“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

hukum hukum seputar zakat

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

TANYA:  Bolehkan kita menolak zakat yang diberikan kepada kita? Jika kita merasa masih mampu? (Pertanyaan dari Cianjur)

JAWAB: Boleh bagimu menolak zakat tersebut, dan yang lebih bagusnya kamu menerimanya lalu kamu berikan kepada orang lain yang lebih berhak menerimanya, Insya Alloh ini lebih menyenangkan hati orang yang mengeluarkan zakat tersebut, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam ketika didatangi oleh Salman Al-Farisiy lalu diberikan kepada beliau sedekah maka beliau menerimanya lalu beliau menyerahkan kepada para shohabatnya untuk memakannya dan beliau tidak memakan darinya karena beliau diharomkan untuk memakan sedekah, begitu pula kita yang memiliki kemampuan tentu tidak selayaknya bagi kita untuk memakan sedekah, dengan itu maka kita berikan sedekah tersebut kepada orang yang lebih layak baginya.

leafs

TANYA: Kami makan beras merah jadi apakah zakatnya nanti beras merah juga? Tapi kebanyakan orang tidak suka makan beras merah, khawatirnya nanti kalau ana berzakat dengan beras merah mereka tidak suka, apakah ana harus mengeluarkan beras biasa (putih)?  (Pertanyaan dari Makassar)

JAWAB: Tidak mengapa bagimu untuk mengeluarkan zakat berupa beras merah, karena bukanlah menjadi patokan kebanyakan orang tidak mau makan beras merah, pada perintah untuk mengeluarkan zakat disebutkan diantaranya adalah korma, boleh bagi kita di Nusantara ini mengeluarkan zakat berupa korma walaupun masyarakat Nusantara jarang memakan korma.
Beras merah termasuk dari jenis beras yang tahan lama sebagaimana beras biasa, dan dia tidak mengapa untuk dijadikan sebagai zakat sebagaimana jagung dan yang semisalnya. Wallohu A’lam.

leafs

TANYA: Alhamdulillah kebiasaan kami di sini kalau mengeluarkan zakat maka kami serahkan langsung ke para fuqara’ dan kami mengajak yang selain kami untuk melakukan seperti itu namun banyak yang menyelisihi kami, mereka menyerahkannya ke amil zakat, dan bagaimana menjawab syubhat orang yang mengaku sebagai amil zakat bahwa utamanya zakat itu diserahkan kepada mereka? (Pertanyaan dari Huamual-Maluku)

JAWAB: Dilihat keberadaan amil tersebut! Apakah dia menjadi amil zakat yang ditunjuk atau diangkat oleh penguasa ataukah dia memposisikan dirinya sendiri sebagai amil zakat? Kami katakan demikian karena banyak dari orang-orang mendirikan yayasan atau mereka menjadi pengurus masjid seperti imam masjid kemudian mengaku sebagai amil zakat, amil seperti ini perlu dilihat lagi? Karena yang berwenang menjadi amil zakat adalah mereka yang diangkat atau diutus oleh penguasa, sebagaimana dahulu Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam sebagai penguasa mengutus shohabatnya yang mulia Mu’adz bin Jabal untuk berdakwah di Yaman dan beliau berkata kepadanya tentang zakat:

تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ

“Diambil dari orang-orang kaya mereka dan diserahkan kepada orang-orang faqir mereka.”

Kalau seandainya ada imam masjid yang diangkat oleh pemerintah menjadi amil zakat lalu dia mengumpulkan zakat sebagaimana yang ditugaskan kepadanya dan dia menjalankan tugasnya sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Ar-Rosul Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam tersebut maka serahkanlah kepadanya, karena dialah yang akan mengantarkan zakatmu kepada orang-orang faqir dan miskin.
Dan kalaupun kamu mengeluarkannya dengan memberikan langsung kepada orang-orang faqir dan miskin maka amalanmu itu telah benar, apalagi kita melihat di zaman ini terkadang satu perkampungan ada padanya beberapa yayasan yang memposisikan sebagai amil zakat, belum lagi pada setiap masjid merasa sebagai amil zakat, bila demikian keberadaannya maka kamu datangi langsung tempat orang-orang faqir dan miskin, baik mereka yang berada di pondok pesantren atau yang berada di pemukiman-pemukiman, mengeluarkan zakat kepada mereka secara langsung itu lebih utama dan lebih meyakinkan daripada diserahkan kepada orang-orang yang mengaku-ngaku sebagai amil zakat. Wallohu A’lam.

(Dijawab  oleh Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy. Limboro, 19 Romadhon 1437).

leafs

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: