“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

Panduan Lengkap Untuk Menjadi Pasangan  Suami Istri Yang Mantap

Ditulis oleh:

Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir bin Salim Al-Limboriy Al-Huamualiy Al-Mulkiy

Jammalahulloh wa Ayyadah

PENDAHULUAN

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

 :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً . أَمَّا بَعْدُ

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

Tulisan yang ada di hadapan anda ini merupakan pelengkap terhadap buku souvenir pernikahan yang berjudul Panduan Praktis Untuk Menjadi Pasangan Suami Istri yang Harmonis“.

Semoga Alloh menjadikannya bermanfaat untuk kami dan keluarga kami serta kedua orang tua kami, saudara-saudari kami serta siapa saja yang membacanya dan menyebar luaskannya.

BAB 1

TA’ARUF DENGAN CARA YANG MA’RUF

Ta’aruf atau yang biasa dikenal dengan perkenalan adalah termasuk perkara yang dituntut di dalam Islam, Alloh Ta’ala menciptakan manusia dengan berbeda jenis; laki-laki dan perempuan, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa supaya saling mengenal antara satu dengan yang lainnya, Alloh Subhanahu wa Ta’ala berkata:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ. الحجرات: 13

“Wahai orang-orang yang beriman sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan serta Kami menjadikan kalian bersuku-suku dan berqobilah-qobilah supaya kalian saling mengenal. Sesunggguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Alloh adalah yang paling bertaqwanya kalian, sesungguhnya Alloh adalah Al-‘Alim (Maha Berilmu) dan Al-Khobir (Maha Mengetahui)”. QS: Al-Hujarot: 13

Dengan melihat betapa pentingnya untuk saling kenal-mengenal maka syari’at Islam telah menganjurkan bagi setiap pemuda maupun pemudi ketika akan menikah untuk saling kenal mengenal terlebih dahulu, dengan patokan atau ketentuan di sini adalah dengan cara yang ma’ruf, yaitu cara yang baik lagi tidak menyelisihi syari’at Islam, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمُ المَرأَةَ، فَإِنِ استَطَاعَ أَن يَنظُرَ مِنهَا إِلَى مَا يَدعُوهُ إِلَى نِكَاحِهَا فَليَفعَل»

“Jika salah seorang di antara kalian meminang seorang wanita, jika dia mampu untuk melihat sesuatu darinya kepada apa yang menyerunya untuk menikahinya maka hendaknya dia lakukan”. Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dan Abu Dawud dengan sanad jayyid, Ibnu Hajar berkata: Para perowi hadits ini adalah tsiqot (terpercaya).

Maksud dan tujuan melihat di sini adalah supaya mengenalnya, baik itu mengenal keadaan dirinya yang zhohir atau mengenal akhlaqnya dan agamanya.

Demikianlah yang sepantasnya untuk dilakukan sehingga di saat menikah nanti sudah benar-benar mantap, dan cara melihat inilah yang dianjurkan oleh Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, beliau berkata:

«إِنَّ الْمَرْأَةَ تُنْكَحُ عَلَى دِينِهَا وَمَالِهَا وَجَمَالِهَا فَعَلَيْكَ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ»

“Sesungguhnya seorang wanita dinikahi karena agamanya, hartanya, dan kecantikannya, maka pilihlah karena agamanya, niscaya kamu akan beruntung”. Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhoriy dan Muslim serta Ahlus Sunan dari hadits Abi Huroiroh Rodhiyallohu ‘Anhu.

Bukanlah suatu kemantapan kalau seseorang menikahi wanita dengan tidak mengenalnya terlebih dahulu, tidak mengenal agamanya dan juga tidak mengenal keadaan dirinya yang zhohir, Al-Imam Muslim meriwayatkan dari hadits Abi Huroiroh Rodhiyallohu ‘Anhu bahwasanya Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bertanya kepada seseorang yang mau menikahi wanita:

«أَنَظَرتَ إِلَيهَا؟»

“Apakah kamu telah melihatnya?”. Orang tersebut menjawab:

لَا

“Belum (saya melihatnya)”. Maka beliau berkata:

«اذهَب فَانظُر إِلَيهَا»

                                               “Pergilah kamu lalu lihatlah kepadanya”.               

Ketika seseorang pergi melihat kepada wanita yang ingin dia nikahi, dia melihat kepada apa yang ada dari wanita tersebut berupa melihat wajahnya dan juga melihat bagaimana akhlaqnya dan agamanya, bila apa yang dia lihat menyenangkannya maka dengan sebab ini akan mempermantapnya dan memotivasinya untuk menikah dengannya, setelah menikah pun dia bertambah senang dan semakin menyayanginya sehingga rumah tangga keduanya semakin mantap dan kokoh, berbeda dengan tanpa melihatnya dan tanpa mengenalnya, yang ada setelah menikah hanyalah penyesalan dan ketidak adanya kasih sayang, sungguh benar orang yang berkata:

“Tak kenal maka tak sayang”.

Dan penyebutan pada bab ini dengan ta’aruf melalui cara yang “ma’ruf” yaitu dengan cara yang baik lagi sesuai dengan Islam, dan ini bertujuan untuk mengeluarkan ta’aruf yang tidak ma’ruf seperti pacaran atau nikah mut’ah, Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam diutus menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, Alloh Ta’ala berkata:

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ . الأعراف: 157

“Orang-orang yang mengikuti Ar-Rosul yang Ummiy yang mana mereka mendapatinya tertulis (namanya) di dalam Taurot dan Injil, beliau memerintahkan mereka kepada yang ma’ruf (baik) dan beliau mencegah mereka dari yang munkar (keji) serta menghalalkan bagi mereka yang baik-baik dan mengharomkan bagi mereka yang keji-keji”. QS: Al-A’rof: 157

Pacaran atau nikah mut’ah termasuk dari perkara-perkara yang keji dan harom, sedangkan ta’aruf dengan cara yang ma’ruf termasuk dari perkara-perkara yang baik lagi halal.

BAB 2

TATA CARA TA’ARUF YANG MA’RUF

Pada bab yang kedua ini akan kami sebutkan tentang cara ta’aruf yang ma’ruf, bahwasanya dia terjadi karena tiga sebab: 

Pertama: Kebetulan

Terkadang seseorang tidak menduga-duga di suatu jalan dia dipertemukan dengan wanita melalui suatu sebab atau kejadian, dengan itu dia bisa mengenalnya, sebagaimana keberadaan Musa ‘Alaihis Salam, ketika sampai di sumber mata air di Madyan, beliau berjumpa dengan wanita kemudian beliau bertanya tentang keadaannya dengan itu beliaupun sekilas mengenal keadaannya dan ia juga mengenal keadaan beliau walaupun hanya sekilas, hingga kemudian ta’arufnya berlangsung ketika berjumpa dengan orang tua wanita, Alloh Ta’ala berkata tentang kisahnya:

وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمُ امْرَأَتَيْنِ تَذُودَانِ ۖ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا ۖ قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّىٰ يُصْدِرَ الرِّعَاءُ ۖ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ. القصص: 23

“Maka tatkala beliau sampai di sumber mata air di Madyan, beliau mendapati padanya sekelompok dari manusia meminumkan ternak mereka, dan beliau mendapati di belakang mereka ada dua wanita yang sedang menghambat ternak keduanya. Beliau bertanya: Apa maksud kalian berdua (berbuat begitu)?, keduanya menjawab: Kami tidak bisa meminumkan ternak kami sampai mereka selesai meminumkan ternak mereka dan bapak kami adalah orang tua yang lanjut usia”. QS: Al-Qoshosh: 23

Kemudian Musa ‘Alaihis Salam membantu keduanya dengan meminumkan ternak mereka berdua, beliau pun diperkenalkan kepada bapak keduanya, hingga beliau diundang ke rumahnya, yang kemudian beliau ditawarkan untuk menikah dengan salah satu dari keduanya, sebagaimana Alloh Ta’ala terangkan kisahnya di dalam surat Al-Qoshshosh

Kedua: Kedekatan nasab

Terkadang seseorang sejak lahirnya dia sudah hidup di suatu lingkungan dengan wanita, terkadang wanita tersebut dari putri pamannya atau dari putri-putri kerabatnya, dia mengenalnya sebagaimana mengenal saudarinya sendiri, ketika sudah dewasa keduanya dijadikan sebagai pasangan hidup dalam suatu rumah tangga.

Tidak kita ragukan bahwa Ali bin Abi Tholib adalah orang yang paling dekat persahabatan dan kekerabatan dengan Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, dan tentu beliau akan mengenal pula bagaimana keberadaan putri Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam Fathimah Rodhiyallohu ‘Anha, ketika beliau menginginkan untuk menikahinya maka beliau langsung menemui Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam

Ketiga: Penawaran

Dan penawaran di sini terkadang terjadi setelah laki-laki mengenal wanitanya sebagaimana pada kisah Musa tersebut. Juga di dalam “Shohihul Bukhoriy” pada kisah Umar Ibnul Khoththob Rodhiyallohu ‘Anhu bahwasanya beliau menawarkan putrinya Hafshoh kepada Abu Bakr Ash-Shiddiq dan juga kepada Utsman bin Affan, beliau berkata:

إِن شِئتَ أَنكَحتُكَ حَفصَةَ بِنتَ عُمَرَ؟

“Jika kamu mau maka aku akan nikahkan kamu dengan Hafshoh bintu Umar?.

Abu Bakr dan atau Utsman tidak bertanya bagaimana keadaan putri Umar?, apakah dia masih gadis atau sudah pernah menikah?. Keduanya tidak menanyakan hal itu karena mereka berdua sudah mengenalnya.

Dan terkadang laki-laki belum mengenal wanitanya, bila seperti ini keadaannya maka dianjurkan adanya ta’aruf yang ma’ruf, baik berbentuk menanyakan keadaannya berupa bagaimana akhlaqnya?, kemudian melakukan nazhor yaitu melihat kepada wanita yang ditawarkan tersebut. 

Dan ta’aruf yang ma’ruf ini terkadang dilakukan dengan perantara atau penghubung yang menjembatani antara pria dengan wanita dan terkadang juga laki-laki langsung menemui orang tua wanita, sebagaimana Ali bin Abi Tholib langsung menemui Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam tentang perihal Fathimah bintu Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam.

Wallohu A’lam wa Ahkam.

BAB 3

ADAB DALAM MEMINANG

Dalam meminang hendaknya seseorang melihat kepada wanita yang hendak akan dipinang, apakah belum ada orang lain yang meminangnya ataukah sudah ada?. Dan permasalahan ini ada dua bentuk:

Pertama: 

Bila wanita tersebut sudah dipinang oleh orang lain namun ia belum memutuskan untuk menerimanya dan juga belum memutuskan kalau ia menolaknya maka boleh bagi yang lain untuk meminangnya, dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dari Fathimah binti Qois Rodhiyallohu ‘Anha ketika ia dipinang oleh dua pria dari shohabat Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam maka Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam menerangkan kepadanya tentang keadaan kedua shohabatnya tersebut, kemudian beliau memerintahkannya untuk menikahi Usamah bin Zaid Rodhiyallohu ‘Anhuma, Rosulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«أَمَّا أَبُو جَهْمٍ فَلاَ يَضَعُ عَصَاهُ عَنْ عَاتَقِهِ وَأَمَّا مُعَاوِيَةُ فَصُعْلُوكٌ لاَ مَالَ لَهُ انْكِحِى أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ»

“Adapun Abu Jahm maka tidaklah dia meletakan tongkatnya dari pundaknya, dan adapun Mu’awiyyah maka dia adalah faqir, dia tidak memiliki harta, nikahlah kamu dengan Usamah bin Zaid”.

Kedua: 

Bila wanita tersebut sudah dipinang oleh seseorang dan ia menerima pinangan orang tersebut maka tidak boleh bagi laki-laki lain untuk meminangnya, dalilnya adalah hadits Abdillah bin ‘Umar Rodhiyallohu ‘Anhuma yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhoriy dan Muslim bahwasanya Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«وَلَا يَخْطُبُ أَحَدُكُم عَلَى خِطْبَةِ أَخِيهِ حَتَّى يَترُكَ الخَاطِبُ قَبلَهُ، أَو يَأذَنَ لَهُ الخَاطِبُ»

“Dan tidak boleh salah seorang diantara kalian meminang terhadap pinangan saudaranya sampai ditinggal oleh yang meminang sebelumnya, atau sampai memberikan izin kepadanya oleh yang meminang”.

Dari hadits ini terdapat dalil tentang bolehnya bagi seseorang membatalkan pinangannya walaupun sudah diterima oleh wanita. Wallohu A’lam wa Ahkam.

BAB 4

BERMUSYAWARAH UNTUK MELANJUTKAN PROSES NIKAH

Setelah selesai dari proses meminang dan telah ada keputusan dari yang meminang dan yang dipinang bahwa keduanya saling menyukai dan saling meridhoi maka proses selanjutnya adalah diadakannya musyawarah antara kedua belah pihak, bila laki-laki memiliki pendamping dari keluarganya yang akan mengawaninya dan ikut bermusyawarah dengan pihak wanita maka itu lebih bagus namun bila tidak ada yang mendampinginya maka cukup dia sendirian sebagaimana Musa ‘Alaihish Shalatu wa Salam bersendirian ketika berbicara dengan orang tua wanita. Adapun wanita maka harus di dampingi oleh keluarganya, ia harus dikawani karena keberadaannya juga memerlukan wali, wali atau keluarganya inilah yang nanti akan bermusyawarah dengan laki-laki dalam melanjutkan proses pernikahan, Alloh Ta’ala berkata:

وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ

“Dan bermusyawarahlah kamu dengan mereka pada suatu perkara”.  QS: Ali Imron: 159

Alloh Ta’ala juga berkata:

وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ

“Dan suatu perkara bagi mereka adalah bermusyawarah di antara mereka”. QS: Asy-Syuro: 38)

Dengan adanya perintah bermusyawarah seperti ini karena memiliki hikmah yang sangat banyak, diantara hikmahnya adalah mempererat hubungan antara kedua belah pihak dan mempermantap serta memperkuat hubungan kekeluargaan. Diantara hikmahnya pula adalah saling membantu dan saling meringankan beban, baik di saat proses seperti ini maupun di saat berlanjutnya rumah tangga.

Dari hasil bermusyawarah antara kedua belah pihak terkadang memberikan suatu keputusan yang menuntut keduanya untuk menyelesaikannya, sekedar contoh setelah adanya akad nikah akan diadakan walimah, terkadang seorang laki-laki tidak mampu mengadakan walimah dari biaya pribadinya, maka dengan adanya musyawarah ini akan membantu memperingan atau mencarikan jalan keluar padanya, mereka pihak keluarga akan membantu, jika yang menikah memerlukan pakaian atau hiasan untuk menikah maka pihak keluarga atau yang selain keluarga boleh meminjamkannya, sebagaimana disebutkan di dalam “Ash-Shohih” dari hadits Hisyam, dari bapaknya Urwah, dari bibinya Aisyah Rodhiyallohu ‘Anha bahwa beliau meminjam kalung dari Asma’ Rodhiyallohu ‘Anha.

Begitu pula ketika kekurangan bahan makanan untuk walimah maka dibantu dengan diberikan hadiah, disebutkan di dalam “Ash-Shohih” dari hadits Anas bin Malik Rodhiyallohu ‘Anhu bahwa ketika Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam menikah dengan Zainab Rodhiyallohu ‘Anha maka Ummu Sulaim Ibunya Anas memberikan hadiah berupa makanan kepada Rosulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam.

BAB 5

AKAD NIKAH

Setelah bermusyawarah antara kedua belah pihak, bila sudah disepakati waktu dan tempat pelaksanaan akadnya maka hendaknya dilakukan sesuai dengan yang disepakati.

Untuk penentuan waktu pelaksanaannya maka boleh kapan saja, begitu pula tempat pelaksanaannya, dimana saja boleh dilakukan, baik itu di KUA (Kantor Urusan Agama), di rumah pihak laki-laki atau di rumah pihak perempuan.

Pada saat akad nikah ini disunnahkan bagi yang menikahkan untuk menyampaikan khutbatul hajah, dengan dalil hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah, dari hadits Abdillah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata: Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajari kami tentang khutbatul hajah:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً

Setelah membaca khutbatul hajah ini, kemudian berbicara tentang apa yang perlu untuk dibicarakan yang berkaitan dengan masalah akad nikah dan masalah pernikahan dan yang berkaitan dengannya.

Dan termasuk dari anggapan yang salah pada sebagian besar manusia ketika mereka akan menikah maka harus melalui penghulu, baik itu dari KUA atau dari tokoh masyarakat seperti pembesar kaum adat atau imam masjid, padahal bukanlah syarat sahnya suatu pernikahan itu harus melalui mereka, namun yang menjadi syarat sahnya suatu pernikahan adalah adanya wali bagi wanita, jika sudah ada wali yang bersedia menikahkannya maka sudah teranggap sah, dalilnya adalah perkataan Alloh Ta’ala tentang kisah laki-laki yang shalih yang menikahkan putrinya dengan Nabiullah Musa ‘Alaihis Salam:

قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنْكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَى أَنْ تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِنْدِكَ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ

“Dia (laki-laki yang shalih itu) berkata: “Sesungguhnya aku berkeinginan untuk menikahkanmu dengan salah seorang dari kedua putriku ini, atas ketentuan kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu dari (kebaikan)mu, dan aku tidak ingin memberatkanmu. Dan kamu Insya Allah akan mendapatiku termasuk dari orang- orang yang shalih”.

Adapun wali maka keberadaannya dari orang tua wanita yaitu bapak, jika tidak ada maka kakek wanita dari bapaknya, dan jika tidak ada maka kakak dari wanita atau adiknya bila dia sudah baligh, bila tidak ada juga maka paman wanita dari saudara bapaknya, bila tidak ada lagi maka melihat kepada para kerabat terdekat dari bapaknya, bila juga tidak didapati dari kerabat-kerabat terdekat bapaknya maka yang akan menjadi wali adalah hakim.

Sedangkan hakim adalah laki-laki yang dia dari pemerintah atau yang ditugaskan oleh pemerintah seperti mereka yang berwenang atau bekerja di KUA atau yang menjadi kepala-kepala suatu negeri atau yang mereka tugaskan untuk mengurusi masalah ini seperti imam masjid atau tokoh adat dan yang semisalnya, Wallahu A’lam.

Dan termasuk fitnah dan sebab munculnya kejelekan adalah mereka yang ditugaskan pemerintah untuk mengurusi permasalahan nikah ini tidak mau menikahkan kecuali harus memenuhi syarat-syarat yang mereka tetapkan, yang mau menikah harus memiliki surat ini dan surat itu, ketika kesulitan bagi yang mau menikah maka perkaranya pun menjadi kacau, yang tadinya berkeinginan menikah lalu membatalkannya, dan yang lebih dikhawatirkan lagi dengan sebab kesulitan itu membuat orang yang mau menikah terjerumus ke dalam dosa dan pelanggaran terhadap syari’at. Wallahul Musta’an.

BAB 6

ADAB-ADAB BAGI KEDUA PASANGAN SUAMI ISTRI

SETELAH AKAD NIKAH

Diantara adab-adab bagi kedua pasangan suami istri setelah akad nikah adalah:

Pertama:

Saling mendoakan berkah untuk mereka berdua, dan dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Asy-Syaikhon dari Anas dan Jabir Rodhiyallohu ‘Anhuma. Adapun lafazh doa dari hadits Anas bin Malik Rodhiyallohu ‘Anhu maka dia adalah:

«بَارَكَ اللهُ لَكَ»

“Semoga Alloh memberikan berkah kepadamu”.

Sedangkan lafazh doa dari hadits Jabir Rodhiyallohu ‘Anhu maka dia adalah:

«بَارَكَ اللهُ عَلَيْكَ»

“Semoga Alloh memberikan berkah atasmu”.

Adapun yang menyaksikan akad tersebut atau yang berjumpa dengan kedua pasangan tersebut atau bertemu dengan salah seorang dari keduanya maka hendaknya dia mendoakan berkah pula, dengan lafazh:

«بَارَكَ اللَّهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِى خَيْرٍ»

“Semoga Alloh memberikan berkah kepadamu dan Dia memberikan berkah atasmu serta mengumpulkan kalian berdua pada kebaikan”. Lafazh doa ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, dengan sanad hasan dari hadits Abu Huroiroh Rodhiyallohu ‘Anhu.

Kedua:

Laki-laki menyerahkan mahar kepada wanita, dalilnya adalah hadits Anas bin Malik Rodhiyallohu ‘Anhu yang diriwayatkan oleh Asy-Syaikhon tentang kisah Abdurrohman bin ‘Auf Rodhiyallohu ‘Anhu ketika beliau berkata kepada Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam:

إِنِّي تَزَوَّجْتُ امْرَأَةً عَلَى وَزْنِ نَوَاةٍ مِنْ ذَهَبٍ

“Aku telah menikahi seorang wanita atas mahar senilai sebiji dari emas”.

Dan penyerahan mahar ini boleh disiapkan dan diberikan sebelum akad dan boleh pula setelah akad, adapun sebelum akad maka dalilnya adalah hadits Sahl bin Sa’ad Rodhiyallohu ‘Anhu yang diriwayatkan oleh Asy-Syaikhon tentang kisah seorang wanita yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, kemudian ada seorang shohabat meminta untuk dinikahkan dengannya maka Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkannya untuk menyiapkan mahar terlebih dahulu:

«اذْهَبْ إِلَى أَهْلِكَ فَانْظُرْ هَلْ تَجِدُ شَيْئًا»

“Pergilah kamu kepada keluargamu lalu lihatlah: Apakah kamu mendapati sesuatu (untuk maharmu)!”.

Adapun memberikan mahar setelah akad adalah hadits Sahl bin Sa’ad tersebut, karena laki-laki tersebut tidak mendapatkan sesuatu maka yang dijadikan mahar adalah hafalan Al-Qur’annya, dan ini diberikannya kepada wanita berupa mengajarkannya, sebagaimana disebutkan di dalam hadits:

«قَدْ زَوَّجْنَاكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ»

“Sungguh kami telah menikahkanmu dengannya dengan apa yang bersamamu dari Al-Qur’an”. Yaitu dengan hafalan Al-Qur’anmu.

Hafalan di sini hanya dibacakan kepada Rosulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam namun tidak cukup demikian akan tetapi dituntut bagi laki-laki tersebut memberikannya kepada wanita yang dinikahinya karena mahar itu untuk diberikan kepada wanita bukan kepada wali, dan diberikannya di sini tentu berupa diajarkan kepadanya, oleh karena itu Al-Imam Al-Bukhoriy Rohimahulloh membuat bab khusus di atas hadits tersebut:

بَابٌ «خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ»

“Bab: Sebaik-baiknya kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya”.

Dan tentu mengajarkan Al-Qur’an ini keberadaannya setelah akad bukan sebelum akad atau bukan pula pada saat akad, Wallohu A’lam.

Yang berkaitan dengan mahar berupa hafalan Al-Qur’an ini keberadaannya ketika sudah tidak didapati mahar selainnya baru ini boleh, dan ini sebagai solusi terakhir untuk dijadikan sebagai mahar.

BAB 7

ADAB-ADAB BAGI SUAMI DAN ISTRI DI MALAM PERTAMA

Diantara adab-adab bagi suami dan istri di malam pertama adalah:

Adab Pertama:

Kedua pasangan hendaknya membersihkan diri, menggunakan wewangian dan memperindah diri, lebih-lebih bagi istri, sebagaimana kisah Ummu Sulaim ketika melayani suaminya Abu Tholhah pada malam setelah meninggalnya buah hati keduanya, Anas bin Malik Rodhiyallohu ‘Anhu menuturkan tentang keberadaan ibunya Ummu Sulaim Rodhiyallohu ‘Anha:

ثُمَّ تَصَنَّعَتْ لَهُ أَحْسَنَ مَا كَانَتْ تَصَنَّعُ قَبْلَ ذلِكَ، فَوَقَعَ بِهَا

“Kemudian beliau berbuat untuk Abu Tholhah lebih baik keberadaannya dari sebelum itu, lalu Abu Tholhah bersetubuh dengannya”. Diriwayatkan oleh Asy-Syaikhon.

Ini dilakukan ketika keduanya akan masuk ke dalam kamar, dan ini keberadaannya seperti yang disebutkan pada hadits Syuroih Rodhiyallohu ‘Anhu, beliau pernah bertanya kepada Aisyah Rodhiyallohu ‘Anha:

بِأَيِّ شَيْءٍ كَانَ يَبْدَأُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ بَيْتَهُ؟

“Dengan sesuatu apa dahulu Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam memulai ketika masuk di rumahnya?”.

Aisyah Rodhiyallohu ‘Anha menjawab:

بِالسِّوَاكِ

“Dengan siwak”. Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dan Muslim.

Beliau masuk di dalam rumahnya karena tentu akan bertemu dengan istrinya. Wallohu A’lam.

Adab Kedua:

Ketika suami masuk menemui istrinya pada malam pertama maka hendaknya suami meletakan tangan kakannya di atas ubun-ubun istrinya, lalu berdoa:

«اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَمِنْ شَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ»

“Ya Alloh!, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu tentang kebaikannya dan kebaikan apa yang telah Engkau ciptakan atasnya kepadanya, aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan dari kejelekan apa yang telah Engkau ciptakan atasnya kepadanya”. Doa ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dari hadits Abdillah bin ‘Amr Rodhiyallohu ‘Anhuma.

BAB 8

ADAB-ADAB KETIKA BERJIMA’

Adab Pertama:

Ketika akan memulai jima’ (bersetubuh) –baik itu pada malam pertama atau pada selain malam pertama- maka hendaknya berdoa:

«بِاسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنِي الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا»

“Dengan nama Alloh, ya Alloh!, jauhkanlah aku terhadap syaithon dan jauhkanlah syaithon terhadap apa-apa yang telah Engkau rezkikan kepada kami”. Doa ini diriwayatkan oleh Asy-Syaikhon dari hadits Abdillah bin ‘Abbas Rodhiyallohu ‘Anhuma.

Di saat jima’ ini hendaknya kedua pasangan saling menjaga keseimbangan, yaitu sama-sama menginginkan untuk memperoleh kenikmatan dan kelezatan selama jima’, bila kedua pasangan merasa masih memiliki kemampuan untuk mengulangi melakukan jima’ sehingga dalam semalam bisa dua kali atau lebih maka tidak mengapa melakukannya, dalilnya adalah perkataan Rosulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam:

«إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ أَهْلَهُ مِنَ اللَّيْلِ ثُمَّ أَرَادَ أَنْ يَعُودَ فَلْيَتَوَضَّأْ بَيْنَهُمَا وُضُوءًا».

“Jika salah seorang diantara kalian mendatangi istrinya diantara waktu semalam, kemudian dia ingin kembali (mengulangi berjima’) maka hendaknya dia berwudhu di antara keduanya dengan suatu wudhu”. Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudriy.

Dari hadits tersebut terdapat faedah tentang disunnahkannya berwudhu diantara dua jima’, setelah jima’ yang pertama berwudhu kemudian melanjutkan jima’ yang kedua, dan yang afdholnya adalah mandi setiap kali jima’, dalilnya adalah hadits Abi Rofi’ yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan An-Nas’iy:

أَنّ َرَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، طَافَ عَلَى نِسَائِهِ جُمَعَ، فَاغْتَسَلَ عِنْدَ كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ غُسْلا،

“Bahwasanya Rosulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam mengelilingi semua istrinya, menjima’i semuanya, maka beliau mandi pada setiap (selesai menjima’i) seorang dari mereka dengan suatu mandi”.

Abu Rofi’ Rodhiyallohu ‘Anhu berkata:

يَا رَسُولَ اللهِ، لَوْ جَعَلْتَهُ غُسْلا وَاحِدًا!

“Wahai Rosulullah kalaulah engkau menjadikannya dengan sekali mandi!”. Rosulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam menjawab:

هَذَا أَزْكَى وَأَطْيَبُ

“Ini adalah lebih suci dan lebih bersih”.

Adab Kedua:

Selama berjima’ boleh bagi suami mendatangi istrinya dari arah depan, samping atau dari arah belakang, yang terpenting ketika dia memasukan dzakarnya tepat pada farji isterinya bukan pada dubur isterinya, Alloh Ta’ala berkata:

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ

“Istri-istri kalian adalah kebun bagi kalian, maka datangilah kebun kalian dari arah mana saja yang kalian inginkan”. QS: Al-Baqaroh: 223

Yang tidak boleh bagi suami kalau dia mendatangi istrinya lalu memasukan dzakarnya ke dalam dubur istrinya, adapun kalau dia mendatangi istrinya dari arah mana saja lalu memasukan dzakarnya ke dalam farji istrinya maka ini adalah boleh, ini sesuai dengan perkataan Alloh Ta’ala:

فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ

“Maka datangilah oleh kalian istri-istri kalian dari arah yang telah Alloh perintahkan kepada kalian”. QS: Al-Baqaroh: 222

Adapun suami yang mendatangi istrinya dengan cara memasukan dzakarnya ke dalam dubur istrinya maka ini yang terlarang, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«مَلْعُونٌ مَنْ أَتَى امْرَأَتَهُ فِى دُبُرِهَا»

“Dilaknat orang yang mendatangi (menjima’i) isterinya pada duburnya”. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abu Huroiroh Rodhiyallohu ‘Anhu.

Dan hadits ini diperjelas dan diperkuat dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah Rohimahulloh:

«لَا يَنْظُرُ اللهُ إِلَى رَجُلٍ جَامَعَ امْرَأَتَهُ فِيْ دُبُرِهَا»

“Alloh tidak akan melihat kepada orang yang dia menjima’i isterinya pada duburnya”.

BAB 9

KEBOLEHAN-KEBOLEHAN KETIKA JIMA’ DAN LARANGAN-LARANGAN YANG BERKAITAN DENGANNYA

Alloh Ta’ala telah melarang anak-anak Adam untuk menjima’i para istri jika mereka sedang haid, Alloh Ta’ala berkata:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْن

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang haid maka katakanlah: “Dia (haid itu) adalah suatu kotoran, maka jauhilah oleh kalian para wanita ketika mereka haid; dan janganlah kalian mendekati mereka kecuali mereka suci”. QS: Al-Baqaroh: 222

Perintah untuk menjauhi mereka di sini adalah menjauhi mereka dari menjima’i, adapun selain menjima’i maka boleh, seperti mencium, bermesraan dan atau lebih dari itu, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam ketika ditanya tentang wanita yang haid maka belia berkata:

«اصْنَعُوا كُلَّ شَيْءٍ إِلَّا النِّكَاحَ»

“Lakukanlah oleh kalian apa saja kecuali menjima’i”. Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dari hadits Anas bin Malik Rodhiyallohu ‘Anhu.

Dan Ummul Mu’minin Aisyah Rodhiyallohu ‘Anha berkata:

كُنْتُ أَتَّزِرُ وَأَنَا حَائِضٌ فَأَدْخُلُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِحَافَهُ

“Dahulu aku mengenakan sarung dan aku adalah haid, lalu aku masuk bersama Rosulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam untuk bermesraan”. Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dan sebagian Ahlussunan.

Dan dalam suatu riwayat dengan lafazh:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنِي أَنْ أَتَّزِرَ وَأَنَا حَائِضٌ ثُمَّ يُبَاشِرُنِي

“Dahulu Rosulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkanku supaya aku mengenakan sarung dan aku adalah haid, kemudian beliau menciumiku”.

Dari hadits tersebut menunjukan tentang bolehnya bagi suami memenuhi keinginan syahwatnya untuk bersenang-senang dengan istrinya ketika istrinya dalam keadaan haid, dan yang dilarang padanya adalah menjima’inya.

Selain larangan tersebut ada juga satu larangan yang berlaku ketika istri dalam keadan haid ataupun ketika tidak haid yaitu larangan mendatangi istri pada duburnya, dan ini bentuknya adalah suami memasukan dzakarnya ke dalam dubur istrinya, ini jelas keharomannya sebagaimana disebutkan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dan sebagian Ahlussunan dari hadits Abi Hurorih Rodhiyallohu ‘Anhu, yang hadits ini layak dijadikan sebagai dalil karena memiliki penguat dan pendukung dari hadits lainnya, bahwasanya Rosulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«مَنْ أَتَى حَائِضًا أَوْ امْرَأَةً فِي دُبُرِهَا أَوْ كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ فَقَدْ بَرِئَ مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَى مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ الصَّلَاة وَالسَّلَامُ»

“Barangsiapa yang dia mendatangi (menjima’i) wanita haid atau mendatangi wanita pada duburnya atau dia mendatangi dukun (untuk bertanya kepadanya) lalu dia membenarkan (dukun tersebut) maka sungguh dia telah berlepas diri dari apa-apa yang telah Alloh turunkan kepada Muhammad ‘Alaihish Sholatu was Salam”.

Dari dalil-dalil tersebut menunjukan tentang bolehnya bagi suami atau istrinya melakukan apa saja, dan diperkecualikan hanya dua perkara:

Pertama: Larangan menjima’i istri ketika haid.

Kedua: Larangan mendatangi istri pada duburnya.

Adapun apa saja dari selain kedua perkara tersebut maka boleh, baik itu berbentuk onani dalam artian istri menggunakan tangannya untuk memberi kepuasan pada suaminya hingga keluar maninya disebabkan tangan istrinya atau berbentuk semisal itu dari perkara yang tidak menimbulkan madhorat kepada keduanya. Tentang kebolehan ini diperjelas dengan perkataan Alloh Ta’ala:

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ * إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ * فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ

“Dan orang-orang yang menjaga alat-alat kelamin mereka, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki maka sesungguhnya mereka tidaklah terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka adalah orang-orang yang melampaui batas”. QS: Al-Mu’minun: 7

BAB 10

AMALAN-AMALAN YANG DILAKUKAN SETELAH JIMA’

Pertama: Berwudhu.

Berwudhu setelah jima’ merupakan suatu anjuran bagi siapa saja yang menginginkan untuk kembali melakukan jima’, dalilnya adalah perkataan Rosulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam:

«إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ أَهْلَهُ مِنَ اللَّيْلِ ثُمَّ أَرَادَ أَنْ يَعُودَ فَلْيَتَوَضَّأْ بَيْنَهُمَا وُضُوءًا».

“Jika salah seorang diantara kalian mendatangi istrinya diantara waktu semalam, kemudian dia ingin kembali (mengulangi berjima’) maka hendaknya dia berwudhu di antara keduanya dengan suatu wudhu”. Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudriy.

Kedua: Mandi.

Mandi setelah jima’ merupakan suatu kewajiban yang Alloh Ta’ala wajibkan, Alloh Ta’ala berkata di dalam Al-Qur’an:

وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ 

“Dan jika kalian junub maka mandilah kalian, dan jika kalian sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau menjima’i para wanita, lalu kalian tidak mendapati air maka bertayammumlah kalian dengan tanah yang bersih (debu); sapulah pada wajah-wajah kalian dan kedua tangan kalian dengan tanah itu”.

Mandi ketika jima’ ini boleh bagi pasangan suami dan isteri mandi bersama, tidak mengapa keduanya saling memandang alat kelamin; suami mendang farji istrinya atau istrinya memandang dzakar suaminya sebagaimana ketika melakukan jima’ tidak mengapa saling memandang alat kelamin, Al-Imam Al-Bukhoriy meriwayatkan di dalam “Ash-Shohih” dari hadits Urwah dari Aisyah Rodhiyallohu ‘Anha, beliau berkata:

كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ مِنْ قَدَحٍ

“Dahulu aku mandi bersama Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam dari satu wadah dari ember”.

Dan mandi ini pelaksanaannya boleh disegerakan yaitu setelah jima’ langsung mandi dan boleh pula diakhirkan yaitu tidur terlebih dahulu, setelah bangun dari tidur baru kemudian mandi, dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dan Muslim dari Abdullah bin Qois bahwasanya beliau bertanya kepada Aisyah Rodhiyallohu ‘Anha tentang yang diperbuat oleh Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam:

كَيْفَ كَانَ يَصْنَعُ فِي الْجَنَابَةِ أَكَانَ يَغْتَسِلُ قَبْلَ أَنْ يَنَامَ أَوْ يَنَامُ قَبْلَ أَنْ يَغْتَسِلَ

“Bagaimana beliau berbuat ketika junub (setelah jima’)?, apakah keberadaan beliau mandi sebelum akan tidur ataukah beliau tidur sebelum mandi?.

Aisyah Rodhiyallohu ‘Anha menjawab:

كُلُّ ذَلِكَ كَانَ يَفْعَلُ رُبَّمَا اغْتَسَلَ فَنَامَ وَرُبَّمَا تَوَضَّأَ وَنَامَ

“Semua itu keberadaanya beliau lakukan, terkadang beliau mandi lalu tidur, dan terkadang pula beliau berwudhu lalu beliau tidur”.

Abdullah bin Qois Rohimahulloh berkata:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ فِي الْأَمْرِ سَعَةً

“Segala puji bagi Alloh yang Dia telah menjadikan pada perkara tersebut ada keluasaan”.

BAB 11

AMALAN-AMALAN YANG DILAKUKAN DI SAAT ISTRI SEDANG HAMIL

Di saat istri mulai hamil, yang ditandai dengan adanya muntah-muntah atau yang disebut dengan “ngidam” maka dia akan merasakan adanya rasa lain dari biasanya, dia kurang merasakan enaknya makanan yang lezat, menginginkan berbagai macam bentuk makanan namun setiap mencicipinya selalu tidak selera dengannya.

Setelah masa ini berlalu, dia akan mendapatkan yang lebih rumit dari itu, apa yang ada di dalam kandungannya semakin hari semakin berat, Alloh Ta’ala sebutkan di dalam Al-Qur’an:

﴿حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ﴾  [لقمان: 14]

“Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun”. (Luqman: 14)

Dan Alloh Ta’ala sebutkan pula:

﴿حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا﴾ [الأحقاف: 15]

“Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan”. (Al-Ahqaf: 15)

Ketika keadaan isteri seperti ini maka hendaknya dia tidak melakukan aktivitas yang memberatkannya, juga hendaknya dia waspada dari benturan atau gangguan yang akan mengenai kandungannya, sebagaimana disebutkan di dalam “Ash-Shohihain” dari hadits Abi Huroiroh Rodhiyallohu ‘Anhu tentang dua orang wanita dari Hudzail yang bertikai:

فَرَمَتْ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَى بِحَجَرٍ فَأَصَابَ بَطْنَهَا وَهِيَ حَامِلٌ فَقَتَلَتْ وَلَدَهَا الَّذِي فِي بَطْنِهَا

“Salah seorang dari keduanya melemparkan dengan batu kepada seorang yang lainnya, maka batu tersebut mengenai perutnya dan dia adalah hamil, lalu matilah bayinya yang ada di dalam perutnya”.

Juga hendaknya bagi istri memperhatikan makanan yang dia makan, jangan sampai ada dari jenis makanan yang menjadi penyebab gugurnya janin atau bayi yang ada di dalam kandungannya. Wallohu A’lam wa Ahkam.

Dan di saat hamil ini hendaknya bagi istri menjaga keseimbangan tubuhnya, tidak bekerja berat dan hendaknya dia juga melakukan gerakan-gerakan ringan atau yang biasa disebut dengan senam ketika hamil, dan tentunya yang diinginkan dengan senam di sini adalah senam dengan tanpa menggunakan iringan-iringan atau irama-irama musik.

Kebanyakan orang terkadang senang mengiringi kegiatan mereka dengan musik-musikan dengan alasan akan mempermantap kegiatan dan akan memperoleh ketenangan dan kepuasan, padahal tidaklah demikian, bahkan menyebabkan mereka memperoleh siksaan yang pedih, Alloh Ta’ala berkata:

﴿وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ﴾ [لقمان: 6]

“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (orang lain) dari jalan Alloh dengan tanpa ilmu dan menjadikan jalan Alloh tersebut sebagai olok-olokan. Bagi mereka adalah siksaan yang menghinakan”. (Luqman: 6)

BAB 12

KEGEMBIRAAN DI SAAT LAHIRNYA BUAH HATI

Ketika buah hati lahir dalam keadaan selamat dan sehat maka kedua orang tuanya bergembira dengan keberadaannya, namun bila bayi keduanya lahir dengan keberadaan yang tidak sesuai dengan yang mereka inginkan maka terkadang keduanya memunculkan rasa tidak suka, padahal tidak sepatutnya seperti itu, namun hendaklah bagi kedua orang tuanya merasa ridho dengan pemberian dan karunia dari Alloh Ta’ala tersebut, karena itu adalah ujian yang pernah Alloh berikan kepada orang-orang musyrik di zaman jahiliyyah, Alloh Ta’ala berkata:

﴿وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالْأُنْثَى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ﴾ [النحل: 58]

“Dan jika diberi kabar gemberi kepada salah seorang dari mereka tentang (lahirnya) anak perempuan maka memerah padamlah wajahnya, dan dia adalah kecewa (bercampur marah”. QS: An-Nahl: 58

Kedua orang tua ketika diberi ujian dengan direzkikan anak yang tidak sesuai dengan keinginan keduanya atau anak dari keduanya meninggal lalu keduanya bersabar dan hanya mengharapkan balasan kebaikan dan kasih sayang dari Alloh ‘Azza wa Jalla, dengan itu keberadaan keduanya pun semakin diridhoi oleh Alloh Ta’ala dan semakin dipermantap kehidupan keduanya, bahkan Alloh Ta’ala menggantikan dan memberikan kepada keduanya dengan yang lebih baik sebagaimana yang pernah Alloh berikan kepada Abu Tholhah dan isterinya Ummu Sulaim Rodhiyallohu ‘Anhuma, ketika Abu Tholhah ikut bersabar bersama isterinya dengan kematian putranya maka Alloh Ta’ala berikan kepada keduanya dengan seorang putra yang lebih baik, beliau adalah Abdulloh bin Abi Tholhah, dari beliau ini lahir sepuluh orang anak yang termasuk dari Ahlul-Qur’an, salah seorang dari kalangan Anshor berkata:

فَرَأيْتُ تِسعَةَ أوْلادٍ كُلُّهُمْ قَدْ قَرَؤُوا القُرْآنَ

“Aku telah melihat sembilan orang dari anak-anak (Abdulloh bin Abi Tholhah) semua mereka telah menghafal Al-Qur’an”. Diriwayatkan oleh Al-Bukhoriy dari hadits Anas bin Malik Rodhiyallohu ‘Anhu.

Demikianlah balasan yang terbaik bagi kedua orang tua yang bersabar bila diuji dengan kematian anak keduanya, terkadang Alloh Ta’ala juga menguji kedua orang tua dengan hilangnya anak bagi keduanya sebagaimana yang pernah Abu Yusuf Ya’qub ‘Alaihish Sholatu was Salam, beliau sedih dengan sebab hilangnya putra tercinta beliau hingga beliau buta, namun beliau senantiasa di atas kesabaran, Alloh Ta’ala berkata tentangnya:

﴿وَقَالَ يَا أَسَفَى عَلَى يُوسُفَ وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ﴾ [يوسف: 84]

“Dan Ya’qub berkata: “Aduhai duka citaku terhadap Yusuf”, dan telah memutih kedua matanya karena sedih dan dia adalah orang yang menahan rasa marah”. (Yusuf: 84)

Dengan kesabarannya tersebut membuahkan kegembiraan yang sangat, hingga Alloh Ta’ala jadikan buah hatinya benar-benar membahagiakannya dan semakin mempermantap kehidupannya, Alloh Ta’ala berkata:

﴿فَلَمَّا أَنْ جَاءَ الْبَشِيرُ أَلْقَاهُ عَلَى وَجْهِهِ فَارْتَدَّ بَصِيرًا﴾ [يوسف: 96]

“Maka tatkala datang pembawa kabar gembira (dengan membawa baju Yusuf), lalu dia menempelkan baju tersebut pada wajah Ya’qub maka diapun kembali dalam keadaan melihat”. QS: Yusuf: 96

Menjadi suatu keharusan bagi kedua orang tua untuk bergembira dengan lahirnya buah hati keduanya, kegembiraan ini terkadang membuat ibu yang melahirkan mampu menahan rasa sakit dan derita ketika melahirkan buah hatinya, dia memandang bayinya dengan pandangan yang membuahkan kesejukan pada matanya dan menghasilkan ketenangan pada dirinya sebagaimana yang pernah dialami oleh Ummu ‘Isa Maryam Rodhiyallohu ‘Anha, Alloh Ta’ala terangkan di dalam Al-Qur’an:

﴿فَحَمَلَتْهُ فَانْتَبَذَتْ بِهِ مَكَانًا قَصِيًّا * فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلَى جِذْعِ النَّخْلَةِ قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا * فَنَادَاهَا مِنْ تَحْتِهَا أَلَّا تَحْزَنِي قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا * وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا * فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا﴾ [مريم: 22-26]

“Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Lalu rasa sakit (di saat ia melahirkan anaknya) membawanya (untuk bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan seandainya aku menjadi barang yang tidak berarti lagi dilupakan”. Maka Jibril menyerunya dari bawa pohon korma: “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Robbmu telah menjadikan di bawahmu air mengalir dan goyanglah pangkal pohon kurma itu kepadamu, niscaya pohon itu akan berjatuhan kepadamu buah korma yang matang, maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu”. QS: Maryam: 22-26

BAB 13

UPAYA ORANG TUA UNTUK MENJADIKAN ANAKNYA SEBAGAI ANAK YANG SHOLIH

Setiap orang yang beriman tentu berkeinginan untuk menjadikan buah hatinya sebagai anak yang sholih, dengan itu berbagai upaya dan usaha dia lakukan, Al-Imam Al-Bukhoriy dan Muslim meriwayatkan tentang kisah Abu Tholhah Rodhiyallohu ‘Anhu ketika direzkikan dengan seorang bayi laki-laki maka beliau berkata kepada anak tirinya yaitu Anas bin Malik Rodhiyallohu ‘Anhu:

احْمِلْهُ حَتَّى تَأْتِيَ بِهِ النَّبيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Bawalah dia sampai kamu datang dengannya kepada Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam”.

Tujuan dibawa kepada Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam supaya beliau mengunyahkan buah korma lalu dimasukan ke mulut bayi tersebut, dan sebab itu bayi tersebut akan memperoleh berkah, dan beliau menamainya dengan Abdulloh.

Al-Imam Al-Bukhoriy meriwayatkan dari hadits Anas bin Malik Rodhiyallohu ‘Anhu bahwa Ummu Sulaim Rodhiyallohu ‘Anha berkata kepada Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam:

خَادِمُكَ أَنَسٌ

“Pembantumu adalah Anas”.

Tidaklah membuat Ummu Sulaim Rodhiyallohu ‘Anha menyerahkan putra tercintanya Anas bin Malik kepada Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam supaya menjadi pembantunya melainkan karena Ummu Sulaim mengharapkan supaya putranya menjadi anak yang sholih.

Anas bin Malik Rodhiyallohu ‘Anhu menjadi pembantu Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam selama sepuluh tahun, dengan itu beliau memperoleh banyak keutamaan, beliau meriwayatkan langsung hadits-hadits dari Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam dan bahkan beliau mendapatkan keberkahan yang banyak, beliau berkata:

فَمَا تَرَكَ خَيْرَ آخِرَةٍ وَلَا دُنْيَا إِلَّا دَعَا لِي بِهِ قَالَ اللهُمَّ: «ارْزُقْهُ مَالًا وَوَلَدًا وَبَارِكْ لَهُ»

“Tidaklah beliau Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam meninggalkan suatu kebaikan akhirat dan tidak pula kebaikan dunia melainkan beliau mendoakan untukku dengan kebaikan tersebut, beliau Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berdoa (untukku): “Ya Alloh rezkikanlah kepadanya dengan harta serta anak, dan berkahilah padanya“.

Demikianlah kalau orang tua memiliki perhatian kepada anaknya, maka anaknya akan bermanfaat baginya dan akan mempermantap kehidupannya di dunia dan di akhirat kelak, Al-Imam Ahmad dan Muslim meriwayatkan dari hadits Abi Huroiroh Rodhiyallohu ‘Anhu bahwasanya Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ»

“Jika seseorang telah mati maka terputuslah darinya amalannya kecuali dari tiga; dari sedekah yang mengalir (pahalanya) dan ilmu yang bermanfaat padanya serta anak sholih yang mendoakannya”.

BAB 14

ALLOH TA’ALA AKAN SENANTIASA MENJAGA SUAMI ISTRI YANG SHOLIH

Bila suami dan isteri senantiasa di atas keistiqomahan maka Alloh Ta’ala akan senantiasa pula memberikan penjagaan kepada keduanya, sebagaimana Alloh Ta’ala telah memberikan penjagaan kepada suami istri di zaman Nabiulloh Al-Khidhir ‘Alaihish Sholatu was Salam, ketika Al-Khidhir dan Musa ‘Alaihimash Sholatu was Salam berjalan kaki lalu menjumpai seorang anak remaja maka Al-Khidhir ‘Alaihish Sholatu was Salam langsung membunuhnya, ketika Musa ‘Alaihish Sholatu was Salam mengingkari perbuatan beliau maka beliau menjelaskan –sebagaimana yang Alloh Ta’ala terangkan di dalam Al-Qur’an-:

﴿وَأَمَّا الْغُلَامُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَا أَنْ يُرْهِقَهُمَا طُغْيَانًا وَكُفْرًا * فَأَرَدْنَا أَنْ يُبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِنْهُ زَكَاةً وَأَقْرَبَ رُحْمًا﴾ [الكهف: 81]

“Dan adapun anak remaja itu maka keberadaan kedua orang tuanya adalah beriman, dan Kami khawatir dia akan menyeret kedua orang tuanya tersebut kepada kesesatan dan kekafiran. Dan Kami menghendaki supaya Robb kedua orang tuanya mengganti bagi keduanya dengan anak yang lebih baik kesuciannya darinya dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada keduanya)”. QS: Al-Kahfi: 81

Demikianlah keutamaan menjadi orang yang sholih, senantiasa mendapatkan penjagaan dari Alloh Ta’ala, penjagaan pada dirinya, anak keturunannya dan bahkan pada hartanya, Alloh Ta’ala terangkan pula pada kisah Al-Khidhir dan Musa ‘Alaihimash Sholatu was Salam, ketika Al-Khidhir ‘Alaihish Sholatu was Salam memperbaiki tembok yang akan roboh maka Musa ‘Alaihish Sholatu was Salam memberi saran, kemudian Al-Khidhir ‘Alaihish Sholatu was Salam menerangkan kepadanya:

﴿وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ﴾ [الكهف: 82]

“Adapun tembok rumah maka keberadaannya adalah milik dua orang anak yatim di kota itu, dan keberadaan di bawah tembok tersebut ada harta simpanan bagi mereka berdua, dan keberadaan ayah keduanya adalah orang yang sholih, Robbmu menghendaki supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan keduanya akan mengeluarkan simpanan bagi keduanya itu sebagai rahmat dari Robbmu”. QS: Al-Kahfi: 82

Demikianlah kasih sayang dan rahmat Alloh Ta’ala kepada orang yang sholih, Alloh Ta’ala akan menjaga diri orang tersebut, harta-hartanya dan anak-anaknya.

BAB 15

PERMASALAHAN SEPUTAR PERNIKAHAN DAN BERUMAH TANGGA

Tanya:

Orang-orang banyak kita dapati sebelum menikah, mereka datang ke dukun atau paranormal lalu mereka bertanya tentang masa depan rumah tangga mereka, bahagia ataukah sengsara?, bagaimana hukum masalah ini?.

Jawab:

Ini adalah perbuatan yang tidak boleh, orang yang datang ke dukun atau ke paranormal lalu bertanya kepadanya maka dia telah terjatuh ke dalam kesalahan dan dosa besar, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ»

“Barangsiapa datang kepada dukun atau kepada paranormal lalu dia membenarkannya terhadap apa yang dia katakan maka sungguh dia telah mengkufuri terhadap apa yang telah diturunkan kepada Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam”. Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dari hadits Abi Huroiroh Rodhiyallohu ‘Anhu.

Tidak ada yang mengetahui perkara ghoib melainkan hanya Alloh Ta’ala, dan Alloh-lah yang menentukan serta mengetahui siapa yang bahagia dan siapa yang menderita di masa yang akan datang?, siapa yang sejahtera dan mantap kehidupan berumah tangganya pada masa yang akan datang?, Alloh Ta’ala berkata:

﴿إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ﴾ [لقمان: 34]  

“Sesungguhnya Alloh, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui apa yang akan diusahakannya besok. Dan tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Alloh adalah Al-‘Alim (Maha mengetahui) lagi Al-Khobir (Maha Mengenal)”. (Luqman: 34)

******

Tanya:

Sebagian dari para da’i terkadang menasehatkan para penuntut ilmu agar jangan dulu menikah kecuali kalau sudah berhasil dalam menuntut ilmu, karena kalau sudah menikah akan bertambah kesibukan?, apakah benar demikian?.

Jawab:

Tidaklah benar demikian itu, karena menikah bukanlah suatu penghalang dalam menuntut ilmu, bahkan terkadang dengan sebab menikah seseorang bisa dimudahkan menuntut ilmu.

Dan telah kita dapati ketika di Dammaj dahulu, banyak yang terputus dari menuntut ilmu lalu kembali ke negerinya dikarenakan selalu terpikirkan wanita atau muncul keinginan pada dirinya untuk segera menikah, dan telah kita dapati dari orang-orang seperti ini ketika kembali ke negerinya untuk menikah setelah itu dia kembali lagi menuntut ilmu maka dia semakin tenang dalam menuntut ilmu, begitu pula bagi mereka yang datang membawa istri-istri mereka maka kita dapati mereka bisa bertahan di tempat menuntut ilmu sampai pada waktu yang lama, jadi bukanlah penghalang dari menuntut ilmu adalah menikah, justru menikah termasuk pendukung bagi seseorang dalam memperoleh ilmu. Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam menerima wahyu dari Alloh melalui perantara Jibril ‘Alaihish Sholatu was Salam bukanlah pada saat beliau masih jejaka, namun beliau menerima ilmu atau wahyu tersebut ketika beliau sudah menikah, isteri beliau Ummu Qosim Khodijah Rodhiyallohu ‘Anha yang memberikan dukungan penuh kepada beliau, disediakan apa yang diperlukan oleh beliau dan bahkan mencarikan solusi yang tepat ketika beliau khawatir terhadap dirinya, Al-Imam Al-Bukhoriy meriwayatkan dari hadits Aisyah Rodhiyallohu ‘Anha, ketika Nabi kita Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam meminta istrinya Khodijah untuk menyelimutinya maka Khodijah memenuhi permintaannya dan memotivasinya serta mencarikan solusi yang tepat:

فَانْطَلَقَتْ بِهِ خَدِيجَةُ حَتَّى أَتَتْ بِهِ وَرَقَةَ بْنَ نَوْفَلِ بْنِ أَسَدِ بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى ابْنَ عَمِّ خَدِيجَةَ وَكَانَ امْرَأً قَدْ تَنَصَّرَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ يَكْتُبُ الْكِتَابَ الْعِبْرَانِيَّ فَيَكْتُبُ مِنَ الْإِنْجِيلِ بِالْعِبْرَانِيَّةِ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَكْتُبَ وَكَانَ شَيْخًا كَبِيرًا قَدْ عَمِيَ، فَقَالَتْ لَهُ خَدِيجَةُ: يَا ابْنَ عَمِّ اسْمَعْ مِنِ ابْنِ أَخِيكَ!، فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ: يَا ابْنَ أَخِي مَاذَا تَرَى؟

“Maka Khodijah pergi dengan beliau, sampai ia datang dengan beliau ke Waroqah bin Naufal bin Asad bin Abdil ‘Uzza putra paman Khodijah, dan keberadaan beliau adalah seorang yang sungguh telah memeluk agama Nashrono pada zaman jahiliyyah dan keberadaan beliau adalah seorang penulis terhadap suatu tulisan berbahasa Ibroniy, beliau menulis dari Injil dengan bahasa Ibroniy, Masya Alloh beliau menulis, dan keberadaan beliau adalah seorang yang sudah berusia lanjut dan telah buta, maka Khodijah berkata kepada beliau: Wahai putra pamanku, dengarlah dari putra saudaramu!, Waroqah berkata kepadanya: Wahai putra saudaraku apa yang engkau lihat?.

Dengan sebab menikah tersebut Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam memperoleh penguat dan pendukung, Wallohu A’lam.

Alhamdulillah.

Binagriya-Pekalongan, Jum’at (7-7-1437 Hijriyyah), bertepatan dengan hari akad pernikahan Abu Ahmad Al-Khidhir Al-Limboriy dengan Ummu Ahmad Al-Binagriyyah Al-Jawiyyah.

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: