“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

Kenapa sorban dituduh teroris

TANYA:  Afwan ustadz Limbory, ana minta penjelasan dari ustadz untuk saudara-saudari kita yang memakai pakaian sunnah seperti memakai jilbab besar lagi lebar bagi perempuan dan memakai gamis dan sirwal bagi laki-laki, karena ana pernah dengar ada seseorang yang mengaku sebagai Ahlus Sunnah menasehatkan agar jangan cepat-cepat berubah dengan memakai pakaian yang dinilai oleh orang-orang sebagai pakaian ekstrim alias pakaian teroris, lebih-lebih cadar bagi wanita jangan dulu dipakai atau surban bagi pria agar jangan dulu dipakai sampai nanti lenyap tuduhan-tuduhan sebagai teroris? (Pertanyaan dari Surabaya)

JAWAB: Memakai jilbab bagi wanita adalah termasuk perkara yang diperintahkan oleh syari’at, begitu pula bagi para pria memakai pakaian di atas mata kaki seperti memakai sarung atau memakai sarowil (yang dikenal di kalangan orang-orang Indonesia dengan sirwal) adalah termasuk dari perkara yang disyari’atkan di dalam Islam. Alloh Ta’ala berkata tentang keharusan bagi para wanita:

{يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ} [الأحزاب : 59]

“Wahai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri bagi orang-orang yang beriman: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka.” (Al-Ahzab: 59)

Dan Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata tentang keharusan bagi para pria:

«مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الْإِزَارِ فَفِي النَّارِ»

“Apa saja yang di bawah kedua mata kaki dari sarung maka di dalam neraka.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhoriy dari Abu Huroiroh Rodhiyallohu ‘Anhu.

Tidak boleh bagi setiap muslim meninggalkan keharusan tersebut dikarenakan takut dari celaan para pencela atau karena khawatir tuduhan para penuduh, namun prinsip setiap muslim hendaknya dia terus menampakan syi’ar-syi’ar agamanya, karena kalau bukan kita sebagai orang Islam yang akan menampakan syi’ar agama kita terus siapa lagi?!
Begitu pula kita sebagai Ahlussunnah yang merupakan terbaiknya manusia di dalam ber-Islam hendaknya membiasakan diri dalam menampakan sunnah-sunnah Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam sehingga manusia tidak lagi menyangka bahwa sunnah-sunnah itu adalah termasuk dari simbol-simbol teroris atau simbol aliran sesat, sekadar contoh mengenakan imamah atau yang dikenal di kalangan orang-orang Indonesia dengan nama surban, ketika baru hanya seorang dari Ahlussunnah yang mengenakannya maka umat manusia akan menyangka kepadanya dengan berbagai sangkaan, terkadang dia dikatakan sebagai JT (Jama’ah Tabligh) dan terkadang dia dikatakan sebagai teroris, ini disebabkan karena jarangnya dalam menampakan sunnah tersebut. Sangkaan seperti itu terjadi karena yang paling semarak menampakan sunnah dengan mengenakan surban adalah dua firqoh itu yakni JT dan kaum Teroris. Kalaulah seorang Ahlussunnah senantiasa menampakan sunnah tersebut maka tentu orang-orang akan menilainya dengan penilaian yang tidak salah lagi, ini sebagaimana yang kami dapati, karena kami dalam keseharian selalu mengenakan surban sehingga orang-orang pun mengenalnya sebagai sunnah, dengan itu mereka pun tidak menyangka dengan sangkaan lain, terkadang mereka hanya mempermisalkan dengan tokoh-tokoh pujaan mereka, kadang diantara mereka yang ikut organisani Muhammadiyyah menyebutkan tentang kami sama dengan KH Ahmad Dahlan karena beliau juga mengenakan surban, kadang diantara mereka dari orang-orang Jawa yang masih awam menyebutkan tentang kami mirip Pangeran Dipanegoro hingga kami dijuluki dengan Pangeran Limboro. Adapun orang yang benci kepada sunnah ini maka mereka terkadang membuat syubhat dan kerancuan berpikir bahwa memakai surban tidak selayaknya karena itu pakaian ketenaran, padahal tidak demikian, bahkan surban adalah pakaian sunnah yang cocok untuk semua kalangan pria yang beragama Islam, surban bukan hanya sekedar mahkota hiasan yang dikenakan di atas kepala pangeran namun dia adalah hiasan yang dikenakan ketika seorang hamba merendahkan dirinya di hadapan Alloh Subhanahu wa Ta’ala:

{يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ} [الأعراف : 31]

“Wahai putra-putra Adam! Kenakalanlah oleh kalian hiasan (pakaian-pakaian) kalian pada setiap kali sholat.” (Al-A’rof: 31)

Jika seseorang mengenakan surban dengan niat mengamalkan perintah pada ayat tersebut maka dia mendapatkan pahala, apalagi kalau dia mengenakannya dengan tujuan untuk mencontoh Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam maka tentu dia mendapatkan keutamaan dalam mengamalkan sunnah karena beliau Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam selalu mengenakan surban, Al-Imam Muslim meriwayatkan di dalam “Shohih”nya dari ‘Amr Ibnu Huroits, beliau berkata:

رَأَيْتُ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمِنْبَرِ وَعَلَيْهِ عِمَامَةٌ سَوْدَاءُ

“Aku melihat Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam di atas mimbar dan di atas (kepala)nya adalah surban hitam.”

Dan Al-Imam Abu Dawud meriwayatkan pula di dalam “Sunan”nya dari Jabir Rodhiyallohu ‘Anhu:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَامَ الْفَتْحِ مَكَّةَ وَعَلَيْهِ عِمَامَةٌ سَوْدَاءُ

“Bahwasanya Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam masuk pada tahun penaklukan kota Makkah dan di atas (kepala)nya adalah surban hitam.”

Abuth Thoyyib Rohimahulloh berkata di dalam “‘Aunul Ma’bud”:

وَالْحَدِيْثُ يَدُلُّ عَلَى اسْتِحْبَابِ لُبْسِ الْعِمَامَةِ السَّوْدَاءِ

“Dan hadits tersebut adalah menunjukan atas disunnahkannya mengenakan surban yang hitam.”

Dan bukanlah sunnah hanya khusus surban yang berwarna hitam namun yang berwarna lain juga termasuk sunnah, namun yang afdholnya adalah yang berwarna putih, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«الْبَسُوا مِنْ ثِيَابِكُمُ الْبَيَاضَ فَإِنَّهَا مِنْ خَيْرِ ثِيَابِكُمْ»

“Kenakanlah oleh kalian dari pakaian-pakaian kalian yang berwarna putih, karena sesungguhnya dia adalah termasuk paling bagusnya pakaian kalian.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abdulloh bin ‘Abbas Rodhiyallohu ‘Anhuma.

Di dalam “Sunanubni Majah” dari Samuroh bin Jundub beliau berkata: Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«الْبَسُوا ثِيَابَ الْبَيَاضِ فَإِنَّهَا أَطْهَرُ وَأَطْيَبُ»

“Kenakanlah oleh kalian pakaian-pakaian yang putih karena sesungguhnya dia adalah lebih suci dan lebih bagus.”

Di jawab oleh Abu Ahmad Muhammad bin  Salim Al-Limboro, 14 Romadhon 1437

LINK TERKAIT :

Imamah Simbol Ahlissunnah

Sikap Ahlussunnah Terhadap Adat Yang Disahkan Oleh Pemerintah

Salafy Palsu Bila Mengamalkan As-Sunnah Selalu Malu

Hukum Memakai Penutup Kepala (Sorban/Peci)

 

Iklan

Comments on: "Kenapa SORBAN Dituduh Teroris ?" (1)

  1. abushofiyyah said:

    Reblogged this on AL GHARRA.

    Suka

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: