

Maka engkau harus bertaubat kepada Allah jika engkau meninggalkannya dengan sengaja.

Dan engkau harus menjaga shalatmu di waktu yang akan datang.

Dan Allah menerima orang-orang yang bertaubat .

Adapun jika engkau meninggalkannya disebabkan tertidur atau tidak sadar, atau yang lainnya, yang menghalangi engkau dari melaksanakan shalat pada waktunya : maka engkau mengqadha nya dan itu suatu keharusan.

Adapun jika engkau shalat seperti ini, yang têlah engkau sebutkan di akhir ramadhan dengan tata cara tersebut : maka ini tidak ada asalnya dari agama Islam, dan tidak bisa menebus untukmu dari shalat shalat yang telah engkau tinggalkan.

Selesai. (Majmû Fatâwâ Syaikh Shâlih Al Fauzan jilid 1/303-304.)

Dan para ulama yang berbicara dalam masalah ini dalam bentuk bantahan banyak, diantaranya Syaikh kami Al Hajûrî dan yang lainnya, akan tetapi ini adalah NUKILAN yang di segerakan, sebagai sebagai pelajaran bagi yang bodoh dan pengingat bagi yang lalai.

Ditulis oleh Syaikh  Abu Muhammad Abbdul  Hamid bin Yahya Al-Hajuriy   Az-Za’kariy  hafidzahullah

Makah Al-Mukarroman 25 Ramadhan 1437

Alih bahasa : Team ASHHABULHADITS

JUM'AT PAMUNGKAS

NASKAH ASLI

: الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه.  أما بعد فما يذكر فيما يسمى بجمعة القضاء لا أصل له في وحي الله تعالی وإنما هو من البدع المحدثة التي ما أنزل الله بها من سلطان وإنما جائت من قبل الوضاعين الكذابين ((من صلى في آخرِ جمعةٍ من رمضانَ, الخمسَ صلواتٍ المفروضةَ في اليومِ والليلةِ, قضت عنه ما أخل به من صلاةِ سنتِه .))
وهذا الحديث قد بين العلماء ضعفه بل وضعه وأنه مكذوب علی رسول الله صلى الله عليه وسلم. 
بل ويخالف أصول الإسلام والسنة وفي دعوة الی ترك الصالحات وغير ذلك من الفرائض الواجبات.
وقد سمعت إنكاره والحكم بوضعه من شيخنا العلامة مقبل بن هادي الوادعي رحمه الله تعالى.
  من أقوال العلماء في ذلك :  1. قال الشوكاني رحمه الله :  “حديث ( من صلى في آخر جمعة من رمضان الخمس الصلوات المفروضة في اليوم والليلة قضت عنه ما أخل به من صلاة سنَته ) : هذا موضوع لا إشكال فيه ، ولم أجده في شيء من الكتب التي جمع مصنفوها فيها الأحاديث الموضوعة ، ولكنه اشتهر عند جماعة من المتفقهة بمدينة ” صنعاء ” في عصرنا هذا ، وصار كثير منهم يفعلون ذلك ! ولا أدري مَن وضعه لهم ، فقبَّح الله الكذابين” انتهى .  ” الفوائد المجموعة في الأحاديث الموضوعة ” ( ص 54 ) .  2. وقال علماء اللجنة الدائمة للإفتاء :  “الصلاة عبادة ، والأصل فيها : التوقيف ، وطلب قضائها وبيانه : تشريع ، وذلك لا يصح أن يرجع فيه إلا إلى كتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم والإجماع المستند إليهما ، أو إلى أحدهما ، ولم يثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم ولا عن أصحابه رضي الله عنهم ، ولا عن أئمة الهدى رحمهم الله : أنهم صلوا هذه الصلاة أو أمروا بها وحثوا عليها ، أو رغبوا فيها ، ولو كانت ثابتة لعرفها أصحابه رضي الله عنهم ، ونقلوها إلينا ، وأرشد إليها أئمة الهدى من بعدهم ، لكن لم يثبت ذلك عن أحد منهم قولاً أو فعلاً ؛ فدل ذلك على أن ما ذكر في السؤال من صلاة ” القضاء العمري ” : بدعة في الشرع لم يأذن به الله ، وقد ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال ( من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد ) – متفق عليه – ، وإنما الذي أمر به رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يقضى من الصلوات ما فات الإنسان لنوم أو نسيان حتى خرج وقته ، وبيَّن لنا أن نصليها نفسها إذا استيقظنا أو تذكرناها ، لا في آخر جمعة من رمضان” انتهى من ” فتاوى اللجنة الدائمة ” ( 8 / 167 ، 168 ) .  الشيخ عبد العزيز بن باز ، الشيخ عبد الرزاق عفيفي ، الشيخ عبد الله بن غديان ، الشيخ عبد الله بن قعود .
ال ابن باز رحمه الله تعالى : كما في موقعه الرسمي.

هذا خبرٌ موضوع مكذوب على النبي -صلى الله عليه وسلم- لا أساس له من الصحة كل هذا كذب، من فاتته صلاة إن كان عن نوم أو نسيان فليصليها وليقضها، أما إن كان تعمد ترك الصلاة، فهذا عليه التوبة إلى الله إن قضاها فلا بأس، وإلا فلا يلزمه القضاء التوبة تكفي إذا تاب إلى الله وندم على ما ترك من الصلاة كفى؛ لأن ترك الصلاة كفرٌ أكبر، والكفر يكفي فيه التوبة، يقول الله سبحانه: قُل لِلَّذِينَ كَفَرُواْ إِن يَنتَهُواْ يُغَفَرْ لَهُم مَّا قَدْ سَلَفَِ (38) سورة الأنفال. فمن ترك الصلاة عامداً كفر بذلك، وإن جحد وجوبها كفر بالإجماع -نعوذ بالله من ذلك- والواجب عليه التوبة في ذلك. أما إن كان عن نسيان أو نوم، فهذا متى ذكر أواستيقظ يبادر ويصلي الصلاة والحمد لله. جزاكم الله خيراً

  3. وسئل الشيخ محمد بن صالح العثيمين رحمه الله :   هناك جماعة من الناس عندهم عادة في رمضان وهي صلاتهم الفروض الخمسة بعد صلاة آخر جمعة ويقولون : إنهاء قضاء عن أي فرض من هذه الفروض لم يصله الإنسان أو نسيه في رمضان ، فما حكم هذه الصلاة ؟ .  فأجاب :   “الحكم في هذه الصلاة : أنها من البدع ، وليس لها أصل في الشريعة الإسلامية ، وهي لا تزيد الإنسان من ربه إلا بُعداً ؛ لأن رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : (كل بدعة ضلالة ، وكل ضلالة في النار) فالبدع وإن استحسنها مبتدعوها ورأوها حسنة في نفوسهم : فإنها سيئة عند الله عز وجل ؛ لأن نبيه صلى الله عليه وسلم يقول : (كل بدعة ضلالة ، وكل ضلالة في النار) وهذه الصلوات الخمس التي يقضيها الإنسان في آخر جمعة من رمضان : لا أصل لها في الشرع ، ثم إننا نقول : هل لم يخلَّ هذا الإنسان إلا في خمس صلوات فقط ؟! ربما أنه أخل في عدة أيام لا في عدة صلوات .  والمهم : أن الإنسان ما علم أنه مخلٌّ فيه : فعليه قضاؤه متى علم ذلك ؛ لقوله صلى الله عليه وسلم : (من نام عن صلاة أو نسيها فليصلها إذا ذكرها) – متفق عليه – وأما أن الإنسان يفعل هذه الصلوات الخمس احتياطاً – كما يزعمون – : فإن هذا منكر ولا يجوز” انتهى .  ” مجموع فتاوى الشيخ العثيمين ” ( 12 / 227 ، 228 ) .  4. وسئل الشيخ صالح الفوزان حفظه الله :   قرأتُ حديثاً عن الرسول صلى الله عليه وسلم يقول فيه : (من فاتته صلاة في عُمُره ولم يحصها فليقم في آخر جمعة من رمضان وليصل أربع ركعات بتشهد واحد ، يقرأ في كل ركعة فاتحة الكتاب ، وسورة القدر خمس عشرة مرة ، وسورة الكوثر كذلك ، ويقول في النية : نويت أصلي أربع ركعات كفارة لما فاتتني من الصلاة” ) ! فما مدى صحة هذا الحديث ؟ .  فأجاب :   “هذا لا أصل له في سنَّة الرسول صلى الله عليه وسلم ، الذي ثبت عن الرسول صلى الله عليه وسلم أنه قال : ( من نسي صلاة أو نام عنها فليصلها إذا ذكرها لا كفارة لها إلا ذلك ) – متفق عليه – الصلوات التي تركتها فيما سبق : إذا كنت تركتها لأجل نوم – مثلا – أو إغماء أو لعذر ظننت أنه يجيز لك تأخيرها : فالواجب عليك أن تقضيها ، وأن تصليها مرتبة ، فإذا كنت تركتها متعمِّداً : فالصحيح من قولي العلماء : أن عليك التوبة إلى الله ؛ لأن من ترك الصلاة متعمداً : فأمره خطير ، حتى ولو لم يجحد وجوبها ، فإن الصحيح أنه يكفر بذلك ، فعليك أن تتوب إلى الله إن كنت تركتها متعمداً ، وأن تحافظ على الصلاة في مستقبلك ، والله يتوب على من تاب .   أما إن كنت تركتها من نوم أو إغماء ، أو غير ذلك مما حال بينك وبين أدائها في وقتها : فإنك تقضيها ولا بدَّ ، أما أن تصلي هذه الصلاة التي ذكرتها في آخر رمضان على هذه الصفة : هذا لا أصل له من دين الإسلام ، ولا يكفر عنك الصلوات التي تركتها” انتهى .  ” مجموع فتاوى الشيخ صالح الفوزان ” ( 1 / 303 ، 304 ) .

والذين تكلموا عليه بالرد كثير منهم شيخنا الحجوري وغيره لكن هذا نقل عن عجالة تعليم للجاهل وتذكير للغافل
كتبه أبو محمد عبدالحميد الحجوري
مكة المكرمة 25 رمضان 1437

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: